Luhan tidak langsung pulang ke rumah. Dengan menangis sekeras-kerasnya di dalam taksi (yang diberi tatapan turut berduka oleh si supir taksi), Luhan akhirnya sampai di perkampungan minimalis tempat tinggal Baekhyun.

Dengan lemas, ia mengetuk pintu kayu bercat biru langit. Menemukan kakak sulung Baekhyun yang membuka pintu –Baekbeom. Si sulung Byun itu sempat khawatir melihat wajah Luhan yang sembab sehabis menangis, untunglah Luhan tidak perlu menjawab pertanyaan kepo si sulung Byun karena Baekhyun datang tepat waktu.

Baekhyun juga sempat kebingungan dan kewalahan. Tanpa mau bercerita lebih dulu, Luhan menangis keras-keras di kamarnya dan memohon untuk diijinkan menginap (tentu saja Baekhyun harus menelepon Ibu Luhan untuk ini. Untung saja Ibu Luhan baik dan tidak bertanya macam-macam).

Hingga akhirnya Baekhyun tidak tahan, mengundang Kyungsoo untuk menginap juga. Baekhyun berniat menghubungi Minseok, tapi Luhan kembali meraung melarangnya. Jadilah mereka berkumpul di atas ranjang queen size milik Baekhyun dengan Luhan yang masih sesenggukan.

Baekhyun tidak tahan, segera menjambak poni Luhan. Kebiasaannya jika terlalu geram dan gemas. "Lo masuk rumah gue, nangis kayak anak TeKa minta nginep dan lo nggak mau cerita? Sana lo pergi, tidur di trotoar pun egepe!" maki Baekhyun. Untung saja ada Kyungsoo. Setidaknya dia menjadi pawang untuk keanarkisan Byun Baekhyun dan ibu penenang bagi Xi Luhan.

Luhan membeberkan apa yang sengaja cowok itu sembunyikan. Semuanya tanpa ada yang terlewati. Dimulai dari Sehun yang menolongnya hingga kejadian tadi siang di foodcurt salah satu mall.

Kyungsoo dan Baekhyun jelas kaget. Tapi bagaimana bisa mereka memaki dan menyalahkan Luhan saat kondisi sahabat mereka lebih ngenes daripada jones?

"Sekarang lo tidur aja. Lupain yang tadi. Sekarang ada gue sama Baekhyun. Kita tidur yuk? Mungkin besok baru kita pikirin lagi perkaranya." bujuk Kyungsoo yang disetujui Luhan.

Dengan posisi tidur Luhan dan Kyungsoo di atas ranjang dan Baekhyun sebagai tuan rumah harus mengalah menggelar kasur tipis di atas lantai dekat ranjang.

"Kyung, belum tidur?" bisik Baekhyun. Beruntung posisi Kyungsoo berada di pinggir ranjang memudahkan Baekhyun untuk mengobrol bersama Kyungsoo.

"Belum. Masih kaget."

"Ini kan belum ada Minseok. Gimana cara kita ngomong ke dia meskipun Luhan ngelarang?"

Kyungsoo menghela nafas. "Yahh, gimana ya? Ini kan juga ada sangkut pautnya sama Minseok. Mau gak mau Luhan juga harus certa ini ke Minseok biar gak salah paham nantinya."

"Yaudahlah. Lama-lama pusing juga pala Barbie mikirin persoalan cinta mereka. Mana gue belum ngabarin Chanyeol sama sekali," bibir mengerucut sebal mengetahui notif LI*NE, BBM, Pat*h serta KKT yang penuh dengan id Chanyeol.


. .


"Kalau Aku Suka Kamu, Gimana?"

Oh Sehun EXO | Xi Luhan

Romance | School life | Friendship

Rated: T | Lenght: Threeshot (3/3)

#Disclaimer: Cast jelas bukan punya saya, mereka saling memiliki satu sama lain. Saya yang punya storyline atas pen-name ©Hwang0203, ide cerita punya temen saya.

Notes: Anggap aja semua member EXO disini seumuran semua yah. Kecuali Mas Jongdae sama Koh Yifan.

.

Enjoy read my fic.

.


Sehun hanya melihat kosong ke arah atap kamarnya. Sedari tadi pikirannya kacau. Ia masih sedikit bingung dan kaget dengan pernyataan Luhan, ditambah pula ia merasa amat bersalah pada cowok mungil itu atas kata-katanya yang sadis.

Sebenarnya Sehun sudah menduga, hanya kaget ia tahu ini begitu cepat terbongkar saat ia mengejar Minseok. Diibaratkan denganlari estafet, Sehun berlari secepat mungkin dengan Minseok yang menunggunya di garis finish, sedang Luhan menatapnya prihatn dari bangku penonton.

Cowok ini sudah mencoba menghubungi Luhan berkali-kali. Lewat BBM, tapi sepertinya ia sudah di delete contact. Lewat LI*NE, tapi belum dibaca sama sekali. Beberapa kali lewat panggilan telepon pun nggak dihiraukan.

Sehun menutup matanya. Mungkin Luhan butuh hiburan. Mungkin Luhan butuh waktunya sendiri. Maka sore tadi, Sehun menghentikan segala aktivitas yang berkaitan dengan Luhan.

Lalu menghela nafas berat.

Sepertinya ia harus mengiyakan ajakan Jongin dan Zitao untuk Balap liar guna menghilangkan stress.


** Sehun - Luhan **


Untung saja besoknya hari Minggu. Luhan bersyukur Baekhyun dan Kyungsoo tidak mengungkit lagi. Tapi ia tidak bisa melupakan kejadian kemarin semudah itu jika tiba-tiba Minseok datang ke rumah Baekhyun pagi sekali.

"Ya ampun, Luhan!" pekik Minseok melihat keadaan Luhan yang kacau. Lalu berhambur memeluk sahabatnya.

Luhan melirik Kyungsoo dan Baekhyun bergantian, meminta penjelasan kenapa bisa Minseok disini.

Baekhyun mengendikkan bahunya sambil nyengir lebar. "Yah, Minseok harus tahu, Han. Lo nggak bisa selamanya pendem sendirian. Minseok kan sahabat kita juga, sahabat lo juga. Dia berhak tahu juga." dan diangguki kuat-kuat oleh Kyungsoo.

Minseok melepas pelukannya dan memukul keras bahu Luhan hingga cowok asal Beijing itu mengaduh pelan.

"Dasar lo ya! Masalah besar kayak gitu lo sembunyiin. Lo anggap pertemanan kita nggak sih?" sembur Minseok layaknya Ibu koas menagih tunggakan. Luhan hanya meringis seolah semburan tadi tidak berefek apa-apa.

Kyungsoo duduk di tepi ranjang bersama Minseok, sedang Baekhyun mengambil single chair yang ia posisikan di samping meja nakas –berhadapan dengan posisi Luhan dan Minseok.

"Seok," panggil Luhan dengan suara serak. "Gue nggak tahu harus gimana. Kemarin kan lo jalan sama Kak Jongdae. Gue nggak pengen ngerusak momen kalian dengan telepon gue yang minta lo datang nemenin gue. Lo sahabat gue, kalian semua sahabat gue. Tapi ada kalanya gue butuh waktu sendiri." ujar Luhan agar membuat Minseok tenang.

