The Cold One
Pair :
Kim Namjoon x Kim Seokjin
Slight:
Jeon Jungkook
Jung Hoseok
Park Jimin x Min Yoongi
Kim Taehyung
Rate: T
Genre: Fantasy, Romance.
Length: Still not decided
Summary:
"I can kill you with my bare hands." –Kim Namjoon. / "It's okay, I'm already dying anyway." –Kim Seokjin. / NamJin with GS!Seokjin, VampFic, AU.
Warning:
Fiction, GS for Seokjin, Jungkook and Yoongi. Inspired by Twilight.
Notes:
All Seokjin's POV
.
.
.
.
The Cold One (Part. 4)
Namjoon berdiri dengan posisi tangan terlipat di depan dada dan punggung yang bersandar di sebelah pintu kayu yang tertutup rapat. Dia berdiri diam di sana sejak 40 menit lalu dengan ekspresi datar dan dingin seperti biasanya dan mata yang terfokus pada lantainya.
Namjoon bisa mendengar suara marah yang berasal dari lantai bawah yang berasal dari Yoongi. Yoongi memang hanya berbicara dengan volume biasa, namun telinganya yang memang berbeda dari manusia membuatnya bisa mendengar setiap kata yang diucapkan Yoongi.
'Namjoon membawa manusia itu ke rumah?! Apa dia gila?! Aku belum berburu!'
'Yoongi, Babe, tenanglah. Aku yakin kau akan baik-baik saja.'
Namjoon memejamkan matanya dan memijat dahinya frustasi.
'Aku tidak akan baik-baik saja, Park Jimin! Aromanya tersebar hingga ke seluruh rumah! Bagaimana mungkin kau mengatakan aku akan baik-baik saja?! Satu-satunya yang menahanku untuk melahapnya adalah Ethan dan Namjoon yang bersamanya!'
'Yoongi, sayangku.. Bagaimana kalau aku menemanimu berburu sekarang? Aku akan menahanmu sampai kau merasa tidak tergoda lagi dengan aromanya.'
'Baiklah, ayo. Sebelum aku benar-benar melesat ke lantai dua untuk menghabisinya.'
Namjoon membuka matanya saat dia mendengar langkah Yoongi dan Jimin yang menjauhi rumah. Dalam hati dia sangat bersyukur Yoongi memiliki Jimin dalam hidupnya. Setidaknya ada seseorang yang sanggup menjinakkan gadis itu jika dia sedang meledak-ledak. Karena sungguh, kepribadian Yoongi tidak pernah berubah dari sejak dia berubah menjadi vampire hingga sekarang setelah puluhan dekade berlalu.
Namjoon menatap ke arah pintu yang tertutup di sebelahnya. Dia memang mengajak Seokjin ke rumahnya karena dia tahu gadis itu butuh dokter. Dan Namjoon tahu bahwa setelah dia membawa Seokjin ke rumahnya, maka tidak ada jalan lain baginya selain menjelaskan segalanya pada Seokjin.
Bahkan di tengah ringisan kesakitannya saat diobati oleh Ethan, Namjoon bisa mendengar gerutuan Seokjin dan rentetan pertanyaan yang terus ditanyakan pada Ethan mengenai bagaimana mungkin wajah Namjoon sangat keras hingga meremukkan jemari kurusnya.
Cklek
Namjoon menoleh saat pintu terbuka dan dia melihat Seokjin keluar dengan wajah cemberut dan Ethan yang menampakkan senyum menyemangati untuk Namjoon.
"Ketiga buku jari Seokjin retak dan dia harus digips hingga dua sampai tiga minggu." Ethan tersenyum pada Seokjin, "Itu berarti kau harus membiarkan tangan kananmu beristirahat selama itu, Seokjin."
