Six Month to Alive

Disclaimer: Naruto punya om Masashi saya Cuma minjam karakternya

Story: Aki no Shimotsuki

Genre: Hurt/Comfort, Romance

Pairing: NaruHina slight SasuSaku

Warning: AU, gaje, OOC, typo, romance gagal dan deatch chara

Happy Reading

Sasuke menatap nanar kuburan di depannya itu, Itachi sang kakak, pasti tengah menertawakan hidupnya sekarang. Dia dulu sempat berharap Itachi segera musnah dari hadapannya, tepat di hari itu, hari kematian Itachi. Bahkan ia ingat kata-kata yang ia lontarkanwaktu itu.

"Aku berharap kau segera mati, Itachi. Kau tahu seberapa muak aku melihatmu ? Semuak otou-san bilang padaku bahwa aku harus segera menghilang dari dunia ini. Sebegitulah besarnya aku muak padamu. Aku berharap kau yang menghilang, bukan aku.

Sasuke ingat hari itu, ia dalam keadaan teler, ia ingat kala itu dia baru saja memakai sabu-sabu jadi dia tidak bisa mengontrol mulutnya bahkan di hari itu dia hampir saja membunuh Naruto, kalau saja Garra tak menghentikannya waktu itu mungkin Naruto sudah tidak ada lagi di dunia ini. Yah, semenjak itu dia berusaha menghentikan ketergantungannya walaupun itu tak mudah. Ia menghela napas, kemudian melirik jam tangan Rolex miliknya.

"Sudah hampir jam 7." Gumam Sasuke kemudian dia melihat kearah batu nisan milik kakaknya, lagi-lagi Sasuke tersenyum miring, namun airmatanya kali ini keluar.

"Keluarkan aku dari penderitaan ini,bodoh. Kau tahu seberapa menyedihkannya hidupku sekarang ? Lebih menyedihkan dari ketika kau masih hidup. Jadi, kumohon keluarkan aku dari semua penderitaan ini, Itachi. Berhentilah mempermainkan aku, berhentilah kumohon."

Air mata sang Uchiha bungsu itu terus mengalir deras, mungkin jika batu nisan dapat berbicara, pasti sang Uchiha sulung akan menyuruh adik kecilnya itu berhenti menangis. Sayang, Sasuke terlalu cemburu untuk mengetahui rasa sayang Itachi kepadanya yang begitu besar.

.

.

Naruto melangkahkan kakinya dengan cepat dan melewati kerumunan orang yang berjalan lelet bagaikan kerumunan semut, saking cepatnya tanpa sadar dia menabrak seseorang.

"Ittai." Rintih orang itu pelan membuat Naruto merasa bersalah dan menghampiri orang tersebut.

"Gomen." Mengetahui yang ditabraknya seorang gadis Naruto jadi semakin merasa berasa bersalah, dia mendekati gadis itu dan mengelus lengannya, namun dia menyadari gadis itu adalah Hyuuga Hinata, dia segera saja melepaskan pegangannya.

"Aku tidak tahu kau selicik ini, Hyuuga-san."

Hyuuga Hinata, 16 tahun, pemegang sabuk hitam karate ketika kelas 4 SD dan ikut kejuaran nasional kelas 5 dan meraih medali emas di kejuaran karate International, dan Namikaze Naruto baru saja menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma ke gadis Hyuuga itu.

"Ne, kau tadi bilang apa ?" Hinata memastikan bahwa ia kali ini tidak salah dengar, agar ia tidak dengan gampangnya mematahkan leher Naruto atau mematahkan kaki pemuda berambut blonde itu.

"Aku tidak tahu, kau selicik ini. Aku dengar dari Sakura-chan kalau kau menyukaiku."

Mungkin, kau harus lari sekarang Naruto sebelum tulang-tulangmu hancur akibat pukulan maut Hinata.

.

.

