Kamis, Seni Rupa
Hari itu, para DexHolder sedang menunggu mata pelajaran berikutnya, dan pada saat itu, yang mereka bicarakan hanya satu topik utama.
Green's POV
"Bagaimana, Blue? Kapok tidak belajar tadi malam hanya karena ingin memergoki Red dan Yellow?" tanyaku. Aku hanya melihatnya menaruh kepalanya di atas meja seperti ayam yang akan mati. Tapi di bawahnya, sepertinya aku melihat sesuatu.
"Blue, itu kertas, kertas ulanganmu atau bukan?" tanyaku. Lalu akhirnya si gadis si**an itu bangun perlahan.
"Uhhh... Greeny meanie... aku mikir ini semalaman sampai lupa tidur..." dia menunjukkan kertas itu dan membiarkanku membaca kertas itu. Dan saat aku membacanya, sontak...
"Apa-apaan ini?" tanyaku.
"Ya, aku akan sampaikan ini nanti saat sudah masuk jamnya. Aku mau tidur lagi..." kata Blue, dan dia tidur lagi.
"Gadis si**an," kataku.
Sementara itu...
Emerald's POV
"Kak Crys, bagaimana ulangannya tadi?" tanyaku dengan wajah berseri.
"Eh, Emerald, enak. Ulangannya enak. Bagaimana denganmu?" tanya Kak Crys, terlihat cerah juga.
"Sama. Bagaimana dengan Kak Gold?" langsung wajahnya Kak Crys muram.
"Heeeeeehhhhh... lihat saja manusia yang terbujur kaku di sampingku," katanya, lalu aku melihat Kak Gold yang terkapar di kursinya.
"Dia terlalu banyak main biliar sampai lupa belajar. Padahal sudah kucoba kuingatkan dia agar tidak lupa belajar. Huuuhhhh..." desah Kak Crys.
"Sabar, Kak Crys. Dia memang orangnya seperti itu," kataku. Lalu...
"TEEEEEEEEEEEEEEETTTT! TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEETTT! TEEEEEEEEEEEEEEEET!"
Green's POV
"OKE! AKU BANGUN!" seru Blue dengan semangat.
"Mulai lagi..." kataku. Lalu aku melihatnya maju ke depan kelas dan saat itulah, kekacauan dimulai, kalau kau tahu maksudku.
"TEMAN-TEMAN! Bu guru Juniper tak bisa datang hari ini, jadi beliau memberikan tugas menggambar hari ini!" seru Blue. Sontak semuanya kaget. Semua selain...
"Asik, menggambar lagi!" kata Yellow.
"Wah, kita sesama pecinta menggambar akan menikmati ini," kata Ruby.
"Benar, Ruby. Kak Red, bagaimana menurutmu?" tanya Yellow.
"Apapun yang penting kita masih bisa belajar," kata Red.
"Hei, Red. Kau tidak kecewa Bu Juniper tak datang?" tanyaku.
"Ya, mungkin aku memang kecewa, tapi selagi ada tugas, tak masalah, lagipula aku tahu akan menggambar apa," kata Red. Aku hanya mengangguk.
"Nah, Bu Juniper memintaku untuk menentukan apa yang akan kalian gambar. Bu Juniper memberikanku kuasa penuh untuk memilih, jadi, ini yang akan kalian gambar,"
Pearl's POV
"APA-APAAN ITU?" seruku.
"Ada apa, Pearl?" tanya Diamond..
"AKU TAK TERIMA! KAU YANG MEMUTUSKAN?" tanyaku.
"Tee-hee, kalau tak mau, ya sudah, akan kukatakan hal ini pada Bu Juniper dan kau tahu akibatnya kan?" kata Blue.
'Sial... aku kalah debat...' pikirku. Dan aku putuskan untuk diam saja.
