KIMBABO CHAPTER 2
Bukan salah bunda mengandung. Eh, bukan dink. Bukan salah kebodohan Mingyu yang menyebabkan anak seantero SMA Pledis mulai menggosipkan kemungkinan si bocah ganteng bergigi taring unyu itu menyimpan perasaan alias naksir sama siswa bermata rubah berekspresi datar, Jeon Wonwoo. Kebodohan Mingyu mengakui perbuatannya di depan Mr. Jung menimbulkan kasak-kusuk, gosip murahan, kesalahpahaman yang mengira perbuatan Mingyu didasari rasa khawatir pada Wonwoo.
Ada yang bilang, Mingyu itu udah naksir Wonwoo sejak SMP, tapi karena dulu itu Mingyu jelek, item, gendut, dan cupu jadi dia nggak berani ngedeketin Wonwoo. Trus ada yang bilang, Mingyu tiap hari kerjaannya bikin Wonwoo bete biar si muka datar nggak harus ngejalanin hidupnya yang terus-terusan datar selama masa sekolah. Biar sedikit berwarna gitu. Trus yang paling parah ada yang bilang kalo Mingyu sama Wonwoo itu udah dijodohin sama orang tuanya. Dan setelah lulus SMA mereka mau dinikahin.
Oh, begitu santernya gosip bertebaran hanya karena sebuah insiden klakson lidi. Memang anak sekolah sama ibu-ibu itu nggak ada bedanya. Sama-sama tukang ngegosip. Eh, tapi apakah hal tersebut cuma sekedar gosip?
Wonwoo berusaha memelototkan matanya pada Jihoon yang masih terus menatapnya dengan pandangan menyelidik. Emangnya Wonwoo maling apa yang perlu diinterogasi? "Kenapa natep aku sampe segitunya? Emang ada yang salah ya?" karena tidak tahan dengan perlakuan sahabatnya itu, si muka datar akhirnya buka suara.
Si kecil Jihoon hanya tersenyum dan menggeleng singkat menampakkan wajah tanpa dosanya, seakan-akan pandangannya tadi tidak menghakimi Wonwoo.
"Jangan bohong!" nada ketus terdengar dari suara berat si muka datar.
"Nggak ada apa-apa kok."
"Ish, ini anak kecil mulai main rahasia-rahasiaan," dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dada, Wonwoo berniat meninggalkan Jihoon yang masih senyam-senyum sendiri seperti orang nggak waras di ruang kelas. Sekarang masih terlalu pagi dan belum banyak anak yang berangkat ke sekolah, jadi ruangan masih sepi. Belum sempat melangkah, tangan kecil Jihoon meraih pergelangan tangan Wonwoo, menghentikan pemuda itu dan membuatnya menoleh ke arah sahabatnya.
"Kenapa?" ih lama-lama Wonwoo bisa stres kalo sahabatnya yang satu ini tingkahnya kayak gini terus. Kenapa dengan Jihoon? Apa dia barusan kesambet setan penunggu toilet sekolah? Atau dia ketularan virus absurdnya Seokmin sama Soonyoung? Atau mungkin dia lagi PMS? Oops, kalo PMS nggak mungkin ya, soalnya walopun kecil dan manis, Jihoon bukan cewek.
"Udah denger gosip belum?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Jihoon sontak membuat alis Wonwoo berjengit. Gosip? Buat apa? Hell, Wonwoo itu bukan tipe siswa yang suka mencampuri urusan orang lain. Apalagi mengurusi masalah gosip yang nggak jelas benar atau nggaknya.
"Ngapain ngurusin gosip?" sambil mendudukkan kembali bokongnya di kursi, Wonwoo menghela napas. Ternyata, Jihoon yang selama ini dianggapnya sebagai teman satu aliran –teman yang nggak suka ngegosip- ternyata sama kayak temen lainnya.
