The Cold One

Pair :

Kim Namjoon x Kim Seokjin

Slight:

Jeon Jungkook

Jung Hoseok

Park Jimin x Min Yoongi

Kim Taehyung

Rate: T

Genre: Fantasy, Romance.

Length: Parts

Summary:

"I can kill you with my bare hands." –Kim Namjoon. / "It's okay, I'm already dying anyway." –Kim Seokjin. / NamJin with GS!Seokjin, VampFic, AU.

Warning:

Fiction, GS for Seokjin, Jungkook and Yoongi. Inspired by Twilight.

Notes:

All Seokjin's POV

.

.

.

.

The Cold One (Part. 6)

Saat aku membuka mataku, hal pertama yang kulihat adalah langit-langit yang terbuat dari kayu, aku menghembuskan napas dan saat merasakan udara yang seolah berkumpul di depan hidung dan mulutku, aku langsung menyadari kalau saat ini aku sedang memakai masker oksigen.

Oh ya, penyakitku kambuh lagi untuk kesekian kalinya.

Tapi dimana ini? Rumah sakit jelas tidak terlihat seperti ini.

"Seokjin, kau sudah sadar?"

Suara seseorang membuatku melirik ke arah asal suara dan aku melihat Ethan berjalan masuk, dia duduk di sebelahku dan meraih sebelah lenganku, memeriksa denyut nadinya.

"Sudah normal, kau hanya perlu beristirahat dan menghirup udara dari tabung oksigen." Ethan tersenyum lembut padaku yang hanya bisa berekspresi datar.

Aku sudah bosan mengalami ini terus-menerus, kapan aku akan terbebas dari penderitaan ini?

"Dimana Namjoon?" gumamku yang terdengar kurang jelas karena masker oksigen di mulut dan hidungku.

"Namjoon sedang pergi berburu, kurasa dia akan kembali sebentar lagi karena mendengar suaramu."

Tepat setelah Ethan mengatakan itu, aku mendengar hentakan langkah seseorang saat mendarat dari arah kiriku. Kepalaku menoleh dan aku melihat Namjoon tengah berdiri di balkon ruangan tempatku berada dan dia langsung melesat dengan sangat cepat ke arahku.

"Princess, kau sudah merasa lebih baik?" tanya Namjoon seraya membungkuk dan menatapku.

Aku mencoba tersenyum walaupun rasanya sulit sekali, aku tidak merasa lebih baik, bahkan kurasa aku tidak akan merasa lebih baik. "Aku baik-baik saja, ini hal biasa."

Namjoon menghela napas pelan dan mengecup dahiku, "Ya, kau kuat. Kau akan baik-baik saja."

Aku tersenyum kecil, "Aku tahu."

Ethan tersenyum melihat interaksi diantaraku dan Namjoon, "Karena hari sudah pagi, kusarankan kau beristirahat dulu di sini untuk hari ini, Seokjin. Namjoon akan menemanimu karena aku harus ke kota untuk bekerja."

"Tapi aku ingin mengurus administrasi ke universitas.." gumamku tidak setuju.

Ethan menggeleng, "Besok saja, hari ini kau harus istirahat total."

Aku menatap Namjoon dan mencoba meminta bantuannya tapi Namjoon juga ikut menggeleng, "Kau harus istirahat hari ini, Babe."

.

.

.

.

.

.

.

Sisa hari itu kulewati dengan bermalas-malasan, Namjoon melarangku untuk bangun dari tempat tidurku. Dia memintaku untuk berbaring sepanjang waktu dan aku hanya diperbolehkan turun dari tempat tidur apabila aku ingin ke toilet.

Dan aku baru sadar kalau ruangan yang sedang kutempati sekarang adalah kamar Namjoon, Namjoon mengatakan itu padaku saat aku bertanya kamar siapa yang kutempati. Namjoon bilang dia mendengar suaraku saat terjatuh di kamar mandi dan dia langsung melesat membawaku ke rumahnya untuk diperiksa oleh Ethan.

