Luhan nggak terlalu akrab sama jalanan daerah sekolahnya. Luhan hanya iseng, siapa tahu dia nemu jalan tikus yang lebih cepat menuju sekolah. Antisipasi saja sih, kalau ia telat kan bisa lewat sini.
Entah Luhan yang terlalu polos atau gimana, dia nggak denger perintah kakak kelas untuk tidak melewati jalan tikus belakang minimarket.
Karena biasanya gang jalan tikus belakang minimarket selalu saja punya penghuni. Yaitu tiga pria kekar yang bertemankan puluhan botol soju. Luhan ingin segera beranjak pergi, tapi sosoknya sudah terlanjur basah ditangkap salah satu dari mereka bertiga.
"OII, bocah!" seru yang paling gemuk, sembari memberi isyarat untuk mendekat. "Sini dulu. Mau minum bareng kami?! HAHAHA!" dan dua temannya yang lain ikut menertawai.
"Masih bocah berani lewat sini? Nak, nyalimu leh ugha," dan yang berambut panjang itu mendekat ke arah Luhan.
Sedang Luhan mundur mencoba menghindar. Tetapi baru beberapa langkah Luhan mundur, punggungnya menabrak sesuatu yang keras tapi cukup empuk di hantam kepalanya. Saat Luhan menoleh, cowok kelahiran Beijing ini tahu ia bukan menabrak benda, melainkan seseorang. Cowok yang lebih tinggi darinya dan juga seragam yang dikenali Luhan –sama seperti seragam yang ia kenakan.
Oh Sehun. Yang menatap tiga preman garang.
"Maaf, Oom. Udah tahu kita anak sekolah, kok ngajakin minum. Situ waras?"
Yang bertubuh gemuk itu melempar botol soju itu ke tanah hingga bunyi pecahan beling menghantam tanah membuat Luhan berjengit kaget dan otomatis memekik.
"Masih anak sekolahan aja udah ngelawan yang tua. Gimana nanti pas gedenya? Mau korupsi uang Negara?"
Luhan melirik Sehun. Eskpresinya masih tenang.
"Oom yang lebih tua aja ngajakin yang lebih muda buat sesuatu yang illegal. Kurang dosa apalagi? Lagian, kita ini ngelawan yang salah, bukan ngebela yang salah. Oom sendiri nggak ngaca ya; padahal diri sendiri udah jadi sampah masyarakat masih aja ngajakin yang muda buat sesat. Mau jadi apa Negara ini kalau memimpinnya model kaak Oom." balas sengit Sehun.
"Heh, ayo kabur aja. Mereka nggak usah dilawan." Luhan mencoba menenangkan Sehun. Tapi sayangnya gagal. Sehun malah menepis tangan Luhan dan melangkah maju mendekati tiga pria paruh baya bertampang preman.
"Dasar bocah! Sekali bocah tetep aja bocah!" teriak yang paling tenang. Yang juga maju mendekati Sehun dengan botol bekas pecahan yang berujung runcing.
Dan perkelahian sengit dengan senjata tak terelakkan. Bunyi gaduh itu membuat Luhan makin takut. Antara ingin kabur untuk meminta bantuan atau diam menonton perkelahian sengit. Tapi Luhan tidak beranjak.
Yang berambut panjang dan satu-satunya tersisa dari perkelahian itu, membawa dua temannya yang terkapar untuk segera pergi. Sedang Sehun menggos-menggos, sambil sesekali meringis karena luka lecet terkena runcing pecahan botol soju.
"Lo nggak apa-apa? Duh, makasih banget mau nolongin gue!" Luhan menghampiri Sehun yang terduduk di tanah. Mata rusa itu melihat luka lecet Sehun yang mengeluarkan darah. "Astaga, luka lo! Bentaran gue mau beli antiseptik sama kapas dulu!" belum sempat Sehun menahan Luhan, cowok kelahiran Beijing itu langsung beranjak pergi.
Dan sayangnya, ketika Luhan balik di gang jalan tikus itu, sosok Sehun yang duduk disana sudah menghilang.
.
"Kalau Aku Suka Kamu, Gimana?"
Oh Sehun EXO | Xi Luhan
Romance | School life | Friendship
Rated: T | Lenght: Threeshot (2/3)
#Disclaimer: Cast jelas bukan punya saya, mereka saling memiliki satu sama lain. Saya yang punya storyline atas pen-name ©Hwang0203, ide cerita punya temen saya.
Notes: Anggap aja semua member EXO disini seumuran semua yah. Kecuali Mas Jongdae sama Koh Yifan.
Special notes: Thanks to Aisyah, who give me permission to share her love-shit-story in this fanfiction. Si Aisyah inilah yang perannya jadi Minseok, sedangkan cowok anak kelas Teknik yang naksir dia, diperankan oleh Oh Sehun. Dan Luhan memerankan dengan apik karakter si Nov. Peran gue? Tenang, gue jadi pohon bergoyang nomor tujuh kok :v
Enjoy read my fic.
.
Luhan terbangun. Dia baru sadar tertidur di dalam perpustakaan saat buku Sejarah yang dibacanya terbuka. Kejadian tahun lalu saat ia menjadi anak baru Seoulim vocational school, saat dirinya dihadang tiga preman gadungan dan Oh Sehun datang bak pahlawan superhero. Semua itu kejadian nyata yang kembali muncul dalam bentuk mimpi.
Luhan melirik bukunya yang terbuka. Bekas air liur disana berbekas sedikit. Buru-buru ia menghapusnya. Entah memang rejeki anak soleh atau apa, Minseok datang dengan wajah ceria yang mengundang rasa pensaran.
"Ada apa nih? Berita bagus kayaknya." mengesampingkan bahwa dia ingin bertanya kasus Oh Sehun kemarin, Luhan malah menanyakan kabar yang membuat sohibnya seperti orang gila.
Minseok terkikik sebentar, lalu memulai ceritanya. "Lo tau kan gue naksir Kak Jongdae? Gue baru dari ruang TU tadi. Pas gue baru balik, Kak Jongdae nyapa gue! Dia tahu nama gue padahal kita nggak pernah ngobrol sama sekali!"
"Wah! Bagus dong. Kemajuan nih, hehehe."