Blue's POV
"Oke, jadi ini pembagiannya,"
Red dan Yellow menggambar Naturalis dengan memakai 2 warna dasar, merah dan kuning. Green dan Blue menggambar Surealis dengan warna biru dan hijau. Gold dan Crystal menggambar kubistis dengan warna kuning dan biru. Ruby dan Sapphire menggambar Realistis dengan warna biru dan merah. Silver dan Emerald menggambar konstruktivisme dengan warna hijau dan putih. Diamond dan Platinum menggambar Klasikisme atau Neo-Klasik dengan warna biru dan putih. Pearl dan Wally menggambar Impresionisme dengan warna hijau dan kuning. Black dan White, serta Lack-Two dan Whi-two menggambar masing-masing Abstrak Kubistis dan Abstrak Nonfiguratif, dengan warna hitam dan putih. Cheren dan Bianca menggambar Futurisme dengan warna hitam dan kuning. X dan Y menggambar ekspresionisme dengan warna biru.
Red's POV
"YES! Naturalis!" seru perempuan di sampingku.
"Yellow, sepertinya kita mendapatkan porsi yang enak di tugas ini," kataku. Yellow mengangguk sambil tersenyum.
"Benar, Kak Red. Ayo kita mulai menggambar bersama," kata Yellow. Aku mengangguk dan mempersiapkan alat gambarku.
Gold's POV
"Gold, kau harus membantuku kali ini. Aku tak ingin kau tidur-tiduran seperti orang yang menyesal," kata si cewek seriusnya kebablasan ini.
"Iya, iya. Nah, aku melakukan apa?" tanyaku.
"Warnai semuanya. Aku yang buat polanya," katanya.
"Oke," kataku.
Ruby's POV
"Hehehehehe…"
"Apaan?" Tanya si barbar yang akan jadi targetku kali ini. Dan itu membuatku tersenyum makin lebar.
"Jangan coba-coba gambar aku yang pakai gaun!" serunya.
"Tenang saja, sekarang kau yang memutuskan ingin menggambar apa," kataku. Tatapannya masih tajam.
"Aku tak percaya!" serunya lagi.
"Aku serius, Sapph," kataku. Akhirnya dia sedikit melunak.
"Oke, tapi aku akan tetap mengawasimu," katanya.
Blue's POV
Aku akhirnya selesai menyampaikan pengumuman itu. Aku kembali ke tempat duduk dan saat aku melihat kertasnya lagi...
"Aduh, aku lupa bagian ini!" seruku.
"Ada apa lagi, gadis si**an," tanya Green.
"Ada yang harus disampaikan!" lalu aku maju lagi. Dan aku bicara lagi.
"Te-teman-teman, satu lagi, aku diminta Bu Juniper untuk merekam penjelasan gambar kalian yang sudah jadi nanti. Karena mulai saat ini sampai seterusnya jam pelajarannya kosong terus, kita punya waktu banyak untuk menyelesaikan gambar dengan hasil dan penjelasan terbaik. Sekian, terima kasih..." Lalu aku melihat sekitar, dan...
Kok diam semua ya?
Satu-satunya ekspresi yang terlihat adalah ekspresinya Cheren yang tersenyum.
Cheren's POV
"Bianca, tolong kau buatkan polanya. Aku yang gambar dan beri penjelasan," kataku. Bianca terlihat agak gugup.
"Ta-tapi, Cheren, aku tak punya—" langsung kuberi dia buku tentang futurisme.
"Bacalah," kataku, sedikit tersenyum untuk menenangkan Bianca. Bianca mengangguk dan kami mulai bekerja. Aku membaca banyak referensi sambil menunggu Bianca selesai membuat pola.
Neutral POV
Semua terlihat tenang mengerjakan gambaran mereka.
Red dan Yellow tampak santai menggambar bersama. Mereka membuat pola dan mewarnainya bersama. Terlihat mereka menggambar hutan mereka, Viridian, dengan 2 Pikachu mereka tidur di bawah satu pohon besarnya.
Green dan Blue menggambar dengan sepenuhnya ide Blue. Yang mereka gambar adalah api yang dibagaikan sebagai Red yang mendaki puncak Gunung Silver yang digambarkan dengan banyak dinding perak raksasa, dan di sampingnya ada matahari yang menghangatkan api itu.
"Oke, aku tahu apa maksudmu. Kau sedang menggambar 2 orang itu kan?" tanya Green.
"Greeny pintar!" seru Blue dengan senyuman iblis yang menakutkan anak bayi baru lahir.
"Gadis si**an," kata Green sebelum mereka melanjutkan gambarnya.
