KIMBABO

Title : Kimbabo

Author : Davidrd

Pairing: Meanie

Genre : Fluff

Rating : PG-13

Note :

Mian kalo banyak typo, cerita jelek. Don't like don't read. No bashing please! No harsh comment whatsoever!

Davidrd copyrights

.

.

.

"Aduh, Seok gue nyontek PR lu ya?" Soonyoung berlari ke arah anak yang dipanggil Seokmin sambil membawa buku tugas kimianya.

Yang dipanggilpun hanya bisa menengok sekilas sebelum akhirnya Soonyoung yang berlari dengan kecepatan super kilat sudah sampai di depan mejanya. Sambil terbengong, Seokmin melihat penampilan berantakan makhluk di depannya itu. Baju seragam yang tidak dimasukkan dan dasi yang dipasang asal-asalan serta rambut yang sepertinya tidak disisir sama sekali atau justru berantakan karena tertiup angin. Jangan-jangan ini anak naik motor ngga pake helm lagi.

"Woi, Seok! Boleh apa nggak? Aduh jawab cepetan, bentar lagi masuk ni," Soonyoung berusaha menyadarkan Seokmin yang sedang terbengong.

"Ah.. oh... uh... itu? Ah iya, ni ambil deh!"

"Gitu kek dari tadi," Soonyoung segera meraih buku tulis bersampulkan gambar Mashimaru dari tangan Seokmin.

"Eh, kok gambarnya gini si?"

"Yaelah udah nyontek nggak usah protes deh," Seokmin yang hendak kembali melamun merasa jengkel karena si sipit di sampingnya itu mengeluhkan gambar hamster sipit di sampul bukunya.

"Lah gimana nggak protes, lu mau ngejek gue apa pake nunjukin buku lu yang gambar hamster yang matanya segaris gini ke gue?"

"Eh dari dulu buku gue tuh emang gambar hamster semua. Lu harusnya seneng karena gue udah baik hati ngasih tunjuk lu kembaran lu."

"Ih, dasar orang aneh."

"Apa lu bilang?"

"Aniiiii.. Daripada gue diamuk kuda mending gue kabuuuuuuurrrrr," ujar Soonyoung langsung ngiprit karena takut ditimpuk kamus bahasa inggris oleh Seokmin yang udah melotot.

Soonyoung yang sudah mendapatkan apa yang ia inginkan kembali berjalan ke kursinya dengan santai setelah kabur dari Seokmin. Senyum khasnya mengembang menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya yang sedikit mengkilat terkena sinar matahari yang kebetulan menerobos masuk melalui jendela di samping kelas. Dengan bahagia ia duduk di kursi tetapnya. Kenapa bahagia? Karena ia tidak akan mendapatkan hukuman karena lupa mengerjakan PR.

"Wah, pagi-pagi udah nyontek," suara seseorang mengagetkan Soonyoung yang baru saja hendak menyalin kalimat pertama dari jawaban di buku Seokmin. Setelah ditengoknya ternyata ada Wonwoo yang sudah berdiri di sampingnya sambil menunjukkan senyum manisnya.

"Hehehe, iya ni Won. Mau nyontek juga?" tangan kanan Soonyoung sudah menyodorkan sebagian buku Seokmin ke arah Wonwoo, namun Wonwoo justru menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hosh, aku cuma mau tanya sesuatu, bukannya mau nyontek."

"Oh... gitu. Yo wis monggo mau tanya apa?" Soonyoung memusatkan seluruh perhatiannya pada Wonwoo.

"Mingyu udah berangkat apa belum?"

Mingyu? Kenapa pagi-pagi begini Wonwoo udah nanyain keberadaan Mingyu? Bukannya Wonwoo itu musuh bebuyutannya Mingyu ya? Aduh, orang muka datar kaya Wonwoo emang susah ditebak.