"Ya ampun, Xi Luhan! Lo nggak usah sampai segitunya–"

"Ssshh…." desis Luhan memotong kalimat Minseok. "…. harusnya gue juga minta maaf. Dugaan lo yang gue niat mak comblangin Sehun ke lo juga bener. Dan gue minta maaf banget. Gue nggak tega liat Sehun begitu. Tapi gue juga dilema sama perasaan lo, Seok."

"Yang lalu biar yang lalu. Gue juga pengen cerita ke kalian semua." manik Minseok bergulir menatap wajah Baekhyun, Kyungsoo serta Luhan yang dengan sabar menunggu cerita Minseok diperdengarkan.

"Kayaknya gue juga harus nyerah deh. Soalnya kemarin di toko buku, Kak Jongdae cerita mau beliin komik Conan volume terbaru. Pas gue tanya dia dia suka baca komik, katanya nggak. Pacarnya yang suka komik Conan, dia beli soalnya hitung-hitung gantiin waktu kencan mereka yang gagal karena sibuk persiapan Unas. Ditambah mereka di sekolah yang berbeda. Bahkan Kak Jongdae cerita kalau dia dan pacarnya mau kuliah di Univ yang sama meksipun beda jurusan." cerita Minseok.

Tapi Minseok tersenyum meskipun yang keluar dari mulutnya bukanlah cerita bagus. "Dan satu lagi yang harus kalian tahu: Kak Jongdae straight. Bahkan dia nunjukkin fotonya sama pacarnya waktu mereka kencan. Pacarnya cantik, manis, kelihatan dewasa banget. Kontras lah sama Kak Jongdae yang keliatan troll juga kekanakan. Gue rasa, gue emang harus mundur."

"Gue juga sama kacaunya kayak lo, Luhan." lanjut Minseok.

Luhan menangkup kedua pipi Minseok, memaksan manik cowok berpipi tembem itu melihat ke maniknya juga. "Dengerin gue ya, Seokkie..."

Semuanya diam. Luhan menarik nafasnya dalam-dalam.

"Sehun itu bukan tipe yang bakal berhenti di tengah jalan raya meskipun dia udah kebelet boker, dia tetep nge-gas motornya buat sampai ke tujuan. Dan tujuannya itu lo. Mungkin kalian lihat Sehun itu anak berandalan, kurang ajar dan bukan boyfriend-material banget kan? Tapi Sehun itu setia kawan, dia nggak akan ninggalin sahabatnya dalam keadaan menyedihkan. Dia juga loyal banget ternyata. Dia ramah dan nggak sungkan-sungkan ngasih pertolongan. Kalian masih inget cerita gue yang digodain preman terus Sehun nolong gue sampai luka? Itu bukti sebagian kecil kebaikan Sehun, masih banyak kebaikan yang dia sembunyiin dari kita."

Luhan semakin erat menggenggam tangan Minseok.

"Gue bakal belajar lupain Sehun, dengan gue ikut saran Baekhyun buat ketemu temen-temen SMP Chanyeol dan temen SMP Baekhyun sendiri yang tertarik sama gue buat ikut kencan buta. Dan lo, Seok –lo juga belajar lupain Kak Jongdae dengan nerima Sehun, oke?"

Genggaman itu dihempas begitu saja oleh Minseok.

"Gue nggak bisa Luhan! Dia itu Oh Sehun! Lo juga pernah bilang ke kita kalo dia cinta pertama lo! Kita tahu segimana berartinya cinta pertama!"

"Dan harusnya kalian tahu cinta pertama itu konyol, bodoh, munafik dan nggak bisa dipertahankan. Kalian juga pernah kan punya cinta pertama? Gue tanya; apa sukses dipertahanin? Nggak kan. Kayak Baekhyun, contohnya; dia bisa dapat yang lebih baik kayak Chanyeol! Kyungsoo pasti bakal ketemu yang lebih baik suatu saat nanti." dan seruan mahadahsyat dari Luhan mampu membuat semuanya membisu.

"… dan gue percaya kalau ngelepas Sehun gue juga bakal kayak Baekkhyun –nemu yang lebih baik."

Minseok menghela nafasnya kesal. Kyungsoo mengacak rambutnya frustasi. Sedang Baekhyun hanya melihat para sahabatnya dengan tatapan sedih.

"Oke," suara Minseok bergetar. "Kalau itu mau lo, gue turutin."

Lalu Minseok bangkit, keluar dari kamar Baekhyun dan pergi begitu saja. Baekhyun berlari kecil menyusul Minseok sedang Kyungsoo hanya meandang Luhan yang masih sesenggukan kecil.

"Tiap masalah pasti ada jalannya. Gue percaya, jalan yang lo ambil ini udah bener." tenang Kyungsoo dan Luhan hanya mengangguk sebagai jawaban.


** Sehun - Luhan **


Sudah seminggu lebih. Ia tidak menemukan Luhan cs di kantin, tidak juga di perpustakaan. Tapi Sehun tetaplah pengecut, ia tidak berani menyambangi kelas Luhan dan Minseok.

Tapi satu kali, Sehun menemukan Luhan cs tengah duduk di kantin. Ditambah Chanyeol yang juga dari kelas Teknik duduk di samping si Byun. Kyungsoo dan Chanyeol yang sepertinya beradu mulut serta Baekhyun yang sudah menjadi pawing bagi kedua teman itu. Minseok yang terkadang menyahuti membuatnya terlihat seperti kompor dalam pertikaian.

Luhan semakin kurus. Bahkan disaat yang lainnya tertawa keras, cowok asal Beijing itu hanya tersenyum lebar tanpa suara. Seolah menikmati sajian komedi yang diperagakan oleh teman-temannya. Tapi mata itu kembali menatap kosong ke arah makanan tanpa ada niat sama sekali memasukkannya dalam mulut.

Ketika manik mereka bertemu, Luhan berjengit kaget sedang Sehun tampak santai meskipun dalam hati ia sama terkejutnya. Sehun mengulas seyum tipis tapi Luhan mengacuhkannya. Luhan berdiri sembari membawa nampan makanannya lalu segera menghilang setelah pamit kepada teman-temannya.

.

.

Sehun jarang menemukan Luhan latihan di lapangan. Menurut Dojoon –selaku ketua klub sepak bola– Luhan hanya berlatih di jadwal mereka berlatih di luar sekolah. Cowok albino itu juga berniat menyambangi tempat Luhan biasa bermain futsal tapi kata teman-temannya Luhan jarang terlihat sekarang.

Kemana anak itu?

Tapi tunggu dulu… kenapa ia harus sebegini khawatirnya kepada Luhan? Apa hanya karena perasaan bersalah saja ia menjadi begini?

Sehun jadi bingung sendiri. Ia mengacak kasar rambutnya lalu segera menghilang dari arena futsal.


** Sehun - Luhan **


Sehun mendesah keras. Ia melemparkan tas yang isinya tidak seberapa banyak ke atas meja, disusul suara derit kursi yang menyakitkan telinga. Semua penghuni kelas tidak berani mengusiknya. Bagi mereka, sudah cukup sial mendapatkan teman sekelas macam Oh Sehun (karena dia adalah Berandal Angkatan) serta salah satu Abdi Dalem yang juga merangkap sebagai sahabatnya –Kim Jongin.

