CHAPTER 4

YOU'RE MY IDOL AND I'M YOU'RE PARTNER

Pairing : Levi x Eren

Rate : T

Warning : AU, OOC, OOT, GaJe hahaha :P, Alur ga beraturan [lompat-lompat], Typo & Typo(s) bertebaran dimana-mana

Disclaimer : Shingeki no Kyojin © Hajime Isyama

"Eren." Panggil Levi lagi dengan nada kecil. Salah seorang haters yang membawa Eren menoleh dan mendapati Levi yang sedang berlutut memperhatikan Eren yang sedang di masuki oleh seorang pria besar.

"Semuanya. Lihatlah siapa orang yang datang untuk menjemput sang kekasih." Teriak seorang itu.

Pria itu memberi kode agar mereka menahan tubuh Levi untuk melihat Eren yang sedang menahan rasa sakit di tubuhnya itu. Pria itu tertawa dan mengangkat tubuh Eren agar berhadapan dengan Levi.

"Ingin melihat apa yang bisa dilakukan oleh Eren Jeager?" Tanya pria asing itu.

"Jangan ganggu dia brengsek!" Levi melepaskan pegangan dari orang – orang yang menahannya itu dan langsung memukul tubuh besar pria yang memasukki lubang sensitive Eren itu. Sehingga Eren terjatuh.

"Le...vi..." Panggil Eren.

Setelah Pria besar itu tersungkur, Levi menyelimuti tubuh ringkih Eren dengan jaket panjang yang dibawanya dan menggendong Eren kembali menemui Erwin dan yang lainnya.

"Kita pulang Eren." Ajak Levi yang di jawab dengan anggukkan lemas dari Eren.

Erwin menunggu dengan harap harap cemas kedua anak didiknya itu dan setelah melihat Levi menggendong Eren yang dibalut dengan jaket panjang milik Levi, Erwin menghampiri Levi dan memindah tangankan Eren dari Levi ke Erwin sendiri untuk menggendong Eren kembali ke mobil milik Levi.

"Selamat Petra kau berhasil membuat Eren semakin gila. Dan lihat saja. Suatu saat nanti aku akan membalasmu, wanita gila." Jawab Levi yang mendorong tubuh Petra sampai terjatuh tepat diatas makam milik Carla.

"Dan tenang saja Levi. Akan kubuat kau bertekuk lutut didepanku." Jawab Petra dengan seringai di wajah manis nya itu.

Erwin menyarankan agar Eren dan Levi untuk menaiki mobilnya. Levi setuju dan membiarkan Erwin mengantarnya. Di kursi belakang, Levi tetap memeluk tubuh ringkih Eren dan sesekali memanggil anak buahnya itu agar sang anak baru itu tetap sadar.

Setelah menempuh waktu selama 20 menit, Mereka sampai di mansion milik Levi. Para maid dan butler serta bodyguard yang bekerja untuk Levi tergugu melihat Tuan Mudanya itu menggendong seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Mudanya yang lain.

"Tuan apa yang terjadi? Mengapa Tuan Eren dan Anda berdarah?" Tanya salah satu maid yang dibalas dengan nada dingin dari Levi.

"Jangan banyak tanya. Bawakan saja pakaian milik Eren dan bawa peralatan P3K ke ruang tamu dalam waktu lima menit."

"B-Baik Tuan Muda." Jawab salah satu maid itu dan berlari menuju kamar milik Levi. Salah satu maid yang lain juga ada yang berlari meenuju ruang tengah dan mengambil kotak P3K untuk Tuan Mudanya itu.

Melihat maidnya kembali, Levi berdiri mengambil kotak itu dan membukanya. Setelah itu, dia berjongkok di samping Eren.

"Eren." Panggil Levi.

Eren yang merasa terpanggil langsung membuka matanya dan menoleh kearah Levi yang menatap khawatir kearahnya.

"L-Levi.." Jawab Eren yang mencoba duduk di sofa empuk itu.

"Jika tidak kuat tiduran saja aku akan membersihkan lukamu." Jawab Levi dengan sedikit melembut.

"Tak apa aku ingin du-. Akh." Jerit Eren saat merasakan sakit di daerah bokongnya.

"Kau tidurlah Eren. Lupakan masalah tadi. Akan kubuat mereka jengah." Jawab Levi dengan nada dinginnya. Eren yang tahu sang leader marah hanya tersenyum dan menurut.

"Levi boleh minta tolong pelayanmu untuk menggendongku ke kamar? Badanku sakit semua." Pinta Eren dengan suara lirih setelah Levi selesai mengobatinya.

