Selasa, Psikologi, atau dalam SMA itu, BK

X's POV

Oke, aku tak mau bicara banyak, tapi karena ini keadaannya khusus, jadi aku harus bicara.

Hari ini adalah hari pembagian hasil tes psikologi yang dilaksanakan minggu lalu. Tes ini bertujuan untuk mengetahui tipe kepribadian dan beberapa masalah hidup. Mungkin aku tak akan mau menceritakannya lebih lanjut.

Aku hanya melihat tulisan hasil tes. Kali ini, aku izinkan kalian untuk melihat apa isinya. Asalkan kalian tidak memberikannya pada wartawan apapun, termasuk wartawan sekolah.

X, INFJ, Konselor. Memiliki potensi untuk mengubah masalah menjadi kesempatan. Memiliki trauma dengan masa lalu dan masih terasa sampai sekarang. Solusi: percaya dengan teman terdekatmu

Ya, begitulah.

"X, bagaimana hasilmu?" tanya perempuan di sampingku. Dialah teman terbaikku, yang berhasil mengeluarkanku dari "kurungan" atas diriku.

Yvonne Gabena

"Oh, Y, seperti biasa, sedikit terjebak dengan masa lalu," kataku.

"Hmm, paling tidak kau sudah bisa sedikit lebih sosial daripada dulu. Aku benci berteriak terus untuk mengajakmu keluar," kata Y. Aku tersenyum sedikit.

"Hei, boleh lihat punyamu?" tanyaku. Y terlihat pikir-pikir. Lalu...

"Boleh. Hanya kau saja yang boleh tahu. Jangan beri tahu yang lain, terutama senior Blue," katanya.

"Tenang saja," kataku. Lalu aku melihat hasilnya Y.

Y, ESFJ, Pemberi. Sangat suka menolong orang yang kesusahan, dan menjadi pemimpin dari golongan orang yang putus asa. Cepat marah. Solusi: banyak minum air.

"Kau mau ini?" tanyaku sambil menyodorkan sebotol air putih.

"Umm, tidak, terima kasih. Aku baru saja minu—"

"HEI, BAGAIMANA PUNYA KALIAN?" tanya senior White yang tiba-tiba datang. Aku langsung menyembunyikan punyaku dan Y.

"Maaf, kau tak perlu tahu sekarang," kataku.

"Ayolah, X, tidak apa-apa kalau ke senior White," kata Y.

"Hehehe, tak apa-apa kok, aku juga tidak memaksa. Maaf kalau menganggu," katanya, lalu pergi. Y terlihat sedikit marah. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan.

"Air?"

Black's POV

"Hey, White, bagaimana? Kau sudah tanya mereka?" tanyaku. Melihat White dengan wajah senang tapi sedikit kecewanya, aku tahu dia pasti gagal.

"Ya, begitulah," kata White.

"Ya, mungkin karena latar belakang kita yang dekat pada wartawan, makanya X dan Y tak mau," kata Black. White hanya mengangguk.

"Bagaimana dengan Lack-Two dan Whi-Two?" tanyaku.

"Ya, apa lagi mereka, data mereka langsung dienkripsi, jadi selain mereka tak ada yang bisa melihatnya," kata White.

"Huuuffhhh..." desah kami berdua. Lalu aku melihat kertasku dengan tulisan di sana.

"Mengetahui tipe kepribadian teman-teman sekelas"

Langsung kusilang, tanda gagal.

Lack-Two's POV

"Whi-two, main yuukkk..." panggilku pada Whi-two yang baru saja selesai mengenkripsi data tes kepribadiannya. Dna langsung memasang wajah seriusnya.

"Kau semakin lama semakin mirip Gold. Aku ingin pergi ke Crystal," kata Whi-two. Lantas aku bingung.

"Lha, untuk apa?" tanyaku.

