TWO

Foreign Swagger

NCT

Rated-T

Humor-Romance

Jaeyong, Johnten, Doil, Yusol, Markhyuk, etc..

Enjoy it ;)

"Tae," tampaknya Kim Doyoung tak bisa menahan dirinya untuk tak mengganggu Taeyong yang tengah sibuk mencatat pelajaran di papan tulis. Uniknya, keadaan kelas 5-2 tetap hening meskipun Han sonsaengnim sudah keluar kelas dari tadi dan hanya meninggalkan catatan di papan tulis. Sebuah kejadian langka yang ditemukan di kelas 5-2, yang notabene memiliki Seungcheol dan Soonyoung si biang rusuh kelas.

Bagi Taeyong, menanggapi Doyoung saat dirinya tengah berkonsentrasi hanya menghancurkan konsentrasinya saja.

"Lee Taeyong!" Namun bagi ia yang sudah mengenal Doyoung selama lima tahun, tentu Taeyong tahu benar sahabat rasa musuhnya itu benar-benar orang paling keras kepala yang menyebalkan.

"Berhenti menggangguku Kim." Akhirnya Taeyong membalasnya, mencoba tak terpancing karena biasanya ia mudah terpancing jika Doyoung yang memulainya lebih dulu.

"Kau ini lama sekali sih menulisnya. Memangnya mengukir." Taeyong memutar bola matanya.

"Setidaknya tulisanku rapih dan bisa dibaca. Tak seperti milikmu."

"Tulisan itu hanya perlu untuk dibaca yang menulisnya, Lee."

"Kau lupa betapa seringnya para sonsaengnim mengurangi nilaimu karena tak bisa membaca tulisanmu? Lebih baik kau berlatih menulis dengan benar daripada menggangguku sekarang."

Doyoung memajukan bibirnya sebelum melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Tapi Taeil bilang tulisanku tak ada masalah."

"Dia kekasihmu, jelas ia pilih kasih."

"Ia bahkan bilang tulisanku lebih mudah dibaca daripada tulisanmu."

"Suruh ia ke dokter mata secepatnya. Minusnya pasti bertambah."

"Kau menyebalkan Tae!"

Untuk kali ini Taeyong memilih tak menanggapi teman sebangkunya itu dan memilih untuk menyelesaikan catatannya. Sayangnya, tak sampai lima menit Doyoung sudah bersuara lagi. Membuat Taeyong membatin untuk membawa lakban di kamarnya agar ia bisa menutup mulut namja kelebihan kalsium di sampingnya ini.

"Kau sudah menentukan siapa yang akan kau ambil dari klubmu untuk kompetisi dance kan?"

"Belum." Jawaban singkat dari Taeyong tentu tak membuat Doyoung puas.

"Kan dari kemarin sudah dibicarakan, Lee Taeyong. Masa waktu sehari untukmu dan Hansol tak cukup untuk memilih siapa yang akan mewakili asrama kita?"

Beruntung Taeyong berhasil menyalin kalimat terakhir di papan tulis dengan benar sebelum ia membanting pulpennya ke atas meja.

"Kan sudah kubilang aku harus mengadakan seleksi dulu. Bukannya terpilihnya kau sebagai perwakilan di kompetisi vocal tahun lalu juga melalui seleksi? Kadang aku tak mengerti kenapa kau bisa peringkat satu di kelas ini."

Tapi bukan Kim Doyoung namanya kalau terima begitu saja ucapan Taeyong.

"Selama ini kan kau dan Hansol melihat bagaimana anggota-anggota di klubmu. Masa masih tidak bisa menentukan?"

"Berisik Kim."

Dan jika Taeyong sudah malas untuk meladeni Doyoung kata andalan itu lah yang akan keluar. Bahkan pemuda bersurai putih-ungu itu memilih mengeluarkan earpod miliknya dan mendengarkan lagu dari ponselnya.

"Kau harus memasukkan Soonyoung. Bocah itu tak hanya biang rusuh kelas tapi ia punya sense yang baik jika urusan dance. Dan jangan lupakan Chan. Ia fans beratnya Michael Jackson dan kau tahu ia adalah saingan terbesar Junhoe untuk idolanya yang satu itu. Gerakan-gerakannya juga luwes, persis seperti idolanya. Hei, kau tak mendengarkanku?! Aish, Lee Taeyong!"