Levi mengangguk meng-iyakan keinginan Eren dan menyuruh pelayannya untuk menggendong Eren sampai di kamar. Erwin yang sebagai manager dalam Wings of Freedom ini hanya bisa menghela napas dan memijit keningnya atas perbuatan Petra.

"Kau bisa pulang Erwin. Aku akan menjaganya. Dan kali ini kupastikan dia tidak berangkat sendiri dan mencelakai dirinya sendiri." Jelas Levi dengan nada tegas.

"Baiklah." Sang manager mengangguk. "Jika terjadi apa apa langsung beritahu aku."

Mendengarnya, Levi hanya mengangguk dan langsung berjalan menuju kamarnya dimana terdapat Eren yang sedang merebahkan diri dengan terisak.

Tunggu.. Terisak?

Eren Jeager.. Bocah kesayangannya sedang terisak di balik selimutnya?

Levi memasuki kamarnya dengan tergesa – gesa. Levi memperhatikan Eren dalam - dalam dan langsung membalikkan tubuh pria tinggi itu dengan cepat.

"L-Levi.." Panggil Eren dengan suara lirih.

"Ada apa? Masih trauma dengan apa yang terjadi?" Mendengarnya, Eren hanya mengangguk.

"Maka dari itu, jangan pernah kau pergi jauh dariku atau dari anggota lain. Atau jika perlu, jangan pernah kau pergi sendirian dan selalu menghubungi Erwin dan Aku. Mengerti?" Jelas Levi dengan panjang.

Eren hanya bergerak mendekat kepada Levi dan menarik selimutnya menutupi wajahnya sampai hidung. Dan tak berselang selama 10 menit, Levi mendengar dengkuran halus dari bocah disampingnya. Levi hanya mendengus geli melihat bocah yang sekarang sedang terlelap itu. Dia mengusap kepala Eren dan menoleh kearah meja belajar yang dimilikinya.

"Buku? Jika tidak salah itu buku lagu milik Eren."

Levi mendekati meja itu dan membuka buku lagu itu. Dilihatnya kumpulan lagu dengan chord gitar dan beberapa chord piano dari yang simple sampai yang rumit. Dia membaca dengan sesakma lagu – lagu itu dan terhenti pada sebuah lagu dimana ada bercak darah di tepi bahkan di tengah kertas berwarna putih tersebut.

A :

Omoidoori ni ikanai koto darake
Doushiyou mo naku jiko ken'o
Yaoyorozu no itami ya kanashimi kara
Nigekomeru basho wo
Sagashiteru

B :

Isso iwa no sukima ni hikikomotte
Tsuki mo taiyou mo mushi shite nemurou
Umarete kita koto no imi nante
Shiranai wakannai yo

A :

Demo sonna fuu ni omoeru tte koto
Sore wa kimi ga motto motto suteki ni nareru chikara ga
Aru tte oshieteru'nda yo

Both :

Sou sa
Kami no mani mani
Oose no mama ni
Dare datte chikyuu wo aishiteru
Nome ya utae ya
Donchan sawagi
Tamanya sonna no mo
Ii ne

Sou sa kita mo minami mo
Migi mo hidari mo
Nanda kanda chikyuu wo aishiteru
Doronko dakedo
Aruite yukeru
Mada mada saki wa nagai sa

A :

Tada tadashii hito de itai dake
Kitto dare mo ga sou negatteiru kedo
Yaoyorozu no kokoro no minukusa ni
Kurushimerareru mainichi sa

B :

Boku ga umarete kita koto
Kiseki to ieba kikoe wa ii kedo
Sore wa kitto guuzen ni suginakute
Yappari imi nante nai sa

A :

Demo tatoeba kimi ni ijiwari wo suru yatsu ga
Iru nara sore wa kimi ga tottemo suteki na hito datte
Oshieteru'nda yo

Both :

Sou sa
Kami no mani mani
Oose no maa ni
Dare datte chikyuu wo aishiteru
Boku ga waratte
Kimi mo waraeba
Yurusenai koto nante nai yo

Sou sa otoko mo onna mo
Koi shikarubeki
Sonna fuu ni chikyuu wa mawatteru
Doronko dakedo aruite yukou
Mada mada saki wa nagai sa

A :

Hontou ni daiji na mono nante
Angai kudaranai koto no naka ni aru yo

B :

Toki ni wa minna de bakasawagi
Hadaka odori de oowarai

A :

Sou sa
Kami no mani mani oose no mama ni
Motto motto jibun wo aiseru yo

B :

Kagami wo mite goran yo mou wakaru desho?
Minna wo terasu hikari sa

Both :

Sou sa
Kami no mani mani
Minna arigatou
Yappari chikyuu wo aishiteru
Hana wo sakasou
Ooki na hana wo
Ten made todoku kurai no!

