JNJ's Love

Chapter 6 B

Cast :

- Kim Jongin 'EXO'

- Ahn Daniel 'Teen Top'

- Park Jimin 'BTS'

- Lee (Oh) Sehun 'EXO'

- Lee (Bang) Minsoo 'Teen Top'

- Lee (Jeon) Jungkook 'BTS'

Genre : Romance, School Life, Drama

Rated : T

WARNING : ALUR CEPAT, MAINSTREAN, TYPO, dll.

Happy reading guys...

.

.

.

"Dimana ini?"

"Rumahku."

"Kenapa kau membawaku ke rumahmu?"

"Entahlah."

"Apa kau bilang? Aisshh! Aku mau pulang."

"Aku tak mengijinkanmu."

"Aku tak perlu ijinmu!"

"Ini peraturan yang kubuat dirumahku."

"Dasar gila!"

Percakapan mengesalkan menurut seorang pemuda manis berkulit Tan menghadapi pemuda yang tengah duduk santai disofa rumah tengah ini. Jongin, Pemuda tan itu menatap kesal pada Sehun, yang masih duduk manis disofanya.

Jongin menghampiri Sehun. "Aku mau pulang, Sehun-ssi"

"..." yang hanya dibalas cengiran dari bibir tipis pemuda tampan itu.

"Yakk! Aku sedang bicara padamu!" Jongin menarik pundak Sehun agar menghadap kearahnya.

"YAAAKKKK!" Namun yang Sehun lakukan malah menarik tangan Jongin sehingga membuat Jongin menjatuhkan tubuhnya tepat diatasnya.

"Yaakkk! Apa yang kau lakukan!" Jongin berusaha bangkit dari posisinya sekarang namun Sehun malah memeluk pinggangnya dan menahannya.

"Bisakah kau diam?" Bisik Sehun tepat ditelinganya dan membuat Jongin merinding.

Sehun mengeratkan pelukannya pada pinggang Jongin, mengabaikan sumpah serapah yang Jongin berikan untuknya. Sebentar dia menunjukan smirk andalannya. Kemudian dia merubah posisi Jongin agar tepat duduk diatas pangkuannya.

"Sebenarnya apa mau mu, hah?" Tanya Jongin dengan nada tajam seraya membalas tatapan mengintimidasi dari pemuda dibawahnya ini.

"..." Lagi-lagi Sehun hanya memberikan smirk khas miliknya.

Jongin kembali bangkit dari posisinya, namun Sehun tetap memeluk pinggangnya dengan penuh ke posesif-an. Sehun menatap Jongin dengan lembut, seolah memberi keyakinan Jongin untuk tetap diam. Membuat Jongin berkali-kali mengedipkan matanya, bingung dengan sikap Sehun yang sekarang.

"A-apa yang ka-kau lakukan?" Jongin memperbesar pupil matanya saat Sehun dengan lembut mengecup keningnya. Dua kali. Sudah dua kali Sehun mengecup keningnya. Pertama saat mereka perform diacara ulang tahun sekolah. Dan sekarang. Jongin tidak tahu apa artinya.

Sehun mendekatkan wajahnya pada Jongin, menghapus jarak perlahan demi perlahan. Bahkan mereka bisa merasakan hembusan dari keduanya. Jongin berkali-kali harus menelan salivanya.

Satu kecup

Kecupan kecil diberikan Sehun pada bibir tipis Jongin. Jongin melongo.

Dua kecup

Lagi. Sehun membubuhkan kecupan pada bibir palm itu.

"S-sehun.."

Kecup

Mungkin bisa dibilang kalau sekarang Sehun sudah meng-klaim bahwa bibir tipis ini adalah candunya. Miliknya.

Jongin meremas bagian depan seragam sekolah yang Sehun pakai tatkala ketika benda kenyal dan hangat itu menjilat permukaan bibirnya.

"Ulurkan lidahmu." Titah Sehun.

