The Cold One
Pair :
Kim Namjoon x Kim Seokjin
Slight:
Jeon Jungkook
Jung Hoseok
Park Jimin x Min Yoongi
Kim Taehyung
Rate: T
Genre: Fantasy, Romance.
Length: Parts
Summary:
"I can kill you with my bare hands." –Kim Namjoon. / "It's okay, I'm already dying anyway." –Kim Seokjin. / NamJin with GS!Seokjin, VampFic, AU.
Warning:
Fiction, GS for Seokjin, Jungkook and Yoongi. Inspired by Twilight.
Notes:
All Seokjin's POV
.
.
.
.
The Cold One (Part. 7)
"Namjoon, apa kau serius?" tanyaku akhirnya setelah terdiam selama beberapa puluh detik.
Namjoon tersenyum dan mengangguk mantap, "Tentu saja aku serius. Aku tidak pernah lebih serius dari ini sebelumnya."
"Kau tidak akan menyesal?"
"Tentu saja tidak."
"Tapi aku akan mati sebentar lagi."
"Dan aku tidak akan bisa mati, apa bedanya kita berdua? Kita berdua sama-sama tidak memiliki kesempatan untuk hidup. Aku yang berada di sini pun bukan manusia, Seokjinnie. Aku tidak pernah mengingat kehidupanku saat menjadi manusia."
Aku tidak tahu kenapa tapi mataku memanas dan mulai berkaca-kaca, entah karena aku sedih mendengar Namjoon yang tidak pernah mengingat masa kehidupannya sebagai manusia atau karena kenyataan yang menamparku untuk kesekian kalinya kalau aku akan pergi meninggalkan dunia ini sebentar lagi.
"Bagaimana caramu untuk bertahan saat aku pergi?"
Namjoon menatap mataku dalam-dalam, "Seokjin, aku sudah membeku selama ratusan tahun. Aku tidak pernah merasakan denyutan kehidupan di dalam tubuhku dan kau tahu? Aku merasa hidup kembali saat aku melihatmu untuk pertama kalinya. Aku terpesona dan itu adalah pertama kalinya aku merasa dadaku menghangat setelah ratusan tahun membeku."
Aku menggeleng, "Tapi aku.."
"Sayang, kita memang tidak akan bisa meramal apa yang kiranya akan terjadi di masa depan. Tapi aku mencintaimu saat ini dan begitu pula seterusnya di masa depan, jadi bisakah kau menikmati cintaku ini?"
Aku terisak dan memeluk Namjoon erat-erat, "Aku.. mau."
"Ya?"
"Aku mau menikah denganmu, Namjoon."
Namjoon tersenyum lebar dan balas memeluk Seokjin, "Terima kasih." Namjoon menyurukkan kepalanya ke helaian rambut Seokjin dan terkekeh, "Taehyung akan menghajarku setelah ini."
Aku mengerutkan dahiku tidak mengerti dan meregangkan pelukan kami, "Kenapa?"
"Dulu, saat pernikahan Jimin dan Yoongi, aku dan Taehyung berjanji untuk tidak menikah lebih dulu satu sama lain. Aku dan dia mengatakan untuk menikah dalam rentang jarak yang tidak begitu jauh agar kami tidak kesepian."
"Kesepian?"
"Sayang, aku dan Taehyung masih lajang saat itu, dan statusku baru berubah beberapa minggu ini dan itu pun karenamu."
Aku tertawa keras dan memeluk leher Namjoon, "Kalau begitu, ayo pikirkan cara untuk mengatakan ini pada Taehyung."
Namjoon mencium rambutku dengan ceria, "Vivian akan membantu kita."
.
.
.
.
.
.
"APA?! KAU AKAN MENIKAH?!"
Namjoon berdecak saat mendengar suara teriakan keras Taehyung di pagi hari saat aku dan dia mengumumkan rencana pernikahan kami pada semuanya.
Yoongi membalik lembar halaman majalahnya dengan santai, "Kau baru saja membuat sekawanan burung mungil terbang ketakutan karena suaramu."
