JNJ's Love

Chapter 7

Cast :

- Kim Jongin 'EXO'

- Ahn Daniel 'Teen Top'

- Park Jimin 'BTS'

- Lee (Oh) Sehun 'EXO'

- Lee (Bang) Minsoo 'Teen Top'

- Lee (Jeon) Jungkook 'BTS'

Genre : Romance, School Life, Drama

Rated : M

WARNING : ALUR CEPAT, MAINSTREAN, TYPO, dll.

Happy reading guys...

.

.

.

Sehun dan Minsoo sudah lebih dari 5 menit berada didalam mobil yang masih terparkir digarasi rumah mewah mereka. Ekspresi bosan terus saja terparkir diwajah mereka. Ini masih pagi untuk melunturkan wajar tampan mereka, yang sebenarnya tidak pernah luntur.

"YAKKK! LEE JUNGKOOK! PPALLIIII!"

Suara teriakan dan klakson tak sabaran terdengar begitu menuntut.

Seorang pemuda tampan baru saja keluar dari balik pintu rumah mewah ini. Berjalan sedikit cepat –dan malas- menghampiri mobil itu. Sang pemuda bernama Jungkook itu segera masuk kedalam mobil dengan bantingan pintu saat menutup pintu mobil itu kembali.

"SHIT!" Minsoo yang memegang kendali mobil segera menjalankan mobil mewahnya setelah pintu tertutup.

"Aku tak menyangkan si bocah pendek itu bisa membuatmu seperti gelandangan seperti ini." Komen Minsoo yang melirik adiknya dari kaca spion memperhatikan penampilan adik bungsunya itu.

Bagaimana tidak? Dia masih ingat betul bahwa Lee Jungkook itu adalah adiknya. Seseorang yang ia kenal yang begitu sangat mencintai penampilannya. Bahkan setiap barang yang menempel pada tubuhnya sudah jelas memiliki harga gaji karyawan selama 2—3 bulan.

Tapi yang saat ini dia lihat adalah seseorang dengan baju berantakan, rambut berantakan, hampir semua penampilannya sangat berantakan, kecuali wajah mungkin, karna tetap terlihat tampan dalam kondisi seperti apapun.

"Shut up!"Komennya dengan tatapan yang paling mematikan.

Membuat Minsoo dan Sehun terkikik geli melihat ekspresi milik Jungkook, dan melanjutkan perjalanan mereka kesekolah dengan diam karna mereka tahu kalau saat ini Jungkook sedang berada dalam mood yang paling buruk jadi sebagai kakak-kakak yang baik mereka mencoba mengerti sedikit.

.

Pemuda-pemuda tampan itu berjalan dnegan gaya seperti biasanya –angkuh- melewati kerumunan siswa-siswi yang masih berkumpul dikoridor sekolah. Mengabaikan tatapan kagum dan memuja dari mereka semua, karna mata mereka tertuju pada dua orang yang baru saja memasuki kantin. Dengan semangat mereka menghampiri dua pemuda itu.

"Niel-ah!" Sahut Minsoo pada salah satu dari mereka, Sehun dan Jungkook mengikuti dibelakangnya.

Niel, pemuda yang dipanggil itu menoleh pada Minsoo. Seketika senyumnya mengembang menatap pemuda yang memakai kaca mata hitam itu.

"Morning sayang.." Sebuah kecupan singkat Minsoo daratkan dipipi tirus Niel.

"Pa-pagi hyung.." Jawab Niel. Wajah Niel memerah dengan perlakuan Minsoo yang tengan memeluk pinggulnya mesra.

Sehun dan Jungkook dibuat mual oleh tingkah kedua pasangan yang dimabuk asmara itu. Sehun hanya menarik tangan Jongin untuk duduk disalah satu kursi panjang kosong yang ada disebelah sana.

"Kau sudah sarapan?" Tanya Sehun lembut.

"Be-belum, i-ini baru saja kami ingin sarapan." Jawab Jongin yang bersemu. Yahh meskipun Sehun bukan tipe orang yang romatis dan terus terang seperti Minsoo, namun sikap lembut Sehun kepadanya berhasil membuatnya memerah.

Mereka duduk manis dikursi kantin itu, Niel dan Jongin memesan makanan terlebih dahulu sebelum menyusul mereka. Karna ini masih pagi dan jarang ada siswa atau siswi yang sarapan dikantin sehingga kantin masih terasa sepi yang hanya diisi oleh beberapa murid saja.