"Iya. Apalagi kan gue anggota OSIS yang nggak resmi, jadi tadi Kak Jongdae juga minta tolong gue buat jadi kepengurusan Pengajian Akbar buat senior hierarki tertinggi. Agak sedih juga sih, abis ini Kak Jongdae udah mau kuliah." di akhir cerita, Minseok memberenggut.
"Yaudah, ngomong aja kalo lo suka dia kenapa sih? Urusan tolak-menolak itu gampang." dengan dramastis, Luhan menutup keras buku Sejarah yang ia baca.
"Lo gila?" desis Minseok, agak mendekat karena tidak ingin pengawas perpus bakal mendengar obrolan mereka. "Kak Jongdae meskipun muka troll tapi dia punya fanclub sendiri, tau! Bisa-bisa gue jadi adonan daging cincang sama cewek gila fanclub-nya Kak Jongdae."
Luhan terkekeh mendengarnya. Tapi ketika dirasa waktu yang tepat, tidak ada salahnya memulai aksinya sekarang.
"Gue denger… kemarin Sehun ngajakin lo pulang bareng. Dia sampai jatuh gitu. Lo apain?"
Minseok awalnya terkesiap dengan pertanyaan Luhan. Tapi sebisanya ia tenang dan berperan jadi pihak korban.
"Ya abisnya. Gue nggak mau dianter pulang. Terutama motornya udah dimodif tapi gagal, kesannya juga metal banget. Gue kan nggak mau pas Mama gue liat gue pulang dianter anak berandal macem Sehun, nanti pikiran beliau aneh-aneh."
"Ya kan lo bisa minta diturunin deket-deket rumah aja, nggak sampai depan rumah."
"Lo kayak nggak kenal Sehun. Dia pemaksa banget. Buktinya kemarin narik tangan gue, ya gue ngasih perlawanan buat nepis cekalan dia. Mana tahu gue kalo posisinya nggak siap sampai-sampai dia jatuh terus motornya jadi rusak." cerocos Minseok kesal, karena dianggap Luhan sebagai pihak bersalah. "Eh, tapi kenapa lo bisa tahu? Gue belum cerita bagian ini. Lo… tahu darimana?" Minseok memincingkan matanya curiga.
Luhan gelagapan. "Kemarin gue ketemu Sehun di minimarket deket sekolah. Mesin motornya ada yang nggak beres gara-gara jatuh di aspal. Juga bodi motornya lecet parah. Kasihan sih, udah kaki lecet luka perih dipaksa buat nyeret motor dari halte sampai bengkel deket sekolah."
Minseok diam. Wajahnya masih menampilkan ekspresi tidak terima. Atau mungkin… perasaan bersalah?
"Gue tahu lo nggak sengaja kan nepis tangan dia. Tapi tetep aja faktanya lo yang ngedorong dia hingga jatuh, mau nggak mau lo juga bersalah. Gih, minta maaf. Seenggaknya tahu diri dikit lah udah bikin motor anak orang rusak, juga bikin anak orang luka."
Minseok mengangguk pelan. "Iya deh. Ntar kapan-kapan gue minta maaf." lirh Minseok pelan dan terkesan malas.
Luhan tersenyum tipis. "Gitu dong. Itu baru sobat gue; berani bertanggung jawab saat berani ambil resiko!"
Minseok mengabaikan kalimat tadi. Otaknya memikirkan pertanyaan yang membuatnya terus disesaki rasa penasaran.
"Han,"
"Hmm?"
"Lo nggak lagi deket sama Oh Sehun kan? Nggak dimintai tolong berandalan itu buat jodohin gue sama dia?!"
Luhan tersedak ludahnya sendiri. Apa begitu kentara?
"Kok lo bisa berpikiran gitu? Jahat nih, sobat sendiri dianggep gitu." Luhan pura-pura memasang wajah melas. "Lagian pas waktu itu gue latihan klub, ketemu Sehun di minimarket. Dia cerita ke gue. Kan gue juga liat lukanya waktu itu, gimana dia jalan agak pincang. Dan gue kasihan aja."
"Bener kan lo cuma sekedar kasihan? Nggak ada niat bantuin dia buat jodohin gue mentang-mentang dia pernah terselip di hati lo?"
Luhan menggeleng keras atas segala tuduhan dari Minseok. "Nggaklah."
"Soalnya akhir-akhir ini aku sering liat Sehun keluyuran deket lo. Maaf kalo menurut lo perkiaraan gue keterlaluan banget."
Luhan diam, dia hanya menanggapinya dengan senyuman.
Ada benarnya perkataan Minseok barusan. Dia hanya tidak tega dan tidak tahan melihat Sehun selalu mengemis meminta perhatian Minseok sedangkan ada Luhan yang selalu memperhatikan. Ditambah pula, Minseok sedang gencar melakukan pendekatan yang tidak kentara kepada Ketua OSIS mereka –Kim Jongdae.
Luhan bingung. Haruskah ia jujur pada Minseok? Tapi Minseok adalah teman terbaiknya. Dia nggak mau kehilangan sahabatnya dengan tuduhan pengkhianat.
Haruskah ia menjauhi dan menolak permintaan tolong Oh Sehun? Dia orangnya nggak tegaan. Melihat Sehun penuh luka seperti kemarin saja ia meringis –seperti merasakan bagaimana perihnya luka tersebut.
Nah kan. Dia harusnya nolak permiantaan Sehun. Dengan keberadaan Sehun di sekitarnya malah bikin dia tambah baper –sulit move on.
.
.
xx
.
.
Sehun menatap bingung tiga lembar tiket yang digenggamnya. Dia berencana hanya mengajak Luhan. Tapi tinggal dua tiket yang tersisa, amat sayang sekali. Haruskah ia mengajak Minseok juga? Ah, tapi ketika perih luka lecet itu datang, Sehun harus berpikir lagi untuk mengajak Minseok. Haruskah ia mengajak Jongin dan Zitao? Tapi tidak mungkin, ia ingat dua temannya juga punya janji lain di hari Sabtu besok.
Haruskah ia mengajak Minseok? Hmm…tidak ada salahnya toh.
To: Luhan
'Apa gue ajak Minseok juga ya buat nonton? Soalnya gue ada 4 tiket nih, sayang kalau cuma berdua.'
