The Cold One

Pair :

Kim Namjoon x Kim Seokjin

Slight:

Jeon Jungkook

Jung Hoseok

Park Jimin x Min Yoongi

Kim Taehyung

Rate: T

Genre: Fantasy, Romance.

Length: Still not decided

Summary:

"I can kill you with my bare hands." –Kim Namjoon. / "It's okay, I'm already dying anyway." –Kim Seokjin. / NamJin with GS!Seokjin, VampFic, AU.

Warning:

Fiction, GS for Seokjin, Jungkook and Yoongi. Inspired by Twilight.

Notes:

All Seokjin's POV

.

.

.

.

The Cold One (Part. 1)

My name is Kim Seokjin and I'm dying.

Usiaku baru lima belas tahun ketika didiagnosa menderita emfisema, orangtuaku berusaha keras membawaku ke dokter terbaik agar aku sembuh dan usaha mereka belum berhasil. Emfisema yang kuderita memang sudah menjadi lebih ringan, tapi aku tidak sembuh.

Tapi ketika usiaku 19 tahun, emfisemaku bertambah parah karena kegiatan yang padat dan juga lingkungan perkotaan tempatku tinggal yang penuh polusi. Aku menderita emfisema karena memiliki riwayat penyakit asma keturunan dari keluargaku, hanya saja keluargaku tidak menyangka bahwa riwayat penyakit itu akan membuatku terkena emfisema.

Emfisema adalah suatu penyakit dimana alveolus milikku mulai hancur secara perlahan-lahan akibat peradangan. Karena penyakitku ini, aku sering mengalami sesak napas hingga rasanya aku ingin mati saja. Dan mungkin Tuhan mendengar doa itu karena di usiaku yang ke-20 tahun, aku memutuskan untuk berhenti melakukan pengobatan untuk penyakitku karena kedua orangtuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan hebat.

Keputusanku untuk berhenti melakukan pengobatan jelas tidak diterima oleh dokter-dokterku. Mereka memaksaku untuk tetap menjalani pengobatan tapi aku dengan tegas mengatakan tidak. Aku menjual rumah milik kami di Seoul dan memutuskan untuk pindah ke sebuah rumah milik kakek dan nenekku dulu yang diwariskan pada ayahku.

Letaknya sangat jauh dari Seoul, aku bahkan ragu dia terdaftar dalam google maps karena kota yang aku tuju ini begitu terpencil dan terletak di tengah gunung. Aku memutuskan untuk pindah ke sana karena katanya udara pegunungan baik untuk mereka yang memiliki penyakit paru-paru, jadi aku memutuskan untuk pindah ke sini.

Dan baru setengah perjalanan aku menuju rumah baruku, hatiku sudah dipenuhi perasaan ragu karena daerah yang aku tuju benar-benar terpencil. Maksudku aku bahkan tidak melihat apapun selain jalan yang sedang kami lewati. Di sisi kiri dan kanan jalan hanya terdapat pepohonan yang mulai kering karena sekarang sudah memasuki musim dingin.

"Kelihatannya tempat ini benar-benar jauh dari kota. Kau yakin akan baik-baik saja?"

Aku menoleh menatap Hoseok, teman baik ayahku, yang sedang mengemudi. "Ya, kurasa begitu."

Satu-satunya orang yang masih peduli padaku dan mendukung keputusanku adalah Hoseok, teman baik ayahku sejak dia sekolah dulu. Hanya dia yang berbaik hati membantuku mengurus surat penjualan rumahku dan juga mengurus kepindahanku ke desa ini, bahkan dia juga yang membantuku untuk mendaftar di sebuah universitas yang ada di tengah gunung ini.

Mobil yang dikendarai Hoseok berhenti dan kami tiba di depan sebuah rumah berukuran cukup besar dengan dua lantai. Aku menatap rumah itu dalam diam, rumah itu akan menjadi rumahku untuk selamanya.

Yah, aku tidak yakin akan selama itu karena aku saja meragukan umurku sendiri. Penyakit yang kuderita menggerogoti paru-paruku secara perlahan dan aku yakin apabila paru-paruku sudah rusak seluruhnya, aku akan mati.

"Jadi, bagaimana? Kau masih tetap mau tinggal di sini?"

Aku mengangguk seraya menatap Hoseok, "Ya, aku yakin."

Hoseok mengangguk paham, "Oke, ayo kita lihat rumahnya. Barang-barangmu sudah dikirim kemarin dan pastinya sudah sampai. Aku juga sudah meminta beberapa orang untuk membersihkan rumah ini."

