Title: Minna no Katana
Author: Hatsune Miki
Chara: Eren Y., Mikasa A
Genre: Romance, Action, Adventure
Rate: T
Warning: AU, OOC, bukan OTP kalian, alur cerita masih samar, mengandung asupan fujodanshi, silahkan salahkan author di review, jangan main flame ^_^
A Shingeki no Kyoujin fanfic
Disclaimer: Shingeki no Kyoujin belongs to Hajime Isayama
Summary:
Eren sebagai 'uke' dari Levi, juga menjadi 'partner' bagi Mikasa. Dalam romansa 'cinta segiempat' inilah kisah mereka berjalan. Selain itu, tugas mereka untuk membasmi mayou tetap berjalan. Aksi mereka akan dibumbui konflik cinta yang manis dengan sedikit bumbu bagi fujoshi. Kisah mereka sebagai anggota Klub Pembasmi Mayou!
AN: POV normal, bukan Eren's POV (kemarin lupa naruh tulisan Eren's POV :'v). Jikalau ada typo, jangan sungkan untuk memberiTAHU lewat review.
Happy Reading!
.
.
.
2 tahun sebelum Eren lahir, sebuah lembaga riset yang meneliti manusia mengadakan observasi. Observasi itu dilakukan untuk 'melahirkan' jenis manusia baru yang dapat menyembuhkan luka meskipun jantungnya telah ditembus peluru. Senyawa yang diperlukan pun telah selesai dibuat. Dalam percobaan itu, seorang guru SMA diculik dan diiming-imingi uang puluhan juta andaikan bersedia menjadi kelinci percobaan. Karena didorong rasa putus asa akan kehidupan ekonominya, guru itu bersedia. Suntikan pertama pun lolos masuk ke dalam pembuluh darah sang guru.
Setelah penyuntikan selesai, sang guru dilukai dengan berbagai senjata tajam. Jarum menusuk jari tangannya, pisau membelah kedua lututnya, kapak memotong kakinya, dan jantungnya ditembaki pistol beberapa kali. Namun, keajaiban muncul. Para peneliti bersorak-sorai gembira atas keberhasilan mereka. Guru yang telah disuntiki senyawa buatan mereka pun dapat beregenerasi setelah mendapat berbagai luka. Karena percobaan telah selesai, guru itu dipulangkan ke rumahnya dengan mengantongi uang beberapa juta.
Esoknya, beberapa tetangga sang guru dikabarkan menghilang secara misterius. Yang tertinggal hanya bercak darah di tempat masing-masing dan cairan misterius juga. Para peneliti yang mendengar kabar itu langsung panik. Mereka berusaha memanggil sang guru. Namun tak ada satu pun panggilan mereka yang dijawab. Tak berapa lama, hampir separuh dari penduduk desa tempat tinggal sang guru, menghilang. Kabar tak mengenakkan ini membuat pemerintah kota mengirim beberapa polisi ke desa tersebut.
Namun, setiap kali ada polisi yang dikirim, tak ada satu pun yang kembali. Ketakutan semakin menjadi ketika hilangnya beberapa penduduk pinggiran kota yang berbatasan dengan desa itu. Dalam keputusasaan, pemerintah kota akhirnya mengerahkan satuan militer untuk menjaga tiap sudut kota. Bahkan dipasangi pula CCTV pada pagar-pagar rumah, pepohonan, bahkan papan iklan. Demi mengungkap pembunuh sebenarnya.
"Dan akhirnya?" tanya Eren ketika Mikasa berhenti menjelaskan. Tampak Mikasa sedang mengambil napas setelah menjelaskan cerita yang panjang itu.
"Akhirnya salah seorang siswa SMA kita melihat petugas pengantar surat yang dibunuh makhluk aneh berwujud manusia."
Makhluk itu menggigit tubuh pengantar surat dengan sadis. Siswa SMA itu hanya bisa terduduk lemas saat melihat hal tanpa rasa kemanusiaan tersebut. Setelah pengantar pos benar-benar mati, makhluk aneh itu menggunakan tangannya untuk menembus dada sang pengantar surat. Darah memancar kemana-mana. Kemudian satu organ tubuh yang begitu dikenal, berada dalam genggaman 'makhluk aneh'. Setelah menghancurkan benda itu, 'makhluk aneh' mengeluarkan sesuatu dari dadanya juga, lalu melesakkannya ke dalam dada sang pengantar surat.
"Tebak apa yang terjadi …," ujar Mikasa.
"Pengantar suratnya … menjadi zombie?" tebak Eren.