"Denger dulu makanya! Kalo ini gosip biasa, aku nggak bakalan ngurusin Woo," dengan menampilkan binar bercahaya di kedua iris matanya, Jihoon mulai membuat Wonwoo penasaran.
"Terus gosip apaan donk kalo gitu?" kena deh. Akhirnya Jeon Wonwoo terpengaruh juga. Disiapkan kedua telinganya untuk mendengarkan berita yang akan dibagikan sahabatnya serta bersiap mengepalkan tangan dan melayangkannya ke kepala si kecil kalau-kalau berita yang didengarnya nanti tidak penting.
"Katanya Mingyu naksir kamu," refleks kepalan tangan Wonwoo itu melayang ke kepala Jihoon yang malang. Apa-apaan itu tadi? Dia kan cuma bagi-bagi info, kok malah kepalanya, asetnya yang berharga untuk menciptakan lagu justru dihadiahi tangan Wonwoo yang nggak bisa dibilang kecil itu.
"Oops, maaf," Wonwoo sedikit merinding, ya Jihoon itu kan sebenernya galak. Siapa tau gara-gara tangan Wonwoo yang lepas kendali bisa bikin Jihoon ngomel-ngomel seperti beberapa minggu yang lalu saat Soonyoung tak sengaja menumpahkan bahan pembuatan biogas –baca tai sapi yang sudah dicampur air- ke celana dan jas lab yang dipakai Jihoon.
"Ish, kalau kamu bukan sohib aku, udah jamin sekarang rambut kamu yang ditata super rapi itu bakal berkurang 25%," sewot Jihoon. Fiuh Wonwoo mengembuskan napas lega, untungnya Jihoon lagi dalam angel mode, jinak, dan tidak berbahaya.
"Lagian gosip apaan yang barusan itu?" ayo alihkan pembicaraan ke topik lain, supaya Jihoon lupa niatnya untuk menggunduli Wonwoo.
"Anak satu sekolah udah heboh ngomongin gosip ini. Mereka bilang kalo Mingyu itu udah lama naksir kamu. Bahkan ada yang bilang kalo kamu dan Mingyu udah tunangan dan nanti abis lulus SMA langsung nikah," nada suara Jihoon terdengar sangat semangat. Kenapa dia justru excited ngegosipin Wonwoo gini.
"Hell, tiang listrik suka sama aku? Kalau dia suka sama aku mana mungkin kerjaannya cuma bikin aku bete tiap hari? Mereka dapet gosip ini dari mana si?" rasanya darah di sekujur tubuh Wonwoo mengumpul di kepalanya membuatnya uring-uringan sendiri.
"Kan, kemarin dia udah ngaku di depan Mr. Jung soal ngejailin klakson kamu Woo. Dan anak-anak ngira kalau dia ngelakuin itu karena nggak mau kamu dihukum."
"Itu kan gara-gara si tiang listrik yang kelewat bodo pake ngaku-ngaku segala ke Mr. Jung. Lagian kan emang ulahnya waktu itu bener-bener keterlaluan. Coba kalau dia nggak ngaku, terus beneran aku yang dihukum, gimana coba?"
"Bener juga si. Untung yang dihukum itu Mingyu, bukan kamu," Jihoon memegang dagunya sambil mengangguk-angguk mengiyakan pembelaan Wonwoo.
"Udahlah, jangan didengerin gosip macam itu. Gosip juga ada tanggal kadaluwarsanya. Kita tunggu aja!"
"Bener juga."
"Yuk ke kantin! Belum sarapan ni!" ajak si muka datar berusaha menghilangkan rasa betenya pagi ini dengan sekedar makan camilan. Mendengar kata 'kantin', si komposer kecil mengangguk bersemangat dan langsung bangkit dari duduknya. Tangannya dengan cepat menarik tangan Wonwoo yang masih sedikit heran dengan perubahan drastis sikap sahabatnya yang sepertinya memang sedang tidak beres.
