The Cold One
Pair :
Kim Namjoon x Kim Seokjin
Slight:
Jeon Jungkook
Jung Hoseok
Park Jimin x Min Yoongi
Kim Taehyung
Rate: T
Genre: Fantasy, Romance.
Length: Still not decided
Summary:
"I can kill you with my bare hands." –Kim Namjoon. / "It's okay, I'm already dying anyway." –Kim Seokjin. / NamJin with GS!Seokjin, VampFic, AU.
Warning:
Fiction, GS for Seokjin, Jungkook and Yoongi. Inspired by Twilight.
Notes:
All Seokjin's POV
.
.
.
.
The Cold One (Part. 3)
Aku harus menanyakannya pada Namjoon.
Itu adalah hal yang terus berputar di benakku sepanjang perjalanan dari rumah menuju kampusku, tapi ada sesuatu yang menahanku. Seperti suatu pertahanan diri yang membuatku sedikit mengurungkan niatku untuk bertanya mengenai mobilku pada Namjoon.
Entahlah, aku juga tidak mengerti, tapi alarm tanda bahaya dari pikiranku mengatakan kalau sebaiknya aku berpura-pura tidak tahu soal hal ini. Tapi tetap saja, rasa penasaran benar-benar menggerogoti setiap sel dalam tubuhku hingga akhirnya aku memutuskan untuk membanting roda kemudi dan memutar arah menuju kota.
Jika aku tidak memiliki keberanian untuk bertanya pada Namjoon, maka sebaiknya aku memeriksa mobilku sendiri. Itu jauh lebih baik daripada aku duduk diam dan berujung sakit kepala karena rasa penasaran yang menyelubungi tubuhku.
Jadi di sinilah aku, berdiri dengan wajah cemas sambil memperhatikan seorang mekanik yang memeriksa mobilku. Aku mendengar mekanik itu berdecak kagum berulang kali dan ini agak membuatku bingung.
"Jadi, bagaimana?" tanyaku akhirnya saat mekanik itu sudah selesai berjalan memutari mobilku untuk kelima kalinya seraya berdecak kagum dan bersiul gembira.
"Mobilmu hebat sekali, Nona. Berapa yang kau keluarkan untuk memodifikasinya?"
"Maaf?" tanyaku bingung.
Mekanik itu berjalan menghampiri mobilku dan mengetuk-etuk kaca jendela mobilku, "Ini bulletproof glass." Kemudian dia menurunkan tangannya dan mengetuk-etuk badan mobilku, "Dan yang ini aku yakini berlapis baja ringan yang kuat."
"Apa?!" pekikku keras. Bagaimana mungkin mobilku bisa memiliki kaca anti peluru? Astaga, ini gila.
Mekanik itu mengerutkan dahinya saat melihat reaksi kagetku, "Kau tidak tahu? Jadi bukan kau yang memodifikasi mobil ini?" mekanik itu menatapku dari atas ke bawah, "Kau memang tidak terlihat seperti seseorang yang membutuhkan kaca anti peluru."
"Jelas saja tidak!" ujarku keras. Aku menatap mobilku sendiri dengan pandangan ngeri, kurasa aku benar-benar harus menanyakan ini pada Namjoon.
"Oh, selain badan mobilmu yang benar-benar sudah diperbaharui, mesin mobilmu juga sudah diperbaharui. Mobilmu jelas bukan Chevrolet Colorado biasa." Mekanik itu tertawa kecil, "Siapapun yang memodifikasi mobilmu, dia pasti sangat menjagamu. Biaya untuk semua modifikasi ini jelas tidak murah."
"Aku tidak tahu apa aku harus berterima kasih padanya atau memukul kepalanya." Aku menggumam dengan nada suram dan mekanik di hadapanku tertawa lagi.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah memeriksa mobilku ke mekanik, aku memutuskan untuk kembali pulang ke rumahku. Sepanjang perjalanan aku terus saja berpikir mengenai alasan Namjoon memberikan mobil penuh modifikasi luar biasa ini padaku.
Apa dia gila?
Maksudku, kami tidak terlalu mengenal dengan baik. Aku bahkan tidak tahu siapa Namjoon selain nama lengkapnya.
Dan orang macam apa yang memberikan mobil yang harganya sudah naik sekitar lima kali lipat dari harga aslinya pada orang asing?
Apa dia kasihan padaku?
Tidak mungkin, aku juga punya uang dan aku tidak terlihat seperti pengemis. Tidak ada alasan baginya memberiku mobil semahal ini.
