"Daiki-kun! Ayo bangun, Satsuki sudah datang!" teriakan ibu Aomine Daiki menggema dari lantai dasar, memanggil putra semata wayangnya yang memang susah bangun kala pagi datang. Ia menggeleng pelan mengetahui bahwa teriakannya tak mempan, matanya melihat Satsuki kecil yang sedang berdiri di sebalahnya.
"Kau bangunkan dia sendiri ya?" Satsuki kecil mengangguk senang, kaki-kaki mungilnya menapaki anak tangga menuju lantai dua, meninggal ibu Aomine di lantai dasar yang akan menyiapkan sarapan.
Satsuki mengetuk pintu kayu berwarna putih di depannya, dari nada yang pelan hingga meninggi dan berubah menjadi kasar. Ketukan itu mengalun berkali-kali, namun sepertinya sang penghuni kamar masih asyik bergumul dengan kasur kesayangan.
"Dai-chan! Aku masuk," suara cempreng Satsuki kecil meminta ijin. Ia memutar knop pintu dan segera masuk ke dalam kamar milik sahabat lelakinya. Manik magentanya menatap nyalang ke arah tempat tidur, melihat sahabatnya masih nyaman dengan alam bawah sadar.
"Dai-chan, bangun!" Satsuki naik ke atas kasur, tangan kecilnya menggoyang-goyangkan badan sahabatnya, berharap yang dibangunkan segera membuka mata. Namun nihil, usaha Satsuki sepertinya percuma, yang ia dapatkan hanya gumaman tak jelas yang keluar dari bibir sahabatnya.
"Bukankah kau berjanji akan menemaniku mengakap kupu-kupu pagi ini? Mou … Dai-chan ayo bangun!" sekali lagi ia berusaha menggoyangkan badan sahabatnya, dan sekali lagi hanya gumaman yang didapatkan.
Satsuki sedikit menunduk, menyamakan posisi kepalanya dengan kepala sahabatnya. Napas Aomine kecil mengempas wajah ayu miliknya, sedikit menyibak poninya. Satsuki merendahkan kepalanya, mempertemukan bibir mungil miliknya dengan milik Aomine. Tak butuh waktu lama, bagi sepasang mata biru sipit itu untuk membuka mata.
"Apa yang kau lakukan, Satsuki!" Aomine mendorong tubuh Satsuki di atasnya, membuat gadis kecil itu jatuh dari kasur miliknya. Satsuki meringis pelan, bokongnya terasa sakit akibat menghantam kerasnya lantai.
"Mou! Dai-chan, apa yang kau lakukan?"
"Seharusnya aku yang mengajukan pertanyaan itu. Apa yang kau lakukan di kamarku?"
"Tentu saja aku membangunkanmu. Kau tertidur begitu pulas." Satsuki menggembungkan kedua pipinya pertanda kesal, ia segera bangun dan mengusap bokongnya yang sakit.
"Kenapa kau melakukan itu?" Daiki kecil menatapnya marah, namun semburat merah di kedua pipinya terlihat jelas. Lengan Aomine kecil mengusap bibirnya, mata birunya masih melempar tatapan menuntut jawaban dari teman kecilnya.
"Mama selalu melakukan hal itu untuk membangunkan Papa. Aku hanya menirunya," ujar Satsuki pelan. Matanya sedikit berkaca-kaca, merasa takut dengan Aomine yang sepertinya sedang marah padanya.
"Oi, oi! Jangan menangis, Satsuki. Aku tidak marah padamu, aku hanya kaget." Aomine berusaha menenangkan, ia tak mau sampai repot jika ibunya mengetahui kalau dialah yang membuat gadis kecil itu menangis.
