Little Brother and Boyfriend Season 2

Chapter : 2

Rated : T

Genre : Family and Romance

Type : Multi-chapter! BL!

Disclaimer : I don't own anything but this story. Ada beberapa adegan yang kuambil dari manga 37,5' Tears karya Shiina Chika

Character : Hong Jisoo, Choi Seungcheol, Little! Mingyu

Note : Alur dan tata bahasa masih jelek. Awas, typos everywhere!

.

.

.

START

.

.

.

Seungcheol merasa serba salah dengan keadaan ini.

Pikirannya kusut saat ia diwajibkan kembali untuk merebut hati Mingyu. Padahal bocah imut itu sangat bersikap terbuka kepadanya beberapa waktu yang lalu. Serasa sekitar beberapa minggu kemarin?

Mungkin semenjak kejadian tangan Mingyu yang terkena panci panas itu ia menjadi trauma. Belum lagi cacian Mingyu yang terlontar di waktu setengah jam sebelumnya tadi. Bentakan keras Mingyu cukup menjelaskan bahwa semenjak Jisoo menjadi kekasih Seungcheol, perhatian sang hyung nampaknya mulai terbagi.

Hong Mingyu yang masih kecil dan jarang bertemu dengan kedua orang tua pun berakhir menjadikan dirinya sendiri menjadi si Posesif. Terlebih lagi kelakuan Mingyu yang sudah tak segan-segan dan semaunya sendiri mengklaim mutlak kekasihnya itu sebagai kepunyaannya yang berharga.

Ia mudah cemburu. Terutama saat Seungcheol yang kebetulan selalu datang di waktu Jisoo dan Mingyu berada di rumah.

.

.

.

Sekarang jam dinding telah menunjukkan waktu pukul 12.37 siang. Sesuai dengan titipan Jisoo, Seungcheol harus memastikan bahwa Mingyu sudah berada di atas ranjang untuk tidur siang.

"Mingyu-yah...,"

Panggil Seungcheol dari luar kamar Mingyu.

Tok Tok Tok

"...,"

Ketukan pintu Seungcheol tak mendapat jawaban dari seorang pun. Padahal ia sangat yakin bahwa Hong Mingyu berada di dalam kamarnya.

Toh, setelah mengeksplor beberapa bagian rumah Jisoo yang umum, Sungcheol tidak menemukan keberadaan Mingyu dimanapun selain di ruang itu.

Mungkinkah namdongsaeng Jisoo sudah terlelap di dalam?

Mari kita cek!

"Seungcheol-hyung masuk AWHHHH!"

Jeritannya kembali melengking begitu buku cerita kecil milik Mingyu menghantam hidungnya.

"Min,"

BRUGH!

Lemparan naas terakhir pun sukses membuat Choi Seungcheol terduduk sambil membungkuk.

"MINGYU BENCI PENCURI JISOO-HYUNG! Hhiks"

.

.

.

Isakan barusan yang keluar dari bibir Mingyu membuat Seungcheol semakin tersadar. Asumsinya benar.

Mingyu cemburu dengan dirinya.

Tapi apakah sebenci itu Hong Mingyu kepada kekasih hyungnya?

"Oh!"

Lagi-lagi hidung Seungcheol mengalami kecelakaan kecil.

Choi Seungcheol mimisan.

Hantaman buku cerita hard cover yang terlempar tadi merusak sistem pembuluh darah di hidungnya.

Luar biasa, Hong Mingyu!

"Ji.. Jisoo-hyung milik Mingyu... Hiks...,"

Ya ya ya, Seungcheol tahu benar apa yang Mingyu rasakan saat ini. Namun, haruskah Mingyu terus memelihara sikap posesifnya itu?

"Hiks...,"

Seungcheol berpikir sejenak untuk merangkai kalimat yang tepat untuk memulai percakapan.

Tes!

Tes!

"Seungch,"

Kata-kata Mingyu terputus begitu melihat darah meluber dari hidung namja yang bermarga Choi tersebut.

