DANGEROUS SHARE

.

.

.

hyoon©2016

.

.

.

Let's start.

danger, wihomhae!

.

.

.


CHAPTER 2. Introduce


Siapa gerangan yang tak mengenal sosok gemilang mereka sekarang ini?

.

.

.

.

.

Satu lagi pagi yang begitu cerah di Beijing, dimana kebanyakan rakyatnya masih bergelut dengan segelas kopi hangat dan bacaan segar koran di genggaman.

"Presdir, presdir Wu!"

Tapi jangan harap dapat menemukan pemandangan santai semacam itu pada bangunan pencakar langit ibu kota negeri tirai bambu ini yang satu ini. CNA Holdings, atau yang lebih dikenal sebagai Wu Corporation adalah salah satu dari sekian perusahaan kapital yang turut menyokong perkembangan ekonomi Cina yang begitu pesat. Mulai dari urusan saham, bursa, properti, dan hal-hal ekonomis lainnya telah menjadi makanan sehari-hari para penghuninya.

"Presdir Wu! Hh.."

Pemandangan semacam ini pun tak lagi asing bagi para karyawannya-yang mungkin terlalu sibuk untuk sekedar memperhatikan-, seorang manajer vice president yang terlihat berlari kewalahan mengejar sang atasan dengan sekumpulan berkas-berkas rumit di dekapan. Salahkan sang bos memiliki kaki terlampau panjang hingga tiap langkah yang dijejaknya menjadi begitu jauh. "Baru saja Sang Hae Group menelpon, menagih konfirmasi kita tentang persetujuan tender mereka pada perusahaan kita di pertemuan anda yang lalu. Apakah perlu saya mewakili anda untuk menolak-"

"Terima saja."

1 detik.. 2 detik..

"KAU GILA?!- Ah maaf. Maksud saya, bukankah anda telah menerima laporan penasehat keuangan yang saya berikan tempo lalu? Sang Hae Group baru-baru ini memenangkan hampir semua tender sejenis yang membuat namanya cukup melejit untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan raksasa lainnya. Dan kali ini tawarannya tidaklah sedikit, presdir Wu."

"Siapa aku?"

"Shenme?"

"Kutanya siapa aku" sang atasan pun mengulang pertanyaannya jengah,

"Wu... Wu Yifan. Presiden direktur CNA Holdings." jawab sang manajer tak mengerti.

"Jangan sebut aku presdir kalau ingusan semacam itu saja tak dapat kuatasi, Huang."

Pria berkacamata yang dipanggil presdir itu pun mengerling angkuh -sialnya tampan- pada sang manajer sebelum menghilang begitu saja di balik pintu lift yang segera tertutup, "Titip semuanya selama aku pergi um?"

Manajer Huang hampir saja mengumpatkan kelakuan semena-mena atasannya yang satu itu kalau saja pintu lift di hadapannya tak kembali terbuka, menampilkan sosok menyebalkan sang presdir yang lagi-lagi mengerling aneh -sialnya tampan(2)- pada dirinya, "Satu lagi, namaku Kris. Jangan terlalu formal, Tao." membuat salah satu bagian dalam tubuhnya berdesir tak karu-karuan.

"Ugh.."

.

.

.

.

.

CKIIIITT-

BRAK BRUK, DUAGH

"Hehe, sampah" Pemuda bergaris mata tajam itu menyeringai puas menyaksikan pemandangan menyeramkan di belakang mobilnya yang tengah membelah sunyinya jalanan malam.

DUARR!

Mobil yang sedari tadi terang-terangan mengikuti dan menghadiahi dirinya dengan beberapa tembakan brutal itu terguling ke bahu jalan, menabrak pembatasnya sebelum terjun bebas lalu meledak pada lereng curam tepat di bawahnya. Mobil tersebut tergelincir karena tak berhasil bermanuver di tikungan tajam untuk mengikuti sang target yang telah hafal mati seluk-beluk jalanan di daerah ini.

"Ya hyung! Kau kemana saja sih? Baru saja ada orang yang nyaris membunuhku dan kurasa mereka menyerang sendirian. Aku tak bawa senjata.."

"...srrk.."

Pemuda itu tidaklah berbicara sendiri, namun pada rekannya di seberang sana yang senantiasa terhubung dengan dirinya melalui handsfree tak kasat mata yang tersemat di telinga kirinya.

