I Hate Childern 'CHAPTER 6'

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : T menjurus ke M.

Genre : Horror, Family, and Romance.

Warning : Sedikit OOC!, M-PREG, Lime aja nggak usah lemonan :v , BoysLove, Sedikit Gore, Typo (s)

.

.

Usia kandungan Sasuke sudah memasuki 4 bulan, Naruto sudah heboh sendiri dengan jenis kelamin sang anak dan Sasuke yang hanya menimpalinya dengan bosan.

Dalam waktu empat bulan ini, jujur saja rasa ingin menyakiti janin dalam perutnya selalu ada. Setiap malam ia selalu di ganggu oleh sosok yang tidak ia ketahui siapa, dan Naruto yang mendengar cerita darinya selalu berkata jika itu hanya khayalanannya atau mimpi.

"Ne... Ne... Sasuke?" panggil Naruto setelah selesai berkutat dengan ramennya.

"Hn."

"Aku merasa sangat bahagia." Ujar Naruto dengan wajah cerahnya.

"Kau selalu bahagia, baka."

"Tidak-tidak!" Naruto mengibas-ibaskan tangannya. "Ini berbeda."

"Apa bedanya?"

"Aku akan memiliki anak. Darah daging kita sendiri, sebelumnya aku hanya membayangkan jika kita akan memiliki anak adopsi. Sampai sekarang aku masih merasa ini mimpi saat melihat perutmu mulai membuncit." Naruto berkata dengan tulus. Ia sangat bahagia dan Sasuke mengetahui hal itu.

Inilah salah satu hal yang membuatnya bertahan dari teror makhluk yang selalu mengganggunya.

Naruto selalu bisa membuatnya bahagia.

Apapun yang Naruto lakukan ia selalu bahagia. Walaupun ia menutupi itu semua.

Dan kini, lelaki pirang itu seakan meminta balasan darinya dengan bayi – Sialan – ini.

"Naruto..." tidak tahu mengapa suaranya mendadak bergetar. Ia memandang mata biru yang sedari tadi telah memandangnya.

"Bayi ini..." Ia menunjuk perutnya, "Dan aku..." ia menunjuk dirinya sendiri.

"Jika harus ada yang mati saat ini juga, siapa yang akan kau pilih?"

.

.

.

.

"Trauma?"

Naruto menganggukkan kepalanya dengan masih memandang Sai, "Apa dahulu Sasuke pernah mengalami trauma terhadap anak kecil?"

Jam makan siang ini mereka gunakan untuk berbicara empat mata di sebuah kafe. Sai yang kebetulan memiliki banyak waktu luang menyanggupi permintaan sang kakak ipar untuk membicarakan perilaku aneh Sasuke semenjak kehamilannya.

"Seingatku sih tidak, bahkan dia sangat mencintai anak kecil walaupun kadang risih dengan tingkah mereka. Dia bahkan selalu mencubit kedua pipiku setiap bangun," Ujar Sai. "Itu saat kami masih berumur 7 tahun." Tambahnya.

Pemuda berkulit pucat itu sangat yakin dengan perkataannya, ia juga ingat Sasuke pernah meminta adik – Lagi – kepada sang ibu sangking cintanya dia terhadap anak kecil. Ia juga bingung kenapa sekarang ia sangat membenci anak kec- Tunggu!

"Naruto," panggil Sai meminta perhatian dari Naruto kembali.

"Sudah mengingatnya? Bisa kau bicarakan singkat saja? Sebentar lagi jam makan siangku habis."

"Aku tidak yakin dengan ini, tetapi perasaanku mengatakan kalau hal ini yang membuat Sasuke sangat membenci anak kecil." Sai berkata tak yakin, karena dia sendiri pun masih meragukan pemikirannya.

"Sasuke pernah terkunci di ruang mayat, dengan kedua mayat anak kecil yang baru saja di masukkan ke dalam ruangan tersebut."

FLASH BACK

Mikoto telah mengemasi berbagai macam buah-buahan lalu menyerahkanya kepada Sasuke, "Ini buah-buahan untuk temanmu yang sakit itu, jangan lupa ya."

Sasuke yang saat itu berumur 8 tahun menganggukkan kepalanya, "Iya Kaa-san. Sasu berangkat duluan ya."

"Kau tidak menunggu Sai dan kakakmu?"

"Kelamaan, Sasu malas menunggunya. Biar dia berangkat sama Nii-san saja." Ujar Sasuke malas. Mikoto tersenyum lalu mencubit pelan pipi tembam sang anak.