(la la la...)

Levi dengan sekilas melihat tanggal pembuatan lagu atau puisi tersebut. Tanggal itu tepat sekali bertuliskan tanggal 12 November 2015. Dan dipojok bagian kanan halamat terdapat tempat dimana dia menulisnya. Dan siapa sangka, Eren menulis lagu itu tepat sebelum dia cabuli oleh para fans fanatik dari dirinya dan Petra.

"Dia membuatnya kemarin, pukul 16.00. Dengan kata lain, itu hanya berselang dua jam dari kejadian itu." Gumam Levi.

"Ternyata Bocah yang sedang tidur seperti bayi ini bisa memecahkan rekorku membuat lagu, hm?" Lanjut Levi dan menutup buku itu. Dengan segera Levi berputar arah ke sisi ranjang satunya dan merebahkan diri di sebelah Eren.


.

.

.

YOU'RE MY IDOL AND I'M YOUR PARTNER

.

.

.


Keesokkan paginya, Eren bangun dengan tersentak. Tanpa sadar ada tangan kekar melingkari pinggangnya seakan akan tidak memperbolehkan dirinya untuk pergi dari ranjang tersebut. Eren menoleh dan mendapatkan teman sekelasnya yang merupakan leader dari Wings Of Freedom itu sedang memeluknya erat. Eren memindahkan tangan kekar itu ke belakangnya. Sampai dia mendengar suara bariton dengan serak khas orang yang baru bangun tidur.

"Mau kemana kau, huh?"

"Etto... Kekamar mandi?" Jawab Eren dan menggaruk tengguknya.

"Aku tidak percaya. Kembali tidur atau kupatahkan kakimu." Jawab pemilik suara bariton itu, siapa lagi jika bukan Levi Ackerman.

"Aku benar akan mandi Levi karena aku ingin pulang ke apartemenku."

"Pulang hm? Siapa yang memperbolehkanmu pulang ke rumah kotor itu. Tinggal disini dan kita pergi kesekolah bersama. Sekarang mandi."

Levi bangun dan berjalan cepat menuju lemarinya. Dengan segera dia mengambil sikat gigi dan handuk baru dan langsung melemparnya kearah Eren.

"Baiklah. Tapi seragamku?"

"Jangan banyak alasan. Masuk kamar mandi atau aku mandi kan di taman belakang."

Eren berjalan lesu menuju kamar mandi di dalam kamar Levi. Levi yang notabenya tidak suka menunggu langsung berjalan menuju kamar mandi tamu yang berada tepat di sebelah kamarnya. Setelah menghabiskan waktu selama 10 menit, Eren keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapih dan menemukan Levi yang sedang memainkan ponselnya.

"Sudah selesai? Kau mandi seperti anak perempuan." Ledek Levi dan membawa tasnya menuju ruang makan.

"Aku bukan anak perempuan, Pendek!" Jawab Eren yang langsung mendapat jeweran dari sang empunya rumah.

"Berani kau mengataiku pendek lagi.. Kubuat kau tersungkur saat pelajaran olahraga nanti." Eren menelan ludah dan langsung mengikuti jalannya Levi.

"Makan dulu setelah itu kita kesekolah." Sambung Levi yang di jawab dengan anggukan kepala dari Eren.

Levi dan Eren sudah duduk di tempatnya dan menunggu para pelayan menyediakan makanannya. Setelah para pelayan milik Levi menyediakan makanan, Mereka makan dengan sangat lahap. Terutama bagi Eren yang saat di berikan setengah ayam dan langsung memakannya tanpa peduli Levi yang menatapnya heran.

Selesai makan, Levi langsung menarik Eren yang sudah mengendap endap keluar rumah agar bisa berangkat sendiri.

"Kau tidak akan kemana mana, bocah tengik."

"Baik baik.. ikut denganmu ke sekolah." Jawab Eren yang mengikuti Levi sampai di depan mobil Levi yang baru.

"Tunggu mobilmu bukannya Mercedes? Kenapa ada Ferrari disini!?" Pekik Eren saat Levi masuk kedalam mobil ferrari kesayangannya itu.