Aku mengerang kesal dan memutuskan untuk menghentikan mobilku di pinggir jalan. Jemariku bergerak mengetuk-etuk roda kemudi dengan kepala yang terus berpikir keras mengenai bagaimana caranya agar aku bisa mengembalikan mobil luar biasa ini pada Namjoon dan meminta mobil lamaku kembali.
Pandangan mataku beralih ke beberapa batu yang berada di pinggir jalan, mekanik itu bilang kaca mobilku adalah kaca anti peluru? Apa aku harus memastikannya terlebih dahulu?
Aku melangkah keluar dari mobilku dan mengambil sebuah batu berukuran sedang, aku mengambil ancang-ancang dan melemparkan batu itu sekuat tenaga ke kaca mobil di sebelah kursi pengemudi dan batu itu justru terpental balik tanpa meninggalkan bekas goresan apapun di kaca mobilku.
"AUW!"
Dan batu itu justru mengenai tangan kiriku dan membuatnya tergores serta berdenyut nyeri.
Aku mengibas-ngibaskan tanganku yang sakit secara refleks dan ternyata luka goresan akibat batu itu cukup dalam hingga meneteskan darah. "Ah, sial.." gerutuku pelan seraya memperhatikan darah yang mengalir dari punggung tanganku hingga darah itu menetes di aspal keras di bawahku.
Srak Srak Srak
Tubuhku terlonjak kaget saat mendengar suara gemerisik semak yang berasal dari hutan yang berada di sisi kanan dan kiri jalan.
Astaga, apa ada binatang buas?
Hutan di sisi kiri dan kanan jalan itu gelap sekali karena memang hutannya cukup lebat. Aku tidak bisa melihat apapun walaupun aku sudah memicingkan mataku.
"Hallo?" ujarku pelan, kakiku bergerak untuk menghampiri asal datangnya suara tapi aku tidak sengaja menggesek tanganku yang terluka dengan pakaianku. "Aduh!" ujarku keras, lukaku semakin terbuka dan darah yang mengalir semakin banyak.
Melihat darah yang terus menetes membuatku sadar kalau ini bukan saatnya untuk berkeliaran di luar, aku harus segera kembali ke rumah dan mengobati lukaku sebelum aku mati kehabisan darah. Bola mataku kembali bergulir ke hutan sebelum kemudian aku berlari cepat menuju mobilku dan melaju meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Namjoon melemparkan kepala vampire yang baru saja dibunuhnya dengan santai, dia menghela napas kasar dan menatap sekelilingnya, kurang lebih ada mayat lima vampire tanpa kepala yang baru saja dibunuhnya.
Namjoon menatap ke arah ujung hutan yang masih berjarak sekitar 500 meter lagi. Kemudian dia kembali menunduk dan menatap sekelilingnya, "Dasar bodoh, kalau aku tidak bergerak cepat dia pasti sudah mati dihabisi oleh lima vampire ini." ujar Namjoon pelan kemudian dia menendang salah satu kepala vampire di dekat kakinya.
"Wow, apa kau baru saja mengamuk?"
Namjoon mendongak dan dia melihat Taehyung yang sepertinya baru saja tiba tengah berada di atas dahan pohon besar dan sedang terkekeh ceria.
"Kau baru datang?" tanya Namjoon seraya mulai mengumpulkan mayat-mayat di sekitarnya menjadi satu tumpukan besar.
Taehyung melompat turun dan ikut membantu Namjoon membereskan kekacauan di sana. "Yap, bau darah Seokjin tercium hingga ke tempatku sedang berburu, jadi aku melesat ke sini untuk melihat kondisinya." Taehyung menatap Namjoon, "Bau darahnya bisa membuat vampire lama menjadi buas seperti vampire baru."
Namjoon mendecih pelan dan mengambil sebuah lighter dari sakunya, "Aku tahu."
"Oya, apa dia tidak curiga dengan mobilnya?" tanya Taehyung seraya memperhatikan gerakan tangan Namjoon yang menyulutkan api di atas mayat-mayat tadi.
"Dia curiga, aku mengikutinya seharian ini dan dia pergi ke kota untuk memeriksakan mobilnya. Kurasa besok dia akan mendatangi kita."
Taehyung tertawa keras kemudian menggaruk kepalanya, "Yah, wajar saja dia sadar. Modifikasi yang kau berikan terlalu berlebihan."
"Dia membutuhkannya."
