super unedited
The Helpers
4.
Sehun beruntung dapat bertempat tinggal di lingkungan yang jauh dari keramaian dan yang tidak memiliki banyak penduduk. Karena mungkin bila kini ia berada di tengah kota, dengan penampilan serba tidak keruan, goresan kecil di mana-mana—menodai kulit tubuhnya, Sehun yakin ia pasti akan menjadi pusat perhatian.
Tanpa pikir panjang, ia tadinya hendak menggunakan bus untuk pulang ke rumahnya, namun segera Soojung ubah keputusan Sehun dengan berseru (atau berteriak di ponsel), "Mom will be so pissed!"
Baiklah, jadi Sehun tidak jadi pulang ke rumahnya dengan keadaan seperti ini. Ia mencoba untuk menyembunyikan luka-luka di lengannya dengan mengenakan sweater yang diberikan oleh ibunya sebagai bekal karena ia baru saja pulih dari demam. Ada rasa bersalah dengan tidak mengikuti apa kata sang ibu, ternyata nasihat orang tua sering kali benar. Coba saja ia mengenakan sweater-nya, mungkin lengannya tidak akan terlihat mengerikan begini.
"Idiot." Yeah, you idiot angel! Kenapa kau mencari-cari masalah di awal kehidupanmu di bumi?
Sehun sudah tidak tahu lagi apa identitas dirinya. Ia seorang malaikat yang menjelma jadi manusia, tetapi ia masih saja memiliki pikiran negatif. Malaikat tidak seharusnya senegatif dirinya.
Pada akhirnya Sehun kini berada di dalam sebuah bus, duduk menunggu untuk seluruh penumpang di halte memenuhi busnya. Bukan, bukan bus menuju rumahnya. Sehun diminta untuk pergi ke tempat lain oleh Soojung, dan rumah temannya yang hanya ada di pikirannya. Tetapi ..., teman Sehun yang diketahuinya hanya ada Chanyeol dan Kyungsoo. Sehun tidak terlalu mengenal Kyungsoo, mereka tidak begitu dekat. Kalau Chanyeol, Sehun masih tidak nyaman dengan presensi kakak tiri Chanyeol. Tetapi Chanyeol berkata bahwa kakaknya tidak akan ada di rumah pada siang hari begini, jadi Sehun meminta tolong pada Chanyeol agar rumahnya dapat ditempati sementara; menunggu Soojung sampai ia memutuskan kalau Sehun sudah boleh pulang ke rumah. Chanyeol tidak mempermasalahkan hal ini dan segera mengirimkan alamat rinci dan keterangan bus apa yang harus diambilnya dari lokasinya saat ini menuju rumah Chanyeol.
Sehun menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi yang diduduki, ingin menyandarkan juga keningnya pada kaca jendela tetapi sepertinya ada lebam di keningnya, karena sentuhan kecil saja membuatnya berdesis kesakitan.
Sinar matahari jatuh ke wajahnya, Sehun dapat melihat sedikit pantulan dirinya di kaca jendela. God, I look awful. Sehun mengusap bagian wajahnya yang ternyata terdapat debu aspal. Mungkin karena jatuh yang tadi dialaminya. Great. Ada goresan kecil di pipinya yang terlihat amat jelas. Jari telunjuknya menelusuri luka gores tersebut, masih terdapat darah segar yang mulai mengering. Yeah, Soojung is right, Mom will be so pissed.
Sehun menolehkan kepalanya ke samping, ke kaca jendela yang menampilkan orang-orang di halte yang masih saja belum habis. Baiklah, Sehun tarik kembali kata-katanya. Ternyata di lingkungannya ditinggali banyak orang. Well, yeah, tentu saja akan ada banyak orang. Tetapi Sehun tidak mengharapkan akan ada sebanyak ini.
Aneh, pikir Sehun. Mengapa mereka terus mengejar busnya kalau dari luar pun sudah terlihat bahwa di dalam bus ini sudah tidak ada tempat lagi untuk mereka?
Terlihat titik-titik air mulai melukis kaca jendela, Sehun berusaha untuk tidak bersorak gembira karena hal ini membuat orang-orang semakin terburu-buru untuk masuk ke dalam bus. Tetapi bus mulai penuh dan agak sesak, untung saja Sehun mendapatkan kursi. Di samping bangkunya ada seorang wanita karier yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Padahal Sehun hanya kembali menoleh ke jendela, tidak terlalu fokus pada apa pun, hanya ingin mengalihkan pandangannya saja. Tetapi entah mengapa tatapan dan fokusnya seketika tertuju pada satu orang. Satu dari sekian orang yang berlari kencang masih berusaha mengejar bus.
Oh.
God.
It's Suho.
Oh ..., no. No, no. Please.
Kalau boleh jujur jujur, Sehun amat tidak menyukai kakak tiri Chanyeol. Kakak tirinya amatlah mengerikan, Sehun juga tidak tahu kenapa ia setakut ini pada Suho. Tapi auranya membuat Sehun tidak nyaman. Apalagi senyum menyeramkannya. Hih.
Karena bagaimana kalau Suho itu sebenarnya seorang pelaku pembunuhan berantai yang menyamar sebagai kakak tiri baik nan berkarisma dan menggunakan Chanyeol untuk menyempurnakan topengnya? Atau sebenarnya Suho itu seorang kanibal yang senang berperilaku baik pada awalnya agar ia dapat dimudahkan untuk menangkap mangsanya ... ugh! Benar-benar mengerikan. Orang yang misterius memang selalu membuat Sehun merasa paranoid—oh, wait.
Dia berpikiran negatif lagi.