Satu persatu siswa mulai berdatangan ke sekolah. Ada yang bergerombol bersama temannya dari arah parkiran, ada yang jalan kaki dari gerbang depan karena barusan turun dari bus, ada juga yang sedang berkejar-kejaran entah karena apa. Baru berjalan beberapa meter dari ruang kelas, langkah kedua sahabat itu terhenti ketika suara berat seseorang menyambangi indera pendengaran mereka.
"Wonwoo-ya!" mereka mendapati seonggok makhluk gelap berhidung besar, rambut oranye cerah, dan senyum yang benar-benar menyilaukan berdiri di hadapan mereka. Tidak lupa dengan dua antek-antek di kanan dan kirinya, seorang dengan wajah putih bulat bermata sipit dan seorang dengan wajah tampan namun manis.
"Oh, Taehyung sunbae," si muka datar sedikit bingung kenapa sunbae dari kelas 12 itu memanggilnya. Padahal biasanya kalo dia lewat dan nyapa aja bakalan dicuekin sama kakak kelas yang terkenal dengan kelakuan ajaibnya.
"Kalau mau nikah, jangan lupa bagi-bagi undangan ya!" sial. Sunbae alien ini ngomong apa si? Mana suara si Valien ini keras dan jelas membuat anak-anak yang tadinya sibuk berlalu-lalang menghentikan kegiatan mereka mendadak untuk mendengarkan dan menyaksikan siaran langsung yang pasti bakalan jadi berita heboh di sekolahan. Secara, gengnya Taehyung itu terkenal suka ngegosip. Heran, kenapa Hoseok hyung mau sama Taehyung sunbae.
"Siapa yang mau nikah sunbae?" dengan bodohnya Wonwoo justru melemparkan pertanyaan yang sudah pastinya merupakan salah satu caranya untuk bunuh diri.
"Sama siapa lagi, tentu Mingyu donk!" dengan entengnya, Park Jimin, sunbae pendek yang berwajah putih bulat mirip cimol itu menjawab. Jawaban macam apa itu? Jangan bilang mereka sudah terkena efek gosip yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan di sekolah. Beberapa siswa yang berada di sekitar mereka tertawa dan siswi-siswi cekikikan karena gemas. Begitu juga dengan Jihoon yang tidak bisa menahan tawanya, padahal seharusnya dia berada di sisi sahabatnya.
Wonwoo benar-benar kesal. Ingin rasanya dia meninju muka cengengesan Kim Taehyung. Amarah yang tadinya surut timbul kembali, bahkan semakin berlipat-lipat. Semuanya gara-gara Kim Mingyu! Dasar tiang listrik bodoh! Awas saja kalau nanti ketemu, bakalan Wonwoo cincang-cincang dia.
Sambil mencengkeram sisi celananya menahan marah, Wonwoo bertanya sembari menggerutukkan giginya,"Memangnya sunbaenimdeul mendengar gosip darimana kalau aku akan menikah dengan Mingyu?"
"Sumber terpercaya dari kelas kalian, Boo Seungkwan," Jeon Jongkook menghentikan tawanya sejenak untuk menjawab pertanyaan adik kelasnya.
Boo Seungkwan sialan. Akan kusumpal mulutnya dengan kaos kaki Soonyoung yang terkenal bisa mematikan sekolam ikan dengan sekali celup. Atau mungkin menunjukkan foto-foto memalukannya saat SD, saat dia masih sangat gendut dan bulat seperti babi pada Hansol, teman sekelasnya yang sudah menjadi incaran Seungkwan sejak hari pertama penerimaan murid baru. Begitulah kira-kira strategi perang di otak Wonwoo.
Niat mengisi perut di kantin terlupakan sudah, dia berbalik meninggalkan ketiga orang sunbaenya kembali ke kelas. Dia bahkan tidak peduli Jihoon masih mengekor atau tidak karena sekarang dia ingin meninju tembok saja untuk menenangkan pikirannya.
"Yah, Wonwoo-ya, jangan lupa undangannya ya!" masih saja si alien itu berteriak-teriak mempermalukan si muka datar yang sudah kesel tingkat akut.
