Hay, ogenki desu ka? Ketemu lagi ama Fay. Yosh langsung aja terima kasih pada yang sudah mereview di chap sebelumnya : uzumaki 'namikaze' piiu chan, gici love sasunaru, snluv, michhhazz, Uchkaze Ammy, kuro SNL, Neko chan, arashilovesn, guest, retnoelf, Lhiae932, Eveus De Nymph, dan 3 guest lainnya.

Makasih atas reviewnya, yang nanya Sasuke jago bela diri atau tidak, Sasuke masih belum jago karena dia masih anak SMP. Buat pertanyaan lainnya awabannya bisa langsung baca aja chap 2 nya, pertanyaan kalian akan terjawab disini. Terima kasih juga bagi yang favo dan follow. Terima kasih atas segala apresiasi kalian. Langsung saja.

.
.

Jawaban

.
.

Disclaimer : Naruto selamanya akan menjadi milik MK. Kalau Naruto milik Fay SasuNaru pasti udah nikah.

.
.

Heart No kakurega : Natsume Isaku

.
.

Warning : yaoi, Shounen ai, BL , boy x boy, AU, gaje, abal, typo/miss typo, diksi berantakan, OOC, alur lambat dll.

.
.

Fay harap kalian perhatikan waktu dan plot nya agar kalian paham dengan ceritaku.

.
.

Hampir-hampir aku tak percaya dengan tindakanku sendiri, mengizinkan seorang bocah SMP yang baru kukenal menginap di apartemenku, bocah yang bahkan bukan saudara atau temanku. Berbagi selimut dan futonku berdua dengannya. Setelah sebelumnya aku berbagi ramen saat makan malam yang hanya seporsi (karena aku tidak mungkin memberikan ramen jatah ibu padanya). Bahkan sekarang aku meminjaminya piyamaku, karena bocah ini benar-benar mirip gelandangan yang tidak punya baju ganti selain seragam sekolahnya. Aku sendiri merasa aneh kenapa aku jadi sebaik ini pada orang asing?

Jika kuingat lagi, bocah Uchiha ini agak memaksa saat tadi dia meminta izin menginap padaku. Dia bilang hanya untuk malam ini saja karena keadaannya sangat mendesak. Aku sempat menyuruhnya pulang, mengingat rumahnya tidak jauh dari sini. Tapi dia tidak mau pulang, dan memilih tidur di jalanan jika tidak diizinkan menginap.

"Apa kau tidak punya teman atau pacar, begitu? Yang bisa kau mintai tolong untuk manampungmu? Kenapa kau malah datang padaku?" Aku mengajukan keberatanku.

"Aku tidak punya satupun teman apalagi pacar. Dan hanya kau yang terlintas di pikiranku. Aku yakin kau pasti mau menolongku. Hanya malam ini saja, tapi kalau kau keberatan tidak apa-apa, aku bisa tidur di bangku taman atau di emperan toko."

Dengan helaan nafas lelah aku terpaksa mengizinkannya, aku tidak mungkin tega membiarkan bocah dibawah umur sepertinya tidur di jalanan atau di emperan toko. Dia bisa jadi sasaran tindak kejahatan, dipalak mungkin masih lebih baik, tapi bagaimana jika sampai diculik atau dijual? Mengingat dia anak seorang politisi, dan tampang bocah Uchiha ini tidak jelek. Meski aku tidak tau kenapa bocah ini tidak mau pulang dan memilih tidur di jalanan, bisa kusimpulkan jika dia sedang kabur dari rumah. Aku sempat takut jika orang tua anak ini mencarinya karena dia tidak ada dirumah. Aku sudah bertanya padanya apakah dia sudah izin pada orang tuanya, dia hanya bilang tidak perlu izin, toh orang tuanya tidak akan peduli.

"Sebenarnya, kau ada masalah apa sih sama keluargamu? Kenapa kau sampai tidak mau pulang?" tanyaku saat kami berbaring di futon. Kulirik dia yang berbaring di sebelahku tengah menatap langit-langit kusam di kamarku.

Mungkin dia tidak berniat menjawab. Dia terdiam cukup lama, sampai aku hampir tertidur. "Maaf aku sudah merepotkanmu dan juga bibi. Mengenai masalahku dengan keluargaku aku tidak bisa cerita. Tapi aku sangat berterima kasih karena diizinkan menginap malam ini."