Pagi ini, kegiatan di kelas dimulai seperti biasa, namun semua orang sepertinya salah fokus. Contohnya, Kakashi tengah memberikan pelajaran tentang gerak parabola yang telah ia berikan semalam karena fokusnya pagi ini ada pada keadaan Naruto yang sudah sepenuhnya babak belur, merasa materinya diulang, Kakashi meminta maaf dan melanjutkan ke materi baru, sementara itu Sasuke hanya memandang heran sahabatnya itu, tidak biasanya Naruto berkelahi dipagi hari, tapi sejujurnya Sasuke tahu kalau Naruto sudah berhenti berkelahi semenjak mendapat beasiswa disini.

"Sungguh, perempuan itu. Kenapa aku bisa kalah olehnya."

.

.

Bunyi bel terdengar, membuat beberapa murid bernapas lega, itu artinya mereka sudah harus pulang, Naruto memasukkan beberapa bukunya kedalam tas dan segera keluar kelas, namun Sasuke menghadangnya di depan pintu kelas.

"Apa yang terjadi denganmu pagi ini ?" Tanya Sasuke ia membukakan pintu kelas dan Naruto melaluinya kemudian Sasuke menyusulnya, mereka berjalan berdampingan sekarang.

"Aku hanya tidak sengaja membuat orang kesal." Naruto menjawab dengan nada lesu dan sedikit mengigil mengingat bagaimana Hinata menghajarnya, untung tulang rusuknya nggak patah.

"Ne, Teme. Kau kenal Hyuuga-san ?" Kini giliran Naruto bertanya, wajahnya keliatan penasaran, ia memandang kearah Sasuke.

"Tentu saja bodoh, dia dulu teman kita sewaktu SD, bahkan kita pernah pergi kamping bersamanya."

.

.

"Ne, maafkan aku Sakura-chan. Aku tidak bisa mengantarmu pulang."

"Karena kau sibuk dengan dokumen perusahaan ?"

"Bukan—itu—aku lupa memberitahumu kalau hari ini aku ngumpul bareng teman-temanku."

"Ah—begitu—awas saja kau minta dibuatkan bento lagi heh."

Klik

Sakura menghela napas jengkel, bagaimana Kakashi tidak bisa mengantarnya pulang karena bertemu teman-temannya ? Yakinlah ia, kalau sebenarnya Kakashi tengah beradad di klub malam dan tengah mabuk-mabukan sambil menatap lapar kearah strip dancer disana. Dia menarik napasnya yang dalam dan membuangnya, ia tak bisa terus-menerus marah pada sepupunya itu, Kakashi berhak dapat istirahat setelah mengoreksi tugas yang menumpuk bagai gunung itu, tapi tetap saja itu membuat Sakura kesal karena seharusnya Kakashi mengantar ia pulang terlebih dahulu baru bersenang-senang.

"Kau belum pulang ?"

Sakura menoleh kebelakang, didapatinya Sasuke dan Naruto tengah berjalan menuju arahnya, Sakura tiba-tiba saja gugup, mungkin tidak ada yang tahu kalau Sakura ini sejak kecil menyukai sahabatnya itu, namun ia selalu berdalih membenci Sasuke karena Sasuke bukan tipenya.

"Bukan urusanmu, pantat bebek." Ejek Sakura jengkel, namun terselip nada gugup disana, andaikan Sasuke mendengar nada gugup itu pasti Sakura telah digoda habis-habisan olehnya

"Dasar, nona jidat lebar. Aku hanya bertanya."

Hening, biasanya Naruto akan menyambung dengan mengatakan 'hei, teme. Jangan begitu dengan Sakura-cahn.' atau 'Jidat Sakura-chan tidak lebar,teme." Namun, hal itu sepertinya tak kan terjadi mengingat Naruto sekarang hanya diam dan pikirannya melayang kemana-mana.

"Kalian berdua pulanglah, aku masih ada urusan."

.

.

Kantor penerbitan Konoha seperti biasa penuh dengan berbagai antrian para penulis pemula untuk menerbitkan buku mereka, dibalik kesibukkan itu tidak ada yang sadar bahwa penulis terkenal, Namikaze Naruto baru saja masuk dan menuju keruangan sang editor sekaligus pemilik penerbitan Jiraya.