Aku melangkah keluar dan udara dingin langsung menerpa tubuhku yang sudah terbalut mantel. Padahal ini baru awal musim dingin, tapi udara di pegunungan ini sangat dingin.

Aku merapikan rambut panjangku yang beterbangan tertiup angin dan melangkah mendekati rumah itu, kami melangkah menaiki tangga kecil menuju serambi dan pintu depan.

Hoseok memberikanku sebuah kunci, "Ayo kita lihat rumahnya."

Aku mengangguk dan kami melangkah masuk. Aku menatap sekeliling rumah, beberapa perabotan yang memang ada di sana terlihat bersih dan di beberapa tempat ada kardus-kardus yang masih tersegel rapat.

"Rumahnya hangat, mungkin karena terbuat dari kayu." Hoseok berkomentar sambil menatap sekeliling ruang depan.

"Ya, rumah ini bagus."

Hoseok memutar bahuku agar menghadapnya, "Oke, nikmati waktumu di sini dan kapanpun kau merasa kesepian, kunjungi saja aku di Seoul. Kau mengerti?"

Aku mengangguk, "Aku mengerti."

Hoseok tersenyum lebar padaku, kemudian dia memberikanku sebuah kunci lainnya. Aku menerima kunci itu dan mengerutkan dahiku karena itu adalah kunci mobilnya.

"Hadiah untukmu dariku."

Aku mengerjap kemudian aku menutup mulutku dengan tangan, "Oh my God, you give me your truck?"

Hoseok tertawa kecil, "Yap, karena tempat ini jauh dari manapun, kurasa akan lebih efektif bagimu jika memiliki mobil, kan?"

Aku tersenyum lebar dan memeluk Hoseok, aku sudah menganggapnya sebagai pamanku sendiri dan aku memang sangat menyayanginya. "Thank you! You're the best Uncle in the world!"

Hoseok tertawa dan mengusap-usap rambutku, "You're welcome, Princess. Nah, aku harus segera pergi atau aku akan ketinggalan kereta ke Seoul."

"You're not going to stay for tonight?"

"No, Princess. Aku harus bekerja besok dan kau juga harus pergi ke universitas barumu besok."

Aku mengangguk paham, "Baiklah, terima kasih untuk mobilnya." Aku menggoyangkan kunci mobilnya ke udara.

Hoseok tertawa dan mengangguk kecil, "Oke, aku harus segera pergi sebelum bus terakhir meninggalkanku."

"Kau ingin kuantar?"

"Tidak usah, kau harus istirahat."

"Oke."

.

.

.

.

.

.

.

Menjadi murid baru bukanlah sesuatu yang aku sukai. Apalagi jika mereka mengetahui kondisiku yang sedang sekarat seperti ini.

Aku benar-benar serius dengan ucapanku untuk berhenti melakukan pengobatan, bahkan aku tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan yang dimaksudkan untuk meringankan emfisemaku. Dan ternyata udara pegunungan memang membuat pernapasanku menjadi lebih baik.

Tinggal sendiri di tempat baru merupakan hal yang sangat sulit. Aku belum berkenalan dengan tetanggaku karena jarak rumah mereka sekitar 200 meter dari rumahku. Jadi yang aku lakukan semalam setelah hari gelap adalah mengunci pintu dan jendela kemudian mengurung diriku di kamar untuk belajar atau sekedar berguling-guling di tempat tidur.

Aku berjalan menyusuri koridor gedung universitasku. Aku agak kaget melihat jumlah mahasiswa yang ternyata cukup banyak. Universitas ini memang menyediakan asrama bagi mereka yang datang dari luar wilayah dan menurutuku 90% mahasiswa di tempat ini datang dari luar wilayah ini.

Aku menunduk memperhatikan denah universitasku yang diberikan di bagian administrasi universitas dan sialnya, tulisannya begitu kecil dan nyaris tidak terbaca.

"Hai, apa kau Kim Seokjin?"

Aku mendongak dengan cepat saat mendengar suara seseorang yang menyebutkan namaku dan aku melihat seorang gadis berambut hitam tengah tersenyum ramah padaku.

"Uuh, ya.. itu aku."

Gadis itu tersenyum semakin lebar, "Kenalkan, aku Jeon Jungkook. Kita akan satu kelas di kelas pertamamu nanti."

Aku menghembuskan napas lega, "Oh, syukurlah. Aku nyaris gila membaca denah ini."