Sebenarnya bukan tak mendengarkan. Bahkan ia belum menyetel lagu di ponselnya. Semua ucapan Doyoung sedang ia cerna baik-baik. Dalam hati, Taeyong memuji penilaian cermat Doyoung. Hanya dalam hati tentunya, bisa-bisa sahabatnya itu tinggi hati jika ia ucapkan secara lisan apa yang ia pikirkan.

Karena ya, Soonyoung sebenarnya calon wakilnya bersama Hansol saat itu. Tapi ternyata vote lebih memilih Hansol dan membuat Soonyoung harus melepas jabatan wakil ketua yang sudah ia impikan. Soonyoung juga salah satu ace tim dance asrama mereka. Dan mengenai Chan, adik kelasnya itu memang berbakat. Bahkan dari siswa tingkat empat yang lain, ia dan Donghyuk lah yang paling menonjol. Donghyuk yang Taeyong maksud bukan Donghyuk adik semata wayangnya Doyoung. Donghyuk yang ia maksud adalah Donghyuk yang lebih akrab dipanggil Dongdong dan soulmate Junhoe dan Hanbin.

Dan Taeyong sudah memiliki tiga nama yang akan menemani ia dan Hansol dalam kompetisi ini. Hanya perlu dua orang lagi untuk mengisi posisi kosong agar tim untuk kompetisi dance mereka lengkap.

Taeyong harus mengucapkan terima kasih pada Doyoung nanti. Ya, jika Taeyong ingat.

.

.

.

.

Johnny menatap Ten yang sedari tadi memasukkan suapan demi suapan nasi beserta lauk-pauknya ke dalam mulutnya tanpa henti.

"Are you that hungry babe?"

Ten bahkan masih bisa mem-poutkan bibirnya disaat mulutnya sudah penuh dengan makanan. "It's your fault."

"Me? I think this should be your early dinner because we eat a little bit early."

"Too fucking early."

Johnny tak memperdulikan ucapan Mark.

"Because Bobby came late and delayed the meeting I skipped my snack time. And it's your fault that you picked him."

Johnny meringis. Lagi-lagi, ini sudah kesekian kalinya Ten menyinggung soal ia memilih Bobby sejak kemarin yang menurutnya seolah itu adalah kesalahan terbesar yang ia perbuat. Lihat saja, di hari pertama mereka mengadakan meeting untuk membicarakan anggota klub dance yang akan dikirimkan ke kompetisi dance, Bobby datang saat meeting hampir berakhir. Dan bukannya segera menyesuaikan diri dengan topic yang tengah dibicarakan saat itu, Bobby malah seenaknya meminta Johnny untuk mengulang semua yang Johnny sampaikan sebelumnya. Dan itu membuat mereka keluar tiga puluh menit lebih lama dari waktu yang mereka tentukan.

Sejujurnya bukan hanya Ten yang tak suka dengan keputusannya itu. Ada satu orang yang sampai sekarang bahkan tak mau berbicara pada Johnny karena masih kesal dengan apa yang Johnny putuskan.

Siapa lagi kalau bukan Jung Jaehyun?

"Hei, aku sudah membacanya di perpustakaan. Di angkatan Henry hyung, ia mengeluarkan satu anggota tim inti. Dan itu diperbolehkan."

Lihat saja, Jaehyun bahkan sekarang menyindirnya. Jika Jaehyun sudah berbicara dalam bahasa ibunya, itu artinya ia benar-benar serius.

"Guys, it's only the first day! We can't judge him already."

Sebenarnya Johnny tak ingin membela Bobby. Karena, ia juga kesal saat Bobby datang terlambat di rapat tadi dan membuatnya mengulang semua ucapannya dari awal yang membuatnya masih merasakan tenggorokannya yang kering.

"Kau membelanya seolah-olah ia kekasihmu, hyung." Dan jika Mark juga mulai menggunakan bahasa asli Negara ini, maka tak hanya Ten dan Jaehyun yang tak setuju dengannya. Ia hanya menunggu Yuta untuk ikut-ikutan memojokkannya sekarang.

"Oh ayolah guys! Daripada membicarakan Kim bastard Jiwon, kenapa kita tidak membicarakan siapa yang akan kita pilih sebagai ketua yang akan memimpin jalannya latihan dance rutin kita?"

Entah Yuta tengah kerasukan apa, pemuda Jepang itu mendadak bijak hari ini. Johnny bersyukur sahabatnya itu memang terbaik, karena ia tak memojokkan Johnny seperti yan lain.

