I Hate Childern 'CHAPTER 2'
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rating : T menjurus ke M.
Genre : Horror, Family, and Romance.
Warning : Sedikit OOC!, M-PREG, Lime aja nggak usah lemonan :v , BoysLove, Sedikit Gore, Typo (s)
.
.
Sasuke membuka kedua matanya. Suasana di dalam kamarnya ini terlalu gelap, ia menengok pada jam dinding dan melihat jika kini waktu telah menunjukan pukul 7 malam.
Sudah 3 jam ia dan Naruto tertidur, rasa lelah yang sebelumnya ia rasakan menjadi hilang setelah tertidur. Ia mengucek kelopak matanya lalu menggoyangkan tubuh Naruto tanpa melihatnya agar terbangun.
"Naruto... Ayo ba-" ia menghentikan perkataannya saat merasakan tubuh tertutupi selimut itu terasa begitu ringan saat ia goyangkan. Perlahan ia singkap selimut yang menutupi tubuh Naruto.
"Ah!" Sasuke reflek memundurkan dirinya menjauhi sosok itu. Sosok itu bukanlah Naruto, sulung Uzumaki itu tidak mempunyai badan sekecil ini. Dengan panik ia mencari saklar lalu menyalakan lampu kamar.
Ia melihat kasurnya dan tidak menemukan sosok bertubuh mungil itu di atasnya.
"Ta-Tapi tadi aku meli-"
Ctak!
Lampu yang terpasang di langit-langit tiba-tiba pecah, suasana kembali menggelap sama seperti sebelumnya. Ia kembali memandang kasurnya dan sosok mungil itu kembali muncul.
"Lelucon macam apa ini..." gumamnya lirih. Menarik nafasnya dalam-dalam, ia mulai membuka pintu kamar, berniat untuk pergi dari kamar ini, mencari Naruto lalu menghajarnya.
Engsel pintu telah ia dorong, namun pintu menolak untuk membuka. Ia mencobanya berkali-kali dan hasilnya nihil, pintu telah terkunci dengan sendirinya. Mengunci dirinya bersama sosok mungil yang mulai menggeliat dalam tidurnya .
"Hiks... hiks..."
"Siapa kau?!" teriak Sasuke panik. Ia memeluk dirinya sendiri sembari berdiri di sudut ruangan dekat pintu kamar. Mata hitamnya memandang tajam sosok bayi yang kini mulai menangis terisak. "Kenapa kau bisa berada disini?! Cepat pergi dari kamarku!"
Tangisan sang bayi semakin keras membuat Sasuke menutup kedua telinganya dan juga kedua matanya.
"Bisakah kau diam! Tangisanmu sungguh memuakkan!" teriaknya kesal. Tangisan itu mulai berhenti dan Sasuke kembali membuka kedua matanya.
Bayi itu sudah tidak ada di atas kasurnya.
Ia menghela nafas namun belumlah lega, ia masih terjebak di dalam kamarnya sendiri ditengah kegelapan.
"Apa yang harus aku lakukan..." gumamnya bingung. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di kamarnya, bagaimana bisa ada bayi di atas kasurnya?
Ia jatuh terduduk sembari bersandar pada palang pintu, jantungnya berdetak sangat kencang, kedua matanya membelalak takut.
Kejadian seperti ini...
Sama seperti yang pernah ia alami dahulu.
Ia tersentak saat merasakan sesuatu membebani pahanya, sesuatu itu begitu ringan dan juga hangat, ia mencoba menyentuh sosok yang tidak terlihat di tengah kegelapan ini dan merasakan jemarinya di genggam oleh tangan dingin sosok itu.
"Oek..! Oek..!"
"Arghh! Lepaskan tanganku sialan!" dengan gemetar Sasuke melempar bayi itu ke sembarang arah dan melihat jemarinya telah... terpotong.
Sasuke memandang nanar jemari tangannya yang terlumuri oleh darahnya sendiri, tubuhnya semakin bergetar kala merasakan beban yang semakin berat menaiki punggungnya. Ia bisa merasakan nafas sosok itu di pundaknya, sosok itu melingkarkan tangan mungilnya pada pundak Sasuke lalu berbisik di telinganya.
