Author : Lynkim

Title : HunHan

Cast : HunHan, and other

Genre : Family,Drama

Rate : T

Length : 3of?

.

.

.

~Check This out ~

.

.

.

.

Sehun masih membelalakan matanya,saat melihat ibunya hanya berdiri beberapa meter darinya. Demikian juga nyonya Oh masih menatap kaget dan memegangi kepalanya yang terasa pusing melihat anaknya yang bertampang datar sedang tertawa sambil menggendon seorang bayi.

"Ppa.. ppa... Paa..." Lian memanggil Sehun dan membuat 2 orang yang saling terkejut itu menatap kearah Lian,bukan hanya mereka tapi beberapa orang yang sedang berjalan bersama nyonya Oh tadi juga menatap kearah bayi cantik di gendongan Sehun. Lian sudah didandani cantik dengan bandana pinknya.

"Ppa.. ppa..." Lian menggerakkan badannya gemas karena tidak ditanggapi oleh Sehun.

"Kepalaku..."

"Nyonya..." langsung saja asisten nyonya Oh memegangi bahu nyonya Oh yang terhuyun. Sedangkan Sehun hanya menatap mereka datar.

"Lian-ahh.. Sehun-ah.. Kenapa kalian lama sekali?" suara seorang yeoja menginterupsi mereka. Luhan datang menghampiri Sehun dan Lian yang tengah berdiri di depan baby spa. Tanpa Luhan tau,sepasang mata yang mirip dengan mata Sehun sedang menatapnya tajam,dan membuat kepalanya semakin pusing.

"Mma..." Lian memanggil Luhan.

"Wae? Kau ingin digendong eomma?" tanya Luhan masih belum menyadari suasana di sekitarnya.

"Mam...mamm.." aktif di gendongan Sehun. Dan Luhan langsung mengambil alih Lian dari gendongan Sehun,tentu saja Sehun langsung memberikan Lian pada Luhan.

"Bisa jelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi disini?" ujar nyonya Oh dan membuat Luhan langsung menyadari kehadiran yeoja paruh baya yang tengah menatap tajam dirinya dan Sehun secara bergantian.

Saat ini mereka bertiga,Sehun,Luhan dan nyonya Oh. Tentu saja Lian sedang tertidur nyaman di gendongan Luhan. Mereka sedang duduk dalam keheningan,di ruang tamu rumah nyonya Oh,dan nyonya Oh tetap menatap putranya dengan tatapan tajam,sementara Luhan disampingnya hanya menundukkan kepala.

"Bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini Oh Sehun?" nyonya Oh mengeluarkan suaranya. Sementara objek yang ditanya tampang menatap nyonya Oh dengan santai. "Eomma sedang bicara padamu,sehuna!"

"Dan kau.." Luhan terkesiap "Apa hubunganmu dengan Sehun,dan kenapa bayi ini memanggil Sehun dengan sebutan appa?"

Luhan menundukkan kepalanya tidak berani menatap nyonya Oh. "Nonna.. Aku bertanya padamu." Nyonya Oh kembali bersuara. "Dan… Dan kenapa bayimu memanggiil Sehun dengan sebutan appa? Apa hubungan kalian? Dan…"

"Eomma… " Sehun memotong apa yang diucapkan nyonya Oh.

Nyonya Oh langsung menatap Sehun dengan tatapan tajam kasnya. "Aku sedang berbicara dengan nona ini,Sehuna."

"Ini urusanku eomma.."

"Kau anak eoomma…."

"Dan aku sudah dewasa,jadi aku bebas menjalani hidupku."

"Tapi bayi itu memanggilmu appa,dan memanggil nona ini dengan sebutan eomma. Wajar kalau aku ingin tau apa hubungan kalian."

"Dia anakku."

Sing ~

Seketika ruangan menjadi sunyi senyap,dan nonya Oh melototkan matanya,begitupun dengan Luhan yang sejak tadi menunduk sekarang menatap Sehun dengan mata melotot juga. Sementara Sehun memasang wajah tanpa ekspresinya.

