The Cold One
Pair :
Kim Namjoon x Kim Seokjin
Slight:
Jeon Jungkook
Jung Hoseok
Park Jimin x Min Yoongi
Kim Taehyung
Rate: T
Genre: Fantasy, Romance.
Length: Parts
Summary:
"I can kill you with my bare hands." –Kim Namjoon. / "It's okay, I'm already dying anyway." –Kim Seokjin. / NamJin with GS!Seokjin, VampFic, AU.
Warning:
Fiction, GS for Seokjin, Jungkook and Yoongi. Inspired by Twilight.
Notes:
All Seokjin's POV
.
.
.
.
The Cold One (Part. 8)
"Aku.. tidak tahu."
"Apa maksudmu dengan tidak tahu?" tanyaku langsung. "Kau tidak ingin aku berubah menjadi sama sepertimu?"
Namjoon memejamkan matanya dan menggeleng pelan, "Menjadi sama seperti diriku itu tidak enak, Seokjin. Aku adalah monster dan seseorang selembut dirimu tidak pantas memiliki hawa buas dan membunuh seperti kami."
"Namjoon, harus berapa kali kukatakan padamu kalau kau bukan monster. Kalau kau memang monster seperti yang kau katakan, apakah kau akan melakukan semua ini untukku? Aku yakin tidak, kau pasti akan langsung membunuhku saat aku mengatakan aku sekarat."
"Seokjin.."
Aku bergerak untuk bangun dan menatap Namjoon, "Kau bukan monster, kau adalah tunanganku. Kita akan menikah jadi sebaiknya kau menghilangkan pikiran negatifmu itu."
Namjoon tersenyum kecil, "Baiklah, baiklah. Sekarang kembalilah berbaring, bunga-bunga ini tidak akan bertahan di sini besok pagi. Kabarnya malam ini akan turun salju lagi."
"Oh, benarkah? Sayang sekali."
"Hmm, pertengahan musim dingin memang seperti itu."
Aku mengangguk pelan kemudian menoleh ke arah Namjoon, "Namjoonie, ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa itu?"
"Kau bisa keluar saat siang, kenapa?"
"Hah?"
"Iya, bukankah seharusnya vampire akan terbakar saat terkena sinar matahari?"
Namjoon terdiam dan dua detik kemudian dia terbahak. "Duh, apa itu info yang berasal dari film-film aneh yang beredar?"
"Kau tidak akan terbakar? Jadi, apa kau berkilau?"
Namjoon tertawa lagi, "Astaga, tidak! Aku tidak berkilau dan aku tidak terbakar jika berada di bawah matahari." Namjoon tersenyum lebar, "Setidaknya itu untuk diriku. Aku juga tidak tahu kenapa dan Ethan juga tidak tahu, tapi aku ini semacam vampire yang sangat berbeda. Kaum The Cold One yang normal biasanya akan merasa panas dan terbakar saat terkena paparan sinar matahari langsung. Kami akan menjadi lebih ganas jika terpapar matahari dan memang matahari akan membuat kulit kami menjadi mengerut dan pecah."
Namjoon terkekeh pelan, "Tapi kami tidak akan mati karena itu. Yang bisa membunuh kami adalah apabila kepala kami dipisahkan dari tubuh kemudian kami dibakar." Namjoon menatapku dengan senyum lebar di wajahnya, "Tapi semua kelemahan itu tidak akan berlaku untukku. Kelihatannya ada suatu kejadian unik mengenai kelahiranku kembali sebagai vampire, entah keunikan itu berasal dari vampire yang mengubahku, atau karena tubuhku memang aneh. Tapi aku tidak akan terbakar di bawah matahari, kulitku akan normal-normal saja."
"Wow,"
"Tapi hingga detik ini aku tidak tahu kenapa. Aku dan Ethan mencoba mencari penjelasannya tapi kami hanya bertemu dengan jalan buntu. Dan Vivian mengatakan kalau apapun yang mungkin terjadi di tubuhku sebaiknya dibiarkan saja dan disyukuri."
"Apa proses perubahan menjadi vampire itu menyakitkan?"
"Oh ya, sangat. Aku tahu itu saat melihat prosesi perubahan Jimin, Taehyung, dan juga Yoongi. Dulu, Ethan mengunci mereka dalam peti mati yang terbuat dari besi dan di bagian atasnya ditindih batu-batu besar. Setiap harinya aku mendengar raungan dan jeritan dari dalam sana, dan ketika kutanyakan, mereka bilang rasanya seperti terbakar."
"Apa tidak ada cara untuk meringankan rasa sakit itu?"
"Ethan bilang mungkin bisa jika kita memasukkan banyak sekali obat bius ke dalam tubuh. Tapi Ethan sendiri belum pernah mencoba itu karena kami memang tidak sembarangan mengubah orang lain menjadi vampire. Resikonya terlalu besar."
"Kenapa?"
"Karena dengan semakin banyaknya vampire, keselamatan manusia juga terancam, kan? Jika kau berubah menjadi seperti kami, kau tidak akan bisa menahan desakan nafsu untuk meneguk darah selama satu dekade pertama. Setelah melewati sepuluh tahun itu, hidungmu akan terbiasa dengan beraneka bau dan kau bisa memilah mana yang sebaiknya dijauhi dan mana yang sebaiknya diburu."
"Hmm, jika aku menulis tesis tentang kalian, aku pasti sangat terkenal."
Namjoon tertawa keras, "Kau benar."
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook mengendarai mobilnya menyusuri jalan untuk pulang ke rumahnya. Dia baru saja kembali dari universitasnya dan saat ini hari sudah cukup larut. Dan karena ini adalah pertengahan musim dingin, hari menjadi lebih cepat gelap daripada biasanya.
Jungkook bersenandung ringan kemudian dia terhenti saat mendengar suara raungan hewan yang sepertinya adalah beruang disusul dengan suara 'buk' keras dan tak lama kemudian suara pohon yang patah.
"Astaga, apa ada beruang sedang berkelahi?" gumam Jungkook.
Jungkook menekan pedal gasnya dalam-dalam dan tiba-tiba saja mobilnya mengeluarkan suara seperti tersendat-sendat dan mesin mobilnya mati. Jungkook mengerang keras dan memukul roda kemudinya.
"Sudah kubilang pada Papa kalau mobil ini sudah tua! Papa jahat!" gerutunya.
Jungkook meraih ponselnya di dalam tas dan dia kembali mengerang kesal saat ponselnya mati karena kehabisan baterai. Kepalanya mulai bergerak ke sana kemari untuk mencari bantuan dan dia tidak melihat mobil atau orang lain di jalan itu.
"Astaga, kenapa ini harus terjadi padaku?" gerutu Jungkook.
Gadis berambut hitam panjang itu meraih sebuah senter dan melangkah keluar dari mobil. Dia merapatkan mantelnya dan memperhatikan sekitar dengan bantuan cahaya senter yang dipegangnya.
"Uuh, sepi sekali.." cicit Jungkook.
Jungkook menatap sekeliling seraya bergidik dan dia nyaris saja melompat dan menjatuhkan senternya saat dia mendengar suara teriakan yang dia yakin berasal dari seorang pria dan suara itu berasal dari hutan.
"Ha-hallo?" cicit Jungkook seraya menyorotkan senternya ke dalam hutan, "Apa ada orang di sana? Anda baik-baik saja?"
Jungkook melangkah dengan agak ragu menuju hutan, dia berjalan dengan perlahan dan mencoba mencari dimana asal suara tersebut. Dia khawatir suara itu berasal dari pendaki yang tersesat, bagaimana jika pendaki itu terluka dan butuh pertolongan?
Jungkook menyusuri jalan setapak menuju hutan dengan mencengkram erat-erat senternya. Suasanya di sekelilingnya begitu gelap dan dia bisa melihat butiran-butiran salju yang turun perlahan-lahan.
"Astaga, ini tidak bagus." Jungkook menggumam seraya terus berjalan menyusuri hutan.
Jungkook menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara geraman pelan yang berasal dari depannya. Jungkook mendekat dengan langkah ragu, dia menyorotkan senternya ke depan dan senternya tidak sengaja menyorot sepasang kaki berbulu yang berasal dari beruang.
Cahaya dari senternya bergerak naik dan semakin naik hingga akhirnya Jungkook menyadari bahwa beruang itu sedang terkapar dan darahnya sedang diminum oleh seseorang.
Jungkook menjerit keras dan kepala dari sosok yang tengah meneguk darah beruang itu berbalik. Jungkook membelalakkan matanya karena dia melihat Taehyung, menatapnya dengan mulut berlumuran darah dan taring yang keluar dari sela bibirnya.
Jungkook menjerit lagi dan langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu. Dia bisa mendengar suara geraman lainnya disusul dengan langkah cepat yang mengejarnya. Airmata mulai mengaliri mata Jungkook karena dia begitu ketakutan.
Senternya tidak sengaja terjatuh saat dia tersandung akar pohon dan Jungkook memutuskan untuk membiarkannya dan terus berlari.
'Taehyung bukan manusia, Taehyung bukan manusia..'
Jungkook terus merapalkan hal yang sama dalam pikirannya sementara dia terus berjuang keras untuk keluar dari hutan dan akhirnya dia tiba di ujung dari hutan tersebut. Jungkook melompat ke jalan raya dan berbalik menatap hutan seraya melangkah mundur dengan takut.
"Jungkook, ini aku.."
Tubuh gadis itu semakin bergetar saat dia mendengar suara Taehyung, Jungkook terus melangkah mundur dan tanpa sadar dia sudah berada di tengah jalan.
Sosok Taehyung muncul dari hutan, mulutnya sudah bersih tapi taringnya masih terlihat dari sela bibirnya. "Hei, santai saja."
Jungkook menggeleng takut, "Kau.. monster.."
"Jungkook-ah.."
Sebuah sinar yang sangat terang tiba-tiba saja menerangi Jungkook, Jungkook menoleh dan dia melihat sebuah truk tengah melaju ke arahnya. Dia terkesiap dan tidak sanggup bergerak sedikitpun, kemudian sebelum dia sempat memproses sesuatu sudah menerjangnya dan membuatnya terjatuh ke belakang.
Jungkook mengeluarkan erangan kesakitan saat punggungnya membentur permukaan keras, rasanya begitu sakit hingga dia tersedak. Jungkook mengeluarkan suara tercekik dan mendeguk kemudian dia pingsan.
.
.
.
.
.
.
Pernikahan diantara aku dan Namjoon akan dilaksanakan besok dan sekarang semua persiapan sudah mencapai titik akhir. Aku benar-benar tidak menyangka Vivian akan benar-benar mewujudkan pernikahan impianku. Dekorasi pernikahanku didominasi warna pink dan putih, selain itu bunga mawar mungil berwarna pink menghiasi setiap sudut ruangan dengan indahnya.
Tapi di tengah semua persiapan ini, ada satu hal yang sangat menggangguku yaitu alasan Jungkook tidak juga muncul untuk mencoba gaun pendamping wanitanya. Aku sudah mencoba menghubungi Jungkook sejak tiga hari lalu dan hasilnya tetap sama, aku tidak pernah bisa mendengar suara gadis itu.
Aku sudah mencoba bertanya pada Taehyung tapi pria itu juga tidak bisa kutemukan dimanapun. Namjoon bilang Taehyung pergi entah kemana dan tidak juga pulang. Jimin dan Namjoon sudah mencoba mencari tapi karena Taehyung tidak juga ditemukan, kami memutuskan untuk membiarkannya karena ternyata Taehyung memang suka menghilang secara tiba-tiba.
Paman Hoseok sudah tinggal di rumah Namjoon sejak dua hari lalu dan dia juga sudah siap menyambut hari pernikahanku. Dia memastikan kondisiku sehat untuk berjalan di altar karena memang belakangan ini aku menjadi semakin lemah.
Tapi aku bersikeras kalau aku akan berjalan menuju altar dan aku tidak mau menikah jika aku melewati virgin road dalam kondisi duduk di kursi roda. Paman Hoseok memutuskan untuk setuju setelah perdebatan panjang, tapi sebagai gantinya dia memintaku untuk duduk di kursi roda dan tidak banyak beraktivitas sampai hari pernikahanku tiba.
Aku sedang memperhatikan gaun pengantinku ketika aku mendengar ketukan pelan di pintu kamarku.
"Sayang," Namjoon membuka pintu dan menatapku. "Jungkook ingin bertemu denganmu."
"Jungkook?" pekikku semangat. Aku memutar kursi rodaku dan Namjoon bergegas membantuku.
Senyumku berubah menjadi semakin lebar saat aku melihat seorang gadis dengan rambut berwarna hitam panjang yang diikat menjadi pony tail. Namun senyumanku luntur seketika saat aku melihat Jungkook duduk di kursi roda.
"Jungkook? Ada apa? Apa yang terjadi padamu?"
Jungkook terlihat luar biasa lega saat melihatku, dia menatap Namjoon sinis. "Tinggalkan kami."
Kerutan di dahiku semakin dalam, itu adalah pertama kalinya aku melihat Jungkook seketus dan sedingin itu. "Kookie, ada apa?"
Jungkook mendorong kursi rodanya hingga kami berhadapan, "Seokjin.. kumohon batalkan pernikahanmu."
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Apa kau tidak tahu? Mereka semua bukan manusia, Seokjin! Tiga hari lalu aku melihat Taehyung di hutan dan dia.. dia.." tubuh Jungkook mulai gemetar dan wajahnya memucat.
"Jungkook, berhenti. Kau menyakiti dirimu sendiri." aku memekik karena terlihat jelas kalau Jungkook mengalami trauma.
Jungkook memejamkan matanya dan menggigit bibirnya kuat-kuat. "Mereka bukan manusia, Seokjin. Batalkan pernikahan ini.."
Aku terdiam, kesimpulanku adalah Jungkook sudah tahu soal Namjoon dan keluarganya karena dia melihat Taehyung tiga hari lalu. Dan apapun yang dilihat Jungkook pastinya bukan sesuatu yang bagus karena dia sampai mengalami trauma seperti ini.
"Aku.. tahu.." jawabku pelan.
Jungkook membulatkan matanya, "Kau tahu? Kau sudah tahu?"
Aku mengangguk pelan, "Ya, Namjoon sudah memberitahuku sebelum kami menjalin hubungan."
Jungkook tercengang, "Lalu, kenapa?! Kenapa kau masih mau menjalin hubungan dengannya?!"
"Jungkook, ini.."
"Mereka monster, Seokjin! Mereka monster! Apa yang ada di otakmu?!" jerit Jungkook frustasi, dia menggeleng pelan, "Mereka.. dia.. Taehyung.. dia.."
Dan Jungkook mulai menangis, kelihatannya dia benar-benar mengalami shock hebat.
"Jungkook." Aku mengulurkan tanganku dan meraih tangannya yang bergetar, "Maaf, tapi saat ini yang ada di otakku hanya rasa cintaku padanya yang bukan manusia."
"Aku harus pergi." Jungkook menatapku, "Kalau kau tetap ingin menikah, aku tidak peduli. Aku.. tidak akan datang ke pernikahanmu." Jungkook bergerak mundur dan memutar kursi rodanya kemudian dia pergi meninggalkan aku yang masih terdiam di tempatku.
"Jungkook.." lirihku pelan.
.
.
.
.
.
.
Jungkook terdiam di teras rumah milik Namjoon sementara dia terus mencoba menghubungi ayahnya agar menjemputnya. Tiga hari lalu orangtuanya mengatakan kalau Taehyung mengantarnya ke rumah dalam kondisi cedera punggung dan mengatakan kalau Jungkook diserang beruang.
Jungkook jelas saja tidak percaya, dia mencoba mengatakan hal yang sebenarnya terjadi tapi orangtuanya malah mengatakan kalau dia shock karena diserang beruang. Jungkook begitu ketakutan, bayangan saat Taehyung menatapnya dengan tajam dan mulut penuh darah terus membayangi pikiran Jungkook hingga dia dihantui mimpi buruk selama tiga hari ini.
Jemarinya terus mencoba menghubungi ayahnya, "Papa, ayolah.."
"Jungkook.."
Jungkook terlonjak saat mendengar suara berat yang memanggilnya, dia menoleh dengan perlahan dan dia melihat Taehyung berdiri tak jauh darinya. Gadis itu memekik dan refleks menjauh.
"Hei, tenanglah. Aku tidak akan melukaimu.."
"Pergi, menjauh dariku!" desis Jungkook.
Taehyung menatap Jungkook dengan sedih, "Jungkook-ah.."
"Menjauh dariku, kau monster!" jerit Jungkook akhirnya. Tubuhnya gemetar ketakutan dan matanya mulai berkaca-kaca.
Taehyung menatapnya dengan sedih, dia tidak menyangka Jungkook akan setakut itu padanya.
"Apa kau.. membenciku?"
"Ya, aku membencimu. Aku amat sangat membencimu." Jungkook berujar dengan suara bergetar.
Taehyung menunduk sedih, "Apa kau.. berniat menjauhiku?"
"Ya, aku akan menjauhimu. Aku tidak mau berurusan dengan monster sepertimu!" jerit Jungkook.
Jungkook mencengkram roknya erat-erat, "Aku tidak akan pernah mau melihatmu lagi. Tidak akan pernah."
Kalimat Jungkook terdengar seperti vonis kematian untuk Taehyung, dia hanya mampu terdiam seraya menatap Jungkook dengan pandangan yang terlihat begitu terluka.
Perhatian Jungkook teralih saat dia mendengar suara mobil dan dia memekik riang penuh perasaan lega, "Papa!"
Ayah Jungkook menghentikan mobilnya dan menatap Jungkook, "Kookie, sudah selesai?"
"Ya, Papa. Cepat bawa aku pergi dari sini." Jungkook melirik Taehyung, "Papa, aku ingin pergi dari sini."
Ayah Jungkook mengerutkan dahinya bingung tapi dia mengangguk dan perlahan dia menggendong Jungkook lalu membantunya untuk naik ke mobil. Jungkook langsung menutup pintu dan memasang sabuk pengaman setelah dia duduk di dalam mobil.
Ayah Jungkook tersenyum pada Taehyung kemudian melipat kursi roda Jungkook, "Siang, Taehyung."
"Selamat siang, Sir." Taehyung menyapa sopan.
Kemudian mobil yang dikendarai oleh ayah Jungkook itu melaju meninggalkan halaman rumah tersebut. Tepat ketika mobil itu tidak terlihat lagi, Taehyung jatuh berlutut seraya mencengkram poninya.
Jimin melangkah menghampiri Taehyung dan menepuk bahunya, "Hei,"
Taehyung tetap menunduk, dia benci dirinya sendiri karena menjadi vampire. Kalau saja dia bukan vampire, dia dan Jungkook tidak akan seperti ini. Seandainya saja waktu bisa diputar kembali, Taehyung tidak akan pernah pergi berburu malam itu. Dia tidak peduli seberapa hausnya dirinya saat itu, tapi Taehyung tidak akan pergi jika saja dia tahu kalau Jungkook akan melihatnya dalam kondisinya yang seperti itu.
"Taehyung, Jungkook hanya shock. Dia butuh waktu."
Taehyung mengeluarkan suara isakan kering, vampire tidak bisa menangis karena dia membeku. Tapi saat ini Taehyung benar-benar ingin menangis karena mungkin itu akan membuatnya menjadi lebih baik.
"Taehyung," Jimin mengguncang bahu Taehyung pelan tapi Taehyung menyentaknya kemudian dia melesat cepat ke dalam hutan.
Jimin menghela napas pelan, dia tahu kondisi ini pasti sulit untuk Taehyung dan Jungkook. Berbeda dengan Seokjin, Jungkook mungkin tidak bisa menerima kenyataan ini semudah itu. Terlebih lagi dia melihat Taehyung saat berburu. Jungkook masih beruntung karena rasa cinta Taehyung padanya membuat Taehyung tidak gelap mata dan langsung menerjang Jungkook saat itu juga. Vampire yang sedang berburu memiliki kontrol diri yang sangat minim dan Taehyung bisa saja langsung menyerang Jungkook.
"Mereka sangat rumit. Kau berpikiran sama denganku, kan?" ujar Yoongi yang tiba-tiba saja muncul dan berdiri di sebelah Jimin.
"Kau melihatnya?"
"Ya, aku melihat mereka dari kamar kita di lantai tiga. Jika mendengar dari nada suara dan detak jantungnya, Jungkook pasti sangat ketakutan. Kurasa dia tidak akan mau melihat Taehyung lagi." Yoongi menggeleng pelan, "Tragis sekali."
"Dia adalah gadis yang polos, wajar kalau dia memutuskan untuk pergi setelah mendengar kenyataannya, kan?" ujar Jimin pelan.
"Yah, kau benar."
"Aku mengerti bagaimana perasaan Jungkook. Dulu aku juga takut pada diriku sendiri, dendamku dan proses pembalasan dendam itu memang membuat ketakutanku teralihkan. Tapi setelah selesai melakukan itu, aku jadi semakin takut pada diriku sendiri." ujar Yoongi dengan pandangan kosong.
"Sayang.."
Yoongi menggeleng pelan, "Tapi itu tidak penting lagi, kan? Aku memang tidak memilih kehidupan ini, tapi inilah hidupku sekarang. Jadi aku harus menjalaninya, suka atau tidak suka." Yoongi mendongak menatap Jimin, "Benar, kan?"
"Baby.."
"Ah, kurasa aku harus ke dalam dan mencoba gaun pendamping pengantin wanita. Karena Jungkook tidak akan datang besok, aku harus menggantikan posisinya, kan?" Yoongi berbalik dan bergegas melangkah masuk ke dalam rumah.
Jimin menatap Yoongi dengan sedih, "Kukira aku.. sudah berhasil menghilangkan perasaan itu.."
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari pernikahanku dan Namjoon. Aku berusaha tampil sebaik mungkin walaupun wajahku sudah sepucat mayat dan napasku tersengal-sengal seperti ikan yang megap-megap saat terdampar di daratan.
Vivian terlihat sangat tidak suka saat aku bersikeras melaksanakan pernikahan ini. Tapi aku memohon dengan sangat padanya dan akhirnya dia setuju untuk membantuku menutupi wajahku yang pucat dengan riasan.
Aku sudah selesai memakai riasanku dan aku tersenyum puas saat wajahku yang sepucat mayat berhasil ditutupi dengan baik. Vivian memasangkan wedding veil beserta tiara mungil di kepalaku dan senyum haru pun mengembang di bibirku. Aku tidak menyangka kalau aku akan benar-benar menikah.
"Kau sangat cantik." Vivian berujar lembut seraya menatap pantulan bayanganku di cermin.
"Terima kasih."
Vivian tersenyum kemudian dia melepas gelang di tangannya, "Hadiah untukmu dariku dan Ethan."
"Eh?" ujarku bingung.
"Ini adalah gelang dengan berlian biru. Warnanya cocok dengan pakaianmu saat ini."
"Ini.. pasti mahal sekali, kan?"
"Kau keluarga kami. Dan ini hanya hadiah kecil dariku." Vivian tersenyum jenaka, "Aku tidak menerima penolakan."
Aku tersenyum lebar, "Terima kasih."
Kami memalingkan pandangan kami saat mendengar suara ketukan dan tak lama kemudian pintu terbuka dengan wajah Paman Hoseok muncul di baliknya.
"Uuh, apa Seokjin sudah.." kalimat Paman Hoseok terputus saat dia melihatku.
"Astaga, kau cantik sekali." Paman Hoseok berujar kagum, dia berjalan menghampiriku dan menggenggam kedua tanganku, "Aku sangat yakin ayah dan ibumu pasti sangat bahagia melihatmu menikah."
Senyumku menjadi semakin lebar, "Terima kasih."
"Kurasa sebaiknya kita segera keluar dan menunjukkan betapa cantiknya dirimu, kan?"
.
.
.
.
.
.
.
Aku berjalan seraya menggandeng lengan Paman Hoseok menuju altar. Pernikahan diantara aku dan Namjoon memang tidak dihadiri oleh banyak orang, hanya beberapa teman dekat Ethan dan Vivian, Jimin, Yoongi, Taehyung, istri Paman Hoseok, dan juga beberapa teman sekelasku yang sempat dekat denganku di universitas.
Mataku tertuju pada Namjoon yang sedang berdiri menungguku. Senyumannya begitu lebar hingga aku bisa melihat dimples di pipinya. Namjoon terlihat menawan dengan tuksedo berwarna putih miliknya. Selama berjalan menuju altar, hujan kelopak bunga mungil terus mengiringi langkahku. Dan ini benar-benar sesuai dengan apa yang pernah kubayangkan.
Ini adalah hari terbaik di hidupku.
Walaupun memang agak terasa kurang lengkap tanpa Jungkook, tapi aku sangat bersyukur bisa menikah hari ini. Aku tidak menyangka semua yang kutulis itu menjadi kenyataan, mungkin ini adalah jawaban dari semua doaku pada Tuhan.
Paman Hoseok menyerahkan tanganku yang digandengnya pada Namjoon kemudian prosesi pernikahan kami pun dimulai. Mulanya aku merasa baik-baik saja, aku merasa sehat dan bahagia, tapi kemudian rasa sesak kembali terasa di dadaku dan aku mulai berkeringat dingin.
Aku mencoba untuk tetap bertahan dengan memaksakan senyuman agar tidak ada yang menyadari kalau aku sedang berusaha keras menjaga kesadaranku di tengah kesulitanku mendapatkan udara karena paru-paruku terasa seperti menciut.
"Lalu, Kim Seokjin, anda bersedia?"
Suara itu menyadarkanku dari semua usahaku dalam mempertahankan kesadaranku. Aku menarik napas dan berusaha mengumpulkan segumpal oksigen di dalam sistem pernapasanku kemudian menjawab dengan suara yang kubuat senormal mungkin.
"Aku bersedia."
Kemudian semuanya terasa menghilang dari pandanganku.
.
.
.
.
.
.
Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Aku hanya merasa oksigen terakhir terhembus keluar dari tubuhku kemudian aku kehilangan kesadaran. Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi dan saat ini aku berada di ambang kesadaranku.
Punggungku bisa merasakan tekstur empuk dari sebuah tempat tidur sementara hidungku merasakan aliran udara lembut dan dingin yang masuk ke paru-paruku. Aku merasa sudah lebih baik, tapi aku tetap tidak bisa membuka mataku, tubuhku terasa begitu lemah hingga menarik napas pun terasa melelahkan.
Samar-samar aku bisa mendengar suara-suara di sekitarku dan kurasa saat ini ada beberapa orang yang berada di sekitarku.
"Dia sekarat, aku tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.."
Oh, itu suara Ethan.
"Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menolongnya?" kali ini suara Vivian.
"Tidak.." suara Ethan terdengar begitu sedih.
"Namjoon, apa kau akan merelakannya?" kali ini suara Vivian lagi.
Tapi..
Namjoon?
Namjoon ada di ruangan ini?
Ah, seandainya saja aku mampu membuka mataku. Aku ingin melihatnya, aku ingin melihat wajahnya yang sekarang sudah menjadi suamiku.
"…"
Aku tidak mendengar apapun lagi dan dalam hatiku aku benar-benar berharap aku bisa mendengar suara Namjoon. Sungguh, aku membutuhkannya. Aku sangat ingin mendengar suara Namjoon karena rasanya kesadaranku mulai memudar lagi.
"Namjoon?" suara Vivian terdengar mendesak.
Kenapa? Apa yang terjadi?
"Tolong katakan pada Hoseok kalau.. Seokjin sudah meninggal."
Apa?
Aku belum meninggal! Aku masih hidup!
Ah sial, kenapa aku tidak bisa membuka mataku? Kenapa tubuhku terasa sangat lemah? Kenapa? Kenapa kesadaranku mulai memudar lagi?
Kemudian sebelum kesadaranku benar-benar menghilang, aku merasakan sengatan rasa sakit seperti digigit di leherku, dan setelahnya aku tidak ingat apapun lagi.
The End
.
.
.
.
Yeaaayyyy!
End!
Akhirnyaaa ;-;
Oke, karena ini sudah tamat. Aku akan fokus mengerjakan Switch untuk berikutnyaa~
See you next time!
.
.
.
Review? XD
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Epilogue
Panas.
Kenapa sepanas ini?
Apa yang terjadi?
Dimana aku?
Kenapa seluruh tubuhku terasa panas?
Apakah aku sudah mati dan berada di neraka?
Karena rasa panas ini benar-benar membakarku. Rasanya seperti seluruh organ dalamku terbakar dari dalam dan lumer di dalam tubuhku.
Ini sakit.
Sakit sekali..
Kenapa?
Apa yang terjadi?
Apa aku benar-benar masuk ke dalam neraka?
Hentikan! Aku tidak kuat lagi!
Hentikan ini!
Sakit!
Berhenti!
Kumohon!
Aku ingin sekali berteriak tapi suaraku tidak mampu keluar, kemudian aku merasakan sentakan rasa panas yang seolah membakar jantungku dan tiba-tiba saja aku membuka mataku.
Aku meneliti keadaan sekitar dan ternyata aku berada di sebuah ruangan dan saat ini aku terikat di atas tempat tidur.
Apa yang terjadi padaku?
Aku mencoba mengeluarkan suaraku namun aku tercekat karena rasa kering dan terbakar di tenggorokanku.
Haus.
Aku haus.
Mataku bergerak nyalang mencari suatu cairan yang bisa kugunakan untuk membasahi tenggorokanku yang terbakar. Sungguh, rasanya seperti tidak minum selama berhari-hari.
Suara pintu yang terbuka membuat kegiatanku mencari cairan terhenti, dan dahiku mengerut saat aku melihat Namjoon. Dia tersenyum ke arahku seraya membawa sebuah gelas tinggi dengan cairan berwarna merah di dalamnya.
Tanpa sadar aku mengeluarkan desisan buas saat mencium aroma dari cairan di dalam gelas itu. Namjoon berjalan ke arahku dan mengelus kepalaku dengan lembut.
"Welcome back, Sweetheart."
End of The Epilogue
.
.
P.S:
Untuk kelanjutan hubungan Taehyung – Jungkook dan Jimin – Yoongi, silakan bayangkan sendiri ya. huehehehe XD /dihajar/
*kabur*
Oh, btw, cerita ini tidak ada sequelnya.
*kabur semakin jauh*