"Belum berangkat kayaknya Won," sambil mengangkat kedua bahunya Soonyoung menjawab pertanyaan Wonwoo dan hendak mengembalikan konsentrasinya pada contekan yang telantar di atas meja menunggu untuk disalin.

"Belum berangkat?" seakan tak percaya, Wonwoo mengulang sekali lagi pertanyaan yang telah dilontarkannya.

Soonyoung hanya menengok ke kanan, kiri, depan dan belakang untuk memastikan bahwa orang yang dicari Wonwoo memang belum berangkat. Tapi, belum selesai tengak-tengok, Mingyu sudah masuk ke dalam kelas sambil tersenyum ceria. Wajahnya terlihat sumringah dan beberapa kali ia terlihat tertawa kecil.

"MINGYU DICARIIN WONWOO!" Soonyoung berteriak bak tarzan di dalam hutan AUUOO.

Mendengar panggilan temannya itu, sontak Mingyupun menghentikan senyum dan tawanya. Pandangannya tertuju pada musuh bebuyutan yang sedang berdiri di samping sahabat karibnya. Wajah Wonwoo langsung berubah melihat Mingyu sudah masuk ke dalam kelas. Sesaat pandangan mereka bertemu dan tiba-tiba saja Wonwoo langsung berlari ke arah Mingyu dan melancarkan jurus gebuk maling yang ia pelajari dari ayahnya yang sering ikutan ronda. Kata ayahnya itu buat bela diri dan jaga-jaga kalo ada hal-hal yang nggak diinginkan terjadi.

Sambil berusaha untuk menahan serangan tiba-tiba dari Wonwoo, Mingyu pun menangkupkan kedua tangannya dan melindungi bagian kepalanya. Semua anak yang ada di kelas sejenak menghentikan kegiatan mereka dan memandang kedua orang yang tengah sibuk itu. Gerakan itu mirip sama seperti kitau mem-pause video yang sedang kita tonton. Namun tidak berselang lama, mereka kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Kenapa demikian? Karena hal seperti itu sudah terjadi berulang-ulang kali, jadi mereka sudah terbiasa untuk tidak menghiraukannya.

"Kim kamvret Mingyu!" ucap Wonwoo sambil terus menerus menjewer kuping Mingyu yang lebih tinggi darinya.

"Kenapa? Woi, gue tanya kenapa?" Mingyu masih tetap berusaha untuk menanyakan penyebab amukan Wonwoo pagi ini.

"Pake nanya lagi!" Wonwoo beranjak menjambak rambut Mingyu yang sudah tertata rapi dengan ganas membuat si empunya menjerit kesakitan karena berasa rambutnya bakalan kecabut sampe ke akar.

Sebenarnya kemarin Mingyu telah melakukan sesuatu yang membuat Wonwoo benar-benar malu. Apakah itu?

.

.

.

Flashback

Saat pulang sekolah, semua anak berbondong-bondong memenuhi parkiran untuk mengambil kendaraan mereka masing-masing. Terlihat juga beberapa orang guru yang turut menuju ke parkiran. Salah satu dari sekian banyak anak itu adalah Wonwoo. Ia memang punya kebiasaan langsung pulang saat bel sudah berdering. Bukannya kenapa-kenapa, tapi ia harus segera membantu pekerjaan orangtuanya di rumah, itulah sebabnya ia tidak mau menghabiskan waktunya dengan percuma di sekolah setelah bel pulang.

Dengan santainya Wonwoo berjalan menuju kendaraan kesayangannya, motor vespa bermotif polkadot warna-warni. Setelah memakai helm dan duduk manis di atas motornya itu, Wonwoo segera memutar kunci starter dan tiba-tiba hal yang sangat mengejutkan terjadi.

"TTIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNN," suara nyaring dari klakson sepeda motor Wonwoo membahana dan mengagetkan semua orang yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

"Eh copot lu, copot-copot. Eh copot, lu siapa yang giginya copot, siapa coba? Ngaku, eh kok ngaku. Eh copot, eh klakson," Mr. Jung yang terkenal latah segera melontarkan kata-kata tiada henti yang membuat kebanyakan anak yang ada di sekitar TKP tertawa terbahak-bahak.

Karena kelabakan dan proses loading lama, Wonwoo baru sadar bahwa ia belum mematikan mesin motornya. Sesegera mungkin dimatikannya mesin sepeda motornya dan sambil menutupi mukanya karena malu, ia mengumpat dengan pelan. Ia tahu siapa yang melakukan perbuatan ini padanya. Awas saja kalau besok ia bertemu dengan Mingyu. Ditelitinya klakson di dekat stang dan betapa terkejutnya Wonwoo saat menemukan sebatang lidi sebesar korek api mengganjal klakson. Pantas saja klaksonnya terus berbunyi.

"Saem, giginya Hoseok copot tuh Saem," Jin yang merupakan siswa yang diklaim sebagai siswa terganteng seantero kelas dua belas meledek Mr. Jung yang masih shock dengan kejadian barusan.

"Puahahaha," anak-anak yang mendengar perkataan anak itu ikut tertawa sambil terus-terusan memegangi perut mereka yang sakit karena terlalu banyak tertawa. Para siswa perempuan cuma terkekeh geli melihat kejadian absurd barusan. Beberapa di antara mereka menatap tidak tega pada Wonwoo yang menjadi korban kejahilan musuh bebuyutannya.

"Awas Saem, kumisnya copot lho!" Kim Taehyung yang juga sekelas dengan Jin yang terkenal sebagai troublemaker di angkatannya sengaja menambah keruh suasana.

"Puahahaha," anak-anak yang mendengarkan kembali tertawa terbahak-bahak.

Muka Mr. Jung memerah mendengar ledekan anak-anak didiknya, tapi setelah melihat Wonwoo yang berlagak kikuk di atas sepeda motornya, muka Mr. Jung terlihat seperti menemukan titik terang. Dengan langkah tegap bak tentara, Mr. Jung yang terkenal sebagai guru penegak kedisiplinan itu mendatangi Wonwoo.

"Aduh, mampus gue. Bisa panjang urusannya kalo Mr. Jung sampe kesini," ucap Wonwoo sambil berusaha menyembunyikan wajahnya dari tatapan mematikan Mr. Jung.

Selangkah demi selangkah dan akhirnya saat-saat mendebarkan itupun sampai juga. Mr. Jung sudah berdiri di hadapan Wonwoo dan sekarang beliau sudah berkacak pinggang. Kumisnya yang lebat bergelantungan di bawah hidungnya menambah kesan sangar dan garang beliau.

"Hm, Jeon Wonwoo kelas XI IPA 6 kan?"

GLEK.

Wonwoo menelan ludah dengan susah payah saat mendengar Mr. Jung menyebutkan nama dan kelasnya. Itu sudah tanda kiamat kecil. Bagaimana tidak? Pasti keesokan harinya ia akan dipanggil ke ruang BK dan diceramahi habis-habisan oleh guru BK, Mr. Jung dan untung-untungan kalo ada Bapak Kepala Sekolah juga. Iya, masih mending kalo cuma diceramahin, nah kalo sampe orangtuanya dipanggil ke sekolah? Nah kalo dia diskors? Gimana ni?

Wonwoo mengeratkan pegangan di stang sepeda motornya dan memandang Gatotkaca latah di hadapannya itu dengan takut-takut.

"Iya, Saem," sambil melemparkan senyum kecil dan bahkan sangat kecil, Wonwoo berharap bahwa Gatotkaca ini akan sedikit melunak padanya.

Namun naas, ia tidak beruntung kali ini,"Ruang BK, istirahat pertama," setelah berujar demikian, Mr. Jung segera berlalu.

