I Hate Childern 'CHAPTER 10'

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : T menjurus ke M.

Genre : Horror, Family, and Romance.

Warning : OC! , Sedikit OOC!, M-PREG, Lime aja nggak usah lemonan :v , BoysLove, Sedikit Gore, Typo (s), Chara Death? XD

.

.

.

Happy Reading

.

.

"Naruto..." suara Sasuke yang lirih memanggilnya dengan serak.

"Aku sudah menutup lukanya. Kau bisa melepasnya..."

Naruto pun melepas pelukannya dengan tidak rela. Ia memandang Sasuke yang kini balas memandangnya dengan lemah, raut kesakitan masih jelas tampak, namun entah mengapa Sasuke kini tengah tersenyum kepadanya.

Senyum tertulus yang pernah Naruto lihat seumur hidupnya.

"Aku juga sangat mencintaimu... Terima kasih..."

Suara tangisan bayi dalam ruangan itu pun semakin keras.

.

"Sasuke?"

Naruto menyentuh sisi wajah Sasuke dengan perlahan. Wajah itu mulai memucat, sangat dingin sekali saat ia sentuh.

"Sasuke? Ka-kau..."

Sasuke berbaring diam seraya menutup kedua matanya, tak ada lagi hembusan nafas patah-patah yang Sasuke keluarkan seperti sebelumnya. Saat Naruto menyentuh dadanya pun, ia tidak lagi merasakan detakan seperti yang ia rasakan sebelumnya.

Tidak mungkin kan...

Tidak mungkin Sasuke..

"Minggir Naruto!" Tsunade tiba-tiba mendorongnya jauh dan langsung melakukan sesuatu terhadap Sasuke. Para perawat pun tak ketinggalan juga membantu sang dokter.

Pikiran Naruto mendadak kosong. Ia hanya memandang depannya dengan kacau. Air mata mulai memburami pandangannya. Naruto pun jatuh terduduk bersamaan dengan Tsunade yang mendatanginya dengan pandangan sedih.

"Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan."

.

.

.

.

.

Naruto memandang bayi kecilnya dari balik kaca pembatas, saat ini ia masih belum bisa mendatangi sang anak secara langsung karena masih sangat rentan sekali.

Bayi berambut hitam itu terus menerus menangis, seakaan seluruh tenaga ia gunakan untuk menangis, para suster yang menjaganya pun sampai kewalahan menenangkan sang bayi.

"Naruto..."

Seorang wanita berambut merah mendatanginya lalu menepuk pundaknya pelan, "Istirahatlah. Ini sudah malam." Ujarnya lirih.

Naruto masih tetap diam, mata birunya masih memandang kosong sang bayi yang tengah menangis tanpa berniat untuk berhenti.

"Apa kau ingin berjumpa dengan anakmu?" tanya wanita itu kembali.

Naruto membalikkan badannya dan berjalan lemah menjauhi ruangan bayi.

Kushina pun hanya memandang sang anak dengan tatapan sedih, seumur hidupnya ia tidak pernah melihat Naruto serapuh ini. Anak itu selalu ceria apapun masalah yang dia hadapi.

Ia pun memandang ke ruang bayi, melihat bagaimana cucu pertamanya itu tengah menangis di gendongan sang suster, menolak susu yang diberikan dan kembali menangis keras.

Bahkan bayi sekecil itu pun dapat merasakan jika sang ibu telah meninggalkannya dan merasa sangat sedih.

.

Naruto bisa melihat banyak kesedihan di ruangan ini.

Sejenak ia berpikir, untuk apa rumah sakit ini menyediakan ruangan untuk orang yang mati? Untuk pajangan atau apa?

Tapi ia memilih untuk mengabaikan pikiran tersebut dan memasuki ruangan itu dengan perlahan.

Hanya ada Sai seorang diri.

Lalu, dimana kedua orang tuanya? Terakhir kali ia melihat, ayah dan ibu Sasuke masih di sini dengan tangis histeris mereka melihat sang anak telah terbujur kaku.