"Itu karena kau membanting adikku, Nii-chan..."
Sasuke semakin menundukan kepalanya, menolak melihat wajah dengan bola mata kiri yang terlepas, dengan mulut yang penuh dengan nanah dan darah, menolak memandang wajah pucat mengerikan yang merayap di punggungnya, ia sudah tidak kuat lagi, ia menggelengkan kepalanya cepat, "Pergi dari sini! Pergi! Pergi!"
"Tidak Nii-chan... Kau telah menyakiti adikku..."
"Tidak! Pergi!"
"Nii-Chan.." pelukan anak kecil itu semakin erat dan mulai mencekiknya.
"Pergi sialan! Pergiii!"
"Sasuke... Bangun.."
"Aku tidak menyakiti adikmu! Pergiiii!"
"Oi! Sasuke! Bangun!"
"Cepat pergi!"
"Sasuke!"
Sasuke membuka kedua matanya seraya terengah-engah, manik hitamnya memandang suasana yang berbeda dari yang ia alami sebelumnya. Mata hitamnya bertubrukan dengan mata safir yang tengah memandangnya penuh khawatir.
"Sasuke kau tidak apa-apa? Mimpi buruk? Sebentar, aku ambilkan minum dahulu." Ujar Naruto khawatir seraya beranjak untuk mengambilkan air minum untuk Sasuke sebelum tangan putih itu mencegahnya untuk bergerak.
"Naruto..." pegangan tangan Sasuke pada kaos oranye milik Naruto bergetar, ia memandang Naruto dengan mata berkaca-kaca, "Jangan pergi, jangan tinggalkan aku, ku mohon..." lirihnya serak.
Naruto melepas pelan genggaman tangan Sasuke pada kaosnya lalu memeluk tubuh sang Uchiha lembut, "Tak apa, aku akan selalu berada disisimu. Sudah itu hanya mimpi, jangan kau pikirkan lagi ya sayang..." ia mengecup puncak kepala sang 'istri' seraya mengeratkan pelukan di antara mereka.
Sasuke menganggukkan kepanya lalu menyamankan dirinya dalam dekapan hangat Naruto. Walaupun begitu ia masih bisa merasakan sensasi mengerikan dalam mimpinya yang terasa nyata tersebut.
Beberapa menit mereka lalui dengan berpelukan sampai pada akhirnya Naruto sedikit merenggangkan pelukan di antara mereka lalu kembali mendekatkan dirinya dengan Sasuke dengan gestur yang semakin intim.
Hidung mancung mereka saling bersentuhan, "Kau mau melakukannya sekarang kan?" bisiknya menggoda. Mencoba meningkatkan libido pasangannya dengan suara bariton miliknya.
Tangan pucat itu meremas lembut surai pirang sang Uzumaki, kedua matanya mulai ia pejamkan, "Tubuh ini adalah milikmu Naruto-kun." Dan bibir mereka pun saling bertubrukan.
Mereka masih tetap berciuman walaupun telah berada dalam posisi berbaring dengan Naruto di atas Sasuke, mendominasi tubuh putih langsing yang mulai saat ini adalah miliknya.
"Ahh.. Naruu..."
.
.
Sosok di balik jendela itu masih setia memandang pergulatan ranjang kedua insan yang baru saja menikah itu, melihat saat sang pirang mulai memasukkan benda kerasnya ke dalam lubang pasangan di bawahnya, masih melihat saat sang raven mendesah keras saat sang pirang mulai memaju mundurkan pinggulnya, dan masih tetap melihat mereka berdua yang berteriak nikmat saat cairan dari benda milik mereka berdua keluar.
"Hah... Hah... Aishiteru Sasuke... Hah.."
"Aishiteru yo Hah... Hah... Naruto..."
Sosok berwajah hancur itu menyeringai, tangan kecilnya ia gunakan untuk menunjuk sang raven yang mulai jatuh tertidur dalam pelukan sang dominan.
"Nii-Chan... Mari kita bersenang-senang..."
.
.
TBC