.
.
.
Alis pemuda bersurai abu-abu mengerut mendapati suasana kelas yang suram seperti barusan dilanda badai dan topan. Ah, lebay emang pemikiran Kim Mingyu. Tapi memang suasana kelas sedang benar-benar berbeda dengan biasanya. Hari ini tidak ada yang saling mengobrol, semuanya sibuk mengerjakan tugas atau sekedar membuka-buka buku matematika, pelajaran pertama hari ini. Terlebih aura gelap sangat terasa di sekitar tempat duduk Jeon Wonwoo. Bahkan pemuda yang biasanya sibuk mengajari Jihoon dan teman lainnya itu, sekarang sibuk mencorat-coret bukunya yang setelah dilihat-lihat ternyata bukan sekedar goresan, melainkan gambar dua buah boneka voodoo. Eh, kok voodoo, emang Wonwoo mau ngapain?
Setelah menyampirkan tas gendong berwarna hitam ke kursi tempat duduk yang akan menemaninya selama dua semester itu, Mingyu menoleh pada Seokmin yang sedang sibuk main game dengan handphone-nya.
"Seok, kok sepi gini kaya kuburan," tanpa mengalihkan pandangannya dari benda kotak yang dipegangnya, Seokmin menjawab,"Barusan ada perang dunia."
"Hah, perang dunia?" tidak mengerti maksud perkataan sahabatnya, Mingyu justru semakin dibuat bingung.
Setelah menghela napas, Seokmin menghentikan permainannya, memasukkan gadget berharganya ke dalam saku celana kemudian beralih menatap Mingyu. Tatapannya serius, tumben banget.
"Wonwoo sama Seungkwan barusan berantem."
"Berantem? Alasannya?" Mingyu tidak percaya. Wonwoo kan anak baik-baik, dia nggak bakalan berantem sama orang lain, kecuali Mingyu. Itu juga karena hal-hal konyol yang sering kali mereka ributkan dan bukan sesuatu yang terlalu serius.
"Seungkwan nyebarin gosip kalo kamu sama Wonwoo bakalan nikah setelah lulus SMA," otomatis kedua mata Kim Mingyu membulat sempurna. Baru masuk kelas sudah disuguhi pemandangan aneh teman kelasnya kemudian mendengarkan berita yang hampir membuat jantungnya copot. Oh God, bagaimana kalau rahasia yang selama ini dipendamnya ketahuan oleh seluruh penghuni sekolah? Bisa bahaya.
Setelah menenangkan detak jantungnya, Mingyu memberanikan diri kembali bertanya walaupun dengan bisikan,"Gimana kejadiannya?"
.
.
Wonwoo tidak menghiraukan perkataan Jihoon yang berusaha menenangkannya. Bagaimana bisa dia tenang kalau seluruh sekolah sekarang berpikir dirinya akan segera menikah dengan Mingyu. Demi Tuhan! Kim Mingyu yang selama ini selalu mengganggu kehidupan tenang Jeon Wonwoo. Padahal dulunya sewaktu SMP, Mingyu tidak pernah mengganggunya, bahkan mereka bisa dibilang tidak terlalu kenal karena tidak pernah sekelas. Dia hanya tahu Mingyu adalah siswa yang terkenal karena tinggi, ganteng, baik hati, jago main basket, dan salah satu anggota band sekolah.
Beberapa saat kemudian, sumber masalah Wonwoo melangkahkan kaki ke dalam kelas dengan riang. Hal itu terpancar melalui senyumannya. Dia belum tahu kalau ada singa lapar yang sedang menunggu bersiap untuk menerkamnya. Mata tajam Wonwoo terpaku pada pintu ruang kelas yang menampilkan sosok gempal Boo Seungkwan, murid kelas mereka yang berasal dari Pulau Jeju.
