JNJ's Love

Chapter 6 A

Cast :

- Kim Jongin 'EXO'

- Ahn Daniel 'Teen Top'

- Park Jimin 'BTS'

- Lee (Oh) Sehun 'EXO'

- Lee (Bang) Minsoo 'Teen Top'

- Lee (Jeon) Jungkook 'BTS'

Genre : Romance, School Life, Drama

Rated : T

WARNING : ALUR CEPAT, MAINSTREAN, TYPO, dll.

Happy reading guys...

.

.

.

"APAA!"
Suara lengkingan begitu terdengar dari sebuah halaman belakang sekolah, pekikan tinggi menandakan arti kaget didalamnya. Dan kita bisa melihat tiga murid yang sedang menghabiskan waktu mereka dihalaman sekolah ini.
"A-apa aku ti-tidak salah dengar?" Salah satu siswa dari mereka menggelengkan kepalanya tak percaya didepan seorang murid lainnya yang sedang duduk dipohon tumbang disana. Siswa yang berdiri didepannya lagi-lagi memberikan tatapan tak percaya.

"Hyung, maafkan aku.." Sesal siswa yang duduk diatas batang pohon.

"Niel, apa kau gila, eoh? Kau melakukannya dengan Lee Minsoo itu.."

Satu orang siswa lagi yang berdiri tak jauh dari mereka hanya memandang bingung pada kedua orang yang sedang ber'diskusi' itu.
Niel, siswa yang duduk dipohon menarik siswa yang berdiri didepannya dan membawa pemuda Tan itu untuk duduk disebelahnya.

"Hyuuung~~, Jongin hyung, maafkaan kau.." Niel bergelayut manja dilengan siswa yang tadi dia panggil Jongin itu.

Dan Jongin mencoba menenangkan dirinya, dia membuang nafas beratnya berkali-kali. Sebelum akhirnya menatap Niel. "Ceritakan padaku.." Ucapnya. "Semuanya.."

Niel membalas memandang Jongin, dia menggigit bibir bawahnya. "Eumm.. Se-setelah aku dan Minsoo turun dari panggung, dia langsung menarikku keluar sekolah. Aku juga kaget hyung saat dia membawaku masuk kedalam mobilnya. Setelah aku tersadar ternyata kami sudah berada dihotel." Jawab Niel.

"Lalu?"

"Aku sudah bilang kalau aku ingin pulang tapi dia malah menahanku. Jadi aku putuskan untuk berlari dan kabur. Tapi baru beberapa langkah tiba-tida dia menggendongku dipundaknya dan langsung membawaku masuk kedalam kamar hotel." Lanjutnya.

"Kenapa kau tidak teriak, eoh?"

"Tentu saja sudah aku lakukan.." Balas Niel.

"Dan?"

"Tetap saja dia membawaku kedalam kamar. Dan setelahnya yahh begitu hyung." Jawab Niel seraya menatap mata Jongin seolah berkata 'You know what i mean, right?'.

"Dasar sialan! Namja itu memang butuh pelajaran.." Jongin langsung turun dari batang pohon dan berjalan cepat meninggalkan halaman belakang sekolah.

"Hyuuung~" Jimin, siswa yang sedak tadi berdiam diri langsung mengejar hyung-nya, bersama dengan Niel.
Mereka berlari mengejar Jongin yang sudah jauh didepan mereka. Jika Jongin tidak dihentikan mungkin akan terjadi keributan disekokah ini. Karna Jongin itu sama dengan mereka –Jimin dan Niel- yang tidak akan tinggal diam jika salah satu saudara mereka tersakiti. Ditambah Jongin adalah sang tetua, dan masalah yang ini berbeda dengan masalah-masalah sebelumnya. 'Tersakiti' dalam artian yang lain.

Jongin mendekati sekumpulan namja yang sedang asik menikmati minuman kaleng dan cemilan mereka. Pemuda Tan itu kini malah sudah ada didepan mereka dengan tatapan pembunuh. Lebih tepatnya tatapan itu dia tujukan pada seorang pemuda yang memakai kacamata hitam.
Sedangkan ketiga namja yang berkumpul itu menatap bersamaan pada Jongin. Sampai satu diantara menyeletuk. "Wow.. Kita kedatangan tamu.."