Kelopak mataku yang hampir terpejam membuka kembali saat dia menjawab, kulihat dia sudah berbaring memunggungiku. "Ya sudah kalau tidak mau cerita, tidak apa-apa. Aku tidak bermaksud ikut campur masalahmu. Aku hanya tidak mau terjadi masalah nantinya karena menampungmu disini. Menampung anak yang kabur dari rumah itu, bisa-bisa aku dituduh menculikmu," aku menguap lebar setelah selesai bicara.

"Tidak akan ada yang berani menuduhmu. Aku yang akan menjaminnya. Lagi pula ini bukan pertama kalinya aku tidak tidur dirumah," gumamnya.

"Eh? Jadi kau sering kabur dari rumah, begitu?" Aku cukup terkejut mendengar kata-katanya. Anak ini punya hobi kabur rupanya.

"Ya," dia menjeda. "Tapi jangan khawatir, besok aku akan kembali kerumah lagi. Hanya malam ini saja aku menginap disini," sambungnya.

"Baiklah, berjanjilah kau akan kembali ke rumahmu besok." Aku menarik selimut sampai sebatas dadaku.

"Iya aku janji. Oyasuminasai."

Aku membalikkan badanku dan memunggunginya. "Oyasumi."

.
.

- - - o0o - - - o0o - - - o0o - - - o0o - - -

.
.

Dia menepati janjinya, esoknya dia benar-benar pulang kerumah megahnya. Tapi entah kenapa semenjak kejadian itu dia jadi sering menemuiku. Dia sering menungguku di perempatan kompleks saat aku pulang kerja dan sering mengunjungi apartemenku. Ibuku tidak pernah keberatan jika dia main ke aparteman kami. Ibu justru merasa senang karena aku punya teman, dan dia merasa seperti punya anak satu lagi. Aku hanya memutar bola mataku saat ibuku bilang begitu. Ibuku memang kesepian, beliau pernah bilang seandainya punya anak satu lagi, pasti beliau ada yang menemani. Aku terlalu sibuk bekerja dan hanya ada dirumah saat malam hari. Wajar jika ibuku kesepian. Sementara ibuku tidak kuizinkan bekerja diluar beliau sudah tua dan punya penyakit asma. Ibuku hanya bekerja dirumah sebagai tenaga lepas penjahit mata boneka, dan membuat kue untuk dijual.

Sasuke sendiri terlihat senang, bahkan dia pernah bilang padaku dia sudah menganggap ibuku seperti ibu kandungnya sendiri. Sasuke kadang datang 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Dan dengan intensitas kunjungannya yang terlalu sering itu, hubungan kami semakin dekat. Aku sendiri sudah menganggapnya sebagai adikku, aku merasa punya saudara baru.

Kurang lebih 2 bulan setelah kejadian itu. Suatu hari tiba-tiba dia datang ke apartemen dengan kondisi kepala di perban juga beberapa lebam di wajahnya. Saat itu aku sedang libur kerja dan ibuku tidak ada dirumah karena sedang cek up kesehatan ke klinik Dokter Tsunade. Aku yang sedang menjahit mata boneka-menggantikan ibu- terkejut melihat kondisinya. Sepertinya dia habis berkelahi.

"Kau kenapa, Sasuke?" Aku memapahnya duduk di ruang tamu karena kulihat jalannya sedikit pincang.

"Aku habis di keroyok." Sasuke menyandarkan punggungnya bantalan sofa dengan sedikit kasar.

"Apa? Siapa yang mengeroyokmu? Apa anak-anak SMP yang dulu memalakmu itu?" Aku menyodorkan air minum padanya yang segera di teguknya sampai habis.

"Bukan," Sasuke meletakkan gelas kosong ke meja.

"Lalu?"

"Aku di keroyok bodyguard kakekku."

"EH?!"

Malam itu Sasuke kembali tidur di futonku. Kembali berbagi selimut denganku dan kembali memakai bajuku. Dia kabur lagi dari rumah dan untuk pertama kalinya setelah 2 bulan, dia mau bercerita masalahnya padaku.

Sasuke hidup di bawah asuhan yang keras dari kakeknya, Uchiha Madara. Sejak kecil kehidupannya sudah diatur sedemikian rupa. Mulai dari cara makan sampai sekolahnya, hal-hal sekecil apapun semuanya diatur. Bukan hanya dia bahkan ayah dan kakaknya, Uchiha Itachi juga diperlakukan sama. Semua keluarga harus tunduk di bawah aturan ketat kakeknya, atau namanya akan dicoret dari daftar keluarga.