Jongin yang kala itu masih menikmati tidurnya (well, ajaib karena Jongin datang paling pagi hari ini) terlihat bingung sang Komandan terlihat kacau.

Seumur-umur semenjak mereka masih di SMP, Jongin tidak pernah melihat Sehun se-frustasi ini setelah dulu Sehun menegang mendengar berita ia hampir tidak diluluskan dari SMP.

Well, patut dipertanyakan.

"Dude, lo kacau. Banget malah." komentar Jongin to the point. "Lo ada masalah apa kemarin di acara Sabtu nonton?" tembak Jongin yang kebetulan tepat sasaran.

Sehun menggeram, seluruh penghuni kelas yang mendengar menjadi merinding. Bahkan lima murid cewek (dan hanya lima juga di angkatan kelas Teknik) menjadi menciut dan memilih bangku paling depan ketimbang duduk di bangku mereka yang berdekatan dengan dua iblis merangkap teman sekelas.

"Jadi gue bener? HAHAHAHA! Diapain lo?! Ditampar atau disiram cola?" tebak Jongin lagi kali ini dengan tawa kencang, sehingga penjuru kelas dapat mendegarnya.

Bukan rahasia umum lagi kalau hanya Minseok yang berani melakukan hal yang Jongin katakan. Karena itu Minseok, Sehun sudah pasti tidak akan memperhitungkan –ikhlas banget malah.

Sehun memincingkan matanya tajam ke arah Jongin yang tidak terpengaruh ekspresi Sehun yang terlihat seperti menahan boker tiga minggu.

"Ini bukan tentang Minseok. Ini tentang Luhan, temennya si boncel pipi bola kasti."

Tawa Jongin perlahan memudar. Dia balik memandangi Sehun yang kacau.

Penampilan Sehun memang boleh urakan, tapi tidak seperti ini. Kancing kemeja yang semuanya tidak terikat, biasanya Sehun hanya mengancingkan tiga kancing terbawah. Blazzer khusus anak Teknik yang sengaja Sehun pakai, biasanya cowok albino ini enggan pakai blazzer. Rambut yang biasanya selalu tampil oke kini awut-awutan seperti tidak pernah dirawat.

Aneh.

"Lo punya masalah sama sohibnya? Xi Luhan yang katanya mau bantuin lo –yang itu?"

Anggukan Sehun sebagai jawaban.

"Ntar aja gue jelasinnya, Njong. Gue mau istirahat di UKS belakang."

.

.

xx

.

.

Dulu Sehun pernah merokok. Itupun tidak sampai hitungan sepuluh jari. Hanya masalah yang membuat sress saja Sehun berani mengambil putung rokok yang baru. Dan kini ia melakukannya di markas mereka.

Ruangan yang terisolasi berukura itu dulunya adalah UKS. Karena dirasa jaraknya yang agak jauh dari gedung sekolah (karena dipisah oleh lapangan volley), maka mereka membuat satu ruang kosong lagi di gedung kelas sepuluh sebagai UKS hingga ruangan ini tersendiri. Masih beruntung mereka meninggalkan dua ranjang, sehingga jika Sehun cs sedang malas mengikut KBM, tempat ini adalah nomor dua setelah atap untuk dijadikan tempat nongkrong.

Saat Sehun sedang asyiknya mengepulkan asap rokok dari mulutnya, sesosok Minseok yang berdiri di ambang pintu sambil memasang raut wajah kasar.

Cowok albino ini buru-buru bangkit dari rebahannya. Terlalu kaget kenapa bisa Minseok menemukan dirinya disini. Juga, ini sudah masuk jam KBM, apa Minseok membolos?

Segala pertanyaan di kepalanya buyar saat Minseok ternyata sudah berdiri tepat di dekatnya. Mata itu memincing memandangnya tidak suka.

"Ini yang gak gue suka dari lo." Minseok mengambil putung rokok dari Sehun lalu membuangnya, menginjak-injak sampai rokok itu tidak berbentuk. Sehun memandang bergantian rokok dan Minseok.

"Meskipun kita cowok kalau ada masalah yang mampet di pikiran, cowok yang berpikiran logis dan luas nggak akan nyia-nyiain waktunya buat ngerokok. Nggak nyelesain masalah malah nambah penyakit." lanjut Minseok.

"Buat apa lo kesini?" tanya singkat Sehun.

"Wah, tumben lo ngomong dingin kayak gini ke gue. Apa jangan-jangan lo udah punya objek lain yang bisa lo ganggu selain gue, hum?"

Sehun menyeringai tipis, "Dan lo cemburu?" tantangnya.

Minseok tertawa kecil. "Sayangnya gue nggak cemburu, seneng sih iya. Akhirnya lo bisa ngelepasin gue buat jadi objek lo."

Sehun merenggut tidak suka.

"Gue orangnya gak suka basa-basi. Lo kesini mau apa? Kalo lo nekat nemuin gue berdua di tempat gak aman berarti udah emergency kan."

"Banget malah." imbuh Minseok. "Gue mau bilang makasih buat tiket nontonnya. Gue tahu itu dari lo –gue gak ketipu akal-akalan Luhan dan kebetulan ala FTV. Gue juga bilang makasih lo ngundang Kak Jongdae. Asal lo tahu aja, gue suka Kak Jongdae."

Sehun kaget, tentu saja! Selama ini objeknya malah menyukai sahabat kakanya sendiri, yang tak lain itu Kim Jongdae; si Ketua OSIS berwajah troll.

"Tapi lo tahu kan Kak Jongdae–"

"–udah punya pacar dan lurus. Gue paham kok." potong Minseok cepat. "Pas gue tahu, gue sadar diri dan mundur perlahan. Andaikan kalo Kak Jongdae juga bilang cewek itu masih gebetannya, gue juga bakal tahu diri dan mundur."

Tidak ada raut sedih, tidak ada raut wajah yang sok tegar dari Kim Minseok. Yang Sehun pelajari adalah ke-ikhlasan dan rasa lega yang Minseok tampilkan tanpa cowok itu ketahui.

"Kenapa lo nggak belajar dari gue, Sehun, buat ikhlas dan lega semisal gue punya objek lain dan lo udah nyampai titik jenuh ngejar gue?"

Sehun tidak bisa menjawab. Ia hanya diam dan tidak tahu hars membalas apa. Sekalipun Sehun terkenal Berandal Angkatan yang berubah menjadi keji, tak sekalipun ia membantah seseorang yang penting baginya.

Dan Minseok masih merajai.

Itu akan ditepis beberapa detik kemudian saat ia ingat wajah Luhan yang sedih dan kecewa padanya. Ia yang frustasi langsung mengacak rambutnya kasar sambil menggeram pelan.

"Luhan nyuruh gue buat ada untuk lo. Tapi gue mikir lagi, buat apa gue deket orang lain kalo nyatanya gue masih ngarepin orang lain? Yah, gue agak paham perasaan lo sih. Tapi gue yakin, lo pasti nantinya akan berakhir sama Luhan."

"Kok lo ngomong gitu?"

"Feeling," acuh tak acuh Minseok menjawab sembari mengendikkan bahunya.

"Lo hanya belum bisa ngelupain gue. Lo hanya belum bisa terima kenyataan kalo lo berpaling dari gue ke sohib gue itu; bener kan?" tebak Minseok dan sialnya Sehun membenarkan dalam hati.