Melihat dari cara Namjoon bercerita, aku menduga bahwa saat itu kondisiku cukup buruk. Karena Namjoon sendiri yang mengatakan kalau dia pergi berburu semalaman penuh untuk meredam emosinya. Karena itulah aku yakin kondisiku cukup buruk sehingga membuat Namjoon gamang seperti itu.

Yah, bagiku masalah kambuh ini sudah biasa, tapi bagi Namjoon, ini jelas sesuatu hal yang baru. Berbeda denganku yang sudah siap mati kapan saja, aku yakin Namjoon benar-benar tidak rela melepasku pergi begitu saja.

Mataku menatap Namjoon yang sedang berbaring di sebelahku sambil memainkan rambutku. "Namjoon,"

"Ya, sayang?"

Tanganku terulur dan menyentuh dadanya yang hanya terbalut kemeja tipis, berbeda denganku yang berbaring dengan balutan sweater tebal, celana kain tebal, dan juga dibungkus selimut tebal. "Apa kau menyesal karena mencintaiku?"

Namjoon menggeleng tegas, dia menunduk untuk mengecupku pelan, "Tidak ada yang aku sesali jika itu menyangkut dirimu. Di sekian ratus tahun kehidupanku, baru kali ini aku merasa hidup kembali. Dan itu terjadi karena aku bertemu denganmu. Aku tidak pernah menyesal, Seokjinnie. Kau adalah hal terbaik yang pernah ada dalam hidupku yang membeku ini."

Aku tersenyum lebar, "Apa semua vampire seromantis ini?"

Namjoon tertawa, "Aku lahir di masa yang berbeda denganmu, sayangku."

Aku menggeliat pelan dan merapat pada tubuh Namjoon yang keras, "Tidak apa, aku suka gaya 'old school' semacam ini. Rasanya seperti menjadi tokoh utama romansa klasik abad pertengahan."

Namjoon tersenyum dan mengecup kepalaku, "Kau akan menjadi bangsawan paling cantik dan aku hanyalah seorang pemuda biasa yang mengagumimu."

"Bukankah seharusnya kebalikannya?"

"Tidak, kau terlalu berharga dan cantik untuk menjadi gadis biasa di kota. Kau akan menjadi wanita paling cantik dan diidamkan di seluruh kota."

Aku tersenyum lebar, "Hmm, kau benar-benar hebat dalam urusan merayu wanita. Apa kau biasa merayu?"

"Kau adalah orang pertama yang kucintai dengan seluruh hidupku, dan bagiku, sekarang ataupun selamanya, kau tetap tidak akan tergantikan oleh siapapun." Namjoon memejamkan matanya dan menyatukan dahi kami, aku memperhatikan wajahnya dan agak bingung saat Namjoon mengerutkan dahi.

"Kim Taehyung.." desisnya.

"Kenapa?" tanyaku bingung.

Tok Tok Tok

Namjoon terdengar menggeram marah kemudian dia berdiri dan membuka pintu kamar, dan aku melihat Taehyung sedang berdiri bersama.. Jungkook?

"Seokjin! Astaga kau membuatku panik setengah mati saat aku mengunjungi rumahmu dan kau tidak ada di sana!" seru Jungkook seraya berlari menghampiriku dengan wajah khawatir.

Aku tersenyum padanya, "Aku baik-baik saja, hanya penyakitku yang kambuh lagi, makanya Namjoon membawaku untuk tinggal sebentar di rumahnya."

Jungkook berdecak dan duduk di tempat tidurku, "Tapi setidaknya kau harus mengabariku! Apa kau tidak tahu apa fungsi ponsel, huh?"

Di belakang Jungkook, Taehyung tengah terkekeh pelan sementara Namjoon menghela napas pelan.

"Maafkan aku, Jungkookie."

Jungkook mendengus keras, "Hah, ya sudah." Jungkook menoleh ke arah Taehyung, "Terima kasih sudah mau mengantarku ke sini."

