The Helpers
3.
Saat ini ia mengenakan pakaian yang entah milik siapa, ia tidak mendapatkan penjelasannya dari siapa pun, ia juga tidak repot-repot bertanya. Sehun melanjutkan kegiatan makannya, atmosfernya saat ini sungguh canggung. Untung saja Chanyeol menyalakan televisinya, ia juga sesekali mengajak Sehun dan seorang pria—yang Chanyeol beritahu merupakan kakak tirinya—untuk berbincang.
Oh, ya, omong-omong soal Chanyeol. Sekarang Sehun sedang berada di rumahnya dan menikmati makan malam seadanya. Sehun juga tidak tahu bagaimana ia dapat berakhir di sini, namun yang jelas, Chanyeol menjelaskan padanya bahwa ada seseorang yang membawa Sehun ke ruang kesehatan di sekolah, kemudian menyampaikan kabar tersebut pada rekan-rekan yang berada di satu kelas Sehun. Chanyeol segera memberitahu Soojung yang direspon dengan teriakan histeris melalui sambungan di ponsel. Soojung meminta Chanyeol untuk tidak membawa Sehun ke rumah karena kedua orang tuanya pasti akan menyalahkan Soojung atas hal ini—mengatakan betapa Soojung amatlah tidak bertanggung jawab dalam menjaga sang adik yang baru pulih dari kecelakaan. Dan, ya, inilah mengapa Soojung tidak terlalu menginginkan perannya sebagai seorang kakak.
"Maaf, kami hanya dapat memberikanmu makan malam seperti ini." Ujar pria yang duduk di samping Chanyeol, kakak tirinya. Ia tersenyum kecil pada Sehun. "Kami tidak biasa kedatangan tamu."
"Hm! Ini pertama kalinya lagi ada seseorang yang datang ke rumah." Chanyeol menambahkan begitu antusias. Sehun tidak aneh bila nanti Chanyeol tersedak, ia tetap senang berbicara bahkan ketika mulutnya penuh makanan.
"Aku senang bisa jadi tamu pertama kalian." Sehun membalas mereka, ia juga ikut tersenyum pada kakak tiri Chanyeol. Oh, bila melihat dari bagaimana berbedanya tampilan fisik Chanyeol dan sang kakak tiri, Sehun amat yakin kalau mereka itu bukan saudara kandung. Tubuh Chanyeol amatlah jangkung, sedangkan kakaknya hanya sampai di bahu Chanyeol. Wajah mereka juga tidak serupa.
"Well, kami juga senang kau bisa jadi tamu pertama kami di sini, Oh Sehun." Lagi-lagi kakak tiri Chanyeol tersenyum, kali ini lebih lebar. Hih, senyumnya terlihat sedikit mengerikan. Ia juga memberikan Sehun tatapan yang agak aneh, jadi Sehun hanya tertawa canggung dan mengalihkan pandangannya pada hidangan di hadapannya. Kemudian mereka semua pun membisu, hanya bising dari televisi dan alat makan yang beradu dengan mangkuk yang mengisi keheningan.
Sehun perhatikan Chanyeol ini sepertinya tidak memiliki anggota keluarga lain yang tinggal di rumah ini. Bila diperhatikan dari bagaimana kumpulan potret yang terpajang di dinding rumahnya hanyalah Chanyeol dan sang kakak, atau sang kakak dengan teman-temannya.
Bisa jadi, apalagi dilihat dari desain interior rumah ini yang begitu modern. Memberikan ciri khas anak muda. Meski begitu, rumah ini hanya dilapisi oleh warna hitam legam dan merah sehingga memberi kesan pada Sehun seolah ia berada di dunia lain. It's cool though.
"Oh, ya," kata kakak tiri Chanyeol setelah meneguk segelas air amat cepat, "aku tadi mencoba mengeringkan ponselmu."
Sehun menengadahkan kepalanya yang sempat tertunduk, baru tersadar bahwa dirinyalah yang sedang diajak bicara. "Oh." Sehun merespon begitu, ia baru ingat mengenai ponselnya yang pasti ikut basah tadi. "Uhm, terima kasih."
Kemudian kakak tiri Chanyeol berlalu dari sana, mengambil mangkuk dan piring-piring kosong bersamanya ke dapur. Figurnya pun menghilang dari pandangan Chanyeol dan Sehun. Chanyeol memastikan bahwa kakaknya benar-benar menjauh sebelum menghujani Sehun dengan pertanyaan, "Sehun, apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa berakhir di ruang kesehatan?! Was it Jongin?!"
Sehun tidak terlalu mengacuhkan bagaimana Chanyeol terdengar amat penasaran, ia memainkan makanan yang tersisa di mangkuknya, tidak segera menjawab. Sehun melirik Chanyeol sekilas, dan pada akhirnya menjawab, "Hm, begitulah."
"I knew it, Sehun, Jongin pasti yang melakukannya." Chanyeol berdecak kesal, ia menoleh sebentar pada sumber suara di mana kakaknya menaiki tangga. "Sudah kubilang, Jongin tidak baik untukmu. Jauhi dia dan—Oh My God, kalau Soojung tahu mengenai hal ini, hidupmu benar-benar berakhir, Oh Sehun."
Dan ... apa yang Chanyeol katakan benar. Hidup Sehun rasanya seperti benar-benar akan berakhir dengan Soojung yang mengetahui hal ini. Dari Soojung yang sepanjang perjalanan di bus menuju rumah mereka terus mengoceh pada Sehun. Padahal di dalam bus, mereka duduk berdampingan. Namun nampaknya Soojung tidak akan kunjung melepaskan dekapannya pada sang adik. Untuk seorang anak perempuan seumurnya, Soojung sepertinya memiliki kekuatan yang lebih dari anak perempuan pada umumnya hingga dapat mengunci Sehun dalam dekapannya begini.