'Plakk'

"HYUUUNG!"
Niel dan Jimin berteriak kaget, ketika dengan ketidak berperikemanusiaan Jongin menampar pipi Minsoo didepan mereka. Mereka kaget bukan main dengan apa yang baru saja dilakukan oleh kakak mereka, bahkan Sehun dan Jungkook pun tak kalah kagetnya, mereka pun langsung menghampiri Jongin. Mereka melihat Minsoo, ingin tahu reaksi yang akan dikeluarkan pemuda tampan itu.

"Hyung.." Niel meraih lengan Jongin.
Namun yang mereka lihat malah Minsoo yang tersenyum kearah Jongin, dia memegangi pipi kirinya yang baru saja mendapatkan 'ciuman' dari sahabat jauhnya itu. Kemudian menatap Niel yang juga sedang menatapnya, lalu pemuda manis itu tertunduk.
"Apa yang kau lakukan pada Niel kemarin, eoh?!" Tanya Jongin dengan nada sinis.

Minsoo membalas tatapan mematikan yang Jongin keluarkan. "Tsk! Memangnya kenapa?"

"Mwoya! Kenapa katamu? Brengsekk!" Jongin baru saja ingin menampar Minsoo untuk kedua kalinya, namun kali ini tangannya ditahan oleh Niel yang berdiri disampingnya.

"Hyung, jangaaann.."

Jongin menepis tangannya yang dipegang Niel, lalu menatap pemuda berbibir tebal itu dengan pandangan kesal. "YAKK! Kau ini bodoh atau apa, eoh?"

Niel memandang melas, "Hyuuung.." Dia sendiri sangat takut dengan kemarahan hyung nya ini.

"Dia itu telah memperkosamu, tapi kenapa kau membelanya, eoh?!" Ucap Jongin.

Niel kembali menunduk, Jongin benar, kemarin bisa saja kan disebut pemerkosaan karna Minsoo sudah menyeretnya kedalam hotel. Tapi apa masih bisa dibilang itu tindak pemerkosaan? Sedangkan korbannya saja sangat menikmati kegiatan itu?
Niel masih sibuk dengan pemikirannya, sampai akhirnya dia meresa kaget karna dengan tiba-tiba seseorang sedang merangkul pinggangnya. Dia langsung menengok untuk melihat pemilik tangan itu. Dan mendapati Minsoo yang sudah berdiri disampingnya.
"Jangan mengatai kekasihku bodoh.." Ujar Minsoo dengan nada suara yang pelan, dia tidak marah hanya tidak suka .

"Apa?" Jongin kaget dengan ucapan Minsoo.

"Dan jangan sebut itu adalah pemerkosaan, karna kami melakukannya suka sama suka. Benarkan sayang?" Minsoo meletakkan dagunya dipundak Niel, dengan tangan yang masih merangkul pinggang pemuda manis itu.
Dan jujur saja itu membuat jantung Niel berdetak sedikit lebih cepat, dan tolong jangan lupakan pipi nya yang mulai memanas.

Jongin semakin menatap kesal pada Minsoo, dia baru saja ingin melepaskan tangan Minsoo yang masih mendarat cantik dipinggang ramping adiknya. Namun belum sempat terwujud tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya dan membawanya menjauh.
"YAAKK!" Jongin melihat si pelaku penarikan yang ternyata adalah Sehun, pemuda tampan berwajah vampire.
"YAKKK! LEE SEHUNN! LEPASKAN AKUU!" Jongin berusaha melepaskan genggaman tangan Sehun.

"Diam!" Itulah jawaban Sehun.

