The Cold One
Pair :
Kim Namjoon x Kim Seokjin
Slight:
Jeon Jungkook
Jung Hoseok
Park Jimin x Min Yoongi
Kim Taehyung
Rate: T
Genre: Fantasy, Romance.
Length: Parts
Summary:
"I can kill you with my bare hands." –Kim Namjoon. / "It's okay, I'm already dying anyway." –Kim Seokjin. / NamJin with GS!Seokjin, VampFic, AU.
Warning:
Fiction, GS for Seokjin, Jungkook and Yoongi. Inspired by Twilight.
Notes:
All Seokjin's POV
.
.
.
.
The Cold One (Part. 5)
Aku sadar kalau memang memiliki Namjoon di kehidupanku yang sebentar ini adalah suatu berkah tersendiri dalam hidupku. Maksudku, secara fisik Namjoon adalah sosok yang diinginkan setiap wanita, dia tampan, tinggi, bertubuh tegap dan kekar, dan jika melihat sifatnya, aku sangat yakin Namjoon bisa membuat seorang wanita jatuh cinta hanya dengan menyapanya secara sopan dengan penuh aura gentleman.
Namjoon milikku, vampire kesayanganku yang tidak keberatan memiliki kekasih manusia yang sudah sekarat seperti diriku, aku mencintaimu, selalu, sampai waktu hidupku berakhir.
.
.
.
.
"Seokjin, ayolah. Cepat habiskan sarapanmu dan kita berangkat, okay?"
Aku menggembungkan pipiku saat mendengar suara Namjoon untuk kesekian kalinya di telingaku. Ugh, harus berapa kali kukatakan padanya kalau aku tidak suka sarapan bubur gandum? Melihatnya saja sudah membuatku merasa seperti memakan rumput ilalang kering yang ditumbuk menjadi bubur.
Euw..
"Aku benci bubur gandum."
Namjoon menghela napas pelan, "Tapi bubur gandum itu sarapan sehat, sayang."
"Kau tidak tahu itu, kau kan tidak makan ini." gerutuku kesal seraya melipat tangan di depan dada.
"Babe, ayolah. Aku sudah memesan dokter untukmu, dan waktunya sebentar lagi."
Gembungan di pipiku bertambah besar, aku benci mengakuinya tapi Namjoon benar. Aku sudah memiliki janji dengan dokter spesialis paru-paru di rumah sakit. Namjoon menepati janjinya untuk membuatku tetap hidup, dia mencarikan dokter terbaik dan memintanya untuk bertemu denganku secepatnya. Namjoon ingin aku melanjutkan pengobatanku yang sempat terhenti agar setidaknya aku bisa memiliki waktu hidup lebih lama.
"Aku tidak mau makan ini."
Namjoon mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, "Baiklah, sayangku, kau menang. Kau ingin makan apa?"
Aku menatap Namjoon dengan ragu, "Hmm, mac and cheese?"
Namjoon membulatkan matanya, "What? No! Itu terlalu berlemak."
"Tapi itu enak, Namjoon~" rengekku.
"Tidak, aku akan membelikanmu biskuit gandum untuk sarapan dan kau tidak boleh protes."
Aku mendesis kesal, "Kau seperti personal trainer di gym."
Namjoon tertawa kecil, "Kuanggap itu sebagai pujian, sayang." Namjoon menunduk untuk membantuku berdiri dari kursi makanku, "Ayo, ambil mantelmu dan kita berangkat."
Kepalaku mengangguk kecil saat mendengar instruksi dari Namjoon, aku meraih mantel yang ada di kursi di sebelahku dan memakainya dengan bantuan perawatku karena tanganku masih harus digips.
"Nanti siang anda ingin makan siang apa, Nona Seokjin?" tanya perawatku tenang.
Mataku bergulir ke arah Namjoon, "Kira-kira kita akan berapa lama di rumah sakit?"
Namjoon menatap perawatku, "Kami akan makan di luar, tolong siapkan makan malamnya saja."
Perawatku mengangguk patuh, "Baiklah, Tuan Namjoon."