"Jongin is so fucking dead."
"Soojung—"
"He will die on me, kau lihat saja nanti, Sehun."
"Ini bukan salah Jongin,"
"Berhenti membelanya!" Soojung memekik kencang, orang-orang di sekitar mereka memberikan perhatian, menatap mereka dengan kening mengernyit. Soojung berdehem, ia sedikit mengecilkan suaranya ketika berkata, "Jongin itu anak sekolahan yang gila, okay? Dia itu sering melakukan hal-hal gila—oh, apa yang kubicarakan? Dia bukan akan sekolah, dia itu berandalan."
Sehun tidak merespon Soojung, hanya menatapnya karena tidak ingin berkomentar.
"Jadi, kau harus menjauhinya. Kalau ada apa-apa, hubungi aku—ah, benar. Ponsel yang kuberikan padamu masih ada, 'kan?"
Sehun merogoh kantung jaket Soojung yang sedang dikenakannya, memastikan ponsel yang dikembalikan oleh kakak Chanyeol masih ada di situ, kemudian mengangguk.
"Good—eh, tapi! Apa ponselnya rusak? Kudengar kau didorong ke kolam oleh si ... anak kurang ajar itu."
"Sudah kucoba tadi, ponselnya baik-baik saja." Meski Sehun masih tidak percaya ponselnya baik-baik saja, tetapi kenyataannya memang begitu. Ponselnya dapat dihidupkan dan digunakan entah bagaimana caranya, Sehun tidak terlalu ingin mempertanyakan hal tersebut, ia juga tidak bertanya pada kakak Chanyeol. Sehun hanya mengucap terima kasih, begitu saja. "Kakak Chanyeol yang memperbaikinya."
Mendengar adiknya berbicara begitu, Soojung tersenyum, ia mengalihkan pandangannya dari jalanan pada wajah sang adik. "Ya, Oh Sehun," katanya sembari saling mendekat, "Suho-oppa itu ... keren, 'kan?"
Suho—what? "Huh? Siapa?"
Soojung berdecak kesal, ia mendelik, dan menjawab, "Suho-oppa! Kakak Chanyeol, pria yang tadi mengantarmu untuk menemuiku di halte!"
"Oh ..."
"Bagaimana? Kau menyukainya?" tanya Soojung amat antusias, senyum di wajahnya begitu lebar.
Sehun menjawab Soojung ragu-ragu, tidak mengerti apanya yang begitu mengagumkan dari kakak Chanyeol tadi atau pria yang disebut dengan 'Suho' itu. "He's okay ... I guess." Ya, Suho sepertinya pria yang biasa saja, tidak buruk, tetapi tidak amat mengagumkan juga. Setidaknya begitu menurut Sehun.
Kedua mata Soojung terbuka lebar mendengar pendapat Sehun, ia terbelalak, masih dengan nada bicara yang histeris (kapan Soojung tidak histeris sekali saja?) "Just okay?!" lagi-lagi Soojung menarik perhatian orang-orang pada mereka, dan ia mengabaikan tatapan-tapan yang mengarah padanya ketika berargumen, "He's so perfect, okay? He's everything goals," kemudian Soojung tersenyum, memainkan alisnya sembari menatap Sehun penuh arti, "He's the husband-material."
"Ooh." Sehun tidak balas memandang Soojung, ia menatapi gedung-gedung dan pohon-pohon yang melewati dirinya, lingkungan ini begitu asing.
"Ooh," Soojung menyalin ucapan Sehun, ia tersenyum penuh arti, "kau menyukainya?" kemudian menyikut Sehun di rusuk. "Aku akan memasangkan kalian."
What—hell no! Meski harus Sehun akui bahwa Suho itu memang memiliki wajah yang tampan dan bersikap baik padanya, tetapi tetap Sehun tidak ingin dipasangkan dengannya. Sehun tidak mengenal Suho, dan Suho meninggalkan impresi yang tidak begitu baik untuknya. Lagipula Sehun tidak memiliki waktu untuk memikirkan kisah asmaranya di bumi.
"Tidak, terima kasih."
"Eh? Kenapa? Dia itu orang yang baik, you know."
Orang yang baik dengan senyum mengerikan. Hm. Tidak, terima kasih. Sehun mengangkat bahunya tidak peduli, ia tidak begitu ingin membicarakan hal seperti ini untuk sekarang. "Aku tidak menyukainya. Tapi ... sepertinya aku mengenal Suho."
"Yeah?"
"Wajahnya tidak asing." Ya, entah bagaimana caranya, Sehun sepertinya mengenal Suho. Apa ini bagian dari keajaiban Yang Mahakuasa untuk mengenal orang yang Sehun asli kenal? Seperti ketika tadi Sehun melihat gambaran aneh mengenai Jongin; mungkin bagian dari memori Sehun yang dahulu. "Apa kami saling mengenal dulu?"
Soojung begumam, tidak segera menjawab Sehun ketika mencoba mengingat memori Sehun dan Suho yang sudah saling mengenal. "Sepertinya ... tidak. Aku tidak ingat kalian pernah bertemu. Lagipula, Suho-oppa itu jarang ada di Korea."
"Ooh ..."
"Ooh," Soojung menyalin lagi bagaimana cara Sehun berucap, "kau terdengar sungguh peduli pada Suho-oppa." Ia berujar sarkastis. Nada bicara Sehun sebenarnya amatlah tidak antusias. Soojung menghembuskan napas berat, ia menyandarkan kepalanya nyaman pada bahu Sehun. Kedua tangannya kemudian memeluk lengan sang adik erat. "Fine." Katanya, ia sudah tidak lagi menatap Sehun. "Setidaknya jangan menyukai orang seperti Jongin."