Sehun secara bergantian melihat figur Suho di ujung jalan yang semakin mendekat padanya serta sang supir bus. Kemudian ketika Suho tinggal sedikit lagi berlari kecil, terdengar bising mesin yang bekerja kembali. Busnya tidak lagi diam, perlahan-lahan mulai kembali berjalan. Sehun menggigit bibirnya, ia masih memandangi Suho yang sepertinya memang sedang mengejar bus ini, namun mereka mulai menjauh. Sehun tanpa sadar meremas kain pakaian seragamnya.
Yes, yes, yes.
Kening Suho mengernyit ketika ia merasa amat lelah dan memutuskan untuk tidak mengejar busnya, ia berhenti di tempat masih dengan napas terengah.
Kemudian tatapan mereka bertemu.
Ups.
Dan Suho terlihat ... terkejut sekaligus kecewa? Pokoknya raut wajah di mana kau menemukan orang yang kaukenal tidak membantumu. Oh, benar juga. Baiklah, sepertinya Sehun merasa agak menyesal dengan tidak membantu menghentikan busnya untuk Suho. Siapa tahu Suho memiliki urusan penting hingga ia benar-benar harus mengejar bus ini.
Wajah Sehun tidak dialihkan pada pemandangan di luar jendela meski Suho sudah menghilang dari pandangannya, bus sudah benar-benar meninggalkan tempat sebelumnya. Oh, sudahlah, lagipula hanya ketinggalan bus tidak akan membuat dunia ini berakhir.
"An angel with a half-demon heart, I see."
"Whoa! what—holy shit—Oh My Fucking God—"
Sebuah suara tepat di samping Sehun mengejutkannya seketika, ia memekik amat kencang, memegangi jantungnya yang berdebar kencang karena benar-benar terkejut.
Di sini, di samping Sehun, di samping bangku seorang malaikat yang menjelma sebagai Oh Sehun, kini terdapat Suho sedang duduk santai seolah ia salah satu penumpang yang sudah berada di bus ini sejak beberapa menit yang lalu. Seolah ia tidak pernah terlihat lelah karena berlari untuk mengejar bus beberapa menit yang lalu.
"Shhh," sebuah jari telunjuk diletakkan pada bibir Sehun, ia seketika membisu. Sehun membelalakan kedua matanya, terkejut ketika disentuh tiba-tiba. "Malaikat tidak seharusnya mengumpat membawa nama Yang Mahakuasa." Kata Suho kemudian tersenyum kecil tanpa memalingkan wajahnya pada Sehun, ia menghadapkan wajahnya pada bangku di hadapannya, bertingkah normal. Hih! Senyuman itu! "Jangan mengumpat membawa nama-Nya," Suho barulah menoleh pada Sehun, "di sini," ia menekankan jari telunjuknya pada pelipisnya sendiri, "kau akan dihukum."
Sebentar. Sehun butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Sehun bersumpah ia benar-benar melihat bagaimana Suho tadi mengejar bus di ujung jalan dan menghilang dari pandangannya. Pandangan mereka bahkan sempat bertemu, jadi Sehun tidak salah lihat. Orang-orang di sekitar mereka tidak ada yang sehisteris Sehun untuk bereaksi. Mereka bahkan tidak memiliki reaksi apa pun pada kehadiran Suho, mereka malah memberikan Sehun tatapan aneh ketika ia baru saja berteriak histeris.
What the fuck?! Ke mana wanita yang ada di sampingnya tadi?!
Aduh, hal-hal supernatural di sekitar Sehun membuatnya sulit untuk membedakan apakah semua ini hanyalah gambaran aneh yang Sang Mahakuasa berikan lagi padanya atau bukan.
"Hey, apa kau mendengarkanku, Angel?"
Dengan kedua mata yang masih terbuka lebar, ia berseru histers, "Oh, God, Oh My God. What just happened?! What the actual—"
"Teleportation." Sahut Suho amat santai. Seolah jawaban yang baru diucapkannya amatlah biasa, seperti jawaban yang akan kauberikan bila seseorang bertanya mengenai waktu di jam tanganmu dan kau menjawab dengan 'pukul sepuluh lebih tiga'.
Namun bedanya semua ini bukan mengenai waktu pada jam tangan, bukan mengenai pertanyaan basa-basi.
Sehun spontan duduk menjauh, ia menyudutkan dirinya pada kaca jendela di sampingnya. Tidak ingin menyentuh Suho sama sekali.
"No, this is not real." Sehun kemudian memaksakan sebuah tawa yang terdengar bergetar karena ia benar-benar merasa ketakutan saat ini. Tenggorokannya terasa kering seketika. "Ini hanya ilusi Yang Mahakuasa lagi, jangan takut Sehun, semuanya tidak nyata."
"Oh, God. Jangan bereaksi seperti manusia begitu." Suho mengernyitkan keningnya, menatap Sehun aneh. "Kau malah terlihat seperti orang gila, pokoknya jangan histeris—"
"Kyaaaaa!"
"Ugh, apa yang baru saja kukatakan?" Suho mengerling malas, ia berdecak kesal, tidak terlalu menanggapi teriakan Sehun yang memekakan telinganya. Orang-orang tidak mencoba untuk membuat Sehun diam tetapi mereka juga terlihat merasa terganggu. "Jangan berteriak!" Suho mendesis tajam, akhirnya. Sehingga teriakan Sehun pun seketika berhenti, namun tidak menghentikan tatapan ketakutan dari sang malaikat. "Kau ini malaikat, harusnya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini." Tambah Suho.
"W-who are you?"
"Kau sudah mengetahui aku siapa dari kakakmu. Call me by Suho."