"Gue cuma mau ngomong gini doang kok. Kalo urusan lo sama sohib gue, sana gih selesain." setelahnya Minseok menghilang menuju gedung kelas Sepuluh.

Sehun terdiam sejenak memikirkan kembali ide yang sempat terlintas seiring perkataan Minseok terngingang. Cowok ini merogoh ponsel dan mendial salah satu nomor yang ia hapal.

"Jongin? Lo tahu Chanyeol yang temen sekelasnya Tao kan? Tahan dia nanti istirahat. Gue ada urusan sama dia."

Dingin. Penuh otoritas dan tak terbantahkan.

Itulah Oh Sehun yang dibangun. Oh Sehun dingin, kejam dan tidak berperasaan adalah karakternya yang ia buat sendiri.

Bukan Oh Sehun yang lepas, terkadang cengeng dan bisa jadi gila bila berhadapan dengan Xi Luhan (dan Kim Minseok tentu saja!)


** Sehun - Luhan **


Luhan berkali-kali mendapatkan peringatan dari pelatihnya. Pria paruh baya itu terus saja mengeluh permainan Luhan yang kurang fokus hingga membuat Luhan harus menyelesaikan latihannya lebih awal karena sang pelatih menyuruhnya istirahat.

Mungkin benar apa kata sang pelatih. Luhan perlu air dingin untuk membasuh tubuhnya yang berkeringat serta mampu mendinginkan pikiran Luhan.

Ini bukan perkara mudah. Cowok asal Beijing ini sudah mencoba menjernihkan pikirannya beratus kalipun percuma. Atau sudah datang ke kencan buta yang disiapkan ChanBaek pun sia-sia. Fokusnya kali ini Oh Sehun. Mati-matian Luhan menahan untuk tidak menghubungi cowok albino itu.

Toh, Sehun sendiri bilang cowok itu tidak butuh dirinya yang munafik dan mengiba.

Rasanya Luhan ingin menangis sekaligus tertawa. Menangis karena perkataan Sehun dan tertawa karena ia begitu bodoh.

Tapi baru saja Luhan keluar dari kamar mandi klub, ia dihadiahi kehadiran seseorang yang membuat pikirannya kacau. Selangkah untuk mendekati lokernya pun ia urung karena seseorang itu berdiri tidak jauh dari lokernya. Ia berdiri di tempat, dengan segala keterkejutan serta kesiapan mental untuk menghadapi egosime yang akan mereka taruhkan.

Seseorang yang dengan santainya menyandarkan punggungnya di loker dengan wajah tak berdosa sama sekali –atau tanpa ekspresi sama sekali?

Heol. Ingin rasanya Luhan menyumpah serapahi tapi ia tidak bisa.

"Hai." sapa cowok itu sambil menampilkan senyum tipis.

Bajingan kelas kakap! maki Luhan dalam hati. Tentu saja mulutnya tidak berani di hadapan Berandal Angkatan kelas ikan hiu macam Oh Sehun meskipun beberapa hari lalu –entah darimana– ia puya nyali juga membantah si Berandalan ini.

"Bagaimana harimu? Seminggu lebih ini pasti ngangenin ya 'kan?" dua kata terakhir itu diucapkan sing a song, membuat Luhan menatap nyalang pemuda itu disertai lemparan kasar handuk ke lantai. Luhan meremas kuku jarinya sendiri.

"Setahu saya hanya orang-orang klub disini yang boleh masuk. Anda tidak punya ijin istimewa ataupun hak yang berlaku jika sewenangnya masuk ke ruangan milik klub lain."

"Wah, sombong ya. Mentang-mentang status kita udah nggak kenal deket, perlakuan lo ke gue bener-bener kayak orang aisng yang baru ketemu sekali."

Sehun mendekat beberapa langkah. Dan sigapnya Luhan ikut mundur beberapa langkah.

"Lo ngomong apa aja ke Minseok, heuh?"

Luhan menyeringai. Akhirnya alasan kenapa cowok albino ini ada di ruang klubnya pun terungkap. "Ah?! Udah ketemu Minseok ya. Dan lo pasti takut banget bajingan kayak lo aibnya terbongkar di depan gebetan sendiri."

"Ini bukan nyangkutin aib. Karena gue tahu lo nggak ngebeberin –jangankan ngebeberin, tahu aja nggak!"

Luhan bisu. Sehun pun sama. Waktu seperti sungai dan mereka layaknya perahu kertas –mengikuti kemana arus waktu membawa, membuat mereka menyelami dalamnya pikiran masing-masing.

"Lo harus jelasin ke gue kenapa lo pakai acara kencan buta segala."

Luhan membulatkan matanya kaget. Sedang Sehun mengeraskan rahangnya.

"Kenapa? Itu bukan urusan lo. Toh, lo juga nggak butuh gue yang munafik, belas kasihan gue atau balas budi gue. Catet dan garis bawahi ya kalimat yang akan gue omongin," Luhan maju mendekat. Dagu terangkat menantang Sehun.

"…gue toh bukan siapa-siapa lo. Beda cerita kalau Minseok yang ngelakuin itu; lo pasti kayak orang gak waras kan?" bisiknya.

"Gue serius!"

"Gue juga!"

Keegosime masih dijunjung tinggi-tinggi.

Dan mereka berdua tidak berkutik sampai satu dari mereka mengalah. Yaitu Luhan. Dengan asal memakai jaketnya, merampas ransel dan kunci yang ada di dalam loker dan berlalu dari hadapan Sehun.

Sedangkan cowok albino itu masih diam. Dia tidak mengejar ataupun menjelaskannya secara detail seperti alam sinetron. Toh, Luhan tidak menoleh ke belakang untung sekedar melihatnya.

Dia tidak bisa memaksa kehendaknya sendiri kalau memang Luhan belum bisa terima. Sehun duduk di salah satu kayu dan mengusap wajahnya yang kusut.


** Sehun - Luhan **


"Ini kerjaan Sehun cs?!" pekik Luhan saat mengetahui lebam di pipi kanan Chanyeol, dan juga membuat linu di persendian siku tangan kiri si jangkung.

"Aww! Baek, bisa lembut dikit kenapa sih!" seru Chanyeol ketika kapas yang dibubuhkan antiseptik itu mengenai luka lebam.

Baekhyun malah menekan kapas itu ke luka lebam, membuat suara berat Chanyeol terpaksa menjerit kesakitan. "urus aja sendiri sono! Gue bukan cewek yang bakal lemah lembut buat ngobatin luka lebam ginian. Lagian kan lo yang paling tinggi, yang paling bisa diandelin! Masa' kalah dengan Kyungsoo?!" ujar Baekhyun.

Luhan melirik ranjang kirinya. Dimana ada Kyungsoo yang tertawa sinis melihat penderitaan Chanyeol.

"Kyung, lo gak luka kan? Sini tunjukkin, gue mau obatin." lengan Luhan yang ingin menggulung lengan kemeja Kyungsoo ditahan si pemilik.

"Gue gak luka kok. Ya, cuman si raksasa yang ngakunya superhero bisa lebam sama linu sendi." setelahnya tawa pelan namun tersirat kesadisan itu terdengar. Membuat Luhan dan Baekhyun spontan merinding. Bukan rahasia umum lagi kalau Kyungsoo dan Chanyeol adalah teman yang akan tertawa puas melihat temannya menderita.