"Hyuuung!"

"srrrkk...Xiu-"

"Hyung? Hyung!"

"ta..srk..d-srkk..serang-DOR!"

"Sial"

Sadar keadaan tak baik-baik saja, dengan cekatan ia memutar fisker karmanya yang telah berantakan itu menuju markas mereka. Dimana kemungkinan terburuk bisa saja terjadi sekarang, mereka dijebak.

DOR!

Namun ia tetaplah seorang agen buta tanpa bantuan navigasi untuk mengetahui arah datangnya musuh sekarang, tanpa sang rekan. Masih sambil berusaha manghindari tembakan-tembakan dari mobil di belakangnya, tiba-tiba saja sebuah van hitam yang jelas-jelas mencurigakan muncul dari arah berlawanan. Siap mengepung dirinya dengan kecepatan total,

"Ck."

CKIIIIIIITT...

...

"Yak, CUT!"

PROK PROK PROK PROK

"Hari ini cukup sampai disini, terima kasih banyak semuanya." setelah membubarkan para crewnya yang terlihat begitu penat, sang sutradara pun beranjak dari kursi lipatnya, menghampiri pemuda tembam bergaris mata tajam yang baru saja keluar dari fisker karma ringseknya -properti syuting- lesu.

"Hei Kim Minseok! Apa yang salah denganmu 'huh? Tak biasanya aktingmu terlihat begini mati."
Diamatinya Minseok yang telah entah ke berapa kalinya kembali menguap lebar-lebar. Jelaslah ia mengkhawatirkan aktornya yang satu ini. Karena memang dirinyalah faktor-x yang membuat rating drama yang disutradainya ini naik sampai 30% tiap minggunya.

"Entahlah, hyung. Kurasa aku butuh istirahat."

"Yaa, kau memang harus segera pulang dan beristirahat.."

"Bukaan.. Aku butuh liburan, hyung.. cuti, cuti!"

"Hooh cuti.. MWO?! CUTI? Kau gila- maksudku, lantas siapa yang akan menggantikan peranmu mulai episode depan, Minseok-yah?"

"Ya, tuan sutradara! Dirimu kan sutradaraa~ Masa' kau tidak bisa atur storyboardnya? Buat saja peranku menghilang akibat kecelakaan barusan, sehingga Victoria mau tak mau harus kembali meminta bantuan Nichkhun dan perhatian penonton teralihkan pada love issue mereka yang menyebalkan ituu.. Dan tada~~! aku bisa pergi beristirahat di kampung halamanku dan kembali lagi nanti dengan pesona berkali-kali lipat untuk membuat rating dramamu naik sampai 70%! Wah selain aktor ternyata aku juga berbakat menjadi seorang sutradara rupanya ckckckck."

Sang sutradara menghela nafasnya kasar. Biar bagaimana pun Minseok berhak mendapat jatah cuti yang selama ini tak pernah diambilnya. Minseok benar-benar bekerja keras belakangan ini dan mungkin karena itulah tubuhnya kelelahan.

"Ya? ya?" bujuk Minseok getol,

"Tak perlu mengaktifkan mode puppy eyes-mu itu! Tanpanya pun aku tak akan kuasa menangkis rengekanmu kalau tak kuizinkan nanti."

"ASSA~~! Kau memang yang terbaik, hyung!"

.

.

.

.

.

"Enyah sana, dasar menjijikkan"

"Heol.. galak juga eoh?"

"Kubilang jangan mendekat!"

"Rasanya aku belum pernah melihatmu lewat sini sebelumnya.. whoa lihat, dia imut juga~ kita dapat jackpot hari ini kawan-kawan-"

DUAGH!

Tanpa sempat mendaratkan tangan kotornya pada wajah mulus sang mangsa, pria bersetelan berantakan itu harus merelakan kepalanya dihadiahi lemparan helm dari sosok tinggi berambut merah mencolok yang baru saja memarkirkan motornya di bahu jalan.

"Kurang ajar... BERANINYA KAU?!"

Melihat sang bos terkapar memalukan di tanah (helm cukup berat untuk membuatmu pusing, kawan), tanpa basa-basi, ketiga anak buah yang tersisa pun menyerbu lelaki tinggi berambut merah tersebut. Tak seimbang, memang. Tapi rasanya para preman itu kurang beruntung mengingat dengan siapa mereka telah berurusan.