Seokjin mendengus kesal, "Ya, terima kasih pada seseorang dengan wajah sekeras besi yang sudah membuatku mematahkan jariku." Seokjin berjalan menghampiri Namjoon dan menuding wajahnya, "Kau berhutang banyak penjelasan padaku."
.
.
.
.
.
.
Aku tidak peduli kalau sebelumnya aku merasa agar menjauh dari Namjoon. Saat ini yang ingin aku lakukan hanyalah memberondong pria itu dengan banyak sekali pertanyaan mengenai dirinya. Aku benar-benar tidak peduli pada alarm tanda bahaya yang terus bergaung dalam kepalaku, karena sungguh, kejadian saat aku mematahkan tanganku sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan kalau Namjoon bukanlah manusia.
Aku berjalan mengikuti Namjoon yang sedang menuruni tangga menuju lantai satu. Tangan kananku yang baru saja selesai dibebat tebal terasa berdenyut nyeri tapi aku berusaha mengabaikannya untuk mendengarkan penjelasan Namjoon. Rambutku yang bergelombang terus menerus jatuh ke depan wajahku saat aku berjalan dan aku nyaris menggeram kesal karena aku tidak bisa menyingkirkan rambut itu!
Astaga, kedua tangan yang terluka benar-benar meningkatkan emosiku hingga level tertinggi.
Langkah kakiku sontak terhenti saat Namjoon tiba-tiba berhenti dan berbalik menatapku. "Apa?" ujarku.
"Napasmu memburu dan detak jantungmu meningkat. Kau kesal? Kenapa? Karena aku melukai tangan kananmu?"
Aku tercengang mendengar ucapannya, "Hah?" ujarku bodoh. Kemudian aku meniup ujung rambut yang menempel di dekat bibirku.
Namjoon tersenyum kecil dan berjalan ke arahku kemudian menyingkirkan rambut yang menempel di wajahku dan menyisipkannya ke belakang telingaku. "Kalau Yoongi sedang ada di rumah, aku pasti memintanya mengikat rambut panjangmu. Tapi sayangnya Yoongi sedang keluar."
Namjoon menjalarkan tangannya dan kurasakan tangannya berhenti tepat di denyutan nadi yang ada di leherku. Dia tersenyum dan menatapku, "Kau tahu, seharusnya kau mensyukuri bahwa titik ini masih berdenyut secara teratur."
"Kau bicara apa?" ujarku akhirnya karena aku merasa Namjoon agak menyimpang dari topik percakapan yang terus aku ajukan.
"Kau ingin mendengar penjelasan apa dariku?"
"Ah, ya, benar. Aku ingin penjelasan soal dirimu, seutuhnya. Tolong jangan membuatku seperti orang gila karena memikirkan kalau kau.. bukan.. manusia." ujarku akhirnya. Sebenarnya hal ini sudah menggangguku sejak aku pertama kali melihatnya di cafeteria. Dan ini semakin bertambah sejak aku mengetahui dia menolongku dan memberiku mobil dengan proteksi berlebihan.
"Aku memang bukan manusia." ujar Namjoon santai dan ini membuatku sangat terkejut melihat betapa santainya dia saat membahas eksistensinya sendiri.
"Apa kau gila?"
"Tidak."
"Apa kau.." aku menggigit bibirku saat satu-satunya jawaban atas 'keanehan' Namjoon yang kusadari berputar dalam kepalaku. "Sesuatu yang mereka sebut sebagai 'The Cold One'?"
"Ya,"
"Dan anggota keluargamu yang lain?"
"Mereka sama sepertiku."
Aku terperangah, "Wow," gumamku akhirnya.
Maksudku, entah aku yang mulai gila atau aku sedang terjebak dalam dunia aneh dimana vampire memang benar-benar ada. Dan vampire itu sedang berdiri di hadapanku dengan tenang.
"Is this real?"
"Yap, this is real. I am a vampire and I drink blood for living."
