JNJ's Love

Chapter 5

Cast :

- Kim Jongin 'EXO'

- Ahn Daniel 'Teen Top'

- Park Jimin 'BTS'

- Lee (Oh) Sehun 'EXO'

- Lee (Bang) Minsoo 'Teen Top'

- Lee (Jeon) Jungkook 'BTS'

Genre : Romance, School Life, Drama

Rated : T

WARNING : ALUR CEPAT, MAINSTREAN, TYPO, dll.

Happy reading guys...

.

.

.

Beberapa minggu pun berlalu, hingga sampai pada akhirnya acara ulang tahun untuk Starlight Senior School ini pun tiba. Dimana hari yang ditunggu oleh semua murid disana. Mereka sudah menyiapkan semua yang akan mereka tunjukkan di acara ulang tahun sekolah mereka ini.

Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 7 sore, sedangkan acara ini sudah berlangsung sejak 3 jam yang lalu. Yang sudah dimeriahkan oleh penampilan music dan drama dari masing-masing peserta didik. Seperti yang diketahui, bahwa acara ini memang dikhususkan untuk para murid tanpa adanya campur tangan dari guru-guru mereka, sehingga mereka merasa bebas untuk menampilkan apapun yang mereka inginkan tanpa adanya peraturan yang ditetapkan oleh para guru itu. Walaupun begitu, mereka tetap ada diporsinya masing-masing.

Drama dan Music sudah ditampilkan semua, hanya tinggal menampilkan performance dari para peserta Dance Couple.

Sedangkan dikelas sebelah yang kini dijadikan tempat rias dan ruang tunggu bagi para peserta, terlihat sangat ramai. Banyak diantara mereka yang sedang berlatih untuk terakhir kalinya sebelum mereka tampil diatas panggung itu.

"Apa kau yakin kita tidak perlu latihan untuk terakhir kalinya, kita masih punya waktu untuk berlatih..?" Suara pelan terdengar dari dalam ruangan ini, yang berasal dari seorang namja berkulit Tan.

"Aniya.." Jawab namja pucat yang berada didepannta itu.

"Aishh!" Namja Tan yang kita ketahui bernama Jongin ini berdecih sebelum akhirnya dia beralih menjauh dari namja berkulit pucat ini.

Jongin memiilih mendudukkan dirinya dikursi plastik tepat disebelah namja berbibir tebal yang tengah sibuk melap keringat dikeningnya dengan tissue.

"Menyebalkan!" Gumam Jongin sebal.

Dan berhasil mengalihkan Niel –namja berbibir tebal- ini dari kegiatannya, kemudian menatap Jongin. "Waeyo hyung?"

"Si Sehun itu benar-benar menyebalkan, kau tahu?!" Ujar Jongin.

"Masalah latihan lagi?" Tebak Niel.

"Tentu saja, aishh! Jinjja! Rasanya aku ingin menjambak rambut namja itu, Niel-ah"

"Sabar hyung, kau jangan marah-marah seperti ini. Ikuti saja permainan namja gila itu."

Niel mengusap-usap pundak hyung tertuanya ini, mencoba menangkan Jongin dari rasa marah yang dia tujukan pada Sehun sipemilik kulit pucat itu. Dia pun sebenarnya merasa prihatin dengan hyung nya ini, tapi mau bagaimana lagi? Lagi pula dia bisa apa?

Niel memberikan senyuman sebagai tanda penyemangat untuk Jongin.

"Pakai ini.."

Niel terlonjak kaget saat tiba-tiba saja ada yang melemparkan sebuah shopping bag kepadanya. Dia langsung menatap pada orang yang baru saja meleparinya, dan saat itu juga matanya langsung menemukan objek yang tengah berdiri tak jauh darinya.

"Yaakk! Apa yang kau lakukan, eoh?!" Niel mendelik tidak suka pada objek itu.

"Ganti pakaianmu dengan itu." Ucap sang pelaku pelemparan.

"Memangnya kenapa dengan pakaianku?" Tanya Niel bingung, seraya menengok pakaian yang dia gunakan.

"Jangan banyak tanya cepat ganti pakaianmu sekarang."

Sedangkan Niel sendiri mencoba pasrah dan mengikuti suruhan dari pria yang benar-benar menyebalkan dimatanya ini. Dia pun lantas keluar dari ruangan ini untuk mengganti pakaian yang dia kenakan dengan pakaian yang baru saja namja itu berikan.

Niel memasuki ruangan yang tak jauh dari tempatnya tadi, kemudian menutup pintu itu. Dan setelah dirasa aman, dia lantas melepas T-Shirt warna hitam dengan gambar salib ditengah-tengahnya, menyisahkan tubuhnya yang toples. Kemudian dia meraih shopping bag yang tadi dia taruh diatas meja. Niel meraih baju yang tadi diberikan oleh Minsoo.

Dan ketika Niel sudah melihat baju yang diberikan Minsoo, sontak saja itu membuatnya membelalakan matanya dan membuka mulutnya tak percaya.

"IGE MWOYA?!"

'Ckleekk'

Niel segera membalikan tubuhnya ketika dia mendengar suara pintu yang baru saja dibuka.

"YAKK! APA YANG KAU LAKUKAN, LEE MINSOO!"

Minsoo, orang yang baru saja masuk kedalam ruangan ini, segera menutup pintu itu kembali dan menguncinya. Dia memandang Niel yang tengah berdiri membungkuk dengan baju yang dia berikan digunakan untuk menutupi tubuh depannya.

Dan jujur saja, dia sedikit terpukau dengan tubuh topless didepannya ini. Matanya tak henti menatap intens pada tubuh Niel yang menurutnya berkilau itu. Sedangkan Niel sendiri tengah sibuk mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya, dan kembali meraih T-Shirt hitam yang tadi dia tanggalkan.

"YAAKK! A-apa ya-yang kau lihat!" Niel memergoki Minsoo yang sedang menatapnya.

Dan selepas itu, Minsoo mencoba meraih kesadarannya, dia terus saja menelan saliva yang menyangkut ditenggorokannya. Dia kembali memasang wajah flatnya seolah-olah tak terjadi apapun, meskipun sebenarnya dia merasakan sesuatu.

"Ce-cepat pakai baju yang aku berikan itu." Ujarnya dingin.

"Apa? Baju ini?" Niel menunjukan baju itu kearah Minsoo.

"Eumm.." Minsoo mengangguk mengiyakan.

"Kau menyuruhku memakai baju ini?" –Niel-

"Eumm" Angguk Minsoo.

"Andwae!" Tolak Niel.

"Cepat pakai.." Titah Minsoo.

"Aku tidak mau memakai pakaian kurang bahan seperti ini."

Niel menatap Minsoo dengan pandangan membunuhnya, dia tak habis pikir dengan namja tampan dihadapannya ini. Entah apa yang dipikirkannya? Ingin sekali rasanya dia mengubur namja menyebalkan ini hidup-hidup.

Bagaimana Niel tidak naik darah saat ini? Melihat baju yang diberikan Minsoo tadi membuatnya semakin ingin meledak. Bayangkan saja? Dia harus memakai pakaian yang sebenarnya tidak pantas dibilang pakaian juga. Karna baju yang Minsoo berikan itu seperti jaring, yang otomatis bisa memperlihatkan tubuhnya saat dipakai. (Ngerti kan yahh maksudnya? Hehehe :p bajunya kayak jaring, gak ada tambalan atau apapun jadi bolong-bolong gitu bajunya).

