THREE

Foreign Swagger

NCT

Rated-T

Humor-Romance

Jaeyong, Johnten, Doil, Yusol, Markhyuk, etc..

Enjoy it ;)

Bobby menusuri lorong perbatasan antara asrama Sopa dan Hanlim. Jam sudah menunjukkan pukul 00:15. Sudah satu jam lebih dari ketentuan berkeliaran di luar asrama. Namun siapa yang bisa memergokinya berkeliaran di jam segini ketika Bobby tahu semua jalan-jalan rahasia asrama ini?

Pemuda bermarga Kim itu berbelok ke arah kanan. Berkebalikan dengan posisi asramanya yang harusnya berbelok kearah kiri. Ya, Bobby berbelok kearah asrama Hanlim.

Pemuda itu mengunyah permen karet di mulutnya seraya membiarkan kakinya membawanya melewati pintu-pintu kamar tingkat lima di asrama Hanlim. Hingga kakinya berhenti di pintu bernomor 522. Pemuda itu membuang permen karetnya pada tong sampah di dekat pintu sebelum mengetuk pintunya.

Hanya perlu sekali ketukan hingga pintu itu terbuka. Bobby menyeringai melihat sosok yang membukakan pintu untuknya.

"Someone miss me so much, huh?"

Sosok yang berada di hadapan Bobby ikut menyeringai sebelum menarik Bobby untuk masuk ke dalam dan mengunci pintunya.

"What take you so long?" sosok yang menarik Bobby kini melingkarkan tangannya di leher pemuda itu. Bobby meresponnya dengan melingkarkan tangannya di pinggang sosok itu.

"My roommate actually worse than yours. He didn't let me take the key with me so actually I just come here without the key. I prefer sleep outside than didn't come here." Bobby menggerakkan satu tangannya untuk meraih dagu sosok di hadapannya sebelum menyerang bibir cherry yang sedari tadi tersaji begitu menggodakan di depannya.

Keduanya berciuman panas. Terjadi pergelutan untuk siapa yang lebih dominan, sebelum sosok itu mengalah dan membiarkan Bobby yang mendominasinya. Pemuda Sopa itu bahkan sudah menggendongnya dan membawanya ke kasur selama ciuman mereka berlangsung. Sosok itu mendesah kecewa saat Bobby melepas ciuman mereka untuk melemparnya keatas kasur.

"Where's your roommate?"

Sosok yang sekarang berada di bawahnya itu memutar bola matanya. "Stop talking about him. Let's have OUR time."

Bobby terkekeh. "Sorry babe, you must be missing me so much."

"Shut up and kiss me again."

Permintaan itu tentu dituruti Bobby dengan senang hati. Tanpa memperdulikan dimana roommate sosok di bawahnya yang bisa kapan saja merusak 'permainan' mereka, Bobby segera melahap sosok di bawahnya itu.

.

.

.

.

Pagi-pagi begini kekasihnya sudah cemberut. Bagaimana Ten tidak kebingungan?

"John, what's wrong?"

Ten yang baru selesai mandi duduk di samping Johnny yang sedari tadi hanya duduk di pinggir tempat tidurnya tanpa ada keinginan untuk beranjak.

"Babe," Johnny menghela nafasnya sebelum memeluk Ten. "Aku masih tak percaya Moon Taeil lebih dulu memikirkan tentang mata-mata dan sudah memata-matai kita duluan."

Ten memutar bola matanya. Lagi. kekasihnya ini sudah semalaman membicarakan tentang hal ini dan pagi ini ia harus mendengarnya lagi?

Jika kita kembali ke beberapa jam yang lalu, saat terjadi kerusuhan di chat room Foreign Swagger..

Foreign Swagger's room

Mark : Wow, wow hyungdeuls!

Jaehyun : shut up Lee!

Mark : fyi I called the hyungs, not you piggy

Ten : Mark, it's already late to be rude at this time

Yuta : Wae

Mark : John hyung mana nih? John hyunnggieee~

Jaehyun : Ewh.

Johnny : What Lee

Mark : I think someone told Hanlim's team abour our dance team!

Jaehyun : And I'm thinking about one person now.

Yuta : Kim Jiwon? Bobby Kim?

Jaehyun : Deng. The right answer is Kim Fucking Bobby

Johnny : Wait, you mean what? Bobby told who?