"Tou-san mengantar Kaa-san pulang, Kaa-san jatuh pingsan." Ujar Sai seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Naruto. "Apa kau ingin menemaninya untuk terakhir kalinya? Baiklah, aku akan pergi." Sai bangkit dari duduknya dan berniat untuk keluar ruangan sebelum suara Naruto menghentikan langkahnya.

"Kau di sini saja, temani Sasuke juga. Dia pasti sangat senang didampingi oleh adik yang paling di sayanginya."

Sai pun membalikkan badannya lalu mendudukan dirinya di sofa, membiarkan kursi di dekat ranjang itu di duduki oleh Naruto.

Beberapa menit kemudian, suasana diliputi oleh keheningan.

"Kemarin pagi, Sasuke sempat menelepon diriku, lagi-lagi ia menyuruhku untuk menghubungi Nii-san. Katanya, hubungan mereka semakin merenggang semenjak beberapa bulan yang lalu. Sasuke berkata jika ia ingin meminta maaf telah membentak Nii-san dan menuduhnya yang tidak-tidak. Tetapi, hingga saat ini, Nii-san benar-benar sangat sulit untuk dihubungi. Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak bisa mengabulkan permintaan terakhirnya."

Naruto tahu masalah itu, Sasuke juga sering berkeluhkesah kepadanya tentang hal ini. Ia juga tidak bisa menebak pikiran seorang Uchiha Itachi hingga tega mengabaikan adiknya.

Apa ia sudah tahu jika kini Sasuke telah meninggal?

Apakah mungkin saat ini ia tengah tersenyum puas karena tidak ada lagi adik yang setiap hari selalu berusaha untuk menghubunginya?

"Aku baru saja menghubunginya dan ia bilang akan kemari hari ini juga. Kenapa baru hari ini? Sasuke telah merindukannya sejak lama. Aku tahu apa yang Sasuke rasakan, aku benar-benar merasa sangat marah." Ujar Sai, walaupun kini ia memasang wajah datar namun Naruto tahu jika lelaki itulah yang paling kehilangan.

Naruto mengulurkan tangannya lalu mengelus perlahan kedua pipi Sasuke yang telah mendingin. Ia ingin memeluk Sasuke dan membuatnya hangat kembali, ia juga sangat merindukan saat pipi pucat itu bersemu kemerahan saat ia menggodanya.

Kenapa Sasuke harus pergi begitu cepatnya? Ia bahkan tidak berfirasat akan hal ini. Ia selalu yakin Sasuke akan baik-baik saja saat melahirkan, kata Tsunade resiko kematian saat operasi sesar sangatlah sedikit karena sang Ibu tidak berjuang sendirian.

"Wanita yang sudah di takdirkan untuk hamil dan melahirkan saja bisa mati kapan saja. Apalagi seorang lelaki yang sama sekali tidak di takdirkan untuk itu?Bukan karena aku laki-laki, maka aku bisa menanggung semuanya dengan santai."

"Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku sangat kehilangan Sasuke, benar-benar sangat kehilangan hingga aku berniat untuk bunuh diri di sini sebelum kau datang."

"Aku benar-benar tahu mengapa Sasuke bisa sangat mencintaimu."

.

Sebelum pergi, Naruto menyempatkan dirinya untuk mengunjungi sang anak. Bibirnya melengkungkan senyuman saat bayi kecilnya tengah tertidur pulas di box bayi. Tidak menangis seperti kemarin.

Seorang suster keluar dari dalam ruangan lalu menatap Naruto sedikit terkejut, "Uzumaki-san!"

Naruto menganggukkan kepalanya, "Apa aku boleh menemui Menma? Sebentar saja."

Sang suster mengerutkan dahinya, "Menma?"

"Aku memutuskan untuk memberi nama 'Menma' untuk bayiku."

Suster tersebut menganggukkan kepalanya, "Saya akan mengambilkannya untuk anda, tetapi maaf sekali Menma-san masih belum boleh di bawa jauh-jauh dari rumah sakit."

"Tak apa."

Suster tersebut memasuki ruang bayi lalu mengambil bayi mungil berambut hitam tersebut dan menyerahkannya dengan perlahan ke tangan Naruto.

