Title: Minna no Katana
Author: Hatsune Miki
Chara: Eren Y., Mikasa A
Genre: Romance, Action, Adventure
Rate: T
Warning: AU, OOC, bukan OTP kalian, alur cerita masih samar, mengandung asupan fujodanshi, silahkan salahkan author di review, jangan main flame ^_^
A Shingeki no Kyoujin fanfic
Disclaimer: Shingeki no Kyoujin belongs to Hajime Isayama
Summary:
Eren sebagai 'uke' dari Levi, juga menjadi 'partner' bagi Mikasa. Dalam romansa 'cinta segiempat' inilah kisah mereka berjalan. Selain itu, tugas mereka untuk membasmi mayou tetap berjalan. Aksi mereka akan dibumbui konflik cinta yang manis dengan sedikit bumbu bagi fujoshi. Kisah mereka sebagai anggota Klub Pembasmi Mayou!
AN: hal-hal yang merujuk pada karya lain, adalah milik penciptanya masing-masing.
.
.
.
Setelah beberapa saat berdiam diri dalam kereta, alat transportasi umum itu mulai bergerak pelan. Kemudian berjalan mundur menuju perbatasan kota. Eren terkejut karena ia duduk membelakangi arah laju kereta. "O-oi … kereta ini berjalan mundur?"
Connie mengangguk dan menjawab, "Kereta ini memang khusus untuk perjalanan pulang pergi antara stasiun ini dengan stasiun di perbatasan kota. Jadi, jangan heran kalau tidak menemukan kereta lain."
"Aku belum terbiasa dengan kereta api. Apalagi yang jalannnya mundur. Rasanya seperti menentang hukum alam?" keluh Eren sambil membenahi posisi duduknya. Salah mengambil posisi dapat membuatnya memuntahkan sarapan pagi tadi.
"Bagaimana kalau kita tukar tempat?" tawar Annie.
"Tidak perlu. Aku sedang bertarung dengan rasa mual—" Ucapan Eren terpotong seiring kepalanya menunduk dalam-dalam dan mulutnya menghadap kantong plastik yang dibawanya.
Jean memasang ekspresi kecut lalu meledek Eren, "Memangnya kau belum pernah naik kereta? Menyedihkan sekali."
"Ugh … aku trauma menaiki kereta. Alhasil aku selalu berangkat sekolah dengan jalan kaki atau bersepeda. Yah, setidaknya aku tidak naik kuda jadi jangan meledekku!"
"Dan kumohon jangan mengungkit-ungkit kuda, kepala brunette."
"Diamlah kalian berdua. Penumpang lain merasa terganggu!" perintah Mikasa. Benar saja, Sasha sibuk membungkuk minta maaf pada penumpang lain yang melempar deathglare pada Eren dan Jean. Lantas, orang yang sedang menjadi pusat perhatian hanya bisa membuang muka malu, lalu melihat pemandangan di luar jendela.
Mikasa menghela napas lega setelah penumpang lain berhenti menatap mereka. Tapi kini, perhatiannya teralih pada Annie yang duduk di sampingnya. Gadis pirang itu tampak gelisah sambil memutar-mutar spidolnya. Mikasa merasa familiar dengan spidol itu. Karena penasaran, Mikasa pun bertanya, "Bukankah itu spidol yang kau bawa kemarin?"
Annie berhenti memutar spidol itu. Namun sebagai gantinya, ia melayangkan tatapan permusuhan pada Mikasa. "Segitu pedulinya kau pada masalah orang lain?"
"Oh, kau punya masalah pribadi? Maaf kalau begitu," ujar Mikasa, acuh.
"Tsk!" decih Annie. Ia memasukkan spidol itu ke dalam tas mungil kemudian membuka handphone. Tapi, apa yang ia lakukan tak lebih dari sekedar menaikkan halaman timeline dan berharap untuk melihat status baru dari teman di dunia maya.
Mikasa yang duduk di sebelah Annie pun tak tahan untuk tidak mengintip layar persegi panjang itu. Sambil menghela napas lelah, Mikasa berkata, "Sudah kuduga. Ada yang salah denganmu. Tak biasanya kau mengharapkan kiriman terkini dari orang lain."
Annie tersentak kemudian melesakkan handphonenya ke dalam saku celana. "S-s-s-sejak kapan ka-kau mengintip la-layar handphoneku?!"
"Salahkan penempatan kursi yang membuatku harus duduk di sampingmu!"
"Gheh … aku tidak mengerti jalan berpikir otak mesummu itu."
"A-apa?!"
"Merasa bahagia tiap kali melihat dua cowok menunjukkan kedekatan. Dasar! Seharusnya aku yang menempati ranking A. Bukan kau!"