Jongin melihat kearah adik-adiknya dan meminta tolong, "NIEL! JIMIN! TOLONG AKUU!.." Namun sayang, sepertinya percuma karna adik-adiknya juga tidak bisa melakukan apapun. Niel, dia masih dikungkung oleh lengan Minsoo yang setia merengkuh pinggangnya. Lalu Jimin? Dia juga harus pasrah duduk diatas pangkuan Jungkook, karna tadi saat Sehun mulai menarik tangan Jongin, Jungkook ikut menarik pergelangan tangan Jimin yang sebenarnya mau menolong Jongin lalu memaksa pemuda pendek itu untuk duduk dipangkuannya.
Hingga pada akhirnya Jongin semakin menjauh dari adik-adiknya itu, dia dengan paksa mengikuti Sehun yang terus saja menarik tangannya. Hei! Tidak tahu kah kalau itu sakit?
Sehun membawanya kembali kehalaman belakang sekolah, tempat yang selalu dijadikan markas untuk JNJ selain diruangan Dance tentunya. Sehun mendudukan Jongin diatas batang kayu besar.
"YAAKK_"
Belum sempat Jongin memaki, dia sudah dibuat kaget ketika Sehun mendekatkan wajahnya pada dirinya.

"Kenapa kau berisik sekali, eoh?" ucapnya pelan, tepat didepan wajah Jongin.
Jongin ingin mendorong dada Sehun agar pemuda itu menjauh, namun yang ada malah Sehun meraih tangannya.
"Apa kau juga ingin melakukannya?" Ucapnya lagi.

"Mwo?"

"Apa kau ingin melakukan yang Minsoo hyung dan Niel lakukan kemarin?" Goda Sehun.

Jongin membulatkan matanya saat mendengar ucapan dari Sehun. "YAKK!" Dia langsung mendorong Sehun, dan sukses membuat Sehun mundur beberapa langkah. "Dasar gila!" Jongin malah melihat Sehun yang tersenyum jahil padanya.
Sehun kembali mendekat pada Jongin yang hendak turun dari batang pohon, lalu kedua tangannya dia tumpu kan diatas batang pohon dikedua sisi Jongin, mengunci tubuh Jongin ditengah-tengah lengannya. Dan membuat Jongin memundurkan kepalanya karna wajah mereka yang berdekatan.
"Kau seharusnya tidak boleh ikut campur urusan orang lain." Ujar Sehun dengan nada yang pelan.

"Niel itu bukan orang lain, dia adalah adikku.." Timpal Jongin mengoreksi ucapan Sehun.

"Tapi dia adalah kekasih Minsoo hyung, jadi mereka boleh melakukan apapun sebagai sepasang kekasih." Balas Sehun.

"Kekasih?" Jongin menatap Sehun.

"Eumm.. " Dan dibalas anggukan oleh Sehun.

"YAKK! Sejak kapan mereka berkencan?" Jongin lagi-lagi membulatkan matanya mendengar ucapan Sehun.

"Sejak turun panggung kemarin." Jawab Sehun.

"Mworago?!"

"Sama seperti kita.." Balas Sehun.

"Mwoya?" Entah sudah berapa kali hari ini dia membulatkan matanya.
Sehun tersunyum saat melihat Jongin yang lagi-lagi membulatkan matanya, dia tersenyum jahil. Dia tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan pemuda berkulit tan itu.
"YAAKK! JANGAN SEMBARANGAN!" Jongin lagi-lagi mendorong tubuh Sehun dan kali ini Sehun hampir terjengkang kebelakang namun dia masih bisa menahan kakinya.

"Tsk!" Sehun berdecih pelan.