"Kau harus memakainya!" –Minsoo-

"Andwae! Tidak akan pernah!" –Niel-

"Cepat pakai pakaiannya!"

"ANIYAAAAAA!"

.

.

.

Jungkook dan Jimin berdiri ditengah-tengah panggung, suara gesekkan biola mulai terdengar dengan tempo yang pelan, kemudian disusul dengan suara piano yang juga terdengar lembut. Jimin mulai menggerakkan tubuhnya, kedua tangannya terbentang dengan kepala yang menengadah keatas. Kemudian tangan Jungkook terarah pada perut Jimin, menggerakannya seolah sedang meraba perut itu.

Dan dimenit berikutnya Jimin memutar tubuhnya sehingga kini dia berhadapan dengan Jungkook, satu tangannya dia letakkan pada pundak Jungkook, dan tangan lainnya digenggam oleh namja tampan ini, begitupun dengan tangan Jungkook mendarat dipinggang ramping Jimin. Lalu kaki kiri Jimin dilingkarkan pada paha Jungkook, dan tangan yang tadi dia letakkan dipundak beralih memeluk leher Jungkook.

Disaat suara gesekan biola makin terdengar keras, Jungkook dan Jimin merubah posisinya. Jimin berjalan mundur dan Jungkook berjalan maju, terkadang mereka berputar dengan mata yang saling menatap satu sama lain. Mereka terus berjalan mengitari panggung, dengan kaki yang mereka gerakkan menghentak. Terkadang kaki Jimin masuk kesela-sela kedua kaki Jungkook. Begitupun dengan Jungkook yang menggerakkan kakinya memasuki sela-sela kedua kaki Jimin, seakan-akan mereka saling menyandung. Sehingga membuat sepatu yang mereka gunakan terutama high heels yang Jimin pakai menimbulkan suara ketukan-ketukan yang berirama dan menambah kesan elegan pada penampilan mereka ini.

Hingga pada menit selanjutnya Jungkook menekuk kaki kirinya dan memanjangkan kaki kanannya (seperti posisi kuda-kuda), lalu Jimin mengangkat kaki kirinya memeluk pada kaki Jungkook yang menekuk, disusul kaki kanannya juga dia tumpukan pada kaki kirinya, sehingga membuat Jungkook memangku tubuh Jimin dikakinya yang tertekuk itu.

Posisi itu pun tidak berlangsung lama, Jimin menurunkan kakinya satu persatu, begitupun dengan Jungkook yang kembali pada posisi berdiri dengan masih merengkuh pingggang ramping Jimin dan sebelah tangan mereka yang juga masih bertautan. Jimin kembali memeluk pinggul Jungkook dengan kaki kanannya, yang kemudian Jungkook membuat tubuh mereka lagi-lagi berputar. Wajah mereka sangat dekat bahkan hampir bersentuhan. Mereka bisa merasakan hembusan nafas dari lawannya, seolah-olah sedang saling menyalurkan nafas hangat mereka.

Kemudian namja manis itu sedikit menjauhkan tubuhnya dari Jungkook, lalu didetik berikutnya dia memutar-mutar tubuhnya berulang kali dibantu dengan Jungkook yang menggenggam tangan kanannya bermaksud agar Jimin tidak terjatuh. Kurang lebih dia melakukan 4 putaran, dengan akhir dia sengaja menubrukkan tubuh pendeknya pada dada bidang Jungkook, dan membuat Jungkook kembali memeluk pinggang rampingnya.

Mereka mengikuti alunan biola dan tuts-tuts piano yang seakan menuntun mereka menggerakkan badan mereka dengan begitu lihainya. Jungkook tak pernah melepaskan pandangan matanya dari namja manis yang berada direngkuhannya. Merengkuh pinggang itu dengan sangat erat namun lembut, seakan-akan tak ingin melepaskannya.

Sampai pada akhirnya kedua mata mereka bertemu, Jimin membalas menatap Jungkook, ditambah dengan senyuman manis dari manja manis ini. Beberapa kali Jungkook melihat Jimin mengerjap-kerjapkan matanya, dan menurutnya itu sangat lucu.

Jungkook membalas senyuman Jimin, disaat dia mengerti arti tatapan Jimin padanya. Dia tahu kalau saat ini Jimin tengah gugup, itu pun dapat diarasakan ketika Jimin hampir saja kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Namun itu tak akan pernah terjadi karena dia langsung menangkap pinggang itu.

Meskipun sudah berlatih berkali-kali tapi tetap saja akan sangat sulit menari dengan high heels yang terbilang cukup tinggi itu.

Sesuai dengan hentakan piano dan gesekan biola, mereka mengakhiri gerakan ini dengan kedua tangan mereka yang terulur dan saling menggenggam, dipermanis dengan tangan Jungkook yang memeluk perut Jimin. Sedangkan Jimin menengadahkan kepalanya sehingga membuat Jungkook menyembunyikan wajahnya pada leher mulus itu. Dan tolong jangan lupakan dengan kecupan Jungkook pada leher Jimin untuk mengakhiri tarian mereka.

Prroooookkk proookkk prrrrooookkkk

"DAEBAAAKKKK JJIIIMIIIINNNNN! LEE JUNGKOOKKK!"

"HHWWWAAAAAAA! DAEBAAAAKKKK!"

"JIMIN SARANGHAEEEE!"

"JUNGKOOK, KAU SANGAAATTT TAMPAANNNN!"

.

.

.

Niel dan Minsoo memasuki panggung secara berlawanan arah. Niel masuk dari arah sebelah kanan, sedangkan Minsoo dari sebelah kiri. Lalu mereka bertemu ditengah-tengah panggung dengan saling memandang satu sama lain. Tangan mereka saling terulur dan telapak tangan mereka bersentuhan. Lalu berhenti disaat suara dentuman drum memelan.

Dan didetik berikutnya, mereka menurunkan tangan mereka kembali. Kemudian Niel berjalan menjauhi Minsoo yang masih berdiri ditempatnya, dia berjalan kearah kanan dari Minsoo. Dimana disana telah disiapkan sebuah single sofa berwarna cokelat.

Niel menduduki sofa itu, awalnya dia menumpukkan kedua kakinya namun didetik selanjutnya dia mulai menggerakkan kakinya, melebarkan kedua kaki jenjangnya, lalu memajukan bokongnya sehingga dia duduk ditepi sofa. Kedua tangannya memegang kedua sisi sofa dengan erat guna untuk menumpu badannya, Niel mengangkat bokong itu dan menggoyangkan bokongnya memutar, dan jangan lupakan tatapan mata yang entah apa artinya.

Tak lama, karena dia kembali mendudukan tubuhnya lagi. Kali ini Niel mencoba menggoda Minsoo yang masih tak beranjak dari tempatnya, dia masih berdiri disana dengan kedua sorot mata yang terus saja mengintainya.

