Six Month to Alive
Disclaimer: Naruto punya om Masashi saya Cuma minjam karakternya
Story: Aki no Shimotsuki
Genre: Hurt/Comfort, Romance
Pairing: NaruHina slight SasuSaku
Warning: AU, gaje, OOC, typo, romance gagal dan deatch chara
Happy Reading
"Apa aku mengenalmu ?!"
Desisan naruto cukup terdengar oleh Hinata, membuat gadis bersurai indigo itu menghela napas panjang, pertanda ia ingin mengingatkan Naruto tentang pertemuan pertama mereka.
"Ya, dulu. Ketika kita dulu satu sekolah ketika SD."
Naruto mendengus, tentu saja ia tidak ingat. Ia bahkan lupa siapa temannya ketika SD, kecuali Sasuke dan Sakura karena mereka sejak TK bahkan sudah saling kenal. Ia kemudian pergi dari tempatnya berdiri meninggalkan Hinata, namun Hinata menahan lengan pemuda blonde itu.
"Kau tidak ingat ? Kau dulu yang mengenalkanku pada Sakura-chan. Kita sebangku waktu SD."
"Maaf, Hyuuga-san. Aku lupa dan sebenarnya aku tidak peduli kalaupun aku ingat."
Naruto melepaskan tangan Hinata dengan kasar kemudian dia segera meninggalkan atap sekolah, meninggalkan Hinata yang tertegun akan perkataan Naruto tadi.
.
.
Naruto segera turun dari atap dan menuju ke kelas namun ketika ia turun ada Shikamaru yang menunggunya di salah satu anak tangga.
"Aku dengar apa yang kau ucapkan pada Hinata."
"Bukan urusanmu!"
"Yah, memang bukan urusanku, tapi Naruto yang akan kubahas ini adalah urusanku."
"Cepat katakan aku mau pergi!"
Shikamaru menghela napas panjang, ia tak tahu harus mulai darimana, mungkin meminta maaf atas kejadian kemarin, kejadian tentang gurauan yang ia ciptakan bersama Kiba kemarin ketika menjenguk Naruto dirumahnya.
"Pertama, aku minta maaf atas gurauanku dan Kiba waktu itu."
"Hn. Terus ? Hanya itu ? Tenang saja aku mengerti kalian hanya bercanda. Sudah selesai ? Aku mau pergi dulu. Permisi."
"Belum selesai bodoh."
Shikamaru langsung menghadang Naruto dengan kakinya agar pemuda blonde itu tetap diam ditempatnya sampai ia selesai bicara.
"Tck! Ini sungguh merepotkan tahu."
"Kalau merepotkan kenapa kau hadang aku, idiot."
"Karena ini penting, bodoh."
Naruto menghela napas, dia menatap Shikamaru kemudian Shikamaru balik menatapnya, sungguh ini konyol kalau dipikir-pikir lagi. Dia seperti pasangan yang habis putus dari pacarnya dan gilanya lagi kekasihnya itu Shikamaru, dan dengan segera Naruto menghapus imajinasinya itu. Karena itu amat sangat menjijikan, menurutnya.
"Kau tidak usah jadi panitia lagi, nanti aku ganti dengan seseorang."
"Hah ? Siapa yang nyuruh ?!"
"Aku! Aku ini ketua panitia Naruto, aku berhak menentukan kau layak jadi panitia lagi atau nggak."
Naruto mendengus kesal, dia benci dikasihani orang karena penyakitnya ini, dia masih mampu kok, Shikamaru memang berhak, tapi dia lebih berhak karena dia ditunjuk karena kinerjanya dan Naruto tidak mau semua yang ia kerjakan berbulan-bulan ini sia-sia.
"Kau tahu Shikamaru, aku nggak mau kerja kerasku selama berbulan-bulan ini sia-sia dan digantikan dengan orang lain."
"Tapi kondisi—
"—aku yang tahu kondisi tubuhku sendiri. Dan kau tahu, aku benci dikashiani."
Shikamaru mulai merasa ini seperti sinetron atau telenovela, dia tahu Naruto pasti akan menolak dan dengan terpaksa Shikamaru harus menyingkir dari tempatnya berdiri, namun sepertinya pemuda berambut nanas ini tidak mau kehilangan akal, dengan teriakan yang cukup keras dia membuat Naruto terkejut.
"Aku akan mencarikan orang yang akan membantumu!"
.
.
Naruto sepanjang hari menatap malas kearah papan tulis, sementara Hinata hanya diam dia masih memikirkan ucapan Naruto tadi siang diatap, sementara Sasuke dia cuma dapat terdiam melihat tingkah Naruto.
"Jadi, Jepang satu-satrunya Negara Asia yang menjajah Negara Asia lainnya, itu karena Jepang merasa orang yang memiliki kulit berwarna dapat sejajar dengan orang kulit putih." Asuma menjelaskan dengan suara yang lantang dengan maksud agar semua muridnya tidak berada ditempat lain.
Naruto mengacungkan jarinya, bermaksud ingin izin keluar namun sepertinya Asuma telah salah sangka duluan, sambil tersenyum dia menghampiri Naruto.
"Ya, Naruto. Apa pertanyaanmu ?"
"Ano—Asuma-sensei—saya mau izin ke toilet."
.
.
Hari sudah cukup sore, pelajaran terakhir sudah berakhir sejak sejam yang lalu. Beberapa murid masih di sekolah untuk kegiatan ekstrakulikuler dan sisanya berada di ruang OSIS untuk rapat mengenai Piala OSIS.
"Baiklah, aku mau laporan per divisi."
Beberapa divisi melaporkan, keadaan mereka seperti Sakura yang menjadi personal in charge di bagian lomba Judo atau Sasuke yang melaporkan pencarian dana atau Ino yang mempermasalahkan sulitnya mencari vendor untuk makanan panitia, sampai akhirnya laporan terakhir di tutup oleh divisi yang dipegang Naruto.
"Tidak ada kendala, semua baik-baik saja."
Aura dingin yang diciptakan Naruto membuat beberapa orang bergeridik ngerim pasalnya Naruto tidak pernah mengeluarkan aura seperti itu.
"Kalau Kiba, sebagai anggota yang sedivisi dengan Naruto, apa ada kendala ?"
"Kalau itu—kami hanya kekurangan tenaga saja."
Naruto menatap tajam Kiba, sementara Kiba berpura-pura mengalihkan pandangannya kearah lain wajah Kiba kali ini nampak pucat pasi.
"Baiklah, kita akan menambah satu orang lagi, sekian rapat kali ini. Selamat sore."
Sakura menghela napas panjang, setelah rapat dia harus segera ke gedung olahraga untuk berlatih judo, namun matanya menangkap sesosok rambut indigo yang tengah duduk dikursi panjang yang disediakan pihak sekolah di sepanjang koridor.
"Hinata-chan ?" Sapa Sakura ramah, dia memutuskan duduk sebentar disebelah teman sewaktu SD-nya itu.
"Sakura-chan, kau sudah selesai latihan judonya ?"
"Belum, aku ada rapat buat piala osis sebentar. Lagian kakak sepupuku masih sibuk jadi dia belum menjemputku juga."
Hinata hanya dapat tersenyum kemudian dia kembali melamun, dia kepikiran kata-kata Naruto tadi siang, entah kenapa hatinya jadi remuk mendengar kata-kata Naruto tadi.
"Hinata-chan, kalau kau sedih ceritalah padaku, aku selalu ada untukmu."
Hati Hinata menghangat saat mendengar kata-kata Sakura, sudah lama tidak ada yang ia ajak untuk curhat, selama di Amerika teman-temannya selalu bersikap apatis sehingga sulit untuk Hinata bersosialisasi disana ditambah sifatnya yang pemalu.
"Yo, Sakura."
Sakura menoleh sebentar, didapatinya Kakashi yang tengah melambai padanya dan ia membalas melambai kepada Kakashi.
"Ah, Konichiwa Kakashi-sensei."
"Ah, tak perlu seformal itu Hyuuga, panggil aku Kakashi-nii saja. Kau sedang menunggu Neji bukan ?"
Hinata terkejut mendengar Kakashi menyebutkan nama Neji, setaunya Neji tidak pernah menyebutkan Kakashi sebagai temannya selama ini atau mungkin Hinata salah pendengaran.
"Ah—tadi sensei bilang apa, maaf aku tidak mendengar apapun tadi, aku terlalu focus dengan hal lain."
"Aku bertanya, kau sedang menunggu Neji bukan ? Dasar, workaholic sekali dia."
"Iya, sen—ah maksudku Kakashi-nii. Aku sedang menunggu Neji-nii."
.
.
Neji memberhentikan mobilnya tepat didepan KIHS dia keluar dari mobil Pajero Sport miliknya itu, terlihat Hinata baru saja keluar dari gedung sekolah kemudian dia menghampiri Hinata.
"Neji-nii. Baru saja aku akan pulang diantar Kakashi-sensei."
"Hey, sudah kubilang panggil aku Kakashi-nii."
"Gomen."
"Kalau kau coba sentuh Hinata tersayangku, kubunuh kau."
Kakashi tertawa, sementara Sakura menendang kakinya dan Hinata menatap heran Kakashi dan Sakura, kira-kira hubungan mereka berdua apa ? Apa jangan-jangan mereka pacaran ? Begitulah pikiran Hinata.
"Oh, ya Hinata-chan aku duluan yah dan satu hal lagi, aku dan Kakashi-nii itu sepupu."
.
.
Kyuubi menatap layar ponselnya cukup lama, beberapa hari ini ponselnya selalu penuh oleh pesan dari teman-temannya. Mereka mengajak berkumpul kembali, hitung-hitung reunian begitu kata mereka. Kyuubi kemudian membuang ponselnya kearah tempat tidur dan membaringkan dirinya dikasur kesayangannya itu, matanya memejam cukup lama dan tak sadar airmata mengalir dari kedua mata Kyuubi.
"Hey, bodoh. Apa kabarmu disana heh ? Kau tahu, terjadi sesuatu yang sama dengan adikku, ya sama denganmu."
.
.
Alarm berbunyi cukup keras, namun Naruto sama sekali tidak bergeming. Dia malas untuk pergi ke sekolah, mengingatbahwa dia sakit dan harus berada di rumah sakit sampai separuh sisa hidupnya. Optimis ? Tidak dia bukan pemuda yang optimis lagi. Dia hanya seonggok mayat hidup yang siap pergi dari dunia ini kapan saja, namun suara ibunya memanggil dari luarlah yangmampu membuatnya bergerak, dia tak mau ibunya sedih ataupun menangis karena dia, jadi dia memutuskan berberes, kemudian dia segera keluar kamar untuk sarapan. Bau masakan ibunya membuatnya segera turun kebawah dan dilihatnya berbagai hidangan kesukaannya bertumpuk dimeja.
"Naruto-kun, hari ini kaa-san special memasakkan makanan kesukaanmu untuk makan pagi ada ramen, mulai dari ramen yang cup sampai ramen special."
"Naru, kau keren sekali mampu membuat kaa-chan memasakan kita semua ramen. Aku bangga denganmu, kembaranku."
Naruto tertegun, entah kenapa perlakuan ibunya ini, seolah-olah dia besok tidak bernapas lagi, seolah-olah hari ini hari terakhirnya di bumi dan entah kenapa ada perasaan sesak di dadanya mengetahui hal tersebut.
"Maaf bu, aku ada piket pagi jadi aku duluan saja. Jaa."
.
.
Sasuke keluar dari rumahnya pagi ini dengan sangat rapi, berbeda dari biasanya. Biasanya dia akan membiarkan bajunya tidak rapi, namun kali ini dia sangat rapi karena dia harus mengunjungi makam seseorang, dia singgah sebentar membeli sebuket bunga lily kemudian kembali melanjutkan perjalananya.
Pemakaman Besar Uchiha
Sasuke, paling enggan menginjakkan kakinya kesini, dia tak pernah mau kesini dengan berbagai alas an, namun hari ini dia harus kesini, mengunjungi seseorang.
Telah beristirahat dengan anak, kakak serta cucu kami
Itachi Uchiha
"Hey, kau senangkan melihatku menderita. Itachi."
TBC
Hai minna-san, ah sudah lama nggak update. Maklum ada kesibukan di dunia nyata yang tak bisa ditinggalkan sedih. Sejauh ini makasih atas dukungan kalian, author berusaha untuk keep updated walaupun nggak sering, harap maklum lah. Sekali lagi yang udah RnR makasih banyak, sekian bacotan nggak jelas ini. Di tunggu kritik serta sarannya, arigatou :)