"Kau khawatir dia akan diburu vampire lain karena bau darahnya yang terlalu menggiurkan itu?"
"Ya, setidaknya kaca anti peluru bisa membantu menahan mereka, kaca mobil biasa akan hancur hanya dengan sekali pukulan kita."
Taehyung berdecak pelan, "Namjoon, apa kau menyukainya?"
"…"
Tidak ada jawaban dari Namjoon sehingga Taehyung menoleh dan menatapnya, "Apa kau menyukainya? Apa kau menyukai Kim Seokjin?"
"Aku tidak pantas menyukai Seokjin."
Taehyung menatap kobaran api di hadapan mereka yang semakin membesar karena membakar mayat-mayat vampire itu. "Kenapa tidak? Kau masih menganggap dirimu monster? Ayolah man, kau hanya melakukan satu kali kesalahan dan waktu itu kau memang baru terlahir sebagai vampire."
"Tapi aku menghabisi satu isi kota dalam semalam, itu terlalu buas bahkan untuk ukuran satu pasukan vampire baru."
Taehyung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan menendang ranting kering di bawah kakinya, "Bukankah kau memang berbeda? Ethan sudah berulang kali mengatakan itu, kan? Dia menemukanmu saat kau sudah menjadi vampire dan Ethan tidak tahu vampire macam apa yang membuatmu menjadi sebuas ini."
Namjoon terdiam, dia tentu mengingat itu. Ethan, seseorang yang mengasuh mereka dan menganggapnya sebagai anak sendiri itu sudah beratus-ratus tahun menjaganya agar tidak menjadi terlalu buas.
"Sampai kapan kau akan terus sendiri? Kau sudah hidup lebih lama dariku." Taehyung menatap Namjoon yang terdiam dengan pandangan kosong.
"Aku tidak pantas untuk Seokjin, dia sangat rapuh. Aku bisa membunuhnya jika aku menyentuhnya."
Taehyung mengangkat kedua tangannya, "Terserah kau saja. Aku harus pergi, aku masih haus karena tadi aku baru mendapat satu buruan." Taehyung melesat pergi meninggalkan Namjoon yang masih terpaku menatap ke kobaran api yang mulai mereda karena sudah selesai melalap keseluruhan tubuh para vampire yang dibunuh Namjoon.
"Kim Seokjin.. kenapa harus dia?"
.
.
.
.
.
.
.
Suara ketukan antara sepatuku dan lantai koridor terdengar begitu jelas karena saat ini koridor sedang sepi. Hari ini aku kembali menghadiri kelas dan Jungkook menyambutku dengan ceria seperti biasanya namun kemudian dia berubah menjadi histeris saat melihat tanganku yang terbalut perban tebal.
Sebenarnya luka di tanganku cukup dalam dan kelihatannya butuh dijahit, tapi aku jelas tidak mau pergi ke kota yang berjarak sangat jauh dari rumahku itu. Untungnya yang terluka adalah tangan kiriku, tapi karena diperban dengan begitu tebal, aku jadi tidak bisa menyetir, bahkan pagi ini aku pergi dengan bus.
Aku berjalan memasuki cafeteria dan mengambil sebuah nampan dan dengan susah payah mempertahankan nampan itu tetap stabil di tanganku.
"Oh, sial!" gerutuku keras. Jungkook masih memiliki kelas yang harus dihadiri dan dia bilang dia akan menemuiku di cafeteria nanti. Aku kelaparan dan karena tangan kiriku diperban tebal, aku bahkan tidak bisa menstabilkan posisi nampan itu di tanganku.
Aku mendengus pelan sebelum kemudian melemparkan nampan itu kembali ke tempatnya dan duduk di salah satu meja. Sialan, perutku begitu kelaparan dan terus berbunyi sejak tadi, aku tidak bisa memasak dan pagi ini aku hanya sarapan beberapa potong biscuit.
Pandanganku beralih ke tanganku yang diperban, untuk membalut tanganku saja aku harus pergi ke rumah tetanggaku yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumahku. Untungnya mereka mau membantuku mengobati luka ini, padahal itu adalah pertama kalinya aku bertemu mereka.
Jemari tangan kananku yang sehat terus saja mengetuk-etuk meja dan lagi-lagi perutku berbunyi.
Uuh, aku lapar..
"Kau lapar?"
Kepalaku mendongak dengan kecepatan luar biasa saat mendengar suara seseorang di hadapanku dan aku melihat Namjoon berdiri di hadapanku dengan sebuah nampan di tangannya.