From: Luhan
'Oke. Gue punya ide sih buat jadiin alasan, mudah-mudahan aja berhasil. Satunya lagi buat siapa? Sayang dong?'
Sehun tidak langsung membalas pesan Luhan, ia memasukkan ponselnya ke saku begitu tahu ada dua orang yang lebih tua darinya kini mendekatinya. Ikut duduk di kursi depan Sehun menyantap makan siang mereka di kantin.
"Oho, Oh Sehun! Betah sekolah disini?" tanya Jongdae membuka suara.
Sehun mengendikkan bahunya, "Amat betah, malah."
Sedang Yifan hanya cuek. Dia cukup bosan melihat adiknya di rumah dan di sekolah. Boleh saja kalian anggap Yifan kakak yang jahat tapi itu kenyataannya. Toh, mereka sama-sama cowok, bukan cewek yang tiap bertemu pasti nggak mau pisah karena obrolan ngalor-ngidul curhatan seputar idol, cinta dan tetek bengek feminism lainnya. Kalau cowok mah beda; jarang ketemu dan jarang ngasih kabar juga bakal kangen dengan sendirinya.
"Bang Ipan, tiketnya nyisa satu nih." ujar Sehun sembari menyodorkan satu lembar tiket kepada Yifan. Asal tahu saja, Sehun mendapatkan empat lemmbar tiket nonton karena Yifan memberikannya kepada Sehun. Kebetulan saja Yifan menang undian dan mendapatkan tujuh tiket nonton. Tiga lainnya sudah ia pakai untuk nonton bersama Zitao –uhuk– dan satunya lagi ia berikan kepada teman baiknya selain Jongdae sebagai hadiah ulang tahun.
(dari Yifan kita bisa mengerti, kalau memang kepepet tidak punya uang untuk beli hadiah ulang tahun seseorang atau pengen ngajak pedektae tapi lagi masa kritis –barang gratisan yang nampak mewah pun bisa jadi)
"Gue juga nggak butuh tiket nonton. Coba lo bagi ke Jongdae." celutuk Yifan.
"Apaan emang?" Jongdae menerima uluran tiket film.
Film Stars Wars terbaru. Dan Jongdae memekik heboh.
"Wohoo! Bagi ke gue, Hun! Udah lama gue mau nonton film ini." lalu mata unta itu beralih ke sohibnya. "Lo sohib apaan punya tiket film kesukaan gue malah nggak bagi-bagi. Gue sumpahin turun derajat mpozz lo!"
Yifan mendesah pelan lalu lanjut menghabiskan makan siangnya. Dia tahu Jongdae hanya bercanda. Hell, dia masih menikmati perannya sebagai Ketua Bidang Advokasi di OSIS.
"Katanya lo punya empat tiket, siapa lagi dua orang yang lo ajak?" tanya Jongdae.
"Gue… nggak ngajak Jongin sama Zitao, kata mereka Sabtu ini punya janji. Jadi gue ngajak Xi Luhan sama Kim Minseok; anak MM-2 itu lho."
Jongdae berseru, kali ini lebih cempreng. "Wohoo! Gue tahu kalo Kim Minseok, dia sering bantu-bantu di OSIS walaupun bukan anggota tetap. Kalo Xi Luhan ya, dia sebagai wakil ketua klub Sepak Bola emang sering datang ke OSIS sih buat ngurus proposal bareng manajer. Bukannya tuh dua orang sohiban deket ya?"
Sehun mengangguk setuju. "Memang." sebersit senyuman tersirat itu muncul. Yifan tidak sengaja menangkap gelagat adiknya. Ia patut curiga. Apalagi, ia mendengar dari anggota OSIS angkatan paling baru mengatakan jika adiknya, Oh Sehun, sedang naksir siswa dari kelas MM.
Mungkin saja diantara dua nama yang disebutkan tadi, ada satu yang menarik perhatian adiknya. Yifan yakin itu. Tidak rugi ia menyerahkan empat lembar tiket itu kepada Sehun.
Jongdae buru-buru pergi setelah menyelesaikan makanannya. Berkelit jika dia masih punya tanggungan urusan OSIS sedangkan Yifan yang tidak ada sangkut pautnya dengan Organisasi itu malah bersikap cuek bebek.
"Sehun," panggil Yifan. Yang dipanggil hanya menjawab sebuah gumaman. "Abang denger, lo naksir anak kelas MM ya satu angkatan sama lo?"
"UHUKK! Hoek!" Sehun yang tadinya anteng makan bakso, sampai tersedak daging berbentuk bulat itu yang ia telan tanpa kunyahan saking kagetnya dengan pernyataan Abangnya.
Yifan orangnya mah gitu. Biarpun Sehun keserempet jaran kepang bukannya ia tolong, malah ia foto buat nanti kalau ia stress ada hiburan sedikit lah.
"Bang, ini urusan privasi. Gue nggak tahu kalau abang seprotektif ini. Lo punya adek cowok, bukan adek cewek." desah Sehun malas.
"Ya gue cuma ngasih amanat aja sih. Ini kayak bukan lo banget. Dari dua mantan lo itu, gue ngelihatnya nggak ada perjuangan sama sekali, mungkin aja mereka datang ke lo dan lo terima aja kan buat penghilang bosan? Lo mikir mungkin lama-lama bakal balik suka nyatanya nggak. Lo mutusin mantan sebelumnya karena itu kan?"
Sehun diam. Bukan karena ia sedang mengunyah atau memang dia pendiam. Hanya saja ia tidak punya argumen apapun karena yang dikatakan Yifan semuanya benar.
"Gue emang sengaja nggak nyari tahu siapa yang lo taksir, cukup tau aja. Ini cukup lama menurut gue untuk waktu pedekate. Lo segitu sayangnya ya sama dia? Kalo gitu, lo perjuangin. Tunjukkin kalo lo pantas buat dia dan dia pantas buat lo."
Sehun tertegun. Sebejat dan secuek apapun Yifan, dia tidak pernah mendapatkan amanah sekeren dan se-menyentuh kalbu begini. Ia serasa mendapat siraman Qolbu dari Ustadz Siwon.