Niel bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mendekati Minsoo, yang langsung saja Minsoo tarik tangan itu kearahnya. Pemuda tampan itu memutarkan tubuh Niel sehingga membelakanginya. Dia menarik tangan kanan Niel dan menyilangkannya ke leher Niel bagian kiri. Kemudian tangannya yang menganggur dia gunakan untuk menekan punggung Niel, sehingga kini namja manis ini menungging didepannya.

Niel melepaskan dirinya dari Minsoo, lalu berdiri disamping pemuda tampan ini. Mereka secara serentak menggerakkan tubuh mereka dengan seirama. Mereka meletakkan tangan kiri mereka ketelinga kiri mereka masing-masing lalu menggerakkan pinggul mereka mengikuti irama yang mulai meningkat.

Setelahnya gerakan pun kembali berganti, Niel memposisikan dirinya dibelangkang Minsoo yang menghadap kesamping kiri. Kemudian Niel sedikit membungkukkan tubuhnya, tangannya dia letakkan pada pinggangnya, lalu mengerakan pinggulnya secara perlahan.

Tangan Minsoo pun tidak tinggal diam, dia mendaratkan tangan panjangnya pada paha Niel yang terbalut legging ketat berwarna hitam metalik yang sedang dikenakan oleh namja berbibir seksi itu. Dipadukan dengan baju jaring yang tak mampu menutupi kulit tubuhnya, dan berhasil menambah kesan seksi pada namja manis ini.

Mereka terus saja mengikuti alunan musik yang terdengar begitu sangat menuntut, seolah-olah memaksa mereka menggerakan tubuh mereka secara lebih dan dalam (?). Sehingga membuat kedua pemuda yang sedang berdiri ditengah-tengah panggung merasakan hawa panas diantara keduanya.

Minsoo dan Niel semakin berani menggerakan tubuh mereka, membalas alunan musik itu dengan gerakan yang juga semakin menuntut, seolah tak peduli dengan lingkungan sekitar. Bahkan sudah tak terhitung berapa kali Minsoo menyentuh dan meremas bokong Niel ketika namja manis itu melakukan gerakan dancenya. Niel tahu bahwa ini mulai keluar dari gerakan mereka saat latihan. Tapi dia mencoba tak peduli tohh mereka sedang ada diatas panggung saat ini jadi tidak mungkin kan kalau dia memarahi namja menyebalkan ini sekarang. Lanjutkan sajalah!

Posisi kali ini adalah Niel yang membelakangi Minsoo, dia berdiri tepat didepan namja tampan ini. Kedua tangannya dia angkat keatas, dan langsung ditangkap oleh Minsoo. Kemudian Niel menggoyangkan pinggulnya kekiri dan kekanan dengan gerakan pelan, sampai posisi hampir berjongkok (kayak dance nya Stellar yg Marionette).

Dan karena jarak mereka yang terlalu dekat sehingga bokong Niel sampai menyentuh tubuh Minsoo. Dia tersentak kaget ketika dia mengulagi gerakan goyangannya keatas, karena dia dapat merasakan bokongnya menyentuh ke selangkangan Minsoo, dia bisa merasakan sesuatu yang menyembul disana. Niel menggigit bibir bawahnya ketika menyadari apa yang baru saja dia lakukan.

Minsoo memutar tubuh Niel sehingga mereka saling berhadap-hadapan. Lalu menggendong tubuh yang hampir sama dengan tingginya, Niel mengalungkan kadua kakinya pada pinggul Minsoo, tangannya dia gunakan untuk memeluk leher pria berparas tampan ini. Kemudian Minsoo membawa tubuhnya duduk disofa yang sejak tadi mereka aggurkan, membawa tubuh Niel duduk diatas pangkuannya.

Terakhir, Minsoo menarik tengkuk Niel dan mendaratkan sebuah ciuman diatas bibir tebal itu. Dan secara perlahan musik pun ikut berhenti seiring dengan lumatan yang mulai mereka lakukan.

"KYYYAAAAAA~~~~"

"AIGOOOO! NIIIIEEEEELLLLL!"

"MINSOOOOO DAEBAAAKKK!"

"NIIEEELLL HAWWWTTT!"

.

.

.

"Yakk! Aku tanya padamu untuk yang terakhir kalinya, Lee Sehun! Kau mau kita latihan atau tidak?" Jongin berjengit sebal dengan namja yang saat ini sedang dia coba untuk bernegosisai.

"Aniya!" Jawab namja yang tadi dipanggil Sehun itu.

"Cihh!" Jongin berdecih sebal mendengar jawaban yang tidak dia harapkan dari namja pucat didepannya ini. Dia menatap Sehun dengan tatapan jengah dan sebal. "Sehun, kita masih memiliki waktu beberapa menit lagi sampai Niel dan Minsoo selesai, jadi kita bisa latihan walau hanya sebentar."

Sehun, namja yang sejak tadi duduk dan memainkan ponselnya kemudian baru manatap pria manis yang sedang berbicara dengannya ini.

"Aku bilang, aku tidak mau latihan sampai kita berada diatas panggung! Arra?!"

"AAKKHHH"

Jongin mengacak-acak rambutnya sendiri, frustasi sepertinya. Dia benar-benar kesal dengan pemuda berkulit pucat dan berwajah tampan ini. Bagaimana bisa mereka tidak melakukan latihan sedangkan pertunjukan tinggal beberapa menit lagi. Ini mustahil bukan?!

"Baiklah, terserahmu saja! Aku hanya akan berdiam diri diatas panggung! Peduli setan denganmu!" Jongin menghentak-hentakkan kakinya kesal.

Mereka bahkan tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang tengah menyaksikan drama yang mereka buat ini.

Jimin, salah satu pasang mata ini mendekati hyung tertuanya. Jujur saja, dia sedikit merasa prihatin dengan hyung satunya ini. Bagaimana tidak? Lihat saja pria berkulit tan ini yang terlihat sangat frustasi.

"Benar hyung, kau cukup berdiam diri saja diatas panggung dan nanti kita bisa bilang kepada mereka kalau itu adalah gerakan dance terbaru dari JNJ." Ujar Jimin, yang sedang berusaha menghibur kakaknya.

Namun bukannya terhibur, Jongin malah ingin melemparkan Jimin dengan hairdryer yang ada didekatnya, itu kalau dia tidak ingat betapa dia menyayangi namja bertubuh pendek itu.

"Jongin-ssi dan Sehun-ssi bersiap-siap lah, setelah ini kalian akan tampil." Ujar seorang pemuda bertubuh tinggi mengintrupsi kegiatan mereka.

"Haahh!" Jongin membuang nafas nya yang entah kenapa terasa sangat berat sekali. Sudahlah, dia sudah pasrah dengan apapun yang terjadi diatas panggung nanti. Dia tahu dan yakin pasti akan mendapatkan malu setelah ini.

.

.

"Kini, tibalah saatnya kita menyaksikan penampilan dari seorang Leader dance yang sudah tidak asing lagi, siapa lagi kalau bukan JOOONGIIINN! Bersama dengan LEE SEHUUNNN! Berikan tepuk tangan kalian yang sangat meriah untuk pasangan kita ini.."

Prroookkk pprrrrooookkk

Pprrroookkkk prrooookkkk prrooooookkkkk

Jongin dan Sehun memasuki panggung diiringi dengan suara meriahnya tepuk tangan dari semua para murid atau penonton yang ada didalam aula besar ini.