"Berat Menma-san masih belum ada 1,5 kilogram, jadi sangat rentan sekali. Tetapi keadaannya cukup baik."

Bayi yang berada di gendongannya ini sangatlah kecil, kulitnya masih memerah, kulitnya juga sangat rapuh sekali. Naruto bahkan hanya berani menggendongnya tanpa berniat untuk menyentuh kulit sang anak.

"Hari ini Kaa-san akan beristirahat di tempat yang indah, Menma jangan menangis lagi ya, ada Tou-san yang akan menemani Menma di sini." Ujar Naruto seraya tersenyum pedih.

Sasuke bahkan belum melihat bayinya sendiri.

Menma bahkan masih terlalu kecil untuk di tinggalkan oleh sang ibu.

Naruto bahkan tidak percaya dengan ini semuanya.

.

.

.

Sasuke tampak tampan dengan berbalut jas berwarna putih, selaras dengan kulit pucatnya. Bibirnya yang memucat diberi lips gloss agar terlihat lebih hidup. Rambut hitamnya juga telah di sisir dengan rapi. Bagi Naruto, mau apapun penampilan Sasuke, lelaki itu masih tetap tampan dan cantik di matanya.

Kini ia telah berdiri di depan peti berwarna coklat, tempat tidur yang akan Sasuke gunakan selamanya. Ia mengulurkan tangannya lalu mengusap rambut hitam ke biruan milik Sasuke, merasakan betapa lembutnya rambut yang selalu ia usap setiap harinya menjelang tidur.

"Kau..." tangannya pun turun menuju ke wajah lalu berhenti tepat di ujung bibir Sasuke. "Tega sekali kau mendahuluiku, bukankah kita sudah janji akan selalu bersama hingga tua nanti? Kau terlalu cepat Teme... Terlalu cepat..."

Ia meletakkan tangan kirinya pada sisi Sasuke seraya merendahkan tubuhnya, ia sentuh perlahan pipi pucat yang telah mendingin tersebut lalu meraup bibir Sasuke dengan hal yang serupa. Menciumnya sepenuh hati hingga membuat air matanya kembali menetes membasahi pipinya dan juga wajah Sasuke.

Ia tidak percaya jika ini adalah ciuman terakhir yang ia berikan untuk Sasuke.

Seluruh pelayat yang menyaksikan hal itu tak kuasa menahan tangis.

Di lain tempat, seorang bayi mungil pun kembali menangis dengan kerasnya.

~(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)~

"Seharusnya kau jadi seperti anak itu, sayangi adikmu!"

"Kenapa aku harus menjadi anak asing itu hah?! Menyebalkan!"

"Aku hanya memberitahumu saja! Binar matanya saat melihat adikmu berbeda sekali dengan dirimu saat melihat adikmu sendiri! Jangan seperti itu!"

"Memangnya aku harus memandang adikku sendiri bagaimana?!"

"Gendong adikmu sebentar, Kaa-san akan mengambil uang dulu di bank, jangan pergi jauh-jauh."

"Apa-apa di bandingin sama orang lain, ini malah di bandingin sama anak kecil yang belum di kenal lagi, sampai segitunya Kaa-san marah. Sialan!"

"Memangnya aku harus memandang adikku sendiri bagaimana? Aku juga sayang adik kok. Ya kan? Kau merasakannya ka-"

BRAKKK!

.

.

"Aku mohon buka pintunya! Aku mohon!"

.

.

Matanya memandang ketakutan sosok anak kecil yang tengah terseret-seret mendekatinya, anak itu memandangnya tajam, ia bahkan yakin jika bola mata itu bisa keluar kepan saja. Kepala anak itu juga meneleng ke samping, akan putus.

Di sampingnya anak tersebut, ada seorang bayi yang tengah merangkak ke arahnya. Kondisinya lebih mengenaskan, bahkan tidak bisa melihat wajah bayi itu karena tertutupi oleh darah dan juga nanah.

"Berhenti..."

"Nii-chan..."

"Berhenti...!"

"Bukankah..."

"Aku bilang berhenti!"