"Bang, apa gue udah bilang sama lo kalo gue cinta lo?" aLay Sehun mulai kumat.
"Basi." komentar singkat Yifan sebelum membereskan piring dan gelasnya.
"Bang," tahan Sehun. "… kalo misalnya dia secara terang-terangan nolak gue gimana? Kalo dia buta perjuangan gue selama ini; gimana?"
Yifan mengernyitkan alisnya sebentar lalu paham akan topik yang ditanyakan adiknya.
"Game over. Lo tinggalin aja dia. Buat apa usaha mati-matian kalo ternyata dia nggak ngehargain lo sedikit pun?" dan Yifan pergi meninggalkan Sehun sendirian dengan berbagai hipotesa.
Untuk situasi seperti ini bukannya ia memikirkan sang pujaan, malah nama Luhan yang terlintas di otaknya. seharusnya ia memikirkan Minseok. Ya, harusnya begitu.
Ia ingat kejadian kemarin saat ia mengajukan pertanyaan kepada Luhan. Dan jawaban yang ia terima pun di luar prediksi dan seperti kejutan kembang api untuknya.
Bukankah dari cerita Luhan ia bisa paham? Ia tidak bodoh untuk menangkap inti si tokoh utama. Ia paham betul siapa tokoh yang dimaksud Luhan. Itu dirinya; Oh Sehun sendiri yang kebetulan lewat dan melihat Luhan dalam keadaan berbahaya.
Ia tidak menyangka, semenjak itu Luhan menaruh perhatian untuknya. Diam-diam membantunya untuk balas budi, katanya. Selama ini Sehun tidak paham; bantuan seperti apa yang Luhan lakukan untuknya? Yang ia ingat hanya Minseok yang membantunya dari tragedi bersama guru Bimbingan Konselor yang killer itu.
Ketika Sehun memancing Luhan menyebutkan nama si tokoh utama tersebut, yang ia dapatkan adalah lain cerita.
'…Bukan. Itu cerita lama, pas gue masih SMP.'
Bukankah di awal cerita Luhan menyebutkan salah satu siswa di sekolah mereka? Harusnya itu Oh Sehun bukan?
Mungkin ketika ia akan menyerahkan tiketnya, Sehun akan bertanya.
.
.
xx
.
.
Luhan baru selesai membilas tubuhnya yang penuh keringat dengan air dingin ketika seniornya memanggilnya. Katanya ada Oh Sehun yang mencarinya. Ia tidak ingin menimbulkan spekulasi aneh dari para senior dan teman-temannya dengan kehadiran Berandal Angkatan, asal ia memakai setelah olahraga untuk menemui Sehun di bangku penonton lapangan sepak bola.
"Sehun?" panggilnya membuyarkan lamunan si Berandal Angkatan.
Yang dipanggil pun menoleh. "Hei. Maaf ganggu ya? Lo pasti capek abis latihan buat tanding bulan depan."
Luhan tertawa kecil, ikut duduk di sebelah Sehun. "Nyantai aja. Lagian kan gue udah kelar latihan. Oh, ada apa yang ngebuat lo datang disini?"
Sehun merogoh kantungnya, mengeluarkan dua lembar tiket bioskop secara free yang ia janjikan. "Nih. Lo berangkat sendiri sama Minseok ya. Lo cari-cari deh alasan supaya lo bisa nonton bareng dia."
Luhan mengambil dua lembar tiket tersebut. Wajahnya berbinar ketika mengetahui mereka akan menonton film Stars Wars yang baru-baru ini dirilis di bioskop.
"Gue alasan dapat free tiket nonton dari paman gue. Janjian di tempat jam sepuluh, oke? Ntar gue pura-pura ngelihat lo dan nyapa lo. Kita pura-pura seolah kebetulan aja ketemu lo yang juga mau nonton. Lo sendirian?"
"Nggak, sih. Kak Jongdae juga ikut nonton."
"APA?!" Sehun sedikit berjengit kaget oleh teriakan Luhan. Ia menatap Luhan dengan raut bingung. Kenapa sekaget itu?
"Kenapa? Lo naksir Kak Jongdae? Kaget gue ngajak dia?"
Luhan mendengus, "Kagetnya sih iya. Yang naksirnya nggak."
Luhan berperang dengan pikirannya sendiri. Ini akan berjalan dengan buruk jika Jongdae benar-benar datang. Minseok sudah lama naksir dengan si Ketua OSIS itu bahkan ketika mereka menjalani MOS. Sedangkan Sehun datang mengungkapkan perasaannya ketika di tengah semester pertama.
Ini akan sulit.
"Xi?" panggilan Sehun membuat lamunan Luhan buyar.
"Ya?"
"Gue cuma mau pamit pulang. Sekolah juga udah sepi. Mumpung jam segini sih, biar bisnya nggak penuh orang kantoran yang pulang." meskipun dari keluarga yang serba berkecukupan, Sehun berlaku sederhana yang biasa dilakoni semua orang.
"Motor lo belum bener?"
"Sengaja gue gak pakai motor. Terlalu asyik pakai bis sih." kekeh Sehun di akhir kalimat.
"Yaudah, mau boncengan sepeda gue nih? Sekalian juga gue mau traktir lo, itung-itung tanda terima kasih udah ngajak gue sama Minseok nonton film bagus yang gratis."
Sehun terlihat berpikir sebelum akhirnya setuju, "Boleh aja sih."
.
.
Setelah menunggu Luhan mengambil tas dan bola sepaknya, kini mereka menelusuri jalan raya dengan sepeda kayuh. Berhubung sepeda kayuh Luhan adalah tipe sepeda kayuh anak perempuan, jadi mereka tidak ambil pusing dimana Luhan harus duduk untuk dibonceng. (karena Sehun bersikeras akan jadi sopir.)
"Lo mau traktir gue dimana nih?"
"Warung batagor deket Sungai Han aja lo gak masalah kan?"
"Buset. Emang di Seoul ada ya warung batagor?"
"Yang punya orang Indonesia. Mau apa lo? Protes?"
Daripada terlihat sebagai dua orang teman, mereka malah terlihat seperti sepasang kekasih yang menikmati waktu pulang sekolah bersama. Baik Luhan maupun Sehun menikmati kebersamaan ini tanpa ada protes apapun.
