I Hate Childern 'CHAPTER 8'

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : T menjurus ke M.

Genre : Horror, Family, and Romance.

Warning : OC! , Sedikit OOC!, M-PREG, Lime aja nggak usah lemonan :v , BoysLove, Sedikit Gore, Typo (s)

.

.

Sebagai seorang ibu, lantas saja Mikoto terpekik terkejut saat melihat Sasuke bergetar ketakutan di gendongan Naruto. Kedua anaknya itu sama-sama berantakan.

Mikoto menyuruh mereka memasuki rumah dan Naruto lekas mendudukan Sasuke di sofa.

"Aku akan membuatkan teh untuk kalian." Dengan panik Mikoto pergi menuju ke dapur. Memutuskan untuk menyediakan mereka berdua minuman sebelum bertanya lebih lanjut.

"Sasuke?" berkali-kali Naruto memanggil Sasuke, namun lelaki berambut hitam itu sama sekali tidak menanggapinya. Kedua matanya masih terbelalak dan Naruto tidak tahu apa yang membuat Sasuke ketakutan seperi itu.

Dia yakin bukan karena perbuatan wanita sakit jiwa itu, semenjak di gendongannya lah ia merasakan tubuh ringkih itu bergetar entah kenapa.

Mikoto datang dengan membawa nampan berisikan 2 gelas teh hangat lalu duduk di samping sang anak. Mengelus bahunya.

"Ada apa Naruto? Kenapa Sasuke datang dalam keadaan seperti ini?" tanyanya cemas.

"Ditengah jalan kami mendapat gangguan dari wanita yang rumahnya di depan gang. Wanita itu menyerang Sasuke, mungkin itu yang membuat Sasuke ketakutan." Jawab Naruto tak yakin. Mana mungkin Sasuke ketakutan hanya karena hal itu.

Mendadak ia teringat sesuatu.

Trauma.

Sasuke ketakutan karena teringat traumanya, atau ada sesuatu hal yang membuat ketakutan itu muncul?

"Ah.. Sawako-san ya..." gumam Mikoto seraya mengambil cangkir teh dan menyerahkannya pada Sasuke, "Ini sayang.. Minum dulu tehnya biar tenang.."

Mikoto tidak pernah melihat Sasuke menampilkan wajah ketakutan seperti ini. Pemuda itu sosok yang pemberani dan kuat, walaupun ketakutan sekalipun ia akan menutupinya dengan wajah dinginnya.

Ah tidak, ia ingat kejadian beberapa tahun yang lalu.

Anak bungsunya ini juga menangis ketakutan, tidak beda jauh dengan sekarang.

Sasuke meminum teh itu dan perlahan kesadarannya kembali normal. Ia mengerjap-erjapkan matanya lalu memandang sang ibu yang tengah memandangnya khawatir.

"Kaa-san? Kenapa sedih?" tanyanya tak mengerti. Ia menengokkan kepalanya untuk melihat Naruto, "Kau juga kenapa? Berhenti memasang wajah dobemu itu!" ujarnya ketus.

Kedua orang itu menghela nafas bersamaan. Sasuke telah kembali ke semula.

"Kau tadi diam saja Sasuke, makanya Kaa-san khawatir." Jawab Mikoto seraya tersenyum.

"Kau bersikap aneh tadi Teme!" balas Naruto tak kalah ketusnya.

Mikoto menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua anaknya ini kembali bertengkar seperti anak kecil.

"Kalian ini sebentar lagi akan menjadi orang tua. Hilangkan sedikit sifat kekanakan kalian." Ujar wanita seraya tersenyum lembut.

Naruto yang mendengarnya hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, bibirnya menyunggingkan senyum selebar mungkin. Berbeda dengan Sasuke yang sedikit menurunkan pandangannya.

"Berapa usia kandunganmu sayang?" tanya sang ibu seraya mengelus lembut perut sang anak yang mulai membuncit.

"Hampir 5 bulan Kaa-san!" bukanlah Sasuke yang menjawab dengan semangat, melainkan Naruto di sampingnya yang dengan bangga berkata seperti itu.