"Kau memandang adikku dengan penuh kasih sayang?"

"Jangan mendekat!"

"Mengapa saat ini kau memandang adikku dengan tatapan seperti itu?"

"Cukup.."

"Bagaimana bisa Kaa-san membandiku dengan seorang dengan tatapan sepertimu? Adikku menangis karenamu... Nii-Chan.."

"Biarkan aku keluar!"

"Mengapa Nii-Chan..?"

"Hentikan... Hentikan..!"

"Nii-Chan..?"

"Dengarkan perkataanku Nii-"

"Hentikannnn!"

Matanya pun terbuka dengan lebar.

Pemandangan ruang mayat yang sebelumnya ia lihat telah sirna, tergantikan oleh langit-langit berwarna putih terang.

Ia memandang sekitarnya bingung, ia merasakan dirinya tengah berada di dalam sesuatu, ia juga melihat bunga-bunga kecil di letakkan di sisi-sisinya.

Ia berada dimana?

Ia melirik ke sisi kirinya, alisnya mengernyit bingung saat mendapati seseorang tengah memandangnya dengan pandangan paling terkejut yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Sa-Sasuke..?"

Sasuke? Ah, itu adalah namanya.

Mengapa sosok itu memanggilnya?

Sosok itu... Sangat familiar.

Mendadak air matanya turun dengan derasnya, dengan suara serak basah ia memanggil sosok tersebut dengan perasaan rindu yang teramat sangat dalam.

"Naruto... Tadaima..."

...dan tak lama setelah itu, ia bisa merasakan seluruh tubuhnya berada di dalam kungkungan lelaki berambut pirang tersebut.

~(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)~

Kedokteran mengenalnya dengan peristiwa Mati Suri.

Sebelumnya, Naruto benar-benar tidak mempercayai hal itu. Baginya, orang yang sudah mati ya mati saja. Tuhan tidak mungkin berbuat kesalahan bukan?

Atau memang Tuhan sengaja melakukan hal itu? Dia tidak tahu, dia bukan Tuhan.

Tetapi saat ini, ia sangat mempercayai hal itu.

"Bagaimana perasaanmu hari ini?"

"Baik..."

Naruto tersenyum lebar seraya kembali menyuapi sosok yang kini tengah bersandar dengan bantal di atas ranjang rumah sakit.

Sejak hari itu, Sasuke langsung dibawa ke rumah sakit karena kembali tidak sadarkan diri, berbagai macam alat penunjang kehidupan telah terpasang di tubuhnya.

Ya, Uchiha a.k.a Uzumaki Sasuke kembali hidup walaupun dengan kondisi yang drop.

Naruto tidak pernah berhenti untuk berdoa agar sang terkasih kembali sehat seperti sedia kala, dan tiga bulan kemudian ia mendapat kabar jika Sasuke kembali sadar.

Sangking bahagianya, ia bahkan langsung keluar dari kantornya tanpa menggunakan kendaraan dan berlari membabi buta hingga ke rumah sakit, yang jaraknya kurang lebih 3 km.

Namun, ada satu hal yang tidak berubah. Bahkan bisa Naruto bilang, hal itu semakin memburuk.

"Bayi? Jangan melantur Naruto, kau tahu betapa bencinya aku terhadap anak kecil."

Sasuke lupa dengan anaknya sendiri.

Bahkan lupa jika ia tengah memiliki seorang bayi.

Pernah suatu ketika ia mengajak Menma memasuki ruangan Sasuke, karena berat Menma telah normal, Tsunade telah mengizinkannya untuk membawa Menma menemui Sasuke.

Hal yang tidak ia inginkan pun terjadi.

Sasuke memandang bayi di dalam gendongannya dengan penuh ketakutan lalu di ikuti dengan teriakan seperti orang gila.

Setelah itu, keadaan Sasuke kembali memburuk. Tekanan jantungnya merendah dan ia sangat takut saat itu.