Saat mereka sudah berdiri ditengah-tengah panggung, lampu tiba-tiba saja menjadi padam. Dan diwaktu berikutnya area panggung berubah menjadi warna jingga, yang berasal dari bohlam-bohlam yang berada disekeliling panggung.

Jongin pun kaget dengan apa yang terjadi sekarang, dia bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Hingga sampai akhirnya suara berat dari seseorang yang berdiri dibelakangnya berhasil menenangkannya.

"Aku percaya padamu, Jongin. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan." Ucap suara berat itu.

Jongin berkali-kali membuang nafas beratnya, dia mencoba menyamankan keadaan saat ini, apalagi setelah mendengar apa yang Sehun katakan, dia mencoba untuk tenang, walaupun kenyataannya dia sangat gugup.

Sehun kemudian berpindah tempat hingga saat ini dia tepat berada didepan Jongin. Dan disaat musik mulai terdengar, Sehun memberikan senyuman kepada Jongin. Seolah-olah dia sedang memberikan keyakinan pada namja berkulit tan itu.

Sehun mengangkat tangan Jongin keudara, sehingga membuat Jongin menatapnya bingung. Jongin yang tidak tahu harus melakukan apa, mencoba untuk melepaskan tangannya yang dipegang oleh Sehun. Namun pemuda tampan itu masih tetap saja memegang tangan sebelah kirinya. Sehingga mau tidak mau Jongin memutarkan tubuhnya dan itu sukses membuat pegangannya terlepas.

Namun disaat Jongin ingin menjauh dari Sehun, namja itu kembali meraih kedua tangannya, kemudian melepaskan tangan kanannya dan menarik tangan kirinya, sehingga membuat Jongin hampir kehilangan keseimbangannya, namun Sehun dengan sigap menangkap tubuh itu. Membuat Jongin mau tidak mau mengalungkan tangan kanannya pada leher pemuda itu.

Jongin berulang kali memejamkan matanya ketika merasakan hembusan nafas Sehun yang tepat didepan wajahnya, memang posisi mereka sangat dekat saat ini. Sehun menatap mata bening Jongin, kemudian dia tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.

Jongin mengerti, Sehun sedang mencoba meyakinkan dirinya. Dengan pejaman mata sebentar lalu hembusan nafas berat yang dia keluarkan, dan kemudian mulai menggerakan tubuhnya sesuai apa yang dia inginkan, sama seperti Sehun.

Pemuda manis itu kemudian menjauhkan dirinya dari Sehun. Namun lagi-lagi Sehun meraih tangan kanan Jongin lalu meletakan telapak tangan yang terasa kecil ditangannya didada kirinya. Jongin tersenyum, membalas senyuman Sehun.

Jongin mendorong tubuh Sehun, sehingga pemuda yang tanpa kesiapan itu terjengkang kebelakang. Tapi bukannya marah dia malah tersenyum, dan disaat Jongin sedang berjalan menjauhinya, Sehun menarik tangan Jongin dan membuat Jongin jatuh terduduk tepat diatas tubuhnya.

Sehun membalikkan tubuhnya sehingga kini Jongin lah yang berada dibawahnya, dengan tangan pemuda manis itu yang kini tengah mengalung cantik dilehernya. Jongin dapat mendengar deruan nafas Sehun, begitupun dengan Sehun yang bisa merasakan hangatnya nafas Jongin.

Sehun mendekatkan wajahnya pada Jongin, matanya tertuju pada bibir tipis pemuda manis ini. Jongin sendiri menurunkan tangannya dari leher Sehun, dan berhenti tepat dikedua dada Sehun, yang dapat dia rasakan debaran lembut disana.

Dan diisaat bibir mereka hampir bersentuhan, Sehun dengan segera bangkit dari atas tubuh Jongin, dan menarik kedua tangan Jongin, sehingga membuat pemuda yang tubuhnya lebih mungil darinya ini ikut bangkit. Sehun menarik tubuh Jongin dengan sekuat tenaga, begitupun dengan Jongin yang malah melemparkan tubuhnya pada Sehun.

Jongin mengalungkan kedua kakinya pada pinggang Sehun, dengan posisi Koala Hug, Sehun membawa tubuh digendongannya berputar-putar mengikuti alunan gitar dan drum yang semakin terdengar cepat namun lembut.

Tidak lama, karena setelahnya Sehun sudah menurunkan tubuh Jongin dengan pelan-pelan.

Entah kenapa baik Sehun maupun Jongin merasa kalau jantung mereka ikut berdebar sama seperti dentuman drum yang begitu terdengar. Jongin yang pada awalnya bingung harus melakukan apa saat diatas panggung, entah kenapa saat ini dia ingin mengerakan semua tubuhnya mengikuti alunan musik yang terdengar begitu menuntut. Dia hanya mengerakan tangan, kaki dan tubuhnya sesuai musik yang masuk ke indra pendengarannya. Tapi entah kenapa semua itu sesuai dengan gerakan yang Sehun keluarkan juga.

Hingga sampai pada akhirnya musik mulai terdengar melembut dan memelan, begitupun dengan Jongin dan Sehun yang kini gerakannya ikut menjadi perlahan juga. Dengan gerakan selanjutnya, Sehun membawa kedua tangan Jongin untuk dikalungkan dilehernya, kemudian dia memeluk pinggang ramping Jongin. Keduanya saling tersenyum, dan diakhiri dengan Sehun yang mengecup lembut kening Jongin.

.

.

.

Chapter 6

.

.

Minsoo menarik tangan Niel yang kewalahan mengikuti langkah besarnya dibelakang. Pemuda manis itu pasrah ketika namja didepannya ini menarik tangan kanannya sambil berlari. Dia hanya bingung harus melakukan apa? Hanya mengikuti Minsoo membawanya entah kemana, padahal acaranya pun belum selesai.

Sejak mereka turun dari panggung, Minsoo dengan seenaknya menarik tangan Niel tanpa permisi. Sedangkan Niel yang masih belum tahu apa yang terjadi hanya mengikuti pemuda tampan itu lakukan. Bahkan sampai saat ini dia duduk didalam mobil bersama dengan Minsoo disebelahnya pun dia masih belum sepenuhnya sadar.

Niel berulang kali mengerjapkan matanya dan menggelengkan kepalanya pelan, "Ki-kita mau kemana?" Tanyanya seraya menatap Minsoo yang masih sibuk menyetir.

"..." Minsoo tak menjawab pertanyaan Niel, matanya hanya terfokus pada jalan raya yang sedang dia lintasi.

"Mi-Minsoo-ssi, kau m-mau memba-bawa ku kemana?"

"Diamlah.."

Niel menelan salivanya ketika mendengar jawaban Minsoo yang cukup jelas dan dingin itu, ditambah dengan suara berat yang dia keluarkan, dan berhasil membuat Niel langsung menutup mulutnya. Dapat dia rasakan ada aura aneh yang bisa dia rasakan disini. Niel hanya berdoa didalam hati semoga tak terjadi hal buruk padanya setelah ini.

