Jumat, Bahasa Inggris
"Good morning, everybody!"
Gold's POV
Siapa yang tahu kalau DJ Mary jadi guru bahasa Inggris di sini? Oh, yeah!
Oke. Itu bagian yang paling menyenangkan kali ini. Guru bahasa Inggrismu adalah DJ Mary. Tapi dalam bagian yang menyenangkan itu ada bagian yang tidak menyenangkan, bahkan mengerikan. Apa itu?
"Alright. Are you ready for the test today?"
"YES, MA'AM!"
Aku diam saja. Karena... karena...
"Gold, ada apa?" tanya Silver di sampingku.
"Tak apa-apa," kataku. Crystal di sampingku langsung menggeleng.
"Biasa, dia tidak belajar lagi. Sejak kemarin dia seperti itu. Bahkan saat fisika itu, dia benar-benar hancur. Sudah kuingatkan lagi tentang itu, malah dia pergi ke mana?" Silver angkap pundak.
"Dia malah pergi ke tempat biliar lagi," kata Crys
"IYA, IYA, AKU YANG SALAH!" seruku.
"Kau seharusnya malu, karena semua orang di sini punya ambisi dan lewat sekolah ini juga mereka meraih ambisinya. Apa ambisimu?" tanya Silver.
Aku hanya bisa menyembunyikan kepalaku di antara tanganku di atas meja.
"Kau seharusnya lihat Kak Yellow. Walau dia yang termuda dari Dexholder Kanto, tapi dia sudah membuat prestasi, termasuk lomba menggambar, lomba dokter kecil, dan beberapa yang lain," kata Crys.
Aku tak berkutik...
X's POV
"Aku harap bukan tes lisan, karena aku tak mau bicara seperti kemarin," kataku.
"Ayolah, X! Kau hebat kemarin," kata Y.
"Oh, ya. Aku merasa aneh kalau memanggilmu "Y" terus. Boleh kupanggil kau dengan namamu?" tanyaku. Dan yang kulihat sekarang adalah wajah Y yang tersenyum cerah.
"Of course! But in two conditions,"
"Apa lagi?" tanyaku.
"Pertama, kau harus lebih ceria hari demi hari. Tenang, akan kubantu. Kedua, aku ingin memanggilmu 'Xavier'. Bagaimana?" tanya Y. Aku berpikir sebentar, dan aku setuju.
"Oke. Aku harap tes ini bisa selesai jadi kita bisa melihat taman sekolah setelah ini," kataku.
"Nah, itu baru Xavier," aku langsung menutup mulutnya.
"Jangan keras-keras! Hanya kau yang boleh tahu," kataku. Y terlihat sedikit memerah, mungkin karena tanganku, jadi aku lepaskan.
"I-iya, Xavier..." kata Y, sedikit berbisik.
"Bagus, Yvonne..." kataku.
Red's POV
Aku dan Yellow menerima lembar soal dan jawaban pertama kali. Saat aku melihatnya...
"Yellow, menurutmu bagaimana soalnya?" tanyaku. Yang kulihat, Yellow sedikit kaku melihat soalnya.
"Yellow, ada apa?" tanyaku.
"Bisa... bisakah kau lihat... nomor..." Yellow menunjukkan 7 jarinya.
'Nomor 7?' pikirku, lalu aku melihatnya. Dan...
"Don's forget to finish it before 90 , no cheating. Have a nice test!" lalu Bu Mary keluar. Aku jadi kehilangan seleraku dan mulai mengerjakan soalnya.
Platinum's POV
Ada 50 soal, dan semuanya bertemakan penerjemahan. Beruntunglah aku sudah belajar di perpustakaan sekolah kemarin dan perpustakaan di rumahku tadi sebelum berangkat sekolah. Soal pertama...
Seorang pelatih Pokemon sedang bertarung dengan tim jahat.
"Baiklah, ayo kita selesaikan ini," kataku. Kutulis jawabannya di bawah soalnya.
A Pokemon trainer is fighting against evil team.
"Kemudian, soal kedua," aku melihat soal di bawahnya.
"Sang Penyembuh menyembuhkanku kemarin," kata seekor Dodio.
Hmm... mengapa aku merasa ini merujuk pada Kak Yellow ya?
"Kujawab saja..."
"The Healer healed me yesterday," a Dodio said.
Sementara itu...
Lack-Two's POV
Aku lebih suka mengerjakan soal yang kuanggap menarik dan, kau tahu sendiri. Jadi aku memilih nomor 45, karena aku lahir tanggal 4 Mei. Dan saat aku melihat soalnya...
Seorang polisi telah menangkap seorang mantan anggota tim jahat 4 hari yang lalu.
WADUH, ini aku ya?
"Whi-Two—"
"Shhhh!"
'Ya sudah...'
A police had captured an ex-member of evil team 4 days ago.