"Kau sedang bercanda Oh Sehun?" Tanya nyonya Oh lirih.

Sehun menatap nyonya Oh dengan tatapan seriusnya, "Tidak."

Langsung saja setelah mendengar itu nyonya Oh menyandarkan tubuhnya dengan lemas di sandaran sofa. "Ya Tuhan,kepalaku." Keluh nyonya Oh sambil memegang kepalanya.

"Nyonya…" Luhan memanggil nyonya Oh karena merasa sepertinya nyonya Oh sedang kesakitan. Nyonya Oh menatap Luhan dengan tatapan yang sulit diartikan,yang membuat Luhan menjadi semakin takut.

"Kau….. benarkah bayi itu adalah cucuku?" Tanya nyonya Oh lirih sambil menatap Lian yang ada di pangkuan Luhan. Luhan terdiam,dan saat akan menjawab.

"Eomma,sudah kubilang Lian adalah anakku… setidaknya… akan.." ujar Sehun dan membuat mata nyonya Oh kembali melotot seperti akan keluar dari rongganya.

"YAK! KAU…."

"Huweeeeeee…"

Luhan POV

Namja itu benar-benar gila,kami baru saja bertemu kurang dari 24jam tapi dengan seenaknnya dia bilang akan menikahiku dan menjadikan Lian sebagai anaknya. Dan, Ya Tuhan. Nyonya Oh benar-benar diluar dugaanku.

"Lu… Sepertinya Lian lapar." Aku menolehkan kepalaku kearah suara yang muncul dari arah pintu dapur,dan melihat nonya Oh menggendong Lian dan mendekat kearahku dengan wajah Lian yang sudah ditekuk seperti akan menangis.

Aku segera mencuci tanganku yang sedang memotong sayuran,dan segera meraih Lian dalam gendonganku. Lian menatapku dengan tatapan puppynya yang menggemaskan.

"Kenapa dia begitu menggemaskan,Lu. Cepat berikan dia makan."

Aku menatap nyonya Oh, "Tentu saja nyonya.."

"Yak! Berapa kali aku mengatakan padamu panggil aku eomma."

Dan inilah sekarang,nyonya Oh menyuruhku memanggilnya eomma. Setelah Sehun menjelaskan asal-usul dia menemukanku dan mengatakan akan menikahiku dia berubah menjadi sosok hangat yang sepertinya rindu akan bayi kecil.

"Lu? Kau mendengarku?"

"Ah,, ne,eomma."

Nyonya Oh tersenyum saat aku memanggilnya eomma,sekarang aku teringat mama. Apakah mama Sehat? Apakah Tao menjaga eomma dengan baik?

"Lu,kau melamun lagi sayang?"

"Anni.."

"Cepat berikan Lian makan,lihalah matanya sudah berkaca-kaca. Aku yakin sebentar lagi dia akan menangis karena lapar." Ujar eomma,bolehkah aku memanggilnya eomma? sebagai penyalur rinduku pada mama.

"Tentu eomma." ujarku,dan langsung berjalan kearah meja makan dan menarik salah satu kursi disana kemudian mendudukan diriku disana untuk memberikan asupan makanan pada Lian.

"Kenapa kau begitu menggemaskan sayang,kau sudah menjerat hati halmonie." Ujar eomma heboh,ternyata nyonya Oh yang mempunyai wajah dingin tadi berubah menjadi pribadi yang seperti ini saat menemukan sesuatu yang disukainya.

Cukup lama kami terdiam karena menatap Lian wajah damai Lian yang sudah memejamkan matanya.

"Aku tidak tau mengapa,tapi entah kenapa aku merasa kau adalah yang terbaik untuk Sehun." eomma membuka suara,aku mengalihkan tatapanku dari Lian ke wajah eomma. Eomma Oh tetap menatap wajah Lian. "Meskipun aku masih merasa asing dengan asal usulmu ditambah bagaimana bisa kau menjadi seorang single parent diusiamu yang bias terbilang cukup muda,tapi aku percaya padamu." Eomma Oh mengakhiri ucapannya dengan tatapan dan senyum hangat padaku.

Apa yang harus aku lakukan? Ini terlalu cepat untukku,bahkan aku belum sempat meminta penjelasan Sehun. Tapi saat melihat wajah bahagian eomma Oh aku seperti tidak mampu menolak ini semua.

"Kau tau,kau adalah wanita kedua yang Sehun bawa kehadapanku,yah.. meskipun kalau kita tidak bertemu tadi siang aku tidak akan tau. Tapi kau adalah yang kedua."

Apa? Yang kedua? Lalu siapa yang pertama? Tunggu. Kenapa aku merasa marah saat mendengar ada wanita lain yang dia bawa pulang. Aishh!

"Kenapa kau memasang tampang seperti itu? Hahaha.. jangan terlalu cepat cemburu,itu tidak baik. Hahaha" ujar eomma Oh.

Apa? Cemburu?

"Xiao Luhan awas bola matamu keluar dari rongganya. Hahaha"

Aku langsung engerjapkan mataku. Wanita tua ini benar-benar mempunyai selera humor yang tinggi. "A… Anniyo.."

"Tenangah Sehun bukan seperti itu,gadis yang dia bawa pulang sebenarnya adalah sahabatnya sendiri. Hoho.." ujar eomma Oh.

Aku hanya menatap biasa orang yang ada dihadapanku ini, "N..Ne.."

"Hmmm.. bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanyanya kali ini dengan nada tenang tapi terselih rasa ingin tau didalamnnya.

Aku terdiam cukup lama, "Silahkan eomma." ujarku.

Eomma Oh menatapku dengan tatapan lembut tapi menenangkan,benar-benar mengingatkanku pada mama. "Bagaimana bisa kau memiliki Lian?"

Deg.

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selama ini tak ingin kudengar dari mulut siapapun juga. Karena pertanyaan itu hanya meninggalakn bekas yang mendalam didalam hatiku.

"Hmm.. maafkan aku, mungkin aku telalu lancing bertanya padamu,Lu." Ujar eomma Oh,mungkin beliau menyadari perubahan ekspresiku.

Aku menundukan kepalaku,aku merenung. Apa yang sebaiknya aku lakukan? Apakah aku harus mengatakannya? Apakah aku harus menceritakannya?

"Lupakan apa yang aku tanyakan tadi sayang."

Aurthor POV

Setelah menanyakan pertanyaan yang membuat wajah Luhan muram seketika nyonya Oh menatap Luhan penuh dengan rasa bersalah. Yeoja cantik itu menjadi muram,dia hanya menunduk menatap wajah Lian yang tengah tertidur di pangkuannya.

"Lu,maafkan eomma ne? eomma tak bermaksud untu…."

"Aku tau eomma." Luhan memotong ucapan nyonya Oh,dan mencoba menunjukkan raut wajah yang biasa saja. Mengingat keluarga Oh sudah menolongnya,meskipun mereka baru mengenalnya selama tak kurang dari 24 jam.

"Tapi…"

Luhan memberikan senyuman yang meyakinkan bahwa dia tidak apa-apa. "Nan gwenchana eomma." ujar Luhan, "Meski aku tidak ingin mengatakannya,tapi tetap saja suatu saat aku harus menceritakannya." Lanjut Luhan masih dengan senyum dibibirnya.

Nyonya Oh memegang tangan Luhan, "Kalau kau belum siap,jangan dipaksakan."

"Aku tau,tapi mungkin ini adalah saatnya aku mengatakannya."

Flashback

Saat itu Luhan baru saja pulang dari universitasnya. Luhan adalah siswa tingkat akhir di Colombia University. Luhan kini sedang berjalan sendirian menuju gedung tempatnya tinggal.

Drttttt… Drtttt…

"Oh,Wufan ge?" pekik Luhan saat nama Wufan tertera di layar ponselnya,.

"Hallo,ge." Sapa Luhan setelah menggeres tombol warna hijau di layar ponselnya.

"Hallo little deer. How are you?" balas orang diseberang telepon.

"Really bad as you know."

"Why? Sound really happened to you. Haha.."

Luhan mempoutkan bibirnya, "Hentikan ge,kau tau aku merindukanmu."

"Yeah,, aku tau. Rusa kecil tidak akan pernah bias tidak merindukan pangeran tampan."

"Bisakah kau hentikan kenarisanmu,ge? Aku mual mendengarnya." Balas Luhan dengan diakhiri suara pura-pura muntah dari Luhan.

"Hahahahaha. Kau hamil?"

"Yak! Kau senang kalau adikmu hamil tanpa suami?"

"Tenanglah deer aku hanya bercanda. Dan aku tidak mau mempuanyai keponakan yang tidak punya ayah."

"Kau menyebalkan,ge."

Tanpa Luhan sadari,karena terus berbicara dengan kakaknya, Luhan melupakan waktu kalau sekarang sudah menjelang tengah malam. Dia tetap berjalan dengan santainya melewati sebuah gang,yang Luhan tau adalah jalan pintas menuju apartemennya. Dan tiba-tiba langkahnya berhenti saat beberapa orang muncul dihadapannya.

Seketika tubuh Luhan membeku,dan ponselnya terjatuh, kejadian itu begitu cepat yang Luhan ingat hanyalah dia disekap oleh 4 orang,dan saat bangun dia berada di sebuah gudang kosong dengan keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya tidak ditutupi oleh sehelai benangpun.

Luhan tidak berani mencerikan apa yang telah dia alami pada siapun juga,dia merasa takut dan malu. Semua terjadi begitu cepat sampai Luhan enggan untuk mengingatnya. Setelah kejidian itu Luhan merasa dia merasa sudah tidak berguna sebagai manusia. Dan itu berlanjut sampai…..

"Ini tidak mungkin.. hiks.." Luhan terisak kala mendapati benda pipih yang ada ditangannya menunjukkan 2 garis merah. "Tidak mungkin…" Luhan kembali bergumam diantara isakannya. Dunianya serasa terbalik dan hancur lebur saat dua garis merah muncul disebuah benda tipis yang ada ditangannya.

"Apa yang harus aku lakukan?" isak Luhan. Luhan semakin menjatuhkan kepalanya dilututnya. "Mama,Baba,Gege maafkan aku. Aku telah membuat kalian malu. Hiks.. aku tidak pantas hidup lagi."

Luhan bangkin dari duduknya dan berjalan kearah laci meja riasnya,perlahan Luhan membuka laci itu dan mengambil sebuah cutter dari dalamnya. Luhan menatap pantulan dirinya di cermin,terlihat olehnya wajahnya sangat berantakan dan pucat. Perlahan tapi pasti tangan Luhan mulai meraba kearah perut ratanya. Yang didalamnya terdapay kehidupan baru. Kehidupan yang tidak iya inginkan,tapi Luhan sangat menyadari bahwa mahkluk yang hidup di dalam dirinya itu sama sekali tidak bersalah.

"Maafkan aku,aku tidak bias membiarkanmu lahir kedunia ini. Maafkan aku. Hiks." Bisik Luhan. "tapi,kau tenang saja,aku akan ikut bersamamu. Aku juga sudah pantas hidup di dunia ini. Aku telah membuat kedua orangtuaku kecewa."

Luhan mulai mengangkat tangan kirinya,dan dengan gemetar mulai mengangkat tangan kanannya yang memegang cutter untuk didekatkan pada tangan kirinya.

"Maafkan aku… maaf.." Luhan terus bergumam dengan airmata yang sudh menjatuhi pipinya. Dan detik berikutnya dia merasakan tangan kiriya tersyat sesuatu yang yang tentu saja dilakukan oleh dirinya sendiri. Dan semua terasa gelap,itulah yang disarakan Luhan berikutnya.

Setelah kejadian itu Luhan mengalami koma, kini orangtua dan kakak Luhan tengah berada didalam ruang perawatan Luhan. Mereka terdiam tetap bungkam tidak ada yang berniat bersuara sedikitpun.

"Kau dengar,inilah yang aku takutkan saat mengijinkannya menuntut ilmu keluar negeri. Membuat malu keluarga." Tuan Xi Hankyung memecah keheningan. "Seharusnya Luhan tidak perlu belajar diluar negeri,jika saja dia menikah sesuai dengan apa yang kita rencanakan ini tidak akan bias terjadi." Lanjutnya.

"Lalu? Kau ingin putrimu tidak bahagia karena dia tidak menikah dengan orang yang tidak dicintainya?" jawab nyonya Xi Hechul dengan menatap tajam suaminya.

"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu…."

" Aku tidak mau putriku merasa tidak bahagia. Hentikan omong kosongmu,ge." Potong Hechul menatap suaminya marah.

"Kau tau Luhan akan membuat kita malu,dia hamil tapi tidak memiliki suami kalau aku boleh mengingatkanmu. Apa yang akan dikatakan para relasi bisnis keluarga kita bila berita ini sampai ke telinga mereka?" ujar Hankyung dengan nada rendah tapi terkandung kemarahan pada istrinya. Wufan yang juga tengah berada didalm ruagan itu hanya memperhatikan orangtuanya.

"Benar.. Kau hanya mempedulikan bisnismu yang membuatmu menjadi jauh dari kami." Heechul berteriak.

"Chullie/Eomma." Hankyung dan Wufan memanggil nama Heechul bersamaan.

"Wae? Hiks… kenapa kau berubah seperti ini ge? Luhan putri kita dan kau mau menyakitinya."

"Menyakitinya? Bukankah Luhan sendiri yang menyakiti dirinya sendiri? Lihatlah dia sekarang…"

"Bisakah kalian perdebatan kalian. Luhan sedang sakit disana." Wufan memotong adumulut antar orangtuanya. "Dia akan semakin sakit jika mendengar argument kalian."

Flashback End

"Jadi,aku memutuskan untuk pergi dari keluargaku,meski ini sangat berat untukku." Luhan mengakhiri ceritanya sambil menunduk dan setitik air mata jath dari mata indahnya,sedangkan nyonya Oh hanya bisa memperhatikan Luhan dengan tatapan iba. "Meski berat tapi aku berusaha memalauinya,karena Lian." Lanjut Luhan sambil mencium puncak kepala Lian yang tengah tertidur di pangkuannya.

"Meski kehadirannya membuatku kehilangan segala-galanya. Tapi dia tetaplah darah dagingku,dia tumbuh dalam diriku dan darahku mengalir ditubuhnya."

Grepp.

Nyonya Oh memeluk Luhan dengan penuh kasih sayang. "Maafkan aku ne." bisiknya.

Airmata Luhan semakin menganak sungai karena sekali lagi pelukan nyonya Oh mengingatkannya pada ibunya.

Sehun POV

Aku tidak menyangka perjalanan hidup Luhan sangat berat. Dan Lian? Kehadirannya sungguh tidak aku bayangkan.

"Kau sudah mendengarnya kan?"

"Eomma." aku langsung menegakkan badanku dan bersandar di ranjang. Eomma berjalan mendekatiku dan duduk di tepi ranjangku.

"Jadi,apa keputusan yang akan kau ambil? Kau sudah mendengar semuanya kan?" Tanya eomma.

"Anniyo eomma." bisikku,aku menundukkan kepalaku.

"Eomma tau Luhanlah yang terbaikmeski masalalunya seperti itu,tapi itu bukanlah kemauannya. Dan kehadiran Lian bukanlah sesuatu yang harus disesali." Tutur eomma. "Kau sendiri yang membawa Luhan masuk kedalam kehidupanmu,jadi kau harus bias memutuskannya."

Tentu saja apa yang dikatakan eomma aku sedang memikirnya. Entah kenapa aku selalu ingin Luhan berada disampingku saat pertama kali aku melihatnya. Aku selalu terbayang wanita itu,dan yang lebih penting adalah ada getaran aneh dalam dadaku yang membuatku sesak saat berada di dekatnya.

Luhan mengalami pemerkosaan,dan dari kejadian itu hadirlah Lian. Aku sedikit kaget gadis sebaik Luhan bias mengalami kejadian menyakitkan seperti itu. Aku sudah menganggap Lian seperti anakku sendiri dan tentu saja aku tidak peduli siapa ayah Lian yang sebenarnya. Dan aku tau ini terlalu cepat tapi aku merasa ini yang terbaik. Aku merasakan getaran aneh di dalam dadaku saat aku berada di dekat Luhan,aku tidak mau kehilangannya ataupun jauh darinya.

"Aku sudah memutuskannya eomma,dan aku tau ini yang terbaik." Ujarku akhirnya.

"Sebelum kau melakukannya,eomma ingin bertanya atu hal padamu. Apakh kau mencintai Luhan hanya dengan jarak antara kau bertemu dengannya yang sangat singkat ini?"

Aku menatap eoma,"Aku percaya pada hatiku eomma?"

Eomma tersenyum padaku. "Aku tau kau pasti bias memilih yang terbaik,chagi."

Entah kenapa aku tidak bias memejamkan mataku walau aku sebenarnya sangat ingin memejamkanya. Maka aku bangkit dari tidurku dan menuju dapur untuk mengambil minum. Tapi langkahku terhenti saat kulihat seseorang tengah terduduk di kursi beranda yang langsung menghadap ke langit yang sedikit gelap.

"Luhan.." bisikku.

"Akh….." pekiknya terkaget atas kemunculannya. "Kau mengagetkanku Sehun-ah." Ujarnya. Lihatlah wajahnya yang sedikit pucat nafasnya terengah.

Aku tersenyum. "Mian. Apa yang kau lakukan tengah malam seperti ini di beranda?"

Luhan kembali mengarahkan tatapannya ke arah langit yang tidak menampakan bulan. Entah apa yang sedang dipikirkannya. "Apakah yang sedang kau pikirkan?"

Dia menatapku,"Apa aku terlihat jelas saat aku sedang memikirkan sesuatu?"

"Yah.. Kau tau jawabannya."

"Katakan padaku apa yang sedang kau pikirkan?"

". . . . . ."

Grep..

Aku menarik tangannya dan membawanya kedalam dekapanku. Aku bias merasakan dia menyamankan kepalanya di dadaku. Dan tentu saja aku juga bias mencium aroma rambutnya yang segar ini.

"Kau harus membagi apapun yang menjadi beban pikiranmu padaku,Lu. Harus…" bisikku. Kurasakan dia semakin mengeratkan pelukannya padaku.

Hening…. Cukup lama kami berada dalam diam.

"Aku… apakah kau tidak terlalu cepat dalam mengambi keputusan ini?" akhirnya Luhan memecah keheningan dengan pertanyaannya.

Aku mencium puncak kepalanya,aku sudah menduga ini akan terjadi. "Aku sudah memikirnya,Lu. Dan aku tidak mungkin salah dengan keputusanku."

Luhan melepaskan pelukannya dan menatapku dengan mata penuh keraguan. "Tapi,kau tau bahwa kita baru bertemu kemarin dan kau langsung memutuskan akan menikahiku tanpa tau latar belakang keluarga,siapa aku dan terpenting bahwa… aku… sudah memiliki Lian. Apakah.. Apakah kau tidak takut bahwa dengan menikahiku akan merusak citramu,aku sangat tau bahwa kau bukanlah orang sembarangan Sehuna.. Dan tentu saja,kau tau,sebuah pernikahan haruslah didasari dengan rasa cinta kasih didalamnya. Apakah….."

aku meraih tangannya dan meletakkannya didadaku. "Kau bisa merasakannya? Jantungku selalu berdetak lebih cepat saat aku berada disampingmu atau berdekatan denganmu." Ujarku,Luhan terdiam. "Kau pernah mendengar istilah love at first sigh bukan,sayang? Dan kau tau,aku merasakan itu sekarang. Sejak pertama kali aku melihatmu aku merasakannya. Merasa bahwa aku ingin masuk kedalam kehidupanmu,melindungimu dan memilikimu."

Aku kembali membawanya kedalam pelukanku. "Kau dengar itu? Dia berdetak semakin keras." Dia terdiam. "Aku tau ini terlalu cepat tapi maukah kau belajar mencintaiku,memang aku terdengar begitu egois tetapi aku serius Lu." Bisikku lagi,dan dia semakin mengeratkan pelukannya padaku,aku tau dia juga merasakan hal yang terhadapku. "maafkan aku sebelumnya,tapi aku tanpa sengaja mendengar percakapanmu dengan eomma sore tadi."

Brett… dia melepaskan pelukanku,dan membelalakan matanya. "Kau mendengarnya?" tanyanya dengan nada takut dan khawatir.

"Hemn.. Aku mendengar semuanya,Lu. Mian."

Dia menundukkan wajahnya, "Lalu,apakah kau akan…"

"Aku tidak akan meninggalkanmu…."

"Kau tidak merasa jijik padaku? Terutama pada anakku." Tanyanya dengan suara bergetar,dia sedang mencoba menahan tangisnya.

Aku menangkup tanganku di kedua sisi wajahnya. "Dengar,aku tidak peduli masalalumu,asal usul Lian, atau apapun. Masalalu adalah sesuatu yang harus dilupakan,aku tidak mau kau mengingat masa-masa sulit itu. Kau tau,sejak aku merasakan bahwa aku mencintaimu aku sudah memutuskan bahwa Lian adalah anakku bukan anak orang lain. Aku juga tau,kau seorang ibu kau pasti menginginkan yang terbaik juga untuk Lian."

"Hiks…"

"Kumohon jangan menangis,Lu. Kau sudah cukup menderita selama ini,kuharap dengan kau berada disampingku aku selalu bisa memberikan kebagiann padamu."

"Aku merasa tidak pantas mendapatkannya,Hun-a."

"Kau sangat pantas mendapatknya. Kumohon jangan keluarkan lagi airmata ini,ini membuat hatiku sakit."

"Gomawo.. Gomawo…"

Author POV

Tak jauh dari mereka nyonya Oh tersenyu menatap anak dan calon menatunya saling berpeluka. "Luhan memang yang terbaik. Putrimu sungguh luar biasa,Cul."

"Eng…. Hiks…"

Nyonya Oh mengalihkan tatapannya dari kedua sejoli yang sedang berpelukan itu kearah Lian yang bergerak gelisah digendongannya. "Sabarlah sayang,biarkan eomma dan appamu menikmati waktu mereka." Ujarnya pada Lian yang sudah memasukkan jari tangannya kedalam mulutnya dan terlihat hamper menangis.

"Hiks…."

"Sepertinya kau sudah darurat… Baiklah…"

Sementara kedua sejoli yang mulanya sedang berpelukan itu kini sudah mulai saling menyatukan bibir mereka dan melumat satu sama lain. Mereka tidak menyadari bahwa nyonya Oh sedang mendekat.

"Ekhem…."

Bruk..

"Awww…."

"Eomma.."

.

.

.

.

TBC/END

.

.

.

.

Jujur saja,saya bingung mesti gimana? Jadi ya begini saja. Saya kehingan feellll di tengah jalan karena sesuatu .. huhuhuhuhu.. maafkan saya kalau cerita kali ini tidak mengena dihati kalian pada reader *BOW*

Saran dan kritik mohon diberikan agar chap depan *kalau ada* tidak kehilangan feel di tengah jalan. Huhuhu. Dan maaf pasti typonya juga bertebaran dimana-mana *BOW*

Sekian kata dari saya… SEE YOU..

Silahkan tinggalakn jejak kalau kalian berkenaan,kalaupun tidak terumakasih karena sudah mampir. Saya senang bisa menghibur kalian semua. Menulis bagi saya adalah hiburan dan untuk menghibur. You wanna leave a review or not is no problem for me

LOVE YOU READERDEUL..

~Annyeong ~

PS : Untuk Yuri ajuma…. Contact me ajuma.. plisss…. Dan yang tau contactnya Yuri ajuma tolong beritau sayaaaa….. hueeeeeeeeee.. terima kasih