Matilah sudah. Tebakannya benar. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

"Hm, you'll be a dead meat for sure dear," salah seorang teman Wonwoo yang jago bahasa Inggris ; baca Hong Jisoo; mengejeknya sambil berlalu.

"Dead meat?" Wonwoo semakin bergidik.

"Wonwoo, nggak usah berangkat aja besok!" seorang pemuda berambut panjang dengan wajah yang terkesan cantik keterluan ;read Jonghan; memberikan saran yang patut diperhitungkan.

"Awas lho Won, diamuk Gatotkaca!" rombongan kakak kelas Wonwoo yang diketuai Namjoon turut berpartisipasi dalam membuat pikiran Wonwoo semakin runyam.

End of Flashback

.

.

.

Itulah sebabnya sekarang Wonwoo mengamuk dan meluapkan semua kemarahannya pada Mingyu yang merupakan biang keladi dari semua kesialannya kemarin. Bagaimanapun juga, ia harus membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dalam insiden kemarin pada Mr. Jung. Dan satu-satunya cara adalah dengan membuat Mingyu mengakui perbuatannya.

Tiga jam pelajaran telah berlalu. Walaupun biasanya pelajaran berlangsung sangat lama bahkan sampai Wonwoo bosan menunggu kapan bel istirahat berbunyi, tapi sekarang semuanya menjadi kebalikan. Pelajaran berlangsung sangat cepat dan sekarang Wonwoo berharap bahwa bel istirahat tak akan pernah berdering. Tapi, semuanya mustahil.

Wonwoo menunduk mengingat nasibnya yang tidak beruntung. Teman sebangkunya, Jihoon, berusaha memberinya semangat dengan cara menepuk-nepuk pundaknya sesaat setelah bel istirahat berdering.

"Won, everything's gonna be allright," Jihoon yang juga lagi ketularan demam ngomong pake bahasa Inggris gara-gara sering ngedengerin Vernon sama Jisoo capcipcup pake bahasa orang bule itu memberikan semangat pada teman sebangkunya itu.

"Ye, ye.. moga-moga aja gitu."

Dengan langkah berat, Wonwoo pun berjalan menuju ruang BK. Sepanjang perjalanan ke ruang BK, ia hanya bisa mencoba menerka apa yang akan terjadi padanya setelah disidang Mr. Jung. Apakah ia akan diskors? Dihukum membersihkan kamar mandi mungkin? Atau mengepel seluruh ruang kelas? Atau jangan-jangan suruh motong rumput di lapangan?

"Jeon Wonwoo?" Mrs. Lee yang merupakan salah satu guru BK di sekolah Wonwoo tersenyum manis pada siswa yang tengah harap-harap cemas itu.

"Ne, saem," Wonwoo membalas senyuman Mrs. Lee dan mengikuti beliau ke dalam ruang BK.

"Silakan duduk!" guru yang berpostur mini itu mempersilakan Wonwoo untuk duduk di salah satu kursi di dalam ruangan tempat biasanya anak-anak bermasalah disidang, atau anak-anak yang ingin sekadar berkonsultasi.

"Wonwoo, tunggu sebentar ya! Mr. Jung sedang ada tamu, sebentar lagi beliau akan kemari," ucap Mrs. Lee yang dibalas dengan anggukan pelan dari Wonwoo. Mrs. Lee yang mendapati tingkah aneh Wonwoo segera mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Wonwoo, sebenarnya apa yang terjadi?"

Sontak Wonwoo memandang guru yang ada di hadapannya. Apakah beliau belum mendengarkan kejadian apa yang terjadi siang kemarin di parkiran sekolah? Bukannya seharusnya Mr. Jung sudah memberitahu beliaau mengenai hal ini?

"Em, itu Bu. Anu, saya ada urusan dengan Mr. Jung," jawabnya.

"Urusan? Iya saya tahu. Mr. Jung juga bilang kalo beliau punya urusan dengan kamu. Tapi, apa sebenarnya urusan itu?"