"HEEAHH!"

Serangan demi serangan bertubi-tubi dari para preman tersebut dihalaunya semudah membalikkan telapak tangan. Hanya badan mereka saja yang besar tapi ternyata untuk urusan tenaga mereka tak ada apa-apanya. Alhasil ketiganya terkapar berserakan di pinggiran jalan remang-remang tersebut mengikuti jejak sang bos yang telah semaput duluan.

"Uuh..! Kenapa sih orang-orang tak pernah membiarkanku sedikiiiitt saja mencoba ilmu yang diturunkan noona padaku. Padahal aku sudah susah-susah lewat jalan bau ini untuk mematahkan tulang mereka dengan tanganku sendiri!"

"Apa maksudmu?" lelaki berambut merah itu menghampiri satu-satunya objek penyebab dirinya harus repot-repot berada di sini.

"Ye, ye, jeongmal gamsahamnida neee. Terima kasih sudah mau repot-repot menolongku sampai harus menghentikan perjalananmu.. Sekarang sebaiknya kau pergi karna noona ku sebentar lagi akan sampai di sini dan mematahkan lehermu karena mengira dirimulah premannya, tunggu apa lagi ayo cepatlah pergi!" lelaki itu menatap pemuda mungil berseragam sekolah di hadapannya tak percaya,

"Orang tuamu tak pernah mengajarkanmu sopan santun huh? paling tidak tatap lawan bicaramu saad sedang berbicara dengan mereka," dengan geram lelaki berambut merah itu merebut paksa benda persegi berlayar yang sedari tadi menjadi pusat perhatian pemuda tak tahu terima kasih di hadapannya, membuat sang pemilik mendelik kesal, mempertemukan iris keduanya dalam jarak tak seimbang akibat perbedaan tinggi yang sangatlah kontras. Sesegera setelahnya yang lebih tinggi menyadari sesuatu membuat air mukanya berubah bingung,

"..Baekhee?"

DUAGH!

"Dasar ahjussi norak menyebalkan. Aku tahu noonaku memang terkenal di daerah sini, tapi paling tidak matamu cukup besar untuk melihat bahwa aku seorang namja, NAM-JA!" pemuda mungil itu menatap lelaki bongsor di hadapannya kesal, sedikit menahan tawa melihat betapa payahnya lelaki -yang baru saja mengalahkan 4 preman dengan tangan kosong- itu terbungkuk kesakitan memegangi tulang keringnya yang baru saja dihadiahi tendangan oleh dirinya yang notabene jauh lebih kecil. "Dan lagi, namaku Baekhyun, BAEK-HYUN. Camkan itu! Aku tahu wajahku begitu tampan sampai-sampai membuatmu terpana begitu.. Tapi dalam pertarungan sungguhan lengah berarti mati ahjussi.." cibirnya remeh sebelum si rambut merah berhasil membalik keadaan dengan cepat, tanpa terduga mengunci pergerakan bocah angkuh yang baru saja ia ia ketahui namanya itu dengan mudah. Hei sesuatu yang kosong ternyata selalu nyaring bunyinya.

"A-akh.."

"Lihat siapa yang bicara." digenggamnya erat kedua lengan kurus itu dari belakang layaknya polisi yang sedang meringkus seorang maling ingusan, yang tentu sulit melepaskan diri mengingat ukuran tenaga mereka yang terlampau jauh.

BRUMM..!

Namun tiba-tiba saja terdengar deruman samar suara mesin motor menginterupsi aksi 'saling menjatuhkan' mereka. Membuat si mungil yang tak berdaya kembali mengembangkan senyuman angkuhnya 100 kali lebih menyebalkan dari pada yang awal, "Mampus kau ahjussi. Sudah kubilang noonaku akan segera datang dan menghajarmu habis-habisan. Apalagi kalau ia melihat posisiku sekarang ini, ckckck pasti dia akan salah paham dan mengira dirimulah premannya. Ahahaha~ aku tidak sabar melihatmu badan raksasamu dicincangnya menjadi beberapa bagian yang tak utuh. Untuk informasi saja ya, Baekhee noona itu wakil ketua organisasi taekwondo di wilayah ini, ta-"

Sebuah motor besar yang baru saja menghentikan lajunya menyoroti sosok keduanya dengan begitu terang, mambuat sang pengendara mengerutkan dahinya dalam-dalam, mengamati kegiatan tak senonoh macam apa yang sedang dilakukan kedua sosok yang jelas-jelas familiar bagi dirinya nya ini malam-malam begini.