Jungkook tertawa manis, "Kau seharusnya bersyukur Mrs. Lee memintaku untuk menemuimu dan mengantarmu ke kelas, Mrs. Im yang menjaga bagian administrasi memang agak sedikit ketus."

"Ingatkan aku untuk berterima kasih padanya kalau kita kebetulan bertemu dengannya."

"Tentu saja." Jungkook berjalan dan aku segera mengikutinya, "Kau pindah dari Seoul?"

Aku mengangguk.

"Wow, tidak biasanya. Maksudku, Seoul itu kota besar, kan? Kenapa kau memilih untuk pindah ke kota terpencil seperti ini?"

"Aku sakit dan udara pegunungan baik untukku."

"Oh, maafkan aku. Aku tidak tahu."

Aku mengangguk kecil, "It's okay."

Jungkook berhenti di depan sebuah kelas, "So, ini dia kelas kita."

Aku mengintip ke dalam dan melihat bahwa kelasnya sudah terisi oleh beberapa mahasiswa, "Great, aku benar-benar terlihat seperti domba tersesat."

Jungkook tertawa riang, "Tenang saja, kau berjalan bersama domba yang berpengalaman."

.

.

.

.

.

Jungkook mengajakku ke cafeteria saat jam makan siang dan ternyata cafeterianya cukup besar, dengan fasilitas makanan yang beragam. Tidak heran kalau biaya masuk ke tempat ini cukup mahal.

Aku duduk di sebuah meja kosong bersama Jungkook, aku melihat dia sudah asik dengan kegiatannya melahap makan siangnya sementara aku menatap sekeliling cafeteria sambil mengaduk-aduk salad sayurku.

Dokter mengatakan agar aku tidak terlalu banyak makan makanan berlemak makanya aku sekarang sudah mulai membiasakan diri untuk makan salad dan crouton untuk makan siang. Aku memang tidak mengkonsumsi obat-obatanku lagi, tapi setidaknya aku mencoba menepati janjiku pada dokterku yang mengatakan untuk tetap menjaga kesehatanku. Dia begitu khawatir aku akan mati, padahal seharusnya dia tahu kalau aku memang akan mati sebentar lagi.

Pandangan mataku terhenti saat aku melihat empat orang yang menempati sebuah kursi di pojok. Mereka berempat dengan tiga orang laki-laki dan satu orang gadis berkulit pucat dengan rambut berwarna pirang dengan aksen highlight hijau. Aku tidak tahu kenapa, tapi mataku terpaku pada salah seorang pria dengan rambut pirang platina yang tengah menunduk dan menusuk-nusuk sesuatu di piringnya tanpa ada niat untuk menyuapnya sama sekali.

Aku menatap Jungkook, "Siapa mereka?"

Jungkook menatapku dengan sendok yang masih berada dalam mulutnya, "Siapa?"

Aku menggerakkan kepalaku ke arah mereka. "Mereka."

Jungkook menoleh ke pojok cafeteria, "Oh, mereka. Mereka mahasiswa di sini, aku tidak terlalu mengenal mereka, tapi mereka memang terkenal."

"Siapa nama mereka?"

Jungkook berdehem, dia meneguk minumannya kemudian dia melirik ke pojok cafeteria. "Pria berambut pirang platina itu Kim Namjoon, lalu di sebelahnya, si pria berambut oranye itu Jimin, gadis berambut coklat terang di sebelahnya itu Yoongi, dan yang terakhir, pemuda berambut coklat pudar dan sedikit kehijauan itu Taehyung."

"Mereka kakak beradik?"

"Entah, menurutku jarak usia mereka tidak wajar jika disebut sebagai kakak adik. Lagipula menurut rumor yang beredar, Jimin dan Yoongi itu berkencan. Jadi tidak mungkin kalau mereka adalah kakak adik, kan?"

Aku menatap ke pojok ruangan, "Ya, kau benar." Aku menatap mereka selama beberapa detik dan tiba-tiba seorang pria yang menurut Jungkook bernama Namjoon mengangkat kepalanya dan menatapku tajam. Aku tersentak dan segera memalingkan pandanganku dengan jantung berdebar.

.

.

.

.

.

.

.

Aku dan Jungkook terpisah untuk kelas berikutnya dan untungnya Jungkook bersedia mengantarkan aku ke kelasku yang berikutnya karena kalau tidak, aku pasti terlambat memasuki kelas karena sibuk mencari letak kelas itu.