Tapi beruntungnya bagi Kyungsoo, hal itu hanya berlaku bagi Chanyeol.

"Jongin cegat Chanyeol, gue sama Kyungsoo. Maksudnya pengen nyari tahu kabar lo dari perintah Sehun. Si Caplang ini nggak ngasih tahu kan otomatis dia kena pukul, pipinya lebam tuh. Habis dihajar baru Bocah Caplang bocorin kalo lo ikut kencan buta yang kami rencanakan buat lo. Lengannya kirinya dihempas gitu aja sampai kena batang pohon kayu yang gede itu lho –kebetulan di belakang Chanyeol itu pohon gede. Gue dan Kyungsoo yang masih sembunyi disitu, khawatir lah. Si Kyungsoo udah kayak superhero datang dadakan nggak ngomong apa-apal langsung main hajar Jongin."

Luhan membulatkan matanya menatap Kyungsoo tidak percaya. "Woww. Akhirnya kesadisan lo nggak digunain ke Chanyeol aja."

"HEH! Gue denger ya, Rusa!" kesal Chanyeol mengundang tawa seluruh penghuni UKS.

"Lagian sih lo kan Giant. Gak malu kalah kuat dari Hobbit?"

"Baek, lo jahat amat sih sama pacar sendiri?!"

Sebelum Baekhyun menggubris apa yang dikatakan Chanyeol, pintu UKS mendadak dibuka tanpa ada ketukan. Zitao yang berdiri di depan sana membuat siapapun disana memasang sikap waspada. Bagaimanapun Zitao juga kaki tangan Oh Sehun.

"Tenang aja, gue kemari bukan karena niat buruk. Justru gue diutus buat mewakili dia minta maaf ke kalian semua."

"Dia?" ulang Baekhyun.

"Oh Sehun dan Kim Jongin. Sebenarnya Jongin hanya diperintah buat nanya Si Caplang itu secara baik-baik. Mungkin Jonginnya aja geblek pakai acara nonjok Si Caplang."

Baekhyun mendengus. "Mana tuh si gosong? Tadi aja gayanya sok kek mafia pake tonjok, buat masalah sepele permintaan maaf aja sampai harus diwakilan. Cih," ejek Baekhyun. Yahh, Luhan setuju sih. Nggak cowok banget kalau nggak ngaku dia salah.

"Dia masih di luar. Kalau kalian pengen ketemu dia, sana gih temuin balas tonjok juga –meksipun dia udah dapat tonjokan entah darimana."

Kyungsoo langsung unjuk diri. "gue aja deh kalo Chanyeol masih ciut nyalinya. Sekalian gue juga minta maaf tadi nonjok dia." dan sosok mungil Kyungsoo menghilang bersamaan dengan Zitao yang mengekori.

"Dasar! Jadi ini beneran Sehun yang jadi dalangnya?! Gila. Dia lebih parah dari yang gue duga. Emang dia aktor apa mentang-mentang punya tampang ganteng, adikuasa dan sok nge-drama punya kaki tangan. Dapuk!" maki Luhan dengan kesal.

Sedang Baekhyun dan Chanyeol hanya diam tidak berkata apapun.

Luhan menaikkan satu alisnya melihat keterdiaman ChanBaek. "Apa? Kenapa?" tapi tidak digubris sama sekali. Luhan menoleh ke belakang mencari tahu apa yang dipandangi oleh ChanBaek, barulah ia sadar ada Oh Sehun di depan pintu.

"Lo… denger semua?"

Sehun mengangguk pelan. Luhan meringis menyadari kesalahan fatalnya.

"Semuanya tolong keluar. Gue masih punya urusan yang belum selesai sama Luhan." final. Ini nada otoritas seorang Oh Sehun yang membuat sugesti harus dipatuhi. Baekhyun dan Chanyeol menurut dengan meninggalkan rusa dalam kandang bersama serigala kelaparan. Kalian sudah menduganya.

Suara pintu tertutup. Dan Sehun memandangi tajam Luhan. Sedangkan yang dipandangi mulai ambil jarak. ia tidak mau ambil resiko banyak.

"Bukannya gue udah bilang ya lo dan gue nggak ada urusannya sama sekali." Luhan memberikan penekanan.

"Gue paham."

"Nah, otak lo ada gunanya ternyata selain buat bikin onar sama tawuran. Dan cara lo sinetron banget pake acara pukul sama otoritas segala. Lo kira lo siapa? Anak Kepala Sekolah ini? Anak yayasan ini?"

"Bukan."

"Cih, harusnya gue dari awal nilai lo jelek." Luhan memalingkan pandangannya ke jendela UKS yang menghadap langsung ke lapangan bola.

"Kenapa lo anggep gue salah? Oh, gue tahu. Ini gara-gara label yang seenaknya diberikan ke gue. Karen ague ini Berandal Angkatan, hum?"

"Kalo kayak gini cara lo ngejar Minseok, dia nggak akan bisa lo raih. Kalo dia tahu lo bikin celaka temennya, dia bakal terbang bebas saat lo cuma ngejar dia."

Inginnya Luhan segera mengakhiri perdebatan konyol ini. Namun sia-sia saat Sehun mencengkal lengannya –menahannya untuk tetap di kandang serigala yang ganas dan buas. Dan Luhan adalah rusa –mangsa paling melezatkan untuk serigala.

Tapi yang dilihat Rusa dari mata Serigala bukan tatapan lapar ataupun tatapan bias yang membuat lawan bergidik ngeri.

"Luhan." lirih, berat dan sarat permintaan.

Luhan ingin menepis. Semua ini terlihat fana ketika manik Sehun beritatap dengan miliknya.

Sehun memohon lewat tatapannya.

"… gue pengen ngomong ini ke elo, Han. Takutnya lo nggak percaya kata-kata gue."

Ya, segala omong kosong bajingan kelas Ikan Hiu ini tidak akan bisa dipercaya!

"Han, kalau gue naksir lo; gimana?"

Luhan membulatkan matanya, menatap tidak percaya pada Sehun.

"Hun… lo pernah ngerasain bola sepak kena muka lo?" tanya balik Luhan.

"Rasanya sakit, pasti." jawab Sehun mantap. "Tapi kalo tingkah lo kayak begini selama hampir dua minggu, malah bikin gue lebih dari sakit –gue strees, gila."

Luhan mendengus. Ia tidak ingin pecaya Sehun. Memangnya omongan manis si Berandal Angkatan akan berbuah manis juga? Luhan yang baru menanamnya saja merasakan sakit. Bagaimana nanti jika ia lanjutkan dan akan berbuah; pastinya akan lebih sakit.

"Kenapa harus gue? Dari sekian puluh cewek-cowok diluar sana yang berharap lo punya feeling ke mereka –kenapa harus gue yang pengen rasanya nendang muka lo pakai bola sepak." Luhan ingin menangis. Bahkan matanya terasa perih meskipun tidak samai berair. Luhan ingin menunjukkan kalau ia kuat. Seperti bola sepak –ditenang berapa kalipun masih terlihat kokoh dan memberikan kemenangan dalam satu pihak.

Dan Luhan ingin pihak Minseok dan para sahabatnya yang mendapatkan kemenangan. Dan Sehun cs adalah pihak yang ingin Luhan beri kekalahan.