"Kau pergi dengan Taehyung?" tanyaku.

Jungkook mengangguk, "Tadi saat aku sibuk mengetuk-etuk pintu rumahmu, Taehyung datang dan mengatakan kalau kau ada di rumahnya. Lalu dia menawarkan diri untuk mengantarku ke sini." Jungkook menggigit bibir bawahnya, "Dengan motornya."

Aku menatap wajah merona dan malu-malu Jungkook dengan pandangan penuh selidik kemudian aku menatap Taehyung yang sedang tersenyum-senyum puas, "Apa.. terjadi sesuatu?"

Jungkook memekik saat pertanyaan itu terlontar dari mulutku, dia mendesis agar aku diam sementara Taehyung menggigit bibirnya untuk menahan tawa.

"Sebaiknya kutinggalkan kalian berdua di sini agar lebih leluasa." Namjoon berujar kemudian dia menarik Taehyung keluar dan menutup pintu kamar.

Aku menatap Jungkook dan membetulkan posisi masker oksigenku, untungnya Ethan sudah mengganti masker oksigenku yang sebelumnya menutupi mulut dan hidung menjadi berupa selang yang berada di hidungku, "Apa terjadi sesuatu?"

Jungkook menggeleng panik, "Tidak! Tidak terjadi apa-apa!"

"Benarkah? Tapi wajahmu yang merona parah itu mengatakan yang sebaliknya."

Jungkook memainkan jemarinya dengan imut, "Uuh, tadi aku hanya memeluk pinggang Taehyung karena dia takut aku terjatuh, kondisi jalan sedang licin karena es."

Aku menyipitkan mataku, "Kau suka Taehyung?"

"Seokjin! Jangan mengucapkannya segamblang ituuuu!" rengek Jungkook.

Aku tidak tahu harus bereaksi apa sekarang, entah ikut senang untuk Jungkook atau mengatakan yang sebenarnya soal Taehyung yang berbeda. Tapi saat aku melihat binar malu-malu dan wajah merona Jungkook yang terlihat lucu, aku tahu kalau sebaiknya aku membiarkan Taehyung dan Jungkook menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Kalau kau suka Taehyung, katakan saja padanya."

Jungkook merengut lucu, "Aku masih belum siap ditolak. Mana mungkin Taehyung menyukaiku."

Aku tersenyum, Jungkook memang tidak tahu kalau Taehyung pernah menyebutnya 'menarik'. "Kurasa tidak ada yang tidak mungkin."

Jungkook menggigit bibirnya ragu, "Tapi.. Taehyung tidak mungkin menyukaiku, kan? Dia sempurna sementara aku seperti ini."

"Memangnya kau seperti apa?"

"Aku.. ceroboh, aku juga tidak pintar." Jungkook menggembungkan pipinya, "Aku juga gemuk, lihat saja pipi ini." ujarnya seraya menusuk-nusuk pipinya yang memang agak gembul dengan jari telunjuk.

"Menurutku kau imut, seperti kelinci."

Jungkook menunduk, "Tapi kurasa Taehyung pasti menyukai gadis yang cantik dan anggun. Lagipula di universitas kita masih banyak yang lebih cantik dari aku dan mereka semua juga menyukai Taehyung."

Aku tersenyum kecil dan perlahan bergerak untuk duduk, "Sudah kubilang tidak ada yang tidak mungkin, aku dan Namjoon saja bisa bersama, kenapa kau dan Taehyung tidak?"

"Tapi kau jauh lebih cantik dari akuuuu!" rengek Jungkook lagi.

Aku tertawa saat lagi-lagi Jungkook merengek padaku. Astaga, ekspresinya lucu sekali.

.

.

.

.

.

Sementara itu, tanpa Seokjin dan Jungkook sadari, Taehyung dan Namjoon yang duduk satu lantai di bawah lantai mereka bisa mendengar percakapan itu dengan jelas.

Namjoon memandang Taehyung yang sedang meremas-remas jemarinya sendiri dengan wajah iritasi. "Kau menjijikkan."