Gold akhirnya menggambar pola yang dibuat Crystal. Mereka menggambar versi kubistis dari Arceus.
"Jangan lupa, tepi-tepi kotaknya diwarna biru, yang isinya diberi kuning," kata Crystal.
"Iya, iya, aku ingat kok," kata Gold.
Ruby dan Sapphire menggambar Mossdeep Space Center. Agak sulit bagi Sapph untuk menggambar bentuk geometri, jadi...
"Ruby, kau sudah selesai buat gedungnya belum?" tanya Sapph.
"Sudah! Tepat waktu kau bertanya. Tapi kenapa kau minta gambar ini?" tanya Ruby.
"Ya... ada deh," ledek Sapph. Dan...
"Nah, kau gambar pohon dan semak-semak di sekitar gedung ini. Pasti bisa, kau tinggalnya di hutan," kata Ruby.
Emerald's mind...
Ruby, hati-hati kalau bicara dengan perempuan seperti Sapphire. Bisa-bisa kau besok babak belur dihajar Sapphire...
Dan benar saja.
4 "gunung tertinggi di Bumi" pindah ke kepalanya Ruby.
Sementara itu, Emerald dan Silver hampir selesai menggambar sketsa hitam putih dari sebuah gedung yang tak pernah ada. Gedung dengan banyak stadium dan tempat-tempat fasilitas umum. Ada tulisan di atasnya,
"Pokemon Megacenter," kata Silver.
"Jangan hanya Pokemonnya yang megaevolusi, gedungnya juga harus mega," kata Emerald.
"Ternyata kita bisa kerja sama," kata Silver.
Waktu terus berjalan, dan pada akhirnya semua kelompok di sana selesai menggambar. Dan saatnya untuk mempresentasikan gambar mereka.
Blue's POV
Aku heran pada Bu Juniper, tapi juga senang. Bu Juniper meminta urutannya dimulai dari X dan Y, dan berakhir di Red dan Yellow. Dan kau tahu kan apa yang terjadi kalau X disuruh maju ke depan kelas?
"Ayo, X! Ini giliran kita!" seru Y.
"Aku tak peduli kalau Kak Blue ingin mengirimkanku email dengan gambar kita melakukan apapun, aku tak akan mau!" seru X. Lalu kudekati X.
"Tee-hee... tak semudah itu... aku akan bilang pada Bu Juniper kalau X membolos di—"
"Minggir, Blue! Ada yang harus kulakukan," langsung X menarik tangannya Y dan maju ke depan.
Seperti yang kurencanakan... tee hee
Neutral POV
X dan Y menggambar pandangan mereka berdua tentang masing-masing. Mereka saling menggambar wajah di kertas gambar itu. Terlihat Y dengan biru terang dan X dengan biru gelap. Y dengan senyuman yang terlalu lebar dan X dengan cemberut yang terlalu besar. Di sampingnya ada tulisan dalam bahasa mereka sendiri, bertuliskan...
"XHALGNARET!"
Wally's POV
"Itu tulisan apa?" tanyaku.
"Ini tulisan untuk X," dan aku langsung melihat X sedikit tersipu dari perkataan Y. "Tulisannya, Teranglah, X!" lanjut Y.
"Jadi, itu gambar untuk membangkitkan semangat X?" tanyaku.
"Bisa dibilang begitu," kata Y.
Neutral POV
Setelah X dan Y, Lack-Two dan Whi-Two menerangkan gambar langit malam yang tak berbentuk. Ini diambil dari hobinya Whi-Two, memandang langit malam. Black dan White menggambar abstraksi Reshiram. Cheren dan Bianca menggambar seseorang dengan pakaian antiradioaktif. Pearl dan Wally menggambar suasana kelas saat menggambar tadi. Platinum dan Diamond menggambar kisah kerajaan masa depan.
Red's POV
"Wah... itu kerajaan kan?" tanyaku.
"Ya, Kak Red. Ini adalah kerajaan masa depan yang kami gambar, dengan para peneliti yang sedang meneliti makanan antikadaluarsa yang baru selesai dibuat," kaya Diamond.
"Hehehe... Diamond pikirannya selalu makanan," kata Yellow.
