I Hate Childern 'CHAPTER 3'

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : T menjurus ke M.

Genre : Horror, Family, and Romance.

Warning : Sedikit OOC!, M-PREG, Lime aja nggak usah lemonan :v , BoysLove, Sedikit Gore, Typo (s)

.

.

"Sasuke~ Buatin aku teh dong, sore-sore gini enaknya minum teh kan?"

"Hn."

"Eh sama cemilan juga, apa aja deh yang penting buat ngisi perut."

"Hn."

"Teh nya yang manis ya!"

"Hn."

"Kalau sudah kesini ya, pijetin pundakku, capek ba-"

"Aku bukan pembantumu sialan!" seru Sasuke kesal sembari memberikan secangkir teh kepada Sai dengan sedikit kasar.

Sedangkan Sai – Adik kembarnya yang selisih 5 menit – itu hanya tersenyum lalu meminum teh buatan sang kakak bak bangsawan. "Aku tidak menganggapmu begitu, yah kalau kau ingin sih tidak apa-apa, tenang saja bakal aku bayar kok."

Sasuke hanya berdecak kesal lalu mendudukan dirinya di kursi balkon rumah belakang, "Cepat pulang sana! Kau bisa mengerjakannya di rumah kan!" usirnya kasar.

"Kau kan kakakku jadi ini juga rumahku dong?" tanya Sai dengan wajah sok polosnya.

"Astaga, sebentar lagi Naruto pulang dan kalau ku biarkan kau disini sampai malam, kau pasti akan menghabiskan makan malam bahkan sebelum Naruto datang."

"Oww aku kira kau akan menyambut Naruto dengan toples sambil berkata 'Naruto-sama akhirnya kau pulang juga, touch me please~' dengan wajah imutmu." Perkataan Sai membuat wajah Sasuke memerah seketika.

"A-apa?! Mana mungkin aku melakukan hal itu, tapi kalau soal toples..." mendadak Uchiha berambut jabrik itu memalingkan wajahnya dari Sai. "Aku sudah pernah melakukannya." Ujarnya malu.

Mendadak mata Sai membelalak, "Benarkah? Kapan?" tanyanya terkejut.

Sasuke menundukan kepalanya masih dengan wajah memerah, "Dua minggu setelah pernikahan kami sepertinya, saat itu ia pulang malam sekali, aku telfon tidak diangkat, aku sms juga tidak di balas, karena itulah aku memutuskan menunggunya dengan toples, agar malam itu menjadi malam yang sangat menyenangkan untuknya." Ujarnya mulai bercerita. Sai masih setia mendengar curhatan sang kakak kembar.

"Pukul 12 malam ia barulah datang, saat ia membuka pintu aku langsung saja menghampirinya dengan toples...

"Aku Pulang sayang!" - DUAKK!

...dan langsung melayangkan toples makanan itu ke arah kepala idiotnya. Puas kau! Dasar mesum!" Sasuke menyalakan laptop lalu mencari dokumen yang akan ia pindah ke dalam Flash Disk milik Sai. "Semuanya telah jadi, jangan sampai salah kau mengeditnya."

Sai menerima FD tersebut lalu memasukannya ke dalam saku bajunya, "Aku selalu tahu gaya bahasamu, jangan khawatir, dua minggu lagi kau akan melihat novelmu sudah terpampang di seluruh toko buku di Jepang." Ujarnya serius dan Sasuke percaya akan hal itu.

Ia adalah seorang penulis novel fiksi berbahasa Inggris semenjak kuliah, Sai yang juga mengikuti dirinya – Sai tidak tahu kenapa ia harus memasuki jurusan bahasa Inggris – memutuskan untuk menjadi editor cerita sang kakak.

"Hn, sudah sana pergi dan..." Sasuke beranjak dari duduknya lalu memberikan bingkisan kepada Sai, "Berikan ini pada Kaa-san, aku membuat kue kering cukup banyak tadi."

Sai menerimanya dengan senang hati, "Oh iya Sasuke, kau sudah tahu belum kalau istri Nii-san telah mengandung? Sudah jalan 2 bulan loh."

Sasuke menggelengkan kepalanya, "Mau punya anak raksasa pun aku tidak peduli." Ujarnya malas. "Cepat pergi sana!"

"Iya-iya, Jaa Naa Nii-Chan!"

Suara pintu yang tertutup membuat kediaman Uzumaki-Uchiha ini kembali sepi, jam telah menunjukan pukul 4 sore dan satu jam lagi Naruto akan pulang dari kantornya. Terlihat seperti istri yang merindukan suami tetapi Sasuke tidak peduli.