"Well, I have blood." ujarku polos tanpa sadar. Yah, hidupku juga akan berakhir sebentar lagi, meninggal sekarang atau nanti tidak ada bedanya. Dan aku juga tidak mengerti dengan reaksiku yang begitu santai, apa itu karena aku memang sudah memikirkannya dan menduga ini sejak awal?
Namjoon terkekeh pelan, "Ya, dan darahmu adalah darah dengan aroma paling menggiurkan yang pernah kutemui."
Aku tersentak, mataku menatap mata Namjoon dan aku melihat keseriusan di sana. "Apa aku harus pergi dari sini?"
"Well.."
"Astaga, Kim Seokjin!"
Kepalaku sontak menoleh ke arah asal suara yang baru saja kudengar dan aku melihat Taehyung di sana, dengan senyum lebar di wajahnya hingga kedua matanya menyipit, tengah melangkah menghampiriku dengan riang.
"Aku tidak menyangka akhirnya kau berhasil meluluhkan hati Namjoon."
Aku mengerutkan dahiku bingung, "Maaf?"
"Taehyung, diamlah." Namjoon berujar dingin dengan mata yang tertuju pada Taehyung.
Taehyung mengangkat kedua tangannya, "Oops." Pandangan Taehyung beralih ke kedua tangan Seokjin yang diperban, "Ada apa dengan tanganmu?"
Aku mengangkat tangan kiriku, "Yang ini tergores batu." Kemudian aku mengangkat tangan kananku, "Yang ini kupatahkan setelah meninju wajah Namjoon."
Taehyung mengerjap dan dua detik kemudian dia terbahak keras, bahkan dia sampai berlutut karena tertawa terlalu keras. "Aduh, astaga.. kau meninjunya?" Taehyung menunjuk wajah Namjoon dengan sebelah tangan memegangi perutnya.
Aku mengangguk polos.
Taehyung tertawa lagi dan kali ini aku merengut kesal.
"Taehyung, sudahlah." Namjoon berujar tenang dan perlahan-lahan tawa Taehyung berhenti.
"Astaga, Seokjin, seharusnya kau tidak meninjunya." Taehyung berjalan ke sebelah Namjoon dan menunjuk wajahnya, "Seharusnya kau hantam saja dia dengan pipa besi."
Bibirku tertarik membentuk senyuman kecil saat melihat betapa cerianya Taehyung. "Terima kasih, akan kuingat."
Namjoon berdehem kemudian dia menatapku, "Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Dan aku akan mengirimkan seorang perawat untuk mengurusmu sampai tanganmu bisa digunakan."
"Kenapa?"
"Karena tanganmu menjadi seperti itu karena ulahku, dan aku jelas tidak mampu merawatmu. Kau.. bisa terluka lebih parah."
"Apa maksudnya itu?"
Namjoon menghela napas pelan, "Seokjin, sudahlah. Kau hanya akan membahayakan dirimu sendiri jika berada dekat denganmu. Makananku adalah sesuatu yang mengalir di tubuhmu, kau ingat?"
"Kau sudah memberitahu Seokjin soal kita?" tanya Taehyung pada Namjoon.
"Ya, tentu saja. Kau pikir apa yang harus aku lakukan setelah dia mematahkan jemarinya karena memukulku?" Namjoon menatapku, "Ayo, aku akan mengantarmu."
.
.
.
.
.
.
.
Ucapan Namjoon soal perawat itu tidak main-main, dia benar-benar mempekerjakan seorang perawat untukku. Selain mengurus pekerjaan rumah, dia juga menyuapiku, membantu mandi, dan juga mengantar serta menjemputku di universitas.
Ya, aku tetap mengikuti kelas-kelas yang ada namun aku hanya merekam pelajaran selama kelas berlangsung. Aku meletakkan sebuah kamera dan merekam prosesi belajar di kelas setiap harinya selama tanganku terluka.