"Wahh, tinggal empat bulan lagi Kaa-san akan memiliki cucu pertama.." ujar Mikoto senang. Namun pandangannya pada perut Sasuke mulai menyendu.

Naruto dan Sasuke menyadari hal tersebut.

"Kaa-san... Bukankah sebentar lagi Nii-san juga memiliki anak?" tanya Sasuke mulai menyadari kejanggalan dari perkataan ibunya.

"Jadi, jagoan kecilku ini bukanlah cucu pertama Kaa-san." Ujar Naruto menambahi dengan kening berkerut.

Mikoto masih terdiam, namun kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Kasami-chan..."

Kasami adalah istri dari Itachi, mereka telah menikah 2 tahun yang lalu dan baru saja diberkahi keturunan. Tetapi..

"...dia keguguran."

Kedua pasangan itu terperangah, mereka baru saja mendapat kabar ini karena Itachi tidak mengabari mereka sama sekali.

.

Itachi dan istrinya telah mendambakkan seorang anak semenjak pernikahan mereka, Sasuke juga tahu kalau kondisi kesehatan Kasami sedikit tidak baik karena itu berulang kali mereka mencoba selalu berakhir kegagalan. Tetapi setelah mereka berhasil..

"Saat itu Kasami-chan tak sengaja terjatuh dan saat di bawa ke rumah sakit, dia divonis terkena kanker rahim dan harus diangkat demi kesehatan Kasami-chan juga. Mereka berdua terlalu shock hingga tidak mengabari siapa-siapa sama sekali. Kaa-san juga tahu dari Tou-sanmu yang mengunjunginya beberapa waktu yang lalu."

Mereka yang benar-benar menginginkan seorang anak... Harus rela melepasnya, selamanya.

Sedangkan dia ?

'Kenapa...'

'Kenapa aku tidak berada di posisi mereka saja?'

)()()()()()()()(

Sudah berulang kali Sasuke mencoba menghubungi Itachi, namun suara wanita operator lah yang membalasnya. Dengan kesal ia menaruh ponselnya ke kasur lalu mendudukan dirinya di sana.

Sudah satu bulan lebih mereka tidak saling berkomunikasi, dihubungi pun sangat sulit dan itulah yang membuat emosi Sasuke yang labil semakin labil saja.

Suara detikan jam mulai terdengar saat ruangan tidur ini mulai sunyi. Lagi-lagi Sasuke sendirian di tengah teror yang selalu menghantuinya.

Dan perutnya pun semakin membesar, ia hanya bisa menutupi itu dengan memakai jaket musim dingin yang tebal.

Lebih gilanya lagi. Sosok anak kecil dan bayi itu semakin terus 'menemai' kesendiriannya.

Sasuke mengacak-acak rambutnya, membuatnya semakin berantakan lalu merebahkan dirinya dengan kasar.

Semua masalah yang ia hadapi ini membuatnya gila. Ia setress, depresi karena makhluk yang hanya ia yang bisa melihatnya.

Sasuke ingin terbebas dari 'mereka' . Dia ingin menjalani kehidupannya yang biasa saja, sebagai penulis novel berbahasa Inggris dan juga 'istri' dari Naruto.

Ia menutup kedua matanya yang mulai basah, ia tidak akan menangis karena hal ini. Ia hanya terlalu lelah, itu saja.

Mengingat sekarang telah jam satu siang, membuatnya berniat untuk bangun dan menyiapkan makan siang. Buat dia dan sang adik (Yang selalu datang) tentu saja.

Namun sosok familiar yang memandangnya tepat 3 jengkal dari wajahnya membuat nafasnya tertahan.

"Tidur yang sangat nyenyak Nii-san? Mau aku pijat.. lehermu itu?"

Sosok itu lagi-lagi datang tanpa ia sadari. Jarak mereka terlalu dekat hingga ia tak bisa melarikan diri. Satu tetes keringat mulai mengalir di pelipisnya.

Mencoba untuk tenang, Sasuke menghembuskan nafas pelahan lalu berkata perlahan, "Aku hanya ingin kau pergi dari sisiku. Itu saja."

Anak kecil itu menegakkan badannya dan dengan sengaja mendudukan diri tepat di atas perut Sasuke, membuat lelaki raven itu harus menahan sakit.