Pertanyaannya adalah –bisakah Luhan menjadikan kemenangan itu nyata dengan melupakan perasaannya pada Sehun?

"Kalau gue naksir lo; gimana?" tanya ulang Sehun.

Luhan menampar keras pipi kiri Sehun sampai cowok itu terhuyung mundur.

"Lo capek pasti ngejar Minseok. Sehingga lo berbalik dan tahu kalau gue naksir lo makanya lo pindah halauan secepat ini. Lo kira lo main sinetron atau panggung sandiwara? Sori, gue nggak cocok jadi pemeran utama dalam sinetron lo itu!"

Sehun diam. Meskipun cap merah di pipi kiri berdenyut, meksipun dalam hatinya, Sehun merasakan harga dirinya direndahkan. Ia sudah memohon, ia sudah berkata jujur dan meninggalkan kesan Sehun si Berandal Angakatan. Tapi apa yang didapatnya? Penghinaan dan tuduhan tidak berdasar.

"Kalau gue naksir lo; gimana?" tanya ulang Sehun.

"Dua minggu ini, daripada kehilangan Minseok gue justru ngerasa kehilangan lo. Gue pengen nge-chat elo atau nunggu chat lo padahal jelas-jelas gue ngejar Minseok. Ada yang salah dengan gue, Luhan kalau gue naksir lo? Jadi gue kudu gimana?"

Luhan diam sejenak. Bergeming sebelum membuka mulutnya. "Gue bakal terbang dan silahkan lo kalau niat ngejar gue."

Sehun keluar dari ruang UKS. Menuju parkiran sekolah dimana motor Harley miliknya bertengger di halaman. Menaiki raksasa hitam itu hingga raungannya bising kota Seoul.

Sedang Luhan masih di tempat. Mendengar suara bising raksasa hitam menjauhi sekolah sambil berdoa Sehun akan baik-baik saja.


** Sehun - Luhan **


Sehun rupanya masih belum menyerah. Buktinya kini cowok albino itu berada di pinggir lapangan untuk mensupport tim kesebelasan Luhan melawan sekolah lain yang menjadi tamu sekaligus lawan.

Ditemani Jongin, Sehun dapat melihat Luhan berlari kesana-kemari sembari memberi isyarat kode kepada kawan. Meksipun sering melihat Luhan berkeringat memakai seragam jersey-nya, baru kali ini Sehun melihat Luhan yang bermain bola.

Mungkin penonton lain dari sekolahnya heran melihat Sehun dengan Jongin menonton pertandingan bola yang nggak Sehun banget. Biasanya Cowok albino ini bakal nonton pertandingan wushu Zitao, atau nggak nonton Anggar –sekelas elite.

Sepak bola? Big no. Bukan gaya Oh Sehun sekali.

Tapi demi menyakinkan Rusa liar ini, apa yang tidak mungkin bagi Serigala Buas?

"Jongin, mau bantu gue?"

"Buat sahabat gue yang ternyata masih manja minta dibikinin susu coklat panas buatan Mama meskipun tittle-nya Berandal Angkatan –apa sih yang nggak?"

Sehun mendelik."Heh, itu aib jangan diumbar. Nggak inget apa kata Pak Siwon tentang umbar aib saudara?"

"Gue bukan calon Ustadz kek lo, so, jangan cermahi gue. Calon kok ya masih nyimpem koleksi blue film."

"Ekhemm…" Sehun dalam mode sok cool saat ia sadar perhatian beberapa siswi terfokus padanya dan Jongin.

Ya ampun ada duo bangsyadh disini!, pekik para cewek yang kebetulan didengar Sehun.

Sialan cewek-cewek ini, gue disamain sama si dekil mana lagi julukan buat kami kok kasar banget. dengus Sehun dalam hati

"Njong, katanya lo mau bantu gue?"

"Apaan emang?"

"Sabotase dong bagian pembawa acaranya. Istirahat menit ke 40 nanti ada yang gue umumin."

"Jangan bilang lo mau nembak Minseok? Kena tolak mampus lo!"

"Bukan, gue mau nembak lo. Batewei, gue ini lumayan cantik dan seksi lho. Berminat gak jadi seme gue?"

Jongin langsung sawan.

.

.

Timnya masih memimpin. Skor 2-1. Beda tipis. Lawan ternyata masih kuat juga dan mudah membaca trik tim-nya.

Dengan lesu, Luhan ke sisi lapangan dimana para Manajer dan pemain cadangan bersiap menggantikan dan juga air minum dingin yang segar.

"Bro, posisi lo, gue gantiin. Sini cap kuningnya, lo kan kapten." ujar Minho kepada Luhan.

Baru saja Luhan ingin melepas tanda kuning yang tertanda sebagai kapten, suara dari speaker membuat gerakan semua penghuni terhenti.

Karena apa? Karena ketika mereka melihat pelakunya, itu adalah Oh Sehun.

"Tess.. tes.. oke, berfungsi. Selamat siang semuanya. Sori ganggu sebentar waktu istirahat para pemain. Sebelumnya yang dari sekolah gue pasti tahu gue ini siapa, tapi kan tamu belum ada yang kenal gue. Perkenalan dulu, gue Oh Sehun angkatan pertama kelas Teknik-1. Atau sekolahan gue biasa nyebut gelar gue sebagai Berandal Angkatan."

Semuanya mendadak panik. Mulai dari Kim Jongdae yang mencoba menggerakkan bawahannya menuju podium. Dan pelatihnya yang juga kebingungan apa lagi yang ulah selanjutnya yang dilakukan oleh Oh Sehun.

Dan Jongin serta Zitao (yang baru datang) menocba menghalangi siapapun yang akan merusak rencana Sehun.

"Dan gue minta tolong, Luhan yang pakai jersey nomor punggung 7! Lo harus dengerin gue!"

Semua mata anggota klub sepak bola sontak menatap nyalang Luhan. Mengira bahwa Luhan adalah penyebab tindak anarkis Oh Sehun.

"Sumpah bukan saya! Dia sendiri yang mulai!" Luhan membela diri. Namun ikut celingukan mencari sosok Oh Sehun yang berdiri di podium.

"Cabut saja kabel listriknya!" usul yang pelaih yang langsung sigap ditangani bawahannya.

Benar saja, Sehun kebingungan saat microfon tidak berfungsi seperti tadi. Dia tahu bahwa ini ulah pihak sekolah. Tapi Sehun tidak gentar.

"Biarpun kalian ngehalangin saya, saya tetep nggak berhenti!" Sehun berteriak sekuat tenaga ke arah sisi lapangan tim kesebelasan Seoulim vocational school.

"Luhan! Gue udah ngejatuhin harga diri gue di depan lo. Gue udah ngaku semuanya meskipun nggak masuk akal dan lo nggak percaya?!"

"Gue udah berusaha ngomong dari hati ke hati, gue udah berusaha menyakinkan lo seberapa besar keseriusan gue, tapi lo tetep gak percaya! Kalau gue naksir lo; gimana?!"

Semuanya menahan nafas mendnegar teriakan Sehun tentang pengakuannya kepada Luhan. Selama ini berita Sehun mengejar Minseok sudah cukup melegenda. Kini mereka harus dihadapkan pengakuan langsung Sehun kepada Luhan –yang notabene-nya adalah sahabat Minseok?