Benar, Mr. Jung belum mengatakan masalah utama kenapa ia datang ke ruang BK. Ketika Wonwoo hendak mengatakan sesuatu, Mr. Jung tiba-tiba mengetuk pintu ruang BK.

"Oh Mr. Jung, silakan masuk," Mrs. Lee mempersilakan Mr. Jung masuk dan beliau langsung saja duduk di samping Mrs. Lee dan tepat di depan Wonwoo.

"Wonwoo, maaf sudah membuat kamu menunggu."

Davidrd copyrights

.

.

Setelah setengah jam berbicara dengan Mr. Jung dan Mrs. Lee, tiba-tiba seseorang muncul di pintu ruang BK dan berteriak,"INI SEMUA SALAH SAYA SAEM."Siapa yang teriak-teriak di ruang BK? Wah cari masalah ini anak. Sontak tiga orang yang sedang berada di ruang BK segera mengalihkan perhatian mereka pada makhluk asing yang mendarat di pintu masuk.

"Saem, ini semua salah saya. Saya yang menjahili Wonwoo sehingga klaksonnya berbunyi terus Saem. Hukum saja saya Saem," Mingyu yang sekarang sudah resmi masuk ke ruang BK kini tertunduk di hadapan Mr. Jung sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

"Apa yang kamu bicarakan Mingyu?" Mr. Jung merasa sedikit bingung dengan sikap Mingyu. Bagaimana tidak? Ada anak yang tiba-tiba berteriak di depan ruang BK dan mengatakan bahwa dirinya bersalah. Beliau hanya melihat adegan-adegan seperti itu di sinetron-sinetron yang banyak bertebaran di televisi dan tidak pernah menyangka bahwa salah seorang muridnya akan melakukan hal seperti itu.

"Saem, kejadian kemarin, itu semua salah saya. Jangan hukum Wonwoo ya Saem? Saya terima hukuman apapun Saem, yang penting Wonwoo jangan dihukum."

Wonwoo, Mr. Jung dan Mrs. Lee saling bertukar pandang sebelum akhirnya Mr. Jung berkata,"Oh, jadi kamu yang melakukan itu semua. Dasar anak nakal! Gara-gara kamu, banyak anak yang menertawakan Bapak kemarin."

"Loh, Saem baru tahu? Tapi, bukannya Wonwoo sudah memberitahu Saem kalau saya pelakunya?" Mingyu menggaruk-garuk kepala abu-abunya yang tidak gatal karena bingung sendiri dengan situasi saat ini.

Sekali lagi Mr. Jung melihat ke arah Wonwoo yang hanya terbengong melihat musuh bebuyutannya yang tiba-tiba nongol di depan Gatotkaca dan mengakui perbuatannya yang kekanak-kanakan,"Kapan?"

"Tadi Saem memanggilnya untuk membicarakan masalah klakson kemarin kan Saem?"

"Apa? Barusan kami hanya membicarakan masalah lomba sekolah."

"Jadi, Saem tidak akan menghukum Wonwoo?"

"Tentu tidak. Kenapa aku harus menghukum Wonwoo?"

"Ah, syukurlah kalau begitu. Saya permisi dulu Saem kalau begitu," fiuh, Mingyu merasa lega karena ternyata Mr. Jung tidak membicarakan hal yang ia takutkan. Dengan senyum mengembang saat hendak beranjak dari tempatnya berdiri, Mingyu pun segera dicegah oleh Mr. Jung.

"Tapi, saya akan tetap menghukum kamu Mingyu."

"Waduh?" sahabat karib Seokmin pun hanya bisa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mr. Jung dengan tatapan memelas,"Ampun Saem!"

"Nggak ada ampun buat kamu Mingyu!"