"Hyung, sebentar lagi kan kau akan lulus dari sekolah ini, setelah itu kau akan lanjutkan kemana?" Tanya Niel yang sudah duduk manis disebelah Minsoo, membantu menata makanan yang baru saja diantar oleh pelayan kantin.

"Itu pun kalau dia lulus." Celetuk Sehun.

"Ishh!" Minsoo baru saja ingin melempari Sehun dengan garpu yang sudah ada ditangannya namun masih sempat direbut oleh Niel. "Eumm.. Mungkin kuliah, atau bekerja_" Minsoo menatap Niel, "Atau menikah denganmu."

Dan membuat Sehun, Jungkook, dan Jongin mulas seketika.

"Aku serius hyung.." Ujar Niel yang merasa gemas.

"Arraseo.. Sebenarnya aku juga belum tahu mau kemana setelah ini.' Ucapnya. "Sudahlah, ayo kita sarapan dulu."

Mereka memulai acara sarapan mereka.

"Eumm.. Hyung, Jimin mana?' Tanya Jungkook.

"Jimin? Mollayo.." Jawab Jongin. "Ahh, ngomong-ngomong soal Jimin, ada yang ingin aku tanyakan pada kalian."

"Wae?" Tanya Sehun.

"Kemarin malam Jimin menelpon ku, lalu dia meminta alamat rumah kalian." –Jongin-

"Lalu kau berikan?" Tanya Jungkook.

"Tentu saja aku berikan." Jawab Jongin.

'Hyung tahu rumah mereka?" Niel memandang Jongin bingung.

"Tentu saja tahu, aku dan Sehun kan pernah mel_" Jongin menelan saliva nya yang tiba-tiba menyangkut ditenggorokan. Seketika itu juga wajahnya memerah, matanya mulai berkedip tak menentu dan gugup pada saat yang bersamaan.

"Ye?" –Niel-

"I-itu a-ku... Eumm.. Te-tentu saja t-tahu dari Se-Sehun. Y-ya! I-itu tidak penting." Jongin mencoba senormal mungkin meskipun kepalanya berputar bagaimana caranya dia bisa sampai kerumah mewah itu. "Yang aku tanyakan kenapa Jimin kerumah kalian?"

"Ahh benar! Kenapa Jimin kerumah kalian malam-malam?" Tanya Niel yang merasa penasaran juga.

"..."

"..."

"..."

Ketiga pemuda tampan itu hanya saling berpandangan satu sama lain.

"I-itu..."

"Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Jongin menelisik Sehun yang masih diam.

"Aniya.. Jungkook yang melakukannya." Jawab Sehun cepat, dan menunjuk kearah Jungkook.

"Waeee?"

"Jiminieee!" Seru Niel ketika berhasil menangkap sosok mungil yang baru saja memasuki kantin. Membuat mereka semua mengalihkan mata mereka pada Jimin.

"Jiminie, siniii..." Jongin memanggil Jimin.

Namun Jimin hanya berdiam diri dipintu kantin sambil menatap mereka, mungkin lebih tepatnya menatap salah satu dari mereka. Dengan tatapan yang mematikan, meskipun sebenarnya itu malah terlihat imut.

"Jiminn!" Seru Niel saat malihat Jimin malah berlari keluar kantin.

"Aishh!"

"Eh? Jungkook..." Dan sekarang giliran Jungkook yang ikut berlari.

"Mereka berdua kenapa?" Tanya Jongin.

"Mereka sedang lomba lari." Celetuk Sehun asal.

"Aku serius Hunah.. Mereka kenapa? Apa ada sesuatu yang kami tidak tahu?" Ujar Jongin gemas.

"Sudahlah, itu urusan mereka. Kalian tidak perlu ikut campur urusan mereka." Jawab Minsoo.

"Tentu saja kami harus tahu, Jimin adalah adikku." Ucap Niel yang tidak terima dengan ucapan Minsoo.

"Bukan begitu sayang, ini urusan percintaan mereka jadi lebih baik mereka menyelesaikan nya sendiri tanpa kita." Jawab Minsoo mencoba meredam kekesalan Niel.

Dan akhirnya mereka kembali melanjutkan sarapan mereka yang tertunda.

.

.

.

