The Cold One
Pair :
Kim Namjoon x Kim Seokjin
Slight:
Jeon Jungkook
Jung Hoseok
Park Jimin x Min Yoongi
Kim Taehyung
Rate: T
Genre: Fantasy, Romance.
Length: Still not decided
Summary:
"I can kill you with my bare hands." –Kim Namjoon. / "It's okay, I'm already dying anyway." –Kim Seokjin. / NamJin with GS!Seokjin, VampFic, AU.
Warning:
Fiction, GS for Seokjin, Jungkook and Yoongi. Inspired by Twilight.
Notes:
All Seokjin's POV
.
.
.
.
The Cold One (Part. 2)
Beberapa hari berikutnya berlalu seperti biasanya untukku, dan aku amat sangat bersyukur penyakitku tidak pernah kambuh saat aku berada di depan orang banyak karena jika iya, mereka semua pasti akan panik dan aku akan dikenal sebagai seseorang yang sakit-sakitan.
Aku tidak ingin dikasihani menjelang hari kematianku, aku hanya ingin meninggal dengan tenang. Aku bahkan tidak berharap meninggal di rumah sakit, aku berharap aku akan meninggal di rumahku dengan memeluk foto kedua orangtuaku.
Orangtuaku adalah satu-satunya alasan kenapa aku bertahan dengan penyakit ini. Jika keputusan diserahkan padaku, aku pasti sudah meminta dokter untuk membiarkan penyakitku agar aku mati saja. Orangtuaku lah yang memaksaku untuk melakukan pengobatan dan selalu menyemangatiku kalau aku pasti sembuh.
Aku tidak pernah percaya kalau aku akan sembuh, maksudku, penyakit ini merusak paru-paru dan tidak ada satu orangpun yang sanggup hidup normal tanpa paru-parunya. Dan aku adalah anak satu-satunya di keluargaku, mungkin karena itulah kedua orangtuaku bersikeras untuk menyembuhkanku.
Setelah masuk ke universitas ini, satu-satunya teman baikku adalah Jungkook. Dia selalu saja menemani 'domba tersesat' seperti diriku sepanjang hari. Kami hanya akan berpisah jika kelas kami berbeda, dan biasanya Jungkook akan mengantarkanku ke kelasku agar aku tidak tersesat.
Aku berjalan dengan tangan yang memeluk buku di koridor universitas kami. Aku menatap keluar jendela dan langit hari ini terlihat mendung. Aku menghela napas pelan, berdasarkan cerita Jungkook, daerah di sini memang nyaris selalu mendung setiap tahunnya. Udaranya juga selalu sejuk bahkan di musim panas, dan di musim dingin adalah kondisi terburuk dari segala cuaca, jika badai salju hebat datang, mereka bisa terkurung di rumah sepanjang hari.
Aku merapikan syal yang melingkari leherku dan berjalan lagi. Aku menghentikan langkahku saat aku melihat Namjoon tengah berjalan dari arah sebaliknya dan dia berjalan menuju ke arahku. Aku menahan napasku tanpa sadar, aku tidak mengerti pesona apa yang dimiliki Namjoon, tapi dia selalu begitu menarik di mataku.
Hari ini dia mengenakan pakaian serba hitam dari atas ke bawah. Dia mengenakan kaus hitam, jaket hitam dan juga celana jeans berwarna hitam. Hanya saja aku tidak mengerti, hari ini begitu dingin hingga aku saja membungkus diriku sendiri tapi dia malah mengenakan selembar jaket dan celana jeans?
Aku menunduk memperhatikan penampilanku sendiri, sweater tebal, jaket, syal, dan juga woll mini skirt tebal yang dilengkapi dengan legging dan juga sepatu boot hingga betis. Secara teknis, aku benar-benar membungkus diriku karena seorang penderita penyakit paru-paru pantang berada dalam keadaan terlalu dingin.
Tapi tadi aku juga melihat Jungkook yang membungkus dirinya sendiri. Aku ingat gadis itu mengenakan long coat berwarna putih dan juga sepatu boot panjang hingga di atas lutut. Jadi kesimpulannya adalah, semua orang menganggap hari ini dingin dan membungkus tubuh mereka dengan pakaian tebal.
Apa Namjoon tidak kedinginan?
"Apa ada sesuatu di wajahku?"
Aku tersentak kaget dan refleks melompat mundur dengan canggung saat aku menyadari Namjoon sudah berdiri di hadapanku. Aku menggeleng pelan, "Tidak ada."