Hingga pada akhirnya mobil beroda empat itu sudah berhenti disebuah tempat parkir mobil. Niel menatap kearah luar jendela, mengintai suasana yang ada ditempat itu. Namun itu pun tak berlangsung lama karena setelahnya dia sudah melihat Minsoo keluar dari dalam mobil, Niel mengikuti pergerakan pemuda tampan itu.

Yang ternyata berjalan kearahnya, dia merasa aneh ketika Minsoo membukakan pintu mobil untuknya.

"Turun.." Titahnya. Yang langsung ditaati oleh Niel, dia segera melepaskan seatbelt dan keluar dari dalam mobil. Namun lagi-lagi belum dia bertanya, namja tampan itu kembali menarik tangannya.

"Ya ya yaa!" Niel mencoba menahan tubuhnya, tapi yang sudah diketahui kalau tubuhnya kalah dari tenaga Minsoo, meskipun tubuh mereka tidak berbeda terlalu jauh.

Sampai akhirnya mereka memasuki sebuah lobby yang cukup luas, dan berhenti disebuah meja resepsionis.

"1 untuk Lee Minsoo." Ucap Minsoo seraya menyerahkan sebuah card kepada seorang yeoja cantik yang berdiri dibelakang meja.

Niel menyadari satu hal kalau saat ini mereka sedang berada disebuah hotel, sedikit banyak dia mulai bertanya-tanya kenapa Minsoo bisa membawanya kesini?

"Baik tuan, ini Kunci kamar anda. Lantai 4 nomor kamar 88. Terima kasih!"

Minsoo mengambil card dan sebuah KeyCard yang tadi diberikan yeoja cantik bertubuh tinggi itu. Kemudian kembali menarik tangan pemuda manis ini.

"Min-Minsoo-ssi, a-aku.." Niel berusaha menarik tangan yang digenggam erat oleh Minsoo. "Tung-gu dulu, a-aku.."

Minsoo terus saja berjalan kedepan hingga mereka memasuki lift, dan segera memencet tombol 4. Pemuda tampan itu semakin lama semakin erat menggenggam pergelangan tangan Niel, yang tanpa dia sadari itu sedikit menyakiti pemuda manis ini.

Ting~

Tak lama setelah itu pintu Lift pun terbuka, mereka pun segera keluar dari ruangan tanpa jendela itu.

"Minsoo-ssi tu-tunggu dulu.." Niel menepis tangan Minsoo dengan sangat keras. Dan itu sukses membuat tangannya terlepas dari genggaman Minsoo. Niel mengusap-usap pergelangan tangannya yang sedikit memerah. Lalu menatap Minsoo dengan pandangan bingungnya. "Kenapa kau membawaku ke-kesini?"

Minsoo membalas tatapan Niel dengan pandangan dalam, "..." Namun masih tak membalas pertanyaan Niel.

"Aku mau pulang.." ucap Niel seraya memutar tubuhnya, bermaksud ingin kembali. Namun lagi-lagi Minsoo menahan tangannya.

"Aniya.."

Niel menatap Minsoo, "Waeyo? Aku yakin Jongin hyung dan Jimin pasti mencariku. Aku harus kembali."

Niel kembali menepis tangan Minsoo, dan ketika berhasil dia segera berlari menjauhi pemuda tampan ini.

Ketika baru beberapa langkah besar, Niel merasakan tubuhnya melayang keatas. "Yaakk! YAAKK!" Niel menyadari kalau Minsoo saat ini tengah mengangkat tubuhnya dipundaknya. "YAAAKK! TU-TURUNKAN AKU! MINSOO-SSI!" Niel memukul-mukul punggung Minsoo.

"Diamlah!"

"TURUNKAN AKUU! INI PENCULIKKAN! YYAAAKKK!"

Minsoo menulikan pendengarannya, tak peduli dengan teriakan Niel dan pemukulan yang Niel lakukan pada punggungnya. Dia terus saja melanjutkan jalannya dan berbelok kanan pada pertigaan. Kemudian berhenti pada sebuah pintu dengan angka 88 dipintu tersebut.

Lalu Minsoo meraih KeyCard yang dia taruh disaku celananya, untuk membuka pintu itu. Setelah pintu terbuka dia segera masuk kedalamnya dan kembali menutup pintu kayu itu.

"Agghh!" Niel memekik sakit ketika Minsoo dengan ketidak berperikemanusiaan melemparkan tubuhnya pada ranjang besar. Namja berbibir tebal ini menatap takut pada Minsoo yang berdiri didepannya. "A-apa ya-yang kau inginkan.." Niel memundurkan tubuhnya sampai terbentur ke kepala ranjang.

Dan beberapa saat kemudian mata bulatnya semakin membulat ketika dia melihat Minsoo yang sedang membuka T-Shirtnya. "Mi-Minsoo-ssi, a-apa ya-yang kau laku-kan?"

Bukannya menjawab Minsoo malah merangkak naik ke ranjang, dan itu membuat Niel sedikit ketakutan.

Minsoo menarik kaki Niel sehingga membuat pria muda ini terlentang di ranjang. Dan dengan segera Minsoo mengunci tubuh itu dibawahnya.

"Ya-yaakk!" Niel berusaha mendorong dada Minsoo agar tubuh itu menjauhinya, namun sayangnya itu tak berhasil sama sekali.

"Husttt.." Minsoo melemparkan kaca mata hitam yang dia pakai sejak tadi. Dan kini mata sipit itu tengah menatapnya. "Jangan takut, Niel.." Ucapnya lembut.

"M-Minsoo-ssi.." Niel menelan salivanya dengan berat.

"Maaf kalau aku menakutimu, aku hanya bingung harus melakukan apa?." Ujarnya. Tangan besar Minsoo terangkat untuk mengelus rambut panjang Niel (Bayangin Niel di MV Crazy yah). "Aku menyukaimu sejak awal, tapi terlalu bingung bagaimana bisa dekat dengan mu."

Tanpa disadari Niel, pipinya kini sedikit memerah mendengar penuturan namja diatasnya ini. Dia mencoba mengalihkan wajahnya dari Minsoo, namun tangan Minsoo menahan pipinya sehingga dia kembali menatap namja muda ini.

Lalu Minsoo mendaratkan sebuah kecupan pada pipi Niel yang memerah, dan mengusapnya kemudian.

"Saranghae.." dan kini bibir nya mendarat pada bibir tebal Niel. Menyesap bibir berwarna merah muda ini dengan lembut.

.

Other side~

.

Jimin berjalan dengan gelisah, bolak-balik ditempat yang sama. Tanganya terus saja sibuk dengan ponsel hitam yang terkadang dia dekatkan pada telinganya.

"Aishh! Kemana sih Niel hyung?" Gerutunya pada benda berbentuk kotak itu.

"Minnie, bagaimana? Apa Niel sudah bisa dihubungi?" Jimin menolehkan kepalanya pada seseorang yang baru saja memasuki ruangan ini.

"Belum hyung, sudah dari tadi aku menelponnya tapi tidak diangkat-angkat juga." Jawab Jimin.

Jongin, orang yang baru saja memasuki ruangan ini mendekati Jimin dan berdiri disebelah pemuda bertubuh pendek ini. "Kemana sih anak itu? Menghilang begitu saja dan sekarang tidak bisa dihubungi." Ucap Jongin.

"Bagaimana ini hyung? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Niel hyung?" Ujar Jimin penuh dengan kekhawatiran.