Hari ini dia di keroyok bodyguard kakeknya karena menolak ditunangkan dengan seorang gadis pilihan kakeknya. Dia kabur dan dihadang oleh bodyguard suruhan kakeknya itu, lalu terjadilah baku hantam yang membuat Sasuke babak belur. Sasuke bilang ini sudah kedua kalinya dia dipaksa bertunangan. Pertunangan pertama saat dia kabur dan menginap di rumahku 2 bulan yang lalu. Sasuke merutuk, dia bahkan masih 15 tahun dan dipaksa harus bertunangan dengan gadis yang tidak dia kenal, hanya demi hubungan politik. Demi memuluskan jalan bagi ayahnya di parlement. Dia jelas menolak keras pertunangan itu, apalagi pertunangan itu perkara besar yang menyangkut masa depan, tidak mungkin dia lakukan dengan sembarangan.

Kami sedang berbaring bersebelahan di futon saat Sasuke mulai bercerita. "Sejak setahun yang lalu aku sering memberontak dan kabur dari rumah. Aku tidur di sembarang tempat bahkan tak jarang di emperan toko atau di bangku taman. Dimanapun asal tidak dirumah itu. Aku sering berbuat onar, berkelahi dan membolos sebagai bentuk pemberontakanku karena aku sudah muak. Aku tidak mau di kekang! Orang tua dan kakakku tidak bisa berbuat apapun, alih-alih membelaku. Mereka hanya membiarkanku berbuat semauku. Tapi kakek tua sialan itu tetap saja memaksakan kehendaknya dan tidak memberiku kebebasan. Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan semua ini!"

Aku berbaring memandangi langit-langit kamarku, Sasuke meneruskan ceritanya.

"Sudah beberapa bulan ini aku tidak pernah makan lagi dirumah, dan aku hanya makan makanan instan atau bento murahan yang dijual di toko. Aku makan apa saja, asal perutku terisi dan aku tetap hidup."

"Eh? Pantas saja kau kurus sekali, lihat saja." tanpa sadar aku memeluk tubuhnya mencoba mengecek seberapa kurus tubuh itu. Tiba-tiba Sasuke menegang, wajahnya memucat. "Eh? Kenapa tegang begitu?"

"Lepasin!"

"Ahahah... kenapa kau kaget begitu? Aku kan cuma mau mengecek seberapa kurus tubuhmu." Aku tertawa melihat wajahnya yang merah padam.

"Tolong lepaskan aku. Aku tidak terbiasa disentuh atau menyentuh."

Aku mengernyit. Melepaskan pelukanku. "Lhoh? Bukannya orang tuamu sering menyentuhmu?"

"Tidak. Mereka tidak pernah, kau tau hubunganku dengan keluargaku tidak terlalu baik. Mungkin hanya ibuku tapi itu saat aku masih kecil."

"Begitu? Lalu sama pacarmu?"

Dia menatapku dengan tatapan kesal. "Aku kan sudah bilang aku tidak punya pacar dan aku juga belum pernah pacaran. Aku tidak mengerti hal-hal seperti itu."

Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Eh? Belum pernah pacaran? Souka?"

Dia kembali menatapku jengkel. "Ya sudah kalau tidak percaya, kenapa juga aku harus meyakinkanmu."

"Ahahah... jangan ngambek. Aku hanya tidak menyangka saja untuk bocah yang lumayan tampan sepertimu ternyata belum pernah pacaran." Aku tertawa saat melihat dia salah tingkah.

"Cih, aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Buang-buang waktu. Apa sekarang bisa kulanjutkan ceritaku?"

"Baiklah, lanjutkan saja." Aku kembali berbaring menyimak ceritanya.

"Seperti kubilang, aku sudah tidak pernah makan dirumah, pulangpun jarang. Aku tidak tahan lagi hidup dalam tekanan. Ingin rasanya aku keluar dari rumah itu. Dan juga meski ibuku sering memberiku uang jatah setiap bulan tapi jarang kupakai. Aku hanya memakainya saat aku benar-benar terdesak saja. Dirumah itu hanya ibuku yang peduli padaku. Beliau yang paling mengerti segala tindakanku. Tapi ayah dan kakakku tidak pernah peduli. Yang mereka pedulika hanya kerja dan menuruti keinginan kakek tua sialan itu tanpa bisa melawan. Mereka terlalu takut di keluarkan dari keluarga Uchiha."

