Minggu, Pelajaran Hidup (atau apapun itu namanya)

Yellow's POV

Ini dimulai saat aku terbangun dari tidurku, masih terngiang-ngiang apa yang terjadi kemarin. Saat dimana aku tahu Kak Red memiliki perasaan yang sama denganku. Untuk itu, aku berkonsultasi dengan Pokemon setiaku, Chuchu.

"Chuchu, bangun, ini sudah pagi," kataku. Chuchu akhirnya terbangun dan meregangkan badan kecilnya. Lalu dia menatapku dengan attapan penuh tanya. Langsung saja kutempelkan tanganku ke kepalanya, mentransfer isi pikiranku padanya.

Chuchu hanya tersenyum saat itu, dan berkata bahwa akan ada waktu dimana aku dan Kak Red akan mengetahui semuanya. Dan waktunya sangat dekat. Lalu dia meintaku untuk pergi ke tempat latihan biasa Kak Red.

"Baiklah. Aku tahu kau juga ingin bertemu Pika," dia mengangguk. Aku iri dengannya karena Pika dan Chuchu sudah menjadi suami istri, dalam arti yang Pokemon-is, dan sudah memiliki anak. Sedangkn aku dan Kak Red...

Sudah! Bukan waktunya bersedih! Inilah saatnya untuk menyatakan perasaanmu pada Kak Red!

Akhirnya, aku mempersiapkan diri dan peralatanku dan siap pergi.

Red's POV

Ahhh... akhirnya aku bisa latihan lagi. Berlatih dengan Pokemon itu penting, membuat tubuh sehat, juga bisa menjaga persahabatan antara aku dan Pokemonku. Dan kali ini, aku akan berlatih dengan Pika.

"Pika, kau siap untuk jadi lebih kuat hari ini?" tanyaku. Pikachuku hanya mengangguk, namun dari raut wajahnya, terlihat kalau dia tak sabar, sama sepertiku.

"Oke, ayo kita mu—"

Tiba-tiba, ada hembusan angin yang cukup kencang, membuatku bingung.

"Pika, kau tahu apa yang terjadi?" tanyaku. Pika hanya menggeleng. Angin itu terus bertiup, dan menggoyangkan rumput-rumput yang ada di sana, mengingatkanku akan sesuatu.

Hembusan itu... meniup angin dengan lembut, beberapa terbang dan mengenai pipiku, terbelai dengan lembut bagaikan...

Yellow's POV

Aku heran kenapa tadi ada angin yang cukup kencang saat aku sudah beberapa saat keluar dari rumah. Aku melihat sekitar, dan semuanya juga tertiup.

"Hmmm... cuacanya cerah. Mungkin hanya angin biasa," kataku, setelah mendongak ke atas untuk memeriksa langit. Lalu aku putuskan untuk melanjutkan perjalananku ke tempat latihannya Kak Red.

Red's POV

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak berlatih. Entah mengapa angin ini mengingatkanku akan sesuatu. Kemudian, aku mendengarkan suara panggilan dari dalam hutan.

"Kak Red!"

Dan perasaan itu datang lagi. Sepertinya aku tahu dari mana imajinasi rumput bergoyang itu berasal. Dan untungnya, aku tahu apa yang harus kulakukan.

"Hei, Yellow. Ada apa?" tanyaku. Yellow duduk di sampingku dan menjawab sambil memandangku.

"Ya... aku ingin melihatmu berlatih. Tapi kenapa kau tidak berlatih?" tanyanya.

"Hmmm... sebenarnya aku ingin berlatih, sampai tiba-tiba ada angin yang bertiup yang membuatku memikirkan sesuatu sampai sekarang..." kataku.

"Memikirkan apa?" tanya Yellow, heran.

"Entah. Saat angin bertiup, membuat rumputnya bergoyang, dan itu mengingatkanku akan..."

Si**! Mengapa pipiku merah sekarang?

"Kak Red tidak apa-apa?" tanya Yellow, terlihat khawatir. Akupun langsung sadar.

"Maaf, aku pasti melamun lagi, hehehe..." kataku.

"Tadi aku juga merasakan angin," kata Yellow. Aku sedikit kaget.

"Benarkah?" tanyaku. Yellow mengangguk.

"Aku melihat sekitar dan atas, dan cuacanya seperti cerah saja," kata Yellow.

"Ya... sepertinya kita lebih baik menikmati pemandangan saja," kataku. Manusia di sampingku hanya mengangguk saja, dan akhirnya melepaskan Chuchu dari Pokeball-nya, dan bersama Pika berlarian ke suatu tempat.

Yellow's POV

Yang kulihat saat ini adalah langit yang cerah, angin yang bertiup sepoi-sepoi, sungai yang mengalir, pohon yang daunnya ada yang terbang, dan Kak Red.

Dia tampak damai melihat langit. Lalu tiba-tiba dia memandangku dengan pandangan menyejukkan. Aku juga hanya memandangnya saja.

Selama itu, yang kami lakukan di bawah pohon itu hanya saling memandang. Lalu tiba-tiba Kak Red bertanya.

"Yellow, boleh kuceritakan sesuatu?" tanyanya.

"Tentu boleh, Kak Red," kataku.

"Tentang rumput yang bergoyang itu... Sebenarnya..." tiba-tiba Kak Red berhenti bicara.

"Ada apa. Kak Red?" tanyaku. Lalu...

"Hehehe... maaf, sebenarnya aku membayangkan rambutku saat aku melihat rumput itu, hehehe..." katanya sambil menggaruk kepala belakangnya.

"Hehehe, tak apa-apa, Kak Red. Wajar kok..." kataku. Walaupun...

Kak Red membayangkan rambutku?

"Ya, aku ingat saat aku masih berpikir kau laki-laki. Betapa bodohnya aku sampai aku tak sadar kalau kau adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang kutolong saat itu," katanya sambil mengingat kejadian Dratini itu.

"Hehehe, aku minta maaf, Yellow. Aku seharusnya lebih peka terhadapmu," katanya. Pipiku hanya bisa memerah dan tak bisa kuhentikan.

"Aku juga minta maaf, Kak Red. Sebenarnya aku ingn bertemu denganmu, tapi aku terlalu malu, jadi aku harus jadi laki-laki agar aku bisa melihatmu," kataku, dengan nada agak sedih. Aku menunduk dan merasa bersalah.

"Tak apa-apa, Yellow," katanya dan...

...sambil memelukku...

Aku dan Kak Red akhirnya berpelukan... itu bukan hal yang bisa kutahan. Jadi aku mempererat pelukannya, dan Kak Red melakukan hal yang sama.

"I lkie you... Yellow..."

Apa tadi Kak Red mengatakan itu?

"Kak Red?" tanyaku sambil sedikit melonggarkan pelukan kami untuk mengambil napas.

"Ya?" tanyanya.

"Apa benar yang kau katakan tadi?" tanyaku. Kak Red hanya mengangguk.

"Bahkan, kalau bisa lebih jauh, sebenarnya kaulah jawabannya," katanya.

"Jawaban apa?" tanyaku, bingung.

"Kau pernah berkata, 'Coba lihat dari dalam hatimu. Siapa orang yang pernah membuat hatimu gembira melebihi orang lain? Mungkin itu orang yang akan kaucintai, cepat atau lambat,'. Ternyata jawabannya ada di pelukanku sekarang," katanya sambil tersenyum.

"Kak Red..."

"Yellow, I like you," lalu dia memelukku lagi.

Kami hanya berpelukan lagi selama yang kami mau. Kami sudah tidak peduli lagi. Dan tepat sebelum aku tertidur, aku akhirnya bisa membalas Kak Red.

"Red-san... I like you too..."

Beberapa jam kemudian...

Blue's POV

"Dimana keua orang itu ya?" tanyaku. Aku sedang berkeliling Hutan Viridian untuk mencari Red dan Yellow. Aku baru saja menemukan film bagus dan ingin mengajak mereka berdua.

Tapi sepertinya aku tak perlu mengajak mereka...

Aku menemukan mereka, tertidur di bawah pohon bersama. Langsung aku mengambil kameraku dan memotret fenomena alam paling menakjubkan ini.

"Tee-hee, sepertinya misiku berhasil..." kataku sambil meninggalkan tempat kejadian perkara.

Beberapa jam kemudian... lagi...

Red's POV

Aku terbangun lebih dahulu. Melihat Yellow ada di pundakku, aku hanya bisa tersenyum. Aku melihat langit dan ternyata sudah sore. Waktunya pulang.

Kubopong Yellow ke rumahnya. Saat sampai ke rumahnya, aku langsung membawanya ke kamarnya. Kubaringkan dia perlahan agar dia tidak kaget. Dan di saat terakhir...

Aku memberikan kecupan kecil di dahinya.

"Good night, my Yellow..."

Dan aku bergegas pulang. Bersiap untuk sekolah dan kehidupan besok.

Keesokan harinya...

Neutral POV

"Selamat pagi, Kak Red!" seru Yellow, masuk ruang kelas.

"Pagi, Yellow. Bagaimana tidurmu? Pulas?" tanya Red. Yellow mengangguk senang. Lalu dia duduk di sampingku, dan siklus belajar dimulai lagi.

Namun Red dan Yellow melakukannya bersama.

Pelajaran yang dapat diperoleh adalah Red ditambah Yellow sama dengan kesempurnaan cinta (ini teorinya siapa?)

Sekian untuk IPS kali ini, kalau masih belum paham, silakan tanya Blue sendiri.

RWD, keluar, bersiap untuk proyek berikutnya.