Ia segera turun dari kasur, menghampiri Satsuki yang sedang meringis sakit. Mengambil tempat duduk di sebelah sahabat gadisnya, senyum kecil terpatri di wajah khas bangun tidurnya, menghela napas pelan sebelum mengusap kepala Satsuki. Senyumnya berubah menjadi cengiran kala melihat wajah ayu sahabatnya yang masih ingin menangis. Jari-jarinya turun —yang awalnya mengusap kepala merah muda Satsuki— memegang pinggang sahabatnya kemudian menggelitikinya, mencoba membuat Satsuki tertawa.
Melupakan segala rasa takut dan rasa sakit pada bokongnya, Satsuki tertawa kala sahabatnya membuatnya geli di daerah pinggangnya.
"Hentikan Dai-chan, aku kegelian! Ahahahhaha—" Satsuki berguling di lantai, berusaha lepas dari gelitikan sahabatnya, "—hahahaha"
Masa kecil yang begitu polos dan bahagia, suara tawa itu seringan tiupan gelembung udara. Terseret angin dan meletup bersamanya, wajah mereka secerah mentari pagi yang menyapa. Aomine Daiki dan Momoi Satsuki sedang bahagia.
.
.
.
.
A Hole in The Heart presented by Hakuya Cherry
Desclaimer Fujimaki Tadatoshi
Tidak ada materil apapun yang saya terima dari pembuatan fict
.
.
.
Aomine berjalan sempoyongan, meninggalkan klub malam tempatnya bermalam. Surya telah setinggi tombak, ia sedikit menyipitkan matanya kala cahaya matahari memantul dari mobil pengunjung lain —yang bersebelahan dengan mobilnya— menyorot tepat pada matanya.
"Hoek," isi perutnya membuncah keluar, terlalu banyak menenggak alkohol benar-benar tak baik untuk kesehatan. Namun ia seolah mengabaikan fakta nyata yang telah lama ia ketahui, mencari kesenangan dalam rengkuhan malam seolah menjadi kebiasaan.
Membuka pintu mobil miliknya, ia segera masuk dan mengambil duduk di kursi kemudi. Tangan kanannya memegang lehernya, sedikit memutarkan kepalanya. Badannya benar-benar terasa pegal, ia menggeleng kasar berusaha mendapatkan kesadaran. Maniknya mengerjab beberapa kali, menyambar kasar minuman di jok belakang, menenggak habis air mineralnya dalam hitungan detik. Ia bersendawa panjang, napasnya khas sekali dengan aroma alkohol, ia sedikit menurunkan kaca mobilnya sebelum melesat menuju jalanan kota.
Jepang saat pagi hari begitu menyesakkan, lautan manusia nyaris datang seperti ombak besar, menerjang segalanya dengan terburu-buru dan cepat-cepat. Mereka—orang-orang di negara itu— enggan untuk datang terlambat, kedisiplinan dinomor satukan. Jalanan kota terlihat begitu padat, di pinggirnya para pedestarian mengayun langkah lebar. Seolah tak ada celah untuk bernapas .
Aomine Daiki bersandar pada lengan kanannya yang bertumpu pada pintu mobil, kecepatan mobilnya melambat kala ia melihat lampu lalu lintas yang berwarna merah, pertanda bagi pengendara untuk mengentikan kendaraannya.
Helaian pink yang tertiup bersama pagi mengalihkan pandangan, ia terpaku sesaat sebelum menyadari bahwa retinanya menangkap seseorang yang —mungkin— dikenalnya. Buku pada genggaman, gadis itu terlihat bergumam. Berjalan di antara puluhan para penyebrang jalan. Helaian pink-nya paling mencolok di sana, tepat di depan matanya dan melewatinya.
Aomine melajukan mobilnya setelah mendengar klakson nyaring untuknya dari deretan mobil di belakangnya, ia baru menyadari jika lampu telah berubah menjadi hijau pertanda jalan untuk para pengendara.
Mata sapphire-nya menatap kosong pada jalan, masih menerawang kejadian barusan. Mengacak rambutnya kasar, kini penampilannya makin berantakan. Aomine menguap lebar, berusaha konsentrasi pada jalan.
