I Hate Childern 'CHAPTER 4'

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : T menjurus ke M.

Genre : Horror, Family, and Romance.

Warning : Sedikit OOC!, M-PREG, Lime aja nggak usah lemonan :v , BoysLove, Sedikit Gore, Typo (s)

.

.

Naruto meminum teh manis itu lalu menaruhnya di atas meja, sudah 3 jam ia duduk diam dengan laptop menyala di hadapannya dan juga dokumen-dokumen untuk presentasi besok. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas lalu meregangkan otot tangan dan punggung yang kaku.

"Ahh... Lelah sekali." Gumamnya. Ia menurunkan kedua tangannya kembali lalu mata safirnya memandang Sasuke yang sama sibuknya dengan dirinya. Pemuda Uchiha itu kini sedang mengerjakan cerpen-cerpen sebagai tambahan cerita dari novel yang baru dirilis beberapa hari yang lalu dan harus di serahkan kepada Sai besok.

"Uhuk...!"

Naruto mengerutkan dahinya saat mendengar suara batuk itu kembali terdengar dari mulut sang Uchiha. Berkali-kali juga ia melihat sang Uchiha membekap mulutnya sendiri dan melakukan gestur seakan ingin muntah.

"Kau tidak apa-apa?"tanyanya khawatir. "Ini sudah malam, lebih baik kau lanjutkan besok saja."

Sasuke menggelengkan kepalanya dengan masih berfokus dengan tulisannya, "Aku tidak apa-apa, kalau kau sudah mengantuk kau bisa tidur duluan. Aku akan menyusulmu sebentar lagi." Ujarnya.

Tentu saja Naruto tidak akan melakukannya, ia lebih memilih mematikan laptopnya lalu tanpa banyak berkata apapun ia mengambil alih laptop sang Uchiha, menyimpan tulisan yang sudah Sasuke ketik lalu ia matikan pula laptop tersebut. Dan di hadiahi oleh dengusan sebal dari sang raven.

"Kenapa kau selalu seenaknya sendiri dobe?"

"Karena kau lebih keras kepala dariku teme!" balas Naruto santai lalu menarik Sasuke ke kasur. Mereka berdua menutup kedua mata lega merasakan empuknya kasur yang mereka pakai.

Naruto membuka kedua matanya dahulu lalu bangkit dan menaruh kedua tangannya pada sisi-sisi wajah sang Uchiha, menahan tubuhnya agar tidak jatuh menindih Sasuke.

"Jangan sekarang Naruto..." ujar Sasuke saat mata hitamnya memandang Naruto di atasnya yang balik memandangnya dengan kilatan nafsu.

Naruto merendahkan wajahnya lalu mulai menciumi wajah Sasuke, "Kenapa aku tidak boleh melakukannya sekarang?" tanyanya.

"Karena aku tidak mau melakukannya sekarang!"

"Tapi yang di bawah ini nggak bisa di tunda-tunda loh sayang~"

"Lakukan sendiri sana di kamar mandi!"

Naruto memanyukan bibirnya, "Awww tega sekali istriku yang tercinta ini~" rajuknya manja.

"Besok saja, sekarang aku sudah mengantuk." Ujar Sasuke final lalu mendorong pundak Naruto menjauhi dirinya. Ia beranjak dari kasur lalu berjalan ke kamar mandi yang satu ruangan dengan kamar mereka.

"Apa-apaan Sasuke ini, kan suami seksinya ini minta jatah." Rajuk Naruto kembali seraya melirik celana tidurnya yang menyembul.

Sasuke yang sudah berada di dalam kamar mandi hanya berdecak sebal lalu mengambil sikat gigi dan melumurinya dengan pasta gigi, sambil menyikat giginya ia berfikis jika semenjak menikahi dirinya, kadar kemesuman Naruto semakin tinggi.

Bagaimana tidak? Hampir setiap hari pemuda pirang itu mengajaknya bercinta, malah sebelum tidur si pirang mesum itu selalu berkata jika ia tidak akan bisa tidur jika belum merasakan sperma miliknya, jadilah mereka melakukan hubungan badan atau hanya oral seks saja sebelum tidur. Benar-benar mengurus tenaga.

Sasuke berkumur-kumur sejenak lalu mengeluarkannya, ia mengusap mulutnya dengan tisu seraya memandang pantulan dirinya dalam cermin..

Bersama dengan sosok lain di belakangnya.

Ia mengedipkan matanya berkali-kali lalu menengok kebelakang, dan tidak menemukan siapapun di belakangnya.

'Hanya perasaanku saja.' Berusaha untuk berfikis positif, ia sudahi kegiatannya lalu keluar dari kamar mandi sebelum menyadari jika pintu kamar mandi tersebut terkunci.

"Naruto!" ia berusaha mendorong engsel pintu, sial untuknya karena mengalami hal seperti ini lagi baik dalam alam mimpi atau nyata. "Jangan bercanda Naruto! Cepat buka pintunya!" teriaknya lagi.

Tidak ada sautan dari luar, jika Naruto mengerjainya pasti ia bisa merasakan pirang mesum itu tengah terkikik atau pun pergerakan kakinya, namun kini hanya hening yang ia rasakan.

Apa pemuda pirang itu telah tertidur?

"Naruto! Jangan bercanda dan buka pintunya!" Sasuke menggedor-gedor pintu khas kamar mandi tersebut seraya berusaha menarik pintu itu agar terbuka.

Kepalanya mulai pening, perutnya seakan tercampur aduk karena panik.

"Nar-Ugh!" Ia membekap mulutnya lalu berlari kembali ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya. "Hoek... hoek..."

"Sasuke!" suara pintu terbuka dengan keras disusul dengan Naruto yang dengan cemas menghampiri Sasuke yang masih memuntahkan seluruh isi perutnya. Sang Uzumaki pun turut memijat tengkuk Sasuke membantunya mengeluarkan semuanya.

"Uhuk..! ughhh..." Sasuke menyalakan kran air lalu mengusap mulutnya, badannya yang lemas itu seketika akan terjatuh jika saja Naruto tidak menahannya dari belakang.

Naruto membopong Sasuke ala bridal dan meletakkannya dengan lembut ke atas kasur, menyelimuti tubuh sang Uchiha hingga sebatas dada lalu mengusap peluh yang membasahi dahi sang istri tampannya.

"Sudah kuduga kau sakit, besok aku akan membawamu ke rumah sakit. Sekarang kau tidurlah.."ujar Naruto cemas namun di balas dengan pandangan tajam dari Sasuke.

"Kenapa kau mengunciku dari luar segala?! Di dalam dingin dan membuat rasa mualku menjadi-jadi. Dasar dobe!" rutuk Sasuke kesal.

Naruto mengerutkan dahinya.

"Menguncimu? Aku bahkan melepaskan hasratku di kamar mandi luar setelah kau memasuki kamar mandi tadi, dan saat aku kembali ke kamar aku mendengar kau muntah. Kenapa kau menuduhku menguncimu? Memangnya tadi kau kekunci?" tanya Naruto bertubi-tubi karena sama bingungnya dengan Sasuke yang memutuskan untuk diam.

Kalau bukan Naruto yang mengunci kamar mandi tadi. Lalu siapa?

Bukan anak kecil itu lagi kan?

Iya... kan?

.

.

Kini mereka berdua tengah duduk berhadapan dengan dokter wanita yang kebetulan sekali Naruto kenal, Shizune namanya. Wanita cantik berusia 30 tahun itu telah memeriksa kondisi Sasuke dan kini ia bersiap untuk mengutarakan hasil diaknosanya.

"Sasuke-kun... Apa sebelumnya kau memakan makanan yang aneh?" tanya Shizune membuka percakapan.

"Tidak, tetapi jika yang dokter maksud ramen itu makanan yang aneh, maka jawabannya adalah iya." Jawab Sasuke datar. Di balas pandangan tidak setuju dari Naruto.

"Ramen bukan makanan aneh tauk!"

Shizune tersenyum sejenak lalu kembali bertanya, "Kalau begitu, apa yang Sasuke-kun rasakan sebelum demam kemarin?"

"Aku meraskaan pusing dan mual yang tidak mereda-reda, apalagi saat aku mencium bau daging saat di pasar. Benar-benar memuakkan, biasanya aku tidak seperti ini. Memangnya ada apa? Apakah berbahaya?"

Wanita berambut hitam pendek itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu memandang keduanya dengan serius, "Aku tidak percaya sebelumnya karena hal ini bahkan terasa tidak mungkin walaupun teknologi telah modern sekalipun. Tetapi menurut hasil pemeriksaan tadi, Sasuke-kun tengah hamil dan baru berjalan kurang lebih satu minggu."

Ucapan itu di balas dengan mulut yang terbuka lebar dari kedua pasangan sesama jenis ini.

"A-apa? Itu tidak mungkin! Saya laki-laki dokter! Jangan bercanda!" tubuh Sasuke mendadak bergetar.

Shizune menyerahkan sebuah 'Test Pack' kepada Naruto, "Kau bisa mengecek apakah suamimu ini benar-benar hamil atau tidak, sekarang juga lalu serahkan kepadaku."

Naruto menerikanya lalu memandang Sasuke, "Ayo aku antar kau ke kama-"

"Tidak!" Sasuke menyentak Test Pack tersebut lalu kabur dari ruangan Shizune.

"Sasuke! Ck.." Naruto lantas berlari menyusul Sasuke yang telah berlari jauh di depannya.

Sasuke masih terus berlari menghindari Naruto, berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang tidak ia ketahui arahnya, tanpa sadar kakinya membawa dirinya menuju ruang bayi dan anak-anak.

Sepasang mata hitam itu membelalak lebar, jika saja ia adalah orang yang normal, pasti lengkungan senyumlah yang akan ia lakukan jika melihat bayi-bayi imut itu berkumpul bersama dalam satu ruangan.

Tetapi sayangnya Sasuke berbeda.

Ia jatuh terduduk dan menundukan kepalanya, mencengram surai kehiatamannya seraya bergetar ketakutan.

"Ti-tidak..." mata hitamnya memandang sepasang kaki mungil nan pucat tergenang darah yang tengah berdiri di hadapannya.

"Nii-Chan... Ayo kita bermain bersama~" sosok itu menyeringai tajam.

"TIDAKKK!"

.

.

TBC