Tap Tap Tap Tap
Sadara berlari dengan kecepatan tinggi dan sesekali melompat dari atap ke atap.
Papa
Wajahnya tersenyum ketika menyebut Papanya dalam hati.
I AM BACK HOME
Naruto © Masashi Kishimoto
This fic is mine
T-Rated
Family/Romance/a little bit Humor
Uchiha Family
Di ruang makan kediaman Uchiha, kini sudah waktunya makan malam. Sasuke duduk di kursi, sementara Sakura berdiri menata makanan yang ada di atas meja. Berhubung Sasuke diam-diam sudah merasa sangat lapar, jadi ia berinisiatif membantu Sakura agar bisa segera makan. Saat Sasuke memegang gelas yang ada di sisi kiri meja, ternyata Sakura juga hendak mengambilnya. Jadilah tangan mereka yang tak sengaja bersentuhan. Lalu mata mereka pun bertatapan intens.
Mau sampai kapan kau memagang tanganku, Sakura? Ayolah, aku sudah lapar.
Kok Sasuke natap aku kayak gitu,sih. Ini—kode , ya? Kamu—kamu mau 'itu'?
Batin mereka berdua yang bertolak belakang.
Bukannya melepaskan tangan Sasuke, justru Sakura mendekatkan wajahnya.
Loh..loh.. Aku sudah sangat lapar, Sakura. Hah, tak apalah anggap saja penunda lapar!
Wajah Sakura semakin mendekat.
Lebih dekat.
Lebih dekat lagi.
Kurang satu senti.
KRUKKKK KRUUK
BRAKKKGH
Bersamaan dengan perut Sasuke yang berbunyi, ada yang menjeblak pintu depan rumah mereka dengan keras.
"PAPA!"
Reflek Sasuke memegang bahu Sakura, menjauhkan jarak mereka, lalu Sasuke berdiri dari kursinya.
"Sarada!"
Sarada berlari menuju Sasuke dan memeluknya erat. "Papa.."
Sasuke pun membelai lembut rambut Sarada.
Terimakasih, Nak. Untung kau membuka pintu dengan keras, jadi suara perutku tadi tidak terdengar.
"Aku saaangat kangen Papa."
"Aku juga merindukanmu, kau lapar, ayo kita segera makan."
Tiba-tiba Sakura memotong ucapannya.
"Apa tidak ada pelukan untuk Ibu?"
"Mamaaa"
Sarada ganti memeluk erat sang ibu.
"Mandilah dulu, kami akan menunggumu untuk makan malam"
DOENGGGG
Bunyi backsound di kepala Sasuke.
Ayolah berapa lama seorang gadis ketika mandi dan berganti baju?
Satu jam!
Setelah menunggu selama satu jam, keluarga kecil itupun makan bersama dengan suasana yang penuh kebahagiaan.
Apakah Sasuke dan Sakura kembali berciuman saat Sarada mandi?
Jawabannya tidak!
Ketika Sakura hendak kembali mendekat justru yang didapatinya adalah wajah suram Sasuke yang sedang memegang perutnya, dan kemudian berpamitan menuju kamar.
Sakura pun mengurunkan niatnya dan kembali menyiapkan makanan.
"Papa, sampai berapa lama kau tinggal? Bagaimana jika besok kita jalan-jalan? Kau mengelilingi dunia tapi tak pernah mengelilingi desa sendiri."
To the point sekali pertanyaan Sarada!
"Err.. Aku tidak bisa tinggal lama.." jawab Sasuke tak yakin.
Sakura yang mendengarkanpun ikut berbicara.
"Anata, bukankah kau baru saja mengalahkan musuh yang kuat? Istirahat beberapa hari pastinya bukan masalah."
"Wow.. musuh seperti apa itu, Papa? Ah, itu tidak penting! Toh, musuh itu sudah Papa kalahkan, dan Papa pulang dengan selamat. Tadi saat di kantor Hokage, Nanadaime bilang bahwa kau sudah pulang. Kau tau, tanpa berpikir panjang aku bilang ke Nanadaime dan yang lainnya, 'selama Papa tinggal di sini aku tidak mau menerima misi apapun!' lalu aku berlari sangat cepat agar bisa segera bertemu denganmu, Papa!" ucap Sarada antusias.
Demi apa! Jiwa patriotisme putriku rendah sekali. Hei, bukankah dua tahun yang lalu kau bilang ingin menjadi Hokage?! Dan sekarang kenapa kau malah lebih mementingkan urusan pribadimu dibanding dengan kepentingan desa?! Kau bahkan tidak peduli dengan musuh yang berniat menghancurkan desa?! Duh, Sarada!
"Ehmm, Nak, begini, ayah berbuat ini demi keselamatan desa dan juga kalia—"
"Papa, kau tau? Hanya Mama satu-satunya wanita yang tidak ditemani suaminya saat pergi kondangan!"
JLEPP
Satu panah menancap di dada Sasuke.
"Teman-temanku diajari ayahnya jurus turun temurun di keluarga mereka, sedangkan aku bahkan tidak tau cara mengeluarkan jurus bola api di usiaku yang sudah dua belas tahun ini!"
Dua panah menancap di dada Sasuke.
"Benar-benar bikin malu garis keturunan Uchiha!"
Tiga panah menancap di dada Sasuke.