Jungkook berlari mengejar Jimin yang berada didepannya, bersyukurlah dia pada Tuhan karena memberikan Jimin kaki yang pendek sehingga larinya masih bisa terkejar. Jungkook meraih tangan Jimin secepat kilat, dan membawa pemuda mungil itu berlari kearah yang ia tuju.

"YAKKK! Lepaskan aku!" Jimin mencoba menarik tangannya yang digenggam erat oleh Jungkook, namun sayang, Jungkook sangat kencang memegangi tangannya.

"Ikut aku." Ucap Jungkook dengan nada tegas.

"Kau mau membawa ku kemana? Sebentar lagi bel akan berbunyi. Yakk!" Jungkook terus saja menarik tangan Jimin, mengabaikan tatapan aneh dari murid-murid yang menatap mereka bingung.

"..." Jungkook tak menjawab ucapan Jimin.

Sedangkan Jimin masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jungkook. "YAKKKK!" Jimin terkejut saat Jungkook membawanya kedalam ruangan Dance.

Jungkook melepaskan tangan Jimin dengan kasar, dan membuat Jimin sedikit meringis akibat tindakannya itu. Pemuda tampan itu menatap Jimin dengan tajam.

Jimin yang ditatap seperti itu sedikit takut, namun dia mencoba itu tidak terlihat bahkan pemuda cantik ini membalas tatapan sengit mereka.

"Tsk!" Jimin handak berbalik, untuk keluar dari ruangan ini. Namun tangannya kembali ditahan oleh Jungkook.

Padahal Jimin ingin segera kembali kekelasnya karna bel sekolah sedang berbunyi nyaring sebelum mereka memasuki ruangan kedap suara ini.

"Apa yang kau mau sih? Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu." Ujar Jimin.

"..." Jungkook masih hanya menatap Jimin.

Dan itu membuat Jimin kesal setengah mati. "Kalau memang tidak ada yang perlu dibicarakan aku ingin kembali kekelas." Lagi. Jimin kembali membalikan tubuhnya, namu Jungkook pun kembali menarik tangannya dengan kuat sehingga tubuhnya tertarik kebelakang.

Mata Jimin membola saat bibirnya dengan keras menabrak bibir Jungkook saat pemuda itu menarik tangannya. Jimin baru saja ingin menjauhkan kepalanya namun tangan besar Jungkook berhasil menahan kepalanya, menekan tengkuknya dengan lembut.

Mata mereka saling memandang satu sama lain, Jimin yang membola karna kaget dan Jungkook yang membalas tatapan tajamnya. Sedangkan dibawah sana, Jungkook sudah mulai menggerakan bibirnya, melumat bibir tebal Jimin. Dan berhasil membuat Jimin lebih melebarkan matanya.

Jimin mencoba menarik dirinya, tapi sayang dia kalah telak dengan tenaga Jungkook yang terus menekan tengkuknya. "Nghhh~" Satu leguhan berhasil keluar saat dengan santai Jungkook mengelus tengkuknya, itu bagian sensitif untuk Jimin.

Jungkook menyeringai dalam kulumannya, dengan berani dia memaksakan lidahnya menerobos kedalam mulut hangat Jimin. Bermain sebentar dengan lidah Jimin yang tengah mencoba mendorong lidahnya keluar, namun malah terasa mereka seperti beradu lidah. Pemuda tampan itu masih menahan kepala Jimin.

"Ngghhhh~" Jimin kembali mendesah untuk kedua kalinya saat lidah hangat Jungkook menyapu langit-langin mulutnya. Entah kenapa Jimin merasa matanya menjadi berat untuk dibuka, dan dengan mengikuti hatinya akhirnya Jimin memejamkan matanya.

Tangan mungilnya meremat seragam bagian depan milik Jungkook yang memang berantakan sejak awal. Mulai menikmati ciuman menuntut yang Jungkook berikan, bahkan meskipun dengan ragu-ragu Jimin membalas lumatan itu, membalas menghisap bibir bawah Jungkook saat pemuda tampan itu melumat bibir atasnya.

.

.

"Aaaahhh~ Nnghhhh~"

Suara desahan Jimin terdengar untuk yang kesekian kalinya, tubuhnya terhentak-hentak seirama dengan dorongan dari arah belakangnya. Menggeleng-gelengkan kepalanya saat merasakan kenikmatan yang Jungkook berikan melampaui batas yang dia rasakan dari sebelumnya.