Sudah tiga hari berlalu tapi sayangnya aku belum bertemu Jungkook selama tiga hari ini. Katanya gadis dengan senyuman seperti kelinci itu sedang pergi ke rumah sepupunya. Sebenarnya aku merindukan Jungkook, dia adalah teman baikku dan rasanya agak aneh saat dia tidak berbicara padaku dengan suaranya yang ceria selama tiga hari ini.
Aku melangkah memasuki cafeteria dan langsung duduk di meja yang berisi Namjoon dan Taehyung. Selama tiga hari ini Namjoon lah yang membantuku untuk makan karena tanganku tidak bisa digerakkan, sementara Taehyung biasanya akan tertawa dan meledek Namjoon yang serius menyuapiku.
Diantara seluruh anggota keluarga Namjoon, mungkin hanya Yoongi yang masih tidak suka dengan kehadiranku di sekitar anggota keluarganya yang lain. Ethan dan Vivian, istrinya, menerimaku dengan baik. Begitu juga dengan Jimin dan Taehyung yang berbicara dengan akrab denganku. Hanya Yoongi yang masih agak ketus padaku dan mengacuhkan diriku yang duduk bersama mereka selama tiga hari belakangan.
Aku menatap Namjoon yang sedang sibuk membuka pembungkus sandwich di meja, "Hei."
"Ya?"
"Kau tahu, kau harus belajar untuk makan."
Namjoon mengangkat kepalanya dan menatapku, "Maksudmu?"
"Maksudku, kau terlihat begitu mencurigakan saat menyuapiku sementara kau sendiri tidak makan. Itu akan membuatku terlihat seperti seorang gadis jahat yang meminta pria menyuapinya tapi tidak mengizinkan pria itu makan."
"Aku tidak butuh makan."
Aku memutar bola mataku, "Ya, aku tahu. Tapi kau harus belajar untuk makan, yah, setidaknya kau ikut mengunyah saat sedang menyuapiku."
Namjoon menatapku kemudian dia melirik sesuatu di belakangku, "Temanmu."
"Hah?"
"Seokjin!"
Aku menoleh dengan cepat dan aku melihat Jungkook sedang melambai dengan ceria kepadaku. Aku mengangkat tangan kananku yang masih dibalut gips di bagian telapak tangan dan balas melambai kepadanya.
Wajah Jungkook yang tadinya ceria berubah total saat melihat tanganku, dia berjalan cepat menghampiri mejaku.
"Apa yang terjadi pada tanganmu?"
"Ini? Aku terpeleset di tangga teras rumahku karena es, dan jemariku yang malang membentur tangga dengan keras." Aku sudah mencari alasan paling masuk akal dan alasan inilah yang menurutku paling masuk akal.
"Astaga! Apa kau baik-baik saja?" tanya Jungkook khawatir.
Aku memberinya senyuman menenangkan, "Aku baik."
"Seharusnya kau memberitahuku." Jungkook menarik sebuah kursi dan duduk di sebelahku, "Oya, bagaimana kalau untuk sementara ini kau tinggal denganku sampai tanganmu sembuh? Pasti sulit kan beraktivitas dengan tangan seperti itu?"
"Seokjin akan tetap tinggal di rumahnya, aku sudah mempekerjakan perawat untuknya."
Jungkook menatap Namjoon yang baru saja mengucapkan kalimat tadi. Kemudian bola mata Jungkook bergulir ke arahku, "Kau berkencan dengan Namjoon?" bisiknya pelan.
Aku ingin sekali tertawa saat melihat ekspresi penasaran di wajah Jungkook dan bagaimana dia berbisik selirih mungkin agar tidak terdengar Namjoon. Seandainya saja Jungkook tahu Namjoon adalah vampire, aku yakin dia tidak akan melakukan itu karena itu sia-sia.
Mataku tidak sengaja tertuju pada Taehyung yang tengah berusaha menahan tawa, Yoongi yang menatap Jungkook dengan datar, Jimin yang tersenyum kecil, dan Namjoon yang menghela napas pelan.