"Tutup mulut rewel mu dan masuk saja. Mobil itu di bengkel karena menabrak ke tiang listrik kemarin malam saat membeli makanan. Dan hanya mobil ini yang tersedia." Jawab Levi santai.

Eren menghela napas dan masuk kedalam mobil itu dan Levi menyeringai kecil. Sekilas Eren mendengar Levi bergumam sebuah kalimat yang membuat Eren membulatkan mata. Pendengaran Eren masih berfungsi baik dan sangat jelas di dengarnya Levi menyebutkan 'Dasar Anjing penurut'.

"Aku bukan Anjing!" Teriak Eren tepat di sebelah telinga Levi dan cemberut.

Levi berhenti mendadak akibat teriakan kencang Eren dan menyebabkan Eren terantuk dashboard mobil dengan cukup keras.

"SHIT EREN!" Pekik Levi sesaat. "Telingaku lebih berharga dari tubuhmu itu, bocah sialan!"

"Siapa suruh kau mengataiku Anjing penurut." Cibir Eren.

"He? Memang benar kau seperti anjing. Yang digalakan akan terus menurut pada tu-." Jawaban Levi terpotong saat melihat Eren yang sudah mengambil ancang ancang untuk berteriak lagi. Dengan cepat, Levi mengunci bibir Eren dengan bibirnya.

"Sekali lagi kau berteriak, akan ku lumat habis bibirmu itu, bocah tengik." Sambungnya lagi dan dihadiahi Eren yang terdiam dan menutup rapat mulutnya.

Di perjalan menuju sekolah, Eren bersenandung dan mengeluarkan buku puisi dan lagunya itu. Levi melirik sekilas dan baru bertanya saat berhenti di lampu merah.

"Membuat lagu lagi bocah?"

"Tidak. Aku sudah membuatnya semalam. Dan aku lupa liriknya. Mau dengar?" Tanya Eren dengan lembut.

"Hm.. boleh saja. Asal suaramu jangan sumbang."

"Daritadi kau mengolokku terus. Tidak akan karena aku menyukai lagu ini." Jawab Eren.

Levi mengendarai mobilnya perlahan dan mendengarkan suara merdu Eren dengan seksama. Eren mulai menyanyikan bagian liriknya dengan perlahan. Eren tersenyum sendu saat menyanyikannya. Terlebih saat lagu yang dinyanyikan Eren itu sebuah lagu melow yang hanya bisa di iringi oleh piano dan siapa sangka bahwa lagu tersebut akan menjadi lagu paling sedih jika di masukkan kedalam album dari Wings Of Freedom. Dan siapa sangka, Eren akan teringat perkataan Petra yang akan terus menginginkan Levi dan akan terus mendapatkan Levi. Eren juga tau dia lelaki, tidak mungkin dua lelaki bisa bersama terlebih menjalin hubungan. Itu adalah hal yang sangat taboo.

chikara makase ASUFuARUTO wo ketobashita ze
omae yatsu no ude ni dakare kaetta heya
kitto futari SHANANA de HAATO BUREIKU
mado no akari miagete
Make me cry

shibui yatsu ya hadena yatsu ni furareru tabi
itsumo ore no mune wo karite naiteta yo ne
dare yori sa tomodachi datte
yuujou kimeru tabi
kokoro de naiteta yo
bisshiri HAATO ni kakushita
I love you you you

kamisama HELP! HELP! HELP! HELP!
HELP! HELP! HELP! HELP!
tasukete kurenakya ano ko wa dareka to
kiss shite shimau yo

setsunai HELP! HELP! HELP! HELP!
HELP! HELP! HELP! HELP!
ichi kara hyaku made I love you

omae mado wo akete yrou no toori wo mita
biru no kage ni kakureta no sa kanashiku naru
maru de imouto mitai datte
itta ore ga baka da ne
Make me cry

Suara Eren mulai bergetar saat menyanyikan bait selanjutnya. Levi yang tidak menyadari hal itu tetap fokus dalam menyetir mobilnya sampai ke sekolah. Eren tetap menyayikan lagu itu dengan hati hati takut suaranya sumbang dan terdengar jelek di depan leadernya itu.