"Jangan begitu dengan adikmu sendiri Sasu, nah itu dia sudah kemari." Wanita berambut hitam panjang itu mengulas senyum seraya memandang Sai yang tengah berlari kecil ke arah mereka di ikuti Itachi di belakangnya.

"Maaf lama, jangan cemberut dulu dong Sasuke." Itachi mengacak surai hitam Sasuke lalu mendorong tas adik kecilnya itu untuk keluar tak lupa dengan menggandeng tangan Sai. "Kami berangkat dulu ya Kaa-san! Otou-san!"

"Iya! Hati-hati di jalan!"

Itachi dan Sai tengah membicarakan hal yang mengasyikkan dan terkadang membuat mereka berdua tertawa lepas di jalanan yang sepi ini, mengindahkan Sasuke yang tengah bersusah payah membawa buah-buahan yang telah sang ibu tata rapi di dalam keranjang.

Dia seorang yang pendiam, malas sekali berbicara hal yang tidak penting dan membuatnya banyak di jauhi oleh teman sekelasnya. Beruntung, adik kembarnya itu sekelas dengannya jadi ia masih bisa merasa nyaman bersama bersama dengan Sai.

Tak sengaja matanya menatap seorang ibu yang tengah menggendong bayi mungilnya di depan rumah, membiarkan sinar matahari pagi menyehatkan kulit sang bayi. Ia tersenyum melihat bayi lucu itu mulai menggeliat, tanpa sadar ia menghampiri sang ibu dengan bayinya itu, masih dengan melihat bayi lucu tersebut.

Wanita yang mengerti maksud Sasuke menghampirinya memutuskan untuk merendahkan tubuhnya dan memperlihatkan bayi itu lebih jelas keada Sasuke, "Lucu ya?" tanyanya ramah.

Sasuke mengedip-ngedipkan matanya, lalu mengangguk. "Boleh aku memegang pipinya?" tanyanya.

"Tentu." Dan Sasuke pun mulai menyentuh pipi tembam dan lembut itu dengan jari telunjuknya yang tidak memegang keranjang. Bayi itu kembali menggeliat lalu membuka kedua matanya. Sasuke menarik tangannya, takut membangunkan sang bayi.

"Tidak apa-apa, dia tidak tertidur kok. Bayi kan senang sekali menutup kedua matanya." Wanita itu tersenyum lembut. Pipi putih Sasuke bersemu malu lalu kembali memandang sang bayi yang tengah memandangnya dengan wajah lucunya.

"Kaa-san! Tou-san menyuruh kita bersiap-siap!" seorang anak berumur 6 tahun berlari dari dalam rumah lalu menghampiri sang wanita dan juga bayi dalam gendongannya.

"Sasuke!" ia memalingkan wajahnya dan melihat Itachi tengah berlari ke arahnya dengan seraya menghela nafas kasar. "Astaga aku kira kau menghilang." Sai di belakangnya hanya memandangnya datar. Sasuke mendengus pelan.

"Kalian sibuk sendiri, lebih baik aku melihat adik bayi yang lucu itu." Itachi mengikuti arah pandang Sasuke dan melihat sang ibu dan bayinya tengah memandang mereka bertiga heran.

"Kaa-san, ayolahh!"

"Ah, saya permisi dulu ya. Hati-hati di jalan." Wanita itu tersenyum lalu berjalan memasuki rumahnya. Sasuke memandang kepergian sang wanita dengan pandangan tak rela.

Itachi menggandeng tangan Sasuke dengan tangan kanannya, takut Sasuke berhenti mendadak seperti tadi. Lalu tangan kirinya ganti menggandeng tangan Sai. Hah.. Memang sulit mengurus adik-adiknya yang masih kecil ini sendirian.

.;. .;.

Satu kelas sepakat untuk mengunjungi ketua kelas mereka yang sedang sakit di rumah sakit, dengan di dampingi oleh wali kelas tentunya. Setelah bersiap-siap selama satu jam, siswa berjumlah 27 itu menaiki bus yang sudah di pesan khusus untuk menuju ke rumah sakit.

"Jangan berbuat keributan di rumah sakit." Pesan sang wali kelas di ikuti anggukan dari para muridnya.

"Ohayou Tanesi!" walaupun begitu, namanya juga anak-anak, mereka tetap saja ribut di dalam ruangan sang ketua kelas walaupun telah dilarang sekalipun. Mereka bersenang ria, membicarakan hal-hal yang sangat mengasyikkan, dan Sasuke pun tetap berdiam diri dengan duduk saja menjauhi mereka.

"Kau sudah menyerahkan buah-buahan itu untuk Tanesi?" Sasuke menganggukkan kepalanya. Sai hanya bergumam seadanya lalu duduk di samping sang kakak. "Kau tidak mau berbicara dengan ketua kelas? Hampir semua anak sudah loh."

"Mendoakan kesembuhannya sudah cukup." Jawab Sasuke singkat.

"Eh, eh. Tadi aku dengar ada yang kecelakaan loh." Kedua anak kembar itu serentak memandang seorang anak laki-laki yang berkata tadi.

"Iya, katanya dua anak kecil menjadi korban dari kecelakaan itu. Kasihan ya~"

Sai menyenggol bahunya, mengajaknya untuk ikut pembicaraan itu. Sasuke menggelengkan kepalanya. Tahu kalau percuma saja memaksa sang kakak untuk semakin dekat dengan teman sekelas, Sai pun meninggalkan Sasuke dan ikut nimbrung pembicaraan mereka.

Ketiga anak laki-laki yang tidak ikut nimbrung pembicaraan hangat itu memandang Sasuke dengan seringai. Mereka membicarakan sesuatu lalu salah satu dari mereka memutuskan untuk menghampiri Sasuke. "Hei!"

Sasuke memandang sosok itu tak minat, "Ada apa?"

"Mau ikut bermain dengan kami?" sosok itu memandang kedua rekannya yang telah berdiri di dekat pintu lalu berganti memandang Sasuke. "Lalu ada aku juga ingin meminta bantuan darimu."

Sasuke memandangnya lama, menimbang permintaan teman satu kelasnya itu.

"Kau harus banyak-banyak berteman dengan mereka, sial sekali kita semua akan satu kelas sampai lulus nanti. Sesuai sistem disini."

Ia ingat perkataan Sai beberapa minggu yang lalu, dan ia rasa jika ia mengiyakan ajakan temannya ini sebagai langkah awal keluar dari jurang kesendiriannya.

Sasuke pun menganggukkan kepalanya.

Bocah itu menyeringai dalam hati lalu mengajak Sasuke untuk keluar dari ruangan.

Keempat orang anak itu tengah berjalan bersama di antara lalu lalang orang, saat Sasuke bertanya kemana mereka akan pergi, bocah yang mengajaknya tadi bilang kalau mereka akan ke taman belakang. Namun entah kenapa Sasuke merasa curiga karena semakin mereka berjalan, semakin sedikit pula orang yang berlalu lalang.

"Sayang sekali ya kedua anak kecil itu harus meninggal terlebih dahulu dari kedua orang tuanya."

"Namanya aja kehendak Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa kan?"

Sasuke melihat kedua orang perawat berbaju hijau itu berjalan melewati mereka berempat seraya membicarakan sesuatu.

"Nah sudah sampai." Uchiha bungsu itu mengerutkan dahinya saat tidak melihat satu tanaman pun di ruangan ini. "Kau berdiri disana, kita akan main petak umpet." Bocah itu menggiring Sasuke ke depan sebuah pintu berwarna putih, tanpa sepengetahuan Sasuke ia memeriksa pintu itu dan semakin menyeringai lebar saat melihat pintu tersebut tidak dikunci.

"Kamu yang jaga ya, cepat tutup kedua matamu." Sasuke menganggukkan kepalanya lalu menutup kedua mata hitamnya. Menunggu ketiga temannya itu bersembunyi.

"Sudah!"

Ia lekas membuka kedua matanya dan mencari keberadaan mereka bertiga.

"Ah, lama sekali mencarinya!"

Baru kali ini ia bermain permainan semacam ini dengan orang selain saudaranya, wajar kan kalau ia sedikit gugup hingga hilang konsentrasi untuk mencari keberadaan mereka bertiga.

"Aku ada di dalam ruangan, ayo temukan aku kalau bisa!" mungkin sangking lamanya Sasuke mencari membuat salah satu dari mereka membocorkan tempat persembunyiannya, itulah yang di pikirkan Sasuke dan ia merasa pengecut mengetahui hal itu.

Satu-satunya ruangan yang ada di sekitarnya hanyalah ruangan berpintu putih itu, dengan perlahan ia membukanya dan tersentak kaget saat melihat banyak gundukan putih berjejer-jejer di dalam ruangan itu. Ia memutuskan untuk keluar sebelum suara pintu yang tertutup mengagetkan dirinya.

Ia memegang engsel pintu dan berusaha menariknya, namun nihil. Pintu itu tidak bergerak sama sekali.

"Buka! Cepat buka pintunya!" teriaknya panik, yang terdengar hanya suara tawa ketiga anak itu.

"Rasakan tuh Uchiha sombong, gimana ya rasanya satu ruangan dengan para mayat-mayat Hahahaha!"

Sasuke terus menggedor-gedor pintu tersebut, "Aku mohon buka pintunya! Aku mohon!" pintanya ketakutan, air mata mulai keluar dari sudut-sudut matanya.

"Ah, seperti sensei mencari kami. Kami pergi dulu ya, Jaa Naa!" dan ia pun semakin berteriak panik setelah ketiga orang yang ia sebelumnya akan menjadi temannya itu pergi meninggalkannya, terkunci sendirian...

Di dalam ruangan mayat.

Dengan badan bergetar Sasuke duduk bersender pintu putih tersebut, kedua kakinya ia tekuk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Dia tidak pernah takut dengan hantu, ia menganggap hantu adalah makhluk mitos yang tidak ada di dunia ini. Tetapi situasi kali ini berbeda, ia benar-benar merasa sangat takut kali ini.

Orang dewasa sekalipun akan merasakan hal yang sama, terkunci di dalam ruang mayat yang jauh dari lalu lalang orang.

Sasuke terisak semakin keras kala merasakan atmosfer di dalam ruangan itu semakin mencengkam. Ia tak habis pikir dengan mereka yang sangat membencinya hingga tega menguncinya seperti ini.

Apa salahnya?

Ia hanya ingin berteman dengan mereka, berteman seperti anak kecil pada umumnya.

Jika memang ingin mengerjainya, kenapa harus di kunci di dalam ruangan mayat?

Sudah lama ia berada di dalam disini, sendirian. Ia yakin akan ada orang yang mencarinya, tetapi mereka semua tidak akan berpikiran jika ia menghilang di ruangan mayat kan.

Tak sengaja matanya memandang salah satu mayat yang ditidurkan tak jauh dari dirinya, ia bisa melihat dengan jelas mayat kedua anak kecil yang masih berlumuran darah itu karena kain putih yang menutupi tubuh anak itu tidak menutupi wajah mereka juga.

Ia seperti mengenal wajah kedua mayat itu, namun ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya, tak mau berpikiran apapun di dalam ruangan ini.

Ia kembali memandang mayat itu dan matanya membelalak saat wajah kedua mayat itu telah tertutupi oleh kain putih.

'Memangnya Nii-san melihat apa?'

"AAAAHHHHHH!" Sasuke menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya seraya jatuh bersujud, kedua matanya membelalak saat melihat bayangan kaki berlumuran darah menghampiri dirinya.

"TIDAKK! JANGAN MENDEKATIKU!" ia menutup kedua matanya, dia benar-benar takut, sangat takut. Ia ingin segera keluar dari ruangan terkutuk ini.

'Nii-san...'

Tangisannya semakin mengeras, tubuhnya bergetar hebat, keringat mulai membasahi wajah dan juga tubuhnya.

BRAKK!

Pintu putih itu terbuka bersamaan dengan seorang perawat yang langsung menggendongnya pergi dari ruangan tersebut.

END OF FLASHBACK

"...dan setelah itu ia selalu berteriak-teriak ketakutan setiap malam. Ia bahkan menangis saat melihatku atau anak kecil lainnya, Kaa-san dan Otou-san bahkan ingin menuntut ketiga bocah yang mengunci Sasuke, sebelum mereka sadar tidak ada gunanya menuntut anak kecil." Sai berujar sedih. Ia baru ingat hal ini, mungkin kalau ia tidak berfirasat kalau sang kakak tengah di kunci di dalam ruangan mayat, Sasuke akan di temukan keesokan harinya.

Wajah Naruto mengeras, "Aku benar-benar ingin menghajar ketiga bocah sialan itu, perbuatan jahil mereka membuat masalah ini semakin besar. Kuso!"

"Aku tidak tahu kalau hal itu akan teringat kembali, karena aku pikir Sasuke benar-benar telah melupakan kejadian itu dan kembali seperti semula. Mungkin bayi yang di kandunnya membuatnya mengingat kejadian yang membuatnya trauma."

"Sai... Cepat temani Sasuke sekarang juga..." Naruto memandang Sai dengan penuh permohonan, "Aku tahu Sasuke sangat menyayangi anak kecil melebihi apapun, aku mohon jaga dia selagi aku tidak ada."

Sai menyeringai kecil lalu bangkti dari duduknya, "Tidak perlu meminta hal itu kepadaku. Karena aku sebagai saudara kembarnya pasti akan melakukannya tanpa aku sadari. Benar-benar merepotkan."

.

.

TBC