"Hee … jones tukang ngimpi, ya? Ka-si-han."
"Bisakah kalian berhenti bertengkar? Kepalaku terasa nyut-nyutan!" bentak Eren yang tengah memijit pelipisnya.
"A … maaf," ucap Mikasa dan Annie bersamaan.
.
.
.
"Uwaaa …."
Eren dan teman-temannya ternganga begitu sampai di amusement park yang Levi maksud. Tempat itu sangat luas dengan pengunjung yang sangat banyak. Ada banyak anak-anak yang berebut meminta balon pada salah satu orang berkostum mascot yang membagikan balon gratis. Ada juga tempat berfoto yang menyediakan taman mungil sebagai backgroundnya. Di beberapa sudut terdapat mesin minuman berwarna merah. Selain itu, sekitar 4 hingga 5 bangku panjang tersebar di halaman itu, yang mana di sampingnya terdapat lampu taman. Apabila tempat duduk itu penuh, ada juga kayu bekas pemotongan pohon sebagai tempat duduk, tempatnya teduh karena dipayungi pohon sakura.
"Wow … tempat ini bukan sekedar taman bermain biasa. Mungkin banyak pasangan kekasih yang menghabiskan waktu di sini," ujar Sasha.
Eren menjawab dengan wajah datar, "Tidak. Bukan 'mungkin' lagi. Tapi benar-benar banyak pasangan yang menghabiskan waktu di sini."
Sambil meregangkan tubuh, Eren menolehkan wajahnya ke samping kiri. Perempatan merah muncul di pelipisnya ketika mendapati Jean sedang mengamati seorang pegawai, perempuan muda tepatnya, sedang tersenyum manis melayani pelanggan di stand ice cream. Perempuan itu memakai gaun biru yang hanya menutupi seperempat pahanya. Rambut pegawai itu tampak ditutupi wig biru panjang, atau mungkin mengecatnya? Eren memukul bahu Jean dengan keras dan berteriak, "Sedang mengamati Aqua, hm?"
"HOAA! N-nggak! Aku sedang mengamati ice cream mana yang akan kubeli."
"Eh, Jean bisa melihat jarak jauh? Aku baru tahu …," gumam Connie.
"Mana mungkin kau melihat daftar ice cream dengan mata mesum begitu?" kata Annie.
"Mesum," ucap Mikasa.
"Waaa! Aqua ada di dunia nyata!" cicit Sasha sambil melompat-lompat senang.
Tampak pegawai itu menoleh ke arah geombolan siswa SMA Maria itu, kemudian tersenyum manis dan melambaikan tangan. Jean tanpa sadar membalas lambaian tangan itu kemudian berlari ke sana. "Aku ingin membeli ice cream!"
"He?! Yang benar sa— Jean! Kembali! Awas kau sampai menggoda pegawainya!" teriak Mikasa. Tampaknya gadis bersurai hitam itu sangat khawatir pada apa yang akan Jean lakukan. Akhirnya ia berlari mengikuti Jean.
"Anak itu …," gumam Sasha sambil menggeram. Ia tampak pasrah saja.
"Aku baru tahu kalau di taman ini ada cosplayernya juga," gumam Connie.
"Yah … untuk menarik pengunjung katanya," jawab Eren. Ia sedang menghitung uang di dompetnya.
"Aqua dari KonoSuba?" tanya Annie.
Sasha tampak bersemangat kemudian menjawab, "Mn! Annie tahu?"
"Ah … aku pernah menontonnya."
"Lihat di sana!" pinta Connie.
Mereka semua menoleh ke arah anak-anak yang berlarian menjauh dari mascot tadi. Apa yang terjadi? Jantung mereka berdesir, takut seandainya ada mayou yang tiba-tiba muncul dari sana dan telah menelan korban. Tapi Annie menenangkan, "Cosplayer Hishiro Chizuru dari Relife."
"Yang benar saja?! Anime itu baru muncul bulan ini dan sudah ada yang meng-cosplay-kannya?!"
Sasha menghela napas lega. Ia berkata, "Astaga … lagipula mengapa anak-anak itu lari dari gadis secantik dia?"
Cosplayer itu menoleh ke arah mereka. Sementara Connie dan Eren ternganga menyadari wajah cosplayer itu sangat mirip dengan tokoh aslinya, Sasha dan Annie mencoba tersenyum padanya. Tak disangka, senyuman ramah mereka dibalas senyum penuh kemenangan, kelicikan, dan sangat menyeramkan dari cosplayer tersebut.
Twitch!
Annie mengepalkan tangannya kuta-kuat di depan wajah. Sasha berusaha menenangkan, "Te-tenang Annie … dia berusaha meniru senyum awkwardnya Chizuru …."