Kulipat tanganku di belakang kepala, sapphireku memandang kearahnya. "Jadi itu alasan kenapa kau kabur? Bisa kumengerti, sih ... kalau aku jadi kau aku juga pasti tidak bisa bertahan. Rasanya pasti ingin mencari pelampiasan dan berbuat masalah. Sampai mereka mau mengerti dan memahami kita."

Ekspresi Sasuke menyiratkan kekagetan, sebelum menatapku lekat. "Apa kau tau, Naruto? Kau satu-satunya orang yang pernah bilang begitu padaku. Semua orang di sekolah dan dirumahku selalu bilang akulah yang salah. Akulah yang nakal. Mereka hanya bisa menghakimiku tanpa bisa mengerti dan memahami alasan aku berbuat seperti ini."

Aku tersenyum. "Benarkah? Jujur sebenarnya aku tidak pernah menyangka kehidupan orang kaya akan serumit itu. Aku jadi merasa bersyukur karena meski aku hidup pas-pasan tapi aku bebas dan tidak terkekang sepertimu. Tapi kalau aku boleh menyarankan sebaiknya kamu jangan kabur-kaburan seperti ini terus. Kamu tidak bisa selamanya begini terus, Sasuke. Sebaiknya bicarakan baik-baik dengan seluruh anggota keluargamu mungkin mereka bisa mengerti keinginanmu."

Sasuke memiringkan tubuhnya kearahku. "Kau pikir aku belum pernah melakukannya? Sudah puluhan kali aku membicarakan ini dengan mereka tapi tidak merubah keadaan. Semua orang dirumah terlalu tunduk pada kakek tua sialan itu. Rasanya aku ingin selamanya keluar dari sana. Kalau bukan karena ibuku yang selalu menangisiku dan memintaku pulang, aku tidak sudi menginjakkan kaki di rumah itu lagi."

Sesaat aku diam, lalu kubalikkan badanku menghadapnya hingga jarak wajah kami begitu dekat. Iris kami bertubrukan. "Kalau begitu kenapa kau tidak mencoba hidup mandiri saja? Menyewa flat atau apartemen murah lalu mencari kerja sambil sekolah. Daripada kau kabur-kaburan terus atau menggelandang di jalan. Hidup mandiri jauh lebih baik dan kau juga bisa bebas dari aturan kakekmu."

Sungguh, aku bukannya ingin memberinya pengaruh buruk. Tapi melihat dia selalu kabur, bolos, dan berbuat onar hanya akan membuat masa depannya hancur. Jadi aku sarankan solusi yang lebih baik. Sasuke hanya terdiam, mutiara hitamnya menatapku dalam. Seolah sedang memikirkan sesuatu. Tak ada lagi percakapan setelah itu, masih dalam posisi berhadapan dengannya, aku memejamkan mataku lalu terlelap ke alam mimpi.

.
.

~ o0o ~ o0o FayRin D Fluorite o0o ~ o0o ~

.
.

Seminggu setelah itu dia tidak menampakkan diri. Biasanya dalam beberapa hari dia main ke apartemen atau menungguku di perempatan kompleks saat pulang kerja. Aku tidak berfikiran macam-macam, mungkin dia dikurung kakeknya atau semacamnya mengingat seminggu yang lalu dia kabur dari rumah. Walau bagaimana pun dia itu anak orang terpandang, bukan?

Tapi siang ini tiba-tiba dia datang ke apartemenku lagi, membawa sekoper pakaian. Aku tidak bisa menyembunyikan keherananku melihat tingkahnya. Dia mau pindah kemari atau bagaimana?

Aku hanya bisa mengangkat sebelah alisku saat dia berkata, "temani aku mencari flat murah."

