Title: Minna no Katana
Author: Hatsune Miki
Chara: Eren Y., Mikasa A
Genre: Romance, Action, Adventure
Rate: T
Warning: AU, OOC, bukan OTP kalian, alur cerita masih samar, mengandung asupan fujodanshi, silahkan salahkan author di review, jangan main flame ^_^
A Shingeki no Kyoujin fanfic
Disclaimer: Shingeki no Kyoujin belongs to Hajime Isayama
Summary:
Eren sebagai 'uke' dari Levi, juga menjadi 'partner' bagi Mikasa. Dalam romansa 'cinta segiempat' inilah kisah mereka berjalan. Selain itu, tugas mereka untuk membasmi mayou tetap berjalan. Aksi mereka akan dibumbui konflik cinta yang manis dengan sedikit bumbu bagi fujoshi. Kisah mereka sebagai anggota Klub Pembasmi Mayou!
.
.
.
"Panas …."
Eren mengelap keringat yang mulai meleleh dari pelipisnya. Manik hijaunya menatap ke angkasa yang begitu silau oleh sinar matahari. Terik matahari di awal musim panas benar-benar membakar kulitnya. Bahkan burung-burung yang sedang terbang di angkasa pun tampak kepanasan, meleletkan lidah mereka, sembari terus mengepakkan sayap. Entah jenis burung apa itu, Eren hanya bisa sweatdrop melihatnya. Tidak, dia sudah sweatdrop sejak tadi.
"APA-APAAN INI?! Kita sedang shooting sinetron kah? Drama kehidupan nyata kah?!"
"Berisik, bocah."
"Kau … Kurcaci … sialaaan!"
"Sudah kubilang, kalau kau ingin jusmu, kau harus membersihkan lapangan ini hingga tuntas."
"Ghhhaaah!"
Sementara siswa lain sedang menikmati makan siang di kantin yang ber-AC, Eren harus berpanas-panasan di lapangan sekolah untuk menyapu dedaunan dan memunguti sampah. Juga, sebagai hukuman karena Eren kemarin gagal memindahkan semua koin ke mangkuk, melempar semangkanya ke tengah lapangan, dan muntah karena ketidaksukaannya pada kecap. Masih ditambah menyumpahi Levi. Entah Eren nekat, suka cari masalah, atau memang dia maso. Seperti yang dipikirkan para gadis tentangnya.
Di sisi lain, Levi dengan santainya duduk-duduk di bangku luar kantin outdoor. Karena bukan jam ekstrakurikuler, kantin itu ditutup dan hanya menyisakan beberapa bangku di luar. Levi mengangkat segelas jus jeruk buatan petugas kantin guru, kemudian menyesapnya sedikit. Ekor matanya memicing pada Eren yang menatapnya dengan mata berharap. Bukan, lebih tepatnya menatap segelas jus jeruk lain yang ada di samping Levi. Levi bilang itu jus untuk Eren, meski berakhir sebagai pajangan saja. Tidak, lebih tepatnya sebagai stimulan agar Eren mau membersihkan lapangan hingga selesai.
"Ada apa, bocah? Apa segitu besarnya keinginanmu pada jus?"
"Tentu saja! Dan bagaimana pun, jus itu milikku!"
"Sebenarnya ada cara lain untuk mendapatkan jus."
"Benarkah? Kumohon, cara apa pun selain membersihkan lapangan ini!" pinta Eren dengan mata berbinar-binar. Seperti anak kucing yang terbuang.
Levi menaruh gelasnya kemudian berdiri. Ia mendeklarasikan hal absurd pada adik kelasnya, "Kau harus mengemutnya untuk mendapatkan jusmu."
Eren hanya bisa mangap dan berlanjut megap-megap. Ia tidak paham apa yang Levi maksud. Mendadak wajah Eren memerah dan ia berteriak ngamuk-ngamuk, "KA-KAU MEMBICARAKAN JUS YANG BERBEDA!"
"Memang jus yang berbeda," jawab Levi kemudian kembali duduk dan mencicipi jusnya kembali.
"Akkh, aku tidak bisa menahannya lagi!"
"Kalau begitu pergilah ke kamar mandi."
"GHAAA!"
Percuma … percuma …berbicara dengan setan kurang kalsium ini sama saja membuang persediaan air dalam tubuhmu dengan sia-sia! Tenang Eren … pikirkan cara lain ….
Eren pun bersolek dan berkata, "Hmph … tak perlu mendapat ajaran darimu, aku bisa menjadi partner yang baik."
Levi terdiam kemudian menjawab, "Apa yang kau bicarakan? Seorang partner tanpa seme sama dengan ditendang dari klub."
JLEEEB!
Apa dia bilang barusan?Apa ini pelajaran matematika? Partner tanpa seme = ditendang dari klub.
"Ta-tapi … kau kemarin yang membuatku menelan kecap-kecap itu! Kau yang membuatku mengigiti logam berbentuk bundar itu! Kau juga yang membuat rintangan semangka itu! Tapi … MENGAPA KAU TIDAK IKUT MEMBERSIHKAN LAPANGAN?!"
Levi meraih gelas jusnya dan menyesapnya lagi hingga habis. Dengan tenang, Levi menghela napas kemudian menaruh gelasnya yang telah kosong.
"HOI! APA KAU MENDENGARKU?!" bentak Eren, tersinggung.
Levi mengambil gelasnya lagi kemudian melihat bagian dasar gelas yang masih menyisakan bulir-bulir terakhir yang konon paling manis. Ia pun mencicipinya kemudian bergumam, "Manis."
"KAU BENAR-BENAR TIDAK MENDENGARKU!"
Dengan putus asa, Eren berbalik dan melanjutkan kegiatannya: memunguti sampah yang masih banyak berserakan. Eren menggesekkan lengan bajunya ke dahi untuk menghapus keringat yang mengalir seperti sungai. Tiba-tiba sesuatu menggelinding ke arahnya. Itu … bola kertas ….
"Hahaha, lihat lah tampang uke maso ini, dia seperti anak kucing yang terbuang! Haha!" ejek seorang pemuda berparas kuda.
"Maaf, sejak kapan ada spesies kuda berkaki dua lepas ke lapangan SMA?" balas Eren.
"APA?!"
Jean Kirschtein, kelas 1-D, merupakan berandalan paling menyebalkan di sekolah. Baru beberapa minggu masuk sekolah, ia sudah bertingkah layaknya bos. Dengan beberapa orang yang mengikutinya dengan setia. Tidak, mereka hanya teman Jean yang hobi mengendalikan emosi Jean.
Wajah Jean mendekat kepada Eren. Matanya dengan tajam menelisik ke dalam tatapan penuh amarah Eren. Eren yang merasa risih berdekatan dengan Jean, mendorong bahu Jean hingga pemuda itu terjatuh, menduduki bola kertasnya sendiri.
"Kalau kau tidak punya urusan khusus denganku, pergilah menjauh dan jangan pernah mendekatiku," ancam Eren.
"Da-dasar sialan!" Jean berdiri dan mengepalkan tangan. Ia dorongkan kepalan tangan itu ke wajah Eren. Eren yang tidak waspada mengenai serangan Jean, segera menyilangkan tangan di depan wajah. Tepat saat itu lah seseorang muncul dan menangkap kepalan tangan Jean.
"Kalau kau tidak punya urusan khusus dengan Eren, pergilah menjauh dan jangan pernah mendekatinya," ujar orang itu.
"Mikasa!"
Rambut Mikasa bergemulai saat menoleh pada Eren. Jean yang terkesima pada rambut hitam itu, tidak sadar bahwa jari-jari Mikasa mulai bergerak.
CRACKK! CRACK!
Dalam sekali remas, tulang jari-jari Jean langsung berbunyi seolah akan remuk. Jean pun berteriak sedemikian kerasnya karena rasa sakit yang tak tertahankan.
"A-ano! Saya mohon maafkan muka kuda ini! Dia memang ceroboh dan suka cari masalah! Ta-tapi … saya yakin, ibunya pasti akan sangat sedih kalau dia mati sekarang …," ujar seorang gadis ponytail dengan ucapan yang terlalu sopan.
"Sasha …," gumam Jean, terhura-eh, terharu oleh pembelaan Sasha, "Aku bahkan tidak tahu ibuku akan sedih kalau aku mati."
"Tentu saja, karena kamu belum mengganti vas kesayangan bibi yang kemarin kamu pecahkan."
"Sialan …."
Mikasa melemparkan kepalan Jean dan menjawab, "Apa kalian dari Klub Pembasmi Mayou?"
"Bu-bukan … kami bahkan tidak tahu ada klub seperti itu," jawab Sasha.
Satu teman Jean yang lain, Connie Springer, ikut nimbrung, "Ehh? Klub apa itu? Apa ada hal unik seperti bertarung dengan raksasa atau membersihkan tembok raksasa?"
"Tidak juga. Tapi kita akan membasmi zombie."
"Haaaaaaa …."
Jean, Sasha, dan Connie ternganga. Mereka tidak pernah ternganga hingga selebar ini, tapi bukan itu masalahnya. Mereka bertiga datang dari luar kota, sehingga tidak tahu menahu mengenai kasus yang menimpa kota ini. Mereka juga tidak percaya mengenai zombie dan sejenisnya. Awalnya mereka ragu untuk lanjut bertanya. Namun Mikasa telah mengatakan satu kalimat keramat, "Kalian bisa mendapat uang."
"Daftarkan kami!" jawab mereka bertiga bersamaan.
"Selain itu, aku bisa bertemu cewek cantik ini," gumam Jean pelan sambil melirik Mikasa yang membagikan selembar formulir.
Mikasa yang menyadari lirikan maut Jean, hanya menjawab tajam, "Boleh aku menusuk matamu?"
"Eeeeh … ti-tidak …."
"Ada apa ini?" tanya Levi yang tiba-tiba muncul sambil membawa banyak sapu.
"Ada anggota baru yang mendaftar," jawab Eren. Ia masih sedikit heran dengan penampakkan Levi yang membawa sapu lidi.
"Kalau kalian sudah selesai mengisi formulirnya, aku akan langsung melatih kalian."
"He?"
"Selamat, kalian sudah mendapat seme," ujar Mikasa.
"HEEE?"
Ekspresi mereka tak kalah horornya dengan Eren saat pertama kali dipilih Levi. Eren pun hanya bisa senyum-senyum sadis membayangan siksaan yang akan menimpa anggota baru itu. Setelah proses tulis-menulis data diri selesai, Levi melemparkan sapu lidi itu pada ketiganya dan berkata, "Tugas pertama kalian, bersihkan lapangan ini."
"HEEE?!"
"Pfft … Hahaa!" Tawa Eren meledak setelah melihat wajah memelas Jean. Tiba-tiba seseorang merebut sapu di tangan Eren. Eren pun berbalik dan mendapati Levi yang kini memegang gagang sapu.
"Bocah, tugasmu memang belum selesai. Atas nama HAM lah kau boleh menikmati jusmu. Giliran anggota baru yang mengadaptasikan diri dengan pelatihanku."
"Be-benarkah?" Eren hampir saja memeluk Levi yang beberapa senti lebih pendek darinya. Namun, Mikasa menahan tangan Eren dan menyerahkan handuk berwarna merah.
"Eren, pakailah handuk ini."
"Untuk apa?"
"Kaus olahragamu berwarna putih, dan kini basah oleh keringat. Kau tahu … transparan," jawab Mikasa yang terdengar seperti bisikan. Wajahnya memerah saat mencuri pandang ke bagian dada Eren.
Eren pun sadar dan menyambar handuk Mikasa. Ia menutup bagian depan tubuhnya dan berkata, "Terima kasih."
"Mengapa kau harus memakainya? Biarkan aku melihatnya sebentar lagi," ucap Levi.
"Apa-apaan kau ituuuu?!" teriak Eren, ia segera berteduh ke kantin outdoor dan menenggak jusnya.
Selama 2 bulan itu lah mereka berlatih di bawah bimbingan Levi. Sasha dan Connie mulai terbiasa dengan ajaran Levi yang agak menjurus, beruntung kepolosan mereka berdua masih di tingkat atas. Sedangkan Jean dan Eren, seperti biasa selalu bertengkar dan protes pada Levi. Dan sebagai balasan dari protes itu adalah bantingan yang super keras hingga mereka mencium bumi.
Tak terasa, awal bulan Agustus telah mereka pijaki. Di liburan musim panas itu, mereka melewati berbagai rintangan. Contohnya? Memindahkan koin yang menancap pada semangka dengan gigi mereka, membersihkan lapangan di akhir pekan, menjabuti rumput di tanah kering belakang sekolah, menebang pohon di hutan untuk membantu nenek Sasha mencari kayu bakar, mengangkat gagang kayu yang diperberat dengan ember berisi air, naik turun tangga untuk mengambil cucian di halaman untuk dijemur di atap sekolah, lari ke toko kue yang berjarak 1 kilometer dari sekolah untuk mendapatkan traktiran dari Levi, dan mencangkul di sawah nenek Sasha. Bagi Eren, tak ada satu pun latihan mereka yang tampak berguna.
"Haa … haa … haa …."
"Air … putih … kumohon …," pinta Jean.
Tak heran bila mereka berempat tampak terengah-engah. Mereka baru saja turun dari atap sekolah untuk menjemur pakaian. Tampaknya Jean dan Sasha tertinggal di belakang. Sasha yang notabene belum sarapan dan belum makan siang, langsung tergeletak pingsan di koridor. Jean pun panik dan segera membawa Sasha ke UKS. Di sana, Sasha masih terpejam pingsan dengan bibir pucat pasi. Jean menunduk dan mengepalkan tangan penuh kekesalan, "Kurcaci satu itu …."
"Jean …," gumam Sasha saat ia mulai siuman.
"Ha? Cepat sekali siumanmu."
"Kamu berharap aku kebablas mati, huh?!"
"Ti-tidak … tidak …."
"Hm … Aku jadi semakin ragu dengan visi dan misi klub ini. Kamu tahu, sejak awal kita datang hingga 2 bulan berlalu, tidak ada satu pun misi yang kita dapat. Kudengar, Hannah dan teman-temannya sudah mendapat misi bulan lalu. Honor yang didapat juga begitu besar. Aku kecewa dengan kelompok kita …."
"Kurcaci sialan itu yang terus memojokkan kita."
"Apakah mungkin Levi-senpai masih meragukan kemampuan kita?"
"Mungkin saja! Mengingat sikap angkuhnya yang membuatku muak itu!"
"Tapi, Levi-senpai juga cukup baik karena menraktir kita dengan kue mahal di patisserie itu," ujar Sasha sambil kembali membayangkan kelembutan cream yang menyelimuti salah satu kue yang pernah ia makan.
Di situ, Jean merasa jijik. "Apa kau sudah berubah menjadi maso? Kau tahu, perlu menghabiskan tenaga sarapan untuk mencapai patisserie tersebut."
"Apa maksudmu? Aku menggunakan bus untuk mencapainya."
"APA?! KAU TIDAK BERLARI?!"
"Hehehe …." Sasha hanya nyengir saat mengakui dirinya yang curang saat mendapat tugas tersebut.
"Tsk … pokoknya, kita harus melawan kurcaci itu!"
"Membangkang?"
"Ya! Bagaimana pun caranya, agar dia bisa meringis tersiksa karena menahan kesakitan! Hahaha!"
Di situ, Sasha merasa jijik. "Apa kamu sudah berubah menjadi sadis-masokis? Kamu tahu, melawan Levi-senpai sama dengan mematahkan tulang jempolmu sendiri."
Jean meringis ngilu mengingat pernah dibantingan Levi hanya dengan jempolnya saja yang diputar. Sejak hari itu, jempol tangan Jean menolak untuk berdekatan dengan Levi.
"Po-pokoknya … kita harus melawannya!"
"A …. Handphonemu berbunyi."
Jean menjawab panggilan itu, "Ya. Hm. Benarkah?!"
"Ada apa?"
Setelah menutup panggilan itu, Jean menjawab Sasha dengan cengiran lebar, "Job pertama kita!"
"Jadi, di mana semangatmu untuk membangkang tadi?"
"Haa? Benar kah? Apa aku pernah berkata seperti itu?"
Sasha hanya bisa kembali tergeletak di kasur dan menyuruh Jean pergi. Ia lelah menghadapi sikap Jean yang berubah-ubah.
Di depan kantin outdoor, seluruh uke Levi berkumpul. Eren dan Jean dengan antusias ingin mendengarkan pekerjaan pertama mereka. Connie yang tidak melihat Sasha, bertanya pada Jean, "Di mana Sasha?"
"Hm … dia pingsan karena seharian ini belum makan. Tak perlu cemas, kekuatannya sudah sebanding dengan gajah, dia hanya bisa pingsan karena kelaparan."
Ponsel Jean berbunyi. Jean menjawab panggilan Sasha, "Ada apa?"
"Kejam sekali … kamu membandingkan seorang gadis dengan gajah."
Kemudian panggilan terputus.
"BAGAIMANA BISA DIA MENDENGARKU?!"
Orang yang menjadi pemimpin mereka pun mulai angkat bicara. Dengan suara pelan, Levi menjelaskan, "Tugas pertama kalian sudah setara dengan assassin tingkat A atau partner tingkat B. Oleh karena itu, pekerjaan kalian akan dipimpin oleh seorang assassin kelas A dan assassin kelas B. Tak perlu bingung, intinya partner tingkat C seperti kalian, mustahil selamat dalam misi ini. Selain itu, misi ini dijalankan dalam rangka memilih partner bagi si assassin."
"Ah … mereka sudah berkumpul …," gumam Annie.
"Apa yang mereka bicarakan, ya?" jawab Mikasa. Ia dan Annie tampak berjalan dari gedung yang ada di selatan.
"Mikasa Ackerman dan Annie Leonheart lah yang menjadi pemimpin kalian nanti."
"HEEE?"
"Anggota baru?" tanya Annie. Ia belum tahu bahwa kelompok Levi sudah sebanyak ini.
Sekali lagi Jean terkesima pada gadis lain yang muncul bersama Mikasa, dengan kata lain adalah Annie. Rambut pirang yang Annie jepit di belakang serta poni depannya yang panjang membuat Jean tertarik padanya. Apalagi mata biru dan hidung mancung Annie. Sepertinya Jean telah berubah menjadi mata keranjang setelah dua bulan ini menjalani latihan.
"Apa kuda itu selalu menatap gadis baru yang datang ke kelompoknya?" tanya Annie lagi pada Mikasa.
"Hati-hati. Dia bukan kuda biasa."
JLEBB!
"GAAAAKH!"
Jean terhenyak ke belakang saat kedua matanya ditusuk dua jari maut Annie. Annie membersihkan ujung jarinya dengan sisi bawah seragam. "Kuda biasa …."
"Jadi, kalian yang akan menjadi pemimpin kami?" tanya Eren, yang beberapa hari ini menjadi sedikit pendiam. Mungkin terlalu lama mendapat siksaan telah membuatnya menjadi sosok yang lebih dewasa. Mungkin.
Annie langsung mendekat kea rah Eren dan mengancam, "Jika kau menjadi partner Mikasa … aku akan memberimu tinju gratis …."
"Hiiiy! Apa maksudmu?! Ki-kita tidak tahu apa yang akan terjadi 'kan?"
"Benar juga … Tapi, aku akan benar-benar menghajarmu kalau kau tidak menjadi partnerku!"
"Ha?"
"EEH?! Ti-tidak! Kau tidak mendengar kalimat semacam, 'aku akan benar-benar menghajarmu kalau kau tidak menjadi partnerku'! Tidak mendengarnya!"
"Tapi … barusan kau mengatakannya …."
"APA?! Jadi kau ingin bilang bahwa barusan aku mengatakan hal semacam 'aku akan benar-benar menghajarmu kalau kau tidak menjadi partnerku', begitu? Baiklah, aku menerima penghinaanmu."
"Tapi kau barusan mengatakannya dan aku mendengarnya! Telingaku masih normal, nona!"
"Aku tidak mengatakan apa pun," ujar Annie, kembali ke sikap dinginnya.
Dasar tsundere!
"Grrr … apa kalian bersedia mendengar penjelasanku kembali?" potong Levi dengan sedikit geraman yang menakutkan.
"Te-tentu, Levi-senpai!" jawab semuanya, serempak karena takut dimarahi.
"Tempat kejadiannya adalah sebuah amusement park atau taman hiburan yang ada di perbatasan kota. Menurut pelapor yang merupakan kepala taman hiburan, ada 2 staff yang menghilang tiba-tiba seminggu yang lalu. Kemudian, tiap hari selalu ada staff atau pengunjung yang menghilang. Orang-orang yang berhubungan dengan mereka, tidak diberi kabar penyebab hilangnya korban. Polisi yang menyelidiki gagal memastikannya karena mereka juga hilang saat bertugas. Petunjuknya hanya satu."
"Apa itu?"
"Bekas seretan berupa darah. Bekas itu menunjuk ke arah gedung pengamat, gedung yang menjadi pusat pengamatan CCTV. Gedungnya memiliki ukuran yang sama dengan gedung sekolah bagian barat. Jadi, bersiaplah membawa denah agar tidak tersesat."
"Jadi, kami harus membasmi semua mayou yang ada atau—"
"Hanya pengendali mayounya saja yang kalian bunuh. Dengan begitu, semua mayou yang ada dalam kendalinya akan mati secara otomatis. Seperti robot yang mati setelah kita menghancurkan controllernya."
"Apakah taman hiburan itu tidak ditutup?" tanya Connie. Ia khawatir dengan adiknya yang besok lusa akan bermain ke sana bersama teman-temannya.
Levi menggeleng. Hal itu membuat Connie semakin khawatir. Ia berpikir untuk memperingatkan adiknya. Saat itu lah Levi berkata, "Tapi, kalau kalian besok berhasil membasmi habis makhluk menjijikan itu, tak perlu khawatir dengan pengunjung yang akan datang esok lusa."
Connie menghela napas lega dan mengumpulkan kembali semangatnya.
Eren mengangkat tangannya. Ia bertanya, "Bagaimana cara kita memastikan pengendali mayou?"
"Tak kusangka kau bisa memiliki pertanyaan sebagus ini," ledek Levi.
"Jawab saja dan aku akan mendengarkan, kurcaci!"
Bukannya menjawab, Levi malah menunjuk Mikasa dan Annie. "Assassin memiliki insting yang kuat setelah mendapat pengalaman menjadi partner. Mereka dapat mengetahui keberadaan pengendali mayou meski hanya berdasar pada perasaan. Kalian lindungi assassin, sisanya serahkan pada mereka. Paham?"
"Paham!"
"Besok siang, berkumpul di stasiun. Kegiatan hari ini kita akhiri. Kalian boleh pulang."
Setelah memberi hormat pada Levi, mereka berbalik dan menuju kelas masing-masing. Eren berjalan ke kelasnya dalam diam. Ia terlalu memikirkan bagaimana semua itu akan berjalan besok. Sebenarnya, bukan hanya Eren yang memikirkan tugas esok hari. Namun, anggota lain juga. Termasuk Jean yang sedang berjalan di belakangnya.
"HEH?! Mengapa kau mengikutiku?!" bentak Eren.
"Ha? Apa kau segitu tegangnya sampai-sampai 'GR-tension'mu melambung naik? Kelasku tepat di samping kelasmu."
"Ugh … huuuh …."
Eren membelok ke kelasnya dan segera menyambar tas punggung berwarna hitam yang ada di meja guru. Setelah mengambil tas itu, sesuatu terjatuh dan menggelinding ke arah Eren.
"Kaleng permen? Masih ada isinya?"
KLOTAK KLOTAK …
"Benar … masih ada … hm … apakah ini milik Pak Dario?"
Eren memutar-mutar kaleng itu dan menemukan namanya tertera di sana. 'Eren Jaeger' tertulis dengan huruf latin menggunakan spidol permanen.
"Apa ada seseorang yang hendak menjahiliku? Kutebak, di dalamnya ada tinju yang meloncat keluar atau … hm hm … ular-ularan? Kecoak?"
Eren membuka penutupnya dengan susah payah. Tidak seperti tebakannya, tak ada benda aneh di sana. Hanya ada kumpulan permen rasa buah yang dibungkus dengan plastik mungil.
"Oi, masih hidup?" tanya Jean yang tiba-tiba muncul di pintu.
"Gwaaa?! Ma-masih hidup!"
Eren cepat-cepat memasukkan kaleng permen itu ke dalam tas. Ia bertanya balik pada Jean.
"Ada apa? Jangan-jangan kau terlalu takut untuk misi besok dan berpikir untuk mengundurkan diri padaku? Tidak buruk juga."
"Sialan. Bukan itu. Rico-senpai menyuruh kita untuk memindahkan panggung yang ada di halaman sekolah."
"Astaga … katakan sejak tadi agar aku tidak terkejut."
"Hee~ jadi kau tadi terkejut?" goda Jean.
"Tidak!"
Di gedung seberang, Mikasa dan Annie tengah mengamati mereka berdua menggunakan teropong. "Kau melihatnya? Kau melihatnya? Ada pasangan baru …," kata Mikasa.
Annie melepas tatapannya lewat teropong, kemudian melihat alat tulis yang ia pegang. "Hn … pasangan … baru …."
Esok harinya pada jam makan siang, segenap kelompok Levi telah berkumpul di stasiun. Di sana, Levi berdiri bersandar tembok dengan kemeja sekolah dan celana jeans. Anggota kelompoknya langsung ternganga melihat gabungan pakaian yang terlihat 'berandalan' itu. Apalagi, Levi tidak mengancingkan kemejanya, hanya melapisi bagian dalam dengan kaos berwarna biru.
Selera berpakaian orang ini sungguh payah …
"Jadi … kalian sudah siap?"
Glek …
"Siap!"
"Bocah, kemarikan tanganmu."
"He?!"
Eren mengulurkan tangannya pada Levi. Levi malah menarik tangan Eren untuk menggenggam tangan Mikasa. Gadis yang mendadak tangannya dipegang itu langsung terhenyak dengan wajah memerah. Eren dan Mikasa saling bertatapan penuh tanda tanya.
"APA MAKSUDMU?!" bentak keduanya pada Levi. Meski begitu, mereka masih saling menggenggam tangan.
"Kalian berpura-pura menjadi sepasang kekasih."
"Tunggu … apa otakmu mengalami kerusakan? Maksudku … apa untungnya dari berpura-pura itu?"
"Eren! Apa maksudnya semua ini?!" bentak Jean sambil menarik kerah kaus Eren. Dalam satu tarikan, Eren langsung terseret ke hadapan Jean sehingga genggamannya dengan Mikasa terlepas.
"Aku sendiri tidak tahu, bodoh! Dan berhentilah menarik kerah pakaianku!"
"Berhenti!" perintah Levi.
"Tsk!"
"Kalian akan tahu sendiri maksudnya."
"Hoooh, tahu sendiri maksudnya apa, Levi banci?!"
"… Apa … kau bilang … bocah?"
"Kau memerintah kami seenak jidat sementara kau sendiri malah enak-enakkan di rumah. Bersantai dengan jus jeruk. Atau mungkin membaca fanfic dengan rate M sambil ditemani sepotong kue dari patisserie. Itu semua karena kau … pe-na-kut."
"Menilai orang dari perbuatannya … Tsk."
"Dan, lihatlah! Semua wibawamu akan hilang karena pakaian yang tampak seperti 'berandalan' ini. Apakah perlu kubawakan kostum gaun gothic lolita?"
"Cukup, Eren …," cegah Sasha.
Levi menatap sinis pada kaos coklat Eren lalu berkata, "Sebenarnya … aku akan lebih menyebutmu 'jantan' apabila kau berani menggunakan kostum sailor moon."
"A-apa?! Maksudku … penghinaan semacam itu tidak akan berpengaruh padaku kecuali kau menggunakan … seragam Rias dari fandom sebelah."
"Aa … kudengar menjelang akhir musim panas nanti, Erwin mengajak anggota Klub Pembasmi Mayou untuk berlibur ke pantai. Bagaimana kalau …. Kau menggunakan pakaian renang perempuan berwarna hijau, huh?"
"Levi, berhenti!" pinta Mikasa. Ia merasa terganggu menyadari salah satu orang yang terus menatap mereka.
Melihat wajah Eren yang makin memerah dan pelipis yang berkedut-kedut membentuk perempatan, Levi semakin tersenyum sinis. Eren langsung membalas tanpa pikir panjang, "Baik! Tapi ingat! Kau juga harus tampil dalam pakaian renangmu! Kalau perlu … yang berwarna biru muda. Hahaha!"
"Baik … ku ingat hal itu."
"Sudah cukup, Eren! Ada seseorang yang membuntuti kita. Cepat naik ke kereta!" perintah Jean sambil menggeret Eren masuk ke dalam kereta. Mikasa hanya menghela napas lelah sambil mengikuti Eren. Sasha dan Connie sweatdrop parah melihat perdebatan barusan.
Setelah kereta berangkat, Levi mendekati orang yang Jean pikir sedang membuntuti mereka. Juga yang Mikasa lihat sedang mengawasi mereka.
"Kau berhasil mengusir mereka, Hanji," ujar Levi.
"Hahaha! Apa aku segitu mengerikannya?!" bentak Hanji, tersinggung dengan kata-kata Levi.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