"Melatih tendanganku agar bisa menendangmu dan akhirnya kau berhenti menggodaku," kata Whi-two dengan nada mengancam. Aku hanya bisa diam saja. Walau sebenarnya...

'Hehehe, aku tinggal minta bantuan Gold saja. Gitu aja kok repot?' pikirku.

Sementara itu...

Diamond's POV

Aku, Pearl, dan Nona Platinum sedang makan di kantin. Seperti biasanya, aku makan paling banyak. Soto 4 mangkuk, es teh 7 gelas, dan lain-lain.

"Ahhh, kau ini, Dia – eh bukan – Diamond! Kau ini makan terus, tapi tak pernah gemuk," kata Pearl.

"Aku juga bingung mengapa," kataku sambil melahap sebuah pisang goreng.

"Hmmm... mungkin kau harus pergi ke dokter, Diamond. Jangan-jangan ada masalah dengan sistem metabolismemu sampai kau tak bisa gemuk walaupun kau sudah makan banyak," kata Nona. Aku sedikit tersentuh dengan katanya.

"Ya, memang sudah kurencanakan itu. Makanya aku sudah menabung sejak 6 bulan yang lalu dari pertunjukan manzai itu, untuk persiapan pemeriksaan," kataku.

"Wah, kau menabung?" tanya Pearl. Aku mengangguk.

"Mungkin aku juga harus belajar pengelolaan keuangan darimu, Diamond. Bolehkah kau jadi guruku untuk itu?" tanya Nona.

Pipiku langsung memerah karena apa yang baru saja dikatakan Nona.

"Diamond, kau tidak apa-apa?" tanya Nona.

"No-nona..." aku hanya bisa tergagap. Lalu aku melihat Nona tersenyum.

"Sudahlah, aku sudah bilang untuk memanggilku dengan nama 'Platinum' saja. Itu sudah cukup. Bagaimana?" tanya Nona.

"Errr... eemm... y-ya. Boleh. Aku akan jadi gurumu untuk pengelolaan keuangan," kataku. Pearl dari tadi hanya terlihat bingung.

Pearl's POV

'Ini sebenarnya ada apa sih?' pikirku.

Sementara itu, di dekat toilet sekolah...

Emerald's POV

"SUDAH KUBILANG, BERHENTI MAIN MATA DI DEKATKU!" seruku, karena melihat 2 manusia itu terus main mata di depanku. Yang satu dengan tatapan tajamnya mencoba untuk mempengaruhi yang lain dan yang lainnya nampak menolak tapi tak dapat melakukan apa-apa.

Ya, Ruby sedang melihat Sapphire yang memakai baju desain terbarunya Ruby. Ahh... kenapa pula aku harus menemani mereka? Plus, kenapa percobaannya tidak nanti saja setelah kita pulang sekolah?

Uhh... Ruby itu sedang ikut lomba desain baju nasional, dan lagi-lagi, Sapphire yang jadi modelnya. Ruby sekali lagi melihat apakah pakaiannya cocok dengan Sapphire.

Kalau kau tanya aku, ya bagus-bagus saja, tapi si Ruby ini...

"Ruby, aku boleh keluar, tak?" tanyaku.

"Aaaa... bagaimana, Sapph? Dia boleh keluar tak?" tanyaku.

"AKU TAK PEDULI! MAU DIA KELUAR ATAU TIDAK, AKU TAK PEDULI! YANG PENTING LEPASKAN PAKAIAN MENJIJIKKAN INI SEKARANG JUGA!"

Aku sudah menduga kalau Sapphire akan berteriak seperti itu. Kesimpulannya, lebih baik aku keluar saja.

Sebelum keluar dari sana, aku berteriak pada mereka.

"Jangan macam-macam kalian! Nanti kulapori Kak Crys!"

Ruby's POV

'Apa peduliku?'

Sapphire's POV

'AKU TAK PEDULI!'

Sementara itu di dalam kelas...

Gold's POV

"Hei, cewek seriusnya kebablasan, gimana punyamu?" tanyaku, dengan gaya santai biasaku.