Sehun sudah tahu! Yang Sehun ingin tahu adalah siapa Suho sebenarnya. Bagaimana ia dapat melakukan hal supernatural seperti tadi? Mengapa semua ini membingungkan? Apa ini hanya gambaran Yang Mahakuasa tunjukkan lagi?
Sehun diam, ia terlihat tenang untuk sesaat. Mendapati pemandangan ini, Suho juga mulai merasa tenang. "Okay, kau Suho." Sehun bergumam tanpa sadar. Ia masih tenang, namun tidak hingga Sehun mulai mengernyitkan keningnya, raut wajah ketakutan kembali lagi, pikirannya baru saja kembali ke mode negatif lagi.
Siapa Suho? Kiriman Yang Mahakuasa? Atau seseorang yang saat ini sedang ingin menghancurkan hidupnya di bumi?! Tapi nanti Sehun tidak akan bisa pergi ke surga bila tidak menyelesaikan tugasnya ...
"Aaaaa!" Sehun berteriak lebih histeris dari sebelumnya, dan Suho hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Malu dihadapkan pada pemandangan seperti ini.
"Oh, God." Suho berkomentar. "Calm down, aku tidak akan menyakitimu." Katanya, namun ia kemudian tersenyum kecil dan melanjutkan, "Tapi sedikit main-main boleh juga, siapa yang tahu berapa lama kau akan tinggal di bumi ini? Well, tentu hanya Yang Mahakuasa tahu. Tapi sekarang sepertinya kita akan mengetahui sampai kapan kau akan hidup di dunia ini, yeah?"
Bibir Suho membuat senyum kecil, namun matanya tidak ikut tersenyum.
Sehun mengalihkan pandangannya pada satu tangan Suho yang sudah menggenggam tangan Sehun, kemudian kembali memandang wajah Suho dan tiba-tiba saja satu tangan Suho lainnya sudah menggenggam sebuah katana. "Hi, nice to meet you, Angel."
"Help!" Sehun spontan berdiri ketika Suho mengayunkan senjata tajam di tangannya. Ia pun meninggalkan bangkunya, menendang kaki Suho secara sengaja ketika melangkah melewatinya, mendorong beberapa orang secara paksa ketika ia berusaha untuk keluar. Banyak orang di sekitarnya yang mengeluhkan bagaimana tubuh mereka terdorong ke sana kemari. Ada yang terlihat ketakutan juga, bertanya pada Sehun mengapa ia terlihat ketakutan begini, yang kemudian dijawab oleh Sehun secara terburu-buru dengan, "Penumpang itu ingin menyerangku!" tanpa menoleh sedikit pun ke bangku asalnya. Ia dapat melihat orang-orang yang mendengar hal tersebut mulai memberikan perhatian pada bangku di mana ia sempat duduk, mungkin akan menghakimi Suho yang katanya akan menyerang anak remaja di bus.
Sehun sempat mendengar seorang pria berseru, "What the fuck did you do to the kid, huh?!" dan seruan semacamnya mulai menyusul. Sehun tidak mengerti mengapa orang-orang tetap bertanya apa yang Suho coba lakukan pada Sehun setelah jelas-jelas ia baru saja mengayunkan sebuah katana padanya? Tetapi ia terlalu ketakutan untuk peduli, ia tidak ingin sama sekali menoleh ke belakang. Jantungnya berdegup kencang. Seseorang sedang mencoba untuk memusnahkannya.
Sehun sampai pada pintu keluar bus, ia pun meminta bus untuk diberhentikan dan turun terburu-buru dari sana.
Sehun hampir saja terjatuh dari kendaraan ketika ia memijakkan kakinya pada bahu jalan. Napasnya memburu, keringat bercucuran bukan karena cuacanya. Jelas-jelas sedang gerimis dan suhu udaranya dingin, tetapi Sehun tetap saja berkeringat.
Ia menoleh ke belakang untuk memeriksa sekali lagi bahwa tidak ada yang mengikutinya. Okay, aman. Sehun mengalihkan pandangan pada bus yang sempat ditumpanginya, ia melihat bagaimana orang-orang mengerumuni satu daerah bangku. Menyudutkan seorang penumpang; seorang wanita karier yang terlihat kebingungan dan ketakutan—wait. What the heck?!
What?!
Di mana Suho?!
"Oh My God." Sehun membiarkan buliran air hujan jatuh ke tubuhnya, membasahi kain seragamnya. Helaian rambutnya melekat pada keningnya. Sehun mengitari pandangannya ke sekitarnya, merasa paranoid meski tidak menemukan siapa pun, ia menyisir helaian rambutnya yang menghalangi pandangannya ketika ada suatu hal lain yang menyita perhatiannya dari dalam bus.
Di sana. Ada Suho. Tiba-tiba saja ia duduk di kursi kemudi, mengenakan seragam supir bus lengkap dan orang-orang di sekitar tidak mempermasalahkannya; seolah sebuah hal supernatural tidak baru saja terjadi. Seolah memang Suho-lah yang selama ini mengemudikan bus tersebut, dan wanita karier yang hadir kembali di bangku Sehun bukanlah hal yang aneh.
Suho melambaikan tangan padanya, ia menyeringai lebar, tatapan matanya pada Sehun begitu intens. Penampilan Suho berubah total, auranya amat berbeda. Bibirnya amat pucat. Kantung matanya amat gelap. Mulutnya membuat gerakan, "See you next time." sambil masih melambaikan tangan, kemudian Sehun menyaksikan bagaimana bus yang tadinya berjalan baik-baik saja, tiba-tiba dikemudikan ugal-ugalan dan,
Boom!
menghantam sebuah pohon besar amat kencang hingga terdengar dentumannya begitu keras. Semua orang berteriak histeris, termasuk Sehun. Bunyi klakson terdengar seperti derasnya gerimis saat ini. Lalu lintas jadi kacau.