"Aku tidak akan pergi sampai permainan kita berakhir." Sosok anak kecil berlumuran darah itu menyeringai kecil.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan?"

"Aku ingin mengajakmu bersamaku... Nii-san.." dan mata hitam Sasuke terbelalak saat lehernya di cekik tiba-tiba, ia memegang tangan pucat nan dingin anak kecil di hadapannya, berusaha melepaskan diri dari cekikan yang mulai mengerat.

Dadanya yang di duduki oleh setan itu membuat pernafasannya semakin memberat.

"Le-ugh..paskan!"

..****..

"Sasuke! Kau ada di dalam!" Sai memasuki sebuah rumah yang sudah berkali-kali ia datangi tersebut dan tidak melihat keberadaan sang kakak di dapur, tempat favoritnya entah untuk memasak, melamun, atau yang lainnya.

Ia pun memutuskan untuk menghampiri kamar Sasuke, lalu mengetuk pintu yan tertutup tersebut. Walaupun ia sudah menganggap rumah ini adalah rumah keduanya, tetapi ia juga tidak bisa bebas masuk ke dalam kamar sang kakak dengan suaminya itu.

"Sasuke?" panggilnya lagi setelah tidak mendengar balasan apapun dari sang kakak.

Suara barang yang jatuh membuat ia mengerutkan dahi khawatir, tanpa banyak bicara ia segera membuka pintu yang tidak terkunci tersebut dan melihat Sasuke tengah berguling di lantai dekat kasur seraya mencekik lehernya sendiri.

"Nii-san!" dengan cepat ia mendekati Sasuke lalu memaksa tangan putih itu untuk melepas cekikan pada lehernya sendiri, "Hentikan Nii-san! Lepaskan!" ujarnya panik saat ia berkali-kali gagal menarik tangan itu untuk berhenti mencekik lehernya sendiri.

Mata Sasuke telah membalik, mulutnya terbuka seperti berusaha mencari oksigen namun tangannya sendiri dengan erat mencekik lehernya sendiri. Sai dibuat bingung oleh tingkah aneh Sasuke.

Dengan paksa ia menarik tangan Sasuke sekuat tenaga dan berkali-kali pula ia mendengar teriakan dan erangan kesakitan yang keluar dari mulut Sasuke.

"ARGHHHHH!"

Dan semakin kencang saat ia berhasil melepas tangan itu dan memapah tubuh lemas itu keluar dari kamar untuk menuju ke mobilnya yang terparkir di depan.

Sai sedikit bisa merasakan rasa sakit yang Sasuke rasakan, entah dari bagian mana dan itu sedikit membuatnya ketakutan.

Karena ia yakin sekali melihat sepasang mata tengah memandangnya geram saat ia berhasil melepaskan cekikan tangan Sasuke. Tepat di hadapannya.

**...**

Naruto berlari cepat di sepanjang parkiran rumah sakit, jas yang ia kenakan telah berantakan, sama dengan rambut pirangnya.

Rapat pentingnya ia tinggalkan begitu saja setelah mendapat kabar dari Sai jika Sasuke di larikan ke rumah sakit. Ia tidak tahu apa yang terjadi karena ia langsung mematikan sambungan teleponnya dan pergi meninggalkan ruang rapat dengan wajah panik.

Ia mendatangi resepsionis dan bertanya cepat, "Uzumaki Sasuke! Dimana kamarnya?!" tanyanya panik

Sang petugas resepsionis segera mengecek orang yang di maksud oleh Naruto, setelah itu ia memandang Naruto, "Sasuke-san masih berada di dalam penanganan dokter, anda bisa menemukannya di ruangan UGD di sebelah barat."

Setelah berkata seperti itu, Naruto lekas melesat menghampiri ruang UGD dan melihat Sai tengah terduduk dengan wajah menunduk. Sepertinya ia sedang mengabari seseorang terlihat dari ponsel yang ia dekatkan di telinganya.

"Sai." Orang yang dimaksud segera memutuskan hubungan teleponnya dan memandang Naruto.

"Apa yang terjadi? Kenapa Sasuke bisa masuk rumah sakit lagi?" tanyanya mencoba untuk tenang.