Namjoon meraih pinggangku dengan lembut dan aku agak kaget saat merasakan betapa keras dan dinginnya tangan Namjoon. Aku mengulum bibirku dan melangkah keluar bersama Namjoon menuju mobil. Aku masih belum terbiasa dengan segala sentuhan Namjoon yang terasa begitu dingin, tapi aku yakin perlahan-lahan aku akan terbiasa.
Pandanganku terarah pada tangan Namjoon yang sekarang sedang memegang kunci mobilnya, tanpa sadar jemariku bergerak dan menggenggamnya. Hawa dingin dari tubuh Namjoon terasa menembus sarung tangan yang kukenakan, rasanya benar-benar seperti menggenggam bongkahan es, keras dan dingin.
"Kenapa, sayang?" tanya Namjoon pelan.
"Kau dingin, sangat dingin."
Namjoon menatap tangan kami yang bertaut, "Kalau kau tidak suka, kau bisa melepaskannya. Aku tidak mau membuatmu kedinginan."
Aku menggeleng dan mempererat genggaman tangan kami, "Tidak mau, aku suka seperti ini."
Ya, apapun perbedaan diantara diriku dan Namjoon, aku akan mencoba untuk menerimanya. Karena saat ini, Namjoon adalah satu-satunya alasanku untuk tetap mensyukuri hidupku.
.
.
.
.
.
.
.
Dahi dokter yang baru saja memeriksaku mulai berkeringat. Dia kelihatan begitu bingung dan agak pucat dengan kertas berisi hasil pemeriksaanku. Aku tidak tahu kenapa, mungkin karena penyakitku sudah semakin parah? Atau mungkin ada keajaiban yang membuatku tiba-tiba sembuh?
"Bagaimana kondisinya?" tanya Namjoon dengan suara beratnya.
Dokter itu agak kaget saat mendengar suara Namjoon, dia berdehem gugup dan menatap kami. "Sebelumnya saya ingin minta maaf, tapi.. Nona Kim Seokjin.. sudah tidak bisa diselamatkan lagi."
Aku merasa seolah paru-paruku ditarik paksa dari dalam tubuhku, aku terdiam, kaku, dan hanya bisa menatap dokter itu dengan tatapan kosong. Aku.. tidak akan selamat.
"Apa maksudmu?!" ujar Namjoon dengan nada suara yang mulai naik.
"Maafkan saya, tapi berdasarkan hasil pemeriksaan, salah satu paru-paru Nona Kim sudah hancur seluruhnya. Saat ini hanya ada ¾ bagian dari paru-paru lainnya yang masih bisa berfungsi. Pembedahan juga sudah tidak mungkin dilakukan karena kondisi Nona Kim sudah terlampau kritis."
"Kau harus melakukan sesuatu!" bentak Namjoon agak keras.
Mataku bergulir menatap ke arah dokter itu yang menjadi semakin pucat, aku yakin dokter itu ketakutan karena aku sendiri merasa agak merinding saat melihat Namjoon saat ini.
Perlahan, tanganku terulur dan menyentuh lengan Namjoon, "Tidak apa-apa, Namjoonie. Aku tidak apa-apa."
"Tapi, Seokjin.."
Aku menggeleng pelan, kemudian menatap dokter itu. "Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri? Tapi aku menolak untuk minum obat lagi."
Dokter itu menatapku dengan sedih, "Hiduplah dengan baik, Nona. Buat setiap harimu menjadi berharga. Tetap ikuti diet sehat yang sudah kau lakukan karena kau mengatakan kalau kau menolak untuk mengkonsumsi obat, aku mendoakan yang terbaik untukmu."
Bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman tipis, aku mengangguk kecil. "Baiklah, terima kasih atas waktu anda. Kami permisi." Aku meraih lengan Namjoon dan menariknya agar berdiri, untungnya Namjoon menuruti gerakan lembut dariku karena aku sangat yakin dengan tenagaku aku jelas tidak akan bisa 'benar-benar' menariknya.
Kami berjalan menyusuri koridor rumah sakit dalam diam. Namjoon terlihat sangat kalut sedangkan aku hanya bisa diam dan berjalan di sebelahnya. Aku sudah tahu akan hal ini, aku sudah tahu kalau penyakit yang kuderita memang sudah parah dan aku sendiri sudah siap menerima kematianku.
Tapi.. bagaimana dengan Namjoon?
