Six Month to Alive

Disclaimer: Naruto punya om Masashi saya cuma minjam karakternya

Story: Aki no Shimotsuki

Genre: Hurt/Comfort, Romance

Pairing: NaruHina slight SasuSaku

Warning: AU, gaje, OOC, typo, romance gagal dan death chara

Happy Reading


Akhirnya Kyuubi tiba dirumahnya dengan selamat, sejujurnya ia kesal dengan kejadian bodoh yang terjadi dijalan tol tadi, bagaimana bisa ada orang idiot yang bertengkar lebih dari tiga jam dan malah membentak beberapa petugas terkait yang ingin melerai mereka. Memikirkannya saja membuatnya sakit kepala lebih baik ia segera masuk kerumahnya dan berhenti memikirkan kejadian tadi. Kyuubi langsung saja masuk menghiraukan teriakan ibunya yang menyuruhnya mengangkat koper-koper yang ada dibagasi mobil mereka, ia sih masa bodoh dengan teriakan sang ibu perutnya daritadi sudah berbunyi minta di isi dengan makan-makanan yang bernutrisi tinggi, ia pun mulai memasuki wilayah dapur rumahnya sampai dia melihat Sasuke dengan elitnya tidur diatas meja makannya dengan sangat amat terpaksa ia harus membangunkan bocah Uchiha itu.

"Woy Sas, bangun!"

Sasuke tidak bergeming sedikit pun, ia masih asyik berada di alam mimpinya yang indah itu, membuat Kyuubi jengkel padahal suaranya sudah lumayan kencang cukup membangunkan orang macam Sasuke yang notabenenya beda dari Naruto yang pemalas.

"Woy Sasuke."

Bukannya bangun Sasuke malah meracau tidak jelas membuat Kyuubi makin jengkel sama dirinya, bahkan Kyuubi mulai berpikir untuk menyiram air ke Sasuke supaya dia bangun dari tidurnya tapi sayang dengan makanan yang sudah dibuat Sasuke untuk adiknya daripada basah gara-gara ia nyiram Sasuke mending di makan daripada mubazir. Kyuubi yang sudah terlanjur kesal dengan Sasuke akhirnya memakai cara terakhir untuk membangunkan Sasuke, cara yang sama yang ia lakukan untuk membangunkan Naruto ataupun Menma setiap paginya.

"WOY PANTAT AYAM , CEPETAN BANGUN ATAU GUE CIUM BIBIR ELO KALO LO NGGAK MAU BANGUN!"

Sasuke langsung bamgun setelah mendengar teriakan Kyuubi dan dia nampak menatap tajam kearah Kyuubi yang masih stay cool setelah teriak dengan indahnya tepat disamping telinga Sasuke.

"Cih, baru tau kalo si Dobe punya kakak nggak normal."

"Heh ? Bilang aja mau gue cium, sini mana bibir lo yang suci itu biar gue nodain pake bibir gue yang sensual."

Sasuke langsung membelalakan matanya mendengar ucapan nggak mutu Kyuubi itu, sejak kapan Naruto punya kakak doyan sosor bibir orang, iya kalo bibir cewek yang disosor, nah ini malah bibir cowok yang disosor mana bibir Sasuke lagi yang bakalan jadi korbannya mana mungkin dia mau gini-gini dia masih mau disosor sama bibir cewek bukannya bibir cowok, Sasuke langsung menggelengkan kepalanya menjauhi semua pikiran nista yang ia ciptakan gara-gara ucapan Kyuubi yang juga nista itu.

"Kalo mau dugem di diskotik jangan disini, rumah gue bukan tempat dugem."

"Siapa juga yang mau dugem dan satu lagi jangan panggil gue dengan sebutan PANTAT AYAM , gue punya nama dan nama gue UCHIHA SASUKE."

Kyuubi memutar bola matanya dan kemudian menatap tajam Sasuke yang daritadi menatap tajam dirinya bahkan tatapan maut mereka berdua nampak menghasilkan percik-percik petir yang membuat Menma yang mau mendekat kearah mereka lebih memilih menjauhi mereka berdua takut-takut malah ia yang bakalan dijadiin nuget sama Sasuke ataupun Kyuubi.

PLETAK!

Satu jitakan maut menghampiri kepala Sasuke dan juga Kyuubi mereka berdua cuma bisa meringis karena jitakan maut tersebut dan yang menjitak mereka ternyata Minato, tumben banget nih bapak-bapak mau jitak orang biasanya ia milih diam dan senyum-senyum nggak jelas tapi kali ini malah menjitak kedua pemuda yang tengah bersiteru gara-gara bibir, dugem dan pantat ayam.

"Tolong yah kalian berdua diam, bukannya tou-san mau main kasar atau apa tapi bisa tidak kalian liat keadaan sekarang, apa sekarang waktunya tepat buat bertengkar karena masalah sepele ?"

Sasuke dan Kyuubi diam dan sesekali Kyuubi melirik kearah masakan buatan Sasuke yang nampak menggugah selera membuatnya ingin meneteskan air liurnya, membuat Sasuke bergeridik karena ia merasa jijik dengan air liur Kyuubi yang hampir tumpah.

.

.

Hinata menatap keluar jendela pesawat sesekali ia melirik kesebelahnya, terdapat dua pasang kekasih yang tengah bertengkar suara mereka cukup heboh membuat seluruh pasang mata menatap mereka.

"Sudah kubilang Dei, kalau ini bukan seni tapi ini malah merusak pestanya!"

"Daripada bonekamu itu bikin orang mau muntah saja!"

"Maaf bisa nggak diem, saya mau tidur."

Akhirnya mereka berdua diam membuat Hinata menghela napas lega tentu saja tadi bukan ia yang berbicara melainkan pria yang ada dikursi seberang, ia nampak aneh dengan aksesoris serba hiunya itu membuat Hinata berpikir kalau pria itu adalah perampok kelas kakap.

"Maaf yah nona cantik, tapi saya tau kalau daritadi nona pasti menganggap kami sepasang kekasih bukan ? Tapi maaf sekali lagi, kami masih normal kok."

Hinata membelalakan matanya, jadi daritadi tebakannya salah mengenai status mereka dan yang bikin malu yang ngomong begitu bukannya pria yang imut-imut itu tapi malah pria yang ia sangka wanita, dunia memang aneh sekarang.

"Aku Hinata."

"Aku Deidara dan dia ini Sasori."

Hinata mengangguk kemudian dia tersenyum kepada dua penumpang pesawat itu yang diketahui bernama Deidara dan Sasori itu dan akibat senyuman maut Hinata kedua pria itu hampir saja kehilangan darah karena mimisan untungnya mereka bisa nahan mimisan mereka coba saja nggak mungkin sekarang mereka bakalan turun di airport terdekat hanya untuk mengobati Deidara dan Sasori.

.

.

Sejak sepuluh menit yang lalu setelah insiden jitak menjitak nampak suasana rumah Naruto hening yang terdengar hanya suara ketukan keypad dari handphone Kyuubi, Sasuke dan juga Menma sementara Minato dia asyik membaca koran tiga hari yang lalu dan Kushina ia malah berdiri layaknya patung didepan kamar Naruto.

"Kalau mau masuk kekamar Naru, masuk aja siapa tahu dia lagi butuh pelukan seorang ibu."

Kyuubi kemudian menoleh ayahnya, dia mulai berpikir ayahnya ini mulai terjangkit virus kedua adiknya yang suka melebih-lebihkan sesuatu atau nggak membicarakan sesuatu yang sudah pasti semua orang tahu dan ia kembali mengotak-atik handphonenya. Sebenarnya Kyuubi daritadi sms Naruto tapi hasilnya nihil belum ada satu balasan pun datang dari Naruto.

Tentu saja nggak dibalas orang dia lagi badmood gara-gara penyakitnya. Ini yang bego aku atau siapa sih ?

Kenapa pula Kyuubi mulai ngebatin nggak jelas begitu, jelas-jelas dia juga yang bego tapi setidaknya dia kan keren dan pemikiran apa lagi itu sejak kapan dia jadi narsis gini dan Kyuubi pun menghela napas untuk menghilangkan pikiran-pikiran tidak jelasnya itu. Matanya kini beralih kesosok ibunya yang tengah berdiri seperti patung, ia merasa miris melihat ibunya yang tidak berani mengetuk pintu kamar Naruto.

"Sas, daritadi si Naru belum keluar kamar ?"

Sasuke menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan yang keluar dari mulut Menma, kemudian dia beralih lagi ke layar ponselnya yang semuanya berisi pesan singkat yang ditujukan kepada Naruto, kemudian ia merutuki dirinya sendiri didalam hati kenapa juga dia harus bilang yang aneh-aneh ke Naruto waktu itu bilang aja itu mimpi apa susahnya terus Naruto bisa ngelanjutin hidupnya kayak biasa dan kemudian dia menghela napasnya berusaha membuang semua pikiran aneh yang masuk kedalam otaknya.

.

.

Naruto tertegun melihat beratus-ratus sms datang dari Menma, Kyuubi dan juga Sasuke dan isi pesan singkatnya sama.

Kasian kaa-san nunggu diluar, nggak tanggung jawab kalo nanti kamu bakalan dicap sebagai anak durhaka.

Dan kenapa pula Sasuke manggil ibunya pake panggilan kaa-san juga eh tapi emang dari dulu ibunya maksa Sasuke buat manggil ibunya pake sebutan kaa-san dan lagian kenapa ia malah mikirin hal nggak penting begini yang dia pikirkan sekarang adalah ibunya pasti sang ibu daritadi tidak berani mengetuk pintu kamarnya dan tiba-tiba saja Naruto menangis, entah karena apa mungkin karena ia nggak tega mau berhadapan dengan ibunya yang pasti bakalan nangis pas liat Naruto.

"Keep Strong Nar, keep strong. Mana Naruto yang doyan senyum sana sini biarpun banyak dapat masalah."

Naruto berusaha membuat dirinya sekuat mungkin padahal hasilnya percuma ia tetap saja rapuh yang jelas ia belum siap menerima kenyataan kalau ia menderita kanker, padahal ia masih pengen ngelanjutin hidupnya yang normal dan tiba-tiba dia jadi ingat gurauan Kiba tempo hari tentu ia tahu itu hanya candaan saja tapi kenapa gurauan Kiba waktu itu jadi kenyataan apa itu do'a ?

"Do'a apaan sih Nar, itu takdir inget takdir."

Lagi-lagi ia berusaha membuat semua pemikirannya tadi jadi pemikiran yang positif tapi kalau awalnya udah berpikiran negatif tentu akan terus berpikiran seperti itu, lebih baik ia segera buka pintu kamarnya terus meluk ibunya dan pura-pura sok tegar padahal dikamar dia udah kayak orang frustasi, berasa kayak hidup segan mati tidak mau.

Kushina menatap kearah pintu kamar Naruto, ia seperti orang bodoh berdiri didepan pintu kamar anaknya dan tidak berani mengetuk pintu kamarnya padahal biasanya ia juga main dobrak aja kalau mau masuk kamar Naruto yang buat Minato geleng-geleng kepala kayak orang mau dugem ke diskotik, tapi kenapa sekarang ia malah berdiri didepan kamar Naruto tanpa melakukan apapun terkesan semacam patung, padahal Minato sudah bilang padanya kalau ia mau masuk yah masuk saja dan kenapa ia malah berdiri didepan pintu kamar anaknya sendiri kayak orang mau minta makan.

CEKLEK!

Kushina menegang saat mendengar suara kunci dibuka, sudah pasti itu Naruto sesaat kemudian nampak Naruto keluar dengan wajah seperti orang habis bangun tidur dan wajahnya nampak kaget sesaat kemudian dia tersenyum.

"Kaa-chan kenapa berdiri disini ? Terus apa-apaan tadi itu teme, suaramu dengan suara Kyuubi-nii menganggu tidurku saja."

Seisi rumah cengo, tentu saja padahal mereka semua tahu Naruto pasti dikamar kayak orang kehilangan gairah hidup tapi mereka kan tidak melihat Naruto ngapain dikamar tapi yang jelas mereka tahulah mana ada orang yang habis di diagnosis punya penyakit parah dengan entengnya bilang kayak Naruto tadi berasa kayak orang yang tidak punya beban sama sekali. Sandiwara Naruto buruk sekali, bahkan keliatan aneh.

"Hah ? Naru, kamu lagi nggak streskan sayang ?"

Pertanyaan apa pula itu kenapa ibunya seperti orang tidak percaya bahwa ia baru bangun tidur padahal sih memang dia nggak tidur sama sekali malah ia merenung banyak hal mulai dari masa kecilnya sampai gurauan Kiba seminggu yang lalu atau mungkin dua minggu yang lalu entahlah Naruto lupa padahal dikamar dia kayak orang yang hidup segan mati tak mau tapi kenapa ia pas keluar kamar dia berasa enteng banget kayak nggak ada beban gitu.

"Apaan sih kaa-chan, norak banget buat apa aku stres, nggak penting banget deh hahaha."

"Maaf yah dobe tapi sekarang keliatan banget tampangmu kayak tampang orang stres."

Bahkan Sasuke sadar dan Naruto mulai merutuki aktingnya yang payah, dia kemudian diam dan memasang ekspresi datar emang mau pakai ekspresi apaan lagi sih mau senyum aja susah apalagi ketawa malah terkesan seperti pemaksaan banget.

"Lupain masalah stres. Aku laper."

Kushina tersenyum geli melihat tingkah Naruto, setidaknya dia tidak perlu khawatir tentang Naruto walaupun dia tahu kalau Naruto pasti uring-uringan nggak jelas dikamarnya itu kemudian dia menuruni tangga rumah mereka dan segera kedapur untuk menghangatkan masakan Sasuke kan sayang kalau dibuang mending dimakan siapa tahu nambah nutrisi buat yang makan.

.

.

Pesawat yang Hinata naiki sudah dengan lancarnya landing di landasan pacu bandara entah kenapa ia mulai mendeksripsikan banyak hal entah apa saja yang ia deksripsikan dia lupa bahkan dia bingung sebenarnya buat apa ia mendeksripsikan sesuatu apa untuk menghilangkan rasa bosannya di pesawat, padahal pesawat udah landing daritadi dia cuma menungguwaktu yang pas untuk keluar.

"Duluan ya."

Hinata menoleh kearah Deidara dan Sasori kemudian dia mengangguk cepat dan kembali mendeksripsikan apa saja yang dapat ia deksripsikan sambil menunggu suasana kabin pesawat cukup sepi baru ia akan keluar.

"Naruto-kun apa kabar yah ?"

.

.

Tiba-tiba Naruto bersin entah kenapa ia merasa semenjak di diagnosis terkena kanker ia malah sering bersin dan ia mulai menyalahkan sistem imunnya yang bekerja tidak baik, padahal sebenarnya sih dia tidak sadar saja bahwa hampir seluruh orang di Konoha dan juga teman-temannya yang ada dimana-mana itu tengah membicarakan dirinya yang terkena kanker.

"Makasih loh Sas, udah mau ngerawat Naruto selama seminggu ini atau mungkin dua minggu belakangan ini maaf juga yah kalau Naru banyak ngerepotin."

Sasuke cuma bisa senyum dia lagi malas ngomong bukannya apa dia males aja kalau Kyuubi malah mulai ngelantur nggak jelas kayak tadi pas bangunin Sasuke dengan kalimat anehnya itu. Sementara Naruto ia malah tanpa ekspresi menatap Sasuke dan membuat Sasuke pengen nabok mukanya atau mungkin sekarang ia dan Naruto tukar jiwa karena daritadi Sasuke merasa kalau dia itu cerewet banget mirip Naruto malahan terus Naruto diam dan kalem malah terkesan datar sama kayak Sasuke.

"Hati dijalan ya beb."

Naruto menatap Kyuubi dengan ekspresi yang sulit diartikan dan Kyuubi ia cuma senyum nggak jelas pas ditatap sama Naruto dan membuat Naruto berpikiran kalau kakaknya agak sedikit gila karena senyum pas ditatap Naruto dengan ekspresi yang Naruto sendiri juga nggak tahu dia berekspresi kayak gimana. Sementara Sasuke menatap Kyuubi tajam entah berapa kali dua orang ini bertatapan (mesra) seperti itu.

"Apaan tuh, bisa nggak kalo ngomong nggak usah bermakna ambigu gitu ?"

"Ambigu apaan sih sa—

"Kaa-san, tou-san pulang dulu yah. Dobe jangan lupa banyak makan biar nggak sakit, woy Menma besok-bseok tanding main basket yuk. Aku mau pulang nih bye."

—yang."

Sasuke buruan ngacir sebelum kalimat nggak mengenakan Kyuubi selesai dan Kyuubi cuma cengo karena masih kepengen ngejahilin Sasuke lagi, Kyuubi masih normal tentu saja kalo nggak mana mungkin kemarin dia nembak cewek pake lilin-lilin ditepi kolam renang dan pas ditanya sama Naruto perihal siapa pacarnya, Kyuubi cuma bilang dia nggak bakalan kasi tau nama pacarnya sebelum tuh cewek dia ajak kerumah.

"Terus, pacar Kyuubi-nii mau diapain ? Buat aku aja yah."

"Hah ? Enak aja!"

Dan Menma cuma mengerucutkan bibirnya dan buru-buru dia masuk kerumah dan sekarang diteras rumah mereka menyisakan Naruto dan Kyuubi karena Kushina dan Minato udah masuk kedalem rumah katanya sih mau beres-beres rumah.

"Jadi ? Kyuubi-nii nggak kuliah."

Kyuubi menggelengkan kepalanya kemudian dia nampak menghela napas karena pertanyaan sang adik terlalu rumit buatnya bukan Kyuubi bodoh atau oon atau idiot atau sebangsanya lah tapi Kyuubi bingung mau jawab apa masak ia jawab iya padahal dia kan belum tentu juga nggak kuliah terus kalau mau jawab tidak Kyuubi aja masih belum daftar sama sekali, bahkan nyentuh formulir pendaftaran aja belum untung waktu pendaftaran masih lama, jadi option yang tepat adalah cuma geleng-geleng kepala entah Naruto ngerti maksudnya atau nggak.

Bodoh ah, mau ngerti enggaknya urursan Naruto.

.

.

Konoha Airport penuh dan sesak, seperti biasa dan Neji cuma bisa menghela napas pasrah menunggu adiknya keluar dari bandara dan dia nggak tahu sekarang ia ada dimana yang jelas dia udah nunggu, urusan ketemu nggak ketemunya itu belakangan. Saat tengah asyik mikirin sesuatu entah apalah itu tiba-tiba saja Neji mendengar suara panggilan dari adiknya.

"Neji-nii!"

Neji kemudian mencari sumber suara dan setelah menemukan orang yang ia cari, ia pun segera bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum manis kearah Hinata dan membuat beberapa wanita yang ada disana cuma bisa terpesona sama senyuman Neji.

"Neji-nii udah dengar kabar belum ?"

Neji hanya menggelek membuat Hinata mengerang kecewa entah kabar apa Neji kurang tahu karena ia nggak punya waktu untuk mendengar gosip atau apapun itu.

"Kabar apa sih ?"

"Kabar tentang Naruto."

TBC


Hai minna-san, akhirnya bisa publish juga dan makasih yang udah review. Entah perasaan ku atau dichapter ini semuanya gaje mana Sasukenya OOC lagi, humornya juga aneh pula padahal dichpater ini aku mau full humor gitu biar kalian nggak bosan juga sama adegan yang sedih-sedih. Jangan lupa review yah *menghilang*