Y's POV
Berbicara dengan kawan akan membuatmu lebih sehat
'Aku harap Xavier membaca soal ini dan sadar,' pikirku setelah aku melihat soal nomor 44. Lalu aku menjawabnya.
Talking with friend will make you healthier
X's POV
"Eh? Mengapa ada soal seperti ini?" Aku mengerjakan nomor 44, dan aku menemukan soal ini.
Berbicara dengan kawan akan membuatmu lebih sehat
Dan hal berikutnya yang tedengar di telingaku adalah suara tertawaan. Entah dari siapa.
Ruby's POV
"Soal apa ini?" tanyaku pada diriku sendiri. Aku melihat soal yang tak tercetak sempurna, menghilangkan beberapa katanya. Soalnya...
Jang...hong, kalau kau berbo... panjang.
Aku putuskan aku akan bertanya pada Sapph.
"Sapph..." yang kupanggil menoleh.
"Ada apa?" tanyanya.
"Soal nomor 31 rusak cetakannya. Bisa bacakan soalnya?" tanyaku. Sapph mengangguk dan mulai membaca.
Jangan berbohong, kalau kau berbohong, hidungmu akan menjadi panjang.
Soal apa ini... Dan aku melihat Sapph tersenyum sendiri.
"Sapph, kenapa?" tanyaku.
Sapphire's POV
Hehehehe... kapok kan sekarang...
"Hmmm... tak ada apa-apa," kataku. Lalu aku menjawab pertanyaan tadi.
Don't lie, if you lie, your nose will be long.
'Semoga kau sadar, prissy!"
Cheren's POV
"Selesai!" seperti biasa, aku menyelesaikannya dalam waktu cepat. Harus cepat dan tepat karena aku masih memiliki proyek untuk kukerjakan.
"Wah, kau sudah selesai?" tanya Bianca. Aku mengangguk.
"Aku susah melihat, kertasnya sudah kabu—"
"Pakai ini," aku memberikannya kacamata. Aku tahu dia sudah rabun, hanya entah kenapa dia tak bisa melihat gejalanya dengan jelas.
Bianca's POV
Ahh... Cheren, kau tak perlu merepotkan...
"Terima kasih, Cheren..." lalu aku mencoba kacamatanya.
"Bagaimana? Terlihat jelas tidak?" tanya Cheren. Aku mengangguk dan melihat soal berikutnya.
Teman terbaik selalu membantu walau dalam diam.
Aku langsung menulis jawabannya.
The best friend always help even though just in silence.
Lalu aku tersenyum pada laki-laki yang sekarang sedang mengolah data dari pelajaran kimia tadi.
Blue's POV
"Hehehehehehehehehehehehe..." aku tertawa melihat soal luar biasa dan indah itu.
"Hei, ini ujian, bukan acara tertawa," kata Green.
"Tee-hee, nomor tujuh,"
Aku melihat Green terkejut setelah melihat soal yang kumaksud.
"Kau tidak bermaksud..." tanya Green.
"Tee-hee, kemarin, aku bertemu Bu Mary..."
Flashback...
"Bu Mary!" seruku saat aku melihat Bu Mary keluar dari kantor radionya.
"Eh, Blue. Ada apa?" tanya Bu Mary.
"Tolong ibu tanyakan pada murid-murid tentang warna merah. Ini untuk survei kelas yang akan kutempelkan di mading sekolah," kataku. Bu Mary terlihat berpikir, lalu...
"Hmmm... sepertinya aku tahu rencanamu yang sebenarnya. Oke, aku setuju. Akan kuberi tahu hasilnya besok saat ibu siaran," kata Bu Mary.
"Terima kasih, Bu Mary!" lalu aku langsung lari.
Flashback end
"Sudah kukira, dasar kau gadis si**an," kata Green.
"Tapi sukses kan? Sepertinya hanya sedikit yang sadar kalau ini ideku, dan sedikit itu artinya kau saja, Green," kataku sambil tersenyum
"Terserah, gadis si**an. Aku ingin menyelesaikan soal-soal si**an ini," kata Green.
"Oke!" lalu aku melihat soalnya.
Merah dan kuning adalah warna cerah.
Ihiirrrr...
Red and Yellow are bright colors.
Yellow's POV
Oke, sekarang aku dalam dilema.
Aduh... Kak Red memperhatikan soal itu tidak ya? Aku harap aku punya kekuatan untuk menjawab soal itu. Dan kalau Kak Red tahu jawabanku, kuharap dia tidak menertawakanku dan mempermalukanku. Aku harap soal ini bisa mencurahkan isi hatiku pada Kak Red. Kuharap—
"Hei, Yellow. Ada yang aneh,"
Ada yang memanggilku. Aku melihat sekitar dan aku melihat Kak Red yang tersenyum. Ternyata dia yang memanggilku.