Jimin tertawa, "Jangan shock begitu dong. Namjoon kan sudah tidak sendiri lagi, wajar kan kalau dia akan menikah?"
Taehyung menghela napas pelan, "Tapi kenapa menikahnya tidak kapan-kapan saja? Jimin saja butuh 50 tahun untuk bisa menikah, kenapa kau juga tidak seperti itu?"
Namjoon memukul tengkuk Taehyung dengan keras, bahkan aku bisa mendengar bunyi deraknya. Kalau saja Taehyung manusia, lehernya pasti patah.
"Seokjinku tidak abadi seperti kita, bodoh!" bentak Namjoon.
Aku tertawa kecil dan menarik lengan Namjoon dari tengkuk Taehyung, "Lagipula kami tidak akan menikah besok, masih ada banyak hal yang harus dipersiapkan, kan?"
Namjoon menoleh dan menatapku, "Kenapa tidak secepatnya saja?"
Aku berdecak, "Hei, kita ini mau menikah. Dan pernikahan tidak bisa disiapkan dalam hitungan hari."
"Aku bisa menyiapkannya." Vivian berujar santai dengan senyum lebar di wajahnya, "Aku akan membuat pernikahan impianmu menjadi kenyataan. Aku jamin itu."
Aku menggeleng pasrah, aku tidak mengerti apa yang salah dari keluarga ini. "Namjoon harus bertemu dengan Paman Hoseok terlebih dahulu."
Namjoon menatapku dan menarik keluar sesuatu dari kantung celananya, "Kita akan pergi hari ini, penerbangan berikutnya."
Mataku membulat dan mulutku terbuka karena terkejut, "Kau sudah menyiapkan semuanya?"
Namjoon mengangguk polos, "Tentu saja."
.
.
.
.
.
.
Dan akhirnya setelah rencana mendadak dan penerbangan mendadak, di sinilah aku dan Namjoon berada, tepat di depan rumah Paman Hoseok. Aku melirik calon suamiku dan mendesah pasrah, aku tahu uang Namjoon itu jumlahnya tidak terhingga, tapi aku tidak menyangka dia akan seperti ini.
Paman Hoseok sangat terkejut saat aku mengatakan aku sudah di dalam perjalanan ke rumahnya, yah untung saja Paman Hoseok bersedia untuk menungguku di rumahnya.
"Apa menurutmu dia akan menerimaku dengan baik?"
Aku mengangkat bahu, "Entahlah, tapi kau sempurna. Kurasa dia tidak akan mengatakan apapun."
"Apa ada hal tertentu yang harus kuperhatikan saat bicara dengannya?"
Mataku menyipit dan memperhatikan Namjoon dengan seksama, "Kau.. gugup?"
Namjoon berdecak, "Jelas saja aku gugup, Sayang. Saat ini aku akan menemui walimu, dia yang nanti akan menggandeng tanganmu menuju altar, aku harus memberikan kesan yang baik atau mungkin dia tidak akan membiarkanmu menikah denganku."
Bibirku melengkung membentuk senyuman lebar dan senyuman itu berubah menjadi tawa, "Hei, kenapa gugup? Pamanku tidak akan menggigitmu," aku mendekatkan tubuhku padanya, "Justru sebaiknya kau berhati-hati agar tidak menggigitnya."
Namjoon memutar bola matanya bosan, "Aku sudah terbiasa dengan bau darah manusia sejak aku menjadi milikmu. Kalau aku bisa mengacuhkan bau darah terenak yang pernah ada, bau darah Pamanmu pasti bukan apa-apa."
Aku tertawa lagi namun tawaku terhenti saat pintu rumah pamanku terbuka dan ternyata yang menyambut kami adalah Paman Hoseok sendiri.
"Little Princess! Aku merindukanmu!" Paman Hoseok menerjangku dengan pelukan erat yang langsung kubalas dengan sama eratnya.
"Apa kabar, Paman?" tanyaku ceria.
"Aku menjadi sangat baik saat bertemu denganmu." Paman Hoseok tersenyum lebar padaku kemudian dia melirik Namjoon, "Jadi.. dia yang akan kau perkenalkan padaku?"
Aku mengangguk semangat, "Paman, ini Kim Namjoon, tunanganku."
Hoseok membulatkan matanya dan menatapku, "Tunangan?!" pekiknya keras.
Aku meringis, "Iya, Namjoon melamarku semalam."
"APA?!"
Aku melirik Namjoon dan aku bisa melihat kalau ekspresinya sekaku patung, bahkan aku tidak melihat gerakan untuk bernapas. Yah, aku tahu vampire tidak butuh bernapas, tapi Namjoon harus bernapas di depan pamanku.
"Namjoon, bernapas.." bisikku dengan sangat pelan, bahkan itu terdengar seperti aku bicara pada diriku sendiri.
Namjoon berdehem dan memulai gerakannya untuk bernapas yang benar-benar terlihat aneh. Aku menutup mulutku dengan sebelah tangan untuk menahan tawa yang sudah berada di ujung lidahku.
Hoseok berdehem, "Masuk dulu, kita bicarakan lagi."
.
.
.
.
"Kau serius ingin menikah dengan Seokjin?" tanya Hoseok saat dia dan Namjoon sedang duduk berdua di ruang tengah karena Seokjin sedang membuatkan cemilan untuk mereka.
Namjoon mengangguk tegas, "Ya, aku sudah melamarnya."
"Kau tahu soal penyakit Seokjin?"
Namjoon mengangguk lagi, "Aku tahu."
"Dan kau tidak mengurungkan niatmu untuk berhubungan dengannya?"
"Tidak."
"Kau tidak berniat mempermainkan Seokjin, kan?"
"Tidak, aku berani bersumpah padamu kalau aku tidak pernah berniat mempermainkan Seokjin dari sejak aku memutuskan untuk menjalin hubungan khusus dengannya."
"Tapi.. kenapa? Pemuda tampan sepertimu pasti bisa mendapatkan gadis manapun yang kau mau."
"Itu benar, tapi hanya Seokjin yang kuinginkan. Selama hidupku baru kali ini aku merasa begitu menginginkan seseorang dan itu adalah Seokjin. Aku tidak peduli jika ada selusin wanita yang mencoba merayuku, aku akan tetap melihat Seokjin di mataku."
"Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?"
Namjoon terdiam cukup lama, "Karena Seokjin membuatku merasa hidup. Pertemuan pertama kami hanya berupa tatapan mata selama beberapa detik, tapi ketika aku melihat matanya, aku langsung merasa kalau dia adalah seseorang yang ditakdirkan untukku. Aku jatuh cinta kepadanya karena hatiku memilihnya. Bahkan sebelum akal sehatku sempat berbicara, hatiku sudah berteriak kalau aku jatuh cinta pada Seokjin, hanya pada Seokjin."
Hoseok tersenyum, "Aku senang kau mau menerima Seokjin dengan setulus hatimu." Hoseok melirik Seokjin yang sibuk di dapur, "Jika Seokjin bahagia, maka aku juga tidak bisa berbuat apa-apa."
"Maksud.. anda?"
Hoseok menatap Namjoon, "Aku akan selalu menyetujui semua yang bisa membuat Seokjin bahagia, dia sudah kuanggap sebagai putriku sendiri. Dan jika kebahagiannya ada padamu, maka aku merestui pernikahan kalian."
Namjoon tersenyum lega, "Terima kasih."
"Hanya saja kau harus berjanji kalau akan menjaga dan mencintai Seokjin selamanya."
"Aku berjanji, demi seluruh hidupku selama ini, aku bersumpah aku akan mencintai Seokjin selamanya."
.
.
.
.
.
.
.
Aku berjalan keluar dari mobil Namjoon, kami sudah kembali dari kunjungan singkat kami ke rumah Paman Hoseok dan Paman Hoseok berjanji akan datang seminggu sebelum pernikahanku untuk mempersiapkan segalanya.
Namjoon melarangku bepergian terlalu lama karena dia mengkhawatirkan kondisiku dan aku tidak bisa berbuat banyak karena Paman Hoseok mendukung keputusan Namjoon. Yah, mereka berdua memang tidak jauh berbeda, keduanya sama-sama protektif padaku.
"Apa yang kau katakan pada Paman Hoseok sampai dia setuju memberi restunya secepat itu? Dia itu protektif sekali padaku tahu."
Namjoon tersenyum jenaka, "Oh, sayangku, kurasa kau sudah mengetahui kalau kaum kami memiliki pesona yang tidak bisa ditolak."
Aku menyipitkan mataku, "Apa yang kau katakan padanya?"
"Aku hanya menjelaskan seberapa besar aku mencintaimu dan dia langsung menyetujui pernikahan kita."
"Memangnya kau mencintaiku sebesar apa?"
Namjoon tersenyum kemudian mengecup dahiku, "Aku mencintaimu lebih dari apapun, tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkannya karena aku sendiri tidak tahu. Yang jelas, cintaku padamu membuatku merasa hidup kembali."
Wajahku merona parah saat mendengar kalimat Namjoon, aku mendorong tubuhnya menjauh dariku dan setengah berlari memasuki pintu depan. Aku membuka pintu dengan suara keras dan pemandangan di ruang tamu rumah Namjoon berhasil membuatku terpaku.
Aku melihat Jungkook, Jeon Jungkook, tengah duduk di permadani dan berhadapan dengan Taehyung, dan yang membuatku semakin shock adalah, jarak wajah mereka yang benar-benar dekat.
"Astaga!" pekikku refleks.
Aku melihat Jungkook tersentak dan segera melompat mundur dengan gerakan ceroboh yang membuat punggungnya membentur sofa.
"Aw!" pekik Jungkook kemudian dia meringis pelan.
Aku menatap Taehyung dengan tatapan penuh pertanyaan sementara Taehyung hanya memasang senyum polosnya kemudian bergerak untuk membantu Jungkook duduk di sofa seraya mengelus punggungnya.
"Aku hanya pergi selama tiga hari dan kalian sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat? Apa aku ketinggalan banyak hal?" tanyaku.
Jungkook menatapku dan aku bisa melihat binar panik dalam bola matanya, "Ti-tidak!" ujarnya gugup seraya mengibas-ngibaskan tangannya dengan gerakan imut. "Ta-tadi kami hanya.. hanya.."
"Hanya nyaris berciuman kalau saja kau tidak tiba-tiba datang dan memekik." Taehyung berujar santai seraya menjilat sudut bibirnya.
Aku menaikkan sebelah alisku saat mendengar kalimat frontal Taehyung, kemudian pandanganku bergulir pada Jungkook yang menunduk dalam dengan wajah sangat merah. Jika saja ini di anime, aku yakin kepala Jungkook berasap karena malu.
Namjoon tertawa dan merangkul bahuku, "Oh ayolah, sayang. Seharusnya tadi kau tidak memekik dan menghancurkan momen mereka."
Taehyung mendengus, "Seharusnya kau tahu dan menahan Seokjin di luar lebih lama, Namjoon."
Namjoon tertawa keras dan berjalan menuju tangga bersama tas berisi barang-barang kami. Sementara aku berjalan dan duduk di sebelah Jungkook yang masih menunduk dalam.
"Oke, kutinggalkan kalian berdua di sini." ujar Taehyung kemudian dia melangkah pergi setelah mengusap lembut kepala Jungkook.
Aku menatap Jungkook dengan tatapan penuh selidik, "Jadi? Ada yang ingin kau ceritakan padaku?"
Jungkook menatapku dan menggigit bibirnya ragu, "Tae-Taehyung bilang dia menyukaiku.."
"Kapan?"
Jungkook menggerak-gerakkan kedua kakinya dengan imut, "Kemarin.."
"Lalu? Kau bilang apa?"
"Aku belum mengatakan apapun, aku bingung.." Jungkook menatapku, "Menurutmu aku harus bagaimana?"
Aku mengangkat bahuku acuh, "Ya itu terserah padamu, ini kan hubungan kalian."
Jungkook mengerang kemudian pandangannya tidak sengaja tertuju pada jariku yang dilingkari oleh cincin pemberian Namjoon. "Cincin apa itu?"
Aku menunduk menatap cincinku, "Namjoon melamarku, kami akan menikah dalam waktu dekat."
Jungkook menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menjerit.
Namun jeritannya langsung terhenti saat kami mendengar bentakan Yoongi dari lantai dua, disusul dengan tawa Jimin dan Taehyung yang langsung disambut dengan seruan menenangkan dari Namjoon.
.
.
.
.
.
.
.
Persiapan pernikahanku dan Namjoon sudah dimulai. Vivian sudah memesan gaun untukku dan dia sedang menyiapkan dekorasi lainnya untuk hari pernikahanku. Dan tidak terasa sudah dua minggu berlalu sejak Namjoon melamarku.
Aku hidup dengan sangat bahagia sejak statusku naik satu tingkat menjadi tunangan Namjoon. Penyakitku memang masih terus membayangi hubungan kami dan mungkin itu akan menjadi hal yang terus kusesali sejak aku menjalin hubungan dengan Namjoon.
Dan ternyata Namjoon memang serius ingin mewujudkan semua hal konyol yang kutulis di buku harianku. Dua hari lalu dia mengajakku ke sebuah danau yang membeku karena salju dan mengajakku bermain ice skating di sana. Namjoon membelikanku sepasang sepatu skate dan dia juga menggendongku menuju danau. Namjoon bilang jarak antara danau itu dan rumahnya cukup jauh dan dia tidak ingin aku kelelahan.
Walaupun Namjoon selalu mengatakan kalau dia bukanlah seseorang yang romantis, bahkan dia selalu mengatakan kalau dia tidak lebih romantis dari Jimin, tapi bagiku Namjoon adalah pangeranku yang paling baik dan romantis di seluruh dunia ini.
Aku yakin sekali jutaan gadis akan iri saat mendengar bagaimana Namjoon memperlakukanku. Dia memang bukan manusia, tapi bagiku Namjoon jauh lebih lembut daripada manusia.
"Kita mau kemana?" tanyaku seraya mengeratkan pelukanku di leher Namjoon.
Namjoon tersenyum lebar, "Tenang saja, nanti juga kau tahu."
Siang ini, lagi-lagi Namjoon memintaku untuk pergi bersamanya. Dia tidak mengatakan kami akan pergi ke mana, dia hanya memintaku naik ke punggungnya dan tidak terasa kami sudah berjalan selama dua jam.
Mataku memperhatikan seisi hutan yang terlihat tenang, semalam turun salju jadi saat ini semua tanah nyaris tertutupi oleh putihnya salju. Aku selalu suka melihat salju karena bagiku salju terlihat begitu putih dan suci.
Namjoon melirikku, "Sayang, tutup matamu."
"Kenapa?"
"Tutup saja."
Aku mengerutkan dahiku dan memutuskan untuk menurut, sebenarnya aku tidak suka kejutan. Tapi karena ini dari Namjoon, aku percaya dia tidak akan memberikan kejutan yang aneh-aneh untukku.
Tubuhku terhempas angin cukup keras jadi aku menduga kalau Namjoon berlari, aku mengeratkan pelukanku secara refleks dan membiarkan dia membawaku melesat entah kemana.
Kemudian aku merasakan Namjoon menurunkanku dari gendongannya dan aku menginjak permukaan yang empuk jadi kukira aku baru saja menginjak salju.
"Nah, sekarang kau boleh membuka matamu."
Aku membuka mataku secara perlahan dan yang aku lihat adalah sebuah padang berukuran tidak luas yang semuanya ditutupi oleh warna merah, pink, dan aneka warna lainnya.
"Ini.. apa?"
"Kau pernah menulis kalau kau ingin berbaring di padang bunga kan? Sejak aku membaca itu, aku dan Jimin memangkas semua pohon untuk membentuk padang mini ini. Kemudian aku memesan semua jenis bunga dari seluruh belahan dunia dan bunga-bunga itu baru tiba kemarin, jadi semalam aku, Ethan dan Vivian menaburkan kelopak seluruh bunga itu di sini untuk membuat tempat ini terlihat seperti padang bunga."
Aku menutup mulutku dengan sebelah tangan dan menunduk untuk menatap kakiku yang menginjak tumpukan kelopak bunga yang berada di bawahku.
"Ini.. luar biasa."
"Kau suka?" tanya Namjoon dengan senyum lebar di wajahnya.
Aku memutar tubuhku dan melompat memeluknya kemudian menangkup wajahnya dan memberinya sebuah ciuman dalam. Namjoon memang tidak berani terlalu menempelkan bibir kami karena dia takut bibirku akan tergores oleh taringnya, tapi aku berusaha mempertahankan posisi kami untuk menempel sedekat mungkin.
Namjoon melepaskan ciuman kami dan terkekeh pelan, "Wow, yang tadi itu sangat tidak diduga."
Aku tersenyum lebar kemudian menariknya untuk berbaring bersama di tengah padang mini yang sudah dibuatkan olehnya untukku. Tubuhku berbaring dengan nyaman di tengah kelopak bunga itu dan aku menghembuskan napas penuh perasaan bahagia.
Kepalaku menoleh dan menatap Namjoon, "Kau memang yang terbaik. Aku mencintaimu."
Namjoon tersenyum lebar dan mengecup pelipisku, "Aku juga mencintaimu sayang."
Kami berbaring di tengah padang dengan pandangan mataku yang terus tertuju pada langit sementara Namjoon tengah menumpukan dahinya dengan puncak kepalaku dan tangannya yang mengelus-elus lenganku dengan lembut.
"Namjoon.."
"Ya?"
"Apa kau.. pernah berpikir untuk mengubahku menjadi sama sepertimu?"
Gerakan Namjoon yang sedang mengelus lenganku terhenti dan aku bisa merasakan tubuhnya menegang.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Namjoon serak.
"Karena aku tahu kau bisa melakukan itu. Aku benar, kan?"
"Ya, kau benar."
"Jadi? Apa kau pernah berpikir untuk mengubahku menjadi sama sepertimu?"
"Aku.."
To Be Continued
.
.
.
.
.
.
Chapter depan adalah chapter terakhir untuk The Cold One!
Hehehe, aku kan sudah bilang kalau ini ceritanya minim konflik, jadi aku memang sudah mengaturnya agar ini tamat di chapter depan~
Terima kasih banyak sudah sabar menunggu dan aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menungguku yang sedang tidak bisa update sering ini. Hehe ^^v
.
.
.
.
Ehem, sedikit teaser untuk membuat kalian penasaran..
_Teaser for The Final Chapter_
"Aku.. tahu.."
"Dia monster, Seokjin! Mereka monster! Apa yang ada di otakmu?!"
"Rasa cintaku pada dia yang bukan manusia."
.
.
.
.
.
"Apa kau.. berniat menjauhiku?"
"Ya, aku akan menjauhimu. Aku tidak mau berurusan dengan monster sepertimu!"
.
.
.
.
"Mereka sangat rumit. Kau juga berpikiran sama denganku, kan?"
"Dia adalah gadis yang polos, wajar kalau dia memutuskan untuk pergi setelah mendengar kenyataannya, kan?"
.
.
.
.
"Dia sekarat, aku tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.."
"Namjoon, apa kau akan merelakannya?"
"…"
"Namjoon?"
"Tolong katakan pada Hoseok kalau.. Seokjin sudah meninggal."
_To Be Continued_
Stay tune, guys! Chapter berikutnya itu chapter terakhir, lhooo~ /dihajar/
See you next time!
Love youu~
.
.
.
Review?
.
.
Thanks