"Morning everybody!" sambil tersenyum dan melambaikan tangan berdadah-dadah ria bagaikan pemenang Miss Universe, pemuda yang mempunyai tubuh aduhai itu meneriakkan salam paginya yang berbahasa Inggris –karena pengen buat Chwe Hansol terkesan- diabaikan seluruh penghuni kelas yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tapi bukan Boo Seungkwan namanya kalau dia merasa sakit hati setelah diabaikan seperti itu. Dia tetap tersenyum dan melangkahkan kakinya dengan mantap menuju kursinya yang berada di sebelah kursi Jeon Wonwoo dan Jihoon.
Belum sempat mendudukkan bokong berisinya ke kursi di belakangnya, tubuhnya sudah ditarik Wonwoo yang menatapnya setajam silet. Maybe, kalau itu tatapan kaya silet beneran, sudah berdarah-darah ini si Seungkwan.
"Wonwoo hyung, waegurae?" masih sambil tersenyum tentunya.
"Minta rambutmu!" dengan ganas Wonwoo langsung menjambak rambut kecoklatan si tukang gosip membuat yang dijambak berteriak keras.
"Arrgh apa-apaan si Wonwoo hyung?" Seungkwan berusaha menjauhkan tangan Wonwoo dari kepalanya.
Dengan seringaian evil, Wonwoo memperlihatkan beberapa helai rambut yang terselip di antara kepalan tangannya ke hadapan Seungkwan."Dengan rambut ini, kamu bakalan kusantet! Tunggu aja Boo Seungkwan!"
"Santet? Kenapa?"
"Karena mulut embermu itu sudah menyebarkan gosip bohong ke seluruh sekolah tentang aku dan si tiang listrik. Tunggu pembalasanku Boo Seungkwan!" ancaman Wonwoo yang terdengar serius membuat semua anak menatap ke arah mereka berdua. Sebelum berjalan meninggalkan Seungkwan yang masih dalam proses loading, Wonwoo berbisik di telinga pemuda semok itu,"Dan bukan hanya itu. Aku bakalan nunjukin foto kecilmu saat kita piknik ke peternakan babi ke Hansol. Bahkan, kalau perlu bakal aku upload ke grup chatting kelas!"
Seungkwan merinding mendengar ancaman terakhir Wonwoo. Nggak mungkin kan Jeon Wonwoo yang terkenal baik hati itu bakalan menunjukkan foto yang menjadi mimpi buruk seorang Boo Seungkwan? Hansol tidak boleh melihat foto itu bagaimanapun keadaannya.
"Hyung, mianhae," tersadar dari lamunannya, Seungkwan bergegas menuju ke arah Wonwoo. Tangannya berusaha meraih lengan si muka datar. Namun, bukannya berhenti, Wonwoo justru menampik tangan itu kasar. Sekarang Jeon Wonwoo sedang benar-benar marah dan itu adalah hal yang menakutkan.
Pantas saja ekspresi datar Wonwoo berubah menyeramkan dan Mingyu bisa memahami hal itu. Memang Jeon Wonwoo terkenal dengan muka datarnya, tetapi mereka harus berhati-hati dengan Wonwoo yang berekspresi seperti sedang ingin membunuh orang sekarang. Itu pertanda kalau dia sedang benar-benar marah, jengkel, kesal, atau apalah namanya itu dan itu bukan merupakan hal baik.
Dan satu hal lagi. Kalau Wonwoo sedang dalam evil mode kayak gitu, itu artinya Mingyu juga bakalan kena getahnya. Dia harus berhati-hati agar tidak membuat kesalahan sekecil apa pun yang bisa menyulut kemarahan Wonwoo. Dia harus tetap berhati-hati supaya rencananya bisa berjalan dengan lancar. Tapi, sebelum itu, dia perlu menghubungi seseorang.
To : Eomma
Eomma, batalkan rencana kunjungan ke kediaman Jeon akhir Minggu ini. Wonwoo sedang dalam evil mode. Keadaan siaga 1.