Salah satu mobil tercepat yang ia kendarai itu memasuki sebuah bangunan, memarkirkan mobilnya pada tempatnya. Aomine keluar dari mobilnya, sedikit berjalan sempoyongan, Ini akibat kegiatannya semalam.
"Aomine-kun. Ohayou!" sapaan genit khas menggoda menyambangi telinga, mengukir senyum samar pada gadis yang hendak memasuki lift yang sama. Kebetulan mereka hanya berdua. Gadis itu berjalan lenggak-lenggok memamerkan pinggulnya, kedua kaki jenjangnya terbalut wedges biru tua dengan tali di pergelangan kakinya, dress model kemben pas badan yang warnanya senada. Kedua gundukan gunung kembar itu mengintip keluar, memperlihatkan belahan dadanya.
"Yo!" senyum Aomine makin melebar kala pintu lift tertutup. Gadis berambut pirang itu tersenyum menggoda, melingkarkan tangan kanannya pada leher Aomine. Sedangkan tangan kirinya mengelus dada pemuda itu.
"Kau mabuk, Aomine-kun," ucap gadis bersurai hitam itu,melingkatkan lengan kanannya pada leher Aomine, sedikit menariknya pelan untuk menyamakan posisi bibirnya sebelum menyatukan bibir mereka. Gadis itu sedikit mendesah kala lidah milik Aomine membelai deretan giginya, tangan kiri Aomine yang bebas digunakannya untuk menikmati dada sang gadis.
Tak butuh waktu lama untuk Aomine kembali tergoda, secara fisik gadis itu memang kriterianya. Dengan kedua dada membusung menantangnya dan kulit mulus miliknya. Pemuda berambut biru gelap itu kembali menekan bibirnya, meminta lebih dari wanita di depannya.
Lift mendadak berhenti begitu pula dengan kedua bibir itu, pintu lift terbuka mengantarkan pemuda berkulit tan itu pada lantai yang ia tuju. Matanya sedikit melirik wanita di sampingnya yang sedang mengusap bibirnya merapikan gincunya yang sempat berantakan.
"Kau mau lagi, Aomine-kun? Kita bisa melakukannya nanti malam." Gadis itu mengerling nakal, menatap menggoda tepat di mata Aomine.
"Terserah kau saja," gumam Aomine sebelum melangkah keluar.
"Kalau begitu aku akan mampir!" kalimat terakhir yang Aomine tangkap sebelum pintu lift kembali tertutup.
Kamar bernomor 207—tempat tinggal Aomine saat ini. Aomine memasuki apartemennya, melepaskan jaket dan sepatu ketsnya, Ia segera menuju ke kamarnya. Melempar tubuh lelahnya ke atas ranjang miliknya. Berusaha untuk segera terlelap, ia butuh istirahat.
Drrrt drrrt
Getaran handphone-nya sedikit mengusiknya, Aomine berusah untuk mengabaikannya, namun semakin ia melakukannya semakin keras pula bunyi handphone-nya. Aomine meraba kasurnya, berusaha menemukan handphone yang tadi ia lempar asal bersama tubuhnya.
"Hallo."
"…."
"Aku malas, lain kali saja." Aomine beranjak dari kasurnya, membuka tirai kamarnya, silau cahaya surya menyapanya. Aomine kembali menutup tirainya, menggaruk kepala birunya dan menguap lebar. Berusah memberi tanda pada si penelepon bahwa ia sedang benar-benar tak ingin diganggu.
"…."
"Baiklah," Aomine meletakkan handphone-nya pada meja samping tempat tidurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Beberapa detik setelahnya terdengar suara shower yang menyala.
.
.
.