"Ti-tidak.." ujarku pelan.
Namjoon meletakkan nampan itu di hadapanku dan mendorongnya ke arahku, "Makanlah. Suara perutmu terdengar hingga ke ujung cafeteria."
Aku membulatkan mataku, "Hei!" pekikku tidak terima. Bagaimana mungkin suara perutku terdengar hingga sejauh itu.
Namjoon tersenyum kecil, "Makanlah."
"Kau tidak makan?" tanyaku pelan.
Namjoon terdiam beberapa detik sebelum kemudian dia menggeleng pelan, "Aku tidak lapar."
Dahiku mengerut saat mendengar ucapan Namjoon. Tidak lapar? Apa yang dia makan saat sarapan hingga tidak lapar di jam makan siang?
"Namjoon!" ujarku keras karena dia sudah agak jauh dariku.
Namjoon berbalik dan menatapku, "Ya?"
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisa kau.. tunggu aku di perpustakaan setelah kelas selesai?"
"Soal apa?" tanya Namjoon berat.
Aku menjilat bibir bawahku gugup, "Nanti kau akan tahu."
Ada hening yang cukup lama sampai akhirnya Namjoon mengangguk dan mengucapkan, "Okay."
.
.
.
.
.
.
.
.
Jemariku bergerak menelusuri bagian judul buku-buku yang berada di perpustakaan, tadi saat aku baru saja tiba di sini aku tidak melihat Namjoon dimanapun. Jadi kuasumsikan pria itu belum menyelesaikan kelasnya.
Gerakan jemariku terhenti saat ujung jari telunjukku menyentuh sebuah buku yang kelihatannya sudah agak tua dan bersampul kulit. Aku menarik buku itu dan saat aku membacanya, aku menyadari kalau itu adalah buku mengenai sejarah kota kecil tempatku tinggal.
"Wow, menarik sekali.." gumamku riang kemudian aku membawa buku itu ke salah satu meja kemudian mulai membacanya.
Sebenarnya tidak ada terlalu banyak informasi penting selain tentang perjuangan Negara ini dan apa efeknya untuk kota kecil ini lalu ada juga mengenai tokoh-tokoh hebat yang tinggal di kota. Namun ada satu bab yang membuatku berhenti menampilan ekspresi bosan, di sana tertera mengenai legenda tentang makhluk mitologi yang disebut sebagai 'The Cold One'.
Mataku bergerak cepat menyusuri kalimat-kalimat yang ada di bab itu dan disebutkan bahwa kota ini pernah mengalami serangkaian kejadian mengerikan saat banyak orang yang menghilang secara misterius dan kemudian ditemukan dalam kondisi kering tanpa ada setetes darahpun di dalam tubuhnya.
"Mata berwarna merah.." gumamku saat membaca ciri-ciri dari makhluk mitologi itu yang tertera di dalam buku. "Hmm.. suhu tubuh sedingin es. Ah, makanya dia disebut 'The Cold One'. Tapi ini kan sama saja dengan vampire." Aku mengerutkan dahiku, "Jadi vampire benar-benar ada?"
"Kau sudah lama menunggu?"
Aku terlonjak dan refleks menutup buku yang sedang kubaca saat mendengar suara berat Namjoon. Astaga, kenapa aku tidak menyadari kalau Namjoon sudah berjalan menghampiriku?
"Tidak juga.." ujarku gugup seraya menggeser buku yang tadi kubaca dari hadapanku.
Aku sempat melihat Namjoon melirik buku yang kubaca dan pandangan matanya terlihat tidak suka. Tapi karena itu terjadi dengan begitu cepat, aku juga tidak bisa memastikannya.
Namjoon menarik kursi dan duduk di hadapanku, "Jadi, ada apa?"
"Aku ingin menanyakan soal mobilku. Dimana dia?"
"Mobilmu? Kurasa mobilmu ada di tempat parkir atau mungkin di garasi rumahmu jika kau tidak membawanya hari ini."
Aku menggeleng, "Maksudku mobilku yang sebenarnya. Dimana dia? Itu hadiah dari Paman Hoseok untukku, aku harus menjaganya baik-baik."
"Apa maksudmu dengan mobilmu yang sebenarnya. Itu mobilmu, Seokjin."
"Namjoon, aku tidak bodoh. Paman Hoseok tidak akan memberiku sebuah mobil hasil modifikasi besar-besaran yang membuatnya harganya meroket hingga lima kali lipat." Aku menatap mata Namjoon yang entah kenapa terlihat lebih gelap. "Jadi, apa yang sudah kau lakukan dengan mobilku?"