Sedangkan pemuda tampan itu meremat lembut pinggul Jimin ynag berada didepannya, menarik pinggul berisi itu ketika dia menghentakan pinggulnya, yang berhasil menciptakan pekikan nikmat dari orang yang tengah menungging didepannya ini. "Ugghh~" Bibirnya mengerang ketika merasa miliknya diberikan pengurutan sensual dari lubang hangat itu.

"Juh-Jungkookhhh aaahhh~ nngghhhhh~" Jimin memejamkan matanya untuk lebih meresapi setiap detik yang terjadi pada dinding holenya.

Menikmati setiap hentakan yang pemuda tampan itu berikan, meskipun ini adalah yang pertama, namun entah kenapa Jimin merasa nyaman melakukan kegiatan panas ini. Hatinya menggebu-gebu sesuai dengan irama yang Jungkook berikan dari belakangnya, serasa seperti ada kupu-kupu yang berterbangan diperutnya. Jimin suka, sangat suka sensasi itu.

Tangan mungilnya menggenggam tangan besar Jungkook yang ada dipinggulnya, meremas setiap kali Jungoook menyodok terlalu dalam.

"Aaahhh~ aaahhhhh~ uugggghhhh"

"Emmhhhhh ssshhh~"

Desahan sensual saling bersautan diantara mereka, untunglah ruangan Dance ini kedap suara. Jadi apapun yang terjadi pada mereka, sekencang apapun suara mereka, tak akan ada yang mendengarnya. Dan bersyukurlah mereka karna sejak awal jendela ruangan Dance ini tertutup gorden yang rapat, jadi tidak akan terlihat. Memang gorden hanya dibuka saat mereka ada latihan dance saja.

"Aaaahhh~ Junghhkookkhhhh akuhh inginnhhhh nngghhh"

"Keluarkanhhh sajah sayanghh ssshhh" Rematan pada rektum Jimin semakin menjadi, membuat kejantanannya semain mengembung dibawah sana.

"Ugghhh nngghhhh kookieehhh ouchhhhhhh"

Jimin mendongakkan kepalanya, memejamkan matanya erat, menikmai klimaks yang baru pertama kali ini dia rasakan. Matanya memutih seketika, aliran darahnya terasa membakar, membuat tubuhnya panas menjalar sampai kekepala. Cairan kental berwarna putih membasahi lantai dansa yang biasa dia gunakan untuk menari ini.

"Ssshhhh~" Desisan lembut berhasil lolos dari bibir tipis Jungkok, meresapi setiap urutan-urutan yang diberikan oleh dinding rektum Jimin.

Jungkook melirik pada Jimin yang tengan nmenarik nafasnya dalam-dalam sampil menundukan kepalanya. Jungkook tersenyum melihat Jimin yang tengah kelelahan. Jimin lucu. Itulah yang terlintas dari dalam otak Jungkook.

"Apa kau lelah?" Tanya Jungkook lembut, seraya membelai punggung Jimin ynag penuh dengan heckey hasil buatannya. Dan dia dapat melihat Jimin menganggu lemah, kembali tersenyum.

Jungkook meraih tubuh Jimin, tanpa melepaskan penyatuan mereka (posisi Jimin duduk membelakangi Jungkook). Kemudian Jungkook menggendong Jimin dengan memegang kedua sisi paha Jimin, sehingga saat ini Jimin terlihat sedang mengangkang. Jungkook bangkit berdiri, membenarkan posisi nya sebentar. Kemudian berjalan mendekati dinding kaca, ruangan Dance ini memang dikelilingi kaca besar didindingnya. Sehinggap mereka bisa melihat kegiatan mereja sejak awal tadi.

Sontak wajah Jimin memerah saat melihat dirinya yang telanjang sedang mengangkang lebar didalam gendongan Jungkook. Ditambah lagi matanya langsung tertuju pada penis Jungkook yang masih tertanam didalam holenya, serta penisnya yang mengacung ditengah-tengah itu.

"Eumghhh~" Melihat dirinya dengan keadaan seperti ini berhasil membuat nafsu nya kembali mengkat.

"Kau suka dirimu seperti ini?" Tanya Jungkook yang sesekali mengecup tengkuk Jimin.