"Hah?! Begitu … begitu kah … baiklah … aku tenang," ujar Annie,
"S-sepertinya belum," bisik Sasha pada diri sendiri setelah melihat Annie mematahkan spidol yang dipegangnya.
Sasha pun beralih dari hadapan Annie dan melihat dua teman lainnya. "Uo! Eren, Connie!"
Dua pemuda itu sedang pundung karena tidak mendapat senyum manis yang mereka harapkan. Melainkan senyum mengerikan khas Chizuru. Tak lama kemudian, Mikasa dan Jean kembali dengan membawa es krim. Eren pun meledek Jean, "Habis kencan nih yee."
Wajah Mikasa tampak memerah dan berusaha menjelaskan dengan gugup. Namun, Eren tidak mendengarkan penjelasan kikuk Mikasa. Ia lebih tertarik pada Chizuru yang tengah berjalan ke arah mereka dengan wajah datar. Mikasa tampak waspada karena tangan kanannya telah meraih pistol yang disimpan dalam saku rok. Annie pun begitu, ia telah menggenggam pisau yang tersimpan pada tas selempangnya.
"Selamat siang. Apakah kalian dari Klub Pembasmi Mayou SMA Maria?" sapa cosplayer itu dengan senyum ramah. Ternyata, senyum yang sebelumnya hanya candaan. Tapi tetap saja, Annie masih menahan dendam. Ia mengamati cosplayer tersebut dengan tatapan tidak suka.
Tampaknya cosplayer tersebut sadar akan tatapan benci Annie. Namun, dengan ramah ia meminta maaf, "Ano … maafkan senyuman yang tadi. Aku hanya berusaha untuk menjiwai Chizuru. Andaikan kalian salah paham, maaf sekali."
"Ah, tidak apa-apa," jawab Annie dengan wajah acuh. Pose waspadanya berubah dan tangannya tidak menggenggam gagang pisau lagi.
"Kepala pengurus taman ini memintaku untuk membawa salah satu dari kalian."
"U-untuk apa?" balas keempat siswa didikan Levi. Mereka tampak khawatir, membayangkan salah satu dari mereka akan menjadi bahan percobaan atau apa pun yang mempertaruhkan nyawa. Meski membasmi mayou sudah mempertaruhkan nyawa sih.
"Mengambil kunci dan denah gedung pengamat."
Mereka berenam tampak kebingungan. Bukannya menjawab perkataan perempuan itu, mereka malah saling menatap seakan mempertimbangkan sesuatu hanya lewat tatapan masing-masing. Mikasa pun berbalik dan menjawab 'Chizuru' tersebut.
"Aku akan mengambilnya."
"Ikuti aku."
Gadis bersurai hitam ikat dua itu berjalan lebih dulu, meninggalkan Mikasa yang mengubek-ubek kantong rok. Kemudian, tangan kanannya menyerahkan sesuatu pada Eren. Ia berbisik, "Sisanya 12 peluru. Gunakan saat keadaan gawat saja."
Eren masih terbelalak menatap Mikasa, sementara tangannya masih terbuka dengan pistol di atasnya. Mikasa berbalik dan mengikuti cosplayer tersebut. Annie dan Sasha menatap pistol itu dengan tatapan tak percaya. Annie sangat tahu bahwa seorang assassin kelas A tidak boleh memberikan pistolnya pada orang yang tidak mendapat izin. Annie yang seorang assassin kelas B saja tidak mendapat izin, mengapa Eren?
"Waaah, pistol beneran," gumam Sasha dengan mata berbinar sambil mengamati lekuk pistol berwarna abu-abu tersebut.
"Mikasa … apa maksudnya?" bisik Eren pada diri sendiri.
Annie terhenyak sebentar mengingat apa yang Mikasa bisikkan. Ia berpikir, Sisa 12 peluru? Kemana yang lain? Seharusnya masih full 'kan? Kapan Mikasa menggunakannya?
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Jean. Ia iri melihat Eren yang mendapat pistol dari Mikasa. Ia bersedekap dan kembali bertanya, "Apa kita perlu mencari gedung pengamatan itu sendiri?"
Annie berpikir sebentar. Karena Mikasa tengah pergi, Annie harus menggantikan peran ketua. Ia berkata dengan tegas, "Ya. Kau dan Connie pergi ke sana." Annie menunjuk bagian kiri taman.
"HEE?!"
"Aku, Sasha, dan Eren pergi ke sana," ucap Annie menunjuk arah sebaliknya.
"Tu-tunggu! Kenapa Eren harus sekelompok dengan kalian?!"
"Ada apa? Cemburu? Kalau begitu kenapa tidak menembak Eren hari ini dan menikahinya besok?" balas Annie.