Jongin mengedipkan matanya berkali-kali. Namun entah apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Seperti terhipnotis, Jongin dengan perlahan menjulurkan lidahnya. Berkali-kali pula pemuda manis ini menelan saliva nya dengan kasar.

Sehun dengan lihai membelai lidah Jongin dengan lidahnya.

"Eunghh.." Refleks Jongin makin mengeratkan remasan pada seragam Sehun.

Sehun mulai menghisap lidah Jongin dan mengajak pemuda manis ini untuk beradu benda kenyal basah dan hangat itu. Saling menyatukan saliva mereka.

.

.

.

Sehun meremas pantat kenyal milik pemuda manis yang duduk diatas pangkuannya. Dengan masih menyatukan bibir dan lidah mereka. Saling melumat satu sama lain.

"Eummhhh~" Jongin meremas pelan rambut Sehun. Mengabaikan aliran kecil yang terus keluar dari sela-sela sudut bibirnya.

Baju yang mereka tanggalkan berserakan diatas sofa dan dimeja. Perbedaan warna kulit begitu kentara diantar keduanya. Saling menggeliat dan bergesekan, menyatukan keringat yang mulai merembes dari pori-pori kulit.

Jongin sangat menyukai saat Sehun meremas kedua pipi bawahnya. Makin teras panas. Tangan besar itu meremat bokong kenyalnya.

"Ssshh~"

Desisan terdengar saat Sehun dengan sengaja menggesekkan kelaminnya pada lubang sempit Jongin. Remasan Jongin pada rambut Sehun makin erat, merasakan sensasi menggelikan yang baru saja Sehun berikan. Lumatan mereka semakin dalam dan basah.

Tak peduli dengan aliran yang terus merembes keluar dari sela-sela bibir keduanya. Sehun makin gencar menghisap lidah basah Jongin. Tanpa mengurangi gesekan dibawahnya.

Tangan nakal Sehun mulai melebarkan bongkahan kenyal milik Jongin, membuat lubang kecil itu sedikit membuka. Dengan cekatan pemuda tampan itu menempatkan penis nya yang sudah menegang, dengan perlahan di memasukan penisnya kedalam lubang itu.

"Nghh~" Erangan pelan terdengar ketika Sehun sudah memasukin kepala penisnya. Jongin meremas pundak Sehun, dan melepaskan lumatan basah mereka. Mata sipitnya terpejam erat merasakan otot-otot disekitar bawahnya menengang.

"Sshh~"

Sehun memberikan beberapa kecupan dibibir pemuda manis diatasnya ini, bersamaan dengan berhasilnya dia memasukan seluruh penis tegangnya kedalam Jongin. Dia mendesis pelan seketika merasakan otot lubang Jongin bereaksi dengan penisnya.

"Tenanglah" Bisik Sehun. Ditambah dengan kecupan di pipi dan dagu Jongin.

Jongin menelan saliva nya, dan membuang nafas pelan sebelum dia mengangguk. Memeluk leher Sehun dengan erat saat Sehun mulai menggerakan pinggulnya. Dia menggigit bibir bawahnya dan meremat rambut Sehun karena merasakan ngilu dibawahnya. Oke, ini tak seenak yang dia dengar dari teman-temannya dulu.

"Tenanglah.." Suhun mencoba memberikan kata penenang untuk Jongin.

"S-sakit.."

Kecupan Sehun kini sudah turun ke leher Jongin, mengecupnya dan menghisapnya. Bermaksud untuk mengalihkan rasa sakit yang Jongin rasakan. Si Pucat terus memberikan hickey pada leher tan itu.

Tanpa menghentikan gerakan pelan dibawahnya, membiasakan lubang Jongin dengan penisnya. Jangan lupakan remasan-remasan dibokong kenyal itu.

Jongin membuang nafas beratnya, kemudian mulai menaik turunkan tubuhnya dengan perlahan. Menjadikan pundak lebar Sehun sebagai pegangan. Sehun tersenyum melihat Jongin yang sedang menggigit bibir bawahnya, dia memegang pinggul Jongin, membantunya untuk bergerak.