koi no tenshi tsurai kimochi omocha ni shite
namida no kazu atsumeru kara bisho nure da yo
kono mune ni tsuzutta RABU RETAA
kage ga kasanaru toki
narashita BAIKU no KURAKUSHON
kokoro no sakebi wo todokete okure yo oh oh

kamisama STOP! STOP! STOP! STOP!
STOP! STOP! STOP! STOP!
matsuge wo fusetara ano ko wa subete
sasagechimau no sa

imasugu STOP! STOP! STOP! STOP!
STOP! STOP! STOP! STOP!
kanashii futari no sadame

kamisama HELP! HELP! HELP! HELP!
HELP! HELP! HELP! HELP!
tasukete kurenakya ano ko wa dareka to
kiss shite shimau yo

kamisama HELP! HELP! HELP! HELP!
HELP! HELP! HELP! HELP!
ichi kara hyaku made I love you

Eren menyelesaikan lagunya bertepatan dengan sampainya mereka di parkiran sekolah. Dan betapa terkejutnya Levi saat melihat Eren menitikkan air mata.

"Mengapa kau menangis? Apa terlalu menjiwai? Mungkin harus di arrangement ulang agar saat tampil kau tidak menangis, bocah." Mendengarnya, Eren hanya mengangguk setuju dan turun dari mobil Levi.

Baru saja mereka berjalan 3 meter dari parkiran, Eren dan Levi langsung di kerubuti oleh para fansnya. Ada yang meminta foto dan juga tanda tangan. Bahkan Eren yang belum pernah tampil sekalipun sudah di minta tanda tangan.

Levi yang jengah dan merasa panas langsung menarik Eren agar pergi dari kerumunan itu. Eren mengikuti Levi sampai di kelas mereka. Dilihatnya sekeliling.

"Ah.. Marco.." Eren berlari kearah Marco yang sedang berbicara dengan Jean.

"Ada apa Eren?"

"Ano.. ini terima kasih. Dalam 1 minggu aku sudah mengalahkan semua boss nya." Jawab Eren dengan santai.

"Apa? 1 minggu? Wow Eren kau sangat maniak game." Jawab Marco.

"Jangan belagu kau, Baby Face. Baru segitu kau sudah berbesar kepala." Sindir Jean.

"Aku tidak!" Jawab Eren emosi. "Diam saja kau muka kuda!"

"Siapa yang kau panggil Muka kuda! Muka ku tampan. Kau tidak tau banyak orang memanggilku tampan, huh?" Jawab Jean menantang dan baru saja Eren ingin menjawab perkataan Jean ada sebuah suara lembut menengahi.

"Sudah lah Eren.. Jean.. Kalian berdamailah. Kalian satu team." Jawab Armin yang datang bersama Berthold.

"Tidak sudi!" Jawab keduanya bersamaan.

"Oi bocah! Kalian berdua!. Untuk Kirschtein, Jika kalian masih berkelahi dengan Eren, ku pastikan kau akan tampil saat pertengahan konser dan untukmu Eren, Kau masih ribut dan tidak mengunci suara cemprengmu akan ku kurung kau di kamar mandi." Jawab Levi tegas.

"Aku tidak menyangka kau bisa berkata panjang, Levi." Jawab Eren kagum.

"Tch.."

Bel tanda dimulainya pelajaran sudah berbunyi. Murid - murid sudah berhamburan kembali ketempat duduknya dan menunggu guru mereka datang memasukki kelas. Tak lama sekitar 10 menit menunggu, guru datang dengan membawa sebuah kertas putih. Eren yang sudah mengerti maksudnya hanya tersenyum manis saat guru matematika yang tidak lain adalah Erwin Smith, itu mengatakan 'QUIZ MENDADAK'. Hanya Levi dan Eren yang diam tidak menjawab seperti murid yang lain.

"Eren Jeager. Tolong bagikan kertas ini." Jelas Guru itu.

"Baiklah Sensei."

Eren mengambil kertas di meja guru itu dan langsung berputar mengelilingi kelas untuk membagikan soal quiz hari ini.

"Semuaya sudah mendapatkan soal?" Tanya Guru yang di jawab dengan teriakan 'sudah' serempak seluruh murid di kelas.

"Baiklah. Kalian bisa kerjakan soal ini sampai pelajaran habis. Yang mengumpulkan jawabannya pertama kali akan mendapatkan tambahan point 50 dan yang kedua 30 point serta yang ketiga 25 point. Dan masing masing dari ketiga orang itu mendapat bocoran 10 soal untuk ujian minggu depan." Jelas sang guru.

Levi menyeringai dan mencolek tubuh Eren. Eren yang merasakan sentuhan itu langsung berbalik badan dan menatap Levi.

"Ada apa Levi?"

"Mau taruhan?" Jawab Levi dengan seringai tipisnya.