"Aku juga terlalu bingung saat ada yang bertanya apa pekerjaan Papa!
Empat panah menancap dada Sasuke.
"Papa juga sudah melewatkan dua belas kali hari ulang tahunku, ulang tahun Mama, dan hari ulang tahun pernikahan kalian!"
Lima panah menancap di dada Sasuke.
"Ah, itu bukan sesuatu yang penting. Sekarang, aku lebih sering berada di luar desa untuk misi, pasti Mama merasa lebih kesepian dari biasanya!
Enam panah menancap di dada Sasuke.
"Mama sering sekali di dekati turis luar desa karena dikira belum menikah. Lagi pula Mama kan memang nggak punya cincin pernikahan!"
Tujuh panah menancap di dada Sasuke.
"Dan Mama juga sempat dilamar, padahal orang asing itu tau jika Mama sudah punya suami dan anak—"
Delapan panah menancap di dada Sasuke.
"Para tetangga sering bertanya-tanya, dari mana kita mendapat uang untuk membangun rumah dan mencukupi kebutuhan sehari-hari? Mama tidak bekerja, dan tak ada yang memberi nafkah. Mereka mulai membuat gosip yang tidak-tidak, seperti, Mama yang berhubungan gelap dengan Nanadaime—"
Sembilan panah menancap di dada Sasuke.
"Ketika arisan, Mama sering mendadak diam saja ketika ibu-ibu lain mulai membangga-banggakan suaminya saat di atas ranjang. Hmm, aku tidak terlalu mengerti apa bagusnya itu—"
Sepuluh panah menancap dan Sasuke mati!
Semua salah Papa…
Semua salah Papa…
Semua salah Papa…
Semua salah Papa!
Kalimat-kalimat itu kini menggema di kepala Sasuke.
"Oh, iya! Aku pernah sekali melihat Mama menangis—"
"Cukup, Sadara. Habiskan makananmu kemudian pergilah tidur."
"Tapi, Ma—"
Melihat emosi ibunya yang meluap-luap, akhirnya Sarada pun meng-iya-kan perintah sang ibu.
Makan malam telah selesai. Kini sang kepala keluarga sedang berada di kamar, tiduran di atas ranjang. Kedua matanya terpejam, dan tangan kanannya sibuk memijit-mijit pelipisnya. Diam-diam ia merenungkan semua yang Sadara katakan saat makan malam tadi.
Sisi ranjangnya yang kosong tiba-tiba sedikit bergerak. Dan seeorang yang memeluknya dari samping.
"Jangan terlalu memikirkan ucapan Sarada. Ini seperti dia yang menjadikan aku alasan agar kau mau tetap tinggal di sini."
"Sakura—" Sasuke pun menoleh menghadap Sakura yang ada di sisi kirinya.
Dan membalas pelukan Sakura.
"Apa maksudnya dia melihatmu menangis itu? Jika aku penyebabnya— ya, itu sudah pasti. Aku terlalu buruk untukmu, Sakura. Aku suami dan ayah yang buruk."
"Yah, kau memang yang terburuk. Dan aku juga istri yang buruk karena telah menyebut suaminya buruk." Ucap Sakura sambil terkekeh, masih dalam posisi berpelukan.
"Sakura aku serius!"
"Aku juga serius. Sarada melihatku menangis saat aku sedang menonton sinetron Uttaran, Sasuke-kun."
"Berhentilah mencoba membuatku berpikir bahwa aku tak punya kesalahan apapun, Sakura. Semua yang dikatakan Sarada adalah benar!" Sasuke melepaskan pelukan mereka. Wajah mereka berhadapan, dan saling menatap mata lawan bicara.
"Aku tidak mau kau merasa ragu dalam langkahmu pada saat menjalankan misi, anata. Kami berdua mendukungmu, kok"
Sasuke terdiam.
"Sasuke-kun, jika selama ini kau menjalankan misi jauh dari kami karena merasa tak layak mendapat kebahagiaan,maka itu benar-benar salah. Kami adalah bagian dari dirimu, ketika kau menghukum dirimu sendiri, sama artinya kau—, juga menghukum kami."
"Itu—, tidak benar, Sakura. Aku melakukan ini semua agar tak ada lagi peperangan dan—" Jawab Sasuke bimbang.
"Dan apa, anata? Apa alasanmu yang mendasari semua ini?"
Sasuke lagi-lagi terdiam. Kemudian ia membalik tubuhnya membelakangi Sakura, dan memejamkan matanya.
"Ah—itu pertanyaan yang sulit. Ku rasa aku butuh waktu beberapa hari untuk menjawabnya." Ucap Sasuke tersenyum.
"Eeh? Benarkah sesulit itu?" Sakura memeluk Sasuke yang membelakanginya.
Menenggelamkan wajahnya di punggung kekar sang suami, seraya tersenyum, Sakura berucap,
"Terimakasih, anata."
—Bersambung—
Dikit banget thor apdetnya :v
Suka-suka gue dong :v /digampar/
Bikin fic di kala sakit :'( punggung author kaku tiduran mulu, jadi duduk aja, dari pada duduk kgk ngapa2in ya lanjutin bikin chapter 2 wae lah xD XD lol
Maap ye kalo ngaco, humornya nggk dapet, dll
Di tunggu testimoninya :3