"J-Junghhkookhhh"

Jungkook mulai menggerakan pinggulnya maju mundur. "Lihat dirimu sayang, dicermin itu." Suruh Jungkook. Jimin pun membuka matanya yang terpejam lalu kembali melihat pemandangan yang begitu panas.

Wajah Jimin semakin memerah saat melihat pantulan dirinya pada cermin saat melihat Jungkook mengeluar masukan penisnya.

Tanpa sadar Jimin menggigit bibir bawahnya.

"Aahhhh~ ouchhh"

"Jangan tutup matamu sayang. ." Jungkook menggerakkan tubuh Jimin agar penisnya bisa keluar masuk dari lubang hangat itu.

"Akkhhhh.." Jungkook berhasil menumbuk titik terdalam Jimin.

Dia pun terus menghantam titik Jimin tanpa ampun, membuat Jimin terlonjak-lonjak setiap Jungkook menusukkan penisnya.

"Ju-Jungkookhhh akuhh ingin keluarrhhhh..."

"Iya sayang bersamahh-samahh.."

Jungkook semakin cepat menggerakan tubuh Jimin, dia juga menggerakan pinggulnya hingga penisnya lebih masuk kedalam.

Dia terus menumbuk titik Jimin dengan brutal, membuat desahan-desahan kembali terlontar bebas dari dalam bibir Jimin.

"Aakkhhh akuhh nnggghhhhhhhh" Jimin akhirnya mencapai klimaks keduanya, membiarkan cairan kentalnya membasahi kaca.

"Nngghhhh~" Disusul dengan Jungkook yang mengeluarkan cairannya didalam hole Jimin, dan saking banyaknya cairan sperma-nya keluar dari hole Jimin, turun membasahi pahanya.

.

.

.

"Jungkook-ah.." Panggil Jimin.

"Hmm?"

Kini mereka tengah tiduran ditengah-tengah ruangan Dance, saling berpelukan mencari kehangatan diruangan ber-AC ini, meskipun mereka sudah memakai pakaian seragam mereka kembali.

Jimin menjadikan lengan Jungkook sebagai bantal yang empuk, dan membiarkan Jungkook memeluk pinggangnya.

"Meminta maaf lah pada Taehyung.." Ujar Jimin.

"Ye?"

"Kau harus minta maaf pada Taehyungie." Ucap Jimin.

"Aniya."

"Wae?" –Jimin-

"Untuk apa? Aku tidak merasa salah kok." –Jungkook-

Jimin bangkit dari tidurannya, menatap Jungkook dengan pandangan sebal. "Kau sudah menabraknya dan kau masih tidak merasa bersalah sama sekali?"

"Aku melakukannya kan ada alasannya." Jungkook mengikuti Jimin untuk duduk.

"Apapun alasannya kau tetap tidak boleh mencelakai orang lain." –Jimin-

"Kenapa kau membela laki-laki brengsek itu?"

Jimin memukul dada Jungkook, dan berhasil membuat Jungkook meringis. "Kau yang brengsek."

"Aisshh... Iya iya aku akan minta maaf." Sudahlah, mungkin dia harus mengalah untuk pertama kalinya saat ini.

"Janji kau akan meminta maaf?" Tuntut Jimin.

"Hmm.." Respon Jungkook.

"Kookie! Aku seriuuuss.."

"Iya iya.." Jungkook menarik Jimin untuk kembali berbaring dilantai dansa. Mungkin hari ini mereka akan menghabiskan waktu disini saja, dan absen untuk seharian ini.

.

.

.

F
I
N
.

.

.

Haaaiiiii~

Ini adalah Chap terakhir unutuk kisah mereka..

Terima kasih untuk kalian yng udah setia membaca cerita ini, maaf kalau lama-lama cerita ini semakin membosankan.. Dan maaf kalau tidak ada peningkatan konflik dalam cerita ini.

Sebenarnya cerita ini akan ada sequel nya tapi sedikit berbeda dengan alur cerita ini dari awal.. Jadi ini tentang perjalanan adventure mereka gitu.. Gak tau juga sih ide ini bagus apa gak.. hehe

Tapi kalo memang diharuskan sampai sini yahh berarti Cuma sampai sini aja ceritanya.. kkk~

Satu lagi, maaf yahh kalo banyak Typo yang bertebaran, soalnya bener-bener males baca ulang lagi.. Maaf yaahhh... /bow/

Oke, sekali lagi thanks banget buat para Reviewer..

Dan FUCK OFF buat para SR!