* uzumaki 'namikaze' piiu chan : review next masih dihargai kok tapi kalau semua review isinya next/lanjut jujur malah mengecewakan. Alangkah lebih baiknya jika mau review lebih panjang. Jadi yang bales juga nggak bingung.
* uzumakinamikazehaki : ini udah lanjut ya...
* CacuNaluPolepel : Fay lebih tepatnya orang solo pinggiran :"D bukan solo kotanya. Kamu solonya mana?
* sha : maaf kalau menurut kamu update nya kelamaan. Fay nulis bukan cuma di fandom ini aja tapi di banyak fandom. Fay harus adil dan bagi-bagi waktu. Bukan karena fandom SN itu fandom besar, terus Fay mengabaikan fandom lain. Fay update paling lambat 2 bulan paling cepat 1 bulan itu menurut Fay udah termasuk cepat. Kalau dibanding ama author lain yang kadang update sampe 6 bulan sekali, 8 bulan sekali bahkan setahun sekali. Kalau disuruh update tiap minggu atau 2 minggu jelas Fay gak bisa. Karena urusan Fay bukan bikin fanfic aja. Fay juga harus ngurus duta dan banyak hal lainnya, belum lagi kalau kena WB. Tapi Fay selalu mengusahakan update cepat kok meski nyicil-nyicil dulu dikit-dikit. So jangan protes masalah update, okey ^^
*saera : ini udah lanjut ya.. semoga suka.
*Akun Qeyta. : Fay lebih suka uke lebih tua daripada seme terasa lebih greget :3 kalau seme lebih tua itu udah terlalu biasa/ mainstream.
* anon : iya uke lebih tua itu greget banget :3 ceritanya nggak buru-buru sih... tapi aku memang pake alur cepat karena ini nyeritain cerita 10 tahun, jadi pake alurnya agak cepet.
* Habibah794 : haha tau aja kalo Sasu tegang dipegang Naru XD
* michhazz : bener, kamu lihat sendiri kan kalau di fandom lain jarang ada orang yang review nya next/lanjut? Review nya lebih panjang dan lebih berbobot. Tapi kenapa di fandom SN isi reviewnya cuma next/lanjut aja? Kebiasaan buruk seperti inilah yang harus dirubah ama SNL sendiri. Ini dah lanjut ya... semoga kamu suka :D
* uzumaki Ruby : makasih udah bilang fic nya seru. Iya pake Pov Naruto terus. Kenapa bingung? Sabar ya, Anggap aja kamu sebagai Naruto/ orang yang sedang bercerita karena Fay memakai kata 'aku'. Mungkin kalau kamu lebih jeli membacanya, kamu bisa paham. Fay sendiri merasa nyaman memakai POV orang pertama karena berasa lagi nulis diary.
* ryusn25 : reviewnya masuk kok... iya pake POV Naruto terus rencananya.
* Lhiea932 : ini udah lanjut. Semoga suka :)
* Neko chan : iya SNL udah harus mikirin buat ngerubah kebiasaan review cuma next/ lanjut aja. Biar reviewer SN nggak di cap reviewer paling gak kreatif kerna cuma bisa review next/lanjut. Ini udah lanjit silakan dibaca. Semoga suka :D
* arashilovesn : iya manggil teme-dobe emang lebih asik. Ini udah lanjut ya.. semoga kamu suka.
* Kuro SNL : iya Sasuke tidur di emperan jadi gelandangan :D pengen bikin Sasuke yang beda aja dari biasanya yang selalu dipuja-puja dan dapet yang bagus-bagus. Di chap sebelumnya udah Fay jelasin mami Kushi meninggal karena penyakit asma yang dideritanya bertahun-tahun.
* aokiaoki95 : judul 'jawaban' untuk apa? Dari summary nya udah jelas sebenarnya. Langsung baca chap 3 aja pasti kamu tau :3
* Shiro Theo 21 : aku suka baca review mu. Makasih atas reviewnya. Ini udah lanjut ya... semoga suka :D
* aruna faylen : makasih udah bilang fic ku bagus. Tetep baca terus ya :D
* Shafiosia Prakarsa : Naru gak sendirian, masih ada kangmaz teme :D
* shin sakura11 : haha.. mungkin saja. Jawabannya langsung baca aja :D
* guest : ini udah update ya :)
Terima kasih atas reviewnya dan Fay ucapkan terima kasih banget untuk yang tidak cuma review next atau lanjut saja, tapi mau review lebih panjang. Makasih banget kalian mau berusaha untuk ngetik lebih panjang dari sekedar kata next/lanjut saja. Semoga kebiasaan mereview panjang bisa membudaya di fandom SN. Dan budaya review next/lanjut enyah dari fandom SN. Amin.
Makasih juga bagi yang udah fav dan follow. Makasih atas apresiasi kalian.
Mengenai pertanyaan2 kalian langsung baca aja chap 3 mungkin bakalan terjawab rasa penasaran kalian. Yang jelas Fay kalau bikin fic itu alurnya pelan, bertahap, jadi sabar aja. Fay bukan tipe author yang bikin cerita tau-tau Sasu udah cinta Naru dan sebaliknya. Atau tau-tau langsung lemon dsb. Fay nggak suka ama cerita yang semacam itu. Nggak masuk akal aja... Cinta butuh proses bukan? Semua ada tahapannya. Rasanya aneh kalau semua terjadi tiba-tiba.
Oh ya... Fay tetep pakai sudut pandang orang pertama yaitu Naruto. Bagi yang bingung dengan POV ini anggap aja itung-itung kalian diuji kejeliannya dalam membaca. Langsung saja...
.
.
Naruto © MK
.
.
Heart No Kakurega : Natsume Isaku.
.
.
Mulai chapter ini masuk ke rate M karena ada mature content tapi jangan berharap Fay bakal bikin eksplisit lemon apalagi yang vulgar. Fay hanya akan bikin implisit lemon yang sebenarnya lebih ke semi M.
.
.
Hitam telah membentang di cakrawala, memayungi bumi dengan kegelapan. Aku duduk termenung di depan jendela apartemenku, menatap langit malam yang temaram dihiasi sedikit bintang. Upacara pemakaman ibu sudah berakhir sore tadi. Para pelayat telah pulang kerumah masing-masing, menyisakan aku dan Sasuke disini. Pandanganku sesekali jatuh pada foto ibuku yang kini telah dihiasi pita hitam dan dupa, dikelilingi buket-buket bunga krisan putih di atas altar.
Sejak kabar itu datang padaku aku hanya terdiam, tak sepatah katapun mampu aku ucapkan. Aku terlalu kaget dan merasa terpukul, aku terlalu sedih sampai tak sanggup berkata-kata. Aku sudah kehilangan orang yang paling berharga dalam kehidupanku. Kini aku sendirian didunia ini.
Tak bisa kujelaskan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam hatiku ini. Rasanya terlalu rumit untuk dijabarkan. Marah, sedih, kehilangan harapan, dan ... menyesal. Penyesalanku hanya satu, mengapa aku tidak ada di sisi ibu disaat ajalnya menjemput? Kenapa aku tidak bisa mendampingi beliau saat menghembuskan nafas terakhirnya? Padahal hanya aku satu-satunya yang ibu punya. Aku merasa sedih dan marah pada diriku sendiri.
Rasanya masih tidak percaya, jika mengingat kini orang yang paling berharga bagiku sudah tiada. Mengapa begitu cepat ibu meninggalkanku sendirian didunia ini? Apakah beliau tidak tau bahwa hanya beliaulah alasanku hidup? Kini harapan hidupku pergi meninggalkanku. Aku merasa hidupku sudah tidak ada artinya lagi.
Sasuke hanya diam disisiku, dia yang bukan keluargaku begitu setia mendampingiku sepanjang hari melewati upacara pemakaman ibu. Dia tidak bicara atau bertanya apapun, bahkan saat melihatku tidak mengeluarkan air mata setetespun. Aku tau semua orang heran dengan sikapku, tapi aku sadar rasa sakitku takkan bisa terobati dengan menangis, dan ibuku takkan pernah kembali meski seluruh air mataku kering. Jadi aku hanya terdiam seolah aku mati rasa.
Pandanganku mengedarkan ke seluruh sudut apartemenku. Apartemen ini penuh dengan kenangan bersama keluargaku. Dadaku terasa sesak, hatiku perih ketika shappireku menyapu setiap sudut tempat ini. Teringat semua kenangan bersama ayah dan ibu di apartemen ini. Kenyataan seolah menamparku ketika aku sadar jika mereka telah pergi meninggalkanku sendiri. Hatiku terasa sesak.
Sasuke tiba-tiba datang dari ruang tengah, obsidiannya yang kelam langsung menatap lurus kepadaku.
"Oh, apa kau lelah, Sasuke? Jika kau lelah kau boleh pulang sekarang, terima kasih karena sudah membantuku seharian ini." Itulah kata-kata pertamaku setelah seharian membisu. Aku memaksakan diri tersenyum meski hatiku perih.
Sasuke masih bergeming hingga dia menjawab. "Tidak perlu berterima kasih, aku tulus membantumu. Hari ini aku akan menginap disini."
"Begitu, ya? Tapi aku tetap berterima kasih. Bukan untuk hari ini saja, tapi juga untuk hari-hari sebelumnya karena telah merawat ibuku. Entah apa jadinya jika tidak ada kau. Baiklah, kalau kau memang ingin menginap akan aku siapkan futonnya."
Aku pun masuk ke dalam kamar.
.
.
Malam ini aku tidak bisa tidur, aku bangun dari futonku dan kembali termenung didepan jendela kamarku. Menatap langit kelabu sembari menyesap rokok, batang demi batang kusesap berharap asap beracun ini bisa meringankan sedikit bebanku. Dalam kesunyian malam aku melamun.
"Kau belum tidur?" Sebuah suara mengagetkanku hingga membuatku berjengit.
"Ah, kau rupanya. Aku tidak bisa tidur. Apa aku membangunkanmu?" jawabku. Masih dalam keadaan berbaring di futon Sasuke menatapku sambil menyangga kepalanya.
"Tidak. Aku memang belum tidur," jeda sejenak, Sasuke memandang rokok ditanganku. "Sejak kapan kau mulai merokok?"
Kualihkan pandanganku pada benda berasap di tanganku, lalu kembali menyesapnya. "Oh ini? Hanya sesekali saja, kok."
Sasuke berdiri menghampiriku, lalu duduk di sebelahku. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Aku hanya tersenyum lalu mematikan rokok. "Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir."
Meski aku tidak memandang wajah Sasuke tapi aku tau Sasuke tengah mengernyit dan semakin manatapku lekat.
Aku berusaha mengabaikannya dan kembali mengedarkan shappireku ke seluruh bagian apartemen. Hatiku kembali terasa sesak. "Sepertinya semua ini sia-sia, ya?"
Sasuke menatapku dengan pandangan bingung. "Apa maksudmu?"
Aku tersenyum getir, menunduk memandang lantai. "Kau tau, kan? jika aku melakukan semua ini demi ibu. Aku kuliah ke Tokyo supaya bisa dapat pekerjaan bagus agar ibu bisa cepat pensiun. Tapi sekarang ibu sudah tiada, semua jadi sia-sia." Mataku mulai berkaca-kaca.
Sasuke mengelus pundak rapuhku. "Kalau begitu lakukanlah untuk dirimu sendiri. Maka semua tidak akan sia-sia."
Shapireku membesar mendengar kata-katanya yang begitu dewasa.
"Lakukanlah untuk masa depanmu sendiri. Aku yakin bibi Kushina juga akan mengatakan hal itu padamu jika dia masih hidup. Jangan kau jadikan bibi sebagai alasan keputusasaanmu, karena kau masih bisa hidup demi dirimu. Bibi Kushina pasti ingin kau tetap maju meski beliau sudah tiada. Bibi tidak akan suka jika dia dijadikan alasan kepurukanmu."
Memang benar apa yang dikatakan Sasuke, ibu tidak akan pernah suka jika aku terpuruk seperti ini karena dia. Ibu tidak pernah mau menjadi beban siapapun termasuk aku. Ibu selalu ingin aku tegar apapun yang terjadi. Menjadi seseorang yang kuat menghadapi apapun. Tapi kehilangan itu tetap terasa menyakitkan, apalagi kehilangan satu-satunya keluarga yang kau miliki didunia ini. Kehilangan yang begitu menyesakkan. Mataku memburam, air mataku menggenang dan siap untuk jatuh kapan saja. "Tapi... kini aku tidak punya penopang. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku sendirian ..."
Liquit bening itu akhirnya jatuh membasahi pipiku. Sasuke tercengang melihat air mataku. Dia langsung menarikku dalam pelukannya. "Kau tidak sendirian, Naruto. Kau masih memiliki aku. Jangan pernah merasa sendirian selama masih ada aku disisimu. Aku tau semua ini begitu berat untukmu, aku tau kau berusaha menahan kesedihanmu dan berpura-pura kuat. Sekarang lepaskanlah kesedihanmu itu. Kau tidak perlu berpura-pura kuat lagi didepanku. Menangislah... lepaskanlah bebanmu dipundakku. Aku akan selalu bersamamu."
Seakan terhipnotis oleh kata-katanya, tangisanku pun pecah. Hancur sudah topeng sok kuatku, topeng yang kupasang untuk menutupi kesedihan dan luka hatiku. Kini topeng itu hancur berkeping-keping menyisakan kerapuhanku. Aku memeluk Sasuke kuat-kuat menenggelamkan wajahku ke pundaknya. Menumpahkan segala bebanku disana. Hingga pundak itu basah kuyup oleh air mataku.
.
.
Esoknya setelah membereskan barang-barang di apartemen, aku kembali ke Tokyo. Hatiku terasa lebih lega karena semalam aku mengeluarkan semua kesedihanku. Sasuke bersikeras ikut denganku ke Tokyo meski aku mencegahnya, sampai dia nekat menyusulku ke stasiun.
"Kau ini bodoh, ya? Kau kan harus sekolah." Alisku bertaut mendengar permintaannya.
"Aku akan berhenti sekolah, aku mau ikut denganmu. Kau membutuhkanku."
"Tidak usah sok tau, Bocah. Siapa juga yang butuh kamu? Cepat pulang sana! keluargamu pasti khawatir."
"Tidak mau. Aku ingin ikut denganmu."
Kami sempat berdebat di stasiun dan mengundang perhatian. Sasuke bersikeras ingin tinggal denganku di Tokyo dan meninggalkan semuanya yang ada disini. Berkali-kali dia bilang aku membutuhkannya, dia akan menemaniku karena aku hanya sendirian dan ocehan-ocehan lainnya.
Bocah Uchiha itu sangat keras kepala, meski aku melarangnya dia tetap ngotot ingin ikut denganku, tanpa memikirkan sekolah dan orang tuanya disini. Aku memijit pelipisku memikirkan bagaimana caranya agar bocah ini tidak mengikutiku. Setelah berfikir keras aku menemukan satu cara, akhirnya Sasuke mau kembali pulang setelah aku berjanji padanya, dia boleh ikut aku saat aku kembali lagi ke Konoha tahun depan.
.
.
- - - o0o - - - o0o - - - o0o - - - o0o - - -
.
.
Sebulan kemudian, aku menjual apartemenku di Konoha. Aku menjualnya diam-diam tanpa diketahui Sasuke karena aku tau dia pasti mencegahku. Sebenarnya aku begitu berat melakukan hal itu, apartemen itu menyimpan begitu banyak kenangan bersama keluargaku. Tapi itu sudah menjadi keputusanku. Keluargaku sudah tiada, aku benar-benar tidak punya alasan lagi berada di Konoha. Dan kini tempat tinggalku juga sudah kujual. Jadi, aku memutuskan meninggalkan Konoha selamanya dan pindah ke Tokyo. Uang hasil penjualan apartemen aku gunakan untuk membeli flat yang aku tempati sekarang.
Aku pergi tanpa memberitahu Sasuke. Karena aku tau Sasuke pasti menghalangiku atau malah mengikutiku. Aku menghapus segala kontak dengannya agar dia tidak mencariku. Aku mengganti nomer telepon dan emailku. Aku menghilangkan semua jejakku darinya.
Dia bukan siapa-siapaku, bukan saudara atau keluargaku, lebih baik dia tidak mengikatkan diri padaku. Aku ingin dia menjalani kehidupannya yang bebas. Aku tidak mau menjadi beban siapapun. Apalagi Sasuke yang tidak ada hubungan apapun denganku.
Sasuke tidak pernah tau alamatku di Tokyo karena selama ini aku tidak pernah memberitahunya. Hanya ibuku yang tau alamatku disini, tapi ibuku sudah meninggal. Jadi orang-orang di Konoha tidak akan bisa menemukanku.
Di Tokyo aku melanjutkan hidupku. Aku menjalani hari-hariku seperti dulu saat ibu belum meninggal. Tetap kuliah dan bekerja. Meskipun dulu aku sempat ingin berhenti kuliah, dan hanya bekerja saja. Tapi pada akhirnya aku memutuskan tetap kuliah. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus penyesalanku. Bukankah ini juga demi masa depanku? Jadi aku akan mewujudkannya meski ibu sudah tiada.
Tanpa terasa setahun sudah aku kehilangan kontak dengan Sasuke dan Konoha. Kini aku sudah lulus kuliah dan bekerja sebagai apoteker di sebuah rumah sakit swasta. Aku tidak tau kabar Sasuke tapi aku yakin Sasuke pasti sudah lulus SMA. Mungkin dia akan kuliah diluar negeri mengingat statusnya sebagai anak seorang politisi. Entah kenapa aku jadi kepikiran? Bukankah itu sudah bukan urusanku lagi? Aku mendesah pelan.
"Naruto, hari ini untuk makan malam kau mau makan apa?"
Aku mendongakkan kepalaku saat Iruka-san, tetanggaku, berdiri diambang pintu depan flatku. "Emh... aku mau makan sup miso* saja," jawabku diringi senyum.
"Sup miso, ya? Baiklah. Aku sudah bertanya pada semua penghuni flat tentang menu makan malamnya, jadi setelah ini aku bisa belanja ke supermarket."
"Apa perlu kutemani? Kebetulan aku sedang senggang." Aku mencoba menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, Tenten sudah menemaniku." Iruka-san menelengkan kepalanya ke arah gerbang flat tempat keponakannya menunggu. "Kami pergi dulu, Naruto."
Aku tersenyum. "Baiklah, hati-hati Iruka-san." Aku memandang pria dengan bekas luka di hidungnya itu berjalan menghampiri keponakannya.
3 tahun hidup di flat ini, membuat hubunganku dengan para tetangga sangat akrab, bahkan seperti keluarga sendiri. Umino Iruka pria berumur 27 tahun itu sudah tinggal disini sebelum aku, kurang lebih 5 tahun. Dia tinggal bersama keponakannya, Tenten di kamar depan flatku. Flat ini hanya terdiri dari 5 kamar, 3 kamar telah terisi sementara 2 kamar lainnya kosong karena penghuninya telah pindah. Kamarku terletak paling ujung dekat pagar pembatas tinggi. Sementara kamar di sebelah kananku sudah kosong sejak beberapa bulan yang lalu. 1 kamar lagi dihuni oleh ponakan pemilik flat, Inuzuka Kiba. Flat ini milik Hatake Kakashi, yang bekerja di sebuah kantor property. Dia jarang datang kemari karena sibuk dengan pekerjaannya, karena itulah pengelolaannya di serahkan pada keponakannya, Inuzuka Kiba.
Sejak 1,5 tahun yang lalu kami membuat kesepakatan bersama, setiap makan malam kami akan berkumpul di flat Iruka-san dan makan malam disana. Kami membayar iuran makan setiap 2 minggu sekali padanya untuk biaya makan malam. Untuk menghemat pengeluaran daripada menghabiskan uang untuk makan diluar, kami sepakat untuk makan malam bersama dengan sesama penghuni flat. Dan sepakat menunjuk Iruka-san yang punya waktu agak sengang dan yang memang jago memasak, pekerjaan Iruka-san sebagai desainer interior yang hanya bekerja saat ada order membuatnya memiliki waktu paling senggang untuk memasak, dibanding penghuni lain yang selalu sibuk bekerja. Sementara Iruka-san berkorban tenaga penghuni lain membantu dalam finansial.
Kesepakatan ini selain menghemat pengeluaran juga bertujuan untuk mempererat hubungan antar tetangga. Dan semua itu masih berjalan sampai sekarang.
.
.
~ o0o ~ o0o FayRin D Fluorite o0o ~ o0o ~
.
.
Suatu siang di akhir musim semi, sesuatu terjadi ...
Aku terbelalak melihat siapa yang tengah berdiri diambang pintuku ini. Aku mengucek mataku beberapa kali tapi pemandangan didepanku tidak berubah. Jantungku seolah ingin melompat dari tempatnya saat melihat Sasuke berdiri didepan flatku membawa sekoper pakaian.
"Kenapa kau ada disini?!" tanyaku dengan nada tidak percaya.
"Memangnya kenapa? Aku sudah lulus dan ingin mencari pekerjaan di Tokyo," ucapnya datar.
"Darimana kau tau tempat tinggalku?"
"Hn, dari pemilik apartemenmu yang sekarang."
"Apa? Bagaimana bisa?!" aku tercengang.
"Tch, kau pembohong, Dobe! Kau bilang akan mengajakku saat kau kembali ke Konoha, tapi kau tidak pernah kembali dan malah menghilang tanpa kabar. Aku mencari ke apartemenmu ternyata apartemenmu sudah kosong. Aku menanyakan alamatmu ke dokter Tsunade tapi dia bilang tidak tau alamatmu. Aku mencari informasi keberadaanmu kemana-mana. Tapi nihil kau tidak meninggalkan jejak.
Aku sempat putus asa sampai beberapa bulan, karena tidak tau harus bertanya pada siapa lagi. Sampai suatu hari aku ke apartemenmu dan sudah ada pemilik baru. Jadi aku bertanya pada orang yang membeli apartemenmu itu. Awalnya agak sulit karena dia sempat mencurigaiku, lalu aku gunakan koneksiku sebagai keluarga Uchiha akhirnya dia mau memberiku alamatmu."
Wajahku memucat mendengar penjelasannya. Sial! Aku lupa kalau anak ini anak seorang politisi besar yang punya pengaruh. Usahaku setahun ini untuk menghilang darinya terasa sia-sia. Sekarang dia sudah menemukanku. Menyergapku tiba-tiba seperti hantu. Kini aku sudah tidak bisa lari lagi darinya.
Iris shappireku memandanginya, melihat bagaimana penampilannya sekarang. Wajahnya masih pucat seperti dulu tapi wajah itu sekarang terlihat lebih dewasa dengan kontur tegas. Efek bertambahnya umur dan sialnya malah membuat dia semakin tampan. Obsidiannya masih setajam dulu. Tubuhnya semakin bertambah tinggi dari yang terakhir aku lihat, membuat dia semakin terlihat gagah. Aku pikir seharusnya dia menjadi polisi atau tentara saja dengan postur tubuhnya itu. Bahkan sekarang tinggiku hanya sebatas dadanya. Membuatku sadar jika aku sudah berhenti tumbuh.
"Kau tidak mengajakku masuk? Atau kau mau membiarkan aku berdiri seharian disini?" ucapnya.
Aku mendelik padanya. Setahun tidak bertemu dia semakin menyebalkan. "Masuklah."
.
.
"Jadi benar kau sudah lulus?" Aku meletakkan dua gelas teh ocha di meja rendah ruang tamuku tempat dimana Sasuke duduk beralaskan bantal.
Dia mengangguk. "Hn, aku sendiri tidak percaya kalau bisa lulus. Padahal sebelumnya aku sempat ingin berhenti sekolah. Aku ingin segera menyusulmu kemari saat aku tau alamatmu tapi aku pikir kau pasti tidak akan suka jika aku meninggalkan sekolah. Jadi aku bersabar sampai lulus sekolah dan baru menyusulmu sekarang."
Aku terdiam mendengar kata-katanya, jadi Sasuke tetap bersekolah demi aku? Ada getaran kecil dihatiku saat aku mengetahuinya. "Begitu rupanya. Kalau begitu aku ucapkan selamat atas kelulusanmu. Akhirnya kau lulus juga, Omedetto..." Aku tersenyum tulus.
Sasuke tertegun melihatku. "Hn. Arigatou."
Kami terdiam cukup lama menikmati teh ocha masing-masing.
"Jadi kau berencana mencari kerja disini? Apa kau sudah punya tempat tinggal?" tanyaku setelah cukup lama terdiam. Sebenarnya aku heran kenapa Sasuke malah mencari kerja setelah lulus SMA bukannya kuliah. Mengingat dia anak politisi besar. Dan diantara banyak tempat, kenapa harus Tokyo? Tapi aku hanya menyimpan pertanyaanku dalam hati.
"Belum. Aku baru tiba disini, jadi aku belum punya tempat tinggal."
Genggaman pada cangkir ocha ku mengerat. "Kalau begitu kau bisa tinggal disini dulu sementara waktu sampai kau menemukan tempat tinggal. Aku punya 2 kamar disini, kau bisa tidur di kamar sebelah."
Sasuke menatapku tidak percaya. "Bolehkah?" Terselip nada senang disana.
Aku tersenyum. "Tentu saja. Anggap saja itu sebagai permintaan maafku karena menghilang begitu saja."
Ya anggap saja begitu.
.
.
~ o0o ~ o0o FayRin D Fluorite o0o ~ o0o ~
.
.
Ternyata tindakan itu membawa efek buruk untukku.
Malam pertama Sasuke menginap di flatku, sesuatu terjadi. Malam itu sudah sangat larut. Aku dan Sasuke sudah berbaring di kamar masing-masing setelah makan malam di flat Iruka-san, dan berbincang-bincang sebentar dengan para tetangga yang ingin mengenal Sasuke. Lelah yang mendera tubuhku membuatku cepat larut dalam dunia mimpi. Entah sudah berapa lama aku tertidur sampai kurasakan ada sesuatu yang mengganggu tidurku.
Aku merasa ada benda lunak dan basah yang menempel di bibirku. Bukan itu saja, aku menggeliat saat kurasakan ada sesuatu yang merayap ditubuhku, bergerak naik turun meraba dada dan perutku. Apa ini? Apa ada kecoa yang masuk ke dalam bajuku? Ataukah aku sedang bermimpi?
Aku gelisah dalam tidurku berkali-kali mencoba menarik udara yang seolah terputus tapi ada sesuatu yang menghalangi. Sesuatu yang lembut dan basah itu tengah menari-nari dimulutku. Aku semakin menggeliat berusaha menggapai udara tapi tak bisa. Kenapa sesak sekali? Aku butuh oksigen.
Pelahan kubuka kelopak mataku, berusaha mengumpulkan kesadaranku. Pemandangan pertama yang kulihat adalah mata hitam yang menatap lurus ke shapirreku. Eh? Kenapa ada mata?
" ! " Shapirreku terbelalak lebar saat aku sadar apa yang telah terjadi. Seketika itu juga aku shock!
Sasuke berada diatas tubuhku dengan kedua tanganku dicengekeram erat disamping kepalaku. Sementara bibir tipisnya tengah mengulum bibirku, sesekali lidahnya masuk dan bermain di rongga mulutku. Onyxnya menatap mataku ku lekat dalam posisi yang sangat dekat.
"Hpmm...!" Aku mencoba berteriak tapi suara teriakanku teredam oleh ciuman. Kugelengkan kepalaku kekiri dan kekanan mencoba melepaskan bibir Sasuke yang menempel erat dibibirku. Tak lama kemudian Sasuke melepaskan ciumannya. Aku langsung mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Mengisi paru-paruku yang terasa tercekik. Sasuke tidak berhenti berulah, kini dia menciumi leher dan dadaku.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriakku shock. Apa-apaan bocah ini?!
"Hn. Menciummu," Sasuke bergumam tanpa melepaskan bibirnya, dia mulai mengulum tonjolan didadaku. Aku terbeliak lebar. Apa-apaan bocah tengik ini?! Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Biasanya akulah yang melakukan ini pada wanita.
"Hngg... BERHENTI! APA YANG - tunggu! Mana bajuku?!" Aku makin tercengang saat menyadari bajuku raib dari tubuhku.
"STOP! TEME! Apa yang kau lakukan?!" Aku makin histeris saat Sasuke tidak menghentikan aksinya dan malah semakin intens menyentuhku.
"Aku sedang ingin, Dobe," jawabnya tanpa mengehentikan kagiatannya. Bahkan tangannya kini mulai masuk ke dalam celanaku. Aku makin memberontak.
"Ahh... HENTIKAN, TEME! Kalau kau sedang bernafsu carilah wanita. Kenapa kau menyerang laki-laki?!" Dengan satu tangan yang bebas aku berusaha mendorong Sasuke sekuat tenaga tapi Sasuke tidak bergeming. Tenagaku tidak ada artinya untuk ukuran tubuhnya yang jauh lebih besar dariku.
"Hn," Sasuke hanya bergumam. Dia tetap melakukan sekuhara padaku. Bibirnya mengecup leherku dan menghisapnya, meninggalkan ruam-ruam merah disana. Sementara tangannya semakin intens menyentuh privasiku dibawah sana membuatku terpejam erat, saat aku merasakan gairahku telah bangkit. Ada apa dengan bocah ini? Kenapa dia menyerangku? Sejak kapan dia jadi penyuka laki-laki? Kalau begini terus bisa-bisa aku ...
"AKU BILANG HENTIKAN!" Aku menendangnya dengan kedua kakiku sekuat tenaga.
DUAGH!
"Aduh..." Sasuke terjungkal ke lantai memegangi pinggangnya yang terantuk pinggiran ranjang. Wajahnya menyiratkan kesakitan.
"Rasakan kau, Teme!"
Tanpa basa basi aku langsung bangkit mencari bajuku. Begitu ketemu aku langsung memakainya serampangan. "Sebenarnya apa yang kau lakukan, brengsek?! Kenapa kau menyerang laki-laki?!" teriakku jengkel. Tubuhku masih gemetar karena ulahnya.
Kulihat Sasuke tidak bergerak, hanya mata kelamnya yang menatapku penuh determinasi. "Hn. Aku berfikir, kalau kau tidur di kamar sebelah, lalu aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi," ucapnya ambigu.
"Huh? Apa maksudmu, Teme? Kalau kau memang sedang 'ingin', lakukan sendiri di kamar mandi. Bukannya malah menyerang laki-laki. LALU KENAPA KAU LAKUKAN ITU PADAKU?!" teriakku kesal.
Sasuke diam, namun sepasang onyx nya kembali memandangku penuh arti. "A-aku..."
Aku mengangkat alisku menunggu jawabannya.
Sasuke menarik nafas, obsidian kelamnya menatapku lekat. "Karena aku mencintaimu, Naruto."
Dan seketika itu mataku membulat.
.
.
- - - o0o - - - o0o - - - o0o - - - o0o - - -
.
.
Aku terdiam di atas ranjangku. Memandang pintu kamarku yang baru saja tertutup. Sesaat yang lalu Sasuke keluar dari kamarku setelah pernyataan cintanya yang begitu mengejutkanku. Aku bingung... sungguh semua ini membuatku bingung.
Sasuke... Sejak kapan dia jadi homo? Setauku dia tidak pernah menyukai laki-laki sebelumnya. Selama bertahun-tahun aku mengenalnya belum pernah aku melihatnya bersama dengan seorang lelaki. Tapi jika aku pikir-pikir lagi. Selama ini aku juga tidak pernah melihat Sasuke bersama perempuan.
Sasuke... aku selalu menganggapnya sebagai adik kecilku yang manis. Padahal dulu Sasuke selalu anti disentuh atau menyentuh. Kenapa sekarang dia malah melakukan ini padaku?
Tadi itu, Sasuke benar-benar sangat bernafsu. Aku masih bisa merasakan sentuhan dan ciumannya di bibir dan tubuhku. Tanpa sadar aku mengusap bibirku. Benar-benar menyeramkan. Aku ngeri begitu membayangkan aku ditusuk pakai 'itu'. Hal yang sering aku lakukan pada wanita. Aku ini normal, masih suka wanita cantik berdada besar.
Kuacak rambut pirangku, frustasi. Kenapa semua jadi begini? Kalau begini sudah jelas...
Aku tidak bisa menerimanya.
.
.
TBC
.
.
* Sup miso adalah masakan Jepang berupa sup dengan bahan dasar dashi ditambah isi sup berupa sedikit makanan laut atau sayur-sayuran, dan diberi miso sebagai perasa.
.
.
A/N :: gomen kalau chap ini pendek ini ngetiknya nyicil-nyicil ditengah2 kesibukan lebaran :"D gomen kalau mengecewakan. Semoga kalian suka.
Oh ya.. Fay ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H bagi yang beragama islam. Minal aizdin wal faizdin, kalau Fay punya salah Fay minta maaf ya...
Update selanjutnya Fay gak bisa tentukan kapan tepatnya. Tapi Fay usahakan kalau sempat Fay cicil dikit-dikit :"D
.
.
Fay tunggu segala bentuk apresiasi kalian. Tapi seperti biasa kalau review jangan cuma next lanjut, oke? Terima kasih sudah membaca ^^
.
.
8 Juli 2016