"Aku juga tidak tahu, tidak biasanya dia pergi tanpa kabar seperti ini. Aku juga khawatir, Minnie.." –Jongin-

"Apa kita perlu lapor polisi hyung?" –Jimin-

"Mana bisa Jimin, itu tidak akan mudah.." –Jongin-

"Lalu bagaimana hyung? Kalau Niel hyung diculik bagaimana?" –Jimin-

Jongin membalasnya dengan sebuah gelengan. Memang mereka berdua tengah gelisah ketika menyadari Niel menghilang. Mereka menyadari itu ketika pertunjukan hampir saja selesai. Jimin yang pertama kali menyadari ketidak adaan Niel, langsung melapor pada hyung tertuanya. Bahkan sampai acaranya selesaipun Niel masih belum kembali.

Jimin masih mencoba menghubungi Niel, sedangkan Jongin mencoba menelpon kerumah Niel. Yahh, mungkin saja tadi terjadi sesuatu dengan Niel dan memilih langsung pulang kerumahnya.

"Sudahlah, kalian tidak perlu khawatir.."

Jimin dan Jongin menolehkan kepala mereka ketika mendengar suara yang mereka kenal memasuki gendang telinga mereka. Dan mereka langsung melihat dua orang pria yang tengah berdiri didepan pintu.

"Apa maksudmu?" Tanya Jimin, yang tidak mengerti maksud dari salah satu pria berkulit putih pucat disana.

"Saat ini Niel sedang bersama dengan orang yang tepat." Jawab Sehun, namja berkulit putih ini.

"Ye?" Jongin dan Jimin saling berpandangan, kemudian menggeleng. "Orang yang tepat?"

Yang hanya dibalas anggukan oleh Sehun dan Jungkook.

"Maksud kalian Niel sedang bersama dengan Minsoo?" Tanya Jongin.

"Bingo!"

Jongin dan Jimin kembali saling berpandangan. Dan didetik berikutnya mereka sama-sama melebarkan kedua mata mereka.

"ANDWAEEEE!" Koor-nya.

.

.

"Eungghhh~" Desahan Niel terdengar ketika bibir sensual milik pemuda tampan itu tengah sibuk mengecupi seluruh bagian tubuh depannya. Dia merasakan geli dan hangat secara bersamaan. "Aaahhh~~" Ditambah saat ini Minsoo juga memperkerjakan lidahnya untuk menjilati bagian pusar Niel. Dan jujur saja itu terasa nikmat.

Tangan Niel dia gunakan untuk memegang kepala Minsoo, menekan kepala pemuda tampan itu untuk mempertahankan rasa nikmat dan geli yang pemuda itu berikan. Niel menundukkan kepalanya untuk melihat pekerjaan sang pemuda tampan. "Nghhh~~"

Minsoo meraih kedua tangan Niel yang masih memegangi kepalanya, dan memenjarakanya dikedua sisi kepala Niel. Dia merapatkan tubuh tak berbalutnya dengan tubuh telanjang Niel. Dan lagi-lagi mengerjai bibir tebal milik pemuda manis ini. Minsoo melumat nafsu bibir Niel, mengulumnya dan terkadang menghisapnya dengan penuh hasrat. Dia juga memasukkan lidahnya kedalam mulut Niel, dan sukses bertemu dengan lidah hangat sang empu-nya. Minsoo membelit lidah itu dan mengajaknya bermain.

"Ngghhh~~" Niel memeluk leher Minsoo, menahan Minsoo untuk bermain dengan lidahnya lebih lama.

Semakin lama lumatan itu semakin panas, mereka bahkan sudah tidak peduli dengan saliva yang mulai merembes keluar dari kedua mulut yang menyatu itu, mungkin jika mereka tidak peduli di detik berikutnya mereka berdua akan mati karna kehabisan pasokan udara di paru-paru mereka masing-masing. Minsoo dengan terpaksa melepaskan lumatan pada bibir yang kini terlihat lebih tebal dan merah dari sebelumnya.

Niel berusaha mengumpulkan pasokan udara dan mengisi paru-parunya kembali, sambil memperhatikan Minsoo yang tengah membuka kedua pahanya lebar. Dan jujur saja itu membuatnya sedikit gugup. Niel meraih tangan Minsoo, dan membuat pemuda tampan itu manatapnya bingung.

"A-aku, ak-ku ta-takut.." Cicitnya parau.

Minsoo melupakan satu hal sepertinya. Dia lupa kalau ini mungkin saja yang pertama kalinya untuk Niel. Dan bodohnya dia melupakannya. Tapi ini sudah setengah jalan kalau untuk dihentikan bukan?

Dan Minsoo memberikan sebuah senyuman lembut kepada pemuda yang ada dibawahnya. Tangannya terulur untuk penyentuh pipi lembut pria muda ini, dia mendekatkan wajahnya pada Niel sehingga mereke berhadapan, hidungnya bahkan menempel dengan hidung Niel.

"Percayalah padaku." Gumamnya lembut.

Niel menatap Minsoo yang juga sedang menatapnya, seolah-olah menyiratkan agar jangan khawatir. Namun tetap saja itu tidak cukup! Ini adalah pertama untuknya, jelas dia sangat khawatir untuk ini. Tapi saat dia melihat senyuman yang Minsoo berikan perlahan demi perlahan rasa keberaniannya muncul. Sehingga entah dari mana tiba-tiba saja dia mengangguk mengiyakan ucapan Minsoo.

Minsoo pun tersenyum melihat jawaban dari Niel meskipun hanya sebuah anggukan pelan. Dan dia memberikan sebuah kecupan di bibir tebal itu, sebagai tanda terima kasih, mungkin.

Dan Minsoo kembali membuka kedua paha Niel, dia mengecup paha bagian dalamnya dan berhasil menciptakan sebuah desahan lembut dari bibir yang sangat dia sukai ini. Minsoo memberikan hickey pada paha Niel yang masih terlihat bersih dan putih tak seperti bagian tubuh atasnya yang sudah tertutupi oleh tanda merah miliknya.

"Ssshhh~~" Desisan lagi-lagi terdengar saat Minsoo dengan sengaja menggoda Niel.

Minsoo melebarkan kedua paha Niel sehingga dia dapat melihat sebuah lubang kecil disana, dia pun tersenyum. Sedangkan Niel yang tahu apa yang sedang dilihat Minsoo memilih untuk memejamkan matanya. Sampai akhirnya dia merasakan sapuan lembut disana yang berhasil membuatnya menggelinjang geli. "Sssshhhh~~" Minsoo sedang mencoba membasahi lubang itu dengan lidah dan salivanya.

"Nngghhh..." Kini yang Niel rasakan bukan lagi sebuah sapuan lidah hangat Minsoo. Ini sama hangatnya namun berbeda, dan Niel tahu apa itu.

Niel menarik nafasnya yang terasa berat, dia meremat erat sprei dibawahnya saat tahu kini yang menggoda lubangnya adalah penis dari pemuda tampan ini. Minsoo mengosok-gosokkan kepala penisnya pada lubang Niel yang sudah cukup basah akibat salivanya.

"Uuugghhh~~~" Niel mengangkat pinggulnya ketika merasakan kepala penis Minsoo sudah memasuki lubangnya. Minsoo memegangi lutut Niel dan mencoba menenangkan pemuda manis ini. Dia masih mencoba mendorong penisnya memasuki lubang sempit ini, sekaligus memberikan elusan lembut pada paha Niel yang menegang.

"Tahan sayang.." Ucapnya guna menenangkan Niel.

Niel meremat erat sprei dan menengadahkan kepalanya keatas serta menggigit bibir bawahnya untuk meredam rasa sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya. Dia sudah bisa merasakan penis Minsoo hampir seluruhnya masuk, dan jujur ini sangat sakit jika kalian ingin tahu.

"Aaagghhhhhh~~~"

Minsoo berhasil memasukkan seluruh penisnya kedalam lubang sempit itu, dia tersenyum miris melihat saat melihat Niel yang menggigit bibirnya. Dan dia kembali mencoba menenangkan Niel, Minsoo mengecup sayang bibir Niel yang memerah, hanya kecupan.

"Aku mencintaimu.." Gumam Minsoo.

Entah itu sihir atau bukan tapi kalimat itu mampu menenangkan tubuh tegangnya. Niel berkali-kali membuang nafas beratnya sebelum dia memberikan anggukan pada Minsoo.

Dan Minsoo yang mengerti arti anggukan Niel pun ikut tersenyum. Kembali mengecup bibir Niel. Dia mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan. Mendorong penisnya agar lebih masuk kedalam lubang sempit itu.

Dia bisa merasakan cengkraman dari dinding rektum yang tengah membungkus penisnya, dan itu membuatnya merasa seperti terpijat lembut. Minsoo menyodokkan penisnya dengan tempo yang pelan dan lembut, hanya tak ingin menyakiti pemuda manis ini.

"Aaahhh ssshhhhh.." Niel yang sudah mulai terbiasa dengan benda besar dan panjang yang berada dalam lubangnya mencoba menikmati setiap gesekan antara penis Minsoo dan dinding hole-nya. "Aaaahhh~~~"

Minsoo membawa kedua kaki Niel agar memeluk lehernya, dan membuat tubuh mereka benar-benar melekat. Masih terus mendorong penisnya keluar masuk dari lubang itu, seraya mengecupi seluruh wajah Niel, karna memang wajah mereka jadi berdekatan.

"Nnnggghhhh aaahhhh~~"

Niel menengadahkan kepalanya ketika dengan tidak sengaja Minsoo menumbukkan penisnya lebih dalam dari lubangnya dan menyentuh sesuatu didalam sana sehingga membuatnya meleguh nikmat. Dia kembali memeluk leher Minsoo saat dia dengan sengaja menyentuh titik itu berulang kali. "Aaagggghhhh Min-soohhhh ssshhh~~"

Minsoo terus mengerjai lubang sempit itu, bahkan kini sodokannya sudah menambah tempo. Dia menyodok lubang itu dengan tempo yang bisa dikatakan cepat, sehingga membuat tubuh keduanya terlojak-lonjak akibat sodokan penuhnya.

"Aaaahhhh aaaggghhhhh uuhhhhh~"

"Ngghhhh~~"

"Aaaaassshhhhh hhhhggg~~"

Desahan yang sahut menyahut terdengar diseluruh penjuru ruangan ini, dan beruntunglah karna ruangan ini kedap suara jadi mereka tak perlu khawatir akan diusir oleh penghuni lainnya. Minsoo semakin semangat menggerakan pinggulnya, mendorong penisnya dengan sangat keras kedalam lubang Niel.

"Aaaahhhh Mi-Minsoohhh aaagghhhHHHHH~~"

Dan sodokan keras yang Minsoo lakukan tak bisa ditahan lagi oleh Niel, sehingga membuat pemuda manis ini memuncratkan cairan putih dari lubang penisnya. "Aaagghhhh~~" Minsoo menghentikan sodokannya. Dia membiarkan Niel menikmati masa klimaksnya, sembari dirinya menikmati pijatan dari dinding-dinding Niel.

"Hahhh hhaahhh.." Nafas Niel tersengal-sengal setelah dia mengeluarkan seluruh cairan nikmatnya yangmembasahi tubuhnya dan tubuh pemuda ber-abs sempurna ini. Minsoo tersenyum melihat Niel yang tengah menghirup udara, dia kembali mengecup pipi Niel dan kecupan itu berpindah pada kening Niel.

Minsoo mengeluarkan penisnya dari lubang Niel, dan kini terlihatlah penis tegak dan besar itu. Dia menarik tubuh Niel, dan merubah posisinya, Dia bersandar pada kepala ranjang dengan kaki yang dia selonjorkan. Minsoo membawa tubuh Niel agar menduduki tubuhnya. Niel yang mengerti pun segera berpindah tempat, dia duduk tepat diatas paha Minsoo. Niel menggenggam penis Minsoo yang masih berdiri tegak itu, dan mencoba memasuki penis itu kedalam lubangnya lagi. "Sssshhh aaahhhh..." dan berhasil memasukinya lagi dengan lancar.

Minsoo membenarkan posisi Niel, dan membiarkan Niel merasa nyaman diatasnya. Kedua tangan Niel bertumpu pada pundak kokoh Minsoo, dan mulai menggerakkan tubuhnya dengan pelan. Dibantu dengan Minsoo yang memegangi pinggulnya, membawa tubuh lemas Niel naik dan turun.

"Aaaahhhhh.."

Niel mendesah nikmat saat dengan nakalnya Minsoo memainkan nipple nya. Menghisap puting kanannya. "Aaaggghhh eeeuummmmhh~~" Bahkan bukan hanya hisapan namun sudah berubah menjadi gigitan lembut yang membuat Niel merasa geli.

Dan itu semakin membuatnya semangat untuk menaik turunkan tubuhnya, dia bahkan membusungkan dadanya agar Minsoo bisa dengan leluasa memainkan putingnya. "Aaahhh aaaahhhh aaahhhh..."

Niel menggerakkan tubuhnya, dia sudah mulai bisa menikmati kegiatan sex yang menguras tenaga ini. Niel menggoyangkan pinggulnya, dan itu sukses membuat Minsoo berdesis nikmat. Dan Niel menyukai desisan itu, sehingga dia terus menguilangi kegiatannya itu.

Minsoo yang gemas dengan Niel, meremas bokong kenyal itu. "Aaaahhh aaahhh.." Niel mendongakkan kepalanya menikmati remasan tangan besar Minsoo pada bokong telanjangnya. Padahal sebelumnya dia sangat kesal setiap kali Minsoo menyentuh apalagi meremas bokongnya, namun untuk saat ini dia sangat menyukai remasan ini. "Ssshhhh Minsoohhhh aaahhh..."

Minsoo masih setia dengan kegiatannya, menghisap nipple kanan Niel, sambil meremas gemas bokong kenyal ini, yang dihadiahi goyangan nikmat dari pemuda manis diatasnya.

Niel semakin cepat menaik turunkan tubuhnya, kedua tangannya masih berpangku pada pundak Minsoo. Bibir tebalnya tak berhenti mengeluarkan desahan-desahan nikmat nan panjang itu. Dan disaat tubuhnya mulai merasa lelah, Niel langsung memeluk leher Minsoo, sehingga gerakannya menjadi melambat.

