I Hate Childern 'CHAPTER 7'

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : T menjurus ke M.

Genre : Horror, Family, and Romance.

Warning : Sedikit OOC!, M-PREG, Lime aja nggak usah lemonan :v , BoysLove, Sedikit Gore, Typo (s)

.

.

Sasuke terbangun dengan perasaan yang tenang tanpa mimpi buruk yang selalu menghantuinya 4 bulan ini. Ia bersyukur dalam hati.

Mata hitamnya melirik jam yang terpasang di dinding, pukul empat belas lebih tiga puluh menit.

Tanpa sadar tangannya mengelus perutnya yang mulai membuncit seraya membayangkan masakan apa yang tengah sang ibu masak untuk makan malam ini.

Mendadak ia sangat merindukan masakan terenak di dunia ala Uchiha Mikoto itu.

Lekas ia mengambil ponselnya lalu menelepon sang ibu, walaupun dirinya pun akan menjadi calon 'ibu' bagi ehemanaknyaehem ini ia masih saja tidak bisa menghalau rasa rindu barang sedikit pun kepada orang tuanya itu.

"Halo? Sasuke? Ada apa?"

Sasuke melengkungkan senyuman, "Tidak apa-apa, aku hanya rindu pada Kaa-san saja. Kaa-san malam ini masak apa?"

"Hahaha Kaa-san juga rindu padamu. Ummm... Mungkin sup ayam, Tou-san mu sedikit tidak enak badan jadi Kaa-san memutuskan masak sayuran saja."

"Aku juga ingin makan masakan Kaa-san."

"Eh?"

Sasuke menggaruk pipi kirinya dengan jari telunjuknya, "Aku ingin makan sup buatan Kaa-san."

"Kapan?"

"Tentu saja sekarang, nanti malam maksudku."

"Bukannya Naruto masih sibuk? Ini bukan malam minggu loh sayang~"

"Aku akan pergi ke rumah sendirian. Aku benar-benar ingin makan buatan Kaa-san!" ujarnya err sedikit merajuk? Sasuke bahkan terkejut dengan nada bicara yang berbeda dari biasanya itu.

"Ara... ara... anak Kaa-san ini sedang mengidam rupanya~"

"Ap-" kedua pipi Sasuke memerah, "Si-siapa yang ngidam? Aku hanya ingin masakan Kaa-san kok, kan sudah lama aku tidak makan masakan Kaa-san. Sai mah enak setiap hari makan buatan Kaa-san. Pokoknya nanti aku akan datang ke rumah."

"Iya-iya, nanti Kaa-san akan masak lebih banyak. Lebih baik kau kemari dengan Naruto ya, Kaa-san khawatir terjadi sesuatu denganmu."

"Hah, aku akan memaksanya agar ia mau pulang lebih sore dari biasanya. Jaa Naa Kaa-san."

Setelah sambungan telepon antara dia dan ibunya terputus, lekas ia mengetikkan nomer ponsel yang sudah ia hafal di luar kepala itu lalu meneleponnya.

"Hm.. halo Sasu-Chan? Kangen sama a-"

"Bisa kau pulang lebih sore hari ini? Aku ingin berkunjung ke rumah Kaa-san untuk makan malam." Sela Sasuke cepat.

"Kenapa mendadak sekali? Baru saja aku mau menelponmu kalau aku akan pulang malam hari i-"

"Kenapa kau tega sekali mementingkan makan malam bersama klien mu dari pada makan malam bersama Kaa-san?" rasa kesal mendadak muncul membuat Sasuke lagi-lagi menyela ucapan Naruto.

"Hei! Dengarkan aku dulu!"

"Aku tidak mau tau, kalau kau jam tiga nanti belum datang juga, aku akan ke rumah Kaa-san sendirian. Aku juga tidak mau tahu kalau semisal tubuhku ini di tabrak oleh kendaraan dan mati, kau harus ingat kalau aku masih membenci makhluk di dalam perutku ini sialan!" ujar sang raven dengan penuh emosi.

Tidak ada balasan dari sang suami membuat Sasuke menyeringai senang karena berhasil membuat Naruto kebingungan karena ucapannya.

Terdengar suara helaan nafas dari seberang, "Baiklah, aku akan pulang jam tiga nanti. Jangan lakukan hal gila lagi Sasuke, kumohon.."

"Hn. Cepat pulang." Dan Sasuke memutuskan kontak di antara mereka berdua.

Ia sadar kalau menyuruh Naruto pulang di saat ia sedang sibuk-sibuknya demi kepentingannya sendiri adalah egois. Tapi bagaimana lagi...

.;. .;. .;.

"Aku benar-benar ingin makan sup buatan Kaa-san. Kalau Kaa-san tidak memintaku datang bersamamu, aku tidak akan memaksamu pulang kok." Bela Sasuke saat Naruto pulang dengan berbagai pertanyaan yang dia lontarkan.

"Tetapi tidak mendadak juga kan? Untung saja klien ku mau mengerti dan mau menundanya, bagaimana kalau klien ku itu orang paling galak di dunia ini? Dan apa-apaan ancaman mu itu?"

"Aku juga mendadak ingin makan sup buatan Kaa-san. Kalau kau tidak ikhlas, sana pergi makan malam sama klienmu!"

"Iya.. Iya.. Aku mengerti." Naruto memutuskan untuk mengalah dari pada nantinya mereka bertengkar untuk hal yang tidak penting. Lagi pula ia sudah mulai memahami sifat Sasuke yang berubah-ubah karena kehamilannya ini. Setiap Naruto menelepon ibunya, sang ibu selalu mengingatkan hal itu hingga ia hafal di luar kepala.

"Aku sudah menyiapkan air panas untukmu, aku tunggu di ruang keluarga." Ujar Sasuke yang terlihat mulai tenang lalu berjalan keluar kamar.

Ya kan, cepat sekali moodnya itu berubah. Mengerikan – batin Naruto seraya tersenyum lalu berjalan memasuki kamar mandi.

...

Jam tiga lebih tiga puluh menit mereka memutuskan untuk berangkat, jalan kaki.

Sasuke bersihkeras untuk jalan kaki ke rumah sang ibu yang berjarak seperti melewati 3 desa alias jauh karena ingin. Dan Naruto pun hanya menurut saja dari pada Sasuke kembali bawel.

"Kau masih tidak ikhlas Naruto?" Naruto yang sedari tadi memandang langit sore hari lentas mengalihkan pandangannya dan mengangkat sebelah alisnya.

"Tidak biasanya kau diam saja." Lanjut Sasuke tanpa memandang Naruto. Mata hitamnya masih memandang lurus ke depan.

"Ah... itu.. Aku hanya sedikit lelah saja. Tetapi jalan kaki juga menyehatkan sih, walaupun melelahkan."

"Mau naik kereta? Aku membawa uang lebih." Sasuke melayangkan pandangan tak enak pada Naruto. Dia kan sudah bekerja dari pagi hingga sore, pasti sangat melelahkan sekali apalagi ia dengan seenaknya mengajak Naruto berjalan kaki.

"Kenapa kau malah mengawatirkanku?" Naruto tertawa kecil lalu merangkul pundak Sasuke dengan tangan kanannya. "Yang harus di khawatirkan itu adalah dirimu sendiri. Sudahlah, lagi pula udara sore hari membuat semangatku kembali membara!" ujarnya penuh semangat.

Sasuke tersenyum sangat tipis sekali melihat Naruto kembali bersuara. Melihat pose mereka berdua ini membuatnya teringat masa muda mereka dahulu saat berpacaran, Naruto tanpa sungkan merangkul dirinya di hadapan teman-teman atau di depan umum, membuatnya lekas melepaskan pelukan itu lalu menghajar wajah idiot itu dan pergi dengan wajah memerah.

"Terkadang, aku merindukan masa remaja kita dahulu. Masa di mana kita dapat melakukan apapun tanpa beban dan bebas." Celetuk Naruto tiba-tiba.

Sepanjang perjalanan mereka lalui dengan perbicangan masa remaja mereka, bahasa kerennya sih lagi nge flash back dan tanpa sadar mereka telah memasuki kompleks perumahan tempat keluarga Uchiha tinggal.

Sasuke memijat kedua kakinya yang mulai merasa lelah, berjalan 3 km lebih dengan membawa beban di perutnya bukanlah perkara yang mudah.

"Ayo kita duduk dulu disini saja, kenapa perumahan ini tidak ada tempat duduknya sih?" Naruto menuntun Sasuke untuk duduk trotoar jalan untuk melepas lelah sejenak.

Di depan mereka terdapat rumah sederhana yang seperti di rawat seadanya, rumah ini berbeda dari rumah di sekitarnya yang terlihat lebih modern, tetapi yang membuat Sasuke merasa kalau rumah tersebut ada yang menghuni adalah adanya sosok wanita seumuran ibunya yang tengah duduk termenung di luar rumah, memandang kosong tepat kepadanya, dan itu sedikit membuatnya risih.

"Naruto.." bisiknya pelan.

"Hm?"

"Lebih baik kita segera melanjutkan jalan lagi," pintanya masih dengan melirik wanita tua yang tiba-tiba membelalakan kedua matanya.

"Tapi kau masih ca-"

"ARGHHHHHH!" wanita tua itu berteriak bak kesetanan lalu berlari ke arah mereka berdua, menarik keras pagar yang menghalangi jalannya lalu kedua tangan rapuhnya menggenggam erat kedua bahu Sasuke yang telat untuk melarikan diri.

"Anakku! Aku melihat kedua anakku disini! Dimana dia?! Berikan kepadaku!" teriak wanita tua seraya mengguncang tubuh Sasuke dengan keras.

Naruto yang melihat itu reflek berusaha melepaskan cengkraman wanita tua yang erat itu dengan dibantu Sasuke sendiri, "Baa-san! Tenanglah! Lepaskan Sasuke dan kita bicarakan baik-baik!" ujarnya dengan kebingungan.

"Kedua anakku ada disini! Di dekat orang ini! Kau pasti menyembunyikannya kan?! Dimana anakku?! Berikan kepadaku!" paksa wanita tua itu dengan wajah frustasinya.

"Sa-saya tidak tahu maksud anda," dengan susah payah Sasuke berusaha membalas perkataan sang wanita seraya berusaha melepas cengkraman wanita tua itu.

"Sawako hentikan!" teriak seorang lelaki dari dalam rumah itu lalu berlari ke arah sang wanita, berusaha menjauhkan sang wanita dari Sasuke.

"Sawako!"

"Aku melihat kedua anak kita berada di dekatnya! Dan tiba-tiba saja menghilang di balik tubuhnya! Aku hanya ingin kedua anakku kembali!"

Sang lelaki yang ternyata suami dari wanita tua itu lekas memandang Naruto, "Cepat pegangi pemuda itu, aku akan menarik istriku dengan paksa darinya, sekali lagi maaf merepotkan anda."

Tidak ada waktu untuk berfikir, Naruto lekas berdiri tepat di belakang Sasuke untuk menahanny agar tidak jatuh saat suami wanita itu menarik paksa sang istri.

"AHHHH Lepaskan aku! Lepaskan!" wanita tua itu masih saja berontak di dalam kukungan sang suami, kedua matanya memandang Sasuke dengan wajah berantakannya.

"Cepat pergi dari sini!" perintah lelaki itu dan Naruto lekas menuntun Sasuke untuk sedikit berlari dari wanita tua yang sepertinya mempunyai kelainan jiwa itu.

Keduanya sama terengah-engah dan berhenti saat merasa mereka telah berlari cukup jauh dari rumah mereka.

Naruto memandang kedua lengan atas Sasuke yang tertutupi jaket tebal dan ia yakin cengkraman wanita tua itu sudah membuat lengan itu sedikit memerah.

Sasuke yang merasa sangat lelah tersentak saat melihat Naruto telah berjongkok di depannya, menghadapkan punggung tegapnya itu kepada dirinya.

"Naiklah, aku tahu kau lelah. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan dirimu." Ujar sang pirang.

"Aku masih kuat kok, kau tidak perlu khawa-"

"Aku mohon turuti perkataanku Sasuke, kau tidak bisa membohongiku!" sela Naruto dengan sedikit emosi. Jika saja ia menyadari kalau wanita tua ternyata gila, ia sudah menghajar orang itu sebelumnya.

Berani-beraninya dia menyakiti Sasuke tepat di hadapanku, ia benar-benar marah kali ini.

Sasuke terdiam lalu menghela nafasnya, dengan perlahan ia mengalungkan kedua tangannya ke depan leher Naruto lalu menumpuhkan seluruh beban tubuhnya pada punggung sang pirang. Naruto mengangkat tubuhnya dengan perlahan dan mulai berjalan.

"Anak kecil... Baik langsung mau pun tidak telah membuatku menderita, kau sudah tahu sendiri kan Naruto?" Sasuke menyenderkan kepalanya pada bahu Naruto, menghirup aroma yang sangat disukainya itu.

"Aku akan menghilangkan trauma mu itu Sasuke,"

"Apa maksudmu? "

"Aku yakin kau tahu apa maksudku, Teme."

Mereka berdua telah tahu apa akar masalah dari semua ini, yah hanya akar saja. Tetapi bagaimana kalau akar ini sangatlah kuat hingga mereka sangatlah sulit untuk di lepaskan.

"Onii-Chan.. Kau sudah membuat Kaa-san ku menangis, apakah aku benar-benar ingin bermain lebih lama denganku?"

Mata hitam itu membelalak lebar saat rasa sakit tiba-tiba muncul di dari dalam perutnya.

"Nii-Chan tidak akan pernah terlepas.."

"Sampai aku puas..."

Sosok anak kecil dengan bayi di gendongannya itu menatap kedua orang itu dengan senyum mengerikan, dan sialnya hanya Sasuke saja yang dapat melihat itu.

.

.

TBC