"Astaga, Jeon Jungkook itu imut sekali." Taehyung berujar dengan nada gemas seraya meremas jemarinya sendiri.

"Kau terlihat seperti om-om pedofil." Namjoon melanjutkan masih dengan ekspresi yang sama.

"Ya ampun, dia gadis yang unik dan imut. Aku suka!" ujar Taehyung semangat.

"Ralat, kau memang om-om pedofil." Namjoon berujar kemudian berdecak pelan melihat Taehyung yang masih asik fanboy-ing karena mendengar percakapan diantara Seokjin dan Jungkook.

.

.

.

.

.

.

.

Tiga hari kemudian, aku sudah mulai beraktivitas seperti biasa hanya saja aku harus memakai selang oksigen untuk bernapas. Ethan bilang ini akan membantuku agar aku tidak kambuh lagi, tapi sebenarnya aku tidak suka ide selang oksigen ini.

Karena bagiku ini merepotkan, sekarang aku harus membawa-bawa tabung oksigen ukuran medium yang diletakkan di trolley kemanapun aku pergi. Aku tidak suka, aku terlihat seperti wanita jompo karena membawa-bawa selang oksigen terus-menerus.

Berkas pernyataan kalau aku keluar dari universitas sudah selesai diurus dan Paman Hoseok jelas kecewa dengan keputusanku. Tapi dia tidak memaksaku untuk kuliah, sebaliknya dia justru mengatakan agar aku kembali ke Seoul dan tinggal bersamanya.

Tapi sarannya itu kutolak dengan mengatakan bahwa aku ingin menghabiskan hari-hari terakhirku di desa ini. Paman Hoseok terdengar sedih saat dia mengatakan kalau dia menyayangiku sampai kapapnpun, dan dia juga sangat menyesal karena kesibukannya membuatnya tidak bisa berada di sini untuk menemaniku.

Tapi aku tidak keberatan, aku menyayangi Paman Hoseok dan aku ingin dia hidup dengan baik. Aku tidak akan membiarkan Paman Hoseok membuang waktunya untuk bekerja demi aku. Atas dasar itulah aku mengatakan pada Paman Hoseok kalau aku baik-baik saja di sini.

Sayangnya, aku belum menemukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah hubunganku dan Namjoon pada Paman Hoseok. Yah karena saat ini Paman Hoseok adalah waliku, sudah seharusnya aku mengatakan kalau aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang, kan? Namjoon sendiri ingin bertemu dengan Paman Hoseok tapi sayangnya aku belum menemukan waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka.

Lalu sejak aku tinggal di rumah Namjoon, Jungkook datang mengunjungiku setiap hari dengan dalih mengunjungiku padahal sebenarnya aku yakin Jungkook hanya ingin datang ke sini bersama Taehyung.

Aku tidak yakin bagaimana perasaan Taehyung pada Jungkook, tapi kalau melihat dari reaksi Taehyung yang terus menggigit bibirnya gemas dan tersenyum lebar saat berada di sekitar Jungkook, kuasumsikan kalau Taehyung juga menyukai Jungkook.

Haah, melihat mereka berdua membuatku gemas. Karena Jungkook akan bereaksi malu-malu saat berada di sekitar Taehyung sementara Taehyung terlihat seperti kalau dia akan menelan Jungkook bulat-bulat. Mungkin kendala yang menghalangi hubungan mereka hanya Taehyung yang belum mengatakan soal jati dirinya yang sebenarnya pada Jungkook.

Aku juga tidak yakin soal reaksi Jungkook kalau dia tahu pria yang disukainya adalah vampire. Tapi melihat dari betapa polosnya Jungkook, kurasa gadis itu akan pingsan.

Aku melangkah menghampiri balkon kamar Namjoon seraya menyeret tabung oksigenku dan saat aku membuka pintu dan melihat ke bawah, aku melihat Jimin dan Yoongi sedang duduk bersama di bawah pohon. Jimin duduk di belakang Yoongi dan memeluknya dengan buku di kedua tangannya sementara Yoongi duduk di antara kedua kaki Jimin dengan tangan yang memeluk lengan Jimin yang melingkari tubuhnya.