Luhan yang dibumbung oleh perasaan bahagia bisa melihat punggung Sehun di hadapannya, seolah melindunginya dari serangan yang ada di depan. Sedang Sehun, ia bisa tertawa lepas bersama sahabat gebetannya; atau bahkan Sehun lupa sama sekali tentang Minseok?
Luhan ingin seperti pasangan yang lain –contoh nyatanya adalah Baekhyun dan Chanyeol. Mereka akan pulang bersama naik bis atau sesekali Chanyeol akan mebawa sepeda kayuhnya. Berdua pulang dengan lengan Baekhyun melingkari pinggang Chanyeol. Lalu mereka akan bertukar cerita dan tertawa di akhirnya.
Dia ingin seperti itu bersama Sehun. Tapi itu mimpi. Dia sadar posisi. Sehun sedang naksir Minseok –sahabat dekatnya, yang banyak membantunya dari kejahilan para senior pas MOS dulu.
Hampir saja posisi mereka dekat dengan Sungai Han, bermaksud ke warung makan yang dituju, gemuruh langit terdengar disusul rintikan hujan.
"Wah, tambah deras nih. Nyari tempat aman aja yuk?" usul Sehun yang disetejui Luhan. Saat ini mereka di bawah atap emperan toko yang kebetulan tutup sehingga mereka tidak perlu takut digertak oleh pemilik toko.
"Deras ya." gumam Luhan lirih, sembari melihat tetesan air hujan. Sesekali kedua lengan ringkih itu memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menghalau rasa dingin.
Sehun melihat pergerakan yang Luhan lakukan. Dengan inisiatif bahwa ia harus melindungi Luhan yang lebih lemah darinya, Sehun melepas jaket hitam yang ia pakai lalu menyodorkannya kepada Luhan. Sedang cowok kelahiran Beijing itu menatap bingung antara jaket dan Sehun; seolah mata itu meminta penjelasan.
"Lo kedinginan. Ini, pakai aja jaket gue."
"Hahahaha." tawa hambar. Jujur, Sehun tidak suka niat baiknya dibalas tawa menggelikan. "Gak usah repot-repot. Cowok manly kayak gue kan kuat nahan dingin beginian. Kalo segini mah–" ucapan Luhan terputus karena gerakan tiba-tiba Sehun yang tidak ia duga.
Sehun melingkarkan lengannya pada pundak Luhan, mencoba memakaikan jaket big size ini pada tubuh mungil Luhan yang mulai mengigil.
Cowok yang lebih pendek menolehkan wajahnya ke arah kiri –dimana Sehun berdiri tepat di arah kirinya. Yang tidak mereka sangka adalah jarak wajah mereka yang terbilang… dekat? Manik mereka beradu, seperti kutub selatan dan kutub utara magnet –mengikat dan tidak mau lepas.
Hingga akhirnya Luhan yang lebih sadar lebih dulu. Ia melangkah ke arah kanan, menciptakan jarak yang layak bagi mereka berdua. "Ma-makasih. T-tapi lo harusnya nggak usah repot-repot minjemin jaket." gagap Luhan di awal kalimat.
Sehun yang seolah baru tersadar apa yang terjadi, hanya mengangguk singkat ucapan Luhan tanpa mencernanya. Otaknya masih blank karena daya tarik magnet Luhan yang kuta, mengikatnya… dan kalau saja Sehun lupa akan Minseok, mungkin ia akan jatuh terjerat.
Mereka hening. Luhan yang menetralkan degupan jantungnya. Saking kerasnya, Luhan takut bisa saja mendengar detak jantungnya seperti arena balap F1. Sebisa mungkin, perhatiannya ia alihkan ke jalanan yang sepi pelintas.
Sehun pun sama seperti Luhan. Ia hanya perlu berpikir logis lagi. Ia perlu berpikir ulang lagi.
"Kayaknya hujannya gak bakal berenti. Lagian ini juga hampir malem." ujar Sehun yang memecahkan dinding canggung yang sempat Luhan bangun.
"Y-ya..."
"Traktirnya kapan-kapan aja ya. Gue liat disana ada halte bus. Gue mau pulang duluan. Lo gak apa-apa kan pulang sendiri?"
Luhan menggeleng. "Nope. Yaudah sana ati-ati."
Sehun memberikan senyum tipisnya sebaga bentuk pamit. Untungnya, baru saja Sehun berlari ke arah halte bus, sang bus warna hijau itu datang dan Sehun langsung melesak masuk ke dalamnya. Meninggalkan Luhan dengan rona merah dan rasa dilema itu kembali muncul.
Yah, meskipun agak kecewa karena Sehun tidak menengok ke arahnya lagi. Menghilang bersama bus hijau yang pergi dari halte tersebut.
** Sehun - Luhan **
Hari Sabtu datang juga. Dan beruntungnya Minseok percaya saja dengan cerita karangan Luhan. Jadi girang cowok marga Kim itu saat Luhan datang pagi (bagi pelajar di hari libur, siang masih saja dianggap pagi) dan memaksanya untuk bangun dan mereka akan pergi nonton.
"Perasan pas kita ketemu, lo nggak ungkit masalah tiket itu deh." curiga Minseok saat mereka berada di bis kota.
"Kan Paman gue emang janjiin dari jauh hari, tapi gue nggak ngasih tahu lo soalnya kalau batal kan lo-nya ikut kecewa. Paman gue juga dadakan sih semalam baru baginya. Gue juga kemaren kan abis latihan, jadi capek langsung tidur lupa ngabarin lo. Hehehe…" kilah Luhan.
Dan untung saja Minseok percaya. Buktinya, ketika mereka smapai di lantai gedung mall yang khusus diperuntukkan teater bisokop, Minseok tidak bertanya lagi.
"Jam tayangnya pukul 11. Ini masih jam 10. Di teater itu juga masih ada pemutaran film lain. Mau nunggu di kafe nggak, Han?"
Bukannya menjawab, Luhan malah asyik melihat isi ponselnya. Itu membuat Minseok memerenggut kesal. Ya, mungkin Luhan punya urusan lain. Meskipun mereka dibilang 'sahabat-sehidup-semati' tapi kan namanya orang zaman sekarang juga perlu privasi.