Suasana Bandara Haneda —Tokyo— riuh ramai, para manusia dari berbagai negara saling berpapasan tanpa bertegur sapa, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Suara pengeras suara sesekali terdengar menggema di telinga. Sebagian besar dari mereka sibuk menarik kopernya, sebagian lagi duduk manis di tempat yang tersedia menunggu giliran pesawat tujuan mereka.
Seorang pria dengan perawakan tinggi dengan warna rambut merah menyala mencapai matanya, berkalung headset di lehernya. Sebuah koper besar bersamanya, matanya menyusuri sekeliling bandara. Ia berhenti tepat di depan pintu keluar bandara, merogoh salah satu tasnya, ia mengeluarkan heandphone dari sana. Mengetik sesuatu sebelum dia menempelkan handphone pada telinga kanannya.
"Yo!" sapanya di pada seseorang di sebrang telefonnya.
"Kagami-kun."
"Apa kau sibuk? Aku sudah berada di Tokyo sekarang. Bisa kita bertemu nanti setelah kuliahmu selesai?" Tangan kiri Kagami terulur, menghentikan taxi. Ia segera masuk dan duduk di kursi penumpang, "Kazu's Apartement." Kagami menjauhkan handphone-nya sebelum berbicara pada supir.
"Aku akan ke sana."
"Sekarang? Bukankah kau sedang ada kuliah?"
"Tidak, kuliahku diliburkan hari ini, jadi aku bebas."
"Begitu. Baiklah, aku akan menyusulmu setelah aku menaruh barang-barangku di apartemen."
"Ha'i."
Kagami menutup panggilanya, ia kembali memasukkan handphone pada tasnya sebelum duduk manis di dalam taxi. Tangan kanannya berpangku pada pintu, mata merahnya menjelajahi jalanan Tokyo. Sudah tiga tahun lamanya ia pergi dari tempat kelahirannya, menuntut pendidikan di Amerika —Los Angeles tepatnya. Banyak yang berubah dari kota ini. Mulanya di sisi kanannya, di sebelah toko pastry –kesukaannya bersama kekasihnya— kini ada toko perlengkapan olahraga, Kagami sedikit menyunggingkan senyum. Mungkin lain kali ia akan mampir ke sana untuk melihat-lihat—bersama kekasihnya.
A Hole In The Heart
Aomine menguap, kedua tangannya masing-masing dimasukkan pada saku jaketnya. Hawa musim gugur yang cukup dingin membuat setiap orang dipaksa mengenakan jaket saat keluar rumah. Langkah kakinya berayun teratur, tak lambat namun tak juga tergesa. Warna oranye dari daun momiji menghiasi setiap sudut pandangnya pada sekelilingnya.
Ia membuka pintu restaurant di depannya, bunyi lonceng yang pertama menyambutnya. Pandangannya menyusuri sekitar, ia sedikit tersenyum ketika menemukan laki-laki berambut biru melambai padanya. Kakinya melangkah mendekat, menghempaskan pantatnya pada tempat duduk di depan pemuda biru itu.
"Douzo." Sapa pemuda di depan Aomine padanya.
"Yo, Tetsu. Langsung saja pada intinya. Apa yang kau inginkan?" Aomine berujar, ia kemudian melepas jaketnya dan menaruhnya pada kursi di sebelahnya. Hawa di restaurant itu cukup hangat, membuat Aomine tak perlu memakai jaketnya.
"Aomine-kun, lama tak bertemu. Tidakkah kau ingin memesan sesuatu?" Kuroko Tetsuya kembali menyeruput vanilla shake-nya. Mata sebening lautan miliknya memandang Aomine dengan datar.
"Baiklah, kita bicara setelah aku memesan makanan." Aomine beranjak dari kursinya, sepertinya temannya tahu jika ia sedang merasa lapar untuk sekarang.
Tetsuya kembali menikmati minumannya, matanya emlihat seorang gadis dengan surai merah muda menghampirinya, jemari gadis itu masih sibuk dengan ponsel miliknya. Kuroko Tetsuya belum pernah melihatnya, ini yang pertama kali, tapi kenapa gadis itu menghampirinya? Ia bertanya dalam hati.
