THE DIFFERENCE

Disclaimer Fujimaki Tadaoshi

The Difference by Nakami~

Rated: T+ / Direktur!Akashi Seijuurou xTukangParkir!Kuroko Tetsuya

Genre : Romace, Humor

Akashi dan Kuroko, maaf sedikit OOC.

Maaf kalau gaje atau sebagainya, ini pertama kalinya post ff di ffn jujur saja. :'v

CHAPTER 2

.

.

.

"Selamat pagi Tetsuya"

Yang disapa masih kaget.

"Tetsuya?"

"k...k...ka...kau sedang apa?" tanyanya tergagap seketika

Akashi tersenyum

"Mengapa duduk di becak?" tanya Kuroko lagi

"Maaf tuan, tapi itu sudah menjadi pekerjaan saya." Jawab Akashi sambil menatap sepasang mata biru sangat dalam.

Kuroko membatu. Wajahnya tidak menunjukkan perubahan ekspresi tapi sebenarnya ia kaget dan jantungnya berdegup sedikit kencang. Apa pekerjaan orang itu? Mengapa tiba tiba ada di pangkalan becak? Padahal kemarin datang menggunakan mobil mewah.

"Maaf tuan, kalau boleh saya tahu lebih jelas. Apa pekerjaan anda?" Kuroko bertanya dengan nada sopan.

"Tukang becak." Jawab sang lawan bicara singkat

Kuroko menatap tukang becak yang sedang berbincang dengannya. Tukang becak yang ini beda. Tentu saja beda, ia menggunakan kaus putih polos yang masih sangat bersih, celana pendek selutut berwarna hitam , lengkap dengan sepatu olahraga bermerk adadas dan jam tangan yang terlihat... mahal.

Kuroko masih menatap lawan bicaranya dengan seksama "Tuan.. Apakah anda benar benar tukang becak? Anda tukang becak presiden ya?"

"...Tetsuya"

Wajah Kuroko masih belum menunjukkan perubahan ekspresi

"Tuan—"

"Jangan panggil aku Tuan lagi. Aku Akashi Seijuurou. Panggilah aku Akashi atau Seijuurou, terserah kau sajalah." Potong Akashi

"Etto.. Lalu, Akashi-kun.. Apa pekerjaan Akashi-kun yang sebenarnya?"

"Tukang becak."

Kuroko diam, mulai menunjukkan pergantian mimik wajah "Aku serius. Tolong jawablah pertanyaanku dengan benar."

"Aku benar benar tukang becak, Tetsuya. Perusahaanku bekerja sama dengan perusahaan becak." Jawab Akashi tak mau kalah

'Perusahaanku bekerja sama dengan perusahaan becak.'

'Perusahaanku'

Penekanan kata perusahaanku terngiang di kepala Kuroko. Jika ia memiliki perusahaan, lalu bekerja sama dengan perusahaan becak. Mengapa ia harus turun tangan menjadi tukang becak? Walaupun hanya lulusan SMA. Tapi, Kuroko dulunya termasuk ke dalam 5 besar di kelas. Jadi ia tidak mudah ditipu begitu saja.

"Aku sedang melakukan pengamatan tentang seberapa diminatinya kendaraan becak."ujar Akashi seakan akan ia mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Kuroko.

"Akashi-kun, sesungguhnya becak sudah tidak diminati lagi, semenjak ada ojek dan taksi. Perusahaanmu seharusnya tidak bekerja sama dengan Perusahaan becak."

Akashi tertawa kecil "Sepertinya kau tahu banyak soal becak Tetsuya? Minat menjadi sekretaris ku?" Akashi memiringkan wajahnya dan tersenyum tipis.

Kuroko menggeleng "Jangan bercanda. Sudahlah, aku akan mulai bekerja Akashi-kun."

.

.

.

Di bawah terik matahari yang panas, seorang pemuda bersurai biru meniup peluit mengibarkan bendera merah. Ia sudah tidak menggunakan tangan kosong lagi untuk memberhentikan mobil. Takut tiba tiba ada orang yang baper lalu menjadi tukang becak sebagai solusi kebaperannya.