"Boleh saja. Apa peraturannya. Jika nilai kupastikan matematikaku dari SD selalu mendapat nilai A+" Jawab Eren sombong.

"Ho.. benarkah? Kita bertaruh yang mendapat nilai dibawah A+ dan tidak mengumpulkannya pertama kali saat mengadakan meet and greet minggu depan harus memakai wedding dress." Tantang Levi.

"Boleh saja. Dan kupastikan kau kalah."

"Kita lihat saja nanti. Jadi dimulai dari..." Levi menjeda kalimatnya. "Sekarang!"

Eren berbalik badan dan langsung mengerjakan soal – soal itu dengan cepat dan terburu – buru. Berbeda dengan Levi yang mengerjakan soal - soalnya dengan tenang. Levi menyeringai saat melihat Eren terlihat kesulitan dengan soalnya.

"Akulah yang menang, bocah." Levi bergumam pelan.

Levi menyelesaikan soal terakhirnya. Begitupun juga dengan Eren. Dengan segera Levi berjalan santai menuju meja guru dan memberikan kertas ulangannya. Baru saja guru itu ingin mengambil kertas itu, Eren menyelak dan meletakan kertas jawaban Eren di atas kertas Levi.

"Bisakah kau tidak menyelak antrian, bocah."

"Aku tidak akan kalah darimu, Levi."

Erwin langsung memeriksa jawaban dari kedua muridnya ini dengan senyum di wajahnya. Erwin mengangguk saat membaca dan mengecek jawaban dari kedua muridnya itu.

"Sangat disayangkan Eren. Kau berada di urutan kedua. Karena Levi lah yang telah sampai di meja ini terlebih dahulu. Tapi sangat di banggakan kalian berdua mendapat nilai A+." Jawab Erwin dan menuliskan nilai A+ di kotak nilai yang berada di ujung kanan atas.

Mendengarnya, Levi menyeringai senang. Eren yang melihatnya merengut kesal atas kekalahannya. Levi dengan acuh meninggalkan meja guru dan langsung duduk di tempatnya. Eren menghentakkan kaki melihat Levi sangat senang atas kemenangannya.

Eren kembali ketempat duduknya. Sedangkan Levi masih terus menyeringai kecil dan tidak terlihat akibat kemenangannya.

"Jangan lupa wedding dress mu, Eren." Bisik Levi dengan menggoda Eren.

"I-Iya.. aku tau!" Teriak Eren yang mengundang perhatian seluruh siswa di kelas termasuk guru matematikanya sendiri yang tidak lain adalah manager dari WOF.

"Eren Jeager. Mohon jangan mengganggu kelas." Tegur Erwin dengan tegas.

Levi hanya mendengus saat melihat Eren menggerutu akibat di tegur oleh Erwin dan di goda olehnya. Eren yang tidak terima langsung mencubit pipi Levi dengan gemas. Levi mengaduh kecil saat Eren menarik kedua pipi milik Levi. Levi melepaskan tangan Eren dan langsung pergi dari kelas tersebut.

Peraturan pertama Erwin di kelas hanya satu. Jika tugas yang di berikan sudah semua di kerjakan, maka murid yang sudah selesai itu bisa melakukan apapun kecuali untuk kabur dari sekolah. Jika murid yang ketahuan kabur dari sekolah, maka murid tersebut harus membersihkan sekolah selama satu bulan full.


.

.

.

YOU'RE MY IDOL AND I'M YOUR PARTNER

.

.

.


Bel tanda pelajaran telah berbunyi. Dengan segera Eren merapihkan bukunya yang ada di meja dan langsung keluar menyusul anggota WOF yang sudah berada di dalam ruang kerja Erwin.

"Maaf aku terlambat." Teriak Eren dengan membuka pintu secara kasar.

"Ah.. Eren.. Kau dari mana saja?" Tanya Erwin yang sedikit terkejut.

"Bocah. Kau lama sekali." Cela Levi.

"Aku lama juga karena dirimu, yang mulia Levi." Jawab Eren jengah dengan penekanan kata di 'dirimu'.

"Baik baik sekarang akan ku umumkan sesuatu. Besok kita akan mengadakan meet and greet. Dan ku harap kalian bersikap baik dan profesional. Dan Levi antarkan Eren ke butik langganan grup kita agar dia bisa memilih baju yang tetap untuknya. Dan satu lagi. Kau yang mengurus pakaian anak – anak yang lain." Jawab Erwin dengan tegas.

"Kenapa aku?"