"Sudah lama sekali, aku bahkan ridak ingat terakhir kali kau kesini." Ujar Jiraya sembari menyesap tehnya, takut teh ini menjadi dingin seperti keadaan Naruto saat ini.

"Jangan basa-basi, Jiraya-sensei. Setiap waktu itu berharga, jangan sampai anda menyia-nyiakannya."

.

.

Obito memandang sebuket bungka lili putih yang terpajang dimakam Itachi, ia meyakini pasti Sasuke berkunjung disini, ia sebenarnya ditugaskan oleh teman-temannya untuk membersihkan makam Itachi karena mereka akan mengunjungi makam Itachi besok. Obito memandang tape recorder yang ada ditangannya kemudian terdengar suara riuh dari balik tape recorder.

"Apa yang terjadi ? Naruto-kun ? Sasuke-kun ? Sakura-chan ? Hinata-chan ? Hei kalian dengar aku ?"

"Bagaimana ini bisa terjadi, Itachi ? Bagaimana mereka bisa masuk ke area terlarang begini ?"

"Obito, jangan bilang pada siapapun, tentang hal ini. Baik ke Kyuubi, ke Neji maupun ke Kakashi."

"Tapi—"

"—SUDAH KUBILANG JANGAN BILANG KESIAPAPUN."

"Baiklah, kalau itu maumu."

Percakapan di tape recorder itu berakhir, tanpa sadar airmata mengalir dari kedua pipi Obito, entah kenapa ia tak bisa menahan tangisannya, pemuda yang telah resmi masuk ke kesatuan Kepolisian Konoha itu berusaha menghentikan tangisannya namun itu sia-sia. Ada perasaan bersalah menyelimuti Obito dan perasaan itu menyesakkan dadanya.

"Bodoh, sadarkah kau kebenaran yang kau sembunyikan kepada mereka membuat hidupmu berantakan ? Tidak sadarkah kau, kalau Sasuke benci dirimu padahal dulu kau pernah menyelamatkan adikmu itu dari bahaya ? Tidak sadarkah kau, kalau Kyuubi,Neji dan Kakashi menyalahkan diri mereka sendiri atas kejadian yang menimpa adik-adik mereka ? perbuatan baikmu itu, menghancurkan hidup orang lain, Itachi. Tapi, kenapa aku yang bodoh ini terus menyimpannya ? Apa aku kagum padamu ? Apa aku terlalu senang kalau kau mempercayaiku ?"

Tanpa Obito sadari, Itachi tidak hanya menghancurkan hidup adiknya dan juga teman-temannya, tapi Itachi juga menghancurkan seluruh orang yang ada didekatnya, satu per satu seolah-olah ia adalah penolong, namun sebenarnya dia adalah penghancur hidup mereka

"Sasuke-kun, entah kenapa belakangan ini aku sering deja vu kalau melewati kawasan ini."

"Neji-nii, kau punya obat migrain, entah kenapa belakangan ini kepalaku sakit."

"Sakura, aku juga sama, seperti ada sesuatu yang terjadi dulu disini."

"Jiraya-sensei, entah kenapa aku merasa melupakan sesuatu."

"Kyuu-nii, apa kau ingat waktu hari dimana, aku tenggelam. Itachi-nii waktu itu yang menolongku."

"Itachi ? Bukannya waktu itu Itachi tengah menonton sirkus tapi, bagaimana bisa ?"

"Kau, terlalu naïf Uchiha Itachi."

TBC

Hai minna-san, kali ini author sengaja cepetin update, biar kalian nggak nunggu lama lagi, tapi btw ini kok author merasa seperti sinetron yah, entahlah author buntu ide disini tapi entah kenapa dapet ilham buat special chapter, ada yg setuju next chapter kita adain special chapter. Setidaknya ada 4 character yang bakal dijadiin special chapter, Naruto, Sasuke, Itachi dan Hinata. Kenapa mereka ? Mereka tokoh sentral di fic ini dan cerita mereka semua saling berkaitan. Oh ya anyway ini greget nggak sih atau alay ? Sekian bacot author yang nggak jelas ini, di tunggu kritik dan sarannya. :)