Six Month to Alive

Disclaimer: Naruto punya om Masashi saya cuma minjam karakternya

Story: Aki no Shimotsuki

Genre: Hurt/Comfort, Romance

Pairing: NaruHina slight SasuSaku

Warning: AU, gaje, OOC, typo, romance gagal dan death chara

Happy Reading

Neji menghela napas saat Hinata menanyakan perihal Naruto, tentu saja ia tahu perihal penyakit adik dari sahabatnya Kyuubi itu, bahkan Neji berani bertaruh Kyuubi mulai membandingkan kejadian adiknya ini dengan kejadian tiga tahun yang lalu lebih tepatnya kejadian tentang orang itu

"Tentu saja, hampir semua orang membicarakan perihal Naruto untung saja media massa tidak tahu tentang penyakit Naruto kalau sampai tahu mungkin tidak hanya seisi Konoha saja yang bakal tahu tapi seluruh dunia akan tahu apalagi fans-fans Naruto yang ada diluar negeri sana."

Hinata mengangguk, ia paham akan hal itu Naruto cukup terkenal ralat sangat terkenal berkat menang berbagai penghargaan dibidang menulis ia jadi mempunyai banyak fans.

.

.

.

Sasuke berjalan menyusuri kompleks perumahan Uchiha terlihat beberapa anak nampak bermain disana, namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang tepat berdiri dihadapannya, tatapan yang sama seperti saat orang itu tiada.

"Lama tidak berjumpa Sasuke."

"Hn."

"Wah, kau berubah jadi pria yang dingin Sasuke. Padahal kau dulu berandalan, kau bahkan hampir membunuh ayahmu karena kelakuanmu itu atau setidaknya sudah ada korban gara-gara kelakuanmu itu."

Seolah tak peduli dengan arah pembicaraan orang didepannya Sasuke kemudian melenggang pergi tanpa mengatakan apapun, membuat orang didepannya kesal.

"Oh. Sasuke Uchiha berubah menjadi pengecut ?"

Sasuke berbalik kemudian ia menatap dengan tatapan membunuh dan seolah-olah Sasuke ingin memakan orang itu.

"Kau diam, Shisui!"

Shisui tersenyum, senyuman sinis tepatnya ia menatap Sasuke lama-lama kemudian entah kenapa dia mendekat kearah Sasuke dan sekarang jarak mereka tidak kurang dari 1 cm menyisakan sedikit celah diantara mereka berdua.

"Kau mau aku diam seperti apa Sasuke ? Tapi kalau dipikir lagi mungkin kau mau aku diam untuk selama-lamanya kan ? Sama seperti orang itu."

.

.

.

Makan malam di keluarga Namikaze sangatlah tenang, biasanya setiap makan malam Menma ataupun Naruto berebut makanan atau Kushina yang memarahi Kyuubi yang sering memilih-milih makanan, tapi saat ini tidak ada keributan diantara mereka yang terdengar saat ini hanya bunyi dentingan sendok yang beradu dengan piring. Minato merasa makan malam kali ini hampa tak terasa apapun mungkin ini efek dari penyakit Naruto.

"Aku ke kamar dulu."

"Tunggu dulu Naruto, kita harus bicara."

Disinilah Naruto, diruang keluarga dan dia tengah menatap datar kearah ayahnya seolah-olah ia tak ingin memberi penjelasan kepada Minato tentang apapun semuanya sudah jelas, dia sekarang anak penyakitan dan tengah sekarat dan menunggu maut datang menjemputnya, miris bukan ?

"Malam ini, kita jalan-jalan ke pasar malam."

Naruto langsung membelalakan matanya, ia kaget karena perkataan dari mulut ayahnya tak sesuai dengan apa yang ia pikirkan bahkan melenceng sangat jauh. Membuatnya harus berpikir ulang untuk menebak apa yang akan ayahnya bicarakan.

.

.

Sasuke menghela napas bosan, ratusan kali ia mendengar cerita spektakuler Shisui dari mulut kakeknya dan pada akhirnya ia akan membandingkan semua cucu-cucunya dengan Shisui, entah sudah berapa puluh ribu petuah yang disampaikan kakeknya kepada setiap cucunya untuk mencontoh Shisui, tapi bagi Sasuke petuah itu hanya masuk telinga kiri dan keluar ditelinga kanan.

"Anggap saja kita lagi kena siraman rohani gratis."

"Kau saja yang berpikiran begitu, Obito. Aku sih ogah."

Obito terkekeh, kemudian dia menghela napas bosan sama seperti Sasuke bayangkan saja mendengarkan Madara berceramah sama saja mendengarkan seniornya di Kepolisian memberinya semacam bimbingan rohani agar ia siap mental ketika bertugas dan bagi Obito hal semacam itu tak perlu karena hasilnya sama saja, siap ataupun tidak siap itu adalah resiko dari pekerjaan yang telah ditekuninya, sama seperti petuah Madara hasilnya akan sama saja mau cucunya mengikuti Shisui ataupun tidak itu adalah jalan yang telah mereka pilih lagipula siapa yang mau dibandingkan dengan orang seperti Shisui.

"Kalau dipikir lagi, Shisui itu jenius dan hanya kakek orang bodoh yang mau membandingkan cucunya dengan orang jenius macam Shisui."

.

.

Naruto langsung tahu niat busuk ayahnya ketika ia menyadari sekarang mereka sedang berada ditempat parkir rumah sakit Konoha, ia akan mengutuk Kyuubi karena telah memberinya kloroform ketika ia ingin membuka pintu mobil bahkan daritadi yang ada dibayangannya ia seperti korban adegan penculikan di film action tentang agen rahasia dan dia juga membayangkan dirinya akan diselamatkan oleh James Bond tapi kalau dipikir-pikir malah hal itu terkesan menjijikan.

"Jadi, ini yang namanya pasar malam ? Kaa-san juga ngapain harus ngumpet di belakang sana."

Kushina keluar dengan cengiran tidak jelas, nampaknya ia menyadari potensi anaknya yang suatu hari nanti bakal jadi polisi. Ia bahkan dengan cepatnya membayangkan Naruto berpakaian dinas polisi dengan wajah tampan dan terkenal dimana-mana.

"Apa yang sebenarnya kaa-san pikirkan sih ? Kau seperti ingin menelanku hidup-hidup saja deh."

.

.

Hinata tengah asyik bermain Clash of Clans di I-Pad milik Neji, ia menghiraukan Neji yang tengah menatap nanar I-Pad miliknya yang jadi korban keganasan Hinata yang dengan gilanya menyentuh layarnya sekuat mungkin. Sementara Hinata hanya berteriak penuh kemenangan ketika ia berhasil mengalahkan lawannya bahkan dia sempat ingin membanting I-Pad milik Neji namun sepertinya Neji langsung merebut harta kesayangannya itu dari tangan Hinata.

"Jangan sekali-kali kau banting tanpa ini aku bisa mati bosan di kantor."

"Kau kan bisa beli yang baru, Neji-nii."

Neji langsung menjitak kepala adiknya itu dan terdengar Hinata berteriak karena jitakan maut Neji, Neji langsung bergegas pergi mengamankan kepala serta mengamankan hartanya yang berharga itu dari tangan maut Hinata, namun sebelum ia benar-benar pergi dari kamar Hinata ia bisa mendengar gumaman Hinata.

"Semoga Naruto-kun nggak punya niatan untuk bunuh diri."

.

.

Untuk kesekian kalinya, Naruto duduk diruangan Kabuto yang nyaman dan sekali lagi dia melihat tetangga disebelah rumahnya ini mengenakan pakaian dokternya. Naruto pernah mendengar cerita dari Kyuubi kalau Kabuto ini jenius dan di rumahnya tidak terhitung lagi medali,piagam penghargaan serta sertifikat yang ia dapatkan dari memenangkan Olimpiade Sains Internasional selain itu Kyuubi juga mengatakan kalau Kabuto itu seumuran dengan Kyuubi sayangnya Naruto tidak percaya hal itu karena Kyuubi itu tipikal orang yang sulit untuk dipercaya dengan berbagai alasan.

"Bagaimana Naruto, kau setuju tidak ?"

"Heh ? Apa ?"

"Astaga, jadi kau tidak mendengarkannya daritadi apa sih yang kau pikirkan ? Kami menyetujui tentang kau yang akan dikemoterapi, kau setuju tidak!"

"Aku sih ngikut aja."

Memang aku peduli,mau dikemotrapi , mau disuntik, mau dioperasi juga seterah. Hasilnya sama aja ujung-ujungnya aku bakalan mati.

.

.

Sasuke tiba-tiba tersadar dengan rasa pening luar biasa yang menyerang kepalanya, dia baru ingat kalau semalam sehabis pulang dari acara keluarga yang konyol itu kepalanya berasa ditimpa beban beribu-ribu ton membuatnya sulit untuk membuka matanya bahkan ia tak sempat ganti baju dan juga mengecek apakah ada tugas atau tidak. Tanpa banyak basa-basi ia segera mandi dan setelah itu berpakaian mungkin ia akan sarapan di sekolah, ia harus segera sampai di sekolah dengan alasan bahwa ketika Shisui pulang ke Jepang pasti Shisui bakalan jogging disekitar komplek dan akan pulang kerumahnya tepat jam 06.30 dan sialnya biasanya Sasuke akan ketemu orang paling menyebalkan itu ketika ia berangkat sekolah di jam segitu dan untuk menghindari beberapa insiden kecil seperti kemarin maka seorang Sasuke Uchiha dengan inisiatifnya sendiri berangkat sebelum jam 06.30. Setelah Sasuke membereskan beberapa perlengkapan sekolah ia segera keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan untuk berpamitan dengan orang tuanya tapi sepertinya usaha Sasuke bakalan sia-sia untuk menghindari Shisui pagi ini karena lelaki itu sudah duduk di meja makan dengan wajah yang ceria dan tengah mengobrol santai dengan kedua orang tuanya.

Apa yang dilakukan si bodoh itu disini ?

"Good morning, Sasuke-kun. Apa kau mau sarapan ayo duduk di sampingku ?"

"Aku pergi dulu."

.

.

Naruto terbangun lebih pagi dari biasanya dan dia sudah siap untuk berangkat sekolah, sebelum berangkat ia harus sarapan serta minum obat yang telah diberikan oleh Kabuto kalau saja ia boleh memilih ia lebih memilih berangkat langsung ke sekolah daripada harus sarapan serta minum obat, bahkan ia lebih memilih berada di kamarnya tanpa melakukan apapun daripada harus pergi ke sekolah dengan wajah seperti orang yang kehilangan harapan hidup, tapi itu kenyataannya, ia memang sudah kehilangan harapan untuk hidup.

"Yo, morning dobe."

"Teme?!"

Naruto cukup terkejut ketika ia melihat Sasuke yang berada dirumahnya dengan wajah berseri-seri dan hal itu cukup menakutkan mengingat Sasuke selalu datang dengan wajah datar biarpun suasana hatinya sedang bahagia sekalipun.

"Kau kesurupan yah, Teme ?"

.

.

.

Hinata menatap dirinya dicermin dan tersenyum layaknya orang gila kemudian memuji dirinya sendiri, membuat Neji yang tengah duduk dikasur menggeleng kepalanya melihat tingkah adiknya itu, saat ini ia tengah mengecek surat-menyurat yang harus dibawa Hinata untuk dokumen kepindahannya ke Konoha Internasional High School, seharusnya dokumen seperti itu sudah diurus sejak lama namun mengingat Hinata itu pelupa plus pemalas jadi dokumen itu belum terkirim sampai ia benar-benar pulang ke Konoha, untungnya Neji kenal dengan kepala yayasan Konoha Internasional High School jadi dokumen itu bisa diurus belakangan.

"Kau itu mabuk yah ? Daritadi senyum sendiri habis itu memuji dirimu sendiri."

"Hahaha, aku hanya nggak sabar saja Neji-nii."

"OH! Kau nggak sabaran banget mau ketemu Naruto yah ?"

BLUSH!

Hinata langsung blushing ketika mendengar pertanyaan dari kakaknya ia segera meninggalkan cermin yang mungkin saja hampir pecah itu, ia segera mengambil tasnya dan segera keluar dari kamarnya untuk sarapan.

"Neji-nii cepetan dong, nanti telat lagi."

.

.

.

Suasana kelas X B pagi ini seperti biasanya, liar dan tak terkendalikan hal itu wajar sih mengingat semua biang keonaran ada disini ditambah lagi saat ini guru mereka sama sekali belum datang atau lebih tepatnya Dia tersesat di jalan yang bernama kehidupan. Naruto hanya dapat melamun sambil mencoret-coret bukunya kalau dipikir-pikir lagi dia sepertinya bertukar jiwa dengan Sasuke, karena pagi ini Sasuke jauh lebih berisik dan ia jauh lebih banyak diam. Membuat Sakura yang duduk dibelakangnya hanya dapat cengo tapi sepertinya hal itu wajar sih mengingat kondisi Naruto sekarang yang mungkin saja sudah tidak punya niatan untuk hidup. Sakura menghela napasnya kemudian ia hendak berbicara dengan dua orang didepannya tapi tiba-tiba saja kelasnya mendadak sunyi senyap dan ia baru menyadari bahwa wali kelasnya itu baru saja memasuki kelas.

"Pagi anak-anak, sekarang kalian mendapat teman baru dikelas ini. Silahkan kamu perkenalkan dirimu."

Hinata mengangguk sesaat kemudian dia menatap teman sekelasnya cukup lama, ia memang tidak asing dengan beberapa wajah di kelas ini tapi tetap saja ia merasa malu ketika ditatap sebegitu intensnya dengan teman sekelasnya itu.

"Hyuuga-san ?"

"Eh?! Maaf sensei. Watashi no namae wa Hyuuga Hinata-desu. Yoroshiku onegai shimasu."

Hinata langsung membungkuk, ia agak sedikit canggung ketika membungkukkan badannya mungkin efek tinggal diluar negeri karena mereka tidak perlu membungkukan badan saat memperkenalkan diri dikelas dan ditambah lagi teman sekelasnya yang baru menatapnya dengan berbagai macam pandangan membuatnya menjadi lebih canggung lagi.

"Baiklah, kau duduk di sebelah Haruno."

Hinata segera menuju bangku yang dimaksud Kakashi, karena ia juga cukup mengenal Sakura jadi dia tidak perlu memperkenalkan diri ke Sakura apalagi merasa canggung. Sementara itu guru yang juga wali kelasnya itu yang diketahui bernama Hatake Kakashi mulai membuka sesi belajar mengajar tapi sebelum itu ia nampaknya akan memberitahukan pengumuman penting.

"Baiklah anak-anak, sebentar lagi sekolah kita akan mengadakan sebuah event tahunan yang dikenal dengan piala OSIS. Karena itu dengan sangat terpaksa kalian akan bebas belajar sampai event ini berakhir. Dan yang untuk jadi panitia, bekerjalah dengan semaksimal mungkin kudengar kepala yayasan akan hadir untuk meninjau event ini."

Terdengar jeritan bahagia dari murid-murid kelas X B setelah mendengar pengumuman itu membuat Kakashi menatap malas kearah murid-muridnya itu, terkadang ia berpikir kalau murid-muridnya ini sepertinya overdosis akan nutrisi jadinya mereka terlihat begitu liar dan tidak pernah lelah kalau dalam urusan membuat onar.

"Baiklah bisakah kita melanjutkan pelajaran kita. Sekarang buka halaman 68, kita akan belajar tentang gerak parabola."

Terdengar desahan dari para siswa mereka sepertinya kecewa bahwa mereka akan melanjutkan pelajaran seperti biasanya lagi. Mereka berharap akan ada pengumuman lain tapi sepertinya tidak akan ada pengumuman lainnya dan mereka harus melanjutkan pelajaran fisika yang menurut mereka membosankan itu.

.

.

Bel istirahat telah berbunyi, Kakashi segera mengakhiri pelajaran dan segera keluar dari kelas X B, beberapa murid nampak menuju ke kantin, begitu juga dengan Kiba ia bermaksud ingin mengajak Sasuke dan Naruto untuk makan bersama di kantin dan juga ia ingin meminta maaf atas candaannya yang keterlaluan tempo hari ke Naruto.

"Hoy Nar, Sas. Kantin yuk."

Tidak ada jawaban dari dua orang yang diajak tersebut, biasanya Naruto dengan semangat 45 akan menerima ajakan Kiba, namun kali ini berbeda Naruto sama sekali tak menjawab ajakan Kiba dan tetap diam di kursinya. Sampai ia berdiri dari kursinya dan segera pergi keluar Kiba berencana menyusulnya namun ia segera dihadang Sasuke, membuat Kiba mengerti bahwa kehadirannya tidak membawa dampak yang baik bagi Naruto. Beberapa saat kemudian Hinata berdiri dan segera berlalu meninggalkan Kiba, Sasuke dan juga Sakura.

"Hinata-chan kau mau kemana ?"

"Jalan-jalan sebentar."

.

.

Cukup mengerikan bagi orang-orang yang mengenal Naruto melihat anak itu berjalan bagaikan mayat hidup. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan remaja berambut blonde itu tapi yang jelas mereka tahu bahwa Naruto tidak bisa diusik untuk saat ini, bahkan mereka yang daritadi sudah berada diatap sekolah menikmati waktu istirahat segera pergi ketika tahu Naruto datang, biasanya mereka tetap akan ada disana dan mengabaikan Naruto tapi aura yang dipancarkan Naruto kali ini meminta mereka untuk menyingkir. Naruto memejamkan matanya sejenak merasakan angin yang menyapu lembut wajahnya, namun sepertinya ketenangannya terusik oleh seseorang ia segera bangkit dan kemudian mendapati Hinata anak baru dikelasnya tengah berdiri menatap dirinya. Angin yang semula berhembus dengan lembut berubah jadi sedikit kencang menerbangkan beberapa daun serta membuat rambut Hinata melayang kesana kemari mengikuti angin tersebut, membuat dia harus menahan rambutnya dengan tangannya. Hinata menghembuskan napasnya kemudian menjepit rambutnya agar tidak terbang tertiup angin.

"Sudah lama sekali ya, Naruto-kun. Sejak terakhir kali kita bertemu."

Manik biru langit milik Naruto menatap manik indigo milik Hinata tajam, seingatnya ia tidak pernah bertemu dengan Hinata, tapi kenapa gadis itu seperti mengenalnya cukup lama. Kemudian lagi-lagi angin berhembus sedikit kencang, namun angin ini merupakan tanda bagi Hinata maupun Naruto. Tanda awal dari kisah mereka berdua dan tanda yang akan mengubah Naruto sedikit demi sedikit dari pemuda yang awalnya pesimis berubah kembali menjadi optimis.

.

.

TBC


Gomen minna-san karena telat updatenya, beberapa bulan ini udah mulai disibukkan sama try out, uas dan un. Untungnya udah selesai sih, cuma tinggal ngecek buku pinjaman dari sekolah yang belum di kembalikan sama belajar buat ikut tes masuk ptn atau sbmptn. Sekali lagi mohon maaf yah atas keterlambatan updatenya yang kayaknya udah telat banget dan juga terima kasih atas review dari kalian semua. Sekian :)