"Kalau begitu kenapa kau menatapku terus?"
Aku tergagap, tidak mungkin kan aku mengatakan kalau aku sedang melamun memikirkan selera fashionnya yang aneh?
"Ti-tidak apa-apa, aku tidak menatapmu terus-menerus." aku menggeleng kuat-kuat dan berusaha memasang wajah yang meyakinkan.
Namjoon memperhatikan wajahku dengan seksama, "Kau pucat sekali, apa kau terkena anemia?"
"Eh?" aku tidak memiliki anemia, tapi pagi ini memang keadaanku agak kurang baik. Sesak napasku kambuh dan aku beruntung karena aku masih baik-baik saja setelah istirahat sebentar.
Namjoon menatap mataku, "Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti seseorang yang kehabisan darah."
Aku mengangguk kecil, "Aku baik, hanya saja aku memang tidak sehat."
"Maksudmu?"
Aku menghela napas keras, "Aku sekarat, kau puas?" aku menundukkan kepalaku, "Aku permisi."
Aku berjalan melewati Namjoon dengan langkah yang kuusahakan cepat. Aku tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba bersikap ramah padaku, apa dia kasihan padaku?
Tapi aku tidak butuh dikasihani, aku tidak pernah suka saat orang lain melayangkan tatapan kasihan mereka padaku saat mereka tahu aku sekarat.
Setelah Seokjin melangkah pergi, Namjoon memperhatikan punggung Seokjin yang menjauh.
"Dia sakit? Sakit apa? Penyakit apa yang membuat detak jantungnya terdengar begitu lemah?"
.
.
.
.
.
.
.
Aku melempar tasku masuk ke dalam mobilku sebelum kemudian aku duduk di kursi pengemudi. Aku terbatuk-batuk pelan dan berdehem, kondisiku semakin memburuk dan aku memutuskan untuk segera pulang sebelum aku benar-benar pingsan di tempat ini.
Aku mengatur napasku perlahan karena aku merasakan kalau napasku mulai sesak, aku menyalakan mesin mobilku dan berdiam selama dua puluh detik hingga napasku kembali normal sebelum aku menginjak pedal gas dan melajukan mobilku.
Butuh waktu cukup lama menyetir dari universitas yang berada cukup tinggi hingga ke rumahku yang berada agak ke bawah. Tapi aku berusaha keras menjaga fokusku walaupun napasku sudah terengah-engah.
Aku terbatuk-batuk keras dan berusaha keras untuk mempertahankan kesadaranku, 'Sedikit lagi.. sedikit lagi aku sampai di rumah..' batinku berulang-ulang agar aku tidak kehilangan kesadaran di dalam mobilku.
"Ugh.." aku merintih pelan seraya mencengkram dadaku karena rasa sakit dan sesak di sana semakin menjadi-jadi. Aku menghentikan mobilku di tengah jalan dan aku langsung merintih kesakitan. Rasanya begitu sesak seolah-olah paru-paruku kehabisan udara, aku megap-megap mencoba melegakan paru-paruku namun usahaku tidak berhasil.
Mataku berair dan aku bisa merasakan keringat dingin mengalir keluar dari tubuhku. Sungguh, rasanya aku yakin Tuhan akan benar-benar mencabut nyawaku hari ini.
Di tengah kesadaranku yang menipis karena minimnya udara dalam tubuhku aku melihat seseorang berjalan menghampiri mobilku. Aku berusaha keras memfokuskan pandanganku dan aku melihat Namjoon tengah berjalan ke arah mobilku.
Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan di sini karena aku tidak melihat atau mendengar suara mobil sejak tadi. Dia berjalan ke arah pintu mobil di sebelahku dan mencoba membukanya. Jariku mencoba bergerak meraih auto-lock mobil namun kesadaranku sudah benar-benar menipis.
Hal terakhir yang aku ingat sebelum kesadaranku menghilang adalah suara keras sesuatu yang hancur dari arah sebelahku, suara benda yang dilempar, dan pelukan dari sesuatu yang dingin di tubuhku.
.
.
.
.
.
.
.
Aku membuka mataku secara perlahan dan hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit khas rumah sakit. Aku menarik napas dan yang kurasakan adalah udara dingin dan sejuk khas tabung oksigen, dan saat aku mengulurkan tanganku, aku bisa menyentuh masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungku.