Sehun melenguh terkejut, ia ingin berteriak sekali lagi. Sehun terlalu terkejut dan ketakutan untuk bahkan bereaksi. Sebuah kecelakaan hebat baru saja terjadi di hadapannya. Puluhan orang yang baru saja mencoba untuk melindunginya karena ada yang akan 'menyerangnya' mendapat malapetaka. Sehun baru saja menumpangi bus itu. Oh, God. Oh, God.
"Oh, God." Tubuh Sehun terasa lemas. Ia membalikkan tubuhnya, berjalan berlawanan dari masyarakat yang mendekati tempat di mana kecelakaan terjadi. Sehun merasa amat takut mengetahui bahwa ada hal lain—orang lain—seperti dirinya atau mengalami hal supernatural yang mencoba untuk membunuhnya.
Sehun menangis tersedu-sedu, ia merasa seperti anak kecil sekarang. Malaikat yang cengeng. Tetapi pikiran mengenai mati dua kali membuatnya ketakutan.
Tubuhnya bergetar, separuh karena ia masih merasa trauma dan kedinginan kehujanan seperti ini.
Sehun merogoh kantung celananya, mengeluarkan ponselnya dengan tangan bergetar. Jari tangannya amat pucat. Ia berusaha keras untuk mencari kontak Chanyeol (Sehun tidak tahu harus menghubungi siapa lagi selain Soojung, lagipula peristiwa hari ini ada kaitannya dengan Chanyeol; dengan kakak tirinya) dan mengetikkan pesan;
Chanyeol, aku tidak jadi ke rumahmu. Tapi bisa kaujemput aku? Maaf mengganggu waktumu di sekolah. Aku tersesat.
Yang disisipi dengan alamat lokasi di mana ia berada sekarang. Sehun berteduh di hadapan sebuah toko buku, berdiri menggigil, dengan pakaian basah yang mulai terasa lengket di kulit. Sehun berusaha untuk tidak membayangkan skenario bila Jongin yang ia hubungi bukan Chanyeol.
Karena bersama Jongin, Sehun merasa sangat aman.
.
.
Sehun mengabaikan tatapan yang diberikan oleh pramusaji yang meletakkan dua cangkir kopi panas untuk dirinya dan Chanyeol ke atas meja. Sehun tahu, ia membasahi sofa yang didudukinya, tetapi hal itu tidak dapat dikhawatirkannya sekarang. Ia memberikan fokusnya pada kedua tangan yang ada di atas meja. Ujung jemarinya menyentuh cangkir kopi di hadapannya, mencari kehangatan.
"So ... what happened?"Chanyeol memulainya, ia tidak memaksa Sehun untuk menjawab pertanyaannya sesegera mungkin. Dan Sehun tidak mungkin begitu saja memberitahu Chanyeol bahwa, oh hey, Chanyeol aku dikejar oleh kakakmu yang baru saja akan membunuhku. Kemudian mungkin ditambahkan, kakakmu memiliki kekuatan supernatural, jadi dia bukan manusia biasa dan kau harus berhati-hati. Karena pasti Chanyeol akan mentertawainya dan mungkin menyebutnya gila.
"Chanyeol," Sehun berdehem ketika suara paraunya menyambut, ia lupa bahwa ia telah menangis tersedu-sedu cukup lama, "um, mengenai kakakmu," Sehun masih tidak menatap Chanyeol di wajah, namun ia tahu bahwa lawan bicara itu sedang menatapinya, "aku menemuinya tadi."
"Oh." Chanyeol bergerak sedikit dalam duduknya. "Are you okay?"
Sehun menganggukkan kepalanya, ia akhirnya menengadah untuk menatap Chanyeol di wajah. "Tapi kakakmu," Sehun tidak tahu apa yang terjadi pada kakak tiri Chanyeol setelah kecelakaan itu, namun ia berhak mengetahui setidaknya mengenai kecelakaannya, "ini ada hubungannya dengan kecelakaan di jalan raya tadi."
Kening Chanyeol mengernyit.
"Dia mengalami kecelakaan. Di dalam busnya, sepertinya," Sehun juga masih tidak yakin, tetapi ia tetap melanjutkan, "ada kakakmu."
Musik jazz yang menggema di dalam kafe ini, aroma kopinya, bagaimana tenangnya suasannya sungguh kontras dengan hati Sehun, dengan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Namun sungguh serupa dengan reaksi Chanyeol yang baru saja mendengar kalau kakaknya mengalami kecelakaan. Raut wajahnya tenang.
"Maaf, harusnya aku memberitahumu mengenai kecelakaannya dahulu, mungkin kau harus menyusulnya ke rumah sakit."
"Tapi kau baik-baik saja?"
"Chanyeol, kakakmu—"
"Apa kakakku tidak berlaku, uhm," Chanyeol menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, seperti merasa bingung dan ragu harus bagaimana merespon, "aneh padamu? Apa dia terlihat normal saja?"
Sehun melenguh terkejut untuk yang kesekian kalinya di hari ini. Oh, Tuhan. Ia amat lelah hari ini. "You knew?" Sehun membisikkannya, "Kau tahu mengenai kakakmu? Mengenai apa yang bisa dilakukannya?"
"Uhm ..., well," Chanyeol berdehem, masih terlihat tenang, sama sekali tidak terpengaruh mengenai berita sang kakak yang mengalami kecelakaan, "yeah, begitulah. Tapi syukur kau baik-baik saja." Ia malah berkata begitu.