"Nghh..." Jongin meremas pundak Sehun tatkala ketika dia merasakan penis Sehun masuk lebih dalam.

Sehun masih terus mengecupi leher Jongin, membiarkan Jongin mendominasi permainan ini. Dia hanya membatu memegangi pinggul ramping itu. Sedangkan lidahnya sibuk dengan leher dan nipple kecokelatan tegang itu.

"Se-Sehungghhh sshhh"

"Gerakka tubuhmu sayanghh nnghh" Sehun meleguh merasakan penisnya diurut oleh dinding hole Jongin. Dia juga senang dengan desahan dan leguhan yang Jongin keluarkan. Yang pernah dia baca dari buku koleksi milik Minsoo hyung adalah posisi seperti ini bisa membuat penis terasa lebih besar dan dia ingin mempraktikan untuk pertama kalinya dengan Jongin.

"Aaahhh nnghhh"

Jongin terus mendesah merasakan kepala penis Sehun menumbuk titik prostatnya. Tubuhnya terhentak-hentak karena kegiatannya, tubuhnya menengang setiap kali Sehun menumbuk bagian sensitifnya itu. Tangannya terus meremas lembut rambut Sehun yang sudah berantakan. Bagian atasnya sudah dipenuhi oleh hickey yang dibuat oleh pemuda pucat ini. Mungkin dia juga tidak bisa menyembunyikannya besok hari.

Jongin merasakan lubangnya panas dan penuh, keringat juga terus keluar dari pori-pori kulitnya.

"Aahhh nngghhhh eungghhhhh"

"Sshhhh nnghhh"

Sehun membantu mendorong penisnya berlawanan arah saat Jongin menurunkkan pantatnya, sehingga membuat penis tegang itu makin masuk kedalam lubang Jongin.

"Aaagghhhh nngghhhh" Jongin semakin merasa penuh dan ngilu dibagian bawahya. Tangannya meremat pendak Sehun.

"Aaahhhh Sehunhhhh nngghhhh"

Penis Jongin juga sudah mengeras dan menegang, dan sekarang Sehun sedang memainkan penisnya. Mengocoknya dan meremas penis penuh itu, badannya makin menggelinjang merasakan sensasi yang dia dapat dari bagian depan dan bawahnya.

"Nngghhh Jonginnhhh ssshhh" Sehun semakin nikmat merasakan penisnya diurut oleh hole ketat Itu.

"Aaahhh Ssehunnhhh nngghhhHHHHHH"

"Ouchhh nngghhhhhh"

.

.

.

Waktu jam makan siang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, dan langsung membuat penghuni sekolahan ini memadati area Kantin hanya untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai berbunyi dan untuk mengistirahatkan otak yang mereka peras selama pelajaran tadi berlangsung.

Begitupun dengan meja panjang yang sudah diisi oleh beberapa siswa yang duduk mengitari meja panjang itu. Menikmati beberapa makanan dan cemilan yang tersaji didepan mereka.

"Ini.." Pemuda bermata sipit atau yang sudah kita kenal dengan nama Minsoo itu menyodorkan kentang goreng kearah pemuda manis yang duduk disebelahnya yang tak lain adalah Niel. Bermaksud menyuapi sang pemuda pemilik bibir seksi. Yang langsung disambutnya.

"Jongin hyung, apa kau sedang sakit? Kenapa memakai syal kesekolah?" Tanya Niel dengan mulut yang sedang mengunyah makanannya

"Uhukk" Jongin dengan refleks menyemburkan cola yang sedang dia minum seketika saat mendengar pertanyaan polos dari dongsaengnya.

"Tenanglah.." Sehun menyodorkan tissue kepada Jongin, tolong jangan lupakan kekehan yang dia keluarkan saat mendengarnya. Dan langsung mendapat lirikan tajam dari Jongin.