Pada akhirnya siang itu aku menemaninya mencari flat murah di sekitar kompleks. Dia bilang dia sudah dapat kerja sambilan jadi buruh pindahan di sebuah biro. Karena dia masih SMP hanya pekerjaan itulah yang bisa dia dapat dan dia menerimanya dengan senang hati. Kami mendapatkan flat murah yang hanya terdiri dari 2 ruangan, di blok A yang tidak terlalu jauh dari apartemenku di blok B. Flat itu yang paling murah dan paling kecil disana, hanya ada ruang tamu kecil, sebuah kamar tidur dan kamar mandi. Tapi dia tidak keberatan meskipun flatnya kecil asalkan bisa tidur. Sebenarnya aku cukup terkejut dia mau tinggal disana, mengingat gaya hidupnya pasti mewah untuk ukuran anak orang kaya. Seharusnya dia menyewa apartemen mewah bukan flat murahan seperti ini, bukan? Tapi dalam hati aku senang dia menuruti saranku. Dengan begini paling tidak, dia tidak akan menggelandang di jalanan lagi atau kabur dari rumah.

"Apa orang tuamu tau kau keluar dari rumah?" tanyaku saat aku membantunya pindah ke flatnya.

"Hanya ibuku yang tau, beliau tidak keberatan bahkan beliau memberiku uang untuk membayar sewa flat." Sasuke sibuk menata pakaiannya di lemari kecil satu pintu yang ada di flat itu.

Aku membantunya menata barang-barang yang tidak seberapa banyak. Sasuke bahkan tidak punya meja dan kursi. "Apa kakekmu tidak apa-apa kau tinggal disini?"

Sasuke menggelar futon dan menata bantal untuk 2 orang. "Dia tidak akan peduli dengan anggota keluarga yang suka melawan. Hanya keluarga yang mau menuruti keinginannya saja yang dianggap. Begitu pula ayah dan kakakku, yang mereka pikirkan hanya kerja dan uang. Mereka bahkan berniat mengeluarkanku dari kartu keluarga kalau aku memberontak terus. Jadi sekalian saja. Oh ya, malam ini maukah kau menginap disini?"

Akhirnya, malam itu aku giliran aku yang menginap di flatnya.

Dan begitulah, hari-hari setelah itu. Sasuke hidup mandiri dan tinggal sendiri di flat murahnya. Meski kadang dia masih pulang kerumahnya seminggu sekali menemui ibunya. Aku dengar dia sudah tidak pernah berbuat onar lagi atau keluyuran malam-malam memakai gakuran. Dia sudah jarang berkelahi atau menggelandang di jalanan. Dia berubah sedikit demi sedikit, menjadi lebih dewasa, bekerja sambil sekolah. Hidupnya juga makin teratur. Sesekali dia main ke apartemenku.

"Wah... ternyata nak Sasuke. Apa ini? Kok repot-repot." Ibuku menyambut kedatangan Sasuke di ambang pintu apartemenku, suatu malam saat Sasuke berkunjung.

"Tidak repot kok bibi. Hanya okonomiyaki*, kebetulan hari ini aku gajian jadi aku bawakan oleh-oleh," ucap Sasuke, irisnya memandangku yang tengah duduk di ruang tamu, menjahit mata boneka. Dan malam itu dia menginap lagi di apartemenku untuk kesekian kalinya.

Itu hanya salah satu kunjungan Sasuke dari sekian banyak kunjungannya. Kami bertiga (aku, Sasuke dan ibuku) sering menghabiskan waktu makan malam bersama di apartemen sederhanaku, layaknya sebuah keluarga.

.
.

- - - o0o - - - o0o - - - o0o - - - o0o - - -

.
.

6 bulan berlalu sejak dia pindah ke flat itu. Tanpa terasa ujian kelulusan sudah tiba di depan mata. Aku harus menghadapi ujian kelulusan SMA, begitupun Sasuke yang menghadapi ujian kelulusan SMP. Sasuke sangat cerdas, meski hidupnya terkesan berantakan dia bisa lulus dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Sedangkan aku lulus dengan peringkat 5 besar. Prestasi yang cukup membanggakan. Aku memang belajar keras agar aku mendapatkan bea siswa ke jenjang universitas. Aku ingin memiliki pekerjaan yang lebih baik agar ibu bisa cepat istirahat dan tidak perlu bekerja lagi. Aku mulai pindah dari Konoha ke Tokyo untuk kuliah, aku mengambil D3 jurusan farmasi bukan S1 agar lebih cepat lulus dan cepat kerja.

Aku menyewa flat yang lumayan besar meski cukup tua, yang dekat dengan kampusku di Tokyo. Ibu kota memang berbeda, kehidupan disini begitu keras. Meski flat yang kusewa cukup murah tapi biaya hidup disini sangat mahal. Karena itulah aku kuliah sambil kerja untuk meringankan beban ibuku. Aku bekerja di sebuah apotik dengan gaji yang lumayan.