Tampaknya perkataan Annie barusan telah menyalakan saklar kemarahan Jean. Jean pun membentak dengan kasar, "Bukan itu maksudku!"
"Haaah, Annie, aku tidak keberatan dengan mereka," ujar Eren, beerusaha menengahi masalah mereka.
"Jean, kau selalu membesar-besarkan masalah, seperti ibu-ibu," ledek Connie. "Memangnya kenapa kalau kau sekelompok denganku? Apa kau pikir aku tertarik dengan body ratamu itu? Ada juga aku lebih tertarik pada Mikasa."
Click! Click! Dua saklar kemarahan telah menyala.
"Apa?! Jadi selama ini kau menyukainya juga?!"
"Aku bercanda. HE?! Berarti kau menyukai Mikasa?! Khufufu, aku harus menyebarkannya di sekolah!" teriak Connie dengan semangat.
"Coba saja kalau bisa."
Connie meraih ponselnya dan membuka grup sekolah. Tangannya mulai bergerak mengetik sesuatu. "Ehem … seorang Jean Kircstein kelas 1D tengah jatuh cinta pada 'Black Bullet' dari kelas 1A, Mikasa Ackerman, adik dari Levi Ackerman sekaligus assassin rank A. Ia akan menembak Mikasa hari ini."
"UWOOO! Ja-jangan! Kumohon, akan kulakukan apa pun tapi jangan menyebarkannya di grup sekolah!"
"Kalau begitu, beri aku 4000 yen."
"Kepalamu!" teriak Jean sambil memukulkan handphone Connie pada kepala pemiliknya.
"Ittai! Heh?! Aku baru membetulkan handphone ini seminggu yang lalu habis kecemplung kali! Awas kau Jean! Kau harus menggantinya."
"GHEEEEH?!"
Sementara mereka berdua sedang adu tinju, 3 siswa yang lain tengah berjalan meninggal 2 orang tersebut. Eren bergumam, "Nggak kenal orang itu …"
"Nggak punya teman kayak gitu," ujar Sasha.
"Nggak punya teman kayak gitu," ujar Annie.
Mereka bertiga mulai berjalan menuju kawasan wahana bermain ekstrim.
.
.
.
Kawasan itu sangat luas dengan berbagai wahana permainan. Roller coaster, tsunami, rumah hantu, kapal ayun, dan lain-lain. Annie mengamati berbagai wahana itu satu persatu. Tiba-tiba, Sasha menggandeng tangan Annie dengan semangat empat lima. Cewek ponytail itu menunjuk kereta roller coaster yang tengah melaju di atas rel dengan kecepatan tinggi. "Annie, Eren, ayo naik roller coaster! Selagi kita mengunjungi amusement terbesar di prefektur ini!"
Eren yang melihat begitu cepatnya wahana itu meluncur, langsung terduduk dan bergumam, "Aku sudah kapok dengan kereta api. Aku tidak mau mati sebelum menyelesaikan misi pertamaku!"
Sasha dan Annie menatap Eren dengan iba. Mereka sepakat untuk membiarkan Eren menunggu di bawah, sementara mereka mencoba wahana tersebut. Setelah roller coaster itu berhenti dan orang-orang yang menaikinya sudah turun, dua cewek itu langsung memilih tempat duduk paling depan. Pemasangan pengaman telah selesai, lalu roller coaster mulai bergerak perlahan. Tanpa berniat menyiksa diri sendiri, Eren mengalihkan pandangan dari wahana yang menantang keberanian itu.
Tak berapa lama, terdengar jeritan Sasha dari atas sana. Eren memejamkan mata begitu erat ketika mendengar jeritan memilukan itu. Beberapa menit berlalu (mungkin tidak sampai 'beberapa menit'), perjalanan Sasha dan Annie berakhir. Mereka berdua turun dari wahana itu dengan sempoyongan. Eren terhenyak melihat mereka berdua. Pemuda itu segera menopang Sasha yang hampir ambruk. Annie mengeluarkan kantong plastik dan menyerahkannya pada Sasha. Cewek ponytail itu muntah habis-habisan di sana.
"Benar-benar ekstrim 'kan?" kata Eren, membenarkan dirinya yang tidak ikut menaiki roller coaster. "Bagaimana keadaanmu, Annie?"
Annie memijat keningnya sebentar kemudian menjawab, "Tidak apa-apa. Aku sudah pernah menaiki roller coaster sebelumnya."
"Baguslah. Sasha, bagaimana kalauu kubelikan minuman?" tanya Eren.
"Ti-tidak perlu … aku ingin ke restoran di amusement park ini, sekalian pergi ke kamar mandi."
"Akan kuantar."
Sasha membuka matanya yang terasa berat, kemudian tidak sengaja melihat Annie. Tatapan cewek berambut pirang itu, antara sedih mau pun cemburu, tidak jelas terlihat. Sasha pun melepaskan rengkuhan tangan Eren dan berkata pelan, "Tidak perlu. Aku bisa ke sana sendirian. Kalian habiskan lah waktu liburan ini sepuasnya."
"Sasha! Jangan memaksakan diri!"
Bukannya membalas perkataan Eren, ia malah menepis tangan Eren. Kemudian berjalan pelan ke arah restoran yang menjulang tinggi pada halaman lain taman bermain ini. Eren menatap kepergian Sasha dengan heran, ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Sasha. Tapi, semua kebingungannya terjawab saat Sasha menoleh dan berucap dengan ceria, "Aku harus kuat. Karena aku adalah pemburu. Yang akan membasmi semua mayou di kota ini!"
"Sasha …."
Setelah mengucapkan kata itu, Sasha kembali melanjutkan langkahnya. Annie menghela napas berat kemudian menggeret bagian belakang baju Eren. Dia meminta, "Eren … ayo ke sana."
Eren berbalik setelah mendengar perkataan Annie yang merujuk pada wahana kincir angin raksasa yang sedikit tersembunyi dari wahana lain karena pepohonan yang menutupi. "Hm … selagi Sasha mengistirahatkan diri, tak apalah kalau kita mencoba wahana itu."
"Satu sangkar …."
Mendengar perkataan Annie, Eren memiringkan kepala dan memastikan kembali, "Bukannya kita naik sendiri-sendiri?"
"Sudah kubilang satu sangkar!" bentak Annie dengan wajah memerah. Melihat ekspresi Annie, Eren tahu bahwa perlu mengorbankan rasa mal yang begitu besar untuk meminta hal itu padanya. Eren mengangguk pelan dan mengikuti Annie yang menggeret tangannya.
Wahana itu sangat sepi pengunjung. Hanya ada 2 pasangan yang tengah mengantri untuk memasuki wahana kincir angin. Annie dan Eren pun masuk ke sangkar ketiga, lalu duduk berhadapan. Petugas wahana itu mulai mengatur controllernya agar kincir angin bergerak berputar. Pelan-pelan, pemandangan yang mereka berdua lihat meluas hingga mempu melihat seluruh area taman bermain. Di sana, pada puncak tertinggi yang dapat sangkar itu raih, kincir angin berhenti bergerak, meninggalkan Annie dan Eren yang terdiam di ketinggian tersebut.
Momen-momen 'hanya berdua' ini membuat Annie menjadi canggung. Ia tidak tahu obrolan seperti apa yang dapat ia bicarakan pada Eren. Karena setahunya, Eren tidak begitu suka pada sikap 'galak tapi mau' milik Annie. Namun, apa yang Annie pikirkan langsung pecah ketika Eren bergumam, "Ini kah yang burung lihat ketika terbang? Pemandangan yang sangat luas ini …."
Mata Annie berbinar setelah mendengar gumaman Eren. Dengan mengumpulkan semua keberanian yang sejak tadi ia pendam, Annie berkata, "Suka … Eren …."
"He?"
Annie terhenyak tepat ketika Eren menatapnya dengan bingung. Keduanya malah tersesat dalam situasi canggung yang semakin parah. Eren mempertanyakan apa yang barusan Annie katakan. Tapi mau sebanyak apa pun memastikannya, semua orang akan mengerti maksud Annie. Dengan begitu, Eren membalas, "Begitu kah … perasaanmu padaku?"
Pipi Annie memunculkan rona-rona merah yang sangat manis. Matanya yang biasa terlihat seperti orang mengantuk, tampak bersemangat. Bibir bawahnya ia kulum bersamaan dengan kepalanya yang mengangguk-angguk. Melihat reaksi Annie, Eren menghela napas lega dan berkata, "Syukurlah. Kupikir, kau sangat membenciku. Tapi dengan begini aku bisa berharap lebih banyak."
Jantung Annie tak bisa memelankan degub kencangnya. Semakin ia mencerna kata-kata Eren, semakin cepat jantungnya berdetak. Bahkan hampir menyamai kecepatan roller coaster yang ia naiki sebelumnya. Annie bertanya, "Be-berharap untuk apa?"
Eren tersenyum penuh arti pada Annie. "Berharap untuk menjadi temanmu."
Layaknya bangunan yang tersambar petir, hati Annie remuk seketika. Aura bahagianya berubah menjadi kelam, serta tatapannya menjadi buram karena tertutup cairan yang disebut air mata. Semangat yang sebelumnya menyelimuti hati, kini lenyap tanpa jejak. "Tapi, bukannya kita memang teman?"
"Aah … aku sendiri tidak yakin karena kau selalu mengancamku. Hehe."
Kecewa, Annie mendengus pelan sambil melihat ke luar jendela. Air matanya meleleh deras, namun tertutupi poninya sehingga Eren tidak menyadari air kesedihan itu. Ia merutuk dalam hati dan menjerit penuh kepiluan. Namun perasaan itu tak mampu ia keluarkan di hadapan Eren secara langsung. Sehingga, dia terpaksa menanggung rasa sakit sendirian.
"Jean …," ujar Eren.
"Ada apa?! Segitu petingnya kah Jean bagimu?! Huh!"
"Tidak … bukan itu …."
Eren masih menatap ke bawah melalui jendela. Jean tengah melompat-lompat, melambaikan tangan, dan tampak berteriak pada mereka. Eren mengerutkan kening dan berujar, "Apa dia mendadak gila?"
Annie yang ikut melihat ke bawah, menjawab ucapan Eren, "Tidak … dia memperingatkan kita sesuatu."
Mereka tengah fokus mengamati pergerakan mulut Jean.
'Mayou …'
'Di sini …'
"Mayou … di sini?!" pekik Annie. Dirinya dan Eren terhenyak ketika melihat Jean tengah menusuk mulut petugas kincir angin tadi dengan pisau. Darah hitam memancar begitu keras, mengotori tangan Jean. Tak lama, wahana kincir angin itu bergerak, berputar mambawa sangkar mereka turun. Tampaknya, Connie berhasil mengendalikan tuas controller itu untuk menyelamatkan mereka. Eren, Annie, dan 2 pasangan yang lain langsung turun dari sangkar. Annie memperingati salah satu pasangan, "Cepat pergi lah! Tempat ini berbahaya!"
"Sebenarnya … sebenarnya ada apa?!" tanya cowok dari pasangan itu.
"Mayou. Mayou ada di sini. Cepat pergi dari tempat ini."
"Kyaaaaa!"
Mereka semua terhenyak ketika mendengar teriakan tersebut. Cewek dari pasangan kedua tengah diseret paksa oleh dua mayou lain. Kekasihnya telah tergeletak mati dengan kepala yang terlepas dari tempatnya. Annie pun mengunus pisau dari tas selempang, berniat menyerang 2 mayou itu. "Pergilah! Namun, jangan membuat kepanikan di keramaian!"
Mungkin karena terselimuti rasa panik, pasangan itu langsung menuruti perintah Annie. Eren dan Jean juga mengeluarkan pisau mereka. Sementara itu, Annie memerintahkan Connie untuk menemui Mikasa. Bagaimana pun juga, Mikasa adalah ketua utama mereka. Tanpa perintah yang benar, pasti kegagalan yang terlahir. Connie pun mengiyakan dan segera pergi.
2 mayou tersebut tengah berusaha menyeret gadis yang tergeletak pingsan karena shock melihat kekasihnya meninggal. Dalam sekali lempar, pisau Annie berhasil menembus mulut salah satu mayou. Tepat pada kelemahan mayou, yaitu bagian belakang kepala mereka. Mayou memiliki kekuatan regenerasi yang sangat menakjubkan. Namun, sebagai gantinya adalah tubuh mereka menjadi lunak. Tak kan ada ancaman infeksi atau apa pun dari gigitan atau cakaran mereka.
"Meski begitu, tetap berhati-hatilah. Apabila jantung kalian berhasil diambil paksa, kalian akan ditanami sel mereka. Yang berarti …," ucapan Annie terpotong oleh Jean.
"Kami akan menjadi mayou …."
Slapp!
Eren melemparkan pisaunya pada tangan mayou itu, namun meleset dan menancap di tanah. Jean memperingati, "Jangan bertindak sesuka hati! Kalau sampai lemparan pisaumu menancap pada cewek itu dan membunuhnya, misi kita sama dengan kegagalan!"
"Tsk …."
"Hyaaat!"
Annie menerjang ke arah mayou. Mayou itu langsung menggendong sang gadis, lalu berlari begitu cepat meninggalkan mereka. Annie menghentikan terjangannya karena melihat gerakan itu. "Dia mayou yang cerdas …."
"Arrrrrgh!" teriak Eren begitu frustasi sambil berlari mengejarnya.
"Eren!" panggil Annie dan Jean. Mereka terkejut saat Eren telah berlari mendahului untuk mengejar target.
"Jangan bertindak bodoh!" bentak Annie.
Namun sayang, Eren telah memasuki belokan dan mustahil mendengar teriakan Annie. Sambil berdecih marah, Jean langsung berlari mengikuti Eren. Annie semakin panik ketika melihat mereka berdua bertindak di luar rencana. Sambil mempersiapkan pisaunya, Annie melangkahkan kakinya dengan cepat agar dapat mencegah mereka berdua bertindak di luar nalar.
Ternyata, belokan itu langsung mengarah pada gedung pengamat. Seperti yang mereka perkirakan, area di sekitar gedung itu dibatasi garis polisi. Yang berarti tempat itu sangat berbahaya. Eren tampak tengah menendang pintu depan gedung pengamat. Tidak seperti kebanyakan gedung, bangunan itu hanya memiliki satu pintu masuk di depan yang terbuat dari kayu. Sepertinya keadaan pintu itu sedang terkunci rapat, karena Eren sedang berusaha mendobraknya. Jean dan Annie datang tepat waktu. Namun tidak setepat yang mereka kira, Eren telah mengeluarkan alat bantu yang hanya dimiliki kelompok mereka, grapple gun. Ia menembakan jangkarnya ke atap gedung, kawat nan kuat keluar dari mocong pistol, menjadi perantara bagi jangkar untuk mencengkeram objek targetnya. Tubuh Eren pun terangkat dari permukaan tanah, kemudian menangkap pagar pembatas atap dan mengangkat tubuhnya ke permukaan atap.
"Eren! Jean, persiapkan grapple gunmu!"
"Bocah itu benar-benar menyusahkan. Kelewat impulsive."
Mereka berdua menembakkan jangkar grapple gun ke pembatas atap. Jean tiba di atas sama seperti Eren, harus mengangkat tubuhnya secara manual dengan bantuan pembatas tiang. Sementara itu, layaknya seorang professional, Annie melentingkan diri langsung ke permukaan atap. Kakinya menapak di atap dengan lembut. Kemudian mengembalika jangkar grapple gunnya.
"Ada banyak mayou …."
Sekitar 6 mayou sedang berpatroli di atap. Gerakan mereka tidak teratur, sama seperti geraman mereka yang tidak memiliki arti khusus. Dua mayou tengah berjalan ke arah 3 anggota Klub Pembasmi Mayou itu. Jean dan Eren pun langsung menerjang dengan teriakan keras untuk mengundang rasa berani mereka yang hampir kocar-kacir.
Dengan kaki Jean yang panjang, dia menjegal kaki mayou itu, membuat sang mayou terjatuh, kemudian menusukkan pisau pada mulut mayou hingga memancar darah hitam. Yang berarti, mayou telah dijatuhkan. Berbeda dengan Jean, Eren lebih memilih menebas kedua tangan mayou hingga terpotong, kemudian menusuk langsung ke dalam mulut. Karena ia sendiri baru belajar cara bertarung melawan mayou yang tidak memiliki kecerdasan.
Annie telah menggenggam dua pisau dalam masing-masing tangan. Ia menggenggamnya secara terbalik, dengan ujung pisau yang menunjuk ke bawah. Kemudian berlari menerjang ruang hampa di antara dua mayou, dengan begitu, dua pisaunya menebas langsung leher mayou-mayou itu hingga terputus. Lalu ia memotong leher mayou di hadapannya dengan pisau yang ia ayunkan secara menyilang, membentuuk huruf X dari bawah ke atas. Tak di sangka, setelah mayou yang itu terbunuh, masih ada satu lagi yang menerjang dengan cepat. Annie menghentakan kakinya dan melenting ke belakang sekaligus menendang dagu mayou itu hingga kepalanya terputus. Darah hitam memancar deras. Annie mundur beberapa langkah untuk mencegah darah yang mungkin akan menghujaninya. Ia berkata dengan percaya diri, "Kalau kalian tidak mampu menusuk mulut mereka, tebas saja lehernya."
Eren dan Jean terkejut melihat Annie yang menjatuhkan 4 mayou sekaligus. Dengan begini, semua mayou telah tereliminasi. Eren sedikit ngeri, apabila assassin kelas B saja sudah sekuat ini, bagaimana dengan Mikasa yang notabene assassin kelas A? Bisa-bisa ia menjadi pembunuh bayaran professional.
"Grrrr …."
Mereka bertiga terhenyak melihat mayou terakhir kembali bangkit. Sel-selnya bergerak keluar dari leher dan membentuk sebuah daging yang keras dan terlihat tajam.
"Blade …," bisik Annie.
Daging itu memanjang dan hendak menebas Annie. Cewek pirang itu segera menyilangkan pisaunya di depan wajah untuk menahan serangan mendadak itu.
"Annie!"
"Ja-jangan mendekat …," perintah Annie.
Mengabaikan perintah Annie, Eren segera menhunuskan pedangnya pada daging yang memanjang itu, hendak memotongnya. Namun, daging lain yang berujung tumpul, melilit Eren dan melemparnya ke arah Jean. Tak elak, Jean ikut terdorong ke belakang. Mereka berdua berteriak sakit ketika menabrak pembatas atap yang terbuat dari besi.
"Akh!"
"Jean! Eren! Jean!" jerit Annie penuh kepiluan. Ia mendorong daging tajam bernama Blade itu kuat-kuat hingga tubuh utama mayou sedikit terdorong. Annie segera berlari menghampiri mereka berdua yang tergeletak lemas.
Aku harus segera menggunakan grapple gaun dan membawa mereka turun dari neraka ini! itulah yang Annie pikirkan. Tapi, tiba-tiba perutnya tertembus Blade.
Crash!
"Uakkh …."
Annie memuntahkan darah begitu banyak dari mulutnya. Darah juga mengalir deras dari lubang yang muncul di perutnya. Lubang berdiameter 10 cm yang tercipta di bagian kiri perut Annie. Blade tertarik mundur, membuat Annie terjatuh dari atas.
"Akh!"
"A-Annie!"
"Annie!'
Teriakan Jean dan Eren saling bersahutan, memanggil Annie yang bersimbah darah. Mereka langsung menghampiri Annie. Jean membalik tubuh Annie dan terhennyak melihat lubang berdarah itu. Eren berkata dengan panik, "Kain! Kita butuh kain untuk menghentikan pendarahannya!"
SYUUUT!
Suara kawat yang tergulung itu berasal dari pagar pembatas. Di sana, tubuh seorang cewek berambut hitam tengah melenting menuju permukaan atap. Saat masih di udara, tangan kanannya menembak Blade milik mayou tadi. Mayou tersebut agak limbung dengan suara cicitan bernada tinggi layaknya tikus. Jean dan Eren menutupi telinga mereka. Sementara itu, mereka masih memperhatikan gerakan Mikasa yang melenting cepat ke hadapan mayou. Tubuhnya berputar memberikan fan kick, tendangan yang berbentuk seperti kipas, pada mayou. Targetnya pun jatuh ke tanah dan gerakan Bladenya sedikit terhambat. Mikasa menembak Blade yang tergeletak di tanah itu secara beruntun.
"Kaaakh! Kkkkh!" jeritan pilu mayou itu sangat memekakkan telinga. Tanpa membuang waktu lagi, Mikasa menghunus katana yang ada di pinggangnya kemudian menebas leher mayou itu tanpa sisa lagi. Gerakan mayou tersebut berkurang, kemudian tidak bergerak sama sekali.
Mikasa menoleh ke arah mereka bertiga. "APA YANG SEBENARNYA KALIAN PIKIRKAN?!"
Jean dan Eren tidak berani menatap mata Mikasa yang melotot nyalang. Mereka hanya bisa melihat Annie dengan sendu. Mikasa ikut melihat keadaan Annie, lalu terkejut mendapati Annie terluka parah. "Annie!"
Akankah Annie dapat bertahan hidup, selagi kami menyelesaikan misi? Itulah yang terngiang dalam pikiran Eren.
.
.
.
Flashback
Gadis itu terlihat ragu untuk menggoreskan tulisan pada kaleng di hadapannya. Kaleng dari permen mahal yang dibelinya kemarin. Tangan kanannya yang memegang spidol, bergetar hebat. Batinnya terus berkecamuk.
Akankah Eren menerima hadiah ini? Hadiah tanda sayangku padanya? Mereka bilang permen ini memiliki arti kasih sayang pada orang lain. Tapi bu-bukan berarti aku mempercayai gossip itu! Ah … bagaimana ya?
Annie Leonheart, tidak mengerti apa yang harus ia tuliskan pada kaleng tersebut. Karena kepalanya terus terngiang nama Eren, ia lantas menuliskannya tanpa pikir panjang lagi.
Eren Jaeger ... kuharap, kau membalas rasa sayangku.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka, sosok Mikasa muncul dan berkata, "Apa yang kau lakukan di sini? Levi memanggil kita untuk ikut mendengarkan misi selanjutnya."
Annie terkejut lalu memasukkan spidolnya ke dalam saku rok. "Benarkah? Bagus, aku akan segera ke sana."
"Sekarang. Aku tidak mau melihatmu mati sia-sia karena tidak tahu jalannya misi nanti."
"Aku tak akan mati sia-sia!"
Tapi aku akan mati karena melindungi Eren.
Mereka berdua meninggalkan ruang kelas 1C yang tidak berpenghuni itu.
Flashback off
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
*Update selanjutnya agak lama karena authornya lagi nggak megang laptop*