Bisa saja saat ini ia menjadi orang kantoran sama seperti Naruto, namun otak cerdasnya memilih menolak itu semua. Biarkan Itachi dan keturunannya lah yang mengurus, ia dan Sai sudah sepakat menggeluti karya seni tulis dari pada mengurus perusahaan.

"Nii-Chan~ Ayo kita bermain~"

"Sudah kubilang cepat pergi dari si-" mendadak ia menghentikan perkataannya. Itu bukan suara Sai, adik kembarnya itu telah pergi dari rumahnya dan ia mendengar sendiri suara mesin mobil milik Sai.

Kalau bukan suara Sai jadi...

Itu suara siapa?

Sasuke melangkahkan kakinya berniat menghampiri asal suara tersebut, suara yang familiar di telinganya.

"Nii-Chan aku di belakangmu!" Sasuke membalikkan badannya dan reflek memundurkan badannya saat melihat sosok anak kecil berambut hitam tengah memandang dirinya dengan senyum lebar, senyum yang tidak wajar karena mulut anak kecil tersebut sobek dan mengelurkan banyak darah.

"K-Kau..?!"

Anak kecil itu menunjuk kedua kaki Sasuke seraya menghampiri pemuda Uchiha itu, "Dibawahmu ada adikku Nii-Chan, jangan sampai kau injak ya~"

Mata setajam elang itu membelalak kala melihat bayi pucat telah berada di bawah kakinya.

Bagaimana bisa bayi itu berada disini?

Ia tidak sedang mimpi kan? Ia yakin jika kini dirinya tengah sadar.

Bagaimana bisa ia mengalami hal ini kembali?!

"Hiks... Hiks... Oek... Oek..!"

"Kenapa Nii-Chan membuatnya menangis?" dengan cepat anak kecil itu menghampiri Sasuke dan langsung berdiri di hadapannya, membuat Sasuke tersentak kaget lalu jatuh terduduk.

"Kenapa kau datang lagi brengsek! Aku benci anak kecil seperti kalian! Pergi dari hadapanku!" Sasuke berteriak kembali seraya berlari menjauhi kedua anak kecil tersebut.

Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya, denga nafas terengah-engah ia menghampiri pintu depan dan melirik kedua anak kecil itu.

Yang kini telah menghilang.

"Tadaima!" seru Naruto dan tanpa berkata apapun Sasuke memeluk pemuda pirang tersebut. Mencoba menenangkan dirindari entah apa itu yang menganggu dirinya.

Naruto yang mengartikan itu sebagai tingkah manja Sasuke balas memeluk sang Uchiha dengan mengecup singkat bibir kemerahan itu. "Ah senangnya mendapat sambuatan dari istri tercinta." Ujarnya seraya terkikik.

Sasuke masih terdiam dan enggan melepaskan pelukan di antara mereka.

"Ada masalah sayang?" karena Sasuke masih saja terdiam, ia menyimpulkan jika memang mantan kekasihnya ini memiliki masalah. Mungkin dengan novel terbaru yang akan di luncurkan dua minggu lagi, Naruto masih belum tahu.

"Ah iya Sasuke, tadi aku bertemu dengan Itachi-nii dan berkata padaku jika kau sulit di hubungi sejak tadi pagi, ia mau mengatakan kepadamu jika istrinya sedang hamil dan sebentar lagi kau akan memiliki keponakan lu-"

"Hentikan Naruto!" Sasuke melepaskan pelukan lalu memandang Naruto tajam. "Kenapa harus bahagia memiliki makhluk menjijikan itu?! Aku muak melihat mereka!"

Pandangan Naruto mendadak menajam, "Apa yang kau katakan? Aku tahu kau membenci anak kecil, tetapi bukan berarti kau menolak keberadaan mereka. Dan mereka bukan makhluk menjijikan, Mereka adalah makhluk suci, right?" ujarnya tegas namun lembut.

Tetapi Sasuke tetap menggelengkan kepalanya, "Kau tidak akan mengerti, aku selalu melihat mereka dan-"

"Ssttt... Kepalamu ini sudah lelah untuk menulis novel, aku yakin kau belum makan siang kan?" Naruto mengacak-acak surai kehitaman Sasuke lalu merangkul pundaknya.

"Tentu saja sudah, jangan berlebihan."

"Sedikit kan? Aku yakin nasi yang hampir habis ini di makan oleh Sai yang berkunjung kemari. Sudahlah Teme~ Kau tidak akan bisa membohongiku~"

"Ck! Urusai dobe!"

.

.

.

TBC