"Cih,aku mengerti sekarang. Bocah ini menyuruhku datang kemari hanya untuk pamer bahwa ia sudah bisa pacaran heum? Mentang-mentang noonanya ini masih jomblo sampai sekarang,"

Bagaimana bisa tak senonoh, ini jalanan umum dan mereka berdua dengan seenak jidat saja saling memagut bibir -lebih tepatnya yang tinggilah yang memagut- dengan begitu nyamannya mengabaikan fakta bahwa bisa saja ada orang yang melewati jalan ini dan melihat kelakuan kurang ajar mereka. Baekhyun masih memakai seragam sekolahnya pula.

Perempuan yang diyakini bernama Baekhee itu menatap remeh sang adik yang terlihat seperti kambing dungu di bawah kendali lelaki berambut merah itu sekarang. Andai ia bisa mengabadikan ekspresi spoiled prince keluarga Byun yang satu ini untuk dijadikan bahan ancaman agar adik sialannya itu tak lagi bisa berkurang ajar pada kakaknya. "Tapi darimana ia kenal Chanyeol ya? ck, boleh juga seleranya."

Nyaris 2 menit tak memiliki sedikit pun kesempatan untuk bernafas, sosok berambut merah yang ternyata bernama Chanyeol itu melepaskan tautan bibir mereka santai sebelum kembali menyeringai remeh pada sosok mungil yang terkutuk menjadi batu akibat keangkuhan dirinya. Sedikit menahan tawa mendapati cara membungkam mulut beretel angkuhnya ternyata cukup mudah dan.. menyenangkan.

"Kalau begini salah pahamnya jadi seru 'kan?" bisiknya pelan, sengaja dibuat rendah disertai hembusan nafas hangat menggelitik yang membuat bulu kuduk sang korban yang belum sepenuhnya sadar meremang, "Ah kebetulan. Oi Baekhee," seru Chanyeol meninggalkan Baekhyun, merogoh kantong jaket kulitnya lalu melemparkan segerendel kunci ke arah perempuan bermasker hitam yang masih setia bertengger manis di motornya, "titip organisasi selama aku pergi ya."

"Memang tugasku, ketua Park."

.

.

.

.

.

PIP

"Gunting verband."

PIP

"Denyut jantung melemah drastis."

"Harusnya tak apa, IHnya telah berhenti,"

PIIIIIIIIIIP..._

Bunyi memekakkan telinga dari benda persegi berlayar yang sekarang menunjukkan garis lurus horizontal itu sukses mengundang helaan nafas tegang dari sosok-sosok berpakaian serba steril di ruangan tersebut.

"Sial- POMPA DIA!"

Dengan aba-aba sang pemimpin, mereka bergerak cepat menyiapkan satu-satunya alat yang dapat mempertahankan kelangsungan hidup pasien mereka. Seorang menyiapkan alat pemacu jantung dan seorang lagi mengoleskan semacam gel bening pada bagian dada pasien disaat yang sisanya berusaha menjauhkan segala sesuatu yang berpotensi sebagai konduktor listrik di sekitar ranjang bedah, "All clear."

NGIIIING.. BEEP!

JDAG!

PIP

PIIIIIIIIIIP..._

"Lagi"

NGIIIING.. BEEP!

"...clear."

JDAG!

PIP

PIIIIIIIIIIP..._

Tubuh ringkih itu terkejang tanpa daya tiap kali sepasang alat berkabel itu mengenainya, memindahkan berjoule-joule tegangan yang mereka miliki padanya. Begitu terus tanpa sedikitpun memberikan perubahan yang berarti.

"Astaga, KAU BECUS TIDAK SIH?! Berikan padaku!"

Sang pemimpin yang terlihat paling gelisah diantara anak buahnya merebut alat tersebut frustasi setelah menaikkan daya kejutnya di ambang batas, seolah ia akan kehilangan segalanya bila tak berhasil membuat pasiennya yang satu ini kembali bernafas.

JDUAG!

PIP

PIIIIIIIIIIP..._

"YA, KAU TAK MAU BANGUN EOH?!"

JDUAG!