'Siapa yang membawaku ke rumah sakit?'
Samar-samar aku bisa mendengar suara seseorang yang berbicara dari luar ruanganku yang pintunya tidak tertutup rapat, kedengarannya dua orang sedang berdebat mengenai sesuatu hal.
"Emfisema? Dia terkena penyakit emfisema?"
"Ya, dan penyakitnya sudah termasuk parah, paru-parunya sudah hancur sebagian. Dia harus melakukan pembedahan, tapi pembedahan itu sendiri akan sangat berisiko untuknya."
Aku menatap ke arah pintu kamarku dan tiba-tiba saja suara-suara itu berhenti. Pintu ruangan itu terbuka secara perlahan dan aku melihat Namjoon tengah berdiri di ambang pintu bersama seseorang dengan jas dokter.
Seseorang berjas dokter itu berjalan menghampiriku dengan senyum kecil. "Hallo, Nona Kim, bagaimana perasaanmu?"
Aku melepas masker oksigen di hidungku, "Aku baik-baik saja. Kenapa aku ada di sini?"
"Kau sesak napas. Dan anakku membawamu ke sini."
"Anak.. anda?"
Dokter itu tertawa kecil, "Namjoon itu anak angkatku."
Aku mengerutkan dahiku, dokter yang berdiri di hadapanku tidak terlihat seperti orang asia, apalagi korea. dia lebih terlihat seperti warga Negara asing. Lihat saja penampilannya dengan rambut berwarna emas, mata berwarna golden brown dan kulit putih pucat. Dia benar-benar bukan orang korea.
Dokter itu memeriksa kondisiku dan tersenyum, "Kondisimu sudah membaik. Apa ada seseorang yang harus kuhubungi untuk mengabarkan kondisimu?"
Aku menggeleng pelan.
"Benarkah? Tapi bagaimana dengan kedua orangtuamu?"
"Mereka sudah meninggal. Waliku adalah Jung Hoseok, tapi dia sedang bekerja, aku tidak ingin mengganggunya dan membuatnya khawatir."
Dokter itu mengangguk paham, "Baiklah, istirahat dulu untuk malam ini dan kalau ada apa-apa kau bisa memanggil perawat."
Kemudian dokter itu meninggalkan aku yang masih terbaring dan juga Namjoon yang hanya berdiri kaku di sebelah tempat tidurku.
Aku menatap Namjoon, "Kau menolongku?"
"Ya."
"Bagaimana?"
"Aku membawamu ke sini."
"Dengan apa? Dengan kondisiku tadi, kau harus menyetir dengan kecepatan di atas 200 km/jam agar bisa sampai ke kota dengan cepat."
"Itu tidak penting, kan? Yang penting adalah kau masih hidup sekarang."
Aku memalingkan pandanganku dan menatap langit-langit, "Kau benar, tapi aku tidak masalah jika aku mati hari ini. Oh, tapi tetap saja terima kasih karena sudah menolongku."
"Apa kau sering seperti ini?"
"Ya, rumah sakit sudah menjadi rumah keduaku dalam beberapa tahun terakhir." Aku menatap Namjoon, "Kau tidak perlu mengasihaniku, aku tidak butuh itu. Aku memang sekarat dan aku sedang mencoba untuk menerima kenyataan itu."
Namjoon menatapku lama, dan aku merasa aku seolah terjebak dalam matanya yang unik. Aku benar-benar terpesona pada Namjoon. Dalam hati aku menertawai diriku sendiri, aku jatuh cinta disaat kematian sudah berada di depan mataku? Aku pasti gila.
"Kurasa sebaiknya kau istirahat." Namjoon berjalan menuju pintu kamarku, "Mobilmu sudah diantarkan Taehyung ke rumahmu."
Aku terdiam cukup lama, aku agak lupa soal mobilku.
Hmm, mobil?
Aku ingat hal terakhir yang aku dengar adalah suara sesuatu yang hancur dan dilemparkan. "Namjoon,"
Namjoon menghentikan langkahnya tapi dia tidak berbalik untuk menatapku.
"Bagaimana caramu mengeluarkanku dari mobilku?"
"Aku membuka pintunya."
Aku mengerutkan dahiku, "But how? Aku selalu mengunci pintu mobilku."
"Tadi pintu mobilmu tidak terkunci."