"Eh? Kak Red? Aneh apanya?" tanyaku.
"Tentang soal yang kau tunjukkan padaku tadi. Kenapa semuanya mengarah pada warna merah?" tanya Kak Red.
Kak Red sadar ternyata. Tapi hanya sadar tentang warnanya saja?
"Itu yang membuatku bingung..." pipi, sudah! Jangan memerah terus!
"Yellow, kau baik-baik saja?" tanyanya.
TAMBAH MERAH!
Red's POV
Hmmm... jangan-jangan soal ini sedikit-sedikit menyuruhku melakukan sesuatu...
Soal ini membuat Yellow malu setengah mati. Dia mulai menulis jawabannya. Dia menutup lembar jawabannya, jadi aku tak bisa melihat jawabannya.
Aku juga tak mau menyontek jawabannya.
Aku akhirnya memutuskan untuk menjawabnya juga. Aku melihat soalnya lagi.
Saya suka merah. Saya butuh merah. Saya ingin merah. Saya cinta merah.
Jawabanku adalah...
I like red. I need red. I want red. I love red.
Mengapa perasaan ini jadi tidak enak dan mengganjal ya? Dan mengapa aku mendengar seperti ada suara orang tertawa? Soal ini hanya tentang warna, tapi mengapa ini isinya seperti ... seperti ...
Eh? Lembar jawabnya Yellow terlihat? Mungkin aku akan melihatnya sedikit. Yang terlihat hanya bagian terakhirnya.
... love Red-san
Eh?
Yellow's POV
Mengapa Kak Red punya tatapan aneh ke arahku? Jangan-jangan...
Aku melihat arah tatapannya, dan ternyata, dia melihat jawabanku!
"AHHH! KAK RED! Kau melihat jawabanku ya?" tanyaku.
"Eh... ? Ti-tidak... Aku tidak melihat jawaban..." lalu Kak Red terdiam, menundukkan kepala, dan...
"Maaf, Yellow. Aku hanya penasaran. Tapi sebenarnya..."
"Hmm?"
"Bukannya itu jawabannya salah?" tanya Kak Red. Salah?
"Apa maksudnya?" tanyaku.
"Bukannya itu artinya berbeda? Di sana kau menerjemahkan kalau kau mencintaiku," kata Kak Red. Aku melihat jawabanku.
I like Red-san. I need Red-san. I want Red-san. I love Red-san
"Mana yang salah? Ini benar ka..." aku melihat Kak Red tersenyum. Dan pada saat itulah...
Aku baru sadar apa yang kutulis.
Pipiku langsung memerah bagaikan kebakaran hutan. Dan Kak Red sedikit tertawa.
"Ahhh, entah kenapa kalau kau tersipu malah tambah manis. Sayang tidak ada soal di sini yang bisa membalas soal nomor tujuh... errr... tunggu dulu..."
Red's POV
Aku melihat soal terakhir. Sepertinya soal ini yang menjawab pertanyaanku tadi.
Ternyata, pertanyaanku berbalas...
Saya suka kuning. Saya butuh kuning. Saya ingin kuning. Saya cinta kuning.
Aku tersenyum, dan memanggil Yellow.
"Hei, Yellow. Coba kau lihat soal terakhir," kataku.
"Eh? Soal terakhir? Mengapa?" tanyanya. Aku hanya tersenyum.
"Lihat saja," kataku.
Yellow's POV
Aku melihat soal terakhir dan akhirnya aku sadar apa maksudnya Kak Red. Aku hanya bisa tersenyum senang dan melihat Kak Red yang ternyata juga tersenyum padaku.
Kami hanya saling tatap dan tersenyum selama... entah. Aku tak peduli. Selama aku dan Kak Red bahagia karena ini... sampai...
"Yellow, kapan kau menjawab pertanyaan itu? Waktunya akan habis sebentar lagi," kata Kak Red.
"Eh? Benarkah? Aku harus menuliskannya sekarang!" seruku. Lalu akhirnya aku menulis jawaban untuk soal itu.
I like Yellow. I need Yellow. I want Yellow. I love Yellow.
"Sudah!" seruku.
"Bagus. Sekarang mari lanjutkan," kata Kak Red, eh?
"Melanjutkan apa?" tanyaku. Kak Red hanya terkekeh.
"Ya... tadi," katanya.
Kami tertawa kecil agak lama, lalu kami melanjutkan acara kami.
Stare and smile each other... in purity of...
... inikah cinta? Pikir Red.
Huuuhhh... paling tidak Red selangkah untuk keluar dari kebudohan cintanya. Dan saat akhirnya kebodohannya pergi, sesuatu yang ajaib terjadi.
Sepertinya mereka sudah saling memahami.
Oke, itulah yang terjadi pada hari Kamis pada tes itu. Besok, akan lebih luar biasa.
Bocoran, gen.
RWD, keluar.