To: Sehun
From: Luhan
Mess: Gue sama Minseok lagi di kursi tunggu deket monitor jadwal tayang. Lo pura-pura datang aja ke monitor jadwal tayang, ntar gue pura-pura ngelihat lo… pokoknya serahin ke gue! (10:12)
To: Luhan
From: Sehun
Mess: Oke. Gue juga lagi jalan sama Kak Jongdae. Otw (10:16)
Baru saja Luhan ingin mengumpat dalam bentuk desisan, tapi pekikan tertahan Minseok lebih menarik perhatian.
"Kenapa, Seok?"
Mata Minseok berbinar lucu. Luhan saja gemas melihatnya. Apalagi ketika telapak tangan itu menepuk pelan bahunya dengan manik yang masih terfokus pada objek di belakang Luhan.
"Itu! Kak Jongdae!"
Luhan ikut membulatkan matanya begitu mendengar pernyataan Minseok. Ia menoleh dan mendapati senior mereka dari kelas 12 meneliti monitor jadwal tayang.
Katanya jalan sama Kak Jongdae, berarti…–
Dan sosok Sehun yang menyusul Jongdae meneliti monitor jadwal tayang. Dengan aktingnya, Sehun berpura-pura tidak melihat Luhan dan Minseok, ia sibuk terlibat obrolan dengan Jongdae.
"Ishh, kok Kak Jongdae jalan sama Sehun?" renggut Minseok sudah seperti gadis manja yang mengetahui gebetan jalan dengan cowok lain. Luhan ingin mengejek tetapi bukan waktunya. Ia tahu kondisi.
Apalagi ketika Luhan kembali berbalik menoleh ke belakang, saat itu maniknya bersibobrok dengan manik milik Sehun. Cowok tinggi dan pucat itu mengembangkan senyumnya dan telapak tangannya mengudara –bermaksud menyapa Luhan, seperti dalam skenario.
Luhan tersenyum dan membalas lambaian kecil itu. "Oh Sehun! Senior Kim Jongdae!" serunya membuat ketenangan orang di sekitar terganggu serta rengekan Minseok yang masih belum siap bertemu Kak Jongdae.
Dua cowok yang menyadari eksistensi Luhan dan Minseok, menuju bangku mereka berdua.
"Gue gak masalah ya kalau itu Kak Jongdae. Tapi plis… Oh Sehun?" bisiknya ketika melihat dua orang cowok tadi berjalan mendekat ke arah mereka.
"Min, kalau urusan cinta itu masalah lo sama Sehun –kalian harus selesaikan sendiri. Gue cuma pengen temenan sama Sehun meskipun dia Berandalan, apa salahnya? Kalau lo nggak suka Sehun, gue kudu nggak suka Sehun juga? Plis, Min, lo kudu berpikir dewasa."
"Hai. Kalian nunggu juga? Sehun bilang dia ngajak kalian berdua, gue heran kok nggak bareng kalian juga." sapa pembuka Jongdae yang membuat Sehun menyumpah serapahi Jongdae dalam hati dan diam-diam Luhan melakukan facepalm.
Mungkin tersihir sama senyumnya Jongdae, Minseok menggeleng membantah. "Nggak kok. Kami berangkat pakai bis kota."
"Oh ya? Udah beli popcorn atau minuman soda?" tanya Jongdae.
Luhan dan Minseok kompak menggeleng.
"Kalau gitu gue mau beli dulu. Kalian mau titip nggak? Biar Sehun sama gue yang beli."
Luhan melirik Sehun. Dan Sehun pun melakukan hal sama. Mereka berpikir inilah peluang tapi dalam diri masing-masing berbeda presepsi. Luhan pikir, ia akan membiarkan Minseok dengan Jongdae sedangkan Sehun berpikir mungkin ia meminta Luhan untuk menggantikannya menemani Jongdae.
"Umm... Kak Jongdae.." Luhan menahan Jongdae yang menarik Sehun untuk ke konter camilan.
"Ya?"
Baik Minseok dan Sehun sama-sama berdegup kencang. Mereka tidak tahu rencana apa yang Luhan laksanakan.
"Biar saya saja yang ke konter sama Sehun. Kakak bisa duduk dibangku saya dulu sama Minseok."
Sehun membulatkan matanya tidak percaya. Sedang Minseok berseru dalam hati, berterima kasih kepada sahabat setianya.
Luhan pura-pura cuek bahkan menarik paksa Sehun untuk ke konter snack dan mengantri disana. Sehun menepis tangan Luhan yang melingkar di lengannya dan menatap tajam Sehun. Andaikan Luhan tidak ingat dia juga dalam misi rahasia yang ia buat sendiri, mungkin dia merasa takut oleh tatapan tajam Sehun.
Maklum aja, dia kan Berandal Angkatan –wajar toh Luhan merasa takut juga?
"Lo apa-apaan sih? Katanya lo bantuin gue buat ngedeketin Minseok, gini cara lo?"
Luhan tidak langsung menjawab. "Lo mau pesen apa? Nachos atau popcorn? Atau lo punya pilihan lain."
"Jawab gue dulu, Xi! Lo sendiri yang mengiyakan. Oh, mungkin karena keadaan lo yang harus setia sama sahabat sendiri –gitu?"
"Diem."
"Nah kan lo nggak bisa jawab. Ini nih permainan lo? Padahal–"
"OH SEHUN!" bentak Luhan yang membuat Sehun bungkam. Luhan juga menatapnya, sama tajamnya. "Kita lagi di depan Mbak-mbak konter. Lo mau pesen apa? Di belakang masih banyak yang ngantri."
O-ohh… Sehun kira Luhan bakal ngamuk dan nge-drama.
Dan asal mereka tahu aja ya, Mbak kasir konter bahkan melihat adegan debat mereka sambil makan popcorn yang kebetulan pesanannya di-cancel pelanggan sebelum HunHan.
.
.
Lagi. Sehun mengerang frustasi dalam keheningan. Pasalnya, deret kursi yang ia sengaja ingin bersebelahan dengan Minseok malah ia menjadi bagian paling pinggir.
Dengan deret seperti ini: Sehun-Luhan-Minseok-Jongdae.