Kerutan di dahiku menjadi semakin dalam, aku tidak mungkin lupa mengunci pintu mobil. Itu adalah nasihat yang diberikan ayahku sejak aku bisa menyetir.
"Kau harus istirahat, kau hampir mati tadi, mungkin saja kau berhalusinasi." Namjoon melanjutkan langkahnya dan meninggalkanku seorang diri di ruanganku.
"Aku berhalusinasi? Kurasa itu bukan halusinasi, aku mengingatnya dengan baik."
.
.
.
.
.
.
.
Aku dirawat di rumah sakit selama satu hari dan ini membuatku harus tidak masuk hari ini. Aku berjalan menuju bagian administrasi untuk mengurus biaya perawatanku tapi ternyata Namjoon sudah membiayai semuanya.
Aku mengerutkan dahiku, dia tidak perlu membiayai biaya pengobatanku, aku masih bisa membayar biaya itu sendiri.
Aku berjalan keluar dari rumah sakit dan berdiam di halaman rumah sakit cukup lama. Agar aku bisa kembali ke kota tempatku tinggal, aku harus menaiki bus dari kota ini, dan kemudian aku harus berjalan cukup jauh hingga sampai ke rumahku.
Aku menghela napas pelan, "Seandainya saja aku membawa mobilku.." keluhku pelan.
Aku berjalan menyusuri trotoar dan akhirnya aku menemukan halte bus, aku duduk di sana dan menunggu bus. Dua puluh menit berlalu tapi bus belum juga datang dan tubuhku mulai gemetar kedinginan.
"Oh, sial." Aku berdiri dan melihat papan yang menunjukkan jadwal kedatangan bus dan ternyata bus itu akan tiba lima belas menit lagi. Dan aku akan benar-benar membeku apabila aku duduk di sini selama lima belas menit lagi.
Aku memeluk diriku sendiri dan mencoba menghangatkan diri. Biar bagaimanapun juga aku baru saja merasa lebih baik setelah kambuh kemarin, dan sekarang aku sudah dihadapkan dengan suhu dibawah 0 derajat di luar ruangan. Kurasa aku akan sakit lagi.
"Seokjin?"
Aku mendengar seseorang menyebut namaku dan saat aku mendongak aku melihat sosok Jimin dan Yoongi tengah berada di dekatku.
Yoongi memakai furr coat berwarna abu-abu dan celana hitam ketat yang membungkus kaki jenjangnya dengan baik, dia juga memakai boots hingga betisnya dengan heels yang cukup tinggi. Sementara Jimin memakai jaket kapas biasa dan juga sweater rajutan lengkap dengan jeans dan sepatu.
Mereka berdua tidak terlihat gemetar kedinginan sedikitpun. Berbeda denganku yang sudah benar-benar gemetar kedinginan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jimin pelan.
Aku berusaha keras untuk menganggukkan kepalaku.
"Kau terlihat buruk, bagaimana kalau kuantar ke rumahmu?" tawar Jimin.
Aku menatap Yoongi yang tengah menatapku datar, "A-aku.."
"Cepat naik ke mobil kami sebelum Namjoon mematahkan leher kami." Yoongi berujar cepat dan kemudian dia berdecak pelan.
"Baby, Namjoon tidak akan melakukan itu." Jimin berujar kalem kemudian dia membantuku berdiri.
Aku bisa merasakan tubuh Jimin yang terasa dingin. Aku tidak tahu kenapa, tapi mungkin saja itu karena dia juga berada di luar ruangan dalam waktu yang lama sepertiku.
"Jelas saja Namjoon akan melakukan itu." Yoongi mendengus dan membuka pintu penumpang di depan dan bergerak masuk.
Jimin membukakan pintu mobil untukku dan membantuku masuk ke dalam mobil mereka. Jimin bergegas memutari mobilnya dan masuk ke dalam kursi pengemudi, dia menyalakan mesin mobil dan menghidupkan pemanas.
"Tenang saja, aku sudah menyalakan pemanas. Kau akan merasa lebih hangat."
Aku mengangguk, "Terima kasih, tapi kurasa kalian juga butuh pemanas itu. Tubuhmu dingin sekali, Jimin-ssi. Kau pasti sudah berada di luar dalam waktu lama."
Jimin terdiam sebentar kemudian dia tertawa pelan yang terdengar seperti tawa canggung. "A-ah, ya. Begitulah."
.
.
.
.
.
.
.