PIP

PIIIIIIIIIIP..._

Miris. Itulah yang terlintas dalam batin ketiga anak buahnya. Menyaksikan sosok rapuh pemimpin muda mereka yang secara brutal terus menempelkan defibrillator pada seonggok tubuh yang tak lagi berdenyut. Mereka tahu, ini akan menjadi kegagalan terbesar pemimpin mereka, membiarkan orang tersayang menghembuskan nafas terakhirnya di tangan kita sendiri.

"YAA... KAU HARUS BANGUN, PABBO!"

"Dokter, sudahlah.."

JDUAG!

PIP

PIIIIIIIIIIP..._

"Ya! Sudahlah.. kau menghancurkannya dok,"

JDUAG!

PIP

PIIIIIIIIIIP..._

"BANGUN, SIALAN, KUBILANG BANGUN! Aku sudah berjanji pada semuanya untuk menyeret manusia gila kerja sepertimu berlibur bersama, bertemu dengan Luhan dan sekarang kau mau kabur EOH?!"

"Ya, YANG YIXING, SUDAHLAH! Ia sudah pergi-"

"DIAM!"

JDUAG!

PIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP..._

Dokter muda bernama Yixing tersebut meraung di tempatnya, tak lagi sanggup menatap wajah pucat berlumuran darah yang tergolek kaku di hadapannya. Wajah yang biasa menertawakan dirinya yang kadang terlihat konyol, yang biasa tersenyum bak malaikat di saat tak satupun orang yang sudi, ia yang kadang begitu menyebalkan dan narsis, ia yang...

"Kau tak bisa pergi begitu saja.. Hyung..."

PIP!

Semua tercekat. Tak ayal mereka semua di ruangan itu meragukan indra pendengaran mereka yang mungkin mulai berhalusinasi mencoba menghibur keadaan,

PIP!

DEG

Setengah bergetar, dokter wanita yang berada paling dekat dengan ECG di sana memastikan bahwa suara suara yang mereka dengar bukanlah kesalahan.

...

"...70 bpm, stabil."

"HUAAAAAHHH!?~~" Mereka bersorak terharu, keajaiban telah turun di tengah-tengah mereka. Memecah keputus-asaan kelam dimana sebenarnya Tuhan selalu ada untuk menyimak kisah hidup hambanya, "Yixingie, dia kembali sayang, dia kembali.." di saat anak buahnya sibuk segera mengerjakan tindakan lanjutan pada sang pasien tanpa menunggu aba-aba dari Yixing yang malah jatuh terduduk di tempatnya. Ia merasa begitu sungguh luar biasa leganya sampai rasanya ia lupa bagaimana cara menggunakan otaknya dengan benar sebagai seorang pemimpin jalannya operasi. Tuhan telah mempermainkan perasaannya dengan luar biasa keji.

"..Kau mengerjaiku huh... Kim Joonmyeon?"

.

.

.

.

.

"Senseiii~ sensei!"

"Sensei, aku punya pertanyaan,"

"Dae-tchi, aku tak mengerti soal latihan yang kau beri kemarin.."

"SENSEI.. mau coba kue coklat buatanku?"

"Sensei, jadilah guru privatku.."

"Sensei tolong ajari kami."

"Dae sensei~~~"

"SENSEI, KIMI GA SUKI-"

BLAM!

"Fyuh."

"Mereka agresif seperti biasa nee."

"Ung" Dengungnya singkat kepada sang rekan yang telah terlebih dahulu berada dalam ruangan itu. Menghempaskan tubuh atletisnya pada sofa empuk di ujung ruangan masih sambil memijat pelan pelipisnya yang belakangan ini sering sekali pusing sebelah karena kelakuan merepotkan siswi-siswinya, "Sebegitu jarangnya kah pria tampan Jepang sampai mereka menggila begitu?" gumamnya sakratis tanpa maksud mengundang decakan tersinggung rekan seperjuangannya yang berdarah asli negeri matahari terbit tersebut.

"Sebegitu jarangnya kah wanita cantik di Korea sampai kau jauh-jauh kemari hanya untuk menjadi seorang guru SMA?" balas sang rekan tak mau kalah.

"Hei itu kan bukan mauku.."