Ia melirik Luhan yang tertawa pelan bersama Minseok –entah mengobrol apa. Luhan sadar diatatap dan balas melirik Sehun lama. Seolah tatapan setajam hunusan. Luhan acuh tak acuh dan melanjutkan menonton film.
Sehun mendesah pelan. Ia tidak menikmati film-nya sama sekali.
Dan untung saja ia dapat tiketnya gratis, ia rugi besar semisal ia membeli tiket memakai uangnya dan inilah balasan yang ia dapatkan.
.
.
Sehun benar-benar muak dan tidak bisa menikmati filmnya sama sekali! Luhan sialan, ia merutuk dalam hati. Dan sekarang cowok asal Beijing itu sedang asyik mengobrol bersama Jongdae dan Minseok –masih membahas film tadi. Sedang Sehun yang berjalan paling belakang hanya memasang wajah sembelit.
"Oy, Sehun! Makasih ya tiket filmnya." kata Jongdae. Membuat Sehun sadar bahwa mereka lagi di tempat umum, bukan taman sekolah yang bisa dijadikan arena panggung karaoke dadakan.
"O-oh ya. Nggak masalah kok." balas Sehun.
"Anyway, gue mau ke toko buku dulu nyari kisi-kisi UNAS besok. Lo mau langsung pulang?"
Sehun sekali lagi melirik malas Luhan. "Umm… gue ya–"
"Oh!" itu seruan Minseok. "Kak Jongdae mau ke toko buku? Sekalian sama yuk. Saya mau cari novel sama komik edisi terbaru." dan satu senyuman terbaik ia tampilkan. Mungkin saja bisa buat Jongdae klepek-klepek.
Sehun menyamarkan senyumnya. Ah, kalau begini mungkin dia akan ikut Minseok dan Jongdae ke toko buku.
… ya, awalnya begitu.
"Gue juga mau ke–"
"Sehun, katanya lo mau nyari makan? Sama gue aja yuk? Gue laper nih." tiba-tiba saja Luhan sudah menggeretnya menjauh dari dua orang tadi. Membuat Sehun makin kelimpungan. "Kalian hati-hati ya, kemungkinan gue bareng Sehun pulang duluan abis ini." teriaknya.
.
.
Sehun makin jengkel. Sedangkan Luhan dengan tenang makan bakso sambil sesekali menyeruput jus jeruk. Sedangkan cowok albino ini sedari tadi hanya menusuk lontong balap yang ia pesan.
Luhan makan dengan tenang seolah dia tadi melakukan kebaikan. Padahal bagi Sehun sekarang Luhan adalah pengkhianat.
"Nggak laper apa kok dari tadi kerjaannya ditusuk doang." celutuk Luhan.
Ttak!
Kuahnya sampai nyimprat.
"Hebat. Kenapa lo nggak milih sekolah teater aja kalau lo bisa muka dua gini?" desis Sehun.
Luhan dengan anteng melirik sebentar Sehun lalu kembali ke baksonya. Dalam hati ia mencoba bersikap normal dan seakan bentengnya tidak goyah hanya dengan gertakan si Berandal Angkatan –yang sayangnya sudah nempel di hati.
"Terus?"
"Lo bilang bantuin gue. Lo bilang lo bakal restuin gue sama Minseok kalau aja si Minseok nggak terlanjur ilfeel ke gue. Dan lo merusak plan terbesar gue, Luhan! LO PERUSAK!" di akhir kalimat itu Sehun berseru keras, bahkan mengundang perhatian pengunjung lainnya.
Luhan menghentikan acara makannya. Ia hanya mencoba menjadi tenang walaupun dalam dirinya layaknya seperti ombak.
"Lo munafik." desis Sehun lirih.
Dan Luhan menyadari kebodohannya –kesalahan terbesarnya kali ini.
Ia menyukai Sehun. Ia terlanjur jatuh cinta dengan cowok di depannya walaupun sepihak saja. Karena cowok di depannya ini mengemis perhatian kepada sahabatnya sendiri. Luhan tidak tega melihat Sehun mengemis kepada Minseok memutuskan mengiyakan ajakan Sehun untuk bekerja sama. Biarlah ia sakit hati. Toh, ini juga demi kebahagiaan Sehun.
Satu sisi lainnya ia tidak buta kesempatan Minseok untuk lebih dekat dengan Ketua OSIS mereka. Ia ingin Minseok bahagia juga; dengan mendekatkanya kepada si gebetan. Meskipun ia tahu itu akan melukai satu orang, yaitu Oh Sehun.
Bukankah semua orang berkata bahwa persahabatan tidak bisa digantikan walaupun itu cinta sejati? Luhan hanya mengikuti kata hatinya. Ia berteguh hati bahwa Minseok sebagai sahabat daripada Sehun yang sebagai pengisi hati. (lalu suatu saat akan tergantikan seiring waktu.)
Tapi apakah sekali saja Luhan tidak memikirkan dirinya.
Luhan, bagaimana keadaanmu? Apa baik-baik saja?
Ia ingin seseorang juga memperhatikannya. Tapi hanya Minseok yang mengetahui siapa tambatan hatinya. Apalagi, Minseok tidak mengetahui permainan busuk apa yang Luhan dan Sehun rencanakan.
Luhan berharap Kyungsoo atau Baekhyun? Tidak. Mereka (Kyungsoo dan Baekhyun, maksudnya) tidak paham betul konsep kisah rumit mereka; antara Luhan-Sehun-Minseok-Jongdae.
"Gue emang munafik," balas Luhan lirih dari kebisuannya sementara. Lalu ia dongakkan menatap Sehun dengan tantangan meskipun ia sama sama saja seperti Sehun –mengemis perhatian walaupun tidak ia tampakkan.
"Gue munafik. Minseok sahabat gue. Dia punya kebahagiaannya sendiri dan itu bukan lo. Coba lo pikir; sahabat mana yang tega maksain orang lain yang bukan kebahagiaannya buat jadi pasangan? Walaupun lo bisa berkilah cinta bisa tumbuh seiring waktu."
Dan satu tarikan nafas, Luhan mengakhiri kalimatnya. "Lo nggak mikirin gue; apa setega itu gue ke Minseok. Apa lo nggak nyoba belajar buat ikhlasin apa yang nggak pantas buat lo?"