"Apa kau harus menanyakan ini?"
"Ya, aku harus karena aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau memberikanku mobil dengan modifikasi luar biasa itu."
"Karena kau membutuhkannya."
Aku terperangah, "Membutuhkannya? Untuk apa? Aku bukanlah buronan atau mafia yang membutuhkan mobil anti peluru."
"Bukan itu." Namjoon berujar lirih.
"Apa?" ujarku karena aku tidak mendengar ucapan yang diucapkan dengan pelan oleh Namjoon.
Namjoon menghela napas keras, "Sudahlah, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."
"Tunggu!"
"Apa lagi?"
"Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau tahu, kau tidak seharusnya melakukan ini padaku. Jangan membuat gadis yang sedang sekarat sepertiku menjadi berharap lebih. Itu.. jahat sekali."
"Aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu berharap lebih."
"Lalu apa? Apa kau selalu melakukan ini pada banyak gadis? Memberi mereka perhatian berlebih hingga mereka jatuh cinta padamu kemudian membuangnya dengan keji?" tanyaku dengan suara mulai serak karena dadaku terasa sesak. Entah karena penyakitku atau karena hatiku yang sakit, yang jelas dadaku terasa sesak dan aku benci ini.
"Seokjin, aku hanya menjagamu."
"Dari apa? Kau tidak bisa menjagaku dari apapun yang membahayakanku karena yang membahayakan diriku dan sedang mengikis nyawaku adalah penyakitku sendiri!" aku menatapnya dan aku merasakan mataku memanas. Sial, apa aku sudah benar-benar jatuh cinta pada pria ini?
Namjoon menghela napas pelan, "Kalau kau menginginkan mobilmu, aku akan memberikannya padamu dan menarik mobil itu. Hanya saja, jangan berharap apapun dariku. Aku.. bukan orang yang tepat untukmu."
Aku mendengus dan tertawa sarkastis, "Ya, tentu saja. Tidak akan ada satu orangpun yang pantas untuk orang yang sedang sekarat sepertiku. Untuk apa mereka menyukaiku? Toh aku akan mati sebentar lagi."
Aku membereskan barang-barangku secepat yang aku bisa dengan kondisi tangan kiri yang diperban tebal kemudian berdiri. Mataku menatap Namjoon tajam, "Jangan khawatir, orang sekarat sepertiku juga tahu diri untuk tidak menyukai pria sepertimu."
Aku berjalan melewati Namjoon yang terdiam namun aku terhenti, aku berbalik dan melangkah menghampiri Namjoon dengan cepat, "Ini untuk pria sombong dan kurang ajar sepertimu."
Aku mengangkat tangan kananku, membentuknya menjadi kepalan tinju kemudian meninju rahang bawah Namjoon dengan keras.
Krak
Aku baru saja ingin tersenyum bangga saat mendengar suara retakan atau mungkin patah saat aku memukul Namjoon, namun keinginan untuk tersenyum itu menghilang begitu saja saat aku merasakan rasa sakit luar biasa di tangan kananku yang baru saja meninju Namjoon.
"AAAAAHHH! TANGANKUUU!" jeritku keras seraya berjongkok dengan cepat dan memeluk tangan kananku yang berdenyut-denyut menyakitkan dengan protektif, sungguh rasanya seperti jemariku remuk karena memukul Namjoon.
Astaga, apa yang baru saja mengeluarkan suara retak dan patah itu adalah.. tanganku?
To Be Continued
.
.
.
.
.
Hai!
Jadi sesuai hasil vote kemarin, yang menang vote terbanyak adalah The Cold One!
Sebenarnya selisihnya sedikit sekali. Hehehe
Tapi aku tetap memenuhi janji dan mengerjakan ini lebih dulu. Game Changer akan segera dikerjakan kalau aku memiliki waktu luang karena saat ini aku masih ada di masa-masa penyesuaian diri dengan semester baru.
Aah, memasuki awal semester akhir itu seperti memasuki neraka baru. Lelah sekali T^T
Yah, tapi aku harus tetap semangat karena ini adalah masa-masa penghabisan sks di masa kuliahku. Hahaha
So, sampai ketemu di cerita atau chapter berikutnya!
.
.
.
.
Hmm, review?
P.S:
Yang kemarin vote untuk ini wajib review! Hahaha
.
.
.
Thanks