Tetsuya sedikit merasa tegang setelahnya, mengetahui jika gadis itu tak menyadari keberadaannya dan malah mendudukinya. Oh sopan sekali!
"Sumimasen," Tetsuya mendorong gadis itu menjauh darinya, tepatnya dari pangkuannya.
"Kyaa—" gadis itu berteriak kaget. Lihat kan? Wajah seputih porselennya terlihat merah karena menahan malu. Sebenarnya Tetsuya sedikit kesal karena hawa keberadannya yang tak disadari oleh gadis itu.
Berikutnya yang ia tahu gadis itu menunduk padanya dan bergumam maaf berkali-kali. Setidaknya kejadian barusan bisa menjadi pelajaran supaya lain kali ia —Momoi Satsuki— tidak terlalu sibuk bermain dengan ponselnya hingga melupakan sekelilingnya.
Gadis itu melangkah menjauhinya, namun naas baginya saat ia menabrak Aomine yang berada tepat di belakang punggungnya. Gadis dengan surai sakura itu menabrak nampan Aomine, membuat nampan yang penuh dengan pesanan milik Aomine terjatuh. Makanan itu berceceran di lantai bahkan salah satunya menggelinding tepat di bawah kakinya. Tetsuya sedikit meringis melihatnya.
Kejadian itu menarik perhatian para pengunjung lain untuk memerhatikan mereka berdua. Tetsuya tak beranjak dari tempat duduknya, ia yakin jika teman berkulit tannya mampu mengatasinya sendiri.
"Gomen," gadis itu kembali ber-ojigi meminta maaf.
"Yo!" dan yang terlihat di mata Tetsuya ialah gadis itu telah dikenal lama oleh Aomine, dan ia yakin bahwa gadis itu bukanlah salah satu dari gadis-gadis one night stand milik Aomine.
.
.
.
Hari ini cuaca cerah, dengan langit yang berawan dan sepoi angin yang pelan. Dedaunan pohon mulai berwarna kekuningan menyambut musim gugur datang. Suhu di Tokyo mencapai 12.3oC, membuat sebagian warganya menyalakan penghangat ruangan.
Namun, udara dingin di luar restaurant tak sebanding dengan suasana hati Momoi Satsuki sekarang. Gadis yang mempunyai kelebihan menganalisa itu terlihat sangat tegang. Untuk melirikkan matanya saja ia sangat sungkan.
Yang ia tahu hanyalah ia datang ke restaurant untuk menemui kekasihnya yang baru pulang dari Amerika, bukan terjebak dengan tiga laki-laki sekaligus yang hanya salah satu di antara ketiganya belum ia kenal.
Ia duduk tepat di samping Kagami Taiga, dan tepat di depannya adalah Aomine Daiki yang bersebelahan dengan Kuroko Tetsuya —pemuda berambut biru langit yang baru di kenalnya.
"Oi oi, Tetsu. Kau memanggilku ke sini hanya untuk mengenalnya?" pandangan Aomine tepat pada objek di depannya. Mata biru gelap sipitnya seolah mengintimidasi Satsuki, membuat Satsuki tak nyaman berada lama-lama di sana.
"Aomine-kun. Perkenalkan dia adalah Kagami Taiga." Tetsuya berucap datar, mata birunya mengikuti arah pandang Aomine pada gadis pink itu.
"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini, Kuroko. Kebetulan sekali." Suara Kagami menyambangi telinga, tangan kanan kekarnya memeluk Satsuki, "sebenarnya kedatanganku ke sini untuk bertemu dengannya."
Kalimat itu membuat Aomine mengerti kenapa ia bisa bertemu dengan —mantan— sahabat kecilnya. Aomine mengulas senyum tipis, ia kembali memakan burgernya —yang telah diganti oleh Kagami mewakili permintaan maaf Satsuki.