"Mention the name again. I suddenly have a headache." Johnny hanya bercanda. Namun tampaknya keempat temannya itu sedang dalam mood untuk tidak bercanda. Sepertinya hari ini kiamat untuk Johnny. Foreign swagger, geng yang terkenal tak pernah serius itu, sekarang keempat anggotanya tengah menatapnya datar. Tatapan yang biasanya mereka keluarkan jika sedang sangat amat serius.

'Oh God, tell me what my faults are?!' dan Johnny hanya bisa berteriak dalam hatinya.

"Okay, so there are 7 students. Ten, Yuta, Sicheng, Minghao, Junhui, Mark, and Jackson. Babe, you're the official leader for this team. Clear. Dig your foods now."

Dan sepertinya mood buruk menular pada Johnny. Kenapa di hari keduanya setelah terpilih menjadi ketua siswa ia malah mendapat mimpi buruk?

Ia hanya bisa berharap Moon Taeil tak lebih baik darinya sekarang.

.

.

.

.

"Taeil hyung!" suara khas bocah kelahiran Jeju itu membuat Taeil dan Doyoung yang sedari tadi sibuk dengan berkas-berkas siswa di hadapan mereka mengangkat wajah mereka. Dua pasang mata itu menangkap bocah Jeju lain yang berdiri di samping Donghyuk.

"Kami punya informasi penting!" lanjut Seungkwan, bocah Jeju selain Donghyuk. Partner in crime seorang Kim Donghyuk.

"Duduk dulu, Dongie, Seungkwannie." Sesuai perintah si ketua siswa, dua siswa dengan badge hijau itu berjalan menuju kursi kosong di depan Taeil dan Doyoung.

"Jadi, informasi penting apa yang ingin kalian sampaikan?" Taeil bertanya sesaat dua bocah Jeju itu sudah menaruh bokong mereka di kursi di hadapannya.

"Aku sudah tahu siapa saja yang Sopa pilih untuk mewakili tim mereka dalam kompetisi dance kali ini!" Donghyuk, yang terlalu semangat menyampaikan informasinya, sampai tak sadar bahwa ia menyebabkan hujan yang mengenai tepat ke wajah kakaknya.

"Gak usah pake ujan local juga dong!" sewot Doyoung. Yang dibalas cengiran khas Donghyuk.

"Kalian serius soal menjadi mata-mata tim Sopa?"

"Eung! Kami kan ahlinya untuk menggali informasi!" Seungkwan menjawab pertanyaan Taeil dengan penuh kepastian.

"Memangnya kalian dapat informasi dari siapa?"

"Dari fans Boo lah, siapa lagi."

Jika Doyoung tak butuh informasi dari bocah bermarga Boo di hadapannya, mungkin ia sudah melempar buku berkas Tebal di tangannya kearah bocah itu.

Menyadari kekasihnya yang tampaknya sudah mulai tak sabaran, Taeil buru-buru bersuara sebelum kekasihnya mengeluarkan kata-kata pedasnya. "Jadi, siapa saja?"

"Hyung gak mau tau fansnya Boo siapa?"

"Plis deh, gak penting. Langsung aja kek." Dan tanpa Taeil bisa cegah, ucapan pedas itu sudah lebih dulu lolos dari bibir Doyoung.

"Yasudah, gak jadi deh. Donghyuk, balik ke klub Jurnal lagi yuk. Males disini."

"Eh, eh, tunggu! Yaudah, siapa fansnya Seungkwan yang baik hati itu?" ya, baik hati. Sampe-sampe bisa begitu aja ngebocorin rahasia besar asramanya dia. Untungnya Taeil gerak cepat mencegah Seungkwan dan Donghyuk untuk pergi dari ruangan itu.

"Dari Vernon. Itu loh, bule yang kerjaannya ngejar-ngejar Seungkwan mulu padahal udah Seungkwan tolak berkali-kali."

"Oh. Sekarang, siapa tujuh siswa yang mewakili Sopa?"

Seungkwan melirik Donghyuk. Mengisyaratkan ini saatnya si bungsu Kim bersuara setelah sedari tadi diam saja sambil tak berhenti memutar bola mata di setiap ucapan yang keluar dari bibir Seungkwan.