"Siapa bilang kau tampan. Muka dinosaurusmu itu hanya unik makanya mereka jadi norak melihatnya"

"Heei, wowowowow.. aku hanya bercanda 'lagi. Sensitif sekali sih.." Pria bergaris rahang tegas tersebut mendengus jenaka pada sang rekan sebelum kemudian merogoh sesuatu pada kantong celana bahannya. Dompet, tempat dimana resep ampuh penghilang penatnya selalu tersimpan aman. Dikeluarkannyab secarik potret kecil seorang bocah laki-laki super imut yang tersenyum begitu manis ke arah kamera tanpa sengaja. Tanpa sadar pun bibirnya menarik segaris senyum mengingat hanya tinggal sebentar lagi sampai ia bisa bertemu malaikatnya yang satu ini di liburan musim panas yang panjang.

"Jongdae-san, oi Jongdae-san! Ponselmu bunyi tuhh!"

"Oh?"

Kembali dari dunianya, Jongdae segera mengangkat panggilang di hpnya yang ternyata telah berdering nyaring sedari tadi,

"Yixing?" gumamnya heran tatkala melihat nama kontak yang muncul di layar hpnya. Tak biasanya ia menelepon di jam sesibuk ini.

"Yobose-"

"Jongdae-ah! Joonmyeon..."

PRAK!

Dan benda persegi pipih itu pun sukses meluncur ke tanah dengan keras.

.

.

.

.

.

"Bagaimana, Kyung?"

TRANK!

"Lidahmu mati ya? Asam sekali!" Komentar pemuda mungil bercelemek hitam itu apa adanya setelah mencobai sesendok masakan sang rekan yang langsung murung kembali ke tempatnya.

PROK PROK!

"Ayo, ayo, ada apa dengan kalian, eoh? Pelanggan kita hampir mati kelaparan di luar sana!" teriak pemuda itu lantang menambah keriuhan suasana dapur yang dipadati oleh koki-koki handal yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

"Ya~ Kau bahkan sama sekali tak membantu.." keluh salah satu koki wanita paruh baya yang tengah sibuk mengocok cairan pekat dalam mangkok di kepitan lengannya.

"Aku harus memastikan kalian cukup pantas untuk ditinggal mandiri selama seminggu nanti, noona.."

"Cih, aku juga mau libura~n" rajuk koki wanita lainnya diikuti cetusan dari koki pria di ujung ruangan yang mengacung-acungkan sebilah pisau daging ke arah pemuda bercelemek hitam itu bercanda, "Kau berhutang pada kami, bocah."

"Arrasseo, arrasseo. Kita minum sepuasnya pulang nanti, aku yang bayar." Koki muda bercelemek hitam tersebut tersenyum lucu menampilkan bibir uniknya yang berbentuk layak hati.

"YEAAH~! Kau yang terbaik, Do Kyungsoo~"

.

.

.

.

.

"Aku telah menyaksikan penampilan kalian di M!Countdown kemarin. Goodbye stage yang bagus."

"Gamsahamnida, sajangnim." jawab kelima pemuda tampan di ruangan itu serempak sambil membungkuk hormat pada sosok tersohor di hadapan mereka.

"Ah, tidak perlu seformal itu! Duduklah, duduk, ada hal yang ingin kubicarakan dengan kalian."

Kelima pemuda itu pun mendudukkan diri pada sofa-sofa di belakang mereka canggung.

"Begini, atas kerja keras kalian selama satu tahun ini, kami sepakat untuk memberi kalian sedikit 'hadiah'..."

Lelaki tua bersetelan jas super formal yang mereka hormati sebagai bos besar itu tersenyum sarat makna membuat ke-5 pemuda di ruangan itu menahan nafas mereka penasaran.

"Kalian dipersilahkan berlibur KEMANAPUN KALIAN MAUU~ yeah ahaha."

KRIK

KRIK

"Heei apa kalian tidak senang?"

"TENTU SAJA SENANG, SAJANGNIM!" para pemuda itu bersorak gembira. 1001 daftar hal asyik yang harus mereka lakukan selama masa liburan nanti pun telah terngiang-ngiang di otak mereka amsing-masing. Mimpi apa CEO mereka semalam sampai jadi baik begini?

WOAH WOAH!

"Boleh kemana saja, sajangnim?" tanya yang berambut hitam di pojokan sofa memastikan yang langsung dibalas anggukan antusias dari sang bos,

"AKU HARUS KE SWISS! Sky diving, sky diving woo~~"

"Astaga, kau pasti akan macam-macam di sana kalau tak di awasi. Aku ikut dengannya."