Namun, beberapa minggu kemudian, Sasuke sadar dan mereka kembali berbincang tanpa sedikit pun menyinggung Menma. Tsunade bilang jika Sasuke mengidap hal yang bisa juga disebut Skizofrenia, tetapi bedanya lelaki berambut hitam itu masih bisa memahami sekitarnya dengan baik, bahkan ia juga seorang penulis novel berbahasa inggris yang pastinya sangat membebani otaknya kan?

Jadi, dari pada terkena penyakit itu, Sasuke tengah mendekati penyakit kejiwaan tersebut.

..dan hal yang membuatnya sedih adalah, setelah mengetahui hal ini, ia dan Sasuke tidak bisa tinggal bersama dengan Menma.

Lagi-lagi Menma harus berpisah dengan ibunya. Naruto pun sebenarnya tidak terima dengan keputusan tersebut, tetapi mengingat kondisi Sasuke, mau tidak mau Menma harus tinggal berpisah dari mereka berdua.

Satu-satunya yang bisa Naruto percayai untuk merawat sang anak adalah satu orang. Walaupun sebelumnya ia kesal setengah mati dengan orang tersebut, tetapi setelah mengetahui alasannya, Naruto pun bisa mengerti.

"Bagaimana bisa kau percaya kepadaku?"

"Karena Sasuke pun juga percaya." Ujarnya mantap.

Itachi memandang Naruto prihatin, sang istri pun sudah di buat menangis mendengar cerita Naruto.

"Tetapi... Bukannya aku-"

"Aku pasti akan merasa kesal jika aku menjad seperti dirimu, kau hanya merasa kesal kepada dirimu sendiri karena gagal mendapatkan keturunan sedangkan Sasuke yang seorang lelaki pun bisa memiliki satu anak. Sasuke yang sangat membenci anak kecil bisa memiliki seorang anak." Sahut Naruto tiba-tiba. "Kau pun juga menolak berhubungan dengan Sasuke untuk sementara waktu untuk meredam emosimu, kau juga berniat untuk mendatangi Sasuke dan menjelakan semuanya sebelum Sai meneleponmu dan mengatakan Sasuke telah meninggal bukan?"

Itachi pun terdiam.

Saat Sai memberitahukannya akan hal itu, hatinya terasa remuk redam. Tanpa berfikir panjang ia lekas pulang ke Konoha tanpa berpamitan dengan sang istri. Ia tidak menyangka jika percakapan penuh amarah bulan lalu adalah percakapan terakhirnya dengan Sasuke.

Ia menyalahkan dirinya sendiri.

Betapa bahagianya ia saat mengetahui sang adik kembali dari tidurnya, saat mereka mulai berbincang pun Sasuke tidak lagi membahas masalah di antara mereka. Setelah mengetahui alasannya, Itachi bahkan merasa tidak lebih baik.

"Aku tahu memang lebih baik kau tidak mengatakan alasanmu yang sebenarnya kepada Sasuke saat ini, tetapi hubungan kalian telah membaik bukan? Sasuke pasti sudah memaafkanmu walaupun aku yakin ia bahkan melupakan masalahnya denganmu." Ujar Naruto panjang lebar. Ia menggendong erat Menma yang kini tengah tertidur, di sampingnya telah ada satu tas besar berisi perlengkapan bayi milik Menma yang sudah ia beli seorang diri sebelum Menma lahir.

"Aku mohon, rawat Menma hingga ia bisa menentukan sendiri masa depannya. Jadilah Ayah-Ibunya dan jangan katakan apapun tentang kami berdua. Tetapi aku akan tetap sering mengunjungi Menma, sebagai Pamannya."

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

BONUS SATU CHAPTER LAGI UNTUK MINGGU-MINGGU-MINGGU DEPAN! Alias belum sepenuhnya Tamat XD

Maaf jika ini chapter kembali memendek, lah memang ini kok ending yang saya harapkan, tetapi kok kelihatan ngantung ya, jadi saya putuskan untuk membuat satu chapter lagi agar semuanya beres dan happy ending*ehembocoranehem* ^_^

Akhirnya kesampaian juga buat si Suke mati suri wkwkwkwk, apa biar tamat tanpa menggantung aku buat mati beneran aja ya... hehehehehe

Mohon Reviewnya Minna!

.

Uchiha Iggyland