Banyak pertanyaan mengenai Jongin yang ingin Sehun ajukan. Banyak hal mengenai Jongin yang tidak Sehun ketahui. Apa yang membuatnya begitu istimewa untuk Yang Mahakuasa hingga Ia meminta Sehun untuk membimbingnya kembali ke jalan yang benar?
"Jongin bukan orang yang buruk." Tanpa sadar Sehun berucap begitu, ia tidak dapat menarik kembali kata-katanya.
"Even after what he did to you?" Soojung berdecak kesal, namun ia tidak berkomentar apa pun lagi mengenai Jongin. "Sudahlah, lupakan. Besok hari Selasa dan kau masih harus masuk sekolah."
Meski Soojung terbilang sering berbicara seenaknya mengenai hal-hal yang dapat menyakiti Sehun, tetapi Sehun tidak pernah sekali pun merasa tersinggung. Mungkin itulah mengapa Soojung ditakdirkan untuk hidup sebagai seorang saudari Sehun. Bahkan menurutnya, Soojung ini orang yang penyayang. Sebagai seorang kakak, Sehun rasa Soojung tidak gagal sama sekali seperti apa yang selalu Soojung pikirkan.
"Hey, jangan katakan pada Mom dan Dad kalau ini semua ada hubungannya dengan Jongin, 'kay?" kata Soojung untuk terakhir kalinya sebelum ia memberhentikan bus-nya di hadapan sebuah jalan besar menuju rumah mereka.
.
.
.
Akhirnya setelah berhari-hari dari peristiwa mengerikan di kolam, setelah Sehun pulih dari demam karena—well, ia mengenakan pakaian basah berjam-jam karena tidak ada yang menanganinya langsung pada saat itu. Hari ini Sehun dan Soojung pergi ke sekolah bersama, mereka menggunakan bus. Berbeda dari kemarin-kemarin, Sehun diantarkan oleh ayahnya dan Soojung, uh, entahlah. Pokoknya Soojung tidak pernah bersama Sehun sebelum-sebelumnya meski pada akhirnya mereka tetap bertemu di sekolah.
Dalam perjalan menuju sekolah, Sehun dan Soojung tidak berbicara banyak. Hanya Soojung yang memperingati Sehun lagi-lagi untuk tidak berdekatan dengan Jongin. Mau bagaimana pun, Sehun tetap tidak akan menuruti Soojung dan Jongin sendiri yang meminta Sehun untuk menjauhinya. Karena tujuan Sehun berada di bumi kembali adalah membantu Jongin kembali ke jalan yang benar. Omong-omong soal jalan yang benar, memangnya Jongin seburuk apa sampai-sampai ia harus dikembalikan ke jalan yang benar?
Dan apa ada malaikat yang menjelma dan diberikan tugas seperti Sehun juga di bumi ini? Apa ada malaikat selemah Sehun? Huh.
"Hey, Sehun!" seseorang meneriakan namanya, dari suaranya Sehun mengenal siapa yang baru berteriak. Sehun berhenti melangkah dan menoleh pada pemilik suara tersebut, ia tersenyum.
"Hey, Chanyeol." Sapanya singkat dengan senyum yang sama. Mereka kemudian berjalan bersama menuju pintu utama. Soojung ditinggalkan karena ia mengatakan harus melakukan sesuatu dahulu sebelum masuk ke sekolah. "Terima kasih untuk waktu itu."
"No prob." Chanyeol merangkul bahu Sehun agar mereka lebih dekat, ia pun melanjutkan, "Apa Soojung marah padamu?" setelah melihat Sehun hanya menaikkan alisnya, ia melanjutkan, "You know, dia itu amat sensitif mengenai Jongin."
"Ya, kau bisa mengira-ngira bagaimana reaksinya."
"Jadi dia marah?"
Sehun terkekeh, ia teringatkan pada Soojung yang sehari-harinya memang seperti sedang marah, dan menjawab, "Hanya mengomel sedikit." Kemudian mengalihkan pandangannya ke mana pun, ke para siswa yang sedang bermain bola, siswi yang terkikik, rerumputan di taman, dan kedua matanya pun bertemu dengan figur Suho di mana ia sedang berdiri di samping pagar sekolah. Hih, mengerikan. Lagi-lagi Suho memiliki tatapan aneh itu, ia terlihat sedang menatapi adiknya—seperti sedang mengawasi, sebelum kemudian tatapannya beralih pada Sehun. Oh! Dengan itu Sehun segera mengalihkan pandangannya pada jalanan yang dipijak. Jadi Chanyeol kemari diantarkan Suho? Ugh, Sehun harap mereka tidak pernah lagi bertatap muka seperti tadi. Tatapan mata Suho terlalu mengerikan.
Mereka masih berjalan di koridor sekolah, Sehun tidak terlalu menjadi pusat perhatian, namun ia tetap mendapatkan tatapan demi tatapan dari orang-orang di sekitarnya. Sehun juga tidak berusaha untuk menghindari tatapan-tatapan tersebut, berpikir bahwa nanti juga akan hilang dengan sendirinya bila ia tidak peduli.
"Oh." Chanyeol dan Sehun perlahan memperlambat langkah mereka ketika menemukan kerumunan orang menghalangi jalan menuju kelas mereka. Namun keduanya tidak segera mendekat untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, mereka memeriksa situasi terlebih dahulu sebelum kemudian berjalan mendekat. Terdengar beberapa teriakan dari dalam kelas.