Mobil berhenti , menuruti permintaan sang tukang parkir. Kadang diberi koin, kadang diberi uang kertas. Kadang malah mendapatkan kartu nama. Sudah beberapa kali Kuroko Tetsuya di rekrut untuk menjadi aktor ataupun anggota boyband , tapi terus saja menolak. Kalau ada yang jahil , ia suka mendapatkan sepucuk kertas berisi nomor hp dan dibawahnya bertulisan 'Hubungi aku ya mas'

Kali ini pun ia mendapatkan sepucuk kertas bertulisan'Hubungi aku ya mas' , sudah ketiga kalinya ia mendapatkan kertas tidak jelas itu hari ini. Berniat untuk istirahat sebentar, Kuroko berjalan gontai ke arah pangkalan ojek terdekat. Pangkalan becak sudah tidak termasuk ke dalam list tempat istirahat Kuroko Tetsuya saat bekerja, semenjak ada tukang becak kaya raya mangkal disana.

"Hahh, melelahkan sekali" Kuroko duduk sambil menepis keringatnya

"Perlu minum?"

"Ya, sangat" jawab Kuroko "satu botol air mineral saja." Kuroko memejamkan mata erat erat, kelelahan.

Seseorang menjulurkan tangannya kepada Kuroko "Silakan"

"Makasih mang, tumben baik."

"Mang?" tanyanya

Kuroko membuka matanya menatap lawan bicara, seorang berwajah tampan memakai helm hitam dan jaket kulit. Wajah yang tidak asing. Warna rambut yang tidak asing. Mata beda warna yang tidak asing dia lihat. Tentu saja, ia baru saja melihatnya tadi pagi.

"Akashi—kun?" tanya Kuroko dengan mata terbelalak

"Tetsuya bekerjanya semangat sekali ya." Akashi tersenyum tipis

Kuroko masih menampakkan wajah kagetnya "Akashi-kun sedang apa?"

"Bekerja..."

"Becaknya dimana?"

"Aku tukang ojek , Tetsuya."

Kuroko menyeleksi penampilan Akashi, menatapnya dari atas sampai bawah. Penampilan Akashi persis seperti tukang ojek, yang memakai jaket kulit asal Italia dan sepatu boots asal Prancis. Dengan wangi parfum yang ramah saat tercium. Aroma tubuhnya tidak seapek tukang ojek.

"Tadi pagi kau tukang becak Akashi-kun" ujar Kuroko

Akashi kembali tersenyum "Sekarang aku tukang ojek Kuroko Tetsuya."

"Kenapa? Perusahaan becakmu bangkrut lalu memutuskan untuk usaha motor?" tanya Kuroko dengan nada sedikit jengkel.

"Tidak. Aku bekerja sebagai tukang ojek untuk menghitung, berapa banyak becak yang lewat tiap harinya."

"Akashi-kun modus" tandas Kuroko singkat, padat, jelas, namun tepat sasaran.

"Aku perlu data itu untuk perusahaanku."sanggah Akashi

"Akashi-kun modus"

"Tentu saja tidak"

"Modus"

"Tidak"

"Modus"

"Tidak"

"Modus"

Melihat lawan bicaranya tidak mau mengalah, namun seorang Akashi Seijuurou pun tidak akan pernah mengalah. Akashi memilih untuk bertanya daripada menentang pernyataan bidadarinya "Aku tidak modus. Jadi, jika Tetsuya tidak percaya, bagaimana kalau kau bekerja untukku saja?"

Kuroko menyilangkan tangannya di depan dada "Itu juga bagian dari modus"

"Kau tetap bekerja sebagai tukang parkir, namun berikan laporan harian setiap pagi sebelum berangkat bekerja ke rumahku." Jelas Akashi

Kuroko terdiam tidak menjawab

"Kau boleh mempertimbangkannya. Bertemu denganku setiap hari, atau menyerahkan laporan untukku setiap hari."

"Tidak ada pilihan lain Akashi-kun? Pilihan yang membuatku tidak usah bertemu denganmu." Pinta Kuroko sekali lagi.

Akashi menghembuskan nafas berat "Sesungguhnya tidak ada, kau harus bertemu denganku tiap hari."

"Harus?"

"Harus."

"Harus?" tanya Kuroko lagi

"Harus."

"Harus?" mata Kuroko berbinar binar, menatap Akashi dengan tatapan memohon.

Akashi terdiam sebentar—"Ku bilang H-A-R-U-S , Tetsuya. Kau HARUS bertemu denganku demi kelangsungan kerja sama perusahaanku dengan perusahaan becak itu." Jawabnya dengan memberi penekanan pada setiap kata 'harus'

Kuroko membalas tatapan kedua mata beda warna itu " Jika tidak?" pertanyaan ini diajukan dengan nada menantang.

"Oooh, jadi kau ingin sebuah perusahaan bangkrut karena Tetsuya tidak mau membantuku?" ancam Akashi dengan nada tenang "Cepat pilih Tetsuya, aku tidak punya waktu."

Kuroko menimbang nimbang segala kemungkinan yang ada. Melihat wajah Akashi ketika bekerja atau menjenguk Akashi terus menerus. Bisa diartikan dengan, pening saat bekerja atau pening setiap pagi sebelum bekerja. Ia bekerja di bawah terik matahari yang menyengat, yang kadang membuatnya pusing. Sedangkan setiap pagi, ia bangun dan langsung bersiap siap bekerja. Ia memiliki banyak waktu.

"Waktumu habis Tetsuya" panggil Akashi, menyadarkan sang bidadari dari lamunan.

Kuroko tersadar "Etto.."

"Cepat katakan keputusanmu.." perintah Akashi dengan tegas

"Aku lebih memilih mengantarkan laporan kepada Akashi-kun tiap pagi, jadi aku minta alamat rumah Akashi-kun, lalu kau boleh pulang sekarang, karena laporannya akan kuantar besok" Jawab Kuroko

Akashi tersenyum miring, kemudian menuliskan alamat rumahnya di secarik kertas. Saat masih menulis, ia mendengar pertanyaan lagi dari Kuroko

"Aku bekerja kepadamu Akashi-kun, ini tidak gratis." Lontar Kuroko

Astaga bidadarinya ini cerewet sekali "Ya. Kubayar kau bulanan, dan kau pasti kaget saat melihat gajimu tiap bulan."

"Bayar aku sepantasnya, aku bukan lelaki bayaran Akashi-kun."sanggah Kuroko dengan wajah datar

"Tenagamu yang ku bayar"

"Jadi Akashi-kun membutuhkan lelaki yang bertenaga kuat? Mengapa aku masuk ke dalam kriteria?"tanya Kuroko tanpa ada perubahan ekspresi

Akashi berdeham "Tenagamu tidak kuat, tapi kau memiliki banyak waktu untuk melakukan kegiatan tersebut."

Kuroko mengangguk, tidak lagi ada penyangkalan, berarti ia telah setuju dengan penawaran yang diberikan oleh sang lawan bicara.

.

.

.

.

Pagi pagi sekali Kuroko telah bangun dan bersiap siap bekerja. Ia harus berangkat lebih pagi dari biasanya. Setelah meminta izin kepada okaa-san nya untuk bekerja dengan Akashi, dan okaa-san nya menyetujui permintaan sang anak. Kuroko resmi bekerja untuk Akashi Seijuurou mulai hari ini.

Kuroko berlari lari kecil, membawa tas berisi buku data becak yang lewat kemarin dari pukul 12 siang selepas negosiasi antaranya dengan Akashi Seijuurou. Lari lari di pagi hari membawanya kembali mengingat masa lalu saat masih bermain basket di Teiko. Kenangan tersebut membuatnya tersenyum tanpa sadar. Ia bukan pemain handal, tapi ia diperlukan.

Karena berlari, walaupun hanya berlari dengan perlahan, Kuroko sampai lebih cepat di depan sebuah gedung apartemen yang cukup mewah. Penjaga keamanan berada dimana mana. Ini bukan cukup mewah, tapi sangat mewah. Di dalam gedung apartemen, KTP Kuroko diserahkan kepada petugas keamanan sebagai jaminan. Akhirnya ia lolos ke dalam gedung dan memasuki lift dengan tenang.

Tidak setenang itu, di depan kamar apartemen Akashi ada seseorang berbadan kekar lagi. Oh, sungguh sepenting apakah Akashi Seijuurou?

"Permisi tuan, saya ada perlu dengan tuan Akashi Seijuurou."izin Kuroko kepada penjaga pintu

Pria berbadan kekar itu mencari sumber suara dan kaget ada seorang pria bersurai biru dihadapannya "Se—sejak kapan kau ada disini?"