"Kagami-kun, Aomine-kun." Tetsuya bergantian menoleh pada kedua pemuda itu. "Kalian adalah orang yang sama-sama menyukai basket. Menurutku akan menyenangkan jika kalian bisa saling mengenal."
"Hoo, benarkah?" Aomine menyulut api persaingan pada Kagami, mata sipitnya terlihat meremehkan.
"Bagaimana jika kita buktikan dengan one on one?" Kagami menimpali, sorot matanya terlihat bersemangat.
"Kita lakukan di lapangan dekat taman." Kini Tetsuya ikut menyumbang suara. Seulas senyum tipis terpatri di wajah datarnya.
Momoi Satsuki meremas tangannya khawatir. Ia hapal betul bagaimana perawakan —mantan— sahabatnya dengan permainan bola basket, pemuda dengan kulit coklat gelapnya itu tak akan mudah menyerah pada lawan, apalagi jika lawannya adalah orang yang kuat.
"Yosh! Aku jadi bersemangat." Mata magentanya melirik pada Kagami, ia melupakan satu fakta lagi di sini. Kagami juga bukan orang yang mudah menyerah pada lawan, dan ia setipe dengan Aomine. Mau tak mau Satsuki mengulum senyum, mungkin pertandingan ini akan menjadi seru —batinnya menenanggkan.
A Hole In The Heart
Kagami memantulkan bola, sedangkan Aomine pada posisi bertahan. Mereka saling berhadap-hadapan. Sedikit merendahkan tubuhnya bersiap menerobos pertahanan Aomine, dan entah bagaimana bola yang awalnya pada Kagami berhasil berpindah pada Aomine. Aomine segera berbalik, melompat menuju ring. Kagami berhasil menyusul, ikut melompat bersama Aomine menghalau arah bola. Aomine berputar dan berhasil menghindarinya. Bola oranye itu berhasil masuk.
Bola basket itu memantul bebas sebelum Kagami mengambilnya, ia berlari sambil memantulkan bola tersebut. Sekali lagi mencoba menerobos pertahanan Aomine, tatapan mata maroon-nya menembak tepat pada manik biru gelap milik Aomine Daiki yang berdiri dengan angkuh.
Aomine kembali melempar pandangan remeh pada lawannya. Ia kuat. Ia tak terkalahkan. Hanya dirinya sendiri yang mampu mengalahkannya, rapalnya dalam hati. Senyum angkuhnya kembali menyambangi wajah berwarna coklatnya. Tak perlu mengerahkan seluruh kekuatannya, pertandingan ini sudah pasti dimenangkan olehnya.
Kagami melompat tinggi, ia melempar bola basket itu menuju ring di depannya. Aomine ikut melompat, tangan kanannya diangkat tinggi menghalangi arah bola, sebelum ia menyadari bahwa bola melesat lebih tinggi dari tangannya, Kagami sudah berlari terlebih dulu ke arah ring melawati Aomine.
Bola oranye tersebut menabrak papan ring, Kagami kembali bertumpu pada kaki kirinya bersiap melompat, tepat saat bola itu memantul ia menangkapnya lalu memasukkannya. Satu poin untuknya, ia tersenyum senang. Pertandingan baru saja dimulai, batinnya.
Sebelum Kagami menyadarinya, Aomine telah merebut bola dan menggiringnya menuju ring miliknya. Kagami segera berbalik, berlari mengungkuli Aomine. Berdiri tepat di depan pemuda besurai biru gelap itu, memasang kuda-kuda pertahanan bersiap pada serangan yang akan Aomine lakukan.
Senyum meremehkan masih bersinggah pada Aomine, ia senang respon Kagami terhadapnya begitu cepat. Membuat pertandingan ini sedikit menarik baginya. Aomine memantulakan bola sambil bersiap menyerang, "kau yakin bias menghalangiku? tak butuh banyak tenaga, karena pertandingan ini sudah jelas pemenangnya."