Sai menyuruh Naruto untuk duduk terlebih dahulu. Ia menghela nafasnya lalu mencoba untuk menjelaskannya pada Naruto perlahan.

"Aku melihatnya terjatuh dari kasur dan ia mencekik lehernya sendiri. Aku tidak langsung membawanya ke rumah sakit dan lebih memilih untuk melepaskan cekikan tersebut, tetapi seperti ada sesuatu yang menahan dan itu sangat sulit sekali untuk di lepaskan." Jeda sejenak, sebelum ia melanjutkannya kembali, Naruto sebagai suami sang kakak harus tahu tentang hal ini.

"..dan setelah aku berhasil melepaskannya, tiba-tiba saja Sasuke berteriak, matanya yang semula putih itu seperti melihat sesuatu di sebelah kirinya, tepat di hadapanku. Walaupun aku tidak bisa melihat, tetapi aku yakin... Ada orang lain selain kami berdua berada disana, dan tengah memandangku tajam."

.

)(.;.)(

.

"Oksigen di dalam paru-parunya sedikit sekali dan untunglah Sai segera membawanya ke rumah sakit, dan bayi kalian juga baik-baik saja, tapi juga melemah. Sebenarnya apa yang terjadi?" dokter Shizune menyelesaikan tugasnya untuk menjelaskan keadaan Sasuke kepada Naruto.

Sai pergi dari rumah sakit untuk menjemput Mikoto, dan Naruto sendiri bingung mau menjelaskannya bagaimana walaupun ia telah mendengar penjelasan sejelas-jelas mungkin dari Sai.

"Aku yakin ada sesuatu hal yang membuat Sasuke mencekik lehernya sendiri Shizune Nee-chan, aku yakin sekali Sasuke tidak mungkin memutuskan untuk bunuh diri lagi..." ujarnya lelah. Ingin sekali ia mengerti bagaimana perasaan Sasuke selama mengandung, ia tahu kalau lelaki berambut hitam itu benar-benar tersiksa dengan keadaannya.

Kalau boleh berkata, ia ikhlas jika Tuhan tidak memberi mereka keajaiban dengan memberi mereka anak kalau Sasuke sendiri tidak menghendakinya.

Tetapi jika harus menggugurkan anak yang sudah lima bulan ini mereka rawat bersama-sama, bukan hanya dia yang terluka, bahkan Sasuke sendiri pun akan lebih terluka darinya.

"Khasus itu lagi ya..." Shizune menghela nafasnya lalu memegang pundak Naruto, "Sebenarnya Naruto, Tsunade-sama telah menyiapkan operasi pembedahan untuk Sasuke nanti saat waktunya tiba, tetapi aku kira jika keadaan Sasuke dan anaknya seperti ini terus.."

Naruto memandangnya tak mengerti.

"Mungkin kami dari pihak dokter memutuskan untuk mengoperasinya satu sampai dua bulan kedepan. Ini juga demi kehidupan Sasuke dan anakmu."

"Te-tapi... Bukannya itu sangat beresiko sekali Shizune Nee-Chan?"

"Kau juga tidak ingin melihat Sasuke menderita terus menerus bukan? Jadi dari pada di gugurkan, lebih baik jika bayi itu di keluarkan seperti sebagaimana mestinya dan menjalani hidup di dunia sampai waktu yang cukup untuk kalian bawa pulang."

Naruto tahu maksud dari Shizune.

Bayi itu tidak akan bisa bertahan lama di dalam perut Sasuke yang memang tidak di rancang untuk menampung bayi.

Dan juga gangguang kejiwaan – Naruto berkali-kali menyakinkan dirinya jika Sasuke tidak sakit jiwa – yang di alami Sasuke akan semakin menyiksa sang 'Ibu'dan juga bayinya.

Ia menutup kedua matanya.

Mungkin ini pilihan terbaik yang diberikan Tuhan kepadanya dan Sasuke.

"Tujuh bulan, siap atau tidak dia harus melakukan ini Naruto..."

.

.

.

TBC lagi...

Oke cukup sampai sini dulu, chapter selanjunya tetap tunggu seperti biasanya ya soalnya memang aku belum bikin :D

Thanks sudah mau baca and reviewww