Mark : Oh, right. Don't talk to Johnny Seo on night time. I forgot that.

Johnny : Ayolah gaes, serius. Apa maksud kalian?

Mark : Mau aku ato Jae yang cerita?

Jaehyun : Don't include me for everything that has Bobby inside.

Ten : So Mark?

Mark : Jadi tadi aku sama Jae gak sengaja ketemu Youngster plus Seungkwan di koridor depan asrama

Jaehyun : Lee Taeyong is so freaking beautiful under moonlight

Yuta : Shut up Jung.

Mark : Si noisy-boy a.k.a Kim Donghyuk tiba-tiba bilang gini ke kita

Mark : "Mark Lee, sukses ya buat Matrial Artsnya!"

Jaehyun : Please note that. He only said Mark's name

Ten : Awww, don't need to brag about it Mark. We know he loves you

Johnny : And ofc you love him back

Mark : Shit Jae, I'm serious!

Yuta : Serius kalo kau mencintainya juga? Wow, Mark Lee

Mark : Argh! I'm out!

Jaehyun : Sulky baby

Mark : Shut up. Kalian sadar gak sih, darimana si Donghyuk tahu kalo kita mau mengusung tema Matrial Arts buat dance kita?!

Ten : Mungkin dia punya 7th sense

Mark : Wow, as expected from positive-boy -_-

Johnny : Waktu kita ngomong kenceng-kenceng di Café beneran gak ada anak Hanlim kan?

Yuta : Jangankan Hanlim, John. Yang satu asrama sama kita aja gak ada

Johnny : Bahkan kita belum memberitahu semua anggotanya kan? Tentang konsep Matrial Arts? Kita baru menentukan anggotanya?

Jaehyun : Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin

Yuta : Ikatan batin antara Johnny dengan Moon?

Ten :Atau Mark dengan Donghyuk?

Mark : Fuxk

Jaehyun : Nope. It's bond between me and Taeyong

Yuta : Shouldn't have asked -_-

Johnny : GAYS SERIUS INI?!

Yuta : GAYS? -_-

Ten : Just admit it you're GAY too, Nakamoto-san

Mark : Dikira becanda kali dari tadi ngomong -_-

Johnny : MAKSUDNYA MOON TAEIL UDAH NGUTUS SPY BUAT MATA-MATAIN KITA DAN NYURI START DULUAN?!

Jaehyun : Ya kurang lebih sih gitu

Johnny : Ohmygod.

Mark : Hyung, coba periksa itu John hyung masih idup gak?

Johnny : Gue kira Cuma gue doang yang pinter

Johnny : Bisa kepikiran buat ngutus mata-mata buat mata-matain Hanlim

Jaehyun : Ternyata tetep aja Taeil hyung lebih pinter dari hyung

Mark : BHAKS

Ten : Aku mau ketawa tapi gak tega ngeliat mukanya Johnny :')

Yuta : Mau gimana pun tetep sih ya Taeil ranking satu di sekolah ini secara keseluruhan juga

Jaehyun : Ranking Johnny hyung mah satu persen pun gak mendekati ranking Taeil hyung

Marks : Ngakaks

Ten : Udah ah jangan ngebully Johnny mulu kasian L

Johnny : Tahu jahat gak semua?

Yuta : Cupcupcup~

Mark : Makanya biar gak dicuri start peka dong hyung

Jaehyun : Itu kayanya sindirian buat diri sendiri deh

Yuta : Tau. Kasian Donghyuk kalo situ gak peka-peka

Ten : Lah nyadar dong Jae, yang gapeka-peka udah dikodein berjuta-juta kali siapa? Lee Taeyong!

Mark : Ngukuks

Jaehyun : -_-

Johnny : Udah ah. Bubar.

Johnny : Besok mau gue tanya si Taeil apa maksudnya ngirim mata-mata

Yuta : Paling juga besok lupa

Ten : Udahlah babe, gausah. Gamasalah banget kan?

Johnny : Bukan itu masalahnya beb. Kenapa dia bisa duluan kepikiran buat mainan spy

Johnny : Kan itu ide murni dari aku

Mark : Otak lu diobral kali hyung di pasar deket sekolah makanya pemikiran lu sama Taeil hyung sama

Jaehyun : *ROTF*

Yuta : Ato mungkin itu yang namanya jodoh

Ten : Jahat L Kalo Johnny sama Taeil aku sama siapa? :'(

Jaehyun : Sama Doyoung hyung lah

Mark : HAHAHAHAHANJIR

Ten : EWWWHHH

Yuta : Udah ah bubar. Ngantuk nih mau bocan dulu. Byeee :*

Johnny : Si Yuta kelamaan jomblo kenapa jadi nebar kiss gratis gitu?