"Tidak," aku memberikan jawabanku dengan tenang dan aku bisa melihat bola mata Jungkook membesar, terlihat jelas kalau dia tidak percaya padaku.
"Tapi.."
"Jungkook, kurasa sebaiknya kita masuk ke kelas. Kelas kita sebentar lagi di mulai, kan?"
Jungkook mengerjap-erjap lucu, "Eh? Ya? Mungkin." Jungkook menatap sandwichku yang belum tersentuh di meja, "Ah, tapi aku harus mengambil roti pasta kacang merah! Tunggu sebentar!"
Jungkook berlari kecil untuk mengambil rotinya dan Taehyung tertawa kecil.
"Dia gadis yang lucu, namanya Jeon Jungkook, kan? Bau darahnya manis sekali."
Jimin mengangkat sebelah alisnya, "Bagiku bau darahnya biasa saja. Kurasa hanya Seokjin yang memiliki bau darah paling enak di sini."
"Tidak, tidak. Bagiku aroma Jungkook sangat menyenangkan." Taehyung berujar dengan senyum lebar di wajahnya seraya terus memperhatikan Jungkook.
Yoongi berdecak pelan, "Kau terlihat seperti orang yang baru saja bertemu oasis setelah tersesat di gurun pasir selama satu tahun."
"Hmm, menurutku Taehyung terlihat idiot." Jimin berujar ringan dan Yoongi tersenyum kecil kemudian memberikan kecupan singkat di pipi Jimin.
Wow.
Itu adalah hal paling manis yang pernah kulihat dari Yoongi. Mataku memperhatikan interaksi kecil diantara Jimin dan Yoongi. Jika kuperhatikan, Jimin memang benar-benar sangat mencintai Yoongi, semua orang pastinya bisa melihat itu. Bagaimana dia menanggapi Yoongi, caranya menatap Yoongi, dan senyumannya untuk Yoongi. Dan Yoongi, walaupun terkesan ketus, tapi Yoongi tidak pernah terlihat ketus dan dingin saat berada di sekitar Jimin. Yoongi sering tersenyum dan melakukan skinship kecil dengan Jimin.
Bibirku menyunggingkan senyum kecil saat menyadari itu. Seandainya saja umurku tidak sependek ini, aku pasti bisa menemukan seseorang yang akan memperlakukanku seperti Jimin memperlakukan Yoongi, dan seseorang yang mencintaiku dengan begitu tulus seperti Jimin yang mencintai Yoongi.
Tapi dengan keadaan seperti ini aku bahkan tidak berani berharap. Aku hanya akan menyakiti siapapun yang mencintaiku jika aku pergi lebih dulu karena penyakitku ini. Aku memang merasa kalau aku mungkin sudah jatuh cinta pada Namjoon. Tapi Namjoon bukanlah manusia dan ada satu sudut di hatiku yang benar-benar meneriakkan betapa salahnya perasaan ini.
Aku belum pernah jatuh cinta pada manusia dan aku justru jatuh cinta pada seorang vampire?
Kurasa Tuhan memang mengatur hidupku dengan tidak biasa.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam ini tiba-tiba saja Namjoon datang berkunjung ke rumahku. Aku memutuskan untuk menemuinya di teras rumah sementara perawatku sedang memasak makan malam untukku.
Aku menghembuskan napas yang langsung berubah menjadi asap putih karena malam ini memang dingin. Jungkook bilang, musim dingin di desa ini selalu lebih lama daripada biasanya. Hawa dingin dan salju bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Bahkan saat musim panas pun desa ini tidak pernah panas, suhunya selalu sejuk dan basah.
"Ada apa?" tanyaku pada Namjoon.
"Aku melihatmu memperhatikan Jimin dan Yoongi siang tadi. Ada apa?"
"Bukan apa-apa." Aku menarik syalku agar lebih menutup leherku.
"Ada apa, Seokjin?"
Aku mendesah lelah dan menatap Namjoon, "Aku iri. Kenapa?"
"Kenapa kau iri? Justru Yoongi yang begitu iri padamu karena kau hidup. Tidak seperti kami yang akan membeku selamanya, kau hidup, kau tidak membeku."
"Ya, aku hidup, untuk saat ini. Dan mungkin nanti aku tidak akan berada di sini lagi."
"Seokjin.."
"Kau tahu, ada satu hal dalam hidupku yang ingin sekali kucapai sebelum aku mati."
Namjoon menatapku dalam diam dan aku mengartikan bahwa dia ingin mendengar lanjutan kalimatku.
"Aku ingin menikah, seperti ayah dan ibuku." Aku mendongak menatap langit malam musim dingin yang terlihat bersih, "Aku ingin menikah dengan seseorang yang mencintaiku dan juga kucintai, aku ingin menikah di bawah guguran kelopak-kelopak bunga mungil, dengan gaun sederhana dan veil yang cantik. Seperti ibuku."
Mataku kembali untuk menatap Namjoon, "Tapi itu tidak mungkin terjadi, kan?"
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Karena hatiku mengatakan kalau aku jatuh cinta pada orang yang salah." Aku berdecak pelan, "Dia bahkan bukan seseorang yang sama denganku."
"Aku tidak bisa jatuh cinta padamu."
Saat aku menatap Namjoon, aku bisa melihat matanya yang menyiratkan perasaan terluka yang mendalam. Kenapa? Kenapa dia berekspresi seperti itu.
"I can't be with you. Because I can kill you with my bare hands." Namjoon menunduk menatap tangannya sendiri, "I'm a monster."
Aku tidak tahu apa yang merasuki pikiranku, tapi tanpa sadar tanganku terulur dan menyentuh bahunya. "It's okay, I'm already dying anyway."
Namjoon menatapku, "You are not dying."
"I am."
Namjoon menatapku sedih kemudian dia menarikku ke dalam pelukannya. Berada dalam pelukan Namjoon seperti berada dalam pelukan sebuah boneka salju, begitu dingin, kaku, namun terasa lembut disaat bersamaan. Berada dalam pelukan Namjoon tidak sehangat berada dalam pelukan ayahku, ibuku, atau Paman Hoseok. Tapi aku merasa bahwa berada dalam pelukan Namjoon adalah hal yang benar, dan aku.. merasa sangat nyaman saat bersamanya.
"Kau tidak akan mati, aku bersumpah kau tidak akan mati, Kim Seokjin. Aku akan menyelamatkanmu, apapun yang terjadi, apapun resikonya."
Mataku memanas saat mendengar ucapan Namjoon. Aku merasa seperti mendengar ucapan ayahku di hari aku didiagnosa menderita penyakit emfisema. Hari itu ayahku juga bersumpah kalau dia tidak akan membiarkan putri kecilnya mati, dia bersumpah akan membuatku sembuh, bagaimanapun caranya.
Aku terisak pelan, "So, the monster has finaly in love with the princess, huh?"
Namjoon tertawa kecil, "Yeah, what a stupid and pathetic monster."
"What a dumb and sick princess." ujarku pelan.
Aku tertawa kecil dan menyamankan posisi kepalaku di bahu Namjoon. Mungkin ini salah, tapi bagiku yang hanya bisa menikmati sedikit waktu di dunia, ini adalah hal paling benar yang bisa kulakukan.
I'm in love with a monster that can easily kill me.
But, I've no regret about it.
To Be Continued
.
.
.
.
.
Hmm, sebenarnya aku memang tidak merencakan banyak konflik untuk cerita ini. Jadi cerita ini juga sudah memasuki awal menuju akhir. hehehe
.
.
.
.
Review? ^^
.
.
.
Thanks