"Jadi ..., kau tahu apa kakakmu itu sebenarnya?"
"Hm." Chanyeol mengangguk, ia menyesap sedikit kopi dari cangkirnya. "Dia juga berasal dari kaummu."
"Kau juga tahu mengenai hal itu?! Mengenai dunia—"
"Ya."
"Is he okay? Will he be okay?"
Chanyeol terkekeh, ia hampir saja tersedak kopi yang sedang diteguknya. "Tenang, Sehun. Dia pasti baik-baik saja. Dan ya, dia akan baik-baik saja. Makhluk yang datang dari sana, hanya akan musnah atas kehendak Yang Mahakuasa. Jadi kau akan baik-baik saja kalau ... Yang Mahakuasa mengizinkanmu untuk baik-baik saja."
"He's an angel, too?"
"Ooh, Sehun." Chanyeol bersandar tenang pada sofa di seberang Sehun yang didudukinya, ia melipat kedua tangannya di dada. "Kau benar-benar naif. Malaikat mana yang ingin memusnahkan bangsanya sendiri?"
"What?" Sehun hampir saja tersedak oleh ludahnya sendiri. Chanyeol tahu mengenai Suho yang ingin membunuhnya? "Kau tahu mengenai diriku? Kau ... tahu dia akan memusnahkanku."
Chanyeol tersenyum miris, keningnya mengernyit. "Dia mengancamku . Maaf, Sehun, aku tidak bisa memberitahumu —shit!" Kemudian tiba-tiba mendesis kesakitan, ia menggenggam pergelangan tangannya tiba-tiba.
Sehun seketika mendekati Chanyeol, menatapnya khawatir, "What's wrong? You okay?"
Chanyeol masih mengelusi kulit pergelangan tangannya di mana ia merasa kesakitan, ia kemudian tertawa sarkastis, "Sepertinya sekarang meminta maaf pada seorang malaikat juga tidak boleh."
"Huh?"
"Sepertinya Suho sedang moody, ugh, peraturan kaumku diperketat lagi. Sepertinya sekarang aku tidak boleh meminta maaf pada siapa pun, dia pernah bilang kalau meminta maaf adalah perbuatan baik."
"Chanyeol? What are you talking—"
"I'm like you, Sehun." Chanyeol menyelanya. "But a devil. And Suho is my lord," Sehun melihat Chanyeol menyembunyikan kembali pergelangan tangannya ke balik kain jaket yang dikenakannya. Sekilas, Sehun menangkap pemandangan nomor seri yang terlukis permanen di tangan Chanyeol. Seperti sudah mendarahdaging, seperti sebuah tanda lahir; 666. "We call him 'Junmyeon'." Chanyeol membasahi bibir keringnya, ia terlihat gugup setelah menyebut nama tersebut. "Pernah mendengar ketua kelompok Para Iblis? Well, that's him, my step-brother."
.
.
Ketika ditanyai mengapa Sehun pulang begitu larut dan mengenakan pakaian orang lain, ia hanya menjawab kalau ia mengotori seragamnya di kafetaria sekolah dan meminjam pakaian temannya. Sehun kemudian tidak bercerita lebih panjang dan pergi ke kamarnya, menutup pintunya rapat, membiarkan lampunya padam hingga keesokan harinya.
.
.
"Jadi ..., uhm," Sehun memainkan makanan di kotak bekalnya, ia tidak terlalu semangat untuk makan saat ini, "apa kau sepertiku?"
"Hm?"
"You know, ditugaskan untuk membimbing manusia atau semacamnya."
"Kau tahu kan kalau kau seharusnya merahasiakan hal ini?"
"Ya, tapi kau sudah tahu mengenai diriku, tidak perlu lagi ada rahasia." Sehun tidak pernah membayangkan dirinya akan duduk di sini, berbincang santai dengan seorang iblis. "Jadi kau sama sepertiku?"
Sudah beberapa hari mereka begini terus. Obrolan di antara mereka jadi serius, tidak ada lagi gurauan di antara Sehun dan Chanyeol. Mereka jadi canggung sendiri. Hanya ketika ada Kyungsoo, mereka akan bersandiwara; bertingkah seolah mereka tetaplah dua remaja normal yang hidup tanpa hal supernatural. Terlihat Chanyeol menghela napas panjang, ia pun menghentikan kegiatan makannya, memainkan makanan di kotak bekalnya; menyalin Sehun. "Ya, begitulah."
"Apa tugasmu?"
"Rahasia."
"Hey! Tidak adil, kau mengetahui segalanya tentangku tapi aku tidak mengetahui tentangmu."
Chanyeol tertawa ringan, ia melirik pintu kelasnya, memeriksa apa Kyungsoo sudah kembali dari toilet apa belum. "Easy, seseorang yang diberikan tugas dari Yang Mahakuasa kemudian menjelma jadi manusia di bumi akan mengalami hal yang sama."
"Maksudnya?"
"Dulu, aku juga bangun tanpa memori apa pun. Mereka beralasan aku ini terkena amnesia, tapi tentu saja bukan. Kalau aku terima saja apa kata mereka."
"Mereka?"
"Orang tuaku."
"Oh." Sekarang Sehun jadi teringat mengenai orang tua yang seharusnya tinggal bersama Chanyeol, sedari ia mengunjungi rumah Chanyeol yang hanya dihuni oleh Chanyeol dan Suho—uhm, Junmyeon, Sehun bertanya-tanya ke mana orang tua Chanyeol? Apa mereka tinggal jauh? Apa mereka tidak ingin bersama Chanyeol? atau mereka memang sudah tidak ada lagi ...?