Aku melangkah masuk dan menatap seisi kelas kemudian duduk di salah satu kursi di depan. Sebenarnya duduk di depan bukanlah gayaku, tapi karena aku sangat asing di tempat ini, aku memutuskan untuk duduk di depan dan berusaha untuk tidak terlalu menarik perhatian.

Aku menyisir rambut panjangku dengan jari sementara aku menunggu dosen kami muncul. Tak lama kemudian aku mendengar suara langkah yang menghampiri mejaku dan aku tersentak saat melihat Namjoon muncul dan duduk di sebelahku.

Aku menatap sekeliling kelas dan menyadari kalau kursi di sebelahku adalah kursi kosong terakhir. Pantas saja Namjoon memutuskan untuk duduk di sebelahku.

Tak lama kemudian seorang dosen wanita yang terlihat masih muda dan cantik melangkah masuk ke kelasku. Dia mengatakan pada kami untuk membuat sebuah resume dari buku novel berbahasa inggris dan dia meminta kami bekerja dalam grup yang terdiri dari dua orang.

Aku menghela napas pelan, mahasiswa baru dan sudah diminta untuk mengerjakan tugas kelompok? Bagus sekali.

Aku menatap sekeliling dan melihat kalau sebagian besar dari mereka sudah sibuk membahas mengenai novel yang akan mereka kerjakan sedangkan aku bahkan belum mendapat partner.

Aku menoleh menatap Namjoon di sebelahku, "Uhm, hai?"

Namjoon menatapku tajam dan aku baru menyadari kalau matanya berwarna seperti.. golden brown? Bagus sekali.

"Ya."

Aku agak kaget saat mendengar suara berat Namjoon, "Kau mau bekerja bersamaku?"

"Kurasa sebaiknya kau menyebutkan namamu terlebih dahulu."

Aku mengatupkan bibirku dan mengangguk pelan, "Kau benar, namaku Kim Seokjin." Aku mengulurkan tanganku padanya tapi dia hanya diam dan menatap tanganku.

"Kim Namjoon." Namjoon menyahut dengan nada tegas dan dingin.

Aku kembali mengatupkan bibirku menjadi garis tipis dan mengangguk kecil. Laki-laki yang sombong, angkuh, dan arogan. Great, kurasa aku akan mengerjakan tugas ini sendirian.

"Setelah kelas selesai, di perpustakaan?"

"Ya?" tanyaku bingung karena aku sedang agak tidak fokus.

"Kita kerjakan tugas ini setelah kelas selesai di perpustakaan."

"Oh ya, tentu saja."

"Kau tidak masalah jika harus pulang terlambat?"

"Tidak masalah, aku tinggal sendirian."

Namjoon terdiam cukup lama kemudian dia mengangguk pelan.

.

.

.

.

.

.

.

Mengerjakan tugas bersama dengan seseorang seangkuh Namjoon jelas bukan merupakan awal yang baik untuk memulai perjalananku di universitas ini. Walaupun harus kuakui Namjoon sangat pintar, mungkin cenderung jenius, karena dia yang menerjemahkan isi buku itu beserta membuat resumenya sementara pekerjaanku hanyalah mengetik apa yang dia ucapkan di laptop miliknya.

Aku mengetik dengan gerakan yang aku usahakan cepat karena Namjoon benar-benar mengucapkan resumenya dengan cepat.

"Can you slow down?" ujarku kesal.

Dia menatapku dingin, "Apa aku terlalu cepat untukmu?"

Aku menghela napas kasar dan mengibaskan rambutku ke belakang, "Ya, kau.."

Aku tidak meneruskan kalimatku karena aku melihat Namjoon tiba-tiba berubah menjadi tegang. Dia menatapku dengan pandangan tajam dan mencengkram buku yang dia pegang kuat-kuat.

"Kenapa?" tanyaku.

Namjoon membanting buku yang dia pegang ke meja kemudian berdiri dan pergi meninggalkanku di perpustakaan dengan langkah cepat.

Aku mengerjap bingung, "Apa yang salah dengan dirinya?"

Aku terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya aku meraih buku yang dibanting Namjoon tadi ke meja, dan aku tersentak kaget saat melihat kalau buku dengan hard cover itu agak rusak. Bagian depan dan belakang cover buku itu robek dan berlubang kecil dengan kedalaman yang lumayan.

Aku mengelus permukaan cover buku itu dan menyadari kalau bentuk robekan itu terlihat seperti kuku. Tapi, kuku siapa yang cukup keras sehingga bisa menembus sebuah novel dengan hard cover?

Dan sejak tadi yang menyentuh buku ini hanya Namjoon.