"Hyung, ngomong-ngomong Jimin kemana? Kok tumben dia tidak ikut makan siang?" Tanya Jungkook yang memang sejak tadi memperhatikan gerbang masuk kantin, mencari seseorang yang memang dia tunggu sejak tadi.

"Jimin tidak ikut makan siang bersama, dia sedang melatih Taehyung diruangan dance. Mungkin dia membawa bekal dan memakannya disana." Jawab Niel.

"Taehyung? Siapa dia?"

"Dia anggota baru di grup dance, dan mereka satu kelas." Jawab Jongin.

"Heeyy Jungkook kau mau kemana?" Panggil Niel saat melihat Jungkook yang langsung meninggalkan tempat saat mendengar jawaban Jongin.

"Sudah biarkan saja." Ujar Sehun.

Jungkook berlari menuju ruangan dance dimana Jimin berada. Tak taukah pemuda tampan ini ingin melihat pemuda manisnya. Mungkin bisa dibilang jika Jungkook merindukan pemuda itu.

Dia mengabaikan tatapan kesal siswi dan siswa yang dia tabrak tanpa mengucapkan maaf. Jungkook segera memasuki ruangan besar yang penuh dengan kaca ini.

"Jimin!"

Penghuni ruangan ini terlonjak kaget saat mendengar suara pekikan yang memenuhi ruangan kedap suara ini.

"Astaga! Jungkook!"

Jimin menatap Jungkook dengan pandangan kesal karna mengagetkannya. "Apa-apaan sih, kau mengagetkanku tau."

"Sedang apa kalian?" suara Jungkook menajam karena melihat Jimin yang berada direngkuhan pemuda yang baru pertam dia lihat itu.

"Ye?" Jimin tidak mengerti maksud Jungkook sampai dia menyadari bahwa dia masih didalam pelukan Taehyung. Dengan cepat dia menjauh dari Taehyung.

"A-aku sedang mengajari Taehyung gerakan dance." Jawab Jimin.

"Berpelukan?" Memang Jungkook melihat dengan kepalanya sendiri kalau pemuda manis –nya sedang berada dipelukan Taehyung dan dia mendengar dengan pasti background music yang melantun indah nan lembut. Ohh! Jungkook merasa seperti berada dipesta pernikahan sekarang!

"A-aniya. Kita tidak bermaksud berpelukan tapi memang_"

"Aku tidak bicara denganmu." Ujar Jungkook yang langsung memotong ucapan Taehyung.

"Ye?"

Jimin menatap Taehyung dan Jungkook bergantian. Oh ayolah, ini bukan seperti drama-drama cinta segitiga anak sekolahan yang sering ibunya tonton setiap sore hari.

"Jungkook-ssi, kau ini kenapa sih? Mengganggu saja."Omel Jimin yang merasa Jungkook mengganggu.

"Mengganggu?" Jungkook mendelik tidak suka menatap Jimin.

Upss! Sepertinya Jimin salah bicara sekarang. Dia menelan saliva nya ketika melihat Jungkook menatapnya tajam. "Bu-bukan begitu maksudku. K-kau tahu kan ka-kalau kami sedang latihan."

"Jadi menurutmu aku mengganggumu?"

"Ju-Jungkook, a-ku ti-tidak bermaksud begitu." Entah kenapa Jimin merasa gugup mendengar nada suara dan tatapan yang Jungkook keluarkan.

"Tch!"

'BRAAKKK'

Suara bantingan pintu terdengar begitu keras yang dilakukan oleh Jungkook. Yupp! Pemuda tampan itu langsung keluar dari ruangan ini dengan aura yang terasa gelap dan panas.

Jimin menatap Jungkook yang keluar dari ruangan ini begitu saja, menatapnya bingung. 'Memangnya aku salah apa?' Pikir Jimin.

"Kau baik-baik saja Jimin-ah?" Tanya Taehyung.

Jimin kembali memperhatikan Taehyung. "Ne, aku baik-baik saja Tae."

"Aku pikir Jungkook cemburu dengan ku." Ujar Taehyung.