Akhirnya Mingyu dihukum ngepel aula sekolah, bebersih kamar mandi, dan nggak lupa merapikan kendaraan yang terparkir di parkiran sekolah karena telah melakukan perbuatan yang dianggap merugikan orang lain. Untung saja, ia mau mengakui perbuatannya itu, jadi Mr. Jung sedikit memberikan keringanan hukuman.

Davidrd copyrights

.

.

Sebelum Mingyu berlari ke ruang BK

Bel masuk berbunyi dan semua anak bergegas menuju kelas mereka masing-masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya, termasuk juga Mingyu, Soonyoung, dan Seokmin. Ketiga anak yang bersahabat ini berjalan beriringan sambil menghabiskan jajan yang mereka beli di kantin sekolah. Mingyu yang kebetulan sedang memikirkan sesuatu yang lain, tiba-tiba saja menabrak Soonyoung yang berhenti secara mendadak di depannya.

"Aw, lu ngapain si berhenti nggak ngomong dulu?" ucap Mingyu kesal.

"Yah lu, makanya jalan jangan pake ngelamun!" bentak Soonyoung sambil berusaha memelototkan matanya yang hampir tidak disadari ke-eksis-annya.

"Ye, siapa juga yang ngelamun?" musuh bebuyutan Wonwoo itu masih berusaha mengelak.

"Ah iya, percaya deh. Lagi mikirin apaan si?" Seokmin tidak menghiraukan Soonyoung yang masih berakting marah dan justru mengalihkan pertanyaan pada Mingyu.

Mingyu tidak menjawab pertanyaan itu sampai pandangannya selesai memindai seluruh isi kelas,"Nggak ada kok."

"Aduh, nggak usah bohong deh!" Soonyoung berusaha memojokkan Mingyu.

"Beneran," Mingyu berusaha menjawab sesantai mungkin sambil mengalihkan perhatiannya dari Soonyoung dan Seokmin sehingga sahabatnya itu tidak curiga.

"Ya udah kalo gitu."

Lima menit berselang, Mrs. Hwang guru Bahasa Inggris masuk ke dalam kelas dan bersiap untuk memulai pelajaran. Mingyu yang masih tengak-tengok kanan kiri mencari seseorang yang sampai saat ini masih belum berada di kelas segera menanyakannya pada makhluk ajaib di sampingnya itu.

"Eh, Seok! Si Wonwoo dimana?" tanya Mingyu tiba-tiba.

"Wonwoo?"

"Iya."

"Bukannya dia di ruang BK ya?" Seokmin balik bertanya.

"Ruang BK? Ngapain?"

"Disidang paling sama Gatotkaca gara-gara klakson kemarin."

Sementara itu di ruang BK.

"Wonwoo, maaf sudah membuat kamu menunggu," Mr. Jung tersenyum manis di hadapan Wonwoo yang terus-terusan memandang ke keramik yang menempel di lantai karena takut melihat Mr. Jung secara langsung.

"Iya Saem. Ehm, sebenarnya ada urusan apa ya Saem, saya dipanggil kemari?" dengan berpura-pura tidak mengetahui apa-apa Wonwoo memberanikan diri bertanya.

"Oh, iya. Saya hampir saja lupa. Begini, kemarin Kepala Sekolah memberikan perintah pada saya untuk mencari salah satu murid berbakat di bidang Kimia untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Setelah saya bertanya pada Mr. Byun, ternyata beliau menyarankan nama kamu," guru yang terkenal sangat disiplin itu berkata dengan tenang sambil berulang kali mengelus kumisnya yang lebat.

DUAR..

Apa? Jadi dia dipanggil ke BK bukan untuk disidang karena kasus klakson dan latahnya Mr. Jung kemarin, tapi karena dia diminta mengikuti lomba karya tulis ilmiah? Aduh, kok bisa? Kalau begitu, ngapain dari tadi Wonwoo deg-degan dan terus-terusan berkeringat dingin? Tapi, syukur deh, jadi dia udah terlepas dari hukuman sekarang.

TBC/END