"Ya, mau apa lagi? Tapi gambarnya keren juga," kataku. Lalu aku lihat wajah Yellow agak menunduk.
"Yellow, ada apa?" tanyaku.
"Hmm... semuanya gambarnya bagus-bagus. Bagaimana dengan kita?" tanya Yellow. Aku langsung saja memberikan senyumanku padanya sambil membalas pertanyaanya itu.
"Ini bukan lomba, Yellow. Juga, bagus tidaknya gambarmu tak akan dipikir orang. Kau kan juga juara gambar tingkat 4 region. Tidak mungkin gambarmu jelek. Aku yakin itu. Dan karena aku yakin, kau juga harus yakin kalau gambarmu itu akan diapresiasi," kataku. Aku rasa sedikit panas di pipiku.
"Ehhh? Kak Red! Jangan sebut begitu... Aku... aku masih belum ada apa-apanya..." sambil menutup wajahnya karena menahan malunya.
Aduh! Sudah, Yellow! Manismu itu loh...
"Kak Red? Kau tak apa-apa?"
Eh? Aku terdiam saja dari tadi?
"Hehehe... maaf. Yellow, kita kan menggambar ini bersama, jadi apapun yang terjadi, kita tanggung bersama. Jangan menyerah sampai akhir. Oke?" tanyaku.
Yellow's POV
Kak REEEDDDD...! Terima kasih, Kak Red!
"Ya!" aku merasakan keberanianku datang lagi setelah menyurut sebentar. Lalu aku dan Kak Red melihat siapa yang maju kali ini. Dan ternyata...
"HAAAHHH!? KKAAKKK REEEDDDD..." aku takut lagi.
"Ada apa lagi?" tanya Kak Red, mulai khawatir.
"Sekarang, sudah gilirannya Green dan Blue..." kataku. Lalu Kak Red menggenggam tanganku sambil tersenyum padaku.
"Kita hadapi ini bersama, oke?"
Kak REEEDDDD...! Terima kasih, Kak Red!
"Ya!" aku merasakan keberanianku datang lagi setelah menghilang sebentar. Lalu…
"Red, Yellow, giliran kalian!" seru Blue, sekarang di belakang kamera. Menyuruh kami untuk majuke depatn kelas. Aku memandang Kak Red sebentar, lalu dengan sekali anggukan, kami maju.
Red's POV
Aku tahu kalau Yellow bukan tipe orang yang suka berbicara di depan umum. Jadi aku putuskan untuk mulai bicara lebih dulu.
"Baiklah. Teman-teman, inilah gambarku dan Yellow. Judulnya… uuhh… Yellow, judulnya apa ya?" tanyaku. Yellow hanya bisa angkat pundak.
"Oke, judulnya adalah… 'Viridian'?" tanyaku. Yang lain juga angkat pundak.
Beberapa saat kemudian, semuanya selesai. Akhirnya aku bisa beritirahat. Dan di sampingku, Yellow merayakan kemenangannya dengan tertidur pulas. Aku hanya bias tersenyum puas karena bisa membantunya dalam tugas ini.
"eeehh…. Kak Red…"aku mendengar Yellow memanggilku, dan saat aku melihatnya,…
'Hehehe, ternyata dia masih bermimpi…' pikirku.
Itu membuatku punya ise. Terima kasih, Blue!
Aku mengambil kameraku, dan saat waktunya tepat dan tak ada yang mengawasiku, aku potret wajahnya Yellow yang tersenyum manis dalam tidurnya. Setelah itu, aku buat fotonya menjadi foto latar di ponsel pintarku.
Hehehe, paling tidak aku bisa memandang wajahnya saat aku pulang nanti.
Memandang wajah indah bagaikan jagad raya tak berbatas…
Eh? Kenapa tiba-tiba aku jadi puitis? Aku melihat Yellow sekali lagi. Dan dengan senyuman yang meyakinkan…
Ini pasti ulahmu, Yellow. Kau mengubahku sekarang,…
… dan selamanya…
Seni akan membuat hidup lebih indah. Yellow membuat hidup Red lebih indah. Itulah yang membuatku memasukkan seni dalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Specialshipping.
Bocoran, My name is …
RWD, signing out.