"Kau tak perlu tahu," kata Crys. Lalu aku tambah mendekat.

"PLEEEEEEEEEEEEEEEEEEAAAAAAAAAAAAASSSSSSSSSEEEEEEEEEEEEE!" dan kulihat Crys agak jijik dan tetap pada pendiriannya.

"Tak mau!" serunya, lalu pergi dari kursinya.

"CRYYYYYYYYYYYYYYYYSSSSSSS! JANGAN PERGIIIIIIIIIIII!" sambil pura-pura menangis. Lalu ada yang datang, bukan Crys, tapi malah...

"Silver, ngapain?" tanyaku dengan nada kesal.

"Tak apa-apa. Kau juga, kenapa kau pura-pura menangis? Pasti kau gagal melihat hasil tesnya Crystal," kata Silver.

"GAK PERLU TAHU!" lalu aku langsung pergi dari Silver.

Di bagian lain kelas...

Blue's POV

"Ayolah, Blue, kau tak perlu membacakan semuanya kan?" tanya Green.

"Kan biar tahu semuanya," kataku.

"Ta-tapi, itu kan data rahasia, seharusnya tidak disebarluaskan," kata Yellow, agak takut.

"Aku tidak menyebarluaskannya, Yellow. Aku hanya membertahukan datanya untuk kita berempat saja. Lagipula, aku tahu yang mana yang akan kubaca lebih dulu," kataku sambil melihat Yellow dengan tatapan jahatku.

"Gadis si**an," kata Green, tapi aku tak peduli. Ini dia, yang pertama kubaca.

Red, ENFP, Juara. Orang tangguh yang memiliki kemauan dan semangat membara. Memiliki masalah untuk mengetahui dan merasakan perasaan tertentu. Solusi: bantu dia menyelesaikan masalah yang satu ini.

"Ya... begitulah. Itulah aku," kata Red dengan ekspresi biasanya. Sementara itu aku bisa melihat kalau Yellow semakin memanas. Kesempatan emas!

"Eh, Red, si Yellow kenapa? Kok wajahnya MERAH sekali?" tanyaku sambil menekan bagian yang jelas itu. Lalu Red melihat Yellow.

Red's POV

"Yellow, kau sakitkah?" tanyaku. Melihat Yellow yang pipinya semakin memerah. Lalu dia menutup wajahnya.

"Ti-tidak... aku tidak sakit..." katanya agak lemah. Lalu aku mencoba untuk tahu suhu tubuhnya.

Yellow's POV

Bangunkan aku kalau ini mimpi! Kak Red... Kak Red memegang keningku... Kak Red...

"Hmm... biasa saja. Tidak terlalu panas. Blue, kau bisa lanjutkan?" tanya Kak Red. Dan itu membuatku tambah MEMERAH.

"Oke, Red," kata Kak Blue. Lalu dia melanjutkan acaranya. Dan di luar dugaanku, ternyata yang dibaca berikutnya adalah...

Yellow, INFP, Penyembuh. Sikapnya adalah bagian dari masa lalu dunia yang sekarang ini sudah sangat langka. Termasuk masalahnya di bagian rasa malu yang berlebihan. Solusi: buat dia melangkah pertama.

"Hmm... lihat, Yellow, di sini tertulis kau harus lakukan langkah pertamamu. Dan langkah pertamamu adalah—"

"HENTIKAN, KAK BLUE!"

Aku melihat semuanya terdiam dan memandangku, termasuk Kak Red. Aku langsung menundukkan kepalaku. Dan...

Red's POV

Yellow... dia menangis? Kenapa aku merasa ada yang salah? Kenapa aku merasa seperti ingin menangis juga? Kenapa aku tidak melakukan apa-apa?

Aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikan tangisannya.

Dan aku melakukannya.

Yellow's POV

Ini benar-benar terjadikah? Kak Red... merangkul...ku...