Jarak Tokyo ke kampung halamanku hanya 2 jam jika naik kereta cepat, Shinkansen dan 4 jam jika naik kereta biasa. Aku pulang ke Konoha tiap 2 bulan sekali untuk mengunjungi ibuku.

Hari itu aku pulang ke Konoha, entah sejak kapan kebiasaan ini dimulai, tapi tiap kali aku pulang pasti Sasuke selalu menjemputku di stasiun. Tanpa terasa sudah 2 tahun aku kuliah di Tokyo, sekarang aku sudah semester 4. Aku melihat Sasuke makin hari makin tampan dan dewasa, aku yakin dia pasti jadi idola gadis-gadis di sekolahnya. Dan mungkin sekarang dia sudah memiliki pacar. Tapi saat aku tanyakan, lagi-lagi aku dibuat heran karena dia masih tidak punya pacar dan tidak tertarik pacaran. Entah apa yang Sasuke pikirkan, mungkin dia hanya terlalu sibuk sampai malas pacaran.

Aku melihatnya dengan jelas sosoknya yang kini, terlihat berbeda dari sosoknya saat masih SMP dulu. Sekarang Sasuke sudah duduk dibangku kelas 2 SMA. Kulitnya masih pucat, onyx nya masih tajam, ekspresinya masih sedatar yang dulu, model rambutnya juga masih sama tapi sekarang dia terlihat lebih bongsor, tubuhnya tegap dan gagah tidak seperti Sasuke yang dulu dimana tubuhnya begitu kurus dan kecil. Bahkan kini tingginya sudah melebihi tinggiku. Bagaimana mungkin tinggiku disaingi oleh bocah ingusan ini? Aku mendengus kesal.

"Kau makin tinggi saja, bocah." Aku mengacak surai ravennya sama seperti kebiasaanku dulu, meski sekarang aku harus agak mendongak karena dia lebih tinggi.

Tubuh Sasuke terlihat menegang saat aku mengacak rambutnya. Oh, kebiasaan lamanya masih sama rupanya. Masih tidak biasa disentuh dan menyentuh, eh? Dia menepis pelan tanganku. "Jangan perlakukan aku seperti bocah, dobe. Aku bukan anak kecil. Aku sudah 17 tahun."

Apa dia bilang? Dobe? Sejak kapan anak kurang ajar ini mengubah panggilannya padaku?

"Kau panggil aku apa, teme? Sejak kapan kau berani memanggilku dobe? Lagi pula apa salahnya mengacak rambutmu? Bagiku kau tetaplah adik kecilku yang manis." Aku mencubit pipi putihnya yang entah kenapa ada semburat merah disana.

"Hentikan! Aku tidak manis dan aku bukan adik kecilmu. Ayo kita pulang, bibi sudah menunggumu." Sasuke membawakan tasku.

Aku sangat terkejut begitu sampai di apartemenku. Aku melihat ibuku berbaring lemah di ranjang. Aku merasa marah, kenapa tidak ada seorangpun yang mengabariku jika ibuku sedang sakit? Penyakit asmanya makin bertambah parah. Sasuke minta maaf padaku, dia bilang ibuku melarangnya memberitahuku. Ibuku sengaja tidak mengabariku keadaan yang sebenarnya agar aku tak khawatir dan menganggu kuliahku. Aku segera membawanya cek up ke rumah sakit dan Sasuke setia menemani kami.

Keesokan harinya aku kembali ke Tokyo dengan perasaan cemas. Aku sebenarnya tidak tega meninggalkan ibuku dalam keadaan sakit seperti itu. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak karena aku tidak bisa mengambil cuti, dan besok aku harus kembali masuk kuliah. Sasuke berjanji akan menjaga ibuku. Dia bahkan sampai rela menginap di apartemenku. Aku jadi sedikit lega karena ada Sasuke yang bersedia merawat ibuku. Selama 2 minggu penuh aku tidak pernah berhenti mengontaknya siang malam, untuk menanyakan kesehatan ibuku.

Hingga suatu saat, di hari yang mendung ... aku dikabari bahwa ibuku telah tiada.

.
.

TBC

.
.

* Okonomiyaki : makanan jepang dengan bahan tepung terigu yang diencerkan dengan air atau dashi (kaldu ikan) ditambah kol, telur ayam, atau makanan laut yang digoreng diatas penggorengan datar yang disebut teppan.