Keesokkan harinya aku memutuskan untuk kembali masuk ke universitasku, aku tidak bisa duduk diam di rumah sendirian. Itu akan membuatku merasa kesepian, aku lebih memilih untuk pergi ke universitas dan menghabiskan waktuku di sana.
Aku meraih kunci mobilku dan berjalan keluar. Ucapan Namjoon soal mobilku ternyata benar, ketika aku pulang ke rumah, mobilku benar-benar berada di dalam garasi rumahku lengkap dengan kuncinya yang dimasukkan ke dalam amplop dan diletakkan di kap mobilku.
Aku tahu dia pasti bisa memasukkan mobilku ke dalam garasi karena kunci garasinya berada bersama dengan kunci mobilku. Makanya aku tidak curiga sama sekali.
Aku membuka pintu mobilku dan bergerak masuk, aku berdehem pelan dan menyalakan mesin mobil. Kemudian jariku bergerak secara otomatis untuk menyalakan music player di mobilku tapi anehnya, music player itu kosong. Padahal aku ingat aku sudah memasukkan playlist laguku ke sana tapi kenapa sekarang lagunya hilang?
"Aneh," gumamku. Aku menatap sekeliling mobil, ini adalah mobilku. Aku yakin itu, walaupun aku tidak tahu banyak soal mobil, tapi aku mengenal tipe mobilku sendiri. Aku yakin ini adalah Chevrolet Colorado berwarna hitam milikku. Dan aku sendiri yang menambahkan playlist laguku ke dalam music player di mobil ini.
Tapi anehnya, aku merasa asing di mobilku sendiri. Aku mengelus permukaan jok yang terasa seperti baru. Mobil ini memang mobil yang belum lama dimiliki Hoseok, bahkan kurasa belum satu tahun, tapi aku ingat dia pernah menceritakan soal bekas cakaran di kursi belakang karena ulah anjingnya dan saat aku menoleh ke belakang, kursi belakangnya terlihat bersih dan mulus tanpa cacat.
Aku mematikan mesin mobilku dan menarik keluar kuncinya, aku memperhatikan kunci itu dengan seksama dan aku melihat kalau kunci itu bersih tanpa noda. Aku ingat aku pernah tidak sengaja menempelkan kukuku yang baru saja dicat dengan warna pink ke kunci mobilku. Dan noda dari cat kuku itu tidak hilang dan aku memilih untuk membiarkannya saja karena itu bisa kupakai sebagai penanda kalau itu adalah kunci mobilku.
Aku memutuskan untuk keluar dari mobilku dan menatapnya secara keseluruhan. Aku tidak sengaja menggores pagar kemarin tapi bekas goresan itu tidak ada. Mobilku terlihat begitu bersih seolah itu adalah mobil baru.
Aku menggeleng pelan, "Ini bukan mobilku, ini mobil baru."
Aku mengerutkan dahiku, "Tapi kenapa mobilku berganti menjadi mobil baru? Mobilku tidak rusak, aku tidak sampai kecelakaan saat sakit kemarin. Yang aku dengar hanyalah suara sesuatu yang hancur dari sebelahku.." aku tersentak dan bergegas membuka pintu kemudi dan memperhatikannya, aku ingat aku mendengar suara sesuatu yang hancur dari arah pintu mobilku.
Apa Namjoon menghancurkan pintu mobilku untuk mengeluarkanku dari mobilku?
Tapi manusia macam apa yang bisa menghancurkan pintu mobil dengan tangan kosong? Aku ingat Namjoon tidak membawa apapun saat menolongku di tengah jalan. Aku hanya melihatnya berjalan menghampiriku.
"Aku harus menanyakan ini padanya."
To Be Continued
.
.
.
.
Haai~
Ini merupakan part yang aku tulis sebelum aku hiatus untuk sementara.
Yap, aku akan hiatus selama 1 – 2 bulan sejak pertengahan Januari hingga Februari nanti dikarenakan aku memiliki tugas dari kampus yang mengharuskan aku untuk pergi ke pedalaman. Aku tidak membawa laptopku karena selain takut hilang, di sana juga susah sinyal sehingga tidak mungkin bagiku untuk publish cerita baru atau update chapter.
Jadi.. mungkin aku akan muncul kembali di bulan Februari akhir atau di Maret awal.
So, sampai ketemu di bulan Februari atau Maret nanti!
.
.
.
.
.
Hmm, review? :D
.
.
.
Thanks