"Yellow..." tiba-tiba Kak Red memanggilku. Aku yang masih agak terisak mencoba untuk membalas.

"I-i-ya, Ka-kak Red?"

"Maaf untuk yang tadi..."

"Eh? Kak Red salah apa?"

"Tadi, saat aku minta Blue melanjutkan... yang tadi. Aku tak tahu kalau kau malu karena itu tadi. Aku minta maaf, Yellow..."

Dan aku merasa pelukannya semakin erat. Aku tak dapat melakukan apa-apa selain memeluknya juga.

Aku merasakan Kak Red agak mengendurkan pelukannya, melihat sekitar. Dan kemudian...

"Blue, kuminta kau untuk menghentikan dan menghapus video dan fotomu yang mengarah ke kami, se-ka-rang,"

Dia pasti marah. Aku melihat sedikit dan Blue terlihat agak takut. Bahkan Green yang dari tadi diam saja sedikit menjauh dari kami.

"Kak Red, sudahlah, tak apa-apa. Aku baik-baik saja..." kataku. Aku bisa rasakan otot-ototnya yang dari menegang kini sedikit mengendur. Dan dia kembali memelukku.

"Sudah, Kak Red. Tak perlu terlalu dipikirkan," kataku. Lalu, Blue kembali mendekat sedikit.

"Red, ma-maaf membuat kau dan Yellow tak nyaman. Aku tak tahu harus—"

"Kau tak perlu minta maaf, Blue," Kak Red berdiri. Aku agak khawatir Kak Red akan melakukan sesuatu yang buruk. Namun kemudian...

Aku melihat senyuman itu. Senyuman yang membuatku terlena dan jatuh hati pada Kak Red. Apa mungkin...

"Justru aku ingin berterima kasih padamu karena..." aku melihat pipinya mulai memerah. Sepertinya dia grogi atau semacamnya. Aku memegang tangannya untuk membantunya.

"Kak Red, tenangkan dirimu," kataku. Lalu Kak Red menghirup napas dalam-dalam, dan langsung mengeluarkan satu kalimat dengan satu napasnya.

"Blue, aku tahu aku harus mencintai siapa," katanya.

Aku kaget, Blue kaget, bahkan Green kaget. Kalau aku, kaget dan penasaran.

"Aku mencintai semua teman-temanku sebagai teman-teman yang selalu membantuku keluar dari masalahku. Namun yang paling penting... Yellow..." katanya, lalu memandangku.

"You're the answer..." aku sangat bingung. Aku sama sekali tak paham dengan apa yang dikatakan Kak Red. Bukan karena aku tak bisa Bahasa Inggris, tapi karena memang aku tak paham.

"Ja... jawaban apa?"

"Suratku kemarin... aku..."

Aku...

AAAAAAkkkkkuuuuuu...

Baaaaaaakkkkuuuuuu...

Baaaaaannnngggkkkkuuuuuunnnn...

Baaaannnggguuunnn...

Baanngguunn...

Bangun...

"Bangun, Yellow. Yellow, bangun! Pelajarannya sudah akan dimulai!"

Bangun? Jangan-jangan...

Dan akhirnya kesadaranku kembali. Yang pertama kulihat adalah wajah Kak Red yang khawatir padaku.

"eeehh... Kak Red? Ada apa?" tanyaku lemah.

"Bangun, sebentar lagi pak Rowan masuk," kata Kak Red. Lalu dengan lambat, aku mempersiapkan diri. Bukan hanya lambat karena aku baru bangun tidur, tapi karena...

...

... sedih menyadari itu hanya mimpi...

Ahhh... inilah yang terjadi saat kau menggabungkan MBTI, Keirsey, dan SpecialShipping dalam satu wadah sempit. Bukan apa-apa selain mimpi. Kasihan, Yellow...

Pelajaran ketiga, matematika.

Bocoran, silogisme.

RWD keluar.