"Kalau gue naksir lo; gue harus gimana, Luhan?!"

Pelatihanya menepuk pundak, menganggetkan Luhan yang masih terpana sekaligus terkejut oleh tingkah nekat Oh Sehun.

"Sana omongin berdua. Biar kita nggak malu-maluin di depan tamu."

Dan Luhan mengangguk singkat sebelum berlari ke podium dan menyeret Oh Sehun ke tempat aman, sepi dan terkendali.

.

.

"Lo apa-apaan sih? Tingkah nekat lo bikin malu kita. Apalagi nama gelar lo itu!" desis Luhan ketika cowok asal Beijing ini berhasil menarik Sehun menuju lapangan indoor basket.

Sang pelaku masih saja bermuka datar. "Gue nggak akan berhenti sampai lo terima kenyataan kalo gue naksir lo, gue terlanjur suka dan sayang ke elo!"

"Kalo ini cuma pelarian doang–"

"Nah!" seruan Sehun memotong kalimat Luhan. "Kalo lo nggak percaya gini terus meksipun kita udah ngomongin ini baik-baik, tetep aja lo nggak percaya sama gue!"

"Bukan gue nggak percaya!" balas Luhan. "… bukan karena nggak percaya. Tapi gue masih takut, masih ragu kalau emang bener-bener lo sayang dan suka sama gue. Nggak ada yang pastiiin itu. Gue pun ragu sama diri gue sendiri. Harus pakai cara apa supaya gue bisa paham dan percaya sama perasaan lo?"

"Jaket biru nomor punggung 7."

"Heh?" Luhan tidak mengerti apa yang Sehun maksud.

"Gue tahu, itu jaket punya lo kan?"

Luhan semakin tidak mengerti sampai akhirnya ia mengingat satu insiden dimana segalanya berubah dari ekspetasi awal.

"Lo… tahu gue?"

Sehun tersenyum tipis. "Awalnya Jongin nantang gue, siapa yang nolongin gue dari amukan Kepala Sekolah bakal bikin gue terkagum dan terpesona. Dan waktu itu gue cari tahu dan cari tahu, kesimpulannya ada pada Kim Minseok. Minseok emang lucu, humoris dan sih yang nggak mau jadi temen ataupun yang rela ngelepasin dia dari jabatan gebetan? Saat itu gue mulai ngejar dia. Meksipun dia terbang dan gue cuma bisa lari ngikutin dia."

"… dan gue kemakan omongan gue saat tahu lo juga ada di sekitar Minseok. Dan Sabtu nonton itu –saat lo hampir nangis dan membuat pengakuan, gue bikin kesalahan juga. Gue ngelepasin Minseok dari jabatan gebetan dan jabatan itu gue sematkan ke lo."

Sehun meraih satu tangan Luhan untuk digenggam.

"Gue pengen ngeyakinin orang yang jadi saksi waktu itu lo. Gue berharap banget sampai keinginan gue gagal dan fakta yang lebih berpengaruh –kesimpulan itu merujuk ke Minseok."

"Hun," panggil Luhan. "lo nggak niat kan jadiin Minseok itu bahan taruhan lo sama Jongin? Bertahan setengah tahun lagi, gila lo! Kurang waras!"

"Nggak. Lagian waktu itu gue terpesona sih sama Minseok. Satu sisi gue pengen percaya kalo yang jadi saksi itu elo, satu sisi lain juga gue terpesona sama Minseok."

"Lo berandalan angkatan, lo kasar dan bikin gue jungkir balik. Dan lo berharap gue bakal nerima lo dengan semudah itu? Dengan cara yang sinteron?"

Sehun terkekeh. "Yah, lagian gue nggak yakin juga sih. Gue sadar kok, enam bulan lo simpen sendiri dan sakit hati sendiri –jangan bantah gue! Dan belum ada sebulan gue udah memohon banget buat minta perasaan lo ke gue. Nggak adil kan?!"

Luhan mengangguk, matanya masih menatap lurus ke manik Sehun. "Nggak adil. Sangat nggak adil."

"Untuk keadilan setara, gimana kalo gue masih ngejar lo? Meskipun gue tahu lo suka gue, meskipun lo tahu gue ngejar lo –gue nggak bakal jalan di tempat, gue bakal lari ngejar lo."

Luhan ingin menangis. Rasanya dia ingin kembali menampar pipi Sehun. Rasanya ia ingin meninju perut Sehun. Hal terakhir itu yang ia lakukan. Meskipun Sehun meringis sakit, tapi tetap saja kekehan itu masih terdengar.

"Lo idiot kuadrat! Goblok! Dasar berandal cap Ikan Hiu –amis pula!" dan Sehun mencekal telapak tangan Luhan, mengehntikan si mungil dari tindak anarkis yang lainnya.

"Luhan, gue punya pertanyaan buat lo." suara Sehun melembut, membuat ketegangan itu siran dan aliran darahnya berpacu cepat.

"Kalau aku suka kamu; gimana?"

Luhan membalas senyum itu. Tawanya pecah. Bersamaan aliran air mata melewati pipi kanannya.

"Kejar gue, bikin gue lebih yakin dan percaya dari ini. Gue butuh bukti kesungguhan lo."

.

.

xx

.

.

"Sehun, kalau gue suka lo; gimana?"

"Genggam tangan gue. Jangan pernah lepasin. Dan selalu percaya dan yakin sama gue."

.


[flashback]

.

.

Luhan berlari ke ruang Kepala Sekolah. Ia mengambil nafasnya perlahan. Ia mendekati seorang cewek yang berdiri di depan pintu Kepala Sekolah.

"Oh Sehun…. hhuh, dia di dalam kan?"

"Memang. Dia disidang Pak KepSek abis digiring ke ruang neraka ini setelah di ruang BK tadi. Kata Pak Kwon sih, mereka nggak mau ngaku kalau mereka yang bawa rokok ke sekolah."

"Kakak yang mergok mereka kan?"

"Ya. Gue lihat tadi mereka pegang bungkus rokok, masih ada isinya dua putung. Kayaknya mereka abis ngerokok di bekas ruang UKS dulu."

Luhan tahu semua. Luhan hapal kronologisnya. Waktu itu dia datang telat, nekat memanjat dinding halaman belakang sekolah yang masih jauh dari gedung dan ruang UKS yang lama. Saat itu mengendap di lorong belakang yang terkenal angker.

Dan saat itulah ia melihat Sehun dan Jongin memergoki geng Bang Yongguk –teman satu kelas Luhan yang memang angat berandal.

"Ayolah, Sehun. Lo kan juga sama premannya kayak kami. Apa asalahnya bolos smabil ngerokok, hum?" hasut Yongguk dan disetujui anggota lainnya.

Sehun mendengus meremehkan. "Meksipun gue berandal, gue berontak demi diri gue sendiri. Dan juga nolong orang lain. Nggak pakai acara rokok yang bakal ngehancurin tubuh lo di masa depan." ucap Sehun. Luhan yang sedang bersembunyi di balik tembok, menahan jerit layaknya fanboy yang mengetahui idolanya ternyata bak superhero juga.

Mungkin saja Sehun dan Jongin yang menyita rokok itu dan kebetulan siswi OSIS itu memergoki bungkusan rokok itu masih di saku seragam Oh Sehun.