"Cemburu kenapa?" Jimin mengikuti Taehyung duduk dipinggir lapangan.

"Bodoh, tentu saja karna dia menyukaimu."

"Ye?" Jimin kaget mendengar penuturan Taehyung. "Mana mungkin, Tae. Dia hanya kekanak-kanakan." Jimin menenggak air mineralnya dengan gugup.

"Kau saja yang tidak peka." Ujar Taehyung seraya mengacak-acak rambut Jimin.

"Taeee" Jimin menepis tangan Taehyung.

Taehyung terkekeh melihat tingkah lucu Jimin. "Yasudah, ayo kita makan siang dulu. Nanti keburu bel masuk."

.

.

.

Jimin menuruni tangga rumahnya dengan langkah yang ringan, mendekati ibunya yang tengah subuk dengan urusan makan malam. Dia menyomot jeruk dari keranjang buah yang ada diatas meja makan, kemudian duduk manis dikursi makan seraya mengupas kulit jeruknya.

"Eomma, appa mana?" tanya Jimin kepada ibunya yang sedang sibuk dengan penggorengan.

"Sebentar lagi juga pulang sayang." Jawab ibunya lembut.

"Eumm.." Jimin mengunyah buah rasa mania dan kecut kesukaannya itu.

"Ngomong-ngomong teman-temanmu tidak main kesini?" Tanya Mrs. Park.

"Mereka punya kegiatan sendiri dengan kekasih-kekasih mereka." Jawab Jimin sekenanya.

"Kekasih?" Yeoja paruh baya itu menata makanan yang dia masak dimeja makan. "Kau sendiri? Mana kekasihmu?

"Uhuukk uuhhukk" Jimin seketika tersedak akibat pertanyaan sederhana dari ibunya. Dia segera mengambil gelas dan mengisinya dengan air, kemudian segera menenggak habis isinya. Tak memperhatikan kekehan dari ibu cantiknya. "A-aku mana punya eomma.."

"Benarkah? Wahh sayang sekali hanya kau yang single diantara mereka." Goda ibunya.

Jimin kembali memakan jeruknya dengan gugup, entah kenapa pipinya sedikit menghangat.

'Drrrtttt Drrrtttt'

Dia terlonjak kaget saat merasakan getaran lembut disaku celana jeans nya. Jimin segera merogoh sakunya dan meraih ponselnya dari sana. Dia melihat nama 'Taehyung' sebagai pemanggil. Jimin mengangkat panggilan masuk itu.

"Yeoboseo..." Sapa Jimin.

"..."

"Kenapa Tae?"

"..."

"MWORAGO?" Jimin ber-reaksi kaget dengan apa yang dia dengar dari sebrang telepon disana.

"..."

"K-kau serius? Bagaimana bisa? Lalu bagaimana keadaanmu?"

"..."

"Baiklah, aku akan segera kesana. Tunggu aku yahh Tae."

Setelahnya Jimin memutuskan panggilan itu. Dan kembali memasukan ponselnya kedalam saku.

"Siapa yang telepon sayang? Sampai kaget begitu?" Tanya ibunya.

"Dari temanku eomma."Jawab Jimin. "Eomma, aku pergi dulu yah, ada urusan penting."

""Tapi sebentar lagi makan malam sayang. Lagipula Appa juga akan pulang."

"Hanya sebentar eomma, aku akan segera kembali." Jimin bangkit dari kursinya.

Mrs. Park tersenyum. "Arraseo, cepat pulang jika sudah selesai. Mengerti?"

"Ne eomma.."

Jimin sedikit berlari keluar dari rumah.

.

.

Jimin berlari memasuki sebuah rumah sakit kecil yang ada dipinggir kota. Dia meminta maaf kepada orang-orang yang dia lewati. Matanya menelusuri nomor-nomor yang ada didepan pintu, mencari nomor kamar yang diberikan oleh temannya itu.