Mulutnya tergagap dengan kedua mata yang juga masih berkaca-kaca akibat pemandangan mengerikan versi Mingyu.

"Min... Mingyu...,"

SRRTTT

Itu suara sedotan darah dari hidung Seungcheol. Sejenak setelah berhasil memutuskan tindakan selanjutnya, Choi Seungcheol pun berujar,

"Arraseo, Mingyu-yah... srrrtt...,"

"...,"

"Hyung pergi,"

Finalnya singkat dengan miris lalu pergi keluar kamar.

.

.

.

"Mingyu harus menurut dengan Seungcheol-hyung, ne.."

"Mingyu sayang Jisoo-hyung, kan"

"Untuk hari ini saja kok, Mingyu dijaga Seungcheol-hyung,"

"Baik-baik ya dengan Seungcheol-hyung,"

"Jisoo-hyung sayaaanggg dengan Mingyu,"

Namdongsaeng Jisoo rupanya sedang bimbang karena perlakuan kasarnya tadi.

Seharusnya ia bisa bersikap baik-baik dengan Seungcheol-hyung. Seperti pesan Jisoo-hyung sebelum berangkat tadi.

Tapi kenapa Mingyu bisa sampai melempari Seungcheol dengan buku-bukunya? Bahkan karena lemparannya, Seungcheol-hyung bisa terluka parah begitu.

"Mingyu harus bisa jadi anak yang baik. Okay?"

Satu penuturan Jisoo yang selalu ia ingat baik-baik pun kembali menyadarkannya.

"Seungcheol-hyung baik, kok. Buktinya mau menjaga Mingyu,"

Tapi kan...

"Tahu tidak? Seungcheol-hyung itu juga sayaaanggg sama Mingyu,"

.

.

.

SRRRRTTTT

SRRRRRTTTT

Namja bersurai kelam itu memencet-mencet pangkal hidungnya guna menghentikan pedarahan yang terjadi.

Setelah berkali-kali ia menghembuskan kuat-kuat udara dalam hidung agar darah mimisan yang tersisa keluar, Seungcheol pun membilas genangan merah di wastafel kamar mandi keluarga Hong.

Benar-benar, deh. Hyung dan dongsaeng sama saja sifatnya.

Sama-sama manis tapi sensitif.

Sama-sama imut tapi terkadang menyeramkan.

Sama-sama unik tapi baik.

Choi Seungcheol tertawa dengan miris.

DDRRRRTTTT DRRRRRRTTTTTT

Smartphone miliknya tiba-tiba bergetar lama tanda sebuah panggilan sedang masuk. Tanpa Seungcheol melihat kontak yang tertera di layar datarnya, ia pun tahu siapa yang sedang menelpon.

"Yoboseyo, Jisoo-ya.. hnnnff,"

Jawab Seungcheol sembari mengeluarkan sisa-sisa air keran yang tertinggal di dalam hidungnya.

"Belum,"

"Mingyu masih belum mau mendekatiku, Soo,"

"Sepertinya dia membenciku... hnnff,"

"Pasca mimisan, Sayangku,"

"Nan gwenchana... Nanti kubujuk dia sekali lagi, okay? Sekarang fokuslah dengan praktikummu!""

"Don't worry, Soo... We'll be allright,"

"I Love you,"

"Love your Little Brother too, Hong Jisoo,"

PIP

Percakapan di antara keduanya pun berakhir. Seungcheol yang masih memandangi gawai di tangan kanan rupanya tak menyadari sesosok bocah kecil yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan barusan.

Meski intuisi belum sepenuhnya ia terima, tapi Seungcheol percaya bahwa hal rumit ini akan terselesaikan. Bagaimanapun dengan cara yang ia tempuh.

Ia yakin dan percaya diri kalau ia pasti bisa melakukannya.

"Ini mudah! O-OH?"

Kedua netra Seungcheol ternyata langsung melebar begitu pemandangan Mingyu yang bermimik sendu tertangkap oleh indra penglihatannya.