Chanyeol kemudian menutup kotak bekalnya, sudah tidak nafsu lagi untuk menghabiskan makan siangnya. Ia tersenyum miris, pandangannya menerawang. "I've been such a bad devil. I act like the angels." Chanyeol memainkan luka di ibu jarinya sembari bertutur kata. "Junmyeon tidak suka bagaimana aku bertingkah di bumi, jadi, uhm, bisa kaubayangkan sendiri apa yang dilakukan Junmyeon pada 'orang tua'-ku sebagai hukumannya."
Tidak usah dibayangkan. Memori mengenai pertemuan Sehun dengan Junmyeon beberapa hari yang lalu sudah cukup untuk imajinasinya. "Oh, God. Junmyeon diizinkan untuk melenyapkan manusia?"
"Well," Chanyeol menaikkan satu sudut bibirnya, tersenyum miris, "Junmyeon disebut ketua kelompok Para Iblis bukan tanpa alasan. He has no feelings."
Sehun melihat bagaimana bergetarnya tangan Chanyeol ketika ia membawa kotak jus anggurnya ke bibirnya, kemudian meneguknya isinya banyak-banyak. "I'm sorry." Kata Sehun setelah beberapa saat, ia meraih satu tangan Chanyeol lain yang tergeletak bebas di atas meja, ibu jarinya membuat gerakan memutar di punggung tangan Chanyeol. "Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk membantumu."
"Aku tidak memperingatkanmu mengenai Junmyeon. Jadi aku yang salah."
Obrolan mereka terpotong oleh gaduh bangku yang berbenturan dengan meja cukup keras. Murid di kelasnya yang tiba-tiba membisu membuat gaduh tersebut semakin jelas.
Oh. Kim Jongin.
Lagi-lagi ia memunculkan diri kelas dalam keadaan helaian rambutnya yang basah. Bulir air mengalir ke pelipis, pipinya, kemudian ke lehernya—Sehun mengerjapkan matanya, kemudian mengalihkan pandangannya cepat. Seragamnya tidak dikenakan Jongin rapi. Ia berdiri tak jauh dari Sehun tanpa alas kaki.
Perlahan murid-murid di dalam kelas mulai mengabaikan Jongin saat ia tak kunjung melakukan apa pun yang menarik. Jongin hanya merogoh tas punggungnya, tidak ada yang spesial. Kelas pun gaduh kembali. Aneh, padahal tadi pagi Sehun tidak melihat Jongin dan barang-barangnya sama sekali.
"Ooh, I see." Chanyeol yang bersuara membuat Sehun mengalihkan pandangannya dari Jongin pada anak lelaki di hadapannya. Chanyeol kemudian mengubah posisi duduknya sedikit, mendekati meja di hadapannya hanya untuk menatap Sehun di wajah lebih dekat. Sehun yang ditatapi begini mengernyitkan keningnya, kebingungan.
"What?"
Chanyeol tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum lebar pada Sehun, kemudian menatap Jongin dan Sehun bergantian.
"Kulihat-lihat kau sering memberi perhatian lebih pada Jongin. Jadi bukan hanya dulu kalian memiliki 'sesuatu'," Chanyeol membuat gestur tanda kutip dengan jarinya, "tapi sepertinya setelah kau menjadi separuh manusia dan menjelma jadi Sehun pun kau memiliki sesuatu untuknya."
"Sesuatu bagaimana?" Sehun menghindari tatapan Chanyeol dan menyeruput jus jeruknya.
"Hmm, entah, mungkin seperti ...," Chanyeol melirik Jongin sekilas sebelum kembali menatap Sehun yang ragu-ragu menatapinya balik, "afeksi. Poor him though, Sehunnya takkan pernah kembali, malah digantikan oleh Sehun yang lain."
"Oh." Sehun menelan ludahnya, teringatkan bahwa ia bukanlah Sehun yang dikenal oleh orang-orang selama ini. Ia mengabaikan pertanyaan yang ingin diajukan mengenai dirinya dan Jongin pada Chanyeol. "Omong-omong soal Sehun, uhm, yang dulu, ke mana dia sekarang? Apa jiwanya masih ada?"
"Entahlah."
"Kupikir kau mengetahui semuanya."
"Maaf, aku juga tidak tahu, hal itu masih jadi misteri sampai saat ini untukku—ouch!" Chanyeol tiba-tiba mengibaskan lengannya, mengerang kesakitan sembari mengelus pergelangan tangannya.
"Sorry!" Sehun refleks menarik lengan Chanyeol yang kesakitan, ia juga terlihat panik, "Aku tidak bermaksud membuatmu meminta maaf."
Chanyeol menyeringai lebar, membiarkan Sehun memegangi tangannya, "Tidak apa-apa," untuk yang kesekian kalinya Chanyeol menoleh ke samping, Sehun juga mengikuti pandangan Chanyeol, kemudian dipertemukan pada pemandangan Jongin yang sedang menatap bagaimana tangan Sehun dan Chanyeol bertautan. Jongin melirik Sehun, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada tas punggungnya lagi. "Sehun,"
"Hm?"
"Jongin likes you."
"E-eh?!" reaksi histerisnya sempat terpotong oleh Jongin yang pergi keluar kelas, ia terlihat membawa pakaian ganti dan sepasang sepatu. "Apa, uhm, apa m-maksudnya?" gagal. Sehun gagal untuk bereaksi santai.
"Aku ini iblis, ingat?" kata Chanyeol tanpa mengecilkan nada suaranya, lagipula orang-orang takkan peduli pada apa yang sedang mereka bicarakan. "Aku yang menuntun manusia pada hawa nafsu, termasuk manusia separuh malaikat."
"Oh."