Duh, sebenarnya Sehun tidak ingin mengeluhkan hal ini, tapi hidupnya di bumi amatlah dipersulit. Tiap hari ada saja hal yang berpotensi untuk menghancurkan hari santainya. Sehun hanya ingin waktu seharian penuh santai digunakan untuk dirinya mencoba mendekati Jongin agar semuanya tidak terasa terburu-buru dan kejadian waktu itu di gelanggang tidak terulang juga.
"Hey, apa yang sedang terjadi?" Chanyeol bertanya pada salah satu siswi di sini yang terlihat sedang memperhatikan peristiwa di dalam kelas amat serius. Karena figurnya yang jangkung, Chanyeol dapat melihat sedikit apa yang terjadi di dalam kelasnya. Dari perbedaan seragam yang dikenakan diketahui terdapat segerombolan pelajar dari sekolah lain yang mengerumuni satu pelajar dari sekolahnya di sudut kelas.
"It's Jongin." Kata siswi itu, tatapannya tidak teralihkan dari apa yang sedang dilihatnya. "Mereka terus begitu dari tadi."
Mendengar nama Jongin disebut, Chanyeol menoleh sekilas pada Sehun, memeriksa apa Sehun mendengar informasi yang baru saja diketahuinya atau tidak. Setelah melihat Sehun sepertinya tidak awas dengannya, ia pun bertanya kembali. Kali ini nada bicaranya agak pelan. "Kenapa mereka berteriak?"
"Tidak tahu." Ia menjawab Chanyeol begitu, kemudian lanjut memperhatikan adegan yang sedang berlangsung. Tidak ada hal menarik lain selain mendengar para pelajar yang sedang berkumpul itu meneriakan seseuatu dan menendang bangku-bangku di sekitarnya. Tatanan bangku kelas yang tadinya rapi pun menjadi agak berantakan.
"Memangnya tidak ada guru yang mendengar hal ini?" Sehun melompat-lompat sedikit untuk mengintip apa yang sedang terjadi di dalam kelas melalui jendela. Namun siswa-siswi lain menghalangi pandangan Sehun, dan ia mulai merasa kesal. "Seseorang tolong mereka, God!" seru Sehun sembari menghentakkan kakinya keras. Jengkel dengan teman-teman di sekolahnya yang hanya menyaksikan apa yang sedang terjadi di dalam kelas, beberapa orang bahkan mengabadikan adegan tersebut dengan ponsel mereka. Tipikal Soojung.
Mungkin di dalam sedang terjadi bullying. Oh! Bisa jadi. Sehun dengar bahwa remaja di bumi sekarang bisa amat kasar (ehm, Jongin salah satunya), dan mereka juga dapat berbuat brutal (aduh, Jongin lagi). Sebagai seorang malaikat, hati Sehun tergerak untuk menyelamatkan siapa pun yang sedang diperlakukan seperti itu sekarang. Mereka berhak menerima pertolongan. Dan bila tidak dari diri sendiri, siapa lagi yang akan menolong mereka?
"Permisi, permisi, permisi—" Sehun memaksakan dirinya untuk melewati kerumunan siswa-siswi di hadapannya. Tas di punggungnya sedikit menghalangi aksesnya.
"Oh Sehun! Kau mau ke mana?" menyadari kepergian Sehun, Chanyeol segera menghentikan aksi temannya tersebut dengan menarik kain kerah seragamnya.
"Aku harus menolong orang itu."
"No, it's Jongin. Kau sebaiknya menjauh—"
"Jongin?!" mendengar nama Jongin, Sehun malah berusaha lebih keras untuk melewati kerumunan di hadapannya. Ia pun terlepas dari tangan Chanyeol, tidak begitu peduli pada temannya yang terus meneriaki namanya. Jongin bisa jadi dalam bahaya!
Chanyeol mengumpati dirinya sendiri, sudah tahu Sehun itu selalu ada masalah dengan Jongin. Kemarin-kemarin saja berurusan kecil dengan Jongin membuat Sehun bermasalah di hari pertama. Jadi Chanyeol pun ikut menembus kerumunan di hadapannya, mengejar Sehun yang terlihat sudah mendahuluinya untuk masuk ke kelas.
Sehun masuk ke ruangan kelasnya, sedikit membuat gaduh karena ia terdorong keluar dari kerumunan murid yang saling berdesakan. Sepatunya membuat decitan ketika berusaha menghentikan dirinya untuk tidak terjatuh. Sehun pun akhirnya menghadapkan dirinya pada gerombolan pelajar tersebut.
Oh. Ternyata dari dekat, figur mereka terlihat amat besar. Apa Sehun membuat kesalahan dengan ikut campur urusan orang lain? tapi ini ada hubungannya dengan Jongin. Okay. Screw it. "H-hey!" ups. Suaranya terdengar kurang mengintimidasi. "Apa pun yang kalian lakukan, hentikan!"
Mendengar para murid di luar kelas yang menjadi penonton itu melenguh terkejut, Sehun yang memberanikan diri untuk melawan banyak orang tentunya menjadi tontonan yang menegangkan sekaligus seru. Alasan mengapa mereka tidak memanggil siapa pun untuk menghentikan adegan saat ini adalah karena mereka ingin tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.
Pelajar yang menyudutkan Jongin pun berbalik, mereka menghadap pada Sehun, terlihat sedikit terkejut namun kemudian menyeringai lebar. Salah satu anak lelaki di sana yang terlihat paling 'mencolok' pun membuka suara, "Oh. There he is." Mungkin ialah pemimpin dari kelompok pelajar ini. "Hi, long time no see."