"Selama ini kita bolak-balik promosi ke Jepang tapi tak pernah sempat berkeliling.. Ah, aku ingin memborong segudang gundam untuk adikku.."

"Jangan jadikan adikmu sebagai alasan, mkkb. Apa bagusnya mainan-mainan plastik itu? Lebih baik berburu Prada atau Gucci di Paris dan aku akan membuat noonaku menggigit jarinya iri.. BHUAKAKAKA~"

"Uh, kau terdengar seperti perempuan, hyung."

"Bagaimana denganmu, Kai?" tegur pria tua itu pada sosok pemuda berkulit paling gelap diantara mereka semua yang sedari tadi hanya tersenyum tanpa suara di tempatnya,

"Kampung halaman, sajangnim!"

.

.

.

.

.

"Cari mati 'eh?"

JDUAG!

"Sudahlah, Baekhyunna.. Mereka hanya mencoba berbicara padaku,"

"Setelah semua hal menyeramkan yang mereka perbuat padamu hari-hari kemarin? Cih jangan harap aku percaya. Kau terlalu baik, Xi Luhan."

DUAGH!

"LUHAN, BAEKHYUN?" pemuda tinggi berseragam lainnya yang berambut hitam menatap pemandangan mengerikan ulah teman mungilnya yang satu ini. Ia pun dengan segera menghentikan aksi Baekhyun sebelum ia benar-benar berhasil menghabisi nyawa seonggok tubuh babak belur yang tak lagi melawan dalam cengkramannya, "Baekhyun, BYUN BAEKHYUN AYOLAH!"

JDUAGH!

Hantam Baekhyun terakhir kalinya sebelum sang teman tingginya dapat menarik dirinya menjauh, "Ini semua karena kau lemah Lu, kau terlalu LEMAH!"

"Heyy, what's wrong dude?"

"URGH!" Baekhyun berjalan meninggalkan kekacauan yang ia ciptakan begitu saja entah kemana. Pemuda tinggi itu pun beralih memandang teman satunya yang ia panggil Luhan tadi heran, yang langsung dibalas gendikan bahu tanda tak jua mengerti apa gerangan yang terjadi pada Baekhyun.

"Untung kau datang tepat pada waktunya, Sehun. Ia jadi menyeramkan begitu sejak tadi pagi. Ia bahkan menggigiti bibirnya sendiri seperti orang kesetanan saat pelajaran sampai berdarah.." keluh Luhan memandangi punggung sempit Baekhyun yang makin terlihat kecil termakan jarak, "Padahal tak perlu dihajar pun orang ini pasti sudah takut melihat tampangnya." tambahnya melirik pemuda babak belur yang terkapar tak bergerak dekat mereka.

...

"Uh.. Dasar setan rambut merah SIALAN! AKU SEBAAAALLL!"

.

.

.

.

.

"Oh, halo Chanyeol!... Sepupu sialanmu itu sudah berangkat sejak kemarin."

"Ya, dan dia menitipkan segalanya padaku, dasar sialan."

"Aku bersumpah kalau ia bukan anak dari almarhum tuan Wu sudah dari kemarin hidungnya kupatahkan,"

"Well, terima kasih. Bukan Huang Zitao namanya kalau urusan segini saja tak bisa kuatasi-"

"Ap- apa?! Masa iya gaya bicaraku sekarang mirip dengannya? Omo, tidak.."

"Ya.. ya.. aku tahu, cepat matikan telponnya! Aku banyak kerjaan, gila. Ne, ne, annyeong.. Hati-hati di perjalanan."

"OH IYA, JANGAN LUPA SAMPAIKAN SALAMKU PADA LUHAN NEE!"

PIP!

.

.

.

.

.

-TBC-


WUANNYEONGG~

Chapter ini khusus pengenalan para tokoh, jadi bisa dibilang ini adalah flashback sebelum mereka ngumpul di rumah lama Luhan.

Bingung ya bacanya? ._.)a

Wokelah namanya juga chapter awal kan.

TENKS TU Hunhan794 MY DEAREST FIRST REVIEWER *muach* dan nama-nama tak ber-acc lainnya yang udah nyempet"in review, LABYU~

SEE YOU NEXT CHAPPIE~

Sincerely, - 세현-