Namjoon hidup abadi, dia tidak akan mati sampai kapanpun sementara aku bisa mati kapan saja. Aku merasa bahwa Tuhan benar-benar mempermainkan kami. Entah bagaimana takdir kami sebenarnya, tapi aku merasa sedikit tidak adil saat Tuhan memberikan kami waktu yang sangat sedikit untuk bersama.
Tanpa sadar kami sudah tiba di halaman parkir dan sudah berada tepat di depan mobil Namjoon. Mataku melirik Namjoon yang masih terdiam kaku dengan ekspresi yang tidak bisa kuartikan.
"Namjoon.." panggilku pelan.
"Kenapa ini harus terjadi padamu?" Namjoon memutar tubuhnya menjadi menghadapku, "Kenapa harus kau yang mengalami ini?"
Aku mengangkat bahuku pelan, "Aku tidak tahu, mungkin memang ini takdirku."
Namjoon melangkah maju dan menangkup pipiku, "Tapi ini tidak adil, Seokjin. Ini tidak adil untukmu. Kenapa harus kau yang memiliki waktu hidup sangat sebentar? Kenapa?"
Tangan Namjoon terasa seperti bongkahan es yang menangkup pipiku, tapi aku sama sekali tidak menyingkirkan tangannya. Mataku perlahan terpejam saat Namjoon menempelkan dahi kami.
"Kenapa harus dirimu yang mengalami ini?" gumam Namjoon parau.
Mataku panas saat mendengar betapa rapuhnya Namjoon dari nada suaranya. Ya, kenapa harus aku? Apa yang sudah kuperbuat di masa lalu sampai harus mengalami ini?
Aku terisak pelan dan memegang tangan Namjoon yang menangkup pipiku. "Maafkan aku.."
"Tidak, sayang. Jangan minta maaf, kau tidak bersalah."
Mataku terbuka dan menatap mata Namjoon yang berwarna keemasan, "Maafkan aku, karena waktu hidupku sangat sebentar. Aku.. aku tidak ingin meninggalkanmu."
Tangisanku semakin keras dan akhirnya Namjoon memutuskan untuk memelukku dengan erat.
"Tidak apa-apa, sayang. Aku.. akan membuatmu merasakan semua pengalaman yang tidak akan pernah bisa kau lupakan. Aku akan membuatmu bahagia. Selamanya."
.
.
.
.
.
.
.
"Hey, Babe."
Aku terlonjak pelan saat mendengar suara berat Namjoon dan aku melihatnya sedang duduk di ambang jendela kamarku. Aku menghempaskan buku yang sedang kubaca ke sebelahku, "Astaga, tidak bisakah kau datang dengan normal? Kau mengagetkanku."
Namjoon tertawa pelan dan melompat turun dari ambang jendela, dia melepas sepatunya dan menendangnya ke sudut kamar kemudian duduk di sebelahku.
Aku tersenyum lebar kemudian merapatkan diri padanya, sementara Namjoon menaikkan suhu penghangat ruangan di kamarku kemudian merapikan selimutku agar kulitku tidak terlalu menempel pada tubuhnya yang dingin.
"Kau sedang apa?" tanya Namjoon pelan seraya mencium rambutku.
"Aku sedang membaca." Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, "Aku.. sudah memutuskan untuk berhenti kuliah. Besok aku akan mengurus administrasinya."
Namjoon tersenyum dan mengelus tanganku yang terbalut gips, tangan kananku memang masih harus digips sampai pulih total, tapi saat ini aku sudah bisa menggunakan tangan kiriku jadi setidaknya aku sudah bisa beraktivitas kembali.
"Mau aku temani?"
Kepalaku mendongak dan menatapnya, "Kau tidak ada kelas?"
"Oh, sayangku, aku sudah lulus universitas puluhan kali. Aku tidak butuh menghadiri kelas lagi."
Aku mendengus pelan, "Jangan pamer."
Namjoon tertawa ringan, "Maaf, maaf. Tapi itu benar, kapan-kapan akan aku tunjukkan koleksi topi kelulusanku."
"Kau mengoleksi itu?"
"Yap, ada di kamarku." Namjoon menunduk dan menempelkan dahi kami, "Kapan-kapan akan aku tunjukkan padamu."
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Mata Namjoon terbuka dan aku bisa melihat matanya yang berwarna agak gelap, "Kau haus?"