Sehun tidak menjawab sapaan tersebut, ia mengernyitkan keningnya pada sekumpulan orang yang kini masih menyeringai padanya. Baiklah, sepertinya orang-orang ini merupakan bagian dari orang yang dikenal oleh Oh Sehun yang dulu. Hah? Jadi ini ada hubungannya dengan dirinya ... lagi?! baiklah, tugasnya kini terkonfirmasi kalau tugasnya jadi lebih sulit dari sebelumnya.
"Jadi kekasihmu yang satu ini," kata sang pemimpin kelompok tersebut sembari menepuk-nepuk pundak Jongin yang kini sedang berdiri di sampingnya. Kekasih—what, apa dia sedang membicarakan Jongin padaku? "memberitahu kalau kau sudah tidak lagi ingin ada di lintasan."
"What?"
"Kau sudah berhenti, katanya. Apa itu benar?"
"Berhenti apa?" Sehun melirik Jongin yang mendelik, ia terlihat amat tidak puas dengan respon-respon yang Sehun berikan. Kedua tangan Jongin dimasukan ke dalam kantung celana seragamnya, matanya tidak mengarah pada Sehun tetapi ia menyimak percakapannya.
"Lihat? Bahkan dia saja tidak tahu apa-apa." Si pelajar itu kini berbicara pada Jongin, tetapi Jongin terlihat enggan untuk bahkan menatapnya di wajah. "Intinya kau berbohong pada kami," ia melanjutkan, kemudian menusukkan jari telunjuknya pada dada Jongin di tiap kata yang diucapkannya, "he won't stop racing."
"Kalau begitu aku yang akan menghentikannya." Jongin merespon ucapan tersebut dengan pernyataan yang menantang, ia tidak sama sekali terlihat terintimidasi meski dikepung oleh beberapa orang sebayanya yang berperawakan lebih besar darinya. "Aku yang menjamin dia tidak akan ada di lintasan."
Lintasan. Racing. Berhenti. Apa?
"Benar begitu, Sehun?" anak itu kembali menghadapi Sehun, "Kau berhenti, benar-benar berhenti?"
Sehun diam. Oh My God, aku benar-benar tidak mengerti tapi aku harus beradaptasi. Tentu saja ia diam. Ia tidak mengira bahwa 'Oh Sehun' ini anak dengan kehidupan yang diliputi oleh masalah. Kemudian banyak orang yang harus dikenalnya, ia tidak bisa seenaknya saja bertingkah seolah ia mengenal mereka. Dan seluruh orang yang dikenal Sehun ini ternyata memiliki pengaruh besar pada kehidupannya. Okay, okay, jangan panik—tapi aku panik! Oh, kumohon, Yang Mahakuasa ..., tolong. Keajaiban-Mu dibutuhkan di saat-saat seperti ini!
Sehun melirik Jongin lagi yang sepertinya sedang mencoba untuk mengirimkan pesan padanya. Dapat dilihat dari gerakan di wajah Jongin bahwa ia mencoba memberitahu Sehun untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan, 'Ya, aku berhenti' atau semacamnya. Karena dari yang Sehun simak mengenai percakapan Jongin dengan pelajar tersebut, Jongin baru saja berbohong mengenai Sehun yang berhenti melakukan entah apa itu.
"Aku ...," jawaban apa yang seharusnya Sehun beri? Mengikuti apa kata Jongin? tetapi seluruh hal yang dikatakan Jongin selalu sama seperti apa yang dikatakan Soojung dan Chanyeol yang membuat Sehun selalu dijauhkan dari Jongin. Sehun tidak mau repetisi itu terjadi, ia tidak ingin dijauhkan dari Jongin lagi. Baiklah, jadi ..., "tidak berhenti, ha-ha, siapa yang bilang aku berhenti?"
Jongin terlihat memberungut, ia sepertinya benar-benar gusar dan amat tidak senang dengan jawaban Sehun. Kedua pandangan mereka bertemu, Jongin menatap Sehun tajam. Tatapan itu seolah sedang membakar Sehun hidup-hidup hingga ia merasakan dirinya perlahan berjalan mundur karena okay ..., suasananya mulai tidak nyaman.
"He quit, okay?" dari nada bicara Jongin, dapat diketahui bahwa ia amat mencoba untuk bersabar, mungkin agar kepalan tangan yang disembunyikannya di dalam kantung celana tidak melayang ke wajah anak lelaki di sampingnya yang juga mencoba bersabar untuk tidak membuat keramaian ini lebih ramai.
Terlihat Jongin mendekati Sehun, memunggungi sekumpulan anak berandalan tersebut, ia menghadapi Sehun, mendesiskan, "You're so gonna regret this."
"What—"
"Ayolah, Jongin, jangan berlagak jadi pahlawan di sini. Satu pertandingan takkan membuatnya mati." Ucapan tersebut membuat Jongin berbalik kembali menghadapi mereka.
"Jongin," Sehun sedikit bersembunyi di balik punggung Jongin, ia menarik-narik kain seragam yang dikenakan Jongin dan membisikan, "memangnya ini apa, ya?"
Pundak Jongin naik-turun, napasnya memburu, ia menolehkan sedikit kepalanya pada Sehun. Secara sembunyi-sembunyi membisikan, "Kali ini, ikuti kataku," bisiknya separuh bergumam, "kalau kubilang lari, kaulari."
Sehun mencoba untuk mencerna apa yang akan terjadi padanya, ia memeriksa keadaan dan menemukan semua orang di dalam kelas ini terlihat gusar. Entah apa yang membuat mereka begitu, tetapi sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi—uhm, okay, Sehun mulai ketakutan lagi. Tapi Sehun seharusnya tidak merasa ketakutan, ia yang seharusnya melindungi Jongin dan—dan—oh God, tolong aku!
"You know, Jongin, here's the thing ..." lalu entah apa yang dikatakannya karena perhatian Sehun teralihkan oleh jari tangan Jongin yang menyentuh perutnya. Saat Jongin sembunyi-sembunyi membuka telapak tangannya di balik punggungnya, Sehun berusaha untuk tidak mengubah raut wajahnya dan memperlihat kebingungannya. Tangan Jongin terus dibuka, kali ini memberikan gestur sesuatu seperti ingin diberikan sesuatu.
Ketika jemari tangan Jongin menyentuh jemari tangan Sehun, tanpa ragu Jongin pun menggenggam tangan Sehun. Sembunyi-sembunyi. Uhm ...
Suasana semakin saja menjadi tidak terkendali ketika seseorang dari luar kelas memprovokasi mereka dengan meneriakan, "Get them, Jongin!" kemudian disusul oleh suara lainnya yang berusaha untuk memanaskan atmosfer di dalam kelas. Uh-oh.
"... dia bisa melakukan apa pun yang diinginkannya, dia bukan milikmu, Jongin. So get the fuck out." Oh, oh, oh, dia sudah membuat posisi seperti ia akan melakukan sesuatu yang besar. Sehun ingin melakukan sesuatu tapi tidak tahu harus bagaimana. Malaikat bodoh! Sehun mengumpat pada dirinya sendiri. Ia tanpa sadar menggenggam tangan Jongin yang menggenggam tangannya erat.
"Okay," Jongin merespon mereka, ia tertawa mencemooh. Sehun tidak dapat melihat wajah Jongin, namun ia yakin bahwa saat ini Jongin memasang raut wajah arogan yang selalu digunakannya, "Here's the thing," Jongin melanjutkan, menyalin bagaimana salah satu dari mereka berbicara pada Jongin tadi, "Sehun is mine, so you're the ones who need to get the fuck out."
And then bam! Bam! Bam!
Semuanya benar-benar terjadi amat cepat, hingga Sehun dibuat tercengang akan apa yang sedang terjadi. Pertama, Jongin menendang dada anak lelaki yang Sehun asumsikan sebagai pemimpinnya. Kemudian Jongin berlanjut melayangkan tendangannya pada pelajar lain yang mencoba untuk menyerangnya.
Jongin tidak butuh melakukan serangan dua kali karena satu tendangannya saja sudah membuat mereka terkapar di lantai. Orang-orang berteriak, ada yang meneriakan namanya, mungkin Chanyeol atau Kyungsoo—entah, Sehun tidak terlalu memperhatikan.
Tanpa aba-aba yang sebelumnya Jongin beritahu Sehun, Jongin membawa Sehun untuk keluar dari kelas, melewati kerumunan yang menghalangi mereka, dan berlari amat cepat di koridor menuju sebuah pintu keluar lain di sekolah ini. Sehun rasanya seperti diseret karena ia dipaksa untuk berlari menyamai kecepatan Jongin ketika berlari. Tentu saja dari tinggi badan sudah jelas, kaki Jongin lebih panjang darinya. Tapi bila dilihat dari bagaimana Jongin mengerahkan seluruh tenaganya untuk membawa Sehun jauh-jauh dari kelasnya, Sehun juga ikut berusaha untuk membantu Jongin dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Hembusan napas yang cepat, lantai yang berdecit, erangan lelah dapat terdengar.
Mereka sampai di gedung sekolahnya yang lain yang baru separuh dibangun, kemudian Sehun dituntun untuk tetap berlari ke sebuah jalan kecil di mana terdapat rumput liar tumbuh di sana. Di baliknya ada sebuah motor sport yang bercat putih bersih.
'Hell', begitu terlukis hitam di kendaraan tersebut, kontras dengan latar belakangnya sehingga terlihat mencolok.
"Get on." Kata Jongin masih dengan napas memburu, ia sudah duduk di atas motor sport tersebut, terlihat siap untuk segera menjalankannya. Namun Sehun yang tetap diam di tempat membuat Jongin pun kembali menoleh pada Sehun. "Get on." Jongin mengulangi, ia terdengar mulai kesal.
"It's not safe, Jongin. Lebih baik kita adukan saja pada guru—"
Mereka samar-samar dapat mendengar derap langkah cepat yang menginjak rumput, dan Jongin berdecak kesal, ia melepaskan helm yang digunakannya kemudian mengenakannya paksa pada Sehun tanpa dipinta. Helmnya tidak terlalu pas di kepala Sehun—ia terlihat konyol, tapi Jongin tidak peduli. Jongin menarik lengan Sehun agar lebih dekat pada motor sport-nya. "Kau akan menyesal kalau tidak mengikutiku."
Okay, okay, pada akhirnya Sehun pun mengikuti apa kata Jongin tanpa berkomentar apa pun lagi. Sehun mendengar Jongin berkata, "Hold on." Untuk yang terakhir kalinya sebelum kemudian kendaraan melaju amat kencang tiba-tiba. Sehun pun memekik, ia tidak mengira bahwa yang dimaksud Jongin dengan berpegangan itu karena kendaraannya melaju sekencang ini. Baiklah, Sehun mengerti kenapa Yang Mahakuasa ingin mengembalikan Jongin ke jalan yang benar. Jongin mengendarai kendaraannya seperti orang gila.
"Jongin, berhenti!" Sehun berteriak meski ia ragu kalau Jongin dapat mendengarnya dari dalam helm ini. Kedua tangannya memeluk tubuh Jongin erat. Ia berusaha untuk mengabaikan aroma maskulin tubuh Jongin.
"A bit slow, aren't we?" Sehun menoleh ke samping, dan melihat para pelajar tadi sudah ada di situ, di samping Sehun dan Jongin dengan kendaraan yang serupa. Holy shit, we're so dead. "Sehun, kenapa kau membiarkan Jongin yang mengambil kendali, hm? You do know you go faster."
Tanpa membiarkan Jongin dan Sehun membalas atau bahkan bereaksi, mereka menendang kendaraan Jongin, membiarkannya terlempar ke samping. Sehun dan Jongin terpisah, mereka terlempar dan tergelincir di atas aspal. Sehun merasakan bagaimana kasarnya aspal jalanan yang menyengat ke kulitnya, menggores. Dunianya berputar dan berputar, ia baru berhenti bergerak ketika tergelincir hingga bahu jalan. Sehun dapat melihat Jongin terjatuh tidak jauh dari motor sport-nya.
Entah keajaiban apa atau memang tenaga Jongin benar-benar luar biasa. Dapat dilihat Jongin langsung bangkit dari posisinya, ia mengitari pandangannya, dan segera berlari mendekati Sehun ketika tatapan mereka bertemu. Jongin meringis kesakitan, namun ia tidak memperlambat larinya. Meski Sehun tidak ingin berpikiran begini di saat-saat yang seperti ini juga tapi—my my, Jongin looks so hot right now. Tipikal the hot bad boys.
Jongin secara kasar membantu Sehun untuk bangkit, berdiri cepat sebelum orang-orang yang mengejar mereka dapat mengepung kembali. Mereka terpaksa berlari menuju jalan kecil yang asing. Seperti di koridor sekolah tadi, kejadian ini terulang. Napas yang memburu, erangan lelah. Dari deru napas Jongin, Sehun dapat mengetahui bahwa Jongin berusaha untuk tidak merintih kesakitan. Mereka berpegangan tangan lagi.
Mereka berlari ke sebuah jalur yang menuntun ke jalan buntu, terdengar pelajar itu kembali, tetapi mereka tidak mendekati ke mana Sehun dan Jongin sedang bersembunyi sekarang, lalu malah pergi ke arah lain. Jongin meletakan jari telunjuknya di bibirnya, meminta Sehun untuk tidak membuat bising.
Baru kali ini Sehun melihat rona wajah yang lain dari Jongin selain menggambarkan arogan dan kesal. Jongin terlihat ketakutan, keringat yang membasahi sebagian wajahnya hingga ke leher membuatnya akhirnya jadi terlihat seperti remaja pada umumnya; memiliki ketakutan dan ketidaknyamanan.
Napas yang diambil Jongin melalui mulutnya begitu kasar, ia terlihat amat lelah dan Sehun merasa amat bersalah karena sepertinya ini semua ada hubungannya dengannya, disebabkan olehnya. Tatanan rambutnya benar-benar tidak keruan, tapi Jongin tetap terlihat menarik. Rahangnya yang dinodai debu tidak mengurangi ketampanan wajahnya.
Thump, thump, thump.
Jantung Sehun berdegup kencang, ia tidak menyadari seberapa dekatnya mereka saat ini. Sudut hidung hampir saling bersinggungan. Deru napas menghangati wajah masing-masing. Wajah Sehun menghangat.
"Hey, you okay?" masih dengan deru napas yang cepat, Jongin berucap. Ia menangkup wajah Sehun tiba-tiba. Jongin masih terlihat ketakutan; sebuah pemandangan yang baru. Ia memeriksa seluruh bagian wajah Sehun jikalau ada luka berat. Wajah mereka terlalu dekat, tatapan Jongin terlalu intens. Genggaman tangan Jongin yang pindah ke bahu Sehun terasa erat. "Are you hurt?"
Sehun hanya menggelengkan kepalanya cepat, entah mengapa ia juga ikut ketakutan. Sehun tidak suka melihat kerutan di dahi Jongin, ia tidak senang mendapati Jongin yang cemas.
"Okay, good." Jongin menghela napas lega, tiba-tiba membawa tubuh Sehun untuk dipeluk erat. Dan rasanya aneh. Aneh bagaimana jantung Sehun terus berdegup kencang, ia merasa bahagia, ini aneh. Semuanya aneh; bagaimana tubuh mereka begitu cocok untuk saling melekat pada satu sama lain, Sehun tahu ini aneh, tetapi ia tidak berusaha untuk menghentikannya. It's wrong, but it feels so right.
Ada sesuatu mengenai Jongin yang Sehun pikir hubungan mereka sebenarnya bukan sekadar teman sekelas yang saling membenci. Teman sekelas yang saling membenci tidak akan berpelukan begini, Jongin tidak akan merangkul tubuh Sehun begini bila mereka saling membenci.
Sehun tidak mempertanyakan mengapa Jongin memeluknya begitu erat, melindunginya, membuat mereka terhindar dari apa pun yang mengejar mereka tadi.
"You're okay." Jongin berucap sekali lagi, kali ini seperti pada dirinya sendiri. Kemudian nampaknya ia baru menyadari posisi mereka saat ini ketika ia tiba-tiba melepaskan dekapannya pada Sehun, lalu mengalihkan pandangannya pada tanah yang dipijaknya. Jongin berdehem, ia melangkah mundur untuk menjaga jarak dari Sehun. Raut wajahnya kembali seperti semula. Jongin yang dingin.
"Ehm," Jongin menyeka debu yang ada di pipinya, "we're okay."
Sehun perlahan menganggukkan kepalanya, masih tidak tahu harus bereaksi bagaimana pada aksi yang baru dilakukan Jongin. "Hm, thanks ..., Jongin."
Jongin diam sejenak, mungkin untuk membenarkan deru napasnya yang masih belum kembali normal. Ia kemudian membalikkan tubuhnya, dan berjalan untuk meninggalkan Sehun. Melihat Jongin pergi pun membuat Sehun segera bertanya sebelum Jongin benar-benar menghilang, "Kau mau ke mana?"
"Home." Jawab Jongin singkat tanpa menghentikan langkahnya, untuk beberapa saat ia masih melangkah pergi sebelum kemudian berhenti, dan berbalik menghadap Sehun, "Kau juga pulanglah, Soojung pasti mencarimu." Ia masih memandangi Sehun, mengernyitkan keningnya ketika yang diajak bicara tidak merespon. "Jadi ... kau benar-benar amnesia, huh?" kata Jongin lagi, meski mereka berdiri berjauhan, tetapi Sehun masih dapat melihat bagaimana sudut bibir Jongin mengukir sebuah senyum miris. Tatapannya begitu sendu.
Sehun yang ditanyai begitu pun menganggukkan kepalanya, tidak berusaha untuk mengejar Jongin yang sebenarnya sudah amat jauh darinya.
Jongin juga tidak berkata apa-apa lagi, ia hanya menatapi Sehun sedikit lebih lama sebelum kemudian kembali pergi. Kini dapat terlihat jelas bagaimana Jongin melangkahkan kaki pincangnya, sepertinya karena jatuh yang mereka alami tadi. Sesungguhnya tubuh Sehun juga terdapat luka di mana-mana, tapi semuanya tidak terlihat terlalu jelas, ia seperti mati rasa.
"Jongin?" Sehun memanggilnya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan.
Dipanggil begitu, Jongin hanya menghentikan langkahnya kemudian menghadap Sehun.
"What are we?"
Kening Jongin mengernyit.
"What are we?" Sehun mengulangi. "What were we?"
Jongin menyeringai, ia berusaha untuk memasang raut wajah tanpa emosi. "Nothing." Katanya santai, tetapi suaranya terdengar agak parau. "Kau hanya selalu bermasalah, dan aku kasihan padamu serta orang-orang di sekitarmu." Lalu ia benar-benar menghilang dari pandangan Sehun, meninggalkan teman bicaranya di tempat sendirian.
Nothing.
So... Nothing, huh?
Sehun terpaku, entah mengapa merasa kecewa mengetahui bahwa Jongin dan dirinya bukanlah apa-apa baik sekarang maupun sebelumnya. Sesungguhnya otak Sehun mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan dirinya yang tidak memliki relasi apa pun dengan Jongin baik sekarang ataupun sebelumnya. Namun entah mengapa, mengetahuinya secara langsung dari bibir Jongin membuat Sehun bagaimana pun merasa tidak nyaman. Seperti ia tidak begitu bersemangat lagi untuk melaksanakan tugas ini.
Kalau memang tidak ada hubungannya, lantas mengapa mereka selalu dipersatukan dalam tiap situasi?
Masih berdiri termangu, Sehun melenguh terkejut ketika tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalanya. Ia pun secara terpaksa mendudukan dirinya, bersandar pada dinding di dekatnya. Sehun mengerang kesakitan sembari memegangi kepalanya.
.
.
.
Gambaran seperti ini lagi. Semuanya agak buram. Sehun berada di sebuah jalan yang sepi pengendara umum, ia melihat bagaimana dirinya duduk di atas sebuah motor sport, warnanya hitam legam. Di kendaraan yang ditumpanginya terlukis 'hell' dengan cat warna merah menyala. Sehun mengalihkan pandangannya pada dirinya sendiri, ia mengenakan pakaian serba tertutup, sebuah helm melindungi kepalanya. Ia merasakan seseorang menarik lengannya—oh, it's Jongin again.
"Don't do this—aku melihat mereka melakukan sesuatu pada lintasannya!"
"Jongin—what the fuck?! Apa yang kaulakukan di sini?!" Entah mengapa, tetapi ia baru saja menyerukan kata-kata itu meski ia tidak mau. Bibirnya bergerak sendiri. "Pulanglah! Kau tidak membutuhkanku."
"Sehun—"
"Fuck off! Kau bilang kau tidak membutuhkanku!" Sehun merasakan ia berseru histeris. Orang-orang di sekitar mereka tidak peduli bagaimana mereka kini sedang saling beradu mulut. Banyak orang lain di samping Sehun yang terlihat begitu siap untuk melajukan kendaraan mereka.
"Kau masih bisa mundur, Sehun. It's not too late." Semuanya terasa begitu kacau, semuanya terlihat kacau. Dari bagaimana Jongin menatapnya cemas, ia terdengar panik, kemudian suara kendaraan yang di sekitar mereka yang terlalu bising. Matahari di sore ini membuat langit menjadi jingga. "It's okay, Sehun, I'm okay."
"It's not okay, and you're not fucking okay." Ucap Sehun berapi-api. "Go home, Jongin. I don't want you to get sick."
"Sehun, please," Jongin menggenggam tangan Sehun erat, memintanya untuk menyerah pada—entahlah, mungkin pada balapan yang akan Sehun lakukan ini. Jongin terlihat putus asa.
Sehun menarik tangannya paksa, melepaskan dirinya dari genggaman erat Jongin. Tanpa menatap Jongin di wajah, Sehun berkata, "Jangan bertingkah seolah kau peduli kalau aku masih peduli padamu, you said we're nothing anyway."
.
.
.
.
.
.
lah kok jadi anak jalanan!au, boy!jongin (tidak) #ignorethis