"Senior Park Luna, saya pas itu ada di kejadian. Sehun sama Jongin saat itu mergok Yongguk cs yang ngerokok di koridor belakang yang angker. Mungkin rokok itu bisa kebawa sama Oh Sehun dan Kim Jongin."

Luna mengernyitkan alisnya. "Hah? Beneran? Kalo ini cuma cerita karangan biar bisa bebasin duo berandalan itu, maaf saja ya."

"Kak Luna bisa liat cctv. Bukannya di koridor belakang yang angker itu juga dipasang cctv ya?"

Luna terlihat menimbang. Sesaat Luna masuk ke ruang Kepsek untuk menginterupsi dengan bukti ekaman cctv.

"Kak Luna," sebelum Luna membeberkan nama Luhan yang menjadi saksi tidak bersalahnya Oh Sehun dan Kim Jongin, Luhan mencegat Luna. "Tolong jangan bilang saya saksinya."

Luna mengernyit. "Saya aja nggak tahu nama kamu. Pastinya kelas sepuluh Multimedia kan?"

"Kok tahu?"

"Dari badge-nya aja. Beruntung gue tipe yang gak suka nanya nama adek kelas kalau nggak butuh dan untung aja name-tag buat kelas sepuluh masih belum selesai."

Diam-diam Luhan bersyukur. "Kalau begitu saya pamit ya, Kak. Makasih atas kerjasama-nya." Luhan berbalik meninggalkan ruang Kepsek.

Luna sempat melihat punggung Luhan yang menjauh. Jaket biru dengan nomor punggung tujuh.

.

.

Jongin dan Sehun boleh bernafas lega. Pasalnya kakak kelas yang memegoki mereka juga yang membela mereka dengan bukti rekaman cctv. Didalam rekaman itu terlihat Sehun, Jongin dan Yongguk cs tengah ribut hingga satu kesimpulan Sehun dan Jongin merampas kasar bungkus rokok yang disodorkan oleh Yongguk. Jongin yang melempar dan membuang bungkus rokok itu sedangkan Oh Sehun meremasnya dan masih membawanya pergi dari koridor.

"Yakin nih Kak Luna yang jadi saksi? Gue gak yakin." ujar Jongin saat mereka berada di luar ruangan Kepsek.

"Gue tanya dulu deh."Sehun memberanikan diri bertanya kepada senior mereka yang terkenal galak.

"Permisi, Kak Luna. Memangnya beneran Kak Luna yang ngebela kami?"

Dengan santainya Luna menggeleng. "Tadi ada anak cowok dari kelas Multimedia, yang pakai jaket biru sama nomor punggung tujuh di jaketnya. Dia yang bilang sempat lihat kamu sama Jongin ada ribut sama Yongguk cs. Dia juga yang nyuruh saya liat cctv. Beruntung disana ada cctv. kalau nggak, mungkin kalian berdua bakal diskors. Oh, untung juga ada anak itu. Kalau nggak, kami gak akan meriksa cctv-nya." seusainya, Luna segera berlalu.

.

.

"Gue berani bertaruh; lo pasti bakal jatuh cinta sama si saksi itu."

"Kok bisa?" tanya Sehun. Saat ini mereka sedang berjalan menuju kelas mereka.

"Ya nebak aja. Kayak di sinetron."

"Dan Kak Luna pakai sok misterius gitu nyembunyiin identitas si saksi. Malah nyebutin ciri-cirinya. Dikira kita main tebak detektif apa?"

Sesaat setelah Sehun menyelesaikan kalimatnya, dia melihat murid dari kelas Multimedia yang baru saja berdiri di ujung tangga. Diikuti satu yang sedikit gembul dengan jaket biru serta nomor tujuh di punggungnya.

"Tunggu…" Jongin menghentikan langkahnya dan melihat objek yang dilihat Sehun. Jaket biru dengan nomor punggung tujuh dari kelas Multimedia. Ah, Jongin sudah dapat menebaknya.

Duo berandal ini masih berada di tempat, memerhatikan gerak-gerik dua cowok cantik itu hingga Sehun menangkap suara yang memanggil nama si jaket biru –si saksi.

Kim Minseok.

Tapi yang di sebelah, yang lebih cantik itu juga membuat perhatian Sehun teralihkan.

Xi Luhan.

.

.

"Xi Luhan~~ makasih ya, jaketnya. Sori ya gue pake dulu."

"Yaudah, gapapa kali. Lagian, siapa yang pengen lupa bawa baju ganti."

"Ya sori, gue kira di loker masih ada jaket gue. Gue baru inget jaketnya gue bawa pulang dua hari lalu."

"Hahahah, yaudah makan yuk. Gue laper."

"Kalo gitu yang nyampe tangga duluan yang bebas dari bayaran. Alias yang kalah bakal traktir, lo setuju, Lu?"

"Oke, siapa takut?!"

.

.

|| end ||

.

.


A/N: Umm...hai, ini chap terakhir lho gais. Gimana? Btw, HAPPY BIRTHDAY BUNDA KESAYANGAN HHHS~~ Makin cantik ya, Bun, makin awet sama Ayah, cepet2 dikonfirm dan punya momongan tetap (lo telat banget ngucapinnya Mir_-). Umm... gue mau minta maaf banget yah. Janjinya tgl 20 bakal gue post. gue ada deadline tugas dadakan, buka laptop bukan nyentuh folder isi panpik atau connect internet. Malah buka Corel sama photoshop buat desain. [curhat lo?]

Gimana? Udah terpuaskan atau kurang puas sama endingnya. Maafkan kinerja otakku yang memang mampetnya segitu. Eh, btw, yang adegan Luhan-Sehun di ruang klub dan di UKS emang ASLI dari kejadiannya, saya ada di tempat waktu itu tapi cuma jadi penonton [lo curhat lagi, Mir?]

Anyway, makasih banget yang udah review, favs, follow. AKU CINTA KALIAN, KEEP STRONG JADI SUPPORTER AYAH-BUNDA YA GAIS, huha-huha!

Yang login akun, silakan cek PM gais. Aku udah bales yg kalian review di chp 2.

Special Thanks: Aisyah yang peranin Kim Minseok (lo baca, Syah? Ah, jadi malu). Day yang diperanin Oh Sehun. Nov yang diperanin Xi Luhan. Dan gue yang berperan sebagai... Kyungsoo (ttsaahh)

Thanks untuk yang meninggalkan tanda cinta (ttsaahh): Ririn Ayu, Odult Maniac, YYXXYY, guest, Oh Lu-Yan, Arifahohse, mutiara1307, itsathenazi, chenma, Haneul733, xiuxiumin, Baby Deer 726, ori aurel, seluheksana, HanRinnie, Dugeundugeun1214, nene.

Thanks untuk yg fav/follows: Arifahohse, Dugeundugeun1214, HanRinnie, Menglupi, Odult Maniac, Princess Xiao, Ririn Ayu, Sehun Meriang, YYXXYY, daristaeby, hun520han, kidsrhan, ori aurel, purplecy, Oh Lu-Yan, Rena Bodewig, alicella, chenma, itsathenazi, mutiara1307, rensavella xi, seluheksana, tyaku93, xiuxiumin.

See ya in my next fic^^