"Tepatnya … menjadi mayou. Makhluk sesat yang berasal dari manusia sesat pula. Guru itu adalah laki-laki yang suka 'menyewa' seorang gadis untuk memuaskan dirinya. Benar-benar penelitian yang gagal. Tepat setelah sampai di rumah, senyawa dalam tubuh guru itu malah memberontak dan mengendalikan otaknya. Mengerikan sekali."
"Maka dari itu … kelemahan mayou ada pada … kepalanya?"
"Tepatnya … pada bagian belakang kepala. Soalnya, kalau hanya memenggal leher mayou, tak akan begitu efektif. Kepalanya akan tumbuh lagi."
"Ada satu hal ganjil di sini …"
"Apa?"
"Mengapa kita, yang notabene anak SMA, malah dipaksa untuk melakukan tugas yang berat? Bahkan terlalu berat sampai menantang nyawa."
"Kita tidak dipaksa, Eren. Ingat, ini sebuah klub. Sebuah kegiatan ekstrakurikuler. Siapa yang suka, silahkan masuk. Yang tidak suka, tidak ada yang memaksa. Toh, ada upah untuk mayou yang kita bunuh."
"Upah?!"
"Hm, ingat juga, awal mula dari keberadaan mayou adalah guru dari sekolah kita. Mau tidak mau, warga dari sekolah ini juga ikut mengganti segala kerugian. Caranya? Dengan membunuh mayou."
"Kembali lagi pada kata 'dipaksa'."
"Semenjak masa lalu buruk itu, hanya sedikit orang yang mau memasuki satuan militer kota ini. kalau pun ada anggota militer pindahan dari kota lain, mereka akan segera mengirim surat penolakan."
"Tapi tetap saja …"
"Memang agak menyebalkan karena kebanyakan yang masuk klub ekstrim ini adalah perempuan."
Eren hanya sweatdrop mendengar keluhan Mikasa. Aku tak akan heran kalau banyak 'Fujoshi' yang masuk klub ini gara-gara sistem pemilihan siswa pelatihan yang rada aneh.
Mereka berdua sedang duduk berhadapan di ruang klub sambil menunggu anggota lain datang. Di bulan-bulan awal mereka memasuki SMA seperti ini, pasti banyak juga siswa pelatihan yang baru masuk. Kalau Mikasa, tak perlu ditanya. Ia sudah dilatih sejak SMP demi memasuki klub ini. Entah apa motivasinya, tapi Eren membayangkan Mikasa yang terkena masalah finansial karena membeli begitu banyak doujinshi.
"Anak baru?" tanya seorang seorang gadis berambut pirang pada Eren. Eren yang sedang melihat pemandangan di luar jendela, terkejut mendapati Mikasa pergi dan digantikan seorang gadis manis bermata biru.
"Ya … namaku Eren Jaeger, siswa kelas 1-C. Salam kenal," jawab Eren, berlagak tenang.
"Namaku Christa Lenz, salam kenal. Kalau benar baru masuk hari ini, tolong tulis nama dan tanda tangan di sini untuk dimasukkan dalam daftar nama anggota klub dan absensi," kata Christa sambil menyodorkan selembar kertas HVS yang memuat beberapa kolom. Eren menulis di urutan ke 34.
Setelah selesai menulis nama dan tanda tangan, Eren bertanya pada Christa, "Pengurus, ya?"
Sambil mengecek kembali tulisan Eren, Christa menjawab, "Benar. Tapi baru hari ini bekerja."
"Begitu … kalau boleh tahu … jabatannya …"
Mendadak wajah Christa memerah setelah ditanyai begitu. Ia menjawab dengan nada ambigu, "Uke salah satu kakak kelas … di sini …"
Sudah kuduga! Tak bisa kah sistem di sini sedikit normal? Kata seme dan uke telah membuat samar tujuan berdirinya klub ini! Dari 'membasmi mayou' menjadi 'membasmi heteroseksual'! Pikir Eren dalam benak. Ia sangat histeris membayangkan cewek yang menjadi seme dan uke.
"Agh … pikiranku terlalu lelah …," keluh Eren.
"Eum? Eren mengatakan sesuatu?" tanya Christa.
"Ah, tidak, tidak. Lupakan. Ano … di mana Mikasa?"
"Ah … Mikasa sedang membeli bolu gulung di kantin halaman sekolah."
Eren menoleh ke luar jendela untuk memastikan. Di sana terdapat semacam kantin outdoor sebagai kantin 2. Meskipun sudah jam pulang sekolah, kantin tetap ramai oleh siswa yang mengikuti ekstrakurikuler. Cewek yang Eren cari pun tampak di sana. Ia sedang memperhatikan gerombolan siswa yang berebut roti. Tiba-tiba tangan Mikasa bergerak ke atas. Kemudian—
DAR! DAR! DAR!
"Berikan aku dua bolu gulung!"
APA-APAAN ITU?! Apa yang barusan terjadi?! Aku seperti mengalami déjà vu … tidak, tidak. ini seperti adegan salah satu anime! Anime apa itu? Yang pasti, MIKASA BERLEBIHAN!
Mikasa berjalan ke arah penjualnya. Semua siswa mengalih untuk membuka jalan bagi Mikasa. Sang penjual hanya tersenyum kecut melihat Mikasa yang berlebihan. Ia tampak seperti mengatakan, 'anak muda selalu semangat, ya?'
"A-apa Mikasa selalu begitu?" tanya Eren pada Christa.
"Mn. Dia selalu seperti itu. Makanya, sedikit orang yang berani mendekatinya. Tapi tanpa Mikasa sadari, sebenarnya banyak cowok yang mengidolakannya."
Tidak ada yang ganjil dalam perkataan Christa barusan. Mikasa memang orang yang sedikit unik dan membuat orang lain penasaran. Kecantikan dan kepintarannya sudah mustahil luput dari pembicaraan setiap cowok di sekolah ini. Tentang Eren yng tidak kenal Mikasa, soalnya kelas Eren ada di gedung barat dan ia selalu pergi ke kantin 1 yang terletak di sebelah barat gedungnya. Sementara itu kelas Mikasa terdapat di gedung timur, gedung di mana klub ini berada. Mungkin kemarin, Mikasa pergi ke atap gedung barat karena ia membeli makanan di kantin 1, bukan kantin 2 yang hanya buka saat jam ekstrakurikuler. Ada juga kantin 3 yang dikhususkan bagi guru dan staff sekolah.
"Aku harus menyerahkan kertas ini pada Erwin-senpai. Sampai jumpa, Eren," ujar Christa.
"Oh, iya …."
Mendengar nama Erwin membuat Eren termotivasi. Siswa kelas 3 itu adalah pemuda yang sangat tampan dan jenius. Mungkin Eren sudah cukup menguasai sifat 'jenius' itu. Hanya saja …
Aku kurang tampan, ya? Apa mau dikata, gini-gini juga ciptaan Tuhan.
"Eren!"
"HWA!"
Eren terlonjak dari kursinya saat wajah Mikasa sudah 5 senti di hadapannya. Mikasa kembali duduk di kursi lalu berkata, "Kau melamun, Eren …"
"Astaga, apa-apaan mukamu tadi? Untung saja aku segera menjauh."
"Oh, jadi kau lebih menikmati muka Levi yang mendekat padamu?"
"Bu-bukan begitu maksudku!" tangkis Eren sambil berdiri dari kursinya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Dalam emosi yang meluap, Eren langsung menoleh dengan cepat ke belakang, "Apa maumu—"
"Jadi, muka siapa yang kau maksud?"
Nyali dan emosi Eren langsung menciut setelah mukanya 5 cm di hadapan muka Levi. Kembali lagi Eren tenggelam dalam lautan dalam, langit mendung, dan awan hitam dari tatapan Levi. Terlebih lagi, napas Levi yang pelan dan hangat, Eren hanya bisa tersenyum kikuk dengan pipi memerah. Ia tak pernah berani berhadapan dengan orang satu ini.
"Le-Levi … senpai?"
Kedua tangan Eren tiba-tiba berada dalam genggaman tangan hangat Levi. Dengan tinggi mereka yang sedikit berbeda, Eren terpaksa sedikit menundukkan kepalanya untuk berhadapan dengan Levi. Levi menarik kedua tangan Eren ke bawah dengan kasar. Dengan begitu, tubuh Eren jadi ikut merendah karena kedua tangannya yang ditarik ke bawah. Akibatnya, jarak 5 cm itu berubah menjadi 3 cm. Dan scene yang membahagiakan sekaligus menyedihkan bagi Mikasa pun terulang. Annie yang sedang meminum sekaleng cola langsung tersedak setelah melihat penampakan itu. Hampir semua orang di ruang klub terdiam melihat mereka berdua.
"Kalau begini Eren bener-bener jadi uke … cmiiiw," ledek seorang 'seme' cewek berkacamata dengan tambahan suara yang sungguh tidak elit.
BRUGH!
"Gwaaakh!" teriak Eren sesaat setelah ia hendak lari dari tatapan Levi. Tangannya disilangkan kemudian tubuhnya dibanting Levi hingga menabrak tembok. Erwin yang hendak memasuki ruangan langsung tersenyum kecut melihat tingkah mereka.
Levi beralasan, "Kewaspadaanmu lemah, bocah." Lalu pergi ke bangku paling depan.
Lagi-lagi dia melakukan hal ambigu karena alasan yang ambigu pula!
Erwin pun masuk ke dalam ruangan sambil membawa bolpoin. Sudah banyak siswa yang tahu kebiasaan ketua OSIS nan tampan itu. Selalu membawa pena kemana pun ia pergi. Tidak ada yang tahu fungsi pena itu selain untuk menulis, namun bukan kah waktu yang tidak tepat jika membawanya saat bertarung? Jangan-jangan pekerjaan Erwin hanya menulis, menulis, dan menulis sampai-sampai jiwanya terobsesi pada pena? Atau dia mengalami trauma parah sehingga tidak mau lepas dari pekerjaan menulis? Kalau tahu begitu, Eren ingin menggantikan posisi yang membuatnya populer dalam sekejap. Dan tentu Eren akan memperhatikan semua kepentingan siswa. Dia juga akan memenuhi imajinasi para cewek dengan wajah kelewat tampannya. Menjadi tampan memang jalan yang sulit, pikir Eren. Eren masih sempat narsis meski muka meringis. Tulang-tulangnya yang terbentur seperti menjerit meminta sofa empuk yang ditempati Erwin.
Erwin menjadi pusat perhatian seluruh anggota klub. Menurut Mikasa, tidak biasanya ketua OSIS mendatangi klub ekstrim ini. apalagi mengingat selera Erwin pada pekerjaan kantor, bukan lapangan. Mikasa ingat bagaimana kakaknya, Levi, direkrut oleh Erwin.
"Bagaimana?" tanya Eren.
"Hm, Erwin sibuk dengan pekerjaan di kantor OSIS dan tidak bisa mengatur klub ini. Melihat Levi yang jadi berandalan sekolah, membuat tangan Erwin gatal untuk menjewer kuping Levi."
"Ja-jadi … mereka bertarung?"
"Ya. sungguh pertarungan yang menakutkan, kata kakak kelas. Tangan mereka bergetar dan basah karena keringat. Mereka yang biasanya memiliki wajah datar, baru kali itu memiliki ekspresi. Ekspresi yang menunjukkan ketakutan. Taruhannya adalah jabatan Erwin dan perekrutan Levi. Mereka berusaha sampai titik darah penghabisan. Dan akhirnya, Levi pertama kalinya mengalami kekalahan."
Eren terhenyak. Ia tidak pernah tahu bahwa Levi dapat dikalahkan. Kalau bisa, dia ingin mengabadikan kekalahan Levi itu untuk dia tertawakan bersama anak cucu di masa depan. Eren pun semakin tertarik, "Pertarungan apa itu?"
"Batu kertas gunting."
"Percuma, percuma membicarakan hal nggak penting ini," gumam Eren, kecewa dengan pertarungan yang Mikasa katakan. Sementara mereka mengacuhkan penjelasan Erwin, seorang kakak kelas mendekati Eren. Bukan sapaan formal yang Eren dapatkan. Malah satu tamparan keras pada punggung Eren membuat tulang belakangnya makin menjerit.
"Gwaakh!"
"Eren!"
"Yo, Eren Jaeger? Kuucapkan selamat untukmu, haha! Jadi, jadi … bagaimana malam pertama kalian? Hm, hm?" bisik kakak kelas itu, tidak … dia memang mengucapkannya di dekat telinga Eren seakan sedang membisiki. Tapi volume suaranya tidak menunjukkan bahwa megane itu sedang berbisik. Dalam kata lain, berteriak tepat di telinga Eren.
"He … he?! Ma-malam pertama siapa, senpai? Tolong jangan membuat kesalahpahaman …," jawab Eren sambil menggosok punggungnya sendiri. Ia merasa tidak enak melihat tatappan para cowok yang memusuhinya, seakan pelaku malam pertama yang senpai maksud adalah Eren dan Mikasa.
"Siapa lagi kalau bukan kaaau … dan Levi!"
"Megane sialan!"
Teriakan Eren dan Levi terdengar bersamaan. Levi langsung menjegal kaki si mata empat, Hanji, kemudian mengikat tangan serta kakinya. Yang paling berkesan bagi Eren adalah …
Dari mana dia dapatkan tali tambang?!
"Ehem … Eren Jaeger … apa kau sudah paham? Kalian berempat tampak bersenang-senang," tegur Erwin.
"Be-berempat?"
"Kau, Ackerman, Levi, dan Hanji."
"Aku juga?" gumam Mikasa, tidak paham meski barusan mengeluarkan tali tambang dari dalam tas lalu mengulurkannya pada Levi.
"Maaf, Erwin-senpai … aku tidak mendengarnya sampai akhir …," jawab Eren, tidak biasanya ia meminta maaf.
"Baiklah, kuulangi dari awal. Karena hari ini banyak siswa pelatihan baru yang masuk, kami bermaksud untuk menjelaskan tatanan pengurus dan segalanya tentang klub ini agar tidak terjadi salah paham."
"A-ooh …."
"Klub Pembasmi Mayou didirikan beberapa tahun lalu oleh seorang ketua OSIS. Memiliki tujuan utama untuk membasmi mayou, memberi kesempatan bagi siswa untuk mencari uang saku tambahan, serta menjalin persahabatan. Klub ini memiliki kontrak kerja sama dengan satuan militer di kota. Sehingga kita memiliki izin untuk memesan senjata dan menggunakannya."
Beberapa siswa lain tampak lebih memperhatikan kembali penjelasan Erwin. Soalnya, saat penjelasan pertama mereka malah sibuk menonton adegan yang terjadi pada Eren.
"Tatanan pengurus klub ini terdiri dari pembina, ketua, sekretaris, dan bendahara. Tugas seorang ketua yaitu mengatur penempatan tugas seorang assassin dan pelatihan. Sekretaris terdiri dari 2 orang. Sekretaris pertama bertugas mengawasi pelatihan, melaporkan hasil kegiatan, dan perekrutan anggota, yang mana telah dipegang oleh Levi Ackerman. Sedangkan sekretaris dua memiliki tugas yang ringan tapi menyibukkan. Yaitu mengisi absensi, mendaftarkan anggota baru, melaporkan keadaan tiap anggota, dan navigator. Christa Lenz sebagai sekretaris dua, yang mana membuka komunikasi dengan assassin saat bertugas serta mengirim bantuan. Layaknya pusat pengendali setelah adanya izin ketua."
"Christa ku memang hebat! Setelah semua tugasmu selesai, mari kita menikah!" celetuk seorang manusia dengan gender yang masih dipertanyakan. Yang memiliki bintik di pipinya dan rambut diikat agak rendah. Posturnya paling tinggi dari semua cewek di dalam klub. Bisa disebut agak rata? Dia lah Ymir. Ymir memeluk Christa seperti cewek pirang itu sebuah boneka beruang. Eren dan Mikasa iba melihat Christa yang tampak kehabisan napas.
"Ha! Yuri! 100% yuri!" ledek seorang cowok bernama Reiner. Ia menyilangkan tangan di depan dada sambil mengangguk-angguk seperti profesor yang habis menemukan teori baru.
"Hngaah?! Seorang yaoi meledek cewek lain sebagai yuri? Mati lah kau!" balas Ymir.
"A-ano … Aku tidak terlalu suka pertengkaran jadi—" Ucapan Christa dipotong Reiner.
"Oh, enak saja meledekku yaoi tanpa bukti!"
"Perlu bukti? Tuh liat orang yang selalu nginthil di belakangmu!" Dagu Ymir menunjuk Berthold yang menatap mereka dengan kikuk. Ia yang tidak tahu akar masalahnya malah dibawa-bawa sebagai pemanas suasana. Orang lagi enak-enak ngeliatin Annie yang ngemil kue, tahu-tahu disummon buat perang.
"Hee? Ada apa denganku?" tanya Berthold.
"Ku-kumohon berhenti lah bertengkar! Kita ini sesama anggota 'kan? Kumohon jangan mengacaukan kekompakan yang sudah lama menjadi fondasi klub ini!" lerai Christa.
Ymir pun tergelak setelah mendengar perkataan Christa. Ia berdehem pelan untuk memanggil kembali tampanng kerennya. Kemudian Ymir menggenggam erat tangan Christa. "Oh, Christa … kau telah mencuri hatiku … uuh … menikahlah dengan pangeran sejatimu ini, Christa."
"E?! ano … berhenti lah bercanda, Ymir."
"Meski mawar hitam berkicau, daun biru berkecipak, kurcaci cantik menjadi uke troll merah, bahkan bercanda telah berhenti, aku TAK AKAN melepasakanmu … Christa!"
Payah … orang ini memiliki selera yang payah dengan kalimatnya! Gumam Eren dalam hati.
"Ba-bagaimana ya—Ehh?!"
Ymir menuntun tangan Christa ke dadanya yang tampak bidang. Gambaran sosoknya berubah menjadi serius, sungguh berbeda dengan aura ruang klub ini, lalu berkata, "Setelah lulus, menikah lah denganku … karena, cinta tidak memandang jenis kelamin dan aku … tidak memandang cinta dengan jenis kelamin."
"Ymir … terima kasih."
Gombaaaal! Apa-apaan ini?! Drama yuri kah? Opera sabun kah? Opera deterjen kah? Opera pewangi semprot kah? Sinetron kah? Adegan anime kah? Film kah? Game dating simulation kah? Perkataannya terdengar seperti kaki yang menginjak kotoran ayam … aku benar-benar tidak paham pemikiran jomblo ngenes. Ha, sayang sekali aku yang tampan ini tidak mungkin jatuh cinta pada sesama jenis. Apa lagi cewek tipis sepertinya … haa, menjadi tampan memang jalan yang sulit …
Eren narsis lagi … sepertinya tokoh utama kita yang satu ini perlu pemeriksaan lebih lanjut tentang keadaan mental dan psikologinya. Apabila memungkinkan, ruqyah juga diperlukan. Mungkin … ada jin narsis nyasar ke otak Eren?
"Kemudian posisi bendahara ditempati 3 orang, Hanji Zoe sebagai bendahara kas sekaligus pengatur persenjataan. Rico Brezenka sebagai bendahara tabungan sekaligus pengatur utang piutang. Kemudian Nanaba sebagai bendahara pengeluaran, dia yang mencatat berbagai pengeluaran kemudian melaporkannya pada ketua klub."
Bahaya!
Semua anggota klub termasuk Eren menoleh ke arah Hanji yang sedang disekap dengan mulut tersumpal apel. Meski keadaan kakak kelas itu sangat menyedihkan, bahkan menyakitkan, namun dia terlihat senang dengan raut muka ceria. Membuat semua orang membayangkan semakhluk masokis yang mengatur persenjataan. Bisa-bisa jadi apa klub mereka ini?!
"Assassin adalah siswa terlatih yang memiliki tugas inti yaitu membasmi mayou. Mereka terdiri dari tiga tingkat. Tingkat C hanya bersenjatakan ninjato dan pisau lipat karena melihat resiko penyalahgunaan yang sering terjadi. Untuk tingkat B memegang senjata yang masih dalam jenis senjata tajam, namun yang paling banyak ada kodachi dan katana. Sedangkan tingkat A sudah diperbolehkan memegang pistol Glock 17, pistol buatan Austria."
"Aku tingkat A," gumam Mikasa pada Eren.
"Dah tahu."
"Sebelum menjadi assassin, mereka harus belajar menjadi 'partner', orang yang membentengi sang assassin selagi assassin itu menjalani tugas. Setiap assassin hanya memiliki satu partner. Partner adalah nama lain dari siswa pelatihan. Mereka diajar oleh 'seme' yang memilih mereka. Seme dalam klub ini berarti entah kakak kelas atau masih anak baru, yang memiliki kemampuan dan pengalaman bertarung cukup banyak. Mereka mengajar para partner yang disebut sebagai uke. Jadi, jangan salah paham dengan sistem penamaan ini."
Sudah salah pahaaam …
"Eh … berarti aku diajar Levi-senpai, ya?" tanya Eren.
"Ya. Sampai kau mendapat tugas pertamamu, bersabarlah, Eren," kata Mikasa seolah memperingati Eren bahwa berlatih dengan Levi sama dengn neraka.
"Baiklah. Untuk penjelasan hari ini cukup sekian. Kalian boleh pergi ke mana pun untuk berlatih. Selamat menjalani latihan," ucap Erwin, kemudian pergi keluar ruangan. Mungkin kembali melaksanakan tugasnya sebagai ketua OSIS.
Eren meregangkan tubuhnya. Dia memang tidak terbiasa duduk tenang sambil mendengarkan ucapan orang lain. Karena, Eren lebih suka tindakan langsung dari pada mendengar berbagai macam teori yang akhirnya mustahil diaplikasikan. Saat hendak mengambil tas, seseorang memanggilnya.
"Bocah …."
Siaaaaaal!
"Levi … senpai?"
Levi tampak menyeramkan dengan kedua mata dan bibir yang berbentuk seperti bulan sabit. Dibandingkan wajah seram Karma dari fandom sebelah, Levi terlihat seperti pembunuh sadis dengan tangannya yang menarik-narik tali tambang seperti hendak mengekang leher domba.
"Datang ke lapangan sekarang."
Setelah berkata seperti itu, Levi berjalan keluar ruangan sambil membawa tali tambang tadi. Dalam kebingungan, Mikasa menggenggam bahu Eren dan menampakkan wajah 'berjuanglah-Eren'. Lalu Mikasa dan beberapa gadis lain mengikuti Hanji yang melompat-lompat karena kakinya masih diikat.
Setelah bebas dari kebingungan, Eren berjalan menuju lapangan sekolah. Di sana ada beberapa anggota juga yang berkumpul untuk latihan memakai shinai. Sedangkan Eren langsung terpaku begitu melihat sosok pendek yang berdiri angkuh di pojok lapangan. Sendirian. Hanya ditemani buah semangka yang digantung pada pohon.
"Apa-apaan ini?!"
Eren langsung terlonjak setelah melihat barang-barang yang berserakan di dekat kaki Levi. Ada tali tambang tadi, cambuk, kain hitam, dan kabel bekas. Sementara itu, pada dahan pohon terdapat semangka yang digantung dengan mengerikan. Seluruh permukaannya dilumuri kecap dan ditancapi koin. Dengan menganggap semangka itu sebagai objek lomba, Eren merasa sedikit tenang. Tapi setelah melihat cambuk dan segalanya, kaki Eren serasa meleleh hingga ia tidak mampu berdiri lagi.
"Pakai penutup matanya," kata Levi.
"Tu-tunggu! Apa maksudnya ini?! Apakah aku harus melakukan hal memalukan di hadapan publik? Dan aku melakukannya sendirian? Di mana uke mu yang lain?!"
"Kau kurang tidur?"
"Apa?!"
"Aku tidak punya siswa pelatihan lain. Hanya kau di sini."
"HEE?!"
Lama-lama urat hormat dan kesabarannya putus juga. Uap terlihat keluar dari kepala Eren dan wajahnya menjadi merah padam. Ia benar-benar marah. "Dengar ya, kurcaci kurang kalsium berotak mesum, aku akan pernah masuk klub ini dengan tujuan dipermalukan, tahu?! Aku benar-benar muak dengan sikap anehmu yang berlebihan!"
Semua anggota klub kembali melihat ke arah mereka berdua. Suasana menjadi sehening perpustakaan. Hanya desingan angin yang bertiup membuat gemerisik di antara dedaunan pohon. Eren menatap Levi dengan pandangan bertanya.
"Kau menyebut kata keramat," jawab Levi. Tiba-tiba aura gelap menguar dari tubuh pendek Levi. Dalam sekali hempas, satu lapangan telah terselimuti aura gelap dari Levi. Semua orang yang ada di sana langsung merinding merasakan kegelapan yang mendalam. Hanya karena kumpulan kata keramat yang menunjuk pada satu kata keramat: pendek.
"A-apa ini …?!" Eren sendiri sedikit panik melihat sekelilingnya menjadi gelap. Tapi bagaimana pun, Eren masih menjaga sikap sok beraninya. Tanpa ia sadari, hal itu justru membuatnya semakin terlihat layaknya masokis.
"Sok berani karena melihat kelemahan orang lain … dasar siswa rendahan," lanjut Levi.
"Bah! Selain kurang kalsium, kau kurang vitamin A pula, memangnya siapa yang 'rendah'. Sudah tahu pendek masih sok jago sebagai seme terkuat. Apaan tuh!"
"Uke kurang ajar …!"
1 detik kemudian, Eren merasa tubuhnya melayang. Ia menatap langit biru yang tampak tersenyum cerah padanya. Sedangkan terik matahari seakan iba pada kejadian yang menimpa pada Eren. Dalam slow motion yang Eren alami, ia sempat merenungi sesuatu dalam benaknya yang cenat-cenut.
Aku … terbang di bawah langit … menggapai kumpulan awan yang terlihat seperti bola kapas. Aku … menjadi nyanyian yang mengalir bersama angin. Ini sudah cukup bagiku … impian ini ….
"Eren!" teriak Mikasa.
Levi habis menendang kepala Eren dengan keras hingga Eren terlontar ke belakang sejauh beberapa tombak. Tak seperti yang ia bayangkan, Mikasa berlari ke arah Eren lalu menangkap tubuh pemuda brunette itu. Dalam kecemasan luar biasa, Mikasa berusaha membersihkan bekas darah yang keluar dari hidung Eren dengan tissue.
"Sok kuat karena melihat kelemahan orang lain …."
"Ohoho, ini … tak seberapa!" teriak Eren sembari bangkit dari rengkuhan Mikasa.
"Eren, jangan memaksakan diri!"
Eren mendorong Mikasa ke belakang. "Diam lah, Mikasa. Ini urusan antara sesama lelaki!"
"Ada apa? Ada apa? Barusan aku dengar urusan sesama lelaki. Apa itu? Apa? Apa?" tanya Hanji yang kepo sambil mendekati kerumunan. Sepertinya apel yang menyumpal mulutnya sudah lenyap ia telan. Sungguh seme yang menakjubkan.
"Ooh, masokis akut rupanya," balas Levi.
"Aha! Kau sadis bego yang sensitif masalah tinggi badan~ akui kelemahanmu dan aku akan mengikuti perintahmu."
"Tsk … mulutmu benar-benar ingin kusumpal ya biar bisa diam."
"Daaan … dengan apa kau akan menyumpalku? Sungguh ancaman yang menyedihkan. Haha!"
"Dengan ciuman hingga kau lemas."
"KKKH!"
Eren mundur beberapa langkah setelah mendengar ancaman Levi yang satu itu. Eren membalas, "Hoho, menggunakan ancaman mesum lagi untuk menakuti orang lain! Aaa, aku tahu aku ini terlalu tampan dan kau terlewat datar hingga tidak ada orang yang memiliki minat berlatih di bawah ajaranmu. Menyedihkan … menyedihkan …."
"Bocah ingusan satu ini …," geram Rico sambil mengepalkan tinju di depan muka. Nanaba yang ada di sampingnya langsung menenangkan.
"Aa~ jangan terbawa emosi, Rico."
Eren masih melanjutkan, menanam death flagnya sendiri, "Meski kau punya ancaman-ancaman mesum itu, aku tahu bahwa kau tak berani menyentuhku sedikit pun! Oh, ayolah jangan bersikap sok jago dan meminta maaflah seperti anjing yang terbuang."
SRAAKH! BRUGH!
Levi menjegal kaki Eren hingga sang uke jatuh tersungkur dengan muka menghadap bumi. Levi langsung duduk di atas tubuh Eren lalu melesakkan wajahnya di antara bahu dan leher Eren. Semua anggota klub menutup mulut karena tidak percaya dengan pemandangan itu. Levi menggigit kecil leher Eren, namun rasa sakitnya tidak tertahankan. Eren pun menjerit seperti perawan. Ia berteriak, "Berhenti! Berhenti! BERHENTI! Baik, baik, aku akan mengikuti perintahmu! Kumohon—AW!"
"Benarkah kau akan mengikuti perintahku … bocah maso?"
"Bah! Aku tidak rela mengatakan hal itu … UWA UWA! Ja-jangan gigit lagi! Oke, aku akan mengikutinya!"
"Kalau kau melanggar janjimu sendiri …."
"Ha?"
Levi menunjukkan benda yang sangat Eren ketahui sebagai 'aksesoris' seorang maso.
"Yaikh!"
"Benda ini akan masuk ke lubang manismu itu," ancam Levi dengan muka yang sama seperti tadi.
"BAKH! TIDAAAAK!" teriak Eren sambil meronta-ronta.
"Jadi, siapa anjing terbuang yang harus meminta maaf?"
"MAAF!"
Anggota klub yang menonton pun hanya bisa menghela napas iba campur kecewa. Mereka pikir akan ada pahlawan baru untuk menaklukan Levi. Tapi menggoyahkan mental Levi saja tidak bisa, apalagi mengalahkannya. Hanji, Mikasa, dan Annie menatap pemandangan itu dengan banjir darah di sekitarnya. Christa langsung khawatir, "Hanji-senpai, Mikasa, Annie … hidung kalian … hidung kalian …."
Beberapa saat kemudian, Levi selesai mengikatkan tali pada Eren.
Phoooof!
Hanji terkapar di tanah lapangan dan bergumam, "Yosh … ini lebih dari cukup."
Sementara itu Annie dan Mikasa hanya bisa berkomentar, "Eren … ero … sekali …."
Eren menelengkan kepalanya sembarang. Matanya telah dipasangi penutup, kedua tangannya diikat tali tambang, dan beberapa bagian tubuhnya dililiti kabel bekas dengan kencang, sehingga beberapa bagian tubuhnya tampak menggoda. Levi berkata, "Melatih indra pendengaranmu serta ketahananmu dalam melepas jeratan. Sekarang ambil semua koinnya dengan mulutmu lalu masukkan ke dalam keranjang yang ada di sampingnya."
Meski tak tampak, tapi air mata tengah mengalir dari kelopak mata Eren. Ia berteriak dalam hati.
Kalau begini … kehidupan klub yang kudambakan makin menjauuuuh!
Setelah ini, mungkin beberapa orang akan memanggilnya 'Erenero'.
Bersambung ^_^
.
.
.