.
.

Semoga kalian bisa memahami ceritaku. Aku memakai sudut pandang orang pertama ; Naruto, karena dia tokoh utama dalam cerita ini. Dan lebih banyak memakai diskripsi dari pada dialog. Aku juga memakai alur yang cepat. Kalau tidak jeli membaca alur dan waktunya kalian mungkin bingung / tidak paham. Tapi semoga kalian bisa paham dan suka.

.
.

AN : TOLONG DIBACA.

Seperti biasa Fay menunggu apresiasi kalian baik review, fav atau follow. Fay tidak pernah memasang target jumlah review. Tapi Fay sekali lagi minta TOLONG bagi yang review JANGAN HANYA kata NEXT atau LANJUT saja ya...

Fay punya alasan kenapa Fay minta hal seperti itu. Bukannya Fay sombong, cari sensasi, minta pujian, atau cuma pengen direview panjang. Tidak sama sekali. Fay punya tujuan lain. Fay mau kasih tau sesuatu sama kalian. Apa kalian tau? Fandom SN itu penyumbang terbesar reviewer yang hanya ninggalin next/ lanjut saja di kotak review? Coba kalian lihat di fandom lain kayak NS, atau fandom straigth(SH, NH, SS), kalian bakal jarang nemu review next/lanjut di kotak review kalaupun ada jumlahnya tidak sebanyak di SN. Fay sering bertanya-tanya kenapa ya kok fandom SN seperti ini? Padahal di fandom lain nggak. Bisa nggak ya kebiasaan SNL diubah? Fay sering berfikir seperti ini.

Fay juga menulis di fandom pinggiran dan disana tidak ada satupun yang pernah review next/lanjut saja. Hal ini membuat fandom SN dianggap fandom dengan reviewer paling tidak kreatif (ini berdasar pembicaraan Fay ama temen-temen fandom lain) dan Fay tidak mau fandom SN dianggap seperti itu. Fay cuma berharap kalian LEBIH EKSPRESIF dalam mereview. Tidak menggantungkan diri pada kata next/ lanjut saja. Tapi lebih bisa mengeksplor kata-kata lain. Fay tau jika kata next atau lanjut itu bentuk ansusiasme reader terhadap fic yang dia baca. Tapi bukankah ada begitu banyak kata selain kata itu untuk mengungkapkan antusiasme kalian? Semua ini bukan untuk kepentingan Fay kok, tapi buat kepentingan seluruh fandom SN lovers. Ayo SNL cobalah lebih kreatif dalam mereview, okey? Coba berubah sedikit demi sedikit bukan cuma di fic ini saja tapi di fic author lain juga.

Cobalah berkata-kata lebih panjang. Bisa kritikan atau saran. Klo misalnya bingung mau ngomong apa, karena gak bisa ngritik atau saran berikan saja kata-kata penyemangat atau kesan/ pendapat kalian. Misal menurut kalian ficnya bagus atau kurang bagus, kalian suka atau kurang suka, menarik atau kurang menarik, penasaran atau kurang penasaran atau kata-kata lain, pokoknya lebih panjang dari sekedar next/lanjut, Okey ^^d Ayo tunjukin klo SNL itu kreatif.

Percaya deh... Fay butuh keberanian dan mental lebih ngomong seperti ini :" D karena mungkin nantinya bakal ada pro kontra. Atau malah menuai flame atau dianggap cari sensasi. Tapi gpp Fay sudah siap dengan konsekuensinya. Niat Fay baik, yang penting Fay sudah mencoba. Mengenai kalian mau nurutin Fay atau tidak, semua terserah kalian Fay tidak memaksa. Fay gak akan ngancam gak akan update fic jika reviewnya cuma next/lanjut kok :3

Yang penting kalian tau tujuan dan alasan Fay apa. Kalau menurut kalian Fay salah, terlalu memaksakan kehendak atau ada kata-kata yang menyinggung Fay mohon maaf. Fay sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Fay cuma pengen SNL lebih peduli terutama yang biasa cuma ninggalin next atau lanjut saja di kotak review untuk sedikit mengubah kebiasaan. Mungkin ada yang setuju/ ada yang tidak semua itu hak kalian.

Itu aja cuap-cuap dari Fay. Terakhir, terima kasih sudah membaca dan memberi atensi ^^

29 mei 2016