Tunggu..

Apa Namjoon yang merusak buku ini?

.

.

.

.

.

Keesokkan harinya aku kembali mencari Namjoon untuk mengembalikan laptopnya. Kemarin dia meninggalkan laptopnya begitu saja dan kemarin aku iseng memeriksa laptopnya dan ternyata laptop itu kosong melompong. Benar-benar terlihat seperti laptop yang baru saja dibeli.

Bahkan file tugas resume kami adalah file pertama yang ada di laptop itu.

Aku bersandar di mobilku sementara mataku mengawasi halaman parkir, kemarin Jungkook bilang Namjoon dan keluarganya tidak tinggal di asrama, mereka memiliki rumah yang berada cukup dekat dengan puncak gunung dan mereka biasanya datang ke kampus dengan mobil.

Aku mengetuk-etuk sepatuku ke aspal keras karena aku mulai bosan menunggu. Dan akhirnya aku melihat sebuah mobil Jeep meluncur masuk ke dalam halaman parkir universitas dan aku langsung tahu itu dia.

Aku meraih laptop yang sejak tadi kuletakkan di kap mobilku dan berjalan ke arah mobil itu. Aku melihatnya turun dari mobil seraya menyandang ranselnya. Aku berhenti di hadapan mereka dan selain Namjoon dan Yoongi yang menatapku dingin, Jimin dan Taehyung justru menatapku dengan tatapan tertarik.

"Aku ingin mengembalikan ini. Kau meninggalkannya di perpustakaan kemarin." Aku menyodorkan laptop yang kupegang pada Namjoon.

"Oh wow, you smell really good." Taehyung berujar seraya menatapku.

Aroma tubuhku?

Apa itu karena aku menggunakan parfum yang dulunya adalah parfum ibuku?

"Thanks, it's my Mom's perfume."

Jimin tertawa dan memukul bahu Taehyung. Sementara Taehyung juga tertawa keras seraya menggeleng pelan.

Kerutan di dahiku muncul karena aku tidak mengerti kenapa mereka tiba-tiba tertawa seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat lucu.

"Let's go." Yoongi berujar pelan seraya menggandeng lengan Jimin.

Sementara Taehyung memberikanku senyum lebar lalu melangkah pergi meninggalkan aku dan Namjoon.

"Aku tidak mengerti maksud ucapan Taehyung tadi." Aku berujar seraya menatap Namjoon.

Namjoon menatapku, "Artinya tidak penting."

"Tapi mereka menertawakan aku."

"Kalau begitu jauhi kami agar kau tidak ditertawakan lagi."

Aku terperangah mendengar kata-kata Namjoon. Aku hanya mampu berdiri diam di sana dengan wajah luar biasa kesal. Aku tidak mengerti kenapa bisa ada seseorang searogan Namjoon di dunia ini.

"Menyebalkan."

To Be Continued

.

.

.

.

.

Hi!

Aku datang membawakan part pertama untuk cerita ini pada kalian. Aku masih belum bisa memastikan cerita ini akan kubuat menjadi chaptered atau akan selesai dalam beberapa part.

Tapi kuharap kalian suka. Hehehe

.

.

.

P.S:

Sedikit penjelasan soal emfisema. Emfisema itu penyakit yang menyerang paru-paru dan dia menghilangkan kadar keelastisan alveoulus menghilang dan ini akan menyebabkan alveolus yang hancur secara perlahan. Karena paru-paru kehilangan kadar keelastisannya, udara akan terjebak di paru-paru dan tidak bisa tersirkulasi dengan baik, hal ini akan menyebabkan sesak napas hebat.

Penyebab emfisema biasanya adalah rokok, tapi ada sebagian kecil dari penderita emfisema yang menderita penyakit ini karena polusi udara dan juga keturunan. Nah, jika disebabkan oleh keturunan, biasanya itu karena riwayat penyakit asma atau riwayat penyakit paru-paru lainnya.

Untuk pengobatannya bisa dilakukan dengan bedah dan membuang bagian paru-paru yang sudah rusak, ada juga yang diberikan obat-obatan dan dengan melakukan pola hidup sehat seperti menghindari polusi udara dan rokok. Emfisema jika tidak diobati akan menjadi semakin parah karena paru-paru akan terus hancur secara bertahap. Aku belum pernah dengar kematian karena emfisema, tapi jika paru-parumu hancur secara perlahan, tentunya kau bisa meninggal, kan?

.

.

.

.

Lastly, review?

.

.

.

Thanks