"2menit lalu?" jawab Kuroko datar

"Si—si—siapa namamu nak?" tanya sang penjaga ramah

"Kuroko Tetsuya"

Pria tersebut tak aneh dengan penampilan lawan bicaranya, mencoba mengingat lagi. Saat pria kekar itu berpikir, pintu apartemen terbuka secara tiba tiba. Memperlihatkan seorang lelaki tampan dengan mata berbeda warna, rambut merahnya basah dan ia memakai... gaun mandi.

"Nebuya, bisa belikan aku sabun mandi? Sabun mandiku habis dan—" kata katanya terpotong, ia mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk "ah , cari Tetsuya. Seharusnya pagi ini ia telah datang memberikan laporannya."

Nebuya berdeham "Baik tuan" kemudian pergi meninggalkan Akashi-yang-sedang-bergaun-mandi

Kuroko mencoba mengalihkan pandangan dari orang yang memakai gaun mandi itu "Ano... Akashi-kun, aku sudah sampai daritadi."

Akashi kaget "Tidak salah lagi, kau memang Tetsuya."

Kuroko masih mengalihkan pandangannya

"Silakan masuk Tetsuya." Panggil Akashi

Kuroko memasuki kamar apartemen yang mewah, sangat mewah. Bahkan seumur hidupnya baru kali ini ia melihat ruangan sangat mewah secara langsung. Kuroko percaya bahwa ruangan mewah hanya ada di dalam film. Namun, Akashi Seijuurou telah mematahkan kepercayaannya. Karena ia telah melihat langsung ruangan yang semewah film.

"Akashi-kun, ruanganmu sering dipakai main film ya?" tanya Kuroko singkat

Akashi menoleh menatap lawan bicaranya "Tidak"

"Kau memiliki usaha sewa ruangan untuk main film, Akashi-kun?"

"Tidak Tetsuya"

"Lalu, kau meminjamkannya secara gratis? Akashi-kun dermawan juga."

Akashi memgang bahu Kuroko dan menatapnya dengan tajam "Ini ruanganku, aku tidak suka orang lain keluar masuk tanpa izin, jadi mana bisa aku sewakan sampai meminjamkan ruangan ini kepada orang lain?!"

"Akashi-kun pelit."

Akashi serba salah. Makhluk lain yang selalu benar selain wanita dan Akashi Seijuurou adalah Kuroko Tetsuya. Itu juga harus di tulis di dalam kamus kehidupan.

"Tetsuya, tunjukkan laporanmu."tagih Akashi setelah mereka berdua duduk di atas sofa beludru berwarna merah marun.

Kuroko menyerahkan laporannya "Aku tulis semuanya, sampai warna warnanya."

Akashi melihat hasil laporan Kuroko dengan sangat detil , kemudian menutupnya "Ya, aku harus lihat lagi laporanmu besok."

"Akashi-kun, belum sabunan ya?"tanya Kuroko dengan wajah datar

Akashi yang masih memakai gaun mandi menjawab "Aku sudah sabunan. Setelah mandi tadi , sabunku habis. Jadi aku putuskan untuk menyuruh Nebuya. Agar nanti malam , aku tidak kerepotan."

"Aku tidak mencium aroma Akashi-kun."

"Sudah berani merangsangku Tetsuya?" Akashi tersenyum miring "kau baru mengenalku 2 hari."

"Aku tidak bermaksud Akashi-kun, permisi."

Kuroko pamit , kemudian ia berjalan menuju pintu keluar. Saat ia hendak membuka pintu, seseorang mengetuk pintu itu dengan keras. "Tuan Akashi! Tuan Akashi!"

Kuroko membuka pintu tersebut, disusul dengan munculnya Akashi dari ruang tamu.

Nebuya bercucuran keringat "Hosh—hosh.. Syukurlah kau yang membukanya Tuan Kuroko."

"Ada apa Nebuya?" kening Akashi berkerut

"Ibu dari Kuroko Tetsuya kecelakaan.

-to be continue

.

.

.

YOSH~ Akhirnya bisa lanjutin ke chapter selanjutnya, MAAF MINNA beberapa minggu kemarin banyak banget tugas. Jadi selalu ngulur waktu buat update, dan makasih minna atas kritik dan sarannya ^^ Chapter ini rada panjang yaa hehe~ Semoga chapter selanjutnya bisa sepanjang ini ya Sampai ketemu di chapter selanjutnya~