"Perlu kujawab pertanyaanmu itu, Levi?" Tanya Erwin kembali dengan seringaian di wajahnya.

"Tidak perlu. Baiklah Eren kutunggu di parkiran dalam waktu 10 menit."

Setelah menjawab pertanyaan Erwin dan memberitahu Eren, Levi langsung pergi membawa tasnya menuju tepat dimana mobilnya terparkir rapih dan tertutupi oleh bayangan pohon rindang. Dengan segera Eren menyusul Levi yang sedang membuka pintu mobilnya dan memasukkan tasnya di kursi belakang. Dengan cepat Eren masuk kedalam mobil Levi dan duduk di sebelah Levi sebelum Levi mengunci semua pintu mobilnya.

"Mengapa kau selalu saja tidak menungguku? Kau ini menyebalkan sekali." Gerutu Eren saat Levi mulai melajukan mobil mulusnya itu ke jalan raya.

"Kau berisik sekali lagi ku turunkan kau di jalan dan ku biarkan kau kedinginan di luar rumahku." Jawab Levi datar. Dan dengan cepat Eren membungkan mulutnya itu dengan kedua tangannya.

Levi yang melihat tingkah Eren yang menggemaskan itu langsung menarik tengkuk teman sekelas yang dianggapnya bocah itu dan langsung mencuri ciuman dari bibir ranum milik Eren. Eren yang terkejut dengan perlakuan Levi sontak membulatkan mata dan langsung berteriak sekeras kerasnya.

"Hyyaaaa! Itu ciuman pertamaku! Kau bodoh ap-"

"Ku jamin kau akan kehilangan lidahmu jika kau berani meneriakiku sekali lagi." Jawab Levi yang sedang menyumpal mulut Eren dengan tangannya. Sedangkan tangan yang satunya lagi fokus mengendalikan stir mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi itu. Eren mengangguk mengerti dengan pernyataan Levi itu. Levi dengan segera melepaskan bekapannya dan melanjutkan menyetir dengan tenang sampai ke tempat tujuan.

Selang beberapa menit, Sampailah mereka di sebuah boutique ternama dan hanya menjualkan pakaian yang dijahit oleh penjahit profesional. Eren mengikuti Levi yang sudah masuk terlebih dahulu kedalam boutique itu. Para penjaga boutique itu semua menyambut kedatangan Levi dan langsung menawarkan pakaian terbaik mereka.

"Kali ini bukan untukku. Tapi untuk bocah di belakang yang merupakan anggota baru WOF." Jawab Levi santai. "Kuharap kalian tidak mengecewakanku atau ku batalkan semua pesanan pakaian unutk WOF." Sambungnya.

"Baiklah Tuan." Jawab salah satu penjaga dan membawa Eren ke tempat pengukuran baju.

"Kutunggu disini bocah." Jawab Levi yang mendaratkan pantatnya di sofa empuk di depan ruang ganti itu. Mendengar sang Leader berkata begitu, Eren mengangguk dan melajukan jalannya menuju ruang ganti.

Eren mencobai satu persatu pakaian yang di berikan dan keluar untuk memperlihatkannya kepada Levi. Levi melirik dari ponselnya dan menggeleng saat melihat Eren menggunakan kemeja lengan panjang yang digulung hampir siku dan mengenakan dalaman kaos polos berwarna putih. Akibat gelengan itu, Eren masuk kembali kedalam ruangan itu dan mecoba beberapa baju yang berujung dengan gelengan kepala dari seorang Levi Ackerman.

"Kita mau meet and greet bukan mau piknik. Jangan memilih pakaian seperti itu. Jika kau konser barulah pakai pakaian yang seperti itu." Jawab Levi di sela teleponnya.

Eren mengangguk lagi dan memakai jas beludru berwarna putih dengan celana warna senada dan menggunakan ikan pinggang dari merk ternama. Eren keluar dari ruang ganti dan berjalan takut kepada Levi. Levi menoleh dan menatap lekat Eren.

"Ho.. Seleramu bagus juga bocah. Tapi aku baru ingat kau tidak memakai jas," Jawab Levi dan mengacak rambut Eren. "Ganti pakaianmu dan kita memberesi rambutmu itu."

Levi tidak menindahkan protes Eren dan langsung menggandeng tangan Eren menuju lantai dua toko itu dan menemukan orang yang sering memotong rambut para personil WOF jika ada konser atau pun meet and greet. Levi mendudukan Eren di kursi biasa dia memotong rambutnya dan meminta pencukur itu memotongkan rambut Eren sebagus mungkin. Dengan cepat, orang itu memotong rambut anggota baru itu dengan cepat dan rapih. Levi yang memperhatikannya langsung terkesima melihat potongan baru rambut Eren.