"Yang pasti Ten hyung sama Yuta hyung ikut berpartisipasi. Dan semuanya juga dari tim sukses mereka karena emang tim sukses mereka didominasi anggota klub dance. Lima yang lainnya itu Minghao, Sicheng, Junhui hyung, Mark hyung dan Jackson hyung."

"Wow." Hanya satu kata itu yang akhirnya lolos dari bibir Doyoung. Mengingat empat dari tujuh anggota yang dipilih Sopa itu masternya di matrial arts.

"Kalau kuberitahu Taeyong hyung tentang ini kira-kira kita dapet apa ya?"

"Ditraktir lah pastinya. Nah, hyungdeul, udahan dulu ya ngasih tau infonya. Mau ke ruangan klub dance nih. Mau menyaksikan siapa lima anggota yang bakal Taeyong hyung pilih buat gabung bareng dia dan Hansol hyung. Bye hyungdeul~"

Setelah kedua bocah Jeju itu pergi dari hadapan Taeil dan Doyoung, "Chagi, kurasa aku juga tak mau ketinggalan pengumuman anggota klub dance itu."

Ucapan Doyoung membuat Taeil tersenyum sebelum mengacak-ngacak surai orange Doyoung. "Arasseo. Kita rapihkan berkas ini lalu pergi ke ruangan klub dance?"

"Call!"

Hanya memakan waktu lima menit untuk membereskan semua berkas-berkas itu sebelum mereka pergi ke ruangan klub dance. Dan saat keduanya tiba, Taeyong dan Hansol sedang berdiri di hadapan anggota klub dance yang lain. Tampaknya mereka tak terlambat.

"Bagi nama yang kusebutkan bisa berdiri di samping Hansol." Taeyong yang tak menyadari kehadiran Taeil dan Doyoung tak melepaskan pandangannya dari kertas yang berisi nama-nama lima anggota klub dance yang terpilih untuk bergabung dalam kompetisi.

"Kwon Soonyoung-5-2."

"Yuhuu! Kau memang yang terbaik Lee Taeyong! Muah!" tanpa memperdulikan tatapan tajam yang Taeyong berikan, siswa bermata segaris itu berjalan ke samping Hansol dengan dada membusung ke depan.

"Tuh kan, si Taeyong diam-diam menerima usulanku." Doyoung berbisik pada Taeil.

"Ia harus berterima kasih padamu kalau begitu."

"Mana mau seorang Lee Taeyong berterima kasih secara langsung? Paling nanti selesai dari ini ia akan mengajak kita ke café biasa untuk mentraktir. Apalagi ditambah info yang akan Donghyuk dan Seungkwan berikan padanya nanti."

Doyoung dan Taeil berhenti berbisik dan kembali mendengarkan Taeyong yang menyebutkan nama siswa selanjutnya. Mungkin trauma dengan reaksi yang diberikan Soonyoung saat namanya disebut, Taeyong kali ini langsung menyebutkan empat nama yang lain sekaligus.

"Lee Chan 4-1, Park Jimin 5-1, Jeon Jungkook 4-2, dan Kim Donghyuk 4-2. Selamat untuk kelima siswa yang terpilih. Kalian terpilih mewakili asrama kita. Kuharap kalian bisa memberikan yang terbaik. Untuk latihan kali ini sampai disini. Kita ketemu lagi minggu depan kecuali lima orang yang kusebutkan tadi. Kutunggu kalian dan Hansol tiap hari, sepulang sekolah untuk latihan disini."

Saat satu persatu anggota klub dance bubar, Taeyong berbalik untuk berbicara pada enam anggota tim dance lainnya. Namun, ia menemukan satu sosok yang harusnya tak berada disitu.

"Ya, apa yang kau lakukan disana?" Tanya Taeyong, siapa lagi kalau bukan pada si bungsu Kim?

"Lah hyung, kau kan tadi menyebutkan namaku."

Taeyong memutar bola matanya. "Terserah." Sementara Donghyuk lain yang Taeyong sebutkan namanya hanya tertawa. Karena kesamaan nama yang mereka miliki, bahkan dari marga pun Donghyuk sering mendengar kalau mereka adalah saudara kembar yang dipisahkan sejak lahir. Padahal wajah Donghyuk satu dan Donghyuk dua tak ada mirip-miripnya sama sekali.

"Ingat, latihan dimulai sepulang sekolah tiap hari di ruangan ini. Besok kita akan menentukan lagu dan gerakan-gerakannya. Aku dan Hansol menerima usulan gerakan. Jadi, kalian bebas berkreasi dan mendemokan gerakan kalian besok. Ada yang ingin ditanyakan?"

"Hyung!" Donghyuk mengangkat tangannya. Bukan, bukan Donghyuk anggota klub dance. Tapi Donghyuk si maknae Youngster.

"Doyoung, bisa kau tarik adikmu dulu?" Taeyong melirik Doyoung yang sedari tadi diam saja di belakangnya.

"Dengarkan saja, Tae. Kau pasti akan berterima kasih setelah mendengarkan apa yang ia ucapkan setelahnya."

Taeyong beralih menatap Hansol yang memberi isyarat untuk mengiyakan saja ucapan Doyoung. Sehingga sekarang Taeyong dan Hansol kembali menatap Donghyuk.

"Aku punya info tentang anggota tim dance Sopa."

"Donghyuk dapat info itu dari fansku hyung!" lagi, Seungkwan harus memberitahu semua orang kalau ia mendapatkan info itu dari seorang Vernon Chwe.

Tapi tampaknya Taeyong tak menghiraukan Seungkwan dan meminta Donghyuk untuk segera menyelesaikan ucapannya. "Tapi hyung harus berjanji untuk mentraktirku dan Seungkwan di café depan nanti."

Taeyong memutar bola matanya sebelum berujar. "Iya. Cepat katakan siapa yang kau maksud." Bahkan Taeyong tak sadar Hansol sudah tak ada di sampingnya. Si jangkung itu memilih untuk menghampiri Seungkwan dan memintanya untuk membisikkan nama-nama yang Seungkwan tahu akan menjadi tim dance Sopa. Tak tahan karena Donghyuk yang terlalu lama.

"Perlu kusebutkan nama lengkap mereka juga hyung? Atau bahkan kelas? Posisi mereka di tim sukses Sopa?"

"Kim Donghyuk cepat katakan atau aku hanya akan mentraktir Seungkwan."

Jika traktirannya terancam hilang, Donghyuk tak bisa berbuat apa-apa lagi selain langsung memberitahu infonya. "Mereka semua anggota tim sukses Sopa. Seperti yang hyung tahu, anggota tim sukses Sopa didominasi anggota klub dance. Ten hyung, Yuta hyung, Sicheng, Junhui hyung, Minghao, Mark hyung dan Jackson hyung adalah perwakilan dari Sopa."

"Wow, apa mereka akan mengusung dance dengan martial arts?" Soonyoung kembali bersuara sementara Taeyong tersenyum tipis.

"Kurasa kita sudah tahu siapa yang akan memenangkan kompetisi pertama ini." Dan Taeyong bertukar pandang dengan Hansol yang juga melempar seringaian kearahnya. Tampaknya ketua dan wakil ketua klub dance ini bisa bertelepati.

.

.

.

.

"God! He really did that in Jung ssaem class?!"

"Yeah, and know what, he didn't get a detention! Because you know how much Jung ssaem favorism him."

"Not fair.. I ever got detention on her lesson."

"It's fair if you have a handsome face like me."

Entah siapa yang memulai, yang pasti setelah salah satu dari mereka mengganti topic untuk berhenti membicarakan Bobby, mereka kembali menjadi The real foreign swagger. Bahkan mereka tak peduli kalau sedari tadi mereka sudah mengganggu paling tidak dua meja di depan mereka karena polusi suara yang mereka buat.

Dan Jung Jaehyun lah yang sekarang menjadi topic pembicaraan mereka. Mark yang mengawali pembicaraan tentang teman sebangku dan sekamarnya itu. Tentang bagaimana Jung ssaem, guru terkiller di asrama mereka, mendapati Jaehyun tertidur di kelasnya. Tapi bukannya memberikan detensi seperti yang lain, Jung ssaem malah melepaskan Jaehyun begitu saja.

"And of course you must be the number one on your class if you want to escape her nightmares."

"Woah, so arrogant Jung. She just symphatic with you because you two share the same family's nama. It's Jung afterall."

"And don't forget you're not number one in study, Jae. Aren't you only got third place last year?"

"Your score even didn't pass Josh's score."

"Oh shut up!"

Keempatnya tertawa saat melihat wajah Jaehyun yang sudah memerah. Jika kesal, wajah Jaehyun yang kelebihan pigmen putih itu sangat mudah memerah. Bahkan warna merah sudah menjalar ke telinganya.

"Hey, let's play guessing game!"

Kali ini Yuta yang mengganti topic pembicaraan. Keempatnya kemudian mengalihkan fokus mereka pada pemuda Jepang itu.

"Guess who'll Taeyong choose to be on his team."

Dan jika itu menyangkut Taeyong, entah kenapa rasa kesal Jaehyun yang masih ada tadi hilang entah kemana.

"Ji Hansol?" Ten yang pertama kali mencoba menebak.

"Oh, don't be stupid Ten. I mean who'll Taeyong and Hansol choose to be on their team."

"Moon Taeil of course." Tampaknya Johnny sedang tak ingin serius.

"Should we laugh? Haha."

"Hey, he said let's play guessing game. Don't be too serious Lee."

"I'm pretty sure he'll choose Donghyuk."

"WHAT? That noisy boy? You're insane Jae."

"I mean not that Donghyuk, Mark. Kim Donghyuk, the one who in dance club. Not your lover."

"You wanna die, Jae?!"

Ketiga hyung itu hanya memperhatikan pertengkaran kedua maknae mereka. Tak ada keinginan untuk melerai. Karena, pertengkaran keduanya sudah menjadi tontonan wajib setiap hari mereka. Dan setelah mereka merasa cukup dengan adu mulut kedua maknae itu, mereka kembali melanjutkan game mari-menebak-tim-lawan.

"Kau pernah dengar kalau Hansol punya saingan saat sebelum terpilih menjadi wakil ketua klub dance?" dan Yuta memulai gossip dalam bahasa koreanya. Pemuda Jepang itu tampaknya lebih senang menggunakan bahasa nasional di tempatnya tinggal sekarang jika sedang bergosip ria.

"Kau tahu segalanya tentang Hansol ya."

Yuta mengacuhkan Johnny dan melanjutkan gosipnya. "Kwon Soonyoung. Kudengar ia selevel dengan Hansol sayangnya karena Hansol lebih popular ia lah yang terpilih menjadi wakilnya Taeyong."

"I also heard there is one of them that dance like Michael Jackson. What his name again?"

"Lee Chan, babe."

"Nah, thanks babe."

Dan permainan mari-menebak-tim-lawan itu terus berlanjut sampai Ten kembali lapar dan meminta Johnny untuk memesan makanan untuknya lagi.

"Babe, stop hanging out too much around Jae. His bad influence already got to you."

"I eat for health, hyung."

"Just admit you're besties with 4 pigs, John."

"Whatever."

Dan Johnny harus kalah dari keempat sahabatnya dan beranjak untuk memesan makanan lagi. Kasihan dompetnya. Karena hari ini gilirannya yang membayar, dompetnya akan semakin tipis hari ini.

"Jae," selagi Johnny pergi, keempatnya segera merapatkan tubuh mereka dan mulai berbisik. "Kau tenang saja, kita akan membantumu melawan Bobby. Lagipula, Taeyong lebih cocok dengan siswa tertampan se-asrama Sopa dibanding dengan siswa terplayboy se-asrama Sopa."

Ya, saat keempatnya bersatu untuk memojokkan Johnny hanya satu alasannya. Apalagi kalau bukan membantu sahabat mereka yang bermarga Jung untuk mendapatkan cinta pertamanya.

"Hyung, bilang dong pada kekasihmu jadi orang pekaan dikit. Masa dia doang yang gak nyadar kalau Jae gak suka ada Bobby di tim kita karena Taeyong hyung."

"Bukannya gak peka, Cuma agak lemot."

"Bukan agak ya, tapi emang lemot. Ganti leader lah. Gimana kalau Nakamoto Yuta aja yang jadi leader Foreign Swagger?"

"Mati aja yuk bareng-bareng."

"Jahat."

Keempatnya buru-buru menyudahi meeting dadakan itu ketika Ten memberi isyarat kalau kekasihnya sudah kembali.

"Hey, I got an idea!"

Keempatnya menatap Johnny bingung karena ia kembali tanpa nampan berisi makanan yang Ten pesan. Tapi keempatnya memilih menunggu ide yang ingin Johnny sampaikan.

"Let's play spy! We spy them. To know about who exactly on their team and what their strategic. Cool, yeah?"

Kadang-kadang mereka harus mengakui kalau Johnny memang leader terbaik untuk mereka.

"It's nice babe. But, where is my food?"

"Shit. I forgot to order it!"

Atau mungkin tidak.

TBC