Sehun tertegun. Amat malah.
"Game over, Oh Sehun." bisik Luhan.
Sehun merasakan déjà vu.
'Game over. Lo tinggalin aja dia. Buat apa usaha mati-matian kalo ternyata dia nggak ngehargain lo sedikit pun?'
Kata-kata Yifan terngiang di telinganya. Maksud yang hampir sama antara Luhan dan Yifan.
"Tapi lo nggak mikirin gue juga. Gue juga jadi korban disini atas kemunafikan lo." Sehun kembali berkilah. Ia tidak rela bahwa dirinya yang akan kalah.
Luhan menatap nanar Sehun. Cowok dihadapannya… kenapa bisa ia begitu menyayangi cowok ini? Hanya karena kebetulan Sehun menolongnya bak SpiderHun menolong Mary-Lu.
Mereka bersitatap lama. Luhan dengan segala pikirannya yang kacau dan Sehun yang berusaha memojokkan Luhan. Bukankah mereka kombinasi buruk?
Ya, Luhan menyadari hal itu beberapa detik ini. Sehun yang kekanakan, egois dan tidak berpikiran tentang perasaan orang lain.
Dia tidak memikirkan perasaan Luhan yang membantu dan menyayanginya tulus. Sehun terlalu sibuk mengemis kepada Minseok hingga lupa diri dari seperkian ribu siswa masih ada yang memuja Sehun –masih ada yang memberikannya secara tulus.
Dan itu Luhan.
Tidakkah Sehun berpikir dia akan menyakiti Luhan? Ah, tidak. Bodohnya Luhan. Sehun kan tidak tahu menahu tentang perasaan Luhan kepada cowok badung itu. Pantas saja kan Sehun tidak bisa disalahkan. Disini Luhan yang harus disalahkan sekaligus yang menanggung akibatnya. Dia yang jatuh cinta kepada cowok badung ini, dia pula yang membantu cowok badung ini dan dia juga yang baper sendiri.
"Sehun," panggilnya, "harusnya gue yang marah. Lo nyalahin gue kalo gue munafik. Asal lo tahu; lo itu naif. Udah jelas Minseok nggak ngasih harapan dan lo masih memelas minta harapan itu? Gue juga bikin mata lo terbuka kalau nggak hanya Minseok yang bisa lo jadiin tokoh utama."
Sehun menggeleng pelan setelah mendengar kalimat Luhan yang panjang. Sulit untuk dicerna otaknya. "Gue nggak paham maksud lo, Luhan."
"Jujur aja, Sehun–" jeda seperkian detik untuk mengambil napas. "Gue suka lo. Gue nggak paham sama logika otak gue bisa nafsirkan kalau gue suka lo bahkan cuma sekali lo nolongin gue. Gue juga yang diem-diem bales budi meskipun lo nggak mungkin tahu apa yang selama ini gue lakuin. Satu hal lagi, awalnya emang gue nyerah karena lo suka Minseok –gue bisa apa kalau bisanya cuma ikhlas? Nggak tega aja liat lo memelas, padahal selain gue masih ada cewek atau cowok lain yang bisa ngasih perasaan sebesar lo ngasih ke Minseok."
Seun terkejut, tercengang. Ini diluar ekspetasinya. Melihat Luhan yang begitu kalut hingga mata bening itu sudah banjir air mata yang siap meluncur bebas.
Inginnya ia membalas perkataan Luhan yang menyinggungnya, mengatakan bahwa ia bodoh karena hanya terpaku kepada Minseok yang jelas-jelas nggak memberikan harapan –tapi ia tidak menampik kalau itu memang benar adanya.
"Gue nggak butuh belas kasihan lo." akhirnya Sehun buka suara. Ini luar kendalinya. Meluncur tanpa sensor –yang mampu membuat Luhan berjengit kaget di tempatnya.
Ia merasa jahat. Seolah kejahatan yang ia lakukan setara dengan pembunuhan berantai. Tapi apadayanya jika kata-kata setajam katana sudah meluncur menembus hati Luhan tanpa ia kontrol? Beras Ketan sudah menjadi tepung yang diubah jadi adonan –tidak bisa ia ubah.
"… gue gak butuh balas budi lo atau segala kemunafikan lo lagi, Luhan." lanjutnya.
Hati Luhan mencelos mendnegarnya. Bibir bawah ia gigit begitu kuat hingga berdarah agar tidak mengeluarkan isak yang ia tahan. Pegangannya pada garpu semakin kuat. Hingga akhirnya pertahanan itu runtuh. Luhan melempar asal garpu hingga menimbulkan bunyi yang mengundang perhatian pengjung foodcurt. Dengan kasar Luhan merampas ranselnya.
"Gue juga nggak butuh belas kasihan lo. Gue nggak butuh perhatian lo. Karena gue nggak mau berakhir ngenes sama kayak lo, Oh Sehun." lirih Luhan dengan menatap tajam Sehun sebelum meninggalkan meja mereka.
Sedang Sehun, ia mencoba untuk tidak melihat Luhan menjaduh, tidak juga mencoba untuk mengejar.
Acara Sabtu menonton yang menyedihkan.
.
.
|| bersambung ||
.
.
A/N: Karena chapter ini kepanjangan, jadi gue jadiin threeshot aja gapapa kan? Gue janjiin kalo di chap ini HunHan bakal sailing, tapi kok yah malah jadi kek sinteron. Eh, tapi ini based on cerita temen saya yg udah kesebut di special thanks tuh. Tapi tenang, disini bakal end oleh HunHan. Jadi jangan protes kalo HunHan disini masih abu-abu moment-nya. Sebenarnya fanfic ini juga buat meramaikan bulan HunHan's Month juga. Ciyee yg tanggal 12 kemarin Ultah *telatt oyy!
Chapter terakhir hamdallah udah separuh dikerjain. Insya Allah pas Bunda ultah bakal gue publish. Ada yang nunggu fic SLCCM? Kalau berkehendak bisa nyelesein chapter SLCCM, gue juga bakal update barengan sama fic ini tgl 20 nanti.
See ya!
Surabaya | 15 April 2016 | 22:49 WIB