"Ahh ini dia hahh hahh" Jimin berhenti tepat didepan pintu kamar yang dia tuju.

Dengan segera Jimin memasuki ruangan itu, dan disambut warn putih beserta aroma obbat-obatan.

"Taehyung.." Jimin mendekati sahabatnya yang terbaring diatas ranjang. "Taehyung.."

"Jimin, kau sudah datang." Ujar Taehyung dengan senyum kotaknya.

"Apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa seperti ini?" Kekhawatiran terdengar dari ucapan Jimin. Dia menyentuh kaki Taehyung yang terbalut perban. "Apa sakit?" Tanya Jimin polos.

Taehyung terkekeh mendengar ucapan polos Jimin. "Sudah lebih baik Jim, Cuma masih sedikit sakit." Jawab Taehyung.

"Siapa yang menabrakmu Tae? Kenapa bisa seperti ini?"

Taehyung menatap wajah khawatir Jimin, dia sedikit ragu untuk menceritakan kejadian yang menimpanya sore tadi saat pulang sekolah. "Jimin-ah.."

"Ne Tae?" Jimin menatap Taehyung, alisnya bertaut melihat ekspresi sahabatnya. "Kenapa? Apa ada sesuatu?"

"S-sebenarnya, yang menabrakku itu..." Taehyung menelan ludahnya yang mengganjal ditenggorokan. "Jungkook." Akhirnya.

"Ye?" Jimin menajamkan pendengarannya.

"Jungkook, dia yang menabrakku."

"Ta-tapi bagaimana b-bisa? Kau yakin?" -Jimin-

"Aku yakin dia Jungkook, setelah menabrakku dengan motornya dia membuka helm nya dan menoleh padaku." Jawab Taehyung. Dia mengerti jika Jimin tidak percaya.

"Ta-tapi kenapa?"

"Kalu boleh ku tebak, dia marah padaku soal diruangan dance siang tadi."

"Ye? Ma-mana mungkin Tae.."

"Itu kan menurutku Jim."

Jimin menggigit bibirnya, hatinya mulai berkecamuk antara kesal, marah atau senang? Entahlah. "Apapun alasannya ini tetap tidak dibenarkan. Dia tidak seharusnya mencelakai orang lain." Jimin bangkit dari duduknya.

"Kau mau kemana Jimin?" Taehyung memanggil Jimin yang hendak keluar dari ruangan ini.

"Aku harus bertanya padanya Tae, dia harus bertanggung jawab."

.

.

Jimin keluar dari taksi, dan kembali berlari setelahnya. Memasuki sebuah gerbang rumah besar dan mewah yang dia yakini kalau Jungkook tinggal didalamnya. Dia belum pernah kerumah Jungkook tapi dia mendapati alamat ini dari Jongin yang pernah sekali mampir kesini.

Jimin menekan bel yang berada dipinggir tembok sebelah pintu. Menekannya berulang kali dengan kaki yang dia hentakan tak sabaran.

Tak lama pintu itu terbuka dan keluarlah seorang yeoja paruh baya berpakain pelayan dari dalamnya. "Siapa yah?" Tanyanya.

"Annyeonghaseo.." Meskipun kesal tapi Jimin tidak melupakan sopan santunnya, dia membungkuk.

"Ne, Annyeonghaseo.."Balas pelayan itu. "Anda mencari siapa?"

"Eumm.. A-aku mencari Jungkook. Apa dia ada dialam?" Tanyanya.

"Tuan Muda ada diruang tengah bersama dengan Tuan Muda Sehun dan Tuan Muda Minsoo. Silahkan masuk." Sang pelayan membuka kan pintu mempersilahkan Jimin untuk masuk.

"Terima kasih." Jimin melesak masuk kedalam rumah.

Menuju ruang tengah yang sebelumnya ditunjukkan oleh Pelayan rumah ini. Dia dapat melihat ketiga pemuda tampan berkumpul disofa mewah disana.

Jimin langsung mendekati mereka dengan langkah yang cepat. "Lee Jungkook!"