"Jadi, aku tahu apa yang Jongin rasakan—hmm," kemudian terlihat Chanyeol menghirup udara di sekitarnya, dan menghembuskannya panjang, "aku mencium kecemburuan dari Jongin dan kasih sayang darimu."
Pipinya merona seketika mendengar hal tersebut. "Uhm, no." Sehun menundukkan kepalanya, menjawab Chanyeol separuh percaya diri. Huh, menyebalkan, kenapa Iblis diberikan banyak hal-hal keren yang membantu tugas mereka di bumi? "I don't like him."
"Oh Sehun, berbohong bukan cerminan dari seorang malaikat. Mau kau membohongiku sampai kapan pun, aku akan tetap dapat mengetahui apa yang kau rasakan. Apa salahnya? Jongin menyukaimu, anyway."
Benarkah? Apa benar Jongin menyukai Sehun?
Tunggu. Kalau memang iya, memangnya kenapa?! Apa yang akan dilakukan Sehun? Mereka berasal dari dimensi yang berbeda—dan kenapa Sehun bahkan memikirkan bagaimana bila mereka bersama?! Sehun kan tidak menyukai Jongin—oh, Sehun sangat menyukainya! Sehun mengaguminya.
Bahkan ketika pertama kali pandangan Sehun bertemu dengan figur Jongin pada hari pertamanya di bumi ini, Sehun tahu mengapa dirinya selalu merasa sedikit ketakutan di dekat Jongin. Mungkin hal tersebut ada kaitannya dengan jantungnya yang selalu berdegup kencang, pipinya terasa menghangat, he feels alive with Jongin. Mungkin itulah mengapa Jongin selalu hadir dalam bunga tidurnya, menjadi seorang pangeran yang menolongnya dalam dongeng di mimpinya.
Chanyeol berdehem ketika yang diajak bicara diam saja. "Sepertinya kalian lebih dari sekadar teman sekelas yang saling membenci."
Sehun melenguh terkejut, pipinya yang merona sulit untuk disembunyikan, akhirnya ada orang yang memiliki pikiran sama dengannya. Dan Sehun benar-benar masih sedang penasaran dengan masa lalunya. "What, really?!"
"Oh, God." Kali ini Chanyeol yang melenguh terkejut, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia masih menatap Sehun dengan kedua matanya yang terbuka lebar. "Sehun! You like him for real?!"
Menanggapi reaksi Chanyeol, kening Sehun mengernyit. "Tunggu! Kupikir kau dapat mengetahuinya, kaubilang Iblis dapat membacanya!"
"Aku hanya ... bercanda. Oh My Fucking God." Chanyeol terlihat amat terkejut, ia kemudian tertawa, tawanya semakin lebar ketika ia melihat bagaimana rona wajah Sehun saat ini. Sehun perhatikan sepertinya Para Iblis diperbolehkan untuk mengumpat dengan membawa nama Yang Mahakuasa bila melihat dari bagaimana Chanyeol saat ini masih terlihat berseri, ia tersenyum amat lebar sebelum mendesiskan, "You like Jongin!"
.
.
Oh. My. God.
Selama hidup kedua kalinya di bumi ini, Sehun tidak pernah merasa sekesal ini. Setelah mengetahui bahwa Chanyeol berasal dari kaum Iblis yang kerjanya memainkan hidup manusia, Sehun jadi merasa apa pun yang dilakukan Chanyeol jadi menyebalkan.
Chanyeol terus saja menggoda Sehun mengenai Jongin setiap saat. Apalagi bangku di kelas mereka berdekatan. Bahkan di hadapan Kyungsoo pun Chanyeol begitu! Kyungsoo yang biasanya tidak begitu antsusias membicarakan Jongin, kini jadi ikut-ikutan menggoda Sehun mengenai Jongin. Biasanya mereka akan menggoda Sehun dengan, "Oh, yang sedang jatuh cinta, jangan melamun!" atau "Whoa! Jadi hubungan kalian sudah sejauh ini?" ketika Chanyeol menemukan lebam merah karena gigitan nyamuk pada kulit leher Sehun.
Sehun tanpa sadar menghentak-hentakkan kakinya terlalu keras ketika ia sedang berjalan ke arah toilet. Ia baru saja melarikan diri dari sesi Chanyeol dan Kyungsoo yang menggoda Sehun mengenai Jongin habis-habisan. Dan Sehun yang tidak dapat bersandiwara tidak membantu apa pun.
"Ugh, why? Why Jongin though?!" Tidak ada siapa pun di sekitarnya untuk diajak bicara, Sehun pun bermonolog. Raut wajah kesalnya tidak pernah menghilang. Sehun menghela napas panjang, ia jadi semakin sulit untuk mendekati Jongin. Apa kabarnya Jongin? Sudah lama Sehun tidak bertemu dengannya—
"Ups!" Sehun spontan terdorong ke belakang, ia melangkah mundur sedikit ketika dadanya membentur tubuh lain saat membuka pintu toilet. "Sorry." Gumam Sehun masih menundukkan kepalanya. Soojung selalu menceramahi Sehun atas kebiasaannya yang sering berjalan dengan kepala tertunduk ketika sedang sibuk dengan pikirannya.
"Sehun."
"Wha—Jongin!" Sehun bersumpah ia tidak ingin terdengar terlalu terkejut seperti ini, dihadapkan pada wajah Jongin setelah berhari-hari membuat Sehun tidak dapat membiasakan diri ketika saat ini berhadapan dengannya. "H-hai."