"Jangan mengaku-ngaku kalau kita ini sepasang kekasih. Itu tidak akan pernah terjadi!" Ujar Jongin sebal dan berjalan pergi meninggalkaan Sehun.
Namun belum langkahnya bertambah, pergelangan tangannya kembali ditarik sehingga membawanya kembali mundur kebelakang. Sehun menarik pergelangan tangan Jongin dan dengan cepat dia mendorong tubuh Jongin pada sebuah pohon besar dan rindang.
"Ughh.." Jongin merasakan nyeri dipunggungnya ketika punggungnya berbenturan dengan pohon besar itu. Dan tak hanya itu, kembali terbelalak kaget ketika Sehun dengan cepat menciumnya, dan itu tepat dibibirnya.
Berkali-kali Jongin mengedipkan matanya, berusaha sadar dengan apa yang terjadi saat ini. Apalagi ketika Sehun mulai menggerakan bibirnya, Jongin sadar. Dia segera mendorong dada Sehun, mencoba mendorong pemuda itu agar menjauh darinya. Namun yang terjadi malah Sehun menggenggam tangannya.
"Nghh~~" Satu desahan lolos dari bibir tipis itu ketika Sehun memasukkan lidahnya kedalam mulut Jongin.
Jongin merasa aneh dengan apa yang baru saja dia lakukan. Mendesah? Baru saja dirinya mendesah? Jongin tak percaya! Karna ini memang baru pertama kalinya dia mendesah karna 'itu'.
Pemuda manis menggelengkan kepalanya, tak percaya. Tangan yang sedang dipegang oleh Sehun mengepal kencang saat dia merasakan Sehun tengah menghisap lidahnya.

"Ngghhh~"

Lagi. Dia kembali mendesah akibat permainan lidah Sehun.
Jongin mencoba mendorong lidah Sehun agar keluar dari dalam goa hangatnya, tapi menurut Sehun malah serasa Jongin tengah mengajaknya bermain lidah. Sehingga membuat lidah mereka saling mendorong satu sama lain, berperang lidah.

Sampai beberapa menit pun bergulir, sehingga membuat Sehun mau tidak mau melepaskan ciumannya karna merasa Jongin telah kehabisan nafas. Sehun melirik wajah Jongin yang memerah dan tengah menghirup udara untuk mengisi paru-parunya. Dia memperhatikan bibir Jongin yang basah akibat saliva mereka, bahkan ada aliran kecil disudut bibir tipis Jongin.
Jongin menatap penuh kekesalan pada Sehun, dia mencoba menepis tangan Sehun yang masih menggenggam tangannya, tapi sayangnya tidak semudah itu. Sehun sangat kuat. Dan Jongin baru tahu itu, padahal dirinya adalah laki-laki tapi kenapa tenaganya tak sebanding dengan Sehun. Dan itu terdengar sedikit menyebalkan!

Sehun menyeringgai, "Permainan lidahmu sangat hebat." Bisik Sehun ditelinga Jongin.
Dan membuat Jongin semakin menatap benci pada Sehun.

'Sial!'

Sehun akhirnya melepaskan tangan Jongin, dan setelahnya dia memberikan kecupan singkat pada pipi Jongin. Sebelum akhirnya pemuda pucat itu meninggalkan Jongin yang masih terbengong akibat kelakuannya tadi. Dan kembali Sehun menyeringgai, 'I got it!'

"ARGGHHTTT!"
Itu pekikan Jongin...

.

.
Jongin, Niel dan Jimin memasuki sebuah ruangan yang dikelilingi oleh kaca, dan beberapa sound besar disudut ruangan. Disana juga sudah banyak orang yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ini adalah ruangan khusu Club Dance, hanya anggota club Dance yang boleh memasuki area ini.
Mereka bertiga masuk kedalam ruangan club Dance dengan seseorang yang mengikuti mereka dibelakang.
"Annyeonghaseo..." Sapa Niel.

"Annyeonghaseo.." Balas semuua orang yang ada disana.
Kedatangan mereka bertiga langsung membuat semua siswa dan siswi disini langsung duduk ditengah-tengah ruangan ini. Jangan heran, karna seperti yang kalian tahu kalau mereka ini adalah ketua Team Dance, mereka adalah anggota JNJ, grup dance yang namanya bahkan sudah dikenal banyak orang, walaupun mereka bukan bintang televisi. Kemampuan dance mereka memang tidak bisa dianggap remeh, sekolah selalu mengandalkan mereka untuk mengikuti kompetisi-kompetisi dance.
"Semuanya, hari ini kita kedatangan anggota baru di club dance." Ucap Jongin dan memberikan isyarat pada pemuda yang sejak tadi mengikuti mereka dibelakang untuk maju kedepan.
"Ini adalah Taehyung. Taehyung-ssi, silahkan perkenalkan dirimu." Lanjut Niel.
Siswa itu pun memgangguk, "Annyeonghaseo, Namaku Taehyung, Kim Taehyung.. Aku anggota baru disini. Mohon bantuannya." Siswa bernama Taehyung itu membungkuk sebagai tanda hormat pengenalan untuk senior-seniornya diclub dance ini.