Bibir namdongsaeng Jisoo yang mulai bergetar itu malah semakin membuat Seungcheol ketar-ketir tidak jelas. Benar-benar kondisi hati yang berbanding terbalik dengan yang tadi.

Padahal baru saja tekadnya telah ia bulatkan untuk kembali berjuang mendapatkan hati Mingyu. Namun ternyata...

"Mi.. Mingyu... Hyung,"

"Huweeeeeeeeeee...,"

Hong Mingyu yang sudah tak bisa menahan rasa bersalah setelah mendengar semua percakapan antara namja yang telah ia sakiti dan Jisoo-hyung, akhirnya langsung menghambur dan memeluk kaki Seungcheol.

"Seungcheol-hyung... Seungcheol-hyung... Mingyu minta maaaff... Huweee...,"

Kekasih Jisoo yang otot wajahnya menegang di awal sebentar pun langsung tersenyum lega begitu ia mendapati permintaan maaf Mingyu.

"Huweee... Seungcheol-hyung... Seungcheol-hyung... Hiks... Jangan benci Mingyu... Huweee...,"

Pelukan kedua lengan mungil di kaki Seungcheol yang dibarengi derai tangis Mingyu tersebut semakin membuat hatinya luluh.

Choi Seungcheol pun langsung merendahkan dirinya kemudian memeluk Mingyu yang masih tersedu.

"Sudah... cup.. cup... cupp... Hyung memaafkan Mingyu, kok..."

Belaian di surai lembut milik Mingyu juga ia lakukan agar namja kecil dipelukannya dapat segera menenangkan jiwanya serta mengakhiri tangisannya.

Nyatanya, ada secercah harapan di siang hari itu untuk Choi Seungcheol.

Sungguh, kali ini ia pun benar-benar berharap agar batas di antara Mingyu dan dirinya semakin terkikis karena sebuah kedekatan.

Semoga saja, hubungan dengan namdongsaeng kekasihnya ini bisa terjalin dengan baik.

Hingga ia berjodoh dengan Hong Jisoo boleh juga kan?

Dan senyum penuh harap pun langsung tersemat indah di bibir Seungcheol.

"Be a good boy, ne... Hong Mingyu..."

.

.

.

"Seungcheol-hyung tahu kok kalau Mingyu itu juga sayaaanggggg sekali sama Seungcheol-hyung..."

.

.

.

SKIP THE TIME

Dan tak terasa dalam sekitar waktu 4 jam, Seungcheol dan Mingyu pun selesai melakukan beberapa to do list yang Jisoo persiapkan sebelum jam 12 tadi.

Setelah melakukan kontrol dan pemeriksaan lanjut dengan Dr. Park, Seungcheol dan Mingyu langsung melangkahkan kaki mereka ke ruang tunggu untuk antre mengambil obat dan suplemen.

Klinik yang mereka berdua datangi hanyalah klinik sederhana dan sempit namun tertata rapi juga bersih.

Ruang tunggu dan loket pengambilan obat sangat berhubungan dengan etalase besar yang dipenuhi dengan produk-produk farmasi. Mulai dari obat anak-anak, obat orang dewasa, suplemen makanan, hingga segala jenis susu pun ada di sana. Di balik etalase-etalase tersebut, ruangan apoteker dan kasir rupanya juga terhubung dengan ruang dokter dan periksa. Sehingga prosedur periksa pasien dan pengiriman resep obat bisa berjalan dalam waktu singkat.

"Pasien Hong Mingyu?"

Suara asisten apoteker yang menggema tersebut langsung membuat Seungcheol mengajak Mingyu untuk mengikutinya ke arah loket.

"Semuanya sekian ribu won, tuan,"

Ucap sang asisten apoteker seusai menyerahkan obat-obat yang diberikan sesuai anjuran Dr. Park.

Sembari mengeluarkan uang untuk pembayaran obat, tiba-tiba saja Hong Mingyu menarik-narik bagian lutut dari celana jeans yang Seungcheol kenakan.