Tiga hari tinggal bersama Namjoon, aku baru menyadari kalau Jimin dan Yoongi itu mesra sekali. Bahkan mereka terlihat jauh lebih mesra dari Ethan dan Vivian. Melihat mereka berdua benar-benar membuatku merasa iri. Walaupun Namjoon juga romantis, tapi menurutku tidak ada yang lebih romantis dari cara Jimin menatap Yoongi. Dia benar-benar memuja Yoongi di segala sudut, tidak heran Jimin tidak keberatan sama sekali untuk mengejar Yoongi selama 50 tahun.

"Sayang, kau sedang apa? Di sini dingin."

Suara Namjoon menyadarkanku dari kegiatanku memperhatikan Jimin dan Yoongi. Kemudian aku merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyelubungi tubuhku dan ternyata itu adalah ulah Namjoon yang memberikan mantel tebal padaku untuk menutupi tubuhku agar tidak kedinginan.

"Kau sedang melihat Jimin dan Yoongi?"

"Ya, mereka sedang apa?"

"Jimin sedang membacakan buku untuk Yoongi. Yoongi itu pemalas, jadi biasanya jika dia membeli sebuah buku baru, dia akan meminta Jimin membacakannya untuknya dengan posisi seperti itu. Aku ingat dulu Jimin pernah menghabiskan satu minggu penuh untuk membacakan empat novel sekaligus yang dibeli Yoongi."

"Dan Jimin sama sekali tidak keberatan melakukan itu?"

Namjoon terkekeh pelan, "Jimin itu aneh, apapun yang diminta oleh Yoongi, pasti akan dituruti olehnya. Dulu Jimin juga pernah pergi menyelam selama tiga hari penuh untuk mencari mutiara karena Yoongi bilang dia ingin kalung dengan mutiara asli."

"Astaga, benarkah?" ujarku kaget.

"Ya, dan Yoongi benar-benar menyayangi kalung itu. Dia tidak mengizinkan siapapun di rumah ini kecuali Jimin untuk menyentuh kalung berharganya."

Aku berdecak kagum, "Jimin benar-benar cinta mati pada Yoongi ya?"

Namjoon tertawa keras, "Ya, dan aku benar-benar bingung apa yang membuat Jimin begitu mencintai wanita galak seperti Yoongi."

"HEI KIM NAMJOON!"

Suara melengking dari Yoongi mengagetkanku, aku menunduk dan melihat kalau Yoongi sedang menatap kami di balkon, dia menatap Namjoon dengan dingin kemudian mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kudengar karena dia tidak lagi berteriak seperti saat dia memanggil Namjoon.

Namjoon tertawa pelan dan menarik lenganku untuk kembali ke dalam kamar.

"Eh? Kenapa? Yoongi bilang apa?"

"Dia bilang, 'Pergi sana dasar vampire sialan! Jangan mengganggu waktuku dan Jiminnie!'."

"Jiminnie?" ujarku tidak percaya karena aku benar-benar tidak menyangka Yoongi akan memanggil Jimin dengan panggilan semanis itu.

"Oh ya, itu panggilan yang biasanya. Pet-name dari Yoongi untuk Jimin itu 'ChimChim'." Namjoon tertawa keras, "Kurasa sebaiknya aku diam atau Yoongi akan benar-benar menghajarku."

Aku ikut tertawa saat Namjoon tertawa begitu lepas. Yah, saat ini, melihat Namjoon tertawa lepas benar-benar membuatku bahagia.

.

.

.

.

.

.

.

Sepuluh hari kemudian, aku tidak mengalami kemajuan apapun. Sebaliknya kondisiku justru semakin buruk, aku tetap saja sering kambuh walaupun sudah memakai selang oksigen kemanapun aku pergi. Tubuhku semakin lemah dan berat badanku menurun walaupun Vivian sudah memasak makanan sehat untukku.

Selama sepuluh hari ini, aku menyadari kalau waktuku hidup semakin dan semakin tipis. Ethan sudah mencoba berbagai cara untuk menghambat penyakitku menggerogoti nyawaku tapi dia tidak berhasil. Paru-paruku sudah semakin hancur dan yang bisa aku lakukan hanyalah menunggu, menunggu sampai akhirnya waktuku habis.

Dan selama sepuluh hari ini, entah kenapa Namjoon sering pergi ke suatu tempat bersama Taehyung selama berjam-jam. Biasanya Namjoon akan pergi di siang atau sore hari saat Jungkook datang menjengukku dan kembali saat aku hampir tertidur di malam hari.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan olehnya karena dia sendiri tidak pernah memberitahuku. Aku hanya berharap Namjoon tidak melakukan sesuatu yang buruk di belakangku.

Aku bergerak masuk ke dalam selimutku dan mencoba untuk tidur, perlahan aku mengatur napasku karena Ethan bilang ini akan membantuku untuk cepat tidur. Posisi tidurku juga kubuat miring agar tidak membuatku sesak napas.

Dan disaat aku sudah nyaris terlelap, aku mendengar suara pintu balkon yang dibuka dan tak lama kemudian ada tangan yang mengusap kepalaku, "Seokjinnie.."

Aku mengenal suara berat itu, itu suara Namjoon. Aku membuka mataku dan aku melihat Namjoon tengah membungkuk dan menatapku, "Namjoon, ada apa?"

Namjoon tersenyum lembut padaku, "Bisa ikut aku sebentar?"

"Kemana?" tanyaku bingung.

Namjoon tersenyum jenaka, "Rahasia. Ayo, aku akan membantumu memakai pakaian tebal."

Dan akhirnya setelah 'membungkus' tubuhku dengan berlapis-lapis pakaian, Namjoon memintaku naik ke punggungnya karena dia bilang kami akan sampai lebih cepat apabila Namjoon menggendongku.

Aku menurut dan Namjoon membawaku melesat melewati hutan yang gelap gulita dengan sangat cepat. Aku tidak bisa merasakan apapun selain angin yang menampar wajahku karena Namjoon berlari dengan sangat cepat. Dan kemudian aku merasakan Namjoon melompat tinggi kemudian dia bergerak memanjat dengan sangat cepat.

Aku mencoba membuka mataku dan aku melihat kalau kami sedang memanjat menuju puncak sebuah pohon. Lalu Namjoon melakukan lompatan berikutnya dan kami mendarat di lantai kayu. Aku tertegun saat melihat apa yang terpampang di hadapanku.

Di depanku ada sebuah rumah pohon berukuran sedang yang berada di atas lantai kayu yang menyambungkan dua pohon besar. Jadi rumah pohon itu dibangun di atas lantai kayu yang menjembatani dua pohon besar, rumah pohon itu melayang karena di bawah lantai kayu itu tidak ada pohon penopangnya. Pohon penopangnya hanyalah dua pohon besar yang berada di sisi depan dan belakang rumah lantai kayu tersebut.

"Ini.. apa?"

"Ini rumah pohon. Beberapa hari ini aku sibuk membuat ini bersama Jimin dan Taehyung. Bagaimana? Kau suka?"

Aku bergerak turun dari punggung Namjoon dan berjalan dengan hati-hati menyusuri lantai kayu itu, walaupun di sisi pinggirnya sudah dilengkapi pagar, aku tetap merasa harus berhati-hati karena angin bertiup cukup keras di sini.

Aku menghampiri bagian depan rumah pohon yang dihiasi oleh beberapa lentera untuk penerangan kemudian jemariku terulur dan mengelus pintunya. "Apa aku boleh masuk?" tanyaku pada Namjoon.

"Tentu saja, sayang. Rumah pohon ini kubuat untukmu."

Aku terperangah mendengar ucapan Namjoon, dia.. membuatkan rumah pohon sebagus ini untukku?

Namjoon tersenyum kemudian menghampiriku dan menggenggam tanganku, "Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu." Namjoon membuka pintu rumah pohon itu dan kami melangkah masuk.

Bagian dalam rumah pohon itu tidak terlalu besar, di sisi kanan ada tumpukan tempat tidur lipat, kantung tidur, dan bantal-bantal, serta setumpuk selimut. Lalu ada beberapa kotak yang aku tidak tahu isinya, kemudian di sisi kiri ada sebuah jendela yang sangat besar dan jendela itu dalam keadaan terbuka, dan di depan jendela itu ada sebuah.. teleskop?

Aku menatap Namjoon dengan pandangan bertanya, "Teleskop?"

Namjoon tersenyum lebar dan membawaku mendekati teleskop itu, "Kau ingin menyentuh langit sebelum kau meninggalkan dunia ini, kan? Karena itu kubuatkan rumah pohon ini agar kau merasa semakin dekat dengan langit, dan juga teleskop, agar kau bisa melihat langit dengan jelas." Namjoon menatapku, "Aku memang tidak bisa membuatmu benar-benar menyentuh langit, tapi aku bisa membawamu sedekat mungkin dengan langit. Dan ini adalah caraku untuk membawamu mendekati langit."

Aku terperangah mendengar kata-kata Namjoon, dia benar-benar menganggap serius tulisanku di dalam diary yang kutulis karena saat itu aku merasa benar-benar putus asa. Dia menganggapnya serius dan dia mewujudkannya untukku. Aku terisak pelan dan langsung melompat memeluk Namjoon.

"Terima kasih, Namjoon. Oh Tuhan, terima kasih.." isakku seraya memeluknya erat-erat.

Namjoon mengusap punggungku dengan lembut, "Tidak apa, bukankah aku sudah berjanji untuk membahagiakanmu?"

Aku meregangkan pelukan kami dan menangkup wajahmu, "I'm extremely happy right now, thank you." Aku tersenyum menatapnya, "I love you."

Tangkupan tanganku di wajahnya mengerat seiring dengan jarak wajah kami yang semakin menipis, aku mencium Namjoon dengan penuh perasaan. Tuhan, aku benar-benar bersyukur Kau membuatku bertemu dengan Namjoon di kehidupan ini.

Namjoon tersenyum semakin lebar saat aku melepaskan ciuman kami, dia merogoh saku mantelnya dan menarik keluar sebuah kotak kecil. "Aku memang tidak bisa membuat suasana yang sangat romantis atau berperilaku seromantis Jimin. Tapi Kim Seokjin, aku bersumpah demi dunia dan seluruh alam semesta ini kalau aku akan mencintaimu dan membahagiakanmu selamanya." Namjoon berlutut di hadapanku kemudian membuka kotak di tangannya dan menatapku, "So Kim Seokjin, will you marry me?"

To Be Continued

.

.

.

.

.

Huaaa, aku mauuuuu punya pacar seperti Namjooooonnnn!

Huhuhu kenapa pria dengan sifat dan perilaku semacam Namjoon di ff ini hanya ada di dalam cerita? Huhuhu kenapaaaaa? T^T

Aduh aku baper, aku tak kuat dengan segala sikap manis Namjoon (padahal aku yang menulis, aku juga yang fangirling. Hahaha)

Oke, intinya aku masih dalam mode fangirling karena Namjoon di ff ini. Jadi, silakan penuhi kotak review dengan komentar kalian soal Namjoon.

Astaga, aku ingin sekali punya pacar seperti ituuuuu T^T

.

.

.

.

P.S:

Game Changer masih otw ya. Karena kelihatannya wordsnya akan lumayan banyak. Hahaha

Aku butuh waktu cukup lama untuk menulis itu. Hehehe ^^v

.

.

.

Review? (tidak apa, kalian juga boleh curhat kalau kalian baper juga kok. Hehehe)

.

.

.

.

Thanks