"Diam dan seranglah aku! Aku akan menghalangimu." Tepat setelah Kagami menyelesaikan kalimatnya, Aomine bergerak secepat cahaya melewatinya, ia bahkan tak mampu bergerak dari tempanya. Ia terpaku, pikirannya mengulang kembali kejadian itu.
5 lawan 1. Kemenangan berada di tangan Aomine, pemuda berkulit tan yang lebih gelap dari Kagami itu menyunggingkan senyum merendahkan.
"Kau masih belum cukup kuat." Aomine berjalan keluar lapangan, menghampiri Kuroko yang tengah berdiri di samping Satsuki. Ia berdiri di samping Kuroko, sedikit membuang muka ia menghela napas.
"Oi! Berikan jaketku." Satsuki sedikit tersentak. Ah reaksi tubuhnya yang gelagapan menimbulkan pandangan bertanya Kuroko. Pemuda dengan rambut biru langitnya melempar pandangan sedikit curiga padanya — atau mungkin pada mereka. Satsuki mengulurkan tangan kanannya, memberikan jaket milik Aomine.
"Tetsu, aku pulang lebih dulu," ucapan terakhir Aomne sebelum beranjak pergi, yang hanya dib alas anggukan oleh Kuroko.
"Momoi-san. Aku ingin bertanya satu hal padamu." Kuroko menoleh pada Satsuki yang berada di kanannya, "apa kau dan Aomine-kun sudah saling mengenal?"
Satsuki menoleh cepat, ia memandang kedua manik aquamarine milik Kuroko sebelum tersenyum pada pemuda itu. "Kami hanya pernah berpapasan beberapa kali."
"Sou ka." Tetsuya mengangguk mengerti.
"Satsuki, ayo pulang." Kagami menghampiri mereka, mengambil jaket yang diberikan Satsuki padanya. "Kuroko, temanmu itu membuatku mendidih." Seulas senyum menghiasi wajah penuh keringat miliknya.
Kuroko Tetsuya ikut tersenyum karenanya, ia sudah menduga akan seperti ini jika sesama pecinta bola basket beradu tanding. "Mungkin lain kali kalian bisa bermain lagi."
"Dan saat itu terjadi maka akulah yang akan menjadi pemenangnya.".
.
.
.
Momoi Satsuki membuka jendela, membiarkan angin malam memasuki ruangan. Rambut pink-nya ia naikkan tinggi-tinggi, mengikatnya supaya terlihat lebih rapi. Kaki jenjangnya melangkah memasuki dapur yang bersebelahan dengan ruang tamu yang merangkap juga sebagai ruang santai. Ia mengambil celemek polos berwarna biru muda yang tergantung di dekat kitchen set kemudia memakainya. Satsuki menaruh barang belanjaannya pada meja, mengeluarkan isinya. Daging sapi, Bombay, bawang putih, tomat, kentang, apel, wortel, jahe. Semua yang ia beli adalah bahan untuk membuat kare. Satsuki tersenyum, ia mengambil tatakan dan pisau bersiap membuat makan malam untuk mereka berdua.
Saigou no kisu wa
tabako no flavor ga shita
nigakute setsunai kaori
Ashita no imagoro ni wa
Anata wa doko ni irun darou
Dare wo omotterun darou
Momoi Satsuki bersenandung pelan, kedua tangannya sibuk memotong wortel menjadi irisan-irasan kecil. Irisan wortel itu ia kumpulkan dalam wadah. Selanjutnya ia mengambil kentang, mengupas kulitnya kemudian memotong dagingnya.
You are always gonna be my love
Itsuka dareka to mata koi ni ochitemo
I'll remember to love
You taught me how
You are always gonna be the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashi uta utaeru made
Kagami bersandar pada bahu sofa ruang tamunya, tatapannya melembut saat memandang gadