With You
(Long Distance Sequel)
By: Nichan_Jung
Cast: Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu
Other Cast: Find by yourself
Genre: Romance, Fluff
Rate: T
Warning: EYD berantakan, Typo bertebaran
Summary:
Perpisahan itu mengajarkan mereka bagaimana seharusnya sebuah hubungan itu terjalin. Bukan hanya ungkapan-ungkapan cinta dan sentuhan fisik semata, lebih dari itu rasa percaya, kesabaran, kesetiaan, kejujuran dan harapan adalah landasan yang harus selalu dipertahankan. Lalu akhir yang bahagia akan menyertai setiap detik perjalanan hidup keduanya.
= M-W =
Dua tahun sudah berlalu semenjak Wonwoo kembali ke Korea dan menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Seoul. Begitupun dengan Mingyu, hanya saja Mingyu juga tetap bekerja di perusahaan keluarganya. Hitung-hitung untuk pengalaman dan persiapan masa depan.
Hubungan keduanyapun berjalan dengan baik. Meskipun pertengkaran dan perselisihan tetap mewarnai perjalanan kisah kasih mereka, namun lagi-lagi rasa cinta dan kasih sayang menyatukan mereka kembali.
Di tengah kesibukan keduanya, mereka selalu berusaha untuk tetap bertemu setiap harinya. Entah berangkat ke kampus bersama, atau hanya sekedar mengunjungi rumah satu sama lainnya. Baik keluarga Kim maupun keluarga Jeon sudah sangat merestui hubungan anaknya.
Malam ini giliran Wonwoo yang mengunjungi kediaman keluarga Kim. Wonwoo datang sendiri di antar sopirnya. Sebenarnya Wonwoo ingin mengendarai mobilnya sendiri, akan tetapi Nyonya Jeon dan Kim Mingyu bersekongkol untuk melarangnya. Wonwoo sempat mendengus sebal akan sikap protektif keduanya. Seakan mereka lupa jika ia adalah seorang lelaki.
Nyonya dan Tuan Kim tentu saja sangat senang Wonwoo berkunjung. Jika bagi keluarga Jeon sosok Mingyu adalah kesayangan, maka Nyonya Kim memuja Wonwoo. Wanita paruh baya ini bahkan lupa dengan Mingyu jika Wonwoo sudah bersamanya. Begitupun dengan Tuan Kim. Baginya Wonwoo itu adalah menantu terbaik.
"Eomma, Mingyu belum pulangkah?" Wonwoo melangkah ke meja makan dan menuangkan segelas air putih lalu meminumnya.
"Belum sayang, memangnya dia tidak menghubungimu?" Nyonya Kim yang baru saja selesai mencuci buah menghampiri Wonwoo.
"Ponselnya mati. Mungkin kehabisan baterai." Wonwoo menarik sebuah kursi dan menuntun Nyonya Kim untuk duduk di sana. Kemudian ia duduk di kursi lainnya, tepat di samping calon mertua.
"Mungkin saja. Kita tunggu saja, sebentar lagi dia pasti pulang."
"Iya." Wonwoo mengangguk seraya mengamati Nyonya Kim mengupas mangga dan memotongnya kecil-kecil. "Eomma, biarkan aku saja." Pinta Wonwoo saat Ibu Mingyu hendak memotong Melon. Wonwoo meraih pisau dan mulai mengupas dan memotong kecil Melon tersebut.
"Hati-hati sayang."
"Ayolah, ini hanya melon. Aku tidak akan terluka hanya karena ini." Wonwoo mengerujutkan bibirnya. Sang calon mertuanya ini juga kadang posesifnya melebihi ibunya dan Mingyu.
"Woah, lihat siapa yang sedang bekerja di dapur." Tiba-tiba Mingyu datang dari arah belakang Wonwoo dan langsung menggoda lelaki manis manis itu. Bahkan Mingyu dengan santainya mencomot sepotong melon dan memakannya.
"Kau sungguh tidak sopan dan jorok, Kim Mingyu. Harusnya kau mencuci tanganmu dulu." Wonwoo mengomel. Mingyu tidak peduli malah mengecup pipi Wonwoo dan melangkah menuju ke kamarnya. Nyonya Kim hanya tertawa melihat tingkah anaknya.
"Dia benar-benar menyebalkan, eomma." Wonwoo memicingkan matanya.
"Sangat menyebalkan." Balas Nyonya Kim. "Tapi kau mencintainya." Wonwoo tertohok, mau tidak mau dia harus mengakui hal ini. Pipi Wonwoo merona. Nyonya Kim kembali tertawa bahagia.
Acara makan malam berlangsung dengan hangat. Tidak banyak yang mereka bicarakan di meja makan. Hanya obrolan selingan. Sampai akhirnya Mingyu dan Wonwoo pindah ke halaman belakang, menikmati suasana malam ditemani secangkir coklat panas untuk Wonwoo dan Americano untuk Mingyu.
"Sabtu dan minggu depan kau ada acara?"
"Hmm, aku rasa tidak ada. Kenapa Mingyu-ya?" Wonwoo menunggu Mingyu menyeruput kopinya.
"Mau liburan ke Jeju?" Wonwoo terbelalak mendengar ucapan Mingyu.
"Kau serius?"
"Tentu saja. Kapan aku tidak pernah serius dengan mu, Hyung." Mingyu terkekeh. Wonwoo memukul lengannya pelan.
"Bukan itu maksudku. Kau kan sering sibuk belakangan ini, memangnya kau punya waktu buat liburan begitu." Wonwoo menyuarakan protesnya akan jadwal sang pacar.
"Aku bisa meminta ijin kepada appa. Jadi, kita pergi?" Tanya Mingyu kembali.
"Terserah kau saja, aku akan ikut kemanapun kau pergi."
"Aigoo, manis sekali." Mingyu mengusak rambut Wonwoo, gemas. Sementara Wonwoo hanya diam menikmati tangan Mingyu di kepalanya.
"Kita akan berangkat hari Jum'at sore. Oke?"
"Kenapa tidak Sabtu pagi saja? Banyak yang harus ku persiapkan, Mingyu-ya."
"Biar aku saja yang menyiapkan segalanya. Hyung hanya perlu menyiapkan diri saja."
"Eh, mana bisa begitu." Protes Wonwoo.
"Pokoknya semua akan beres." Mingyu menegaskan kepada Wonwoo dan dibalas anggukan kecil. Wonwoo memilih pasrah dan percaya. Lagipula Mingyu memang selalu bisa diandalkan dalam hal apapun.
Malam semakin larut. Mingyu dan Wonwoo sampai lupa waktu. Terlalu asik dengan waktu bersama. Sampai akhirnya Nyonya Kim menghampiri mereka.
"Wonwoo!" Seru Nyonya Kim dengan lembut.
"Oh, Eomma. Iya, kenapa Eomma?" Wonwoo tersenyum menyambut kedatangan Ibu Mingyu.
"Kau menginap saja ya? Eomma sudah menghubungi orang tuamu." Wonwoo mengernyit tidak mengerti. "Ini sudah hampir tengah malam, tidak baik berada di jalanan pada jam-jam segini. Karena itu kau menginap saja." Lanjut Nyonya Kim.
"Ah, baiklah kalau begitu. Aku tidur dimana?" Wonwoo mengerjap ke arah Ibu Mingyu.
"Tentu saja di kamarku, mau dimana lagi." Mingyu menyahut. Sang ibu hanya menggelengkan kepalanya melihat keagresifan sang putra.
"Ya sudah, sana kalian ke kamar saja."
"Baik. Ayo Hyung." Wonwoo mengiyakan ajakan Mingyu.
"Oya, Mingyu-ya!" Keduanya berbalik dan melihat ke arah sang ibu. "Jangan berbuat macam-macam pada Wonwoo yah, kalian belum sah. Hehehe." Sang Ibu terkekeh.
"Sebentar lagi dia juga akan aku halalin kok, eomma." Mingyu tertawa saat Wonwoo memukul lengannya. Sang Ibu pun menimpali dengan derai tawa yang penuh kebahagiaan. Menggoda Wonwoo sudah menjadi kegemaran seluruh anggota keluarga Kim. Pipi merona Wonwoo dan tingkah malu-malunya adalah hiburan terbaik.
= M-W =
Jeju
Wonwoo menatap takjub Toscana Hotel yang berdiri megah di depannya. Hotel bergaya arsitektur Italia ini di lengkapi dengan beberapa pohon palem yang membuat kesan Toscana Village benar-benar terasa. Lokasi hotel yang dikelilingi padang rumput, gunung dan laut ini menjadi pilihan resort yang paling diminati di Jeju belakangan ini. Bukan hanya dari segi arsitektur, lokasi, dan segala macam fasilitas yang disediakan, kekuatan daya tarik lainnya dari hotel ini adalah sang pemiliknya, Kim Junsu. Siapa yang tidak mengenalinya? Seorang artis sukses di Korea Selatan. Dan Wonwoo sangat tahu akan hal ini, bahkan dalam hati Wonwoo berharap semoga ia bisa bertemu dengan Kim Junsu selama menginap di hotelnya ini.
Wonwoo mengedarkan pandangannya. Retinanya menangkap pijaran Lampu-lampu yang berjajar menyinari senja yang semakin menggelap. Meskipun sudah diujung pergantian siang ke malam, namun dapat diketahui jika langit Jeju sangat cerah hari ini, setipis awan jingga bergelayutan manja. Garis-garis lembayung terlukis dengan sangat indah, ditambah rona scarlet yang membuat langit bak kanvas lukisan Sang Pencipta. Indah, hangat, memukau, megah, dan tak terkalahkan. Suasana twilight yang menenangkan hati Wonwoo.
Mingyu dan Wonwoo berjalan ke arah lobi hotel, keduanya di sambut oleh para petugas hotel yang tampan dan ramah. Lagi-lagi Wonwoo merasa terkesima. Ada sebuah tangga semi melingkar dengan aksen tiang-tiang logam berwarna hitam yang berfungsi sebagai tiang penyangga di sekitar tangga. Di samping tangga tersebut, terdapat sebuah karya seni yang sepertinya terbuat dari logam atau dari batu? Wonwoo tidak terlalu mengerti. Benda seni itu berukuran sangat besar, setinggi 2-3 meter dengan bentuk yang unik. Di bagian permukaannya tercetak bentukan-bentukan melengkung ke dalam yang jika di lihat seperti kumpulan setengah lingkaran. Spot ini menjadi tempat dimana para pengunjung mengambil foto di sana, seperti ikon Toscana Hotel. Dalam hatinya Wonwoo berharap semoga Mingyu mengajaknya berfoto di sana.
Seorang petugas hotel membawa Wonwoo dan Mingyu ke sebuah kamar. Begitu memasuki kamar tersebut, Wonwoo langsung tahu jika ini adalah President Suit Room. Wonwoo ternganga. Ini memang pertama kalinya ia memasuki kamar seperti ini, hanya saja sensasi yang muncul berbeda. Mungkin disebabkan oleh laki-laki yang sedang bersamanya ini.
Wonwoo berkeliling. Tempat pertama yang ditujunya adalah balkon dengan pemandangan laut Jeju. Ini malam hari, tetapi jauh di sana ada jutaan bintang yang telihat indah. Sayup-sayup Wonwoo dapat mendengar deburan ombak. Wonwoo merentangkan tangannya, menghirup udara pegunungan yang menyegarkan. Wonwoo memutuskan untuk berada di sana sedikit lebih lama. Melupakan Mingyu yang sibuk membereskan barang bawaan mereka.
Wonwoo bersenandung kecil. Senyuman manis terukir dari bibirnya. Ia menyukai suasana di sini. Menenangkan dan membuatnya nyaman. Sesekali Wonwoo memainkan kepalanya ke kiri dan kekanan, tangannya pun terkadang bergerak-gerak mengikuti gerakan absurdnya.
Saat sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang, Wonwoo hanya terkekeh tanpa memalingkan wajahnya. Mingyu mengecup perpotongan lehernya. Wonwoo menggenggam lengan Mingyu.
"Kau terlihat senang, Hyung."
"Aku sangat senang."
"Benarkah? Kenapa begitu?"
"Tempat ini sangat indah Mingyu-ya. Padahal ini malam hari tapi aku bisa melihat keindahan dan kenyaman di sini. Ah, aku menyukai ini." Wonwoo berceloteh riang. Mingyu tersenyum puas.
"Jadi bukan karena ada aku ya. Ku kira dimanapun akan sama asalkan ada aku." Mingyu berpura-pura bersedih.
"Hey,,, Hentikan itu Kim Mingyu. Kau kekanakan sekali. Hahaha." Wonwoo tertawa. Mingyu semakin mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di bahu Wonwoo. Mereka berdiam diri seperti itu selama beberapa waktu, menikmati momen bersama sang kekasih hati dalam suasana yang tenang.
"Hyung..."
"Heumm."
"Apa kau mencintaiku?" Wonwoo langsung menoleh mendengar pertanyaan Mingyu.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Mingyu menutup matanya.
"Hanya ingin mendengar jawabanmu."
"Kau kan sudah tahu jawabannya." Wonwoo menatap Mingyu di matanya.
"Aku tahu, tapi aku ingin mendengarnya." Mingyu bersikeras namun dengan intonasi yang sangat lembut. Wonwoo paham, Mingyu sedang dalam mode manjanya. Dan yang harus Wonwoo lakukan adalah memasuki permainan Mingyu dan berbaur di dalamnya.
"Bagaimana jika aku bilang tidak?" Mingyu mendelik tidak suka. Wonwoo tertawa.
"Sangat, Kim Mingyu." Wonwoo terdiam, pandangannya semakin intens ke arah Mingyu. "Aku sangat mencintaimu." Lanjut Wonwoo. Sebelah tangannya terangkat menyentuh pipi Mingyu. Hanya meletakkannya di sana. Mingyu terpejam merasakan hangat tangan Wonwoo.
"Entah apa yang akan terjadi padaku jikau kau tidak ada. Tiga tahun berjauhan denganmu mengajarkanku banyak hal. Sungguh, dalam kondisi apapun aku tidak ingin merasakan kesepian dan kerinduan seperti itu lagi." Wonwoo memutar tubuhnya dan memeluk Mingyu. Satu tangannya menepuk-nepuk pelan punggung kokoh Mingyu.
"Tenanglah. Aku disini, aku tidak akan kemana-mana lagi." Mingyu menyerukkan wajahnya semakin dalam, tubuh mereka semakin rapat. Dan Wonwoo memberikan kecupan penenang.
"Aku menyayangimu, Wonwoo."
"Aku tahu. Dan aku juga sangat menyayangimu. Kau tahu itu."
Mingyu yang dalam keadaan manja dan kekanakan adalah sosok Mingyu yang sangat disukai Wonwoo. Karena hanya Wonwoo yang mengetahui sifat ini. Bahkan kedua orang tua Mingyu saja tidak pernah melihat kepribadian lain puteranya. Mingyu terbiasa mandiri semenjak ia kecil. Hanya pada Wonwoolah segala sifat manja dan kekanakannya tertumpah. Dan Wonwoo dengan senang hati akan meladeni semuanya. Ia merasa spesial.
Cahaya bulan menimpa tubuh mereka. Deburan ombak dan nyanyian hewan-hewan malam saling bersahutan. Suhu semakin rendah membuat indera perasa menghantarkan hawa dingin pada sekujur tubuh keduanya. Seolah enggan menantang sang bayu yang berhembus pelan, Wonwoo menarik Mingyu memasuki kamar mereka. Bagaimanapun tubuh keduanya membutuhkan istirahat. Dan sepanjang malam Wonwoo memeluk Mingyu yang bersandar pada dadanya. Wonwoo sedang menjalankan perannya sebagai seorang kekasih sekaligus kakak bagi Mingyu.
= M-W =
Sinar matahari yang menerobos melalui tirai-tirai tipis yang diterbangkan angin menimpa obsidian Mingyu. Perlahan dikumpuokannya semua kesadarannya. Lalu mananya menatap sang kekasih yang masih tertidur pulas. Mingyu masih meraakan tangan kurus Wonwoo memluknya. Secercah senyuman terlukis kala melihat pemandangan indah di depannya ini.
Mingyu bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Lihat saja, bahkan kamar mandinya sja seluas dan sebagus ini. Bathrope, handuk, dan semua keperluan mandi tersedia dan tertata dengan rapi. Sepasang sikat gigi diletakkan di dalam sebuah gelas bening. Bahkan sampai keperluan perawatan kulit seperti body lotion pun disediakan. Lalu juga terdapat bak mandi besar serta ruang shower. Benar-benar kamar yang sesuai dengan harganya.
Bertepatan dengan Mingyu yang keluar dari kamar mandi, suara bel pun terdengar. Mingyu sudah memesankan sarapan untuknya dan Wonwoo. Secangkir kopi arabica untuk Mingyu dan segelas susu vanila untuk Wonwoo, dua potong roti bakar dengan lapisan cream keju, dua potong sosis, telur dadar, sepiring buah potong dan semangkuk salad sayur. Sarapan yang sempurna.
Mingyu meletakkan sarapan mereka di meja yang terletak di dekat jendela ruang tengah. Pemandangan laut terpampang dengan indah. Lalu ia membangunkan Wonwoo.
"Bangunlah." Sebuah ciuman pagi diberikan pada bibir tipis Wonwoo. Sang penerima menggeliat kecil, merasa terusik.
"Ayo bangun, Wonwoo Hyung." Kali ini Mingyu mengelus-elus pipi Wonwoo.
Merasa tidurnya tidak akan bisa dilanjutkan lagi, Wonwoo membuka mata sipitnya. Keadaannya sangat berantakan. Tapi Mingyu menyukainya. Wonwoo terlihat sangat menggemaskan dengan wajah bangun tidurnya.
"Cucilah muka dan gosok gigimu." Mingyu memberikan perintah. Wonwoo meresponnya dengan gelengan kepala.
"Aku malas berdiri dan berjalan." Mingyu terkekeh mendengar rengekan manja itu, terlebih suara bangun tidur Wonwoo yang masih agak serak. Mingyu tidak bisa untuk mengatakan tidak jika Wonwoo meminta sesuatu padanya di saat seperti ini.
"Lantas maumu bagaimana, Hyung?"
"Gendong." Mingyu tergelak. Wonwoo melemparkan bantal kepadanya. Tentu saja meleset.
"Baiklah pangeran, ayo kita bersihkan dirimu." Mingyu menggendong Wonwoo. Wonwoo terkekeh senang, kedua lengannya ditautkan pada leher Mingyu. Kakinya sesekali menendang udara. Dan mereka kembali tertawa bersama.
"Buka mulutmu." Mingyu benar-benar memperlakukan Wonwoo bak pangeran. Ia mencuci muka Wonwoo dan sekarang ia akan menyikat gigi Wonwoo. Tidak ada rasa jijik atau risih sama sekali. Wonwoo tentu saja dengan senang hati menurutinya. Ia terlalu malas untuk bergerak di pagi hari.
"Chaaa... Jeon Wonwoo sudah kembali tampan dan manis." Mingyu baru selesai mengelap wajah Wonwoo dengan handuk.
"Memangnya pernah tidak tampan ataupun tidak manis?" Wonwoo menaikkan sebelah alisnya, menggoda Mingyu.
"Tidak. Kau selalu tampan dan manis untuk Kim Mingyu seorang." Wonwoo tersenyum senang.
"Ayo sarapan." Ajak Mingyu yang diiyakan Wonwoo. Kali ini pun Mingyu kembali menggendong Wonwoo. Dan ia tidak keberatan sama sekali.
= M-W =
Ini hari sabtu. Mingyu dan Wonwoo sudah menginap semalam dan hari Minggu mereka harus kembali ke Seoul.
Saat ini keduanya sedang jalan-jalan. Menikmati liburan mereka ke tempat-tempat favorit di Jeju. Lokasi pertama yang mereka tuju adalah Oedolgae Rock karena lokasi ini masih berada di kota Seougwipo, dimana Hotel Toscana terletak. Batu karang setinggi 20 meter ini terlihat perkasa dan kokoh. Wonwoo teringat drama Daejanggeum yang melakukan pengambilan gambar di lokasi ini. Oedolgae Rock memang sangat bagus.
Lalu mereka juga Seongsang Ilchulbong Peak. Sebenarnya lokasi ini sangat bagus untuk melihat matahari terbit, namun sayang Mingyu dan Wonwoo datang ke sini di saat matahari sudah menuju siang. Mereka lupa merencanakan hal ini dari awal.
"Suatu hari nanti kita harus kembali ke sini dan melihat matahari terbit. Kita melewatkan momen yang sangat menakjubkan, Mingyu." Wonwoo bertekad akan kembali dan Mingyu hanya mengiyakan.
Meskipun demikian, di Seongsang Ilchulbong Peak mereka masih disuguhi dengan hamparan bunga Canola yang berwarna kuning. Luar biasa cantik dan indah. Belum lagi suara deburan ombak dan birunya lautan yang terlihat sejauh mata memandang. Mingyu juga sempat berkuda berputar-putar di sekitar, Wonwoo tidak ingin menaikinya. Terlalu malas katanya. Padahal Mingyu tahu ia hanya ketakutan.
Kedua lelaki tampan ini menghabiskan waktu cukup lama dengan berjalan-jalan santai di Olle Trails, sebuah jalan setapak di pesisir pantai. Di sebelah kiri jalan terdapat hamparan lautan yang biru, sementara bagian kanannya rerumputan tumbuh dengan subur dan terawat. Sangat menyegarkan mata. Mingyu benar-benar menikmati liburannya kali ini.
Destinasi terakhir mereka adalah Pantai Pasir Hitam Samyang. Sebenarnya Mingyu ingin ke Gunung Halla dan Gua Manjang, tetapi hari sudah sangat sore. Pantai ini adalah tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam. Perpaduan warna jingga dengan awan-awan kelabu disertai cahaya oranye matahari membuat pemandangan senja semakin indah.
Wonwoo bersandar pada bahu Mingyu. Mereka duduk di atas pasir tanpa peduli dengan alas duduk. Tangan kekar Mingyu menggenggam jemari Wonwoo.
"Di sini menyenangkan yah, Gyu." Ujar Wonwoo.
"Iya, suasananya menenangkan dan juga indah." Balas Mingyu.
"Aku ingin memiliki rumah di pinggir pantai, dengan atap kaca yang bisa langsung ku gunakan untuk melihat bintang dan merasakan seolah air hujan akan menimpa wajahku. Juga dengan dinding-dinding kaca di beberapa bagian yang menghadap ke laut." Wonwoo berangan-angan, matanya menerawang menatap bintang yang mulai muncul satu persatu.
"Kau ingin kita pindah ke Jeju dan membuat rumah di sini?"
"Tidak perlu pindah ke sini juga kan. Aku tidak ingin berjauhan dengan orang tua kita juga." Angin berhembus membuat wonwoo merapatkan tubuhnya ke Mingyu.
"Jadi kau ingin mempunyai rumah bersamaku, Hyung?" Mingyu menyengir menampakkan taring lucunya.
"Menyebalkan." Wonwoo mencubit lengan Mingyu. Mingyu mengaduh merasakan nyeri di tempat yang dicubit Wonwoo.
"Kita akan segera memilikinya, Hyung. Bersabarlah sedikit lagi." Mingyu mengecup puncak kepala Wonwoo.
"Hmmm." Wonwoo hanya membalas dengan gumaman.
Suasana senja semakin menggelap. Guratan cahaya perlahan memudar.
"Hyung..." Panggil Mingyu dengan lirih. Wonwoo terkesiap dan mendongak ke arah Mingyu.
"Eummhh..." Mingyu mencium bibir Wonwoo dengan tiba-tiba, Wonwoo yang tidak siap spontan mengeluarkan desahannya. Mingyu mengecap bibir Wonwoo dengan lembut tapi juga menuntut. Mereka terus saling melumat. Beberapa detik kemudian bibir keduanya membentuk celah dipis, cukup untuk aliran udara yang perlu mereka hirup.
Mata keduanya saling menatap. Perlahan pandangan Mingyu turun ke arah bibir Wonwoo dan Wonwoo menatap penuh gairah pada bibir Mingyu.
Mingyu menarik pinggang Wonwoo sehingga kini Wonwoo terduduk di pangkuannya. Kedua bilah bibir tersebut kembali bertemu. Kali ini nafsu terlihat jelas dari lumatan-lumatan yang mereka berikan. Keduanya ingin mendominasi meski pada akhirnya tetap Mingyulah pengendalinya.
"Eunghhh" Desahan nikmat kembali keluar diantara cipakan saliva keduanya. Tangan Wonwoo meremas rambut Mingyu dengan sensual. Sementara Mingyu sudah melilit lidah Wonwoo dengan penuh gairah. Lidah mereka berperang dan saliva pun menyatu.
Keduanya terngah-engah. Rambut Mingyu sudah berantakan dan bibir Wonwoo membengkak. Lelehan saliva di sudut bibir tersapu oleh jempol masing-masing. Mingyu tersenyum puas, begitupun dengan Wonwoo.
"Terima kasih, sayang." Mingyu memberikan sebuah kecupan kasih sayang pad kening Wonwoo.
"Eumm." Jawab Wonwoo.
"Ayo pulang, akan ada kejutan lain untukmu."
"Apa? Katakan padaku."
"Tidak, karena ini kejutan."
"Kau menyebalkan Kim."
"Aku juga mencintaimu."
"Aku membencimu."
"Tapi kau mencintaiku."
"Menyebalkan."
Mereka meninggalkan pantai indah itu dengan sebuah memori manis. Sebuah kedekatan yang intim dan hangat.
= M-W =
Mingyu dan Wonwoo baru saja selesai makan malam. Wonwoo berada di ruang tengah sedang membaca sebuah bukul, lebih tepatnya sebuah novel. Wonwoo sangat menyukai buku. Kemanapun ia pergi pasti ia akan membawa satu atau dua buah buku. Jika sudah dalam mode membaca, Wonwoo bisa sangat diam dan berkonsentrasi. Seolah ia menyatu dengan isi dari buku tersebut.
Tiba-tiba suara musik klasik bernadakan instrumen piano bergema di penjuru kamar. Mingyu pelakunya, ia meminta sebuah pemutar piringan hitam kepada petugas hotel. Kamar yang mereka tempati saat ini dilengkapi dengan fasilitas kedap suara, jadi Mingyu tidak khawatir akan mengganggu tamu lainnya.
"Hyung..." Panggil Mingyu. Wonwoo hanya membalas dengan gumaman.
"Hyung, lihatlah kemari. Hentikan membacamu."
"Ah, ada apa? Kau menggangguku, Kim." Mingyu cengengesan mendengar Wonwoo mengomel.
"Aku punya sesuatu untukmu."
"Untukku? Apa itu?"
Mingyu menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Wonwoo.
"Ini apa?"
"Buka saja Hyung." Wonwoo membuka kotak itu hati-hati. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Kotak ini mirip seperti kotak perhiasan, mungkinkah ini cincin? Batin Wonwoo. Tanpa disadarinya bibirnya mengulas senyum.
Namun sekejap kemudian senyuman itu luntur. Namun segera digantikan dengan senyuman yang baru. Sayangnya raut kecewa Wonwoo tertangkap jelas oleh Mingyu.
Wonwoo menemukan sebuah gelang dalam kotak tersebut, bukan cincin seperti harapannya. 'Apakah aku baru saja berharap itu cincin? Artinya aku berharap Mingyu melamarku?'
Wonwoo menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tanpa disadarinya ia merapalkan kata tidak berulang kali. Semua itu tidak terlepas dari perhatian Mingyu.
"Kenapa Hyung, tidak suka ya?" Tanya Mingyu mengejutkan Wonwoo.
"E-eh. Tidak kok. Ini bagus. Aku menyukainya." Jawab Wonwoo terbata.
"Baguslah kalo Hyung suka. Ini gelang couple. Aku juga punya." Jelas Mingyu seraya menunjukkan pergelangan kirinya.
"Pasangkan padaku juga." Wonwoo mengambil gelang itu dan menyerahkannya kepada Mingyu untuk dipakaikan kepadanya. Wonwoo menatap gelang yang tersemat di tangannya, cukup bagus untuknya.
Wonwoo kembali terlarut dalam bacaannya setelah Mingyu pergi. Sementara Mingyu beranjak ke kamar mereka. Sesutu diambilnya dari dalam kopernya. Kemudian ia kembali menghampiri Wonwo.
Wonwoo Hyung. Mau bermain game."
"Main game apa?" Wonwoo menoleh ke arah Mingyu.
"Ini!" Mingyu menyerahkan sebuah buku yang tebalnya sekira 3 senti.
"Ini buku apa, Gyu?"
"Ini alat untuk permainannya, Hyung. Namanya buku harapan."
"Bagaimana cara memainkannya?" Usaha Mingyu untuk membuat Wonwoo penasaran berhasil juga.
"Jadi aku akan memberikan Hyung pertanyaan. Nah kemudian Hyung meletakkan tanda atau jari Hyung pada lembar jawaban yang Hyung pilih tanpa membuka buku tersebut."
"Ooh, mudah sekali." balas Wonwoo. "Lalu apa yang kita dapatkan dari permainan ini/" tanya Wonwoo. Ia benar-benar penasaran.
"Apa ya, kesenangan? Untuk reward-nya tergantung kesepakatan yang bermain." Jelas Mingyu.
"Baiklah, mari kita coba." Putus Wonwoo.
"Ekhem ekhem." Mingyu berdehem. "Oke, pertanyaan pertama siap-siap ya Hyung." Mingyu memberikan aba-aba dan dibalas anggukan mengerti oleh Wonwoo.
"Kapan aku akan menikah dan dimana jodohku?"
"Hei, pertanyaan macam apa itu. Memangnya ada jawabannya untuk pertanyaan seperti itu?" Sela Wonwoo.
"Tentu saja ada. Makanya coba jawab Hyung." Pinta Mingyu.
Wonwoo menarikan ujung jarinya kemudian berhenti di tengah buku.
"Di sini." Seru Wonwoo.
"Baiklah, sekarang buka bukunya, Hyung." Perintah Mingyu. Raut wajah Mingyu menunjukkan kejahilan dan kebahagiaan.
"Secepatnya, disampingmu." Wonwoo menoleh dan memiringkan kepalanya tidak mengerti.
"Maksudnya apa?" Tanyanya.
"Maksudnya ya begitu." Jawab Mingyu seadanya.
"Ah, tidak asik. Coba ulangi lagi." Suruh Wonwoo. Kemudian Mingyu mengulang pertanyaaan yang sama.
"Kapan aku akan menikah dan dimana jodohku?"
"Kenapa menanyakan hal yang sama?" Seru Wonwoo.
"Terserah aku dong, Hyung. Kan aku yang memberikan pertanyaan. Sekarang buka jawabannya." Mingyu balik memrintah Wonwoo yang langsung dituruti lelaki manis itu.
Wonwoo membuka bagian akhir dari buku. Matanya terbelalak sempurna.
"Secepatnya, disampingmu."
Jawaban yang sama. Semburat merah muda menjalar di pipi Wonwoo. Ia berharap pertanyaan dan jawaban itu menjadi nyata. Tapi Wonwoo berusaha menyembunyikan itu dari Mingyu.
"Biar aku yang mencoba. Buku ini aneh." Kini Mingyu yang memegang buku harapan tersebut. Giliran Wonwoo yang bertanya.
"Apakah aku akan menikah dengan orang yang aku sukai?" tanya Wonwoo tidak yakin. Tapi entah kenapa iya berharap buku itu akan menjawab 'iya'.
"Secepatnya, disampingmu."
"Jawabannya sama lagi, Gyu. Ini aneh."
"Coba sekali lagi, Hyung." Wonwoo mengangguk.
"Apakah besok akan turun hujan?" Wonwoo menanyakan hal lain. Ia curiga buku itu hanyalah buku iseng.
"Secepatnya, disampingmu."
"Nsh kan sama lagi." Protes Wonwoo.
"Aku coba lagi ya Hyung. Ini untuk terakhir kali." buku kembali berpindah ke tangan Wonwoo.
"Hyung, bagaiman jika kau membuka halaman terakhir saja. Biasanya halaman terakhir jawabannya selalu berbeda dengan sebelumnya." Mingyu menyeringai.
"Kita akan melakukannya serentak ya Hyung." Wonwoo mengangguk.
"Will you marry me?" Wonwoo sudah membuka halaman terakhir dan hanya terdapat kata 'YES'.
Wonwoo terdiam, ia bingung. Matanya memandang Mingyu, seolah meyakinkan pendengarannya.
"Kau tidak salah dengar, Hyung. So, Will you marry me?" Ulang Mingyu kembali.
Wonwoo berhamburan ke pelukan Mingyu, sampai membuat Mingyu terjengkal ke belakang dan mereka terbaring bersama.
"Yes, I do. I do." Wonwoo menjawab seraya mengecup wajah Mingyu. Merasa geli dan senang, Mingyu pun tertawa dengan terbahak.
"Kau begitu senang, hmm?" Mingyu mengusak sayang rambut belakang Wonwoo.
"Ini lamaran paling aneh yang aku tahu. Benar-benar jauh dari kata romantis." Jawab Wonwoo. Bibirnya sedikit mengerucut.
"Habisnya aku bingung harus melamarmu dengan cara apa, Hyung. Jika itu terlalu romantis aku takut kau tidak menyukainya. Bagaimanapun kau tetaplah lelaki." Jelas Mingyu.
"Aku mengerti. Tapi ini sangat unik. Bagaimana kau bisa kepikiran hal ini?"
"Ini saran Soonyoung dan Seungcheol Hyung." Jawab Mingyu.
"Lalu buku harapan itu? Ku rasa tidak ada toko buku yang menjual buku seperti itu." Mingyu menyamankan posisi keduanya yang rebahan di lantai.
"Aku membuatnya sendiri. Dan jawabannya sama semuanya." Wonwoo terbelalak mendengar penuturan Mingyu. Ia sama sekali tidak menyangka kekasihnya yang sangat sibuk ini masih sempat membuat bahkan mencetak sebuah buku seperti ini. Ia merasa tersentuh.
"Aku sudah menyiapkan ini dari lama. Sudah puluhan buku yang ku buat tapi semuanya tidak ada yang berhasil. Hanya ini yang berhasil. Kau lihat cover depannya? Semua ku kerjakan sendiri." Mingyu boleh berbangga hati karena kekasihnya menyukai hasil karyanya ini.
"Kau yang terbaik, Mingyu-ya. Aku mencintaimu." Wonwoo mengecup bibir Mingyu.
"Aku juga mencintaimu, sangat." Balas Mingyu disela kecupan Wonwoo.
"Jadi kita menikah?" tanya Mingyu memastikan.
"Yes Yes Yes. Kita menikah." Teriak Wonwoo.
Mingyu menarik tengkuk Wonwoo dan kembali mencium bibir Wonwoo. Ciumannya langsung berubah panas. Mereka kembali saling menjilat dan menggigit. Minggu mengemut lidah Wonwoo sementara Wonwoo menarik lidahnya berlawanan arah. Berhenti dengan pergulatan lidah, Wonwoo menyapu dan menekan taring Mingyu dengan lidahnya. Terasa kasar dan tajam bersamaan. Ciuman itu terus berlanjut bahkan setelah beberapa kali terhenti untuk mengisi pasokan oksigen di paru-paru mereka.
Suara musik klasik masih berputar mengalun dengan merdu. Menambah manis suasana yang diciptakan kedua lelaki ini. Sementara di luar sana deru ombak bersahutan. Sang bayu menari menghembuskan tirai-tirai putih dari jendela kamar. Mingyu dan Wonwoo bahkan terlalu panas untuk merasakan dinginnya hembusan sang angin malam.
= END =
Fic ini sudah selesai. Maafkan untuk hasilnya yang tidak sesuai keinginan. Maafkan penulisannya yang masih jauh dari kata baik. Maafkan untuk banyaknya typo. Dan maaf untuk update yang terlalu lama. T.T
Spesial thanks banget buat hoshilhouette buat ide Buku Harapannya. Maafkan jika ini tidak sesuai harapan. Buat member 17 Foster genks, big thanks banget udah menagih dan selalu memberikan inspirasi dan kebahagiaan. Kalian yang terbaik.
Untuk para readerku yang manis-manis dan cantik, makasih banyak sudah mau baca. Dan maaf belum membalas review kalian satu persatu.
The last, boleh minta tanggapannya lagi?
Loph U all...
Eh betewe daku bapernya sudah rada berkurang, tapi kalo mau baperan jamaah lagi daku ikutan deh..hihihi