"Selamat datang Taehyung-ssi.." Balas semua anggota.

"Nah, Taehyung ini adalah teman sekelasku. Dia baru berminat masuk kedalam club dance saat melihat pertunjukan kita diacara ulang tahun sekolah kemarin. Kuharap kalian bisa menerimanya dengan baik." Ujar Jimin.

"Tentu saja, Jim.." Jawab seorang siswi yang berada dibarisan paling depan.

"Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai latihan hari ini." Ujar Niel seraya melangkah pada sebuah Tape Recorder, dan menekan tombol play disana. Dan musik pun mulai terdengar.
Semua anggota club sudah berdiri dan langsung mengubah posisi mereka. Jongin, Niel dan Jimin berdiri didepan mereka. Dan langsung bergerak sesuai dengan musik yang mereka dengar, anggota yang lain mengikuti gerakan anggota JNJ, begitupun dengan Taehyung yang masih kaku untuk mengikuti gerakan mereka.

Musik tanpa lirik ini terus saja mengalun lambat namun halus. Memang kali ini dance yang dipilih adalah yang tempo nya lembut. Niel sendiri yang memilih musik ini, karna memang dia yang selalu membuat instrumen dari setiap backsound untuk semua tarian JNJ. Yeah, meskipun tarian Niel tidak sebagus Jongin atau Jimin, namun dia bisa membuat musik yang terdengar sangat bagus. Dia hanya mampu membuat MinusOne, tanpa lirik.

Jimin menggerakan tubuhnya sesuai dengan musik yang mengalun, sedangkan Jongin dan Niel sudah berkeliling untuk mengawasi semua anggota.

"Jiae-ah, tubuhmu kurang lentur. Jangan terlalu tegang." Komen Jongin pada seorang yeoja berambut panjang dan berwajah kecil.

"Siap!" Jiae segera mengkoreksi gerakan tubuhnya sesuai dengan instruksi dari Jongin.

"Taehyung-ah, santai saja. Kau kan baru pertama kali pasti sedikit sulit." Ucap Niel mendekati Taehyung yang masih kebingungan mengikuti setiap gerakan.

"Ne, hyung. Maaf yahh.." Taehyung membungkuk pada Niel.

Niel tersenyum melihat ekspresi Taehyung, lalu dia mempuk-puk pundak Taehyung. "Fighting!" Niel memberikan semangat pada juniornya ini. Dan Taehyung kembali tersenyum seraya membungkuk.
Jongin membantu seorang namja bertubuh tak jauh darinya, dia mencontohkan gerakan yang Jimin lakukan didepan namja itu. "Kau seharusnya melakukaan seperti ini, Hyuk-ah."

"Ahh.." Namja itu mengangguk paham, dia meniru gerakan Jongin. "Beginikah?" Tanyanya memastikan.

"Yupp! Seperti itu, Hyukkie." Jawab Jongin.
Namja itu kembali mengangguk dan kembali menggerakan tubuhnya seperti Jimin.

.

.

Bel pulang sekolah terdengar diseluruh penjuru sekolah besar ini, dan suara sorak gembira terdengar setelahnya. Menurut mereka suara bel pulang sekolah itu seperti suara lonceng yang berasal dari gereja yang mampu menenangkan mereka.
Beberapa detik setelah suara itu mulai banyak siswa dan siswi yang berbondong-bondong keluar dari dari dalam kelas mereka. Berlari berhamburan menuju gerbang kebebasan mereka.
Tak beda halnya dengan ketiga pria manis yang baru saja berkumpul di lapangan, maklumlah karna mereka berbeda kelas.
"Kkaja kita pulang.." Ujar Niel.