Hai, Jongin, manusia tampan bimbinganku. Oh, Yang Mahakuasa, Sehun tidak tahu harus berterima kasih bagaimana untuk ditugaskan membimbing manusia macam Jongin—what?! No! I don't like Jongin. I shouldn't like him. I'm only his—huh, Jongin sangat mempesona dari dekat. Ia teringatkan pada memori di mana mereka berlari bersama menghindari kejaran para pelajar waktu itu.
Jantung Sehun berdegup kencang lagi.
Jongin tidak merespon apa-apa, seperti biasanya, ia hanya berdiri diam memandang Sehun.
Pipi Sehun sedikit merona, ia berusaha keras untuk tidak terlihat salah tingkah. Setelah Chanyeol membahas mengenai perasaannya pada Jongin, Sehun rasa ia jadi sulit untuk bertingkah normal ketika ia berada di dekat manusia yang harus dibimbingnya ini.
Sehun juga ikut memandang Jongin, merasa bingung mengapa Jongin diam saja—oh, ya. Sehun mungkin menghalangi jalan keluarnya, ya, ya pasti karena jalan keluar. Cepat-cepat Sehun berjalan ke samping, memberi Jongin jalan. "Maaf, menghalangi jalanmu, a-aku, uhm ..., uhm," what the heck?! Kenapa Sehun jadi menghindari Jongin?! kenapa Sehun jadi begini? Mungkin ini hanya sugesti! Pasti ia terbawa pengaruh oleh Chanyeol dan Kyungsoo yang terus menggodanya, ya, pasti ini karena mereka. Sehun tidak mungkin memiliki perasaan untuk Jongin begitu cepat begini seperti apa yang dikatakan mereka
"Sehun."
"Ya?" Sehun spontan menampar bibinya, ia terlalu terdengar antusias dan cepat merespon ucapan Jongin. "Uhm ...,"
"About the race," Jongin memulai percakapan mereka, ia bersandar pada pintu di dekatnya, kedua tangan dilipat di dada. Uhm ... "Kau harus menghentikannya."
"Uh ..., o-okay." Okay, aku sebenarnya masih tidak mengerti mengenai pertandingan yang orang-orang bicarakan padaku. "Yeah, sure. Aku akan ... berhenti."
Jongin menaikkan satu sudut bibirnya—wait, is he smiling ...? Jongin hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon, kemudian kembali berdiri tegak, satu tangannya ia benamkan di kantung celana seragamnya. Jongin pun berlalu. Kemudian seraya Jongin berlalu, sebelum ia benar-benar melangkah melewati tubuh Sehun,
dia,
uhm, dia,
Sehun berusaha untuk tidak tersedak oleh udara yang dihirupnya cepat ketika Jongin menepuk pucuk kepala Sehun secara lembut, jemarinya menelusuri helaian rambut Sehun sekilas, Jongin bergumam, "Good, meet me at the place where I parked my bike that day." Sehun spontan menoleh pada pemilik suara yang sudah mulai berjalan jauh darinya, kemudian masih tanpa menghadap Sehun, Jongin melanjutkan, "Don't let your boyfriend know."
Sehun tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya diam. Ia tidak dapat mencerna apa yang baru saja terjadi. Jongin mengajaknya bertemu. Jongin menginginkan pertemuan ini. Sehun membekap mulutnya spontan, ingin meredam erangan senangnya karena akhirnya Jongin dan dirinya akan memiliki waktu santai berduaan dan ini akan menjadi kesempatan Sehun untuk mengetahui Jongin lebih jauh.
Jantung Sehun berdegup kencang, terus begitu, ia membayangkan bagaimana dirinya akan dapat dengan cepat menyelesaikan tugasnya di bumi ini dan pergi ke surga. Home sweet home, I'm coming!
Sehun memegangi dadanya tepat di mana jantungnya berada.
Jadi ..., mungkin ini mengapa dirinya begitu gugup di dekat Jongin. Mungkin bukan hanya karena pesona Jongin, bukan hanya karena presensinya? Jadi mungkin ini karena ia amat antusias untuk menyelesaikan tugasnya di bumi?
Ya, pasti begitu. Pasti bukan sepenuhnya karena Sehun menyukai Jongin. Duh, mana mungkin Sehun menyukai Jongin—manusia yang sepertinya membencinya?
Raut wajah bahagia Sehun terhapuskan seketika.
Oh. Right. Jongin pasti membencinya. Tidak mungkin bila mereka diketahui saling membenci kemudian tiba-tiba saling menyukai?
Tubuh Sehun yang menegang karena kegirangan pun melemas kembali, ia berjalan ke dalam toilet tanpa semangat. Memikirkan apa yang sebenarnya akan Jongin lakukan padanya nanti. Apa Jongin akan memarahinya? Memberinya pelajaran? Hih, Sehun lupa bahwa Jongin itu agak brutal. Mereka yang sudah lama tidak bertemu membuat Sehun jadi lupa akan informasi mengenai Jongin.
Ini pasti karena Chanyeol dan Kyungsoo yang terus menghantuinya dengan gagasan bahwa Jongin sebenarnya menyukai Sehun, sehingga pasti ada pengaruhnya pada Jongin yang hadir dalam mimpi-mimpi Sehun.
Ugh. Sekarang Sehun jadi ketakutan begini. Perasaannya campur aduk.
Mengingat-ingat kembali apa yang Jongin ucapkan padanya terakhir kali membuatnya merasa mual. Sehun merasa takut.
'Meet me at the place where I parked my bike that day. Don't let your boyfriend know."
Hah, Sehun harus siap merangkai kata bila Jongin benar-benar ingin mempraktikkan ilmu bela dirinya pada Sehun nanti—wait! What boyfriend did he mean?!
.
.
.
sebenernya saya udah males lanjutin ff ini, ceritanya juga jadi gak keruan gini otl