Ketiga pemuda disana langsung menolehkan kepalanya kearah suara yang mengintrupsi mereka. Mereka sedikit terkejut dengan kedatangan Jimin terutama Jungkook yang langsung menghampiri Jimin.

"Jimin, kau datang? Kau pasti sangat merindukanku kan?" Ujar Jungkook dengan senyum yang merekah dari bibirnya.

'Plakkk'

Semua yang berada disana terkejut dengan yang dilakukan Jimin, mata mereka membulat tak percaya. Jimin menampar Jungkook. Tepat diwajah tampan itu.

Jungkook tidak terkejut sama sekali, dia tahu pasti ini akan terjadi, dia hanya tak berpikir jika akan secepat ini. Jungkook tetap tersenyum manis membalas tatapan amarah Jimin, memegang pipi yang barusan dapat ciuman dari pemuda cantik didepannya.

"Kau yang menabrak Taehyung?" Nafas Jimin tersengal menahan emosi yang mulai meluap.

"Kau kemari hanya karna ini?" Tanya Jungkook.

"Iya atau tidak? Benar kau yang menabrak Taehyung?" -Jimin-

Jungkook membalas tatapan Jimin, dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. "Iya, aku yang menabraknya."

'Plakk'

Lagi. Jimin kembali memukul wajah Jungkook. Kali ini dipipi sebelah pemuda tampan itu. "Kau sungguh keterlaluan Lee Jungkook!" Nada Jimin sudah mulai meninggi.

"KARNA AKU TIDAK SUKA KAU BERDEKATAN DENGAN DIA!" Balas Jungkook.

"ITU BUKAN URUSANMU!" -Jimin-

"ITU ADALAH URUSANKU!" -Jungkook-

"BERHENTILAH MENGURUSIKU!" -Jimin-

Jungkook terdiam, dia bisa melihat wajah Jimin yang memerah dan beberapa tetes air mata berhasil keluar dari mata beningnya. Jungkook menelan salivanya.

Nafas Jimin kembali memburu setelah beberapa kali dia memakai nada tinggi. "Mulai dari sekarang berhenti mengurusi urusanku." Jimin memberikan tatapan tajamnya. Dia hanya tidak mau teman dekatnya menjadi celaka karenanya.

"..."

"Berhentilah berbicara padaku! Berhenti bertemu denganku! Dan berhenti mengenalku." Jimin berjalan mundur.

"Karna aku membencimu!" Setelahnya dia memutar tubuhnya dan kembali berlari keluar dari rumah mewah ini.

Sedangkan Jungkook kembali duduk disofa mewahnya. Menghela nafas berat dan mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya dia juga marah, kenapa Jimin mati-matian membela temannya. Dia bahkan rela kesini hanya demi Taehyung. Hell!

"Kau tidak mengejarnya?" tanya Minsoo yang sejak tadi duduk manis menyaksian drama pertengkaran sepasang kekasih yang terjadi didepan mereka, bersama adiknya, Sehun.

Mereka tidak terlalu peduli dengan masalah adik kecil mereka sebenarnya. Tapi karna itu terjadi didepan mereka mau tidak mau mereka harus menikmatinya.

"Biarkan saja lah." Jawab Jungkook acuh.

.

.

.

T

B

C

.

.

.

Haiiiiii~ /melambai

Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih banyak yahh buat kalian yang masih nunggu dan ngerespon ff aku ini.. Sumpah seneng banget baca review dari kalian yang bilang kalo kalian nungguin ff ini /jingkrak2 hahah

Aku juga minta maaf kalo buat kalian kecewa sama cerita ini, pasti sedikit2 ceritanya mulai membosankan kan? Aku juga ngerasain kok.. hehehe

Mungkin Chapter depan adalah chapter terakhir /bow

Oke dehh selamat menikmati ff ini dan terimakasih untuk kalian yang sudah membaca dan mereview ff ini dengan positif..

/kecup satusatu :*