Namjoon menggeleng, "Sedikit, bisa kutahan."
"Mau coba meminum darahku?"
"Tidak, aku tidak akan meminum darahmu. Kalau aku mencobanya, aku pasti tidak akan bisa berhenti sampai tetes terakhir darahmu habis kuteguk."
"Apa darahku seenak itu?"
Namjoon mengangguk, "Ya, bau darahmu sangat enak."
"Seperti apa baunya?"
Namjoon mengerutkan dahinya dan mencoba berpikir, "Hmm, aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi mungkin bagimu itu akan tercium seperti makanan kesukaanmu disaat kau dalam kondisi benar-benar kelaparan."
Aku membulatkan mataku, "Wow. Apa semua vampire tertarik pada darahku?"
Namjoon tertawa kecil kemudian dia mengulurkan jemarinya dan memainkan rambutku, "Ya, bahkan Jimin pernah dihajar Yoongi karena mengatakan kalau kau sangat harum dan menggoda."
Aku tertawa kecil, "Jimin dan Yoongi itu.. berhubungan, kan?"
"Yap, mereka itu sangat mesra walaupun sekilas mereka terlihat seperti pasangan yang benar-benar aneh. Jimin itu dulunya adalah prajurit sementara Yoongi adalah bangsawan. Ethan menyelamatkan Jimin saat dia sekarat di medan perang sementara Jimin menyelamatkan Yoongi yang nyaris mati karena dilecehkan oleh pria hidung belang."
"Astaga.." ujarku kaget saat mendengar ucapan Namjoon soal Yoongi.
"Di hari pertama Yoongi sadar dia vampire, dia menghilang selama dua bulan dan kembali dalam keadaan berlumuran darah ke rumah kami. Dia bilang dia mencari dan menghabisi seluruh pria yang melecehkannya malam itu."
Aku terpekik kaget dan menutup mulutku dengan kedua tangan. "Mengerikan sekali."
"Ya, itu juga yang ada di pikiran kami semua saat itu. Tapi Jimin tidak berpikiran seperti itu, dia justru memeluk Yoongi yang berlumuran darah dan mengatakan kalau dia akan membantunya membersihkan diri. Yoongi tidak pernah akrab dengan kami selama enam bulan pertamanya tinggal dengan kami, Jimin lah yang selalu mengikuti dan menjaga Yoongi sementara Yoongi hanya diam dan tidak pernah memperhatikan Jimin." Namjoon menunduk untuk mencium rambutku, "Lalu, sekitar tiga dekade kemudian, Jimin mengatakan pada kami kalau dia akan menikah dengan Yoongi."
Aku membulatkan mataku, "Jimin menghabiskan waktu 30 tahun untuk mendekati Yoongi? Wow."
Namjoon tertawa, "Yoongi dan Jimin tidak langsung menikah saat itu. Yoongi menolak Jimin dan membuat Jimin harus berjuang keras mendekatinya selama 20 tahun berikutnya hingga akhirnya Yoongi mau menerima lamaran Jimin."
"Jimin membuang 50 tahun waktu kehidupannya hanya untuk mengejar Yoongi? Well, kalau itu bukan cinta, aku tidak akan tahu apa namanya." Aku berdecak pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalaku.
Namjoon tertawa keras, "Yah, waktu itu aku dan Taehyung juga menyebut Jimin masokis karena mau terus mengejar Yoongi yang termasuk dalam golongan vampire wanita paling dingin."
"Lalu, bagaimana dengan Taehyung?"
Namjoon mengelus-elus kepalaku pelan dan meneruskan ceritanya, "Taehyung masuk ke rumah kami setelah Jimin. Hari itu Vivian sedang pergi ke desa untuk berjalan-jalan ketika dia menemukan Taehyung di sudut gang yang kotor dalam keadaan sekarat karena kelaparan."
Namjoon tersenyum menenangkan saat aku memekik kaget. "Ethan mencoba menyelamatkan nyawa Taehyung dengan mengobatinya dengan obat-obatan, tapi sayangnya kondisi Taehyung sudah begitu kritis hingga akhirnya Vivian terpaksa menggigitnya. Vivian sangat menyayangi Taehyung, diantara kami semua, hanya Taehyung yang benar-benar dimanjakan. Aku tidak tahu kenapa Taehyung nyaris mati di gang saat itu, Taehyung menolak untuk menceritakannya pada kami."