"Bagaimana?" Tanya Eren malu.

"Kau... Ah sudahlah.." Jawab Levi membuang wajahnya. Eren yang melihat Levi salah tingkah seperti itu hanya bisa bersenandung senang karena Leader yang di anggapnya paling sulit di ketahui seleranya bisa terkesima seperti itu.

"Ayo pulang. Kita harus bersiap siap untuk besok. Jangan sampai kau sulit di bangunkan seperti kemarin, Bocah. Ah dan jangan lupa dressmu itu kau tampak manis dengan wedding dress itu." Jelas Levi.

"Ha'i Ha'i Leader." Goda Eren yang di balas dengan decakan lidah dari Levi.

Sesampainya di rumah keluarga Ackerman itu, Levi langsung memakirkan mobil mewahnya itu di garasi dan langsung menyusul Eren yang sudah duduk di sofa empuk milik Levi itu. Levi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Eren jika sudah sampai rumah.

"Oi.. Mandilah dulu, bocah tengik." Perintah Levi.

"Nanti saja Levi. Aku lelah. Dan terlebih pinggangku masih sakit akibat kejadian..." Eren tidak melanjutkan kata katanya dan langsung masuk kekamar mandi. Levi yang melihatnya langsung membuka pintu kamar mandi itu dan melihat Eren terkejut di dalam bathtub itu.

"Jangan di ingat lagi." Jawab Levi yang mengguyur kepala Eren dengan air hangat di dalam bathtub itu. Eren hanya mengangguk mengiyakan penjelasan dari sang tuan rumah itu.

"Bantu aku, Levi."

"Dengan senang hati, bocah." Jawab Levi yang mulai mengkeramasi rambut bocah di depannya itu.

Levi membilas rambut coklat itu dan mengambil handuk yang terletak tidak jauh dari jangkauannya. Eren berdiri dan memakai handuk itu dan segera kembali ke kamar milik Levi. Dia mengambil piama lengan panjang dan dengan segera dia berlari menuju ranjang dan menarik selimut tebal yang tertata rapih di kakinya itu.

"Aku tidur dulu Levi. Aku baru ingat acaranya akan di majukan menjadi jam 7 pagi." Jawab Eren disela tidurnya.

Levi yang mendengarkan hanya menaikkan alisnya mencerna perkataan Eren. Setelah mendapatkan apa maksud dari Eren, Levi langsung menelpon Erwin yang dia tahu bahwa managernya itu sudah pasti tidur.

"Cih.. Pria tua bangka itu. Mengapa tidak memberitahukanku."

"Aku mencoba menghubungimu, Levi. Tapi ponselmu tidak aktif jadi aku memberitahu Eren karena dia sudah tinggal bersamamu. Ku pikir Eren akan langsung memberitahukanmu." Jawab Erwin tegas.

"Tch. Ya sudah."

Levi menahan amarahnya dan langsung merebahkan diri di sebelah Eren. Diperhatikannya wajah manis lelaki di sebelahnya itu dan tanpa sadar, tangan Levi mulai menjelajahi wajah halus Eren dengan lembut.

"Aku akan menjagamu, Eren. Dengan nyawa dan hatiku." Bisik Levi sebelum dia tidur terlelap dan bermimpi dalam tidurnya.

.

.

.

.

.

Continued~


NOTE :

1. Kami no Mani Mani - Miku, Gumi, Rin

2. Kamisama Help! - Tomoe (Kamisama Hajimemashita)

Hai Hai... Akhirnya Update lagi :" Setelah sekian lama saya vakum

Ada yang kangen? ahhh kurasa tidak ada.. *Lari ke Eren*

Maafkan saya yang lama update sebenarnya udah selesai dari kapan tau ini.. cuma kebanyakan pacaran sama Eren trus juga nge rp Levi terus tiap hari.. Ditambah keasikan baca nobless hahaha.. Jadi maafkan saya..

Mohon Kritik dan sarannya ya bebeb bebebku tersayang :"

Aku mah apa atuh tanpa kalian semua :"

Jujur pengen bikin Rate M tapi ga bisa :" alasannya?

1. Ga kuat

2. Takut OOC

3. Ntar di grebek massa

Tapi diusahain bikin Rate M mungkin nanti hahaha XD