"Seungcheol-hyung...,"

"Ne, Mingyu?"

Ujung telunjuk Mingyu mengetuk-ketuk kaca etalase sambil menunjuk suatu produk susu.

"Mingyu mau minum ini...,"

UHUK!

Seungcheol tersedak dengan ludah sendiri karena namdongsaeng kekasihnya itu mengingingkan susu penambah massa otot untuk pria yang ber-tag line.

'TRUST ME! IT WORKS!'

"Boleh kan Hyung...?"

Choi Seungcheol menggeleng miris meski cengiran terpampang di wajahnya.

Benar-benar konyol, deh! Sepertinya Mingyu terlalu cepat untuk terobsesi dengan badan kekar yang berperut six pack.

Duh, Jisoo sudah memberi makan apa sih untuk dongsaengnya ini?

"Ya sudah, deh.. Hummm.. kalau yang itu?"

Opsi pengganti yang Mingyu tawarkan rupanya malah membuat Seungcheol kaget 100%

"Su... Susu ibu hamil?"

Mingyu mengangguk mantap.

"Kata Jisoo-hyung susu ibu hamil itu enak kok, Hyung...,"

Jelasnya polos tanpa sempat terpikirkan ucapan terkejut dalam benak Seungcheol.

"Ya.. yakin?"

"Eummm...,"

"Kapan Jisoo-hyung memberitahunya?"

Hong Mingyu menunjukkan 3 jarinya lalu berkata,

"3 hari yang lalu!"

ASDFGHJKL!

Apa-apaan kata Mingyu barusan?

Kenapa Jisoo tahu rasanya susu ibu hamil?

Apa...

Belum selesai melakukan perang batin, ketukan kaca oleh asisten apoteker mengusik pemikiran Seungcheol.

"Apa ada lagi yang ingin di beli, Tuan?"

Tanya yeoja berumur 40tahuan itu dengan nada ketus.

Entah karena sambaran apa, Choi Seungcheol tiba-tiba langsung menjadi gagap.

"N.. ne... Prenag*** coklatnya, ahjumma,"

TUNGGU!

KENAPA SEUNGCHEOL MALAH MEMBELI SUSU IBU HAMIL?

SIAL!

KENAPA KARENA KEPIKIRAN, CHOI SEUNGCHEOL JADI SALAH LANGKAH?

"Silakan, Tuan,"

Dan kotak susu ibu hamil berwarna keunguan yang disodorkan melewati lubang loket itu pun secara tak terduga akhirnya sampai di kedua tangan Mingyu.

Terbayar sudah keinginannya untuk membeli susu itu oleh namdongsaeng Jisoo.

Dalam perjalanan pulang, kotak bertuliskan netto 800gram tersebut tak pernah Mingyu lepaskan. Wajahnya sumringah ketika membawa produk yang barusan ia dapatkan.

Jangan lupa! Hal yang Mingyu rasakan tentu berkebalikan dengan yang Seungcheol rasakan.

Wajah namjachingu Jisoo itu merah padam ketika melewati pertokoan yang cukup ramai saat itu.

Jantungnya deg-degan karena memikirkan probabilitas kedapatan dirinya yang menggandeng Mingyu kecil berserta kotak susu ibu hamil oleh teman seangkatannya di kampus atau seniornya.

Takut-takut, sih, kalau ada kalimat tanya yang berbunyi,

'CHOI SEUNGCHEOL, KAMU HAMIL?'

Aiiiih, kalau begitu sih, Seungcheol minta pingsan saja, deh.

Tahu begitu Seungcheol tidak mengajak Mingyu ke dekat etalase tadi.

.

.

.

.

.

.

SPOILER CHAPTER 3

"Seungcheol-hyung~"

"Ne?"

"Mingyu mau dikeloni...,"

"Goodnight kiss juga, Hyung~"

"HHHHAAHHHH?"

"Apa yang kau lakukan dengan Mingyu, Sayang? Hiks"

.

.

.

TBC!

LANJUT?