Aku mengangguk paham kemudian mendongak menatap Namjoon, "Lalu, bagaimana denganmu?"
"Aku? Aku tidak tahu apa yang menyebabkanku menjadi vampire, yang aku ingat, aku terbangun di suatu hari dalam keadaan berbeda seperti ini dan aku menjalani hidupku sebagai vampire sejak saat itu. Tapi aku sangat bersyukur Ethan dan Vivian menemukanku dan membawaku masuk ke dalam keluarga mereka."
"Kenapa?"
"Karena dulu.. entah sudah berapa kali aku menghabisi satu desa saat mengamuk. Ethan menghentikanku saat aku sedang mengamuk di sebuah desa, dia berhasil menyelamatkan 1% terakhir dari penduduk desa itu karena sisanya sudah kuhabisi." Namjoon menundukkan kepalanya dan menolak untuk menatapku.
"Aku ini monster, Seokjin. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak pernah bisa mengontrol diriku sendiri saat emosi. Aku bisa membunuh semua orang di dalam satu kota dalam semalam saat marah." suara Namjoon terdengar begitu lirih dan sedih. Aku bisa merasakan bahwa kenyataan itu membuatnya hancur.
Jemariku terulur dan menyentuh rahang bawah Namjoon, "Bagiku, kau bukan monster. Bagiku, kau adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menemaniku di sisa waktuku ini."
Namjoon terperangah menatapku sementara aku tersenyum lebar seraya menatapnya. Dan perlahan Namjoon mendekatkan wajahnya ke arahku dan aku tidak bisa melakukan apapun selain terdiam kaku dengan senyum yang perlahan-lahan hilang dari bibirku dan berganti dengan bibirku yang terbuka secara refleks saat bibir Namjoon semakin dekat dan dekat hingga akhirnya bibir tebal yang dingin itu bergerak mengapit bibirku.
Aku terkesiap pelan saat bibir Namjoon akhirnya menempel di bibirku. Bibirnya terasa dingin, keras, namun entah kenapa bagiku gerakan bibir Namjoon terasa lembut untukku. Aku membuka bibirku dan memberikan akses lebih untuk Namjoon sementara jemariku bergerak ke rambutnya dan meremasnya kuat.
Lidah Namjoon yang dingin menyeruak masuk ke dalam mulutku dan aku meleleh karena sensasinya, aku mengerang pelan dan Namjoon langsung menarik diri dariku.
Aku terengah-engah saat akhirnya Namjoon benar-benar menjauh dariku. Namjoon tertawa kecil dan mengelus bibir bawahku, "Aku tidak boleh lepas kendali, aku bisa melukaimu."
Mataku terbuka perlahan dan saat aku menatap matanya, aku bisa melihat pancaran lembut dan tatapan penuh cinta yang dilayangkan Namjoon padaku. Matanya hanya terpusat padaku dan aku benar-benar merasa dicintai hanya dengan melihat matanya.
"Aku mau mengganti pakaianku dulu, aku belum memakai piyama."
Namjoon tersenyum dan mengelus pipiku, "Silakan, sayangku."
Aku bergerak bangun dan meraih piyamaku, "Namjoon."
"Ya?"
"Kau akan menginap, kan?"
"Tentu, sayang."
Aku tersenyum lebar dan berjalan keluar untuk berganti baju di kamar mandi yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidurku.
.
.
.
.
.
Setelah Seokjin keluar dari kamarnya, Namjoon menatap sekeliling kamar Seokjin yang didominasi dengan interior berwarna pink. Namjoon bergerak bangun dan matanya tidak sengaja tertuju pada sebuah buku catatan kecil yang tergeletak di meja belajar Seokjin.
Namjoon menggerakkan tangannya untuk mengambil buku itu dan membukanya, saat membaca tulisan tangan Seokjin yang menghiasi tiap lembarnya, Namjoon langsung menyadari kalau itu adalah buku harian Seokjin.
Buku harian itu penuh dengan cerita keseharian Seokjin yang ditulis dengan detail. Kadang ada beberapa bagian yang dihiasi dengan gambar-gambar emoticon lucu buatan Seokjin dan juga sticker-sticker kecil yang mengkilap.
Namjoon tersenyum saat melihat hiasan kecil itu, dia seolah bisa merasakan betapa riangnya perasaan Seokjin saat menulis kejadian yang terjadi di hari itu. Namun senyuman itu menghilang seketika saat dia melihat sebuah halaman yang terlihat kusam dibandingkan halaman lainnya.
Tulisan tangan Seokjin terlihat berantakan dan kertas buku hariannya agak lusuh karena basah. Dan saat Namjoon membaca tulisan Seokjin, Namjoon menyadari kalau halaman itu ditulis di hari Seokjin didiagnosa menderita emfisema.
Halaman-halaman berikutnya tidak jauh berbeda dengan halaman itu. Seokjin tidak lagi memenuhi buku hariannya dengan gambar emoticon ataupun sticker mungil. Halaman buku hariannya terlihat suram dan seolah tanpa nyawa.
Gerakan Namjoon membalik lembar halaman buku harian terhenti saat dia melihat tulisan tangan Seokjin yang menarik perhatiannya.
Things that Kim Seokjin wanted to do before she died:
Touch the sky.
Ice skating in a super large place.
Camping?
Lay down in a flower field.
Getting married, like Mom and Dad. I'll be wearing a wedding veil with a flower tiara on top of it. Smiling so brightly and walk down the aisle with some petals pouring on me.
Died peacefully. I just want to lay down in my bed and slowly close my eyes.
Namjoon terdiam saat menatap serangkaian tulisan itu. Kemudian dia menutup kembali buku harian Seokjin dan meletakkannya di tempat semula.
.
.
.
.
.
.
.
Aku tidak bisa berhenti tersenyum sejak Namjoon menciumku. Itu bukan ciuman pertamaku, tapi itu adalah ciuman paling hebat yang pernah kurasakan seumur hidupku. Namjoon sangat hebat, dia benar-benar tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita.
Mataku terfokus pada pantulan diriku di cermin dan aku tersenyum lagi, kemudian perlahan aku bergerak menggigit bibirku. Aku merasa sangat senang, terlampau senang hingga rasanya aku akan melayang.
Aku terkikik pelan dan mengancingkan kancing terakhir piyamaku kemudian bersiap untuk keluar, namun ketika aku berbalik dan hendak meraih handle pintu, aku merasakan sentakan rasa sakit di dadaku.
"Ukh.." rintihku pelan seraya mencengkram dadaku yang sakit. Rasanya begitu sakit seolah-olah paru-paruku mengkerut di dalam tubuhku.
Aku terengah-engah dan berusaha mengatur napasku karena aku benar-benar tidak bisa bernapas. Lututku melemas dan aku jatuh berlutut tepat di depan pintu kamar mandi, aku mencoba berteriak memanggil Namjoon namun suaraku tidak mampu keluar.
Rasa sakit di paru-paruku semakin hebat dan pandanganku mulai mengabur. Aku memejamkan mataku untuk menahan rasa sakit namun aku kalah dengan seluruh rasa sesak itu. Kesadaranku semakin memudar hingga akhirnya aku tidak ingat apapun lagi selain suara keras saat tubuhku jatuh membentur lantai kamar mandi.
'Namjoon..'
To Be Continued
.
.
.
.
.
Banyak yang bilang kalau adegan terakhir di chapter kemarin itu romantis sekali. Dan jujur saja, aku juga merasa begitu. Huhuhu..
Kenapa Namjoon begitu romantis? Aku mau punya pacar seperti Namjoon. Huhuhu /slapped/
.
.
.
Oke, ehem! Sebelum semakin melantur, aku tidak akan banyak berbicara lagi. Hahaha
Semoga suka dengan chapter ini dan persiapkan diri kalian untuk berbagai macam momen-momen romantis dari Namjoon yang dijamin akan membuat 'baper'. (tenang yang 'baper' bukan hanya kalian, saya pasti ikut 'baper' juga kok. Hahaha)
Oh, dan terima kasih untuk pengertian kalian soal update yang tidak menentu ini. huhuhu
Okay, see you in the next chapter! /hug/
.
.
.
.
Review? ^^
.
.
.
Thanks