"Ne hyung..." Jawab yang bertubuh pendek diantara mereka.
Mereka bertiga memasuki area parkir dan menuju ke sebuah mobil berwarna biru metalik. Niel membuka alarm otomatis dari kunci mobil ditangannya, dan memasuki mobil mewah itu. Diikiti oleh Jimin dan Jongin.
"Yaakk!"
Suara pekikan terdengar kencang sehingga membuat Niel dan Jimin menoleh kebelakang dan melihat Jongin yang masih berdiri diluar. Niel dan Jimin kembali keluar dari dalam mobil.

"Apa yang kau lakukan, eoh?" Jongin menatap sengit pada seseorang yang tadi menariknya saat dia ingin masuk kedalam mobil.

"Jongin hyung.."

"Ikut aku.." Sehun, orang itu menarik pergelangan tangan Jongin, yang otomatis di tepis oleh pemuda tan itu tapi tetap saja Sehun meraih tangan Jongin lagi.

"Aku tidak mau... Lepaskan aku!" Jongin berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Sehun.
Dan Sehun pun dengan kuat mencengkram tangan pergelangan tangan Jongin, lalu menarik pemuda manis itu menjauhi sahabat-sahabatnya. Terus menarik Jongin tanpa memperdulikan teriakan penolakan dan sumpah serapah dari pemuda itu.
Sedangkan Niel dan Jimin hanya saling pandang dan beberapa kali berkedip guna mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Masuk."
Suara berat dan dalam berhasil mengagetkan mereka, dan mereka menoleh kearah sumber suara.

"Ye?" Mereka bisa melihat Minsoo bersiri tepat dibelakang mereka.

"Masuk." Ujarnya kembali penuh dengan penekanan, yang sepertinya tertuju pada Niel. Karna dia hanya menatap Niel dengan mata sipitnya.
Niel yang ditatap begitu entah kenapa merasa terhipnotis dan segera masuk kedalam mobil sesuai perintah Minsoo. Sedangkan Minsoo ikut menyusul memasuki mobil lewat pintu satunya.
Jimin?
Dia hanya terbengong mendengar suara mobil yang menyala, dan tak berselang lama ke-empat roda mobil itu mulai berputar dan menjauhinya perlahan tapi pasti.

"Lalu aku?" Tanyanya pada diri sendiri, dan jangan lupakan bibir penuhnya yang mengerucut lucu..
"Hahh.." Akhirnya dia berjalan lunglai setelah membuang nafas beratnya.

'Tiiiiinnnn'

Namun suara klakson motor menghentikan langkahnya, dia menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati seseorang yang sedang mengendarai motor Kawasaki dengan jaket kulit dan helm hitam yang mengurung kepalanya.
Jimin memicingkan matanya, dan saat seorang itu membuka helm, Jimin membulatkan mata sipitnya.
"Jungkook..." Gumamnya.
Seseorang yang ternyata adalah Jungkook, memamerkan senyum simpulnya pada Jimin.
"Mau pulang bersama?" Tawarnya.

"Ye?"

"Naik." Titahnya.

"Ye?" Jimin masih mencerna.

Jungkook yang masih berada diatas motornya menarik tangan Jimin untuk mendekar kearahnya.

"Naik.."

Jimin menatap wajah Jungkook yang masih tersenyum cerah kearahnya. Jimin tersadar. Kemudian melepaskan genggaman tangan Jungkook.
"Tidak, terimakasih.. Aku bisa pulang sendiri."

"Kau mau pulang naik apa?"

"Aku bisa menggunakan bus atau taksi."

Jungkook berdecih pelan. "Naik atau Jongin hyung dan Niel hyung dalam bahaya."

"MWO?!" Jimin membelalakan matanya.

Karna tak sabarannya, Jungkook menarik tangan Jimin kearah belakangnya, dan dengan sangat terpaksa Jimin pun naik keatas motor pemuda tampan ini.

.

.

.
T
B
C
.

.

.