Minsoo yang mengertipun mengambil alih komando, dia membalas pelukan Niel, lalu turun dari atas ranjang. Minsoo menggendong Niel dengan posisi Koala Hug, dan dengan penis yang masih bersarang didalam hole hangat itu, kedua tangan Minsoo yang menyelip dikedua paha Niel, sehingga dia memegangi kedua sisi paha Niel (Ngerti maksudnya? :p) . Dan membuat Niel semakin erat merengkuh leher Minsoo, tentu saja agar dia tidak terjatuh.

Minsoo mendorong pinggulnya kembali, dan membuat penisnya lagi-lagi menumbuk titik terdalam itu. Terus melakukannya dengan pelan namun tepat pada sasaran, seolah-olah Minsoo tahu dengan pasti titik itu.

"Aaaahhhh aaagghhhh..." Niel merasa dengan posisi seperti membuat penis besar milik Minsoo benar-benar masuk dan memenuhi lubangnya. Sehingga semua sisi-sisi dinding lubangnya dapat disentuh oleh kulit penis itu.

Niel semakin mengeratkan pelukannya ketika merasa sodokan yang Minsoo lakukan semakin cepat dan dalam, bahkan tubuhnya ikut terlonjak akibat sodokan hebat itu.

"Aaaahhhh aaahhhh Minsoohhhsssshhh.."

Minsoo berjalan mengelilingi ruangan ini, dan kegiatan yang dia lakukan semakin membuat penis itu semakin masuk lebih dalam lagi kedalam lubang itu. Dan berhenti tepat tak jauh dari lemari baju besar yang terdapat kaca didepan lemarnya. Minsoo memunggungi kaca tersebut sehingga Niel dengan jelas bisa melihat pantulan dirinya yang berada didalam gendongan Minsoo. Dia bahkan dengan jelas dapat melihat wajah merah dan penuh nafsu dari pantulan cermin itu.

"Aaaahhhh~~" Dan jujur saja itu membuat otaknya berfantasi liar saat melihat keadaannya saat ini.

"Jangan tutup matamu sayang.." Bisik Minsoo tepat ditelinga Niel ketika melihat Niel memejamkan matanya. Dan setelah itu membuat Niel kembali melihat pantulan dirinya pada cermin.

Niel melihat wajahnya yang memerah, bibirnya yang terbuka dan mata yang terlihat sayu. "Aaaggghhh ssshhhhh..." Fantasi itu kembali berputar. Apalagi ditambah saat mata sayunya melihat pantat Minsoo yang sedang mendorong penisnya memasuki lubangnya. "Uuuggghhhh..."

"Kau suka sayang?" Tanya Minsoo.

"..." Niel hanya mampu menjawabnya dengan sebuah desahan.

"Lihat wajahmu yang menikmatinya sayang.."

"Aaahhhh.." Niel lagi-lagi melihat pantulan wajahnya yang memang terlihat sangat menikmati kegiatan sex ini.

"Kau suka aku mendorong penisku seperti ini?"

"Aaaggghhh aaahhhh.." Niel tak bisa mengendalikan desahannya saat Minsoo lagi-lagi menyodokan penisnya sangat dalam. "Aaaahhhhssshhhh..."

Minsoo semakin bersemangat setelah mendengar alunan desahan dan desisan nikmat dari bibir seksi lelakinya ini. Dia menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan dalam, tak peduli dengan tubuh Niel yang terlonjak-lonjak akibat sodokannya itu.

"Aaaahhhh aaahhhh aaagghhhh.." Gerakannya semakin tak berirama, karna mereka berdua juga sudah tak peduli dengan tempo cepat atau lambat yang jelas saat ini mereka sedang mengejar klimaksnya masing-masing.

"Aaaaahhhh aaaahhhh..."

"Eunghhh ssshhh..."

"Aaaaahhhhh aaaggghhhh hhaaaAAAHHHHH.."

"AaagghhHHHH..."

Dan sodokkan terakhir dengan lengkingan desahan yang semakin meningkat, menandakan keduanya sudah sampai pada titik teratas mereka. Niel lagi-lagi memuncratkan spermanya pada tubuh dan perut Minsoo, sedangkan pemuda tampan ini dengan pasti menembakkan sperma hangatnya kedalam lubang sempit itu.

"Hahhh hhhaaahhh.."

"Hahhhh hhaahh.."

Deruan nafas terdengar dari keduanya, saling memperebutkan oksigen disekitar. Minsoo mengeluarkan penisnya yang sudah melemas dari dalam hole itu, tanpa merubah posisi berdirinya. Dan setelah itu, dapat dirasakan oleh Niel sesuatu yang hangat mengalir keluar dari lubangnya, dan dia tahu apa itu.

Minsoo memindahkan tubuh lemas Niel ke ranjang, membaringkan tubuh lemah itu disana, dan dia pun ikut berbaring disebelah Niel. Niel yang merasa tubuhnya benar-benar hilang tenaga, mengeluarkan tenaga terakhirnya untuk memeluk tubuh Minsoo. Minsoo pun dengan senang hati membalas pelukan hangat itu, namun sebelumnya dia meraih sebuah selimut yang sudah berantakan untuk menutupi tubuh mereka yang telanjang. Minsoo melap peluh yang membanjiri wajah manis Niel, dan terkahir dia memberikan sebuah kecupan pada kedua mata Niel yang sudah terpejam.

Dan Minsoo akhirnya menyusul Niel kedalam alam mimpi, yahh mungkin saja mereka akan melanjutkan kegiatan ini disana.. :p

.

.

.

T

B

C

.

.

.

OKE FIX!

Sebelumnya gue minta maaf atas keterlambatannya ini #bow

Niat awalnya sih abis lebaran untuk publish tapi ternyata kebentur beberapa hal, pertama; karena tiba-tiba aja idenya mentok diwaktu yang cukup lama. Kedua; giliran udah selesai ngetiknya ehh gak taunya kuota bolt-nya abis, jadi yaudah ditunda lagi. Ketiga; giliran mau beli pulsa bolt ehh baru inget kalo belum gajian, jadi yahh nunggu gajian dulu deh.. hehehe

Jadi sorry yahh yang nungguin ff gue ini, -padahal kagak ada yg nungguin- :p

Oke chap ini rada boring, tapi sabodo lahh.. ini ide udah bener2 mentok.. jadi kalo gak suka silahkan GO AWAY dari sini. Gue gak mau kalian koment ttg ketidak sukaannya pada ff gue ini. kalo udah bosen gak usah dibaca lagi..

Berikanlah komenan yang positif atau kritik yg positif biar gak mematikan semangat gue buat ngelanjutinnya lagi.. Semua author pasti gitu bro :p mereka nerima kritik atau saran yg membangun bukan yang malah menjatuhkan.. Kalo emang udah gak suka sama ceritanya mending pergi juah2 dari akun gue :p #maaf lagi emosi :D

Dan terimakasih buat kalian yang udah baca n review plus yang udah nungguin ff ini. Sorry gak bisa bales satu-satu review kalian.. pokoknya gue ngucapin terima kasih banyak buat kalian.. Khamsahamnida #bow

#Salam bibir Niel :*