Mark : Udah ah, Mark juga mau bogan

Ten : Bogan?

Mark : Bobo ganteng. Bye hyunggss~

Johnny : Jae, jangan tidur dulu

Johnny : Bantuin hyung nyari solusi baru biar gak dikira ngikutin si Taeil make mata-mata segala

Jaehyun : Zzzzzzzzzzzzzzzzz

Johnny : -_-

Ten sudah semalaman menemani Johnny mencari ide lain untuk mengungguli kedudukan Hanlim karena start mereka sudah dicuri. Namun, sampai pemuda Thailand itu ketiduran kekasihnya belum juga menemukan ide.

"Sudahlah babe, gunakan saja ideku semalam. Kita nyelinap masuk ruang dance Hanlim."

Johnny mengerang. "Ten sayang, kita masuk ke daerah Hanlim aja udah diliatin kaya mau makan orang sama penghuninya. Apalagi kalo kita masuk markasnya Taeyong? Aku gak mau ngebiarin Taeyong nyabik-nyabik tubuh kamu. Sumpah, itu gak lucu."

Ten memutar bola matanya. "Lebay. Udah ah, cepetan mandi. Nanti telat masuk kelas." Dengan bersusah payah Ten menggeret tubuh raksasa Johnny dan mendorongnya untuk masuk kamar mandi.

Jika pemuda Chicago itu tak mandi juga walaupun sudah di dalam kamar mandi, jangan salahkan Ten jika ia meninggalkannya untuk masuk kelas duluan. Ten tak mau telat setelah ia memegang jabatan sebagai vice student's chairman. Jaga wibawa istilahnya.

Sebenarnya kekhawatiran Johnny juga berlebih. Toh itu wajar mencari celah lawan dalam kompetisi. Buktinya Johnny juga berpikiran untuk mengutus mata-mata. Hanya saja ya itu, mungkin otak Taeil lebih lancar daripada Johnny jadi ide itu muncul duluan di otaknya.

Dan biarkan lah Johnny yang masih meratapi nasib di dalam kamar mandi.

.

.

.

.

Seingat Jaehyun tadi ia sudah terbangun karena alarm Mark yang super berisik. Tapi kenapa Jaehyun masih merasa ia sedang bermimpi sekarang? Tak mungkin kan ia melihat sesosok bidadari cantik tengah berjalan di depannya di kehidupan nyata?

"Mark,"

"Iya tau Jae. Itu didepan Lee Taeyong. Makasih infonya btw."

Jaehyun tak memperdulikan nada sarkastik yang keluar dari bibir yang lebih muda. Tatapannya hanya tertuju pada Taeyong yang tengah berjalan bersama Doyoung. Yang semakin lama semakin mendekat kearah ia dan Mark tengah berdiri.

"Hyungs~ tungguin dong! Jahat banget ninggalin Hyukkie sendirian!"

Dan Jaehyun akhirnya sadar kalau itu bukan mimpi ketika melihat Donghyuk berlari di belakang Taeyong dan Doyoung. Karena sumpah, Jaehyun tak pernah berharap di dalam mimpinya ada Donghyuk. Bisa-bisa ia langsung terbangun mendengar suara toaknya itu.

Taeyong dan Doyoung tak perlu memutar badan mereka untuk melihat sosok Donghyuk karena nyatanya si bungsu Kim itu sudah menubrukkan tubuhnya kearah kakaknya dan teman sebangku kakaknya itu.

"Apa-apaan dia meluk Taeyong hyung seenaknya?" Mark melirik Jaehyun yang bergumam sendiri.

"Duh, iri."

"Mark please tell your boyfriend to take his hands off from mine."

"Shit, Jae. I'm leaving."

Kesal karena ujung-ujungnya ia yang dibully, Mark sudah ambil ancang-ancang untuk memutar badannya dan memilih mengambil jalan memutar menuju kelasnya daripada meladeni Jaehyun dan berpapasan dengan Donghyuk.

"Mark Lee!"

Shit shit shit. Mark berteriak dalam hatinya. Kenapa bocah itu sadar duluan ia ada disitu?

"Right.. come here, Donghyuk.. Brings Taeyong hyung along too." Harusnya Mark sadar lebih awal bersahabat dengan pemuda gila di sampingnya bukan sesuatu yang baik untuknya.

"Selamat pagi Mark Lee~ Mau ke kelas bareng gak?" Mark memutar bola matanya. Oh Tuhan, agresif sekali bocah di depannya ini.

"Mark, be polite and response him. What has your mom taught you?" Mark ingin mengumpat rasanya. Apa-apaan Jung Jaehyun sok-sok menasihatinya? Mau cari muka di depan Lee Taeyong?

"Pagi." Walaupun pada akhirnya Mark tetap membalas sapaan yang dilontarkan Donghyuk. Mengabaikan Doyoung dan Taeyong yang menahan diri mereka untuk tak tertawa. Sementara Jaehyun yang berada di sampingnya mulai sibuk mengagumi betapa indahnya sosok Lee Taeyong yang tersenyum. Walaupun hanya sebuah senyuman tipis.

"Yaudah Dongie udah ada Mark kan? Hyung tinggal yah. Mau buru-buru ke kelas nih. Yuk, Tae!"

Doyoung tiba-tiba menarik tangan Taeyong membuat Jaehyun mendesah kecewa. Baru beberapa detik ia memandangi Taeyong dari dekat.

"Taeyong hyung hati-hati yaa~" namun ia puas sempat melontarkan nama itu dari mulutnya di depan sang pujaan hati. Meski dibalas dengan tatapan datar khas Lee Taeyong. Berwajah datar seperti itu saja sudah menggemaskan baginya.

"Ish, kalian menyebalkan! Dari tadi tak ada yang menyebut namaku. Memang hanya Taeil yang mengertiku!"

Doyoung kali ini benar-benar pergi, dengan menghentakkan kakinya kesal ke lantai. Taeyong tanpa mengucapkan apa-apa segera mengikuti sahabatnya itu di belakang.

"Betapa indahnya makhluk Tuhan yang satu itu.." tanpa sadar Jaehyun bergumam hingga Mark dan Donghyuk yang berada di dekatnya bisa mendengarnya dengan jelas.

"Aigoo.. segitu cintanya dengan Taeyong hyung. Jadi iri."

Mati kau Mark Lee. Kode keras yang harusnya bisa menampar wajahmu dengan keras.

.

.

.

.

Ini sudah kesekian kalinya Taeil melirik kearah Hansol yang sibuk dengan ponselnya di balik buku Fisika yang didirikan tegak di mejanya. Cara kuno untuk bermain hp saat pelajaran dimulai. Harusnya sih Taeil mengingatkan Hansol karena ia si ketua siswa. Dan Hansol harusnya sadar posisinya di tim sukses. Tapi berhubung ssaem mereka yang ini tak galak, Taeil hanya membiarkan teman sebangkunya itu asik dengan ponselnya.

"Jangan kira aku bermain yang tak penting, Moon. Aku baru saja mem-broadcast jadwal latihan untuk anggota dance tim kita agar mereka tak lupa datang latihan."

Taeil tersenyum tipis. "Tapi kulihat kau masih memasang foto Yuta untuk background chatmu."

Hansol meringis. "Namanya juga cinta, Tae."

Kadang Taeil tak mengerti, kenapa sahabatnya ini masih diam saja disaat ia sudah memendam perasaan pada pemuda Jepang itu sejak mereka pertama kali masuk ke sekolah ini. Saat dulu Hansol menolong Yuta dan dihadiahi senyuman manis pemuda itu.

"Sol,"

"Jangan paksa aku untuk mengatakan cinta, Tae. Karena mengagumi dari kejauhan itu sudah membuat hatiku bahagia."

Taeil memutar bola matanya. Sok puitis.

"Kukira kau akan bilang karena Yuta itu normal."

"Tak mungkin ia normal kalau sahabat-sahabatnya gay, Moon Taeil. Lagipula sulit untuk menjadi pria normal jika kau hidup selama hampir lima tahun dikelilingi oleh makhluk batangan."

"Buktinya ia belum pernah pacaran."

"Kau bilang Lee Taeyong yang belum pernah pacaran normal?"

Oh iya, Taeil melupakan sahabatnya yang satu itu. Si ice-princess Oh, ia bisa dibunuh Taeyong jika pemuda Lee itu tahu ia menjulukinya princess. Di geng kecilnya, memang hanya Taeyong yang mengaku belum pernah pacaran sejak ia dilahirkan ke dunia ini. Miris sekali mengingat wajahnya yang cantik-uhuk-tampan.

"Oh ya, Shim ssaem masih sibuk mencatat kan?" Hansol menaruh ponselnya kembali ke saku blazernya.

"Uhm."

"Kalo gitu aku mending nyoret-nyoret di kertas buat skema latihan nanti. Si tuan puteri menyuruhku semalam."

Tuh kan, bukan hanya dia yang menjuluki Taeyong tuan puteri. Salahkan Taeyong yang masih terlihat manis dengan wajah yang dingin seperti itu.

Dan karena memang bukan urusan Taeil jika bersangkutan dengan dance, si ketua siswa memilih untuk kembali memperhatikan Shim ssaem yang masih sibuk menuliskan catatan-catatan rumus di papan tulis. Sebenarnya keki juga kalo pelajaran eksak hanya ditulis di papan tulis tanpa penjelasan rinci. Tapi berhubung otaknya sudah bisa menyimpan rumus-rumus itu dalam memorinya hanya dengan menyalinnya di buku catatannya, Taeil tak masalah dengan cara pengajaran Shim ssaem. Tak apalah sombong sedikit.

.

.

.

.

Jarang melihat Johnny Seo jalan sendirian di koridor sekolah. Biasanya gengnya selalu lengkap mengintilinya atau paling tidak ada si mungil Ten yang selalu bergelayut manja di sampingnya.

"Moon Taeil!" beruntung Johnny menemukan si musuh bebuyutannya lebih cepat dari yang ia kira. Ia pikir ia harus memeriksa satu persatu ruangan untuk mencari dimana Moon Taeil bersembunyi. Tapi sialnya bagi Johnny karena ada bodyguard yang setia di samping Taeil. Siapa lagi kalo bukan Kim Doyoung.

"Ngapain kau kesini?" Lihat, yang ditanya siapa yang jawab siapa.

"Aku memanggil Moon Taeil ya, bukan Kim Doyoung. Diam deh." Masih untung Johnny berbicara menggunakan bahasa Korea. Kalau ia berbicara dengan bahasa inggris bisa bengong Doyoung.

"Bagaimana tim dancemu? Apa Taeyong memilih yang terbaik untuk timnya? Harusnya sih iya, karena kalian harus waspada dengan tim dance asramaku."

Doyoung yang tak terima lagi-lagi mewakili Taeil untuk buka suara. "Enak saja. Urusi saja timmu. Memangnya Ten bisa mengurus tim dengan baik jika ia makan saja masih disuapi seperti bayi."

"Doyoung.." Doyoung mengabaikan Taeil yang menyikutnya pelan. Mengingatkan untuk tak memulai masalah dengan JohnTen couple.

"Hellooo~ Is Moon Taeil here? I can neither hear or see him."

"Semuanya berjalan baik, John. Terima kasih sudah peduli untuk menanyakannya." Akhirnya Taeil lah yang menjawab Johnny. Setelah Taeil menggenggam tangan Doyoung erat, mengisyaratkan kekasihnya itu untuk menutup mulutnya rapat.

"Wah, finally I hear that beautiful voice."

Beruntung Doyoung tak begitu paham bahasa Inggris. Jika tidak, apa yang akan Doyoung lakukan kalau tahu Johnny baru saja menggoda kekasihnya itu?

"Aku ingin tahu konsep apa yang kalian gunakan. Boleh aku ikut kalian? Kalian pasti ingin ke ruang latihan dance kan?" Johnny mulai memancing.

Setelah berpikir lama saat melakukan ritual paginya, akhirnya muncul satu ide brilliant menurutnya. Ya, meski Ten menolak mentah-mentah saat ia memberitahu rencananya. Jika ia tak kesampaian bermain mata-mata dengan tim Hanlim, kenapa tak terang-terangan saja masuk ke daerah lawan?

"Silahkan kalau kau mau bogeman mentah dari Taeyong."

"Well Doyoung, I think Taeyong is too lean to have the urge for doing that."

"Well, you can expect that from Taeyong then." Saat Taeil membalas ucapan Johnny dengan bahasa yang sama dengannya, saat itu juga Johnny skak mat di tempat.

"What? You mean Taeyong is stronger than he looks like?"

"Just come to our dance room if you want to see that. Bye, John!"

Johnny benar-benar terlihat seperti orang idiot saat Taeil menarik Doyoung untuk segera pergi dari hadapan Johnny. Mematung di tengah-tengah koridor yang masih ramai dengan siswa yang lalu lalang. Membuatnya dihadiahi beberapa tatapan aneh dari siswa yang lalu lalang.

"Taeil, apa yang kalian berdua bicarakan dengan bahasa asing itu?" merasa sudah cukup jauh dari Johnny akhirnya Doyoung tak bisa lagi memendam rasa penasarannya.

"Johnny bilang Taeyong itu terlalu kurus untuk meninjunya."

"U-uh, benar sih. Aku juga gak tau kenapa mengancamnya dengan tinjuan Taeyong. Ia kan grandpa" Selamat untuk Taeyong karena mendapat julukan baru lagi.

"Tapi aku tadi meyakinkan Johnny kalau Taeyong benar-benar bisa meninjunya."

"Dan ia percaya?"

"Kau lihat bagaimana ekspresinya tadi?"

"Seperti seorang idiot?"

"Binggo."

Doyoung tersenyum puas. Ah, kadang-kadang kekasihnya itu memang tak terduga. Jangan tertipu dengan wajah tenang dan berwibawanya. Bahkan tanpa berbiacara banyak seperti Doyoung ia bisa mengkadali buaya.

.

.

.

.

"Teeeennn~ please include my fencing~"

"We can't fucking bring the sword, Jack. Stop fooling around."

"B-but.. I've mastered fencing before I know matrial arts!"

"We can't fucking do that on Fencing's attribute. Just shut up, Jack!"

"But!"

Rasanya kepala Ten sudah siap pecah. Kenapa timnya sangat susah diatur tak seperti yang ia duga? Ugh, rasanya Ten ingin menangis di dada Johnny sekarang juga. Kemana lagi kekasih raksasanya itu.

Sudah lewat dari satu jam dan kelima anggota yang dipilih masih memerdebatkan konsep yang akan mereka usung. Dan rata-rata menolak konsep matrial arts yang diusulkan Ten. Alasannya sama, konsep itu sudah sering mereka gunakan dari tahun ke tahun saat kompetisi dance antar asrama dilangsungkan. Dan rata-rata anggota klub dance paling tidak sudah merasakan dua kali konsep matrial arts saat mewakili tim Sopa. Yah, termasuk Ten dan Yuta.

Junhui mengusulkan konsep seksi. Bahkan ia mengusulkan ada adegan touch-here-touch-there. Bisa mati Ten kalau mengiyakan konsep yang diusulkan Junhui. Sudah tahu kekasih giant-nya itu posesif.

Minghao malah lebih parah. Ia mengusulkan konsep b-boy dan memasukkan headspin dalam daftar utama. Duh, Ten tak mau otaknya mendadak tumpul kalau terlalu banyak melakukan headspin.

Dan Jackson sibuk merengek dari tadi untuk memasukkan unsur fencing dalam dance mereka. Hell, Ten tak mau dance sambil membawa-bawa pedang tipis ala fencing. Kalau ada bagian tubuhnya yang tertusuk kan bahaya.

Mungkin hanya Mark dan Sicheng saja yang menyetujui usul matrial arts. Lebih kepada Marknya yang pendiam dan tak mau ambil pusing dengan urusan seperti ini, dan Sicheng yang memang ahli dalam hal matrial arts.

"Yutaaaa~ suruh Johnny kesini cepaaaat!"

Yuta hanya memutar bola matanya saat Ten mulai merengek kepadanya. Harusnya ia bisa kan menelpon sendiri Johnny, kenapa harus menyuruhnya. Yah, tapi karena ia kasihan juga melihat wajah kusut Ten ia tak menolaknya dan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Johnny.

"Yo?"

"John, come to dance room. Now."

"What? I'm in council's room."

"Just leave it to Jaehyun and Mark. Your boyfriend already whining at me."

"Damnit. That kids didn't even show their heads here!"

"Ugh, just leave to whoever and come here quickly! You want Ten to lock you outside tonight?"

"Shit. I'm coming."

"Good. I'm hanging up"

Yuta langsung menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Johnny.

"Nakamoto~"

"Shut up. He's coming."

Semoga Johnny datang lebih cepat karena Yuta tak ingin mendengar rengekan Ten terus menerus.

.

.

.

.

Seolah tak sadar jika Johnny sudah sibuk mengumpati namanya dari tadi, Jaehyun tetap berjalan dengan senyuman lebar di wajahnya. Tentu dengan Mark yang terpaksa ikut di belakangnya.

"Jae, I will kill you for sure if there is Donghyuk there."

"Oh shut up, Mark. there'll be sure Donghyuk there."

"Argh! Tell me why I keep following you?!"

"Because you love me, Mark Lee."

"Ewh, no thanks. You're worse than Donghyuk."

Jaehyun tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Mark menabrak tubuh bongsor pemuda Jung itu dan terpental beberapa langkah ke belakang.

"Ya-"

"Wow, Mark Lee. Sadarkah apa yang baru saja kau ucapkan?"

"Yang mana?"

"Bagian you're worse than Donghyuk."

Alis tebal Mark naik. "So?"

"You admit that Donghyuk actually not that bad, stupid."

"WHAT?"

Jaehyun memutar bola matanya. Mark Lee and his stupidness.

"Akui saja kalau kau mulai luluh, Mark. Paling juga bentar lagi kau yang mengejar-ngejarnya."

"Hell no! That's so absurd."

Jaehyun memilih tak membalas ucapan Mark karena ia sadar mereka sudah sampai di depan ruang latihan dance tim Hanlim. Bahkan Jaehyun sempat-sempatnya mengeluarkan ponselnya untuk mengecek penampilannya. Membuat Mark ingin muntah di tempat. Jaehyun terlalu berlebihan seperti ia akan pergi untuk kencan pertamanya. Padahal mereka disini hanya untuk memberikan Taeyong makanan dan minuman yang mereka beli di luar asrama.

Tok tok tok

Jaehyun tak lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Kalau ia tiba-tiba masuk dan muncul dengan wajah tampannya yang luar biasa dan membaut Taeyong terkena serangan jantung kan gawat. Oh, biarkanlah Jaehyun bermimpi setinggi tubuhnya Johnny.

"Masuk!"

Terdengar suara Hansol dari dalam. Dan tentu saja Jaehyun tak menunggu lama untuk membuka pintunya dan memasang senyum paling tampannya ketika tujuh pasang mata tertuju padanya.

"Apa yang kalian lakukan disini? Apa Johnny mengirim kalian untuk memata-matai kami?" Hansol yang lagi-lagi buka suara. Sebelumnya ia sudah membaca pesan Doyoung yang menyuruh tim dance agar hati-hati kalau tiba-tiba salah satu dari tim sukses Sopa datang. Katanya sih takut ada yang nantangin Taeyong buat adu tinju. Karena Hansol sahabat yang baik, tentu saja ia harus melindungi Taeyong yang disenggol dikit saja bisa-bisa sudah jatuh terjerembab.

"Harusnya kami yang bertanya hyung! Darimana si Donghyuk bisa tahu kalau tim kami kemungkinan besar pakai konsep matrial arts?!" tiba-tiba Mark menyeeruak di samping Jaehyun membuat pintu ruang latihan itu terbuka semakin lebar.

"Lah, perasaan Donghyuk gak ngomong apa-apa." Yang merasa namanya disebut menatap Mark bingung.

"Bukan Donghyuk kau yang kumaksud, duh kenapa ada dua Donghyuk sih disini?"

"Di timmu ada dua Mark kan?" yang Mark ketahui bernama Soonyoung bersuara.

"Whatever. Pokoknya jelasin kenapa si Donghyuk yang adeknya Doyoung hyung itu bisa tau kalo tim kita mau make konsep matrial arts!"

Taeyong tiba-tiba tertawa. Tertawa dengan nada sarkastik tentunya. Tapi bagi Jaehyun itu adalah suara tawa yang terindah yang pernah ia dengar. Ingin Jaehyun menarik kaos hitam yang dikenakan Taeyong saat itu juga dan mencium bibir Taeyong agar meredam suara tawa itu, karena, hanya ia yang boleh mendengarnya tertawa. Ugh, dasar Jung-posesif-Jaehyun.

Setelah beberapa detik tertawa, Taeyong kembali dalam mode dinginnya dan menatap Mark dengan tatapan datarnya. "Bukan rahasia lagi tim Sopa menggunakan konsep matrial arts. Coba ingat-ingat konsep apa yang kalian gunakan tiga kali berturut-turut dalam kompetisi dance?"

Mark terdiam untuk berpikir. Sebelum mengumpat dalam bahasa asing "Damnit Seo Youngho.."

"Jadi, kalau tak ada urusan lagi disini bisa tolong keluar? Kami ingin mulai latihan."

Sebenernya tanpa disuruh juga Mark sudah siap untuk keluar karena sumpah ia benar-benar malu sekarang. Tapi entah kenapa apa yang ada di pikirannya dengan yang ada di pemikiran sahabat tercintanya selalu bertolak belakang. Oh ingatkan Mark betapa ia mencintai Jung Jaehyun.

Karena apa? Karena sahabat tercintanya itu malah berjalan mendekati kerumunan tim dance Hanlim yang berkumpul di tengah-tengah ruangan. Tapi entah kenapa tak ada yang menghentikan Jaehyun yang semakin mendekat kearah seseorang yang mendadak panik ketika sadar bahwa sedari tadi dua iris coklat Jaehyun hanya tertuju padanya.

"Hyung," dan tiba-tiba berjongkok di samping sosok yang tak lain adalah Taeyong. Yang semakin panik ketika suara Jaehyun yang sudah berat terdengar semakin berat.

"Kata Donghyuk kau melewati makan siang tadi. Harusnya kau bisa menjaga tubuhmu sendiri, hyung. Apa memang kau butuh seseorang untuk mengurusimu?"

Sialan Jung Jaehyun dengan segala keabsurdannya. Mungkin itu yang sedang Taeyong umpatkan dalam hatinya.

"Aku membawakanmu makanan dari luar karena mungkin kau bosan dengan makanan kantin sehingga tak makan siang di kantin tadi. Oh ya, aku membelikanmu brownies juga. Kau kan suka yang manis-manis. Dan jangan lupakan Frappuccino Greentea kesukaanmu hyung."

Taeyong menatap satu pesatu makanan yang dijejerkan Jaehyun di depannya.

"K-kau tahu darimana semua makanan kesukaanku?" Taeyong bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan-makanan di depannya. Ugh, salahkan ia yang bahkan tak sempat sarapan dan melewatkan jam makan siang. Perutnya mendadak berteriak saat melihat makanan-makanan di depannya. Terlebih itu makanan favoritnya.

Jaehyun tersenyum lembut dan tanpa Taeyong sadari adik kelasnya itu semakin dekat dengannya. Bahkan Taeyong tampaknya benar-benar terlalu fokus dengan makanan favoritnya sehingga tak sadar wajah Jaehyun hanya berjarak beberapa senti darinya. Ia baru tersadar saat suara berat khas Jaehyun terdengar begitu dekat dengannya.

"That was called bond between us, hyung.."

Taeyong terpaku tanpa pernah berpikiran untuk menolehkan wajahnya ke samping. Karena jika ia lakukan, bisa-bisa sesuatu yang tak ia inginkan terjadi.

Terima kasih untuk Jaehyun karena sudah menunjukkan adegan yang biasanya hanya ada di drama-drama di depan enam pemuda yang menonton mereka dengan mulut terbuka lebar. Sementara satu pemuda yang masih berdiri di depan pintu ruang dance itu menepuk jidatnya keras. Damned Jung Jaehyun and his flirty mode.

.

.

.

.

TBC

.

.

Haihai~ sesuai yang dijanjikaaaann~ akhirnya aku memutuskan ending chapter ini dengan adegan greget dari Jaeyong~ Aaaaa papih mamihkuuuu 3

Btw, yang nungguin Foreign Swagger 1st version, keep sabar aja yaaah . Mentok nih, biasa wb buat chapter tiganya tiba-tiba ngeganggu. Dan mungkin aku gabisa secepetnya update karena banyak rencana (masih rencana yang semoga bukan Cuma wacana) jalan sama temen yang katanya sih kangen .-.

Tapi jangan kaget ya kalo aku tiba-tiba ngepost ff baik itu drabble maupun oneshot sebelum update Foreign Swagger yang 1st versionnya, hehe :v