I Hate Childern 'CHAPTER 5'

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : T menjurus ke M.

Genre : Horror, Family, and Romance.

Warning : Sedikit OOC!, M-PREG, Lime aja nggak usah lemonan :v , BoysLove, Sedikit Gore, Typo (s)

.

.

"Aku sudah menduga jika Sasuke-kun akan shock, aku pun juga demikian. Tetapi Naruto, pastikan kau menjaga dirinya baik-baik, kehamilan awal sangat rentan apalagi Sasuke-kun seorang pria. Aku akan membicarakan ini dengan Tsunade-sama dan akan meneliti penyebabnya." Ujar Shizune kepada Naruto yang tengah terdiam.

"Kau tidak bahagia?"

Naruto menghela nafas, mata birunya masih setia menunggu mata onyx itu terbuka.

Beberapa menit yang lalu ia menemukan Sasuke meringkuk dengan wajah penuh ketakutan di dekat ruang bayi.

Dia tidak tahu kenapa Sasuke harus membenci seorang bayi atau pun anak kecil, Sasuke juga selalu menolak jika ia menuntut penjelasan.

Sebelumnya ia berfikir jika penyebab shock yang di alami Sasuke tadi karena perasaan terkejut karena mengandung seorang anak dan notebene dia adalah seorang lelaki. Tetapi setelah melihat sendiri betapa takutnya Sasuke dari sudut matanya, ia bisa menyimpulkan jika Sasuke takut terhadap sesuatu.

Tetapi apa yang Sasuke takutkan dari sosok anak kecil nan polos ini?

"Naruto?"

"Ah.." ia tersadar dari lamunannya lalu memandang Shizune, "Ya, ada apa?"

Dahi Shizune berkedut kesal, "Kau tidak mendengar perkataanku ya?"

"Aku mendengarnya kok, kau menyuruhku untuk menjaga Sasuke apapun yang terjadi kan? Tanpa kau beri tahu pun aku pasti akan melakukannya. Tapi Shizune nee-chan..." Naruto tampak berfikir sejenak.

"Tapi apa?"

"Dia benci dengan anak kecil, apa itu baik-baik saja? Ia bahkan melayangkan pandangan membunuh kepada balita yang tidak sengaja lewat di depan rumah. Bagaimana dengan bayi yang tengah di kandungnya? Yang bahkan berada di dalam perutnya?"

"Kau khawatir jika Sasuke-kun akan melakukan... itu?"

Naruto mengingit bibirnya pelan, lalu menganggukkan kepalanya.

"Pastikan kelakuannya untuk satu bulan kedepan, jika itu hanya shock biasa ia mungkin akan mencoba menerima keberadaan anaknya sendiri. Tetapi jika itu masih tetap berlanjut, kau harus kembali membawanya kemari." Ujar Shizune serius. Ia juga menyadari hal yang janggal saat Naruto membopong Sasuke yang setengah sadar kembali kesini, ia bisa melihat sorot mata bermanik hitam itu penuh ketakutan.

"Baiklah..." ucap Naruto pasrah. "Nee-Chan... Apa aku boleh membawanya saat ia telah sadar nanti?"

Shizune memandang cucu dari salah satu dokter senior di rumah sakit ini sekaligus gurunya dengan pandangan sedih. Ia mempunyai firasat jika kehamilan ini bukanlah sebuah kebahagiaan seperti biasa orang rasakan. "Ya, tetapi ingat Naruto, walaupun kehidupan kalian mungkin akan sulit karena keberadaan bayi itu, jangan sekali-kali berfikir untuk membunuhnya, bayi adalah makhluk yang suci, mereka tidak tahu apa-apa tentang ini." ujarnya kemudian.

Naruto memandang Sasuke sejenak lalu kembali memandang Shizune, "Aku mengerti. Kuharap Sasuke juga..." lirihnya penuh harap.

.

.

.

Naruto telah mengabarkan berita kehamilan Sasuke kepada kelurga terdekat, mereka turut senang mendengar kabar ini walaupun dengan berbagai tanda tanya bermunculan. Mereka pun berencana mengunjungi Sasuke akhir pekan nanti.

Beberapa hari ini ia memutuskan membeli makan di luar karena Sasuke masih betah berdiam diri di dalam kamar tanpa mau melakukan apapun, ia yang hanya bisa memasak nasi dan tentu saja ramen memutuskan untuk membeli bubur ayam di luar dan kini ia tengah berusaha menyuapi sang Uchiha yang masih menolak bahkan untuk membuka mulutnya.

"Sasuke, ayo dimakan, nanti dingin loh. Kau tidak suka makan makanan yang dingin kan?" Naruto kembali mendekatkan sesendok bubur ke mulut Sasuke yang tentu saja mendapat penolakan.

Demi Sasuke dan calon anaknya nanti, ia rela membatalkan seluruh pertemuan dan menyuruh sekretarisnya untuk menggantika dirinya bertemu dengan klien yang ia rasa sangat penting. Ia cuti satu minggu untuk menemani Sasuke di masa awal kehamilannya.

Malam hari adalah waktu yang sangat ingin ia lalui karena waktu itu adalah waktu di saat Sasuke mau membuka mulutnya, namun disertai sebuah isakan dan di lanjutkan dengan tangisan.

Rapalan kata seperti "Jangan ganggu aku," atau pun "Pergilah, ku mohon." Selalu menyertai disaat Sasuke menangis tanpa sebab di malam hari. Ia tidak tahu untuk siapa permohonan itu di sebutkan tetapi ia yakin jika itu bukan untuk dirinya.

Sore hari telah tiba, Naruto berniat beranjak ke kamar mandi dengan membawa Sasuke untuk ia mandikan. Ia meletakkan tubuh pucat itu ke dalam bak mandi yang telah tergenangi air hangat lalu ia pun menyusul. Tangan tan nya dengan cekatan membasuh seluruh bagian tubuh Sasuke lalu mulai menyabuninya.

"Oi Sasuke..." panggilnya masih dengan tetap melakukan kegiatannya, "Besok aku sudah harus menghadiri rapat yang aku tunda seminggu ini, apa kau masih seperti ini terus?" tanyanya.

"..."

Naruto membasahi kembali tubuh Sasuke yang telah ia sabuni lalu bersender di tepi bak mandi, "Sekarang kita sudah menikah kan? Kita tidak bisa lagi main rahasia-rahasiaan seperti dulu, kalau kau ada masalah dengan anak kecil kau bisa mengatakannya padaku. Kita akan selesaikan bersama-sama, bukan begitu seharusnya?"

"Aku..."

"Hah?" reflek Naruto mendekatkan dirinya kepada Sasuke, mencoba mendengarkan perkataan yang Sasuke coba utarakan. "Kau mengatakan sesuatu?"

Mata hitam Sasuke yang semula kosong menatap Naruto dengan pandangan datar, "Aku bahkan tidak tahu apa yang membuatku membenci anak kecil, yang pasti saat melihat mereka, hanya ada rasa kesal sekaligus takut yang aku rasakan."

"Apa kau trauma akan sesuatu?"

"Entah..."

Selagi Naruto menghela nafas menghadapi tingkah misteriusnya ini, Sasuke memutuskan untuk keluar dari bak mandi terlebih dahulu dan memakai celana pendeknya.

Deg! Deg!

Matanya kembali membelalak saat merasakan kehadiran sosok itu berada di pojok kamar mandi, reflek ia memundurkan badannya dan tanpa sadar membuat dirinya terpelanting ke belakang karena gerakan tiba-tibanya.

"Sasuke!"

Naruto berhasil menangkap tubuh Sasuke sebelum dia jatuh menghantam lantai kamar mandi, tubuh dalam dekapannya ini kembal bergetar, pandangannya terarah ke arah pojok kamar mandi penuh ketakutan. Naruto mengikuti arah pandang Sasuke dan tidak menemukan apapun yang membuat Sasuke ketakutan.

"Naru... Naru..." dan lelaki itu kembali menangis. Naruto lekas membawa Sasuke keluar dan menidurkannya di atas kasur.

"Kenapa kau menangis lagi sayang?" Naruto ikut menidurkan dirinya lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dan Sasuke dengan selimut, ia rengkuh Sasuke kedalam pelukannya.

"Ugh.. Aku.. ti-tidak kuat lagi Naru..."

"Apa yang membuatmu tidak kuat? Aku tidak mengerti Sasuke."

"Aku tidak kuat dengan keberadaan benda ini di dalam tubuhku Naruto!" teriak Sasuke seketika di tengah tangisannya. "Dia selalu menggangguku karena bayi ini! Aku bisa gila!" ia melepas paksa pelukan Naruto lalu bangkit dari tidurnya.

"Aku tahu kau tidak akan nyaman dengan kondisi kehamilan perta-"

"Bukan itu! Kenapa kau tidak mengerti Naruto?! Dia selalu menghantuiku karena bayi ini! Aku muak dengan keberadaannya Naruto! Aku ingin dia pergi dari kehidupanku!" teriak Sasuke bak kerasukan. Sedetik kemudian ia mulai tersenyum, seakan menyadari sesuatu.

"Aku tahu... aku tahu..." Sasuke beranjak dari kasur lalu berjalan pelan ke arah pintu kamar. "Aku hanya perlu membunuh bayi ini dan semuanya akan selesai." Ia membuka pintu tersebut dan berlari keluar.

"Kau gila! Ck Kuso!" Naruto memakai celana pendeknya asal-asalan dan berlari menyusul Sasuke yang berlari ke dapur, dan melihat jika sang Uchiha telah membawa pisau di tangannya.

"Sasuke jangan!" ia berniat merampas pisau tersebut dari tangan Sasuke.

"Diam Naruto! Aku akan menyelesaikan ini semua dan kita akan kembali seperti semula!" Sasuke telah mengarahkan pisau tajam itu ke arah perutnya. "Jangan harap aku mau membawamu bersamaku sialan!"

Dengan nekat Naruto menarik pisau itu dari tangan Sasuke dan membuat telapak tangannya penuh dengan darah karena ia harus menarik mata pisaunya untuk membuat pisau itu terlepas dari tangan Sasuke dan membuangnya jauh-jauh dari Sasuke.

"Apa yang kau lakukan breng-"

PLAKK!

Waktu seakan berhenti saat tamparan keras itu bersarang pada pipi kanan Sasuke, pemuda Uchiha itu menyentuh pipinya lalu memandang Naruto dengan nanar.

"A-apa yang kau lakukan?"

"Menyadarkanmu sialan!" jawab Naruto garang. "Kau pikir dengan membunuh bayi kita semua masalah akan selesai? Begitu? Dimana otak jeniusmu Uchiha?!"

Sasuke masih terdiam, dirinya seakan tersadar dari sesuatu. Pelukan yang ia terima kemudian semakin menyadarkan perbuatannya.

"Aku mohon Sasuke... Jangan lakukan lagi... Itu pertama dan terakhir kalinya aku menamparmu, kau juga harus berjanji itu adalah pertama dan terakhir kau berbuat seperti itu..." ujar Naruto lirih penuh penyesalan dan permohonan.

Sasuke mengalungkan tangannya pada leher Naruto, "Maafkan aku Naruto..." isaknya kemudian. "Aku akan berusaha."

.

"Apa kau lapar? Bagaimana kalau kita-"

"Aku mengantuk, tidur saja."

"Tetapi aku-"

"Kau lapar? Aku akan membuatkannya untukmu, tetapi sebelumnya aku.. akan menyembuhkan tanganmu terlebih dahulu.."

"Hehehe... Arigatou Sasuke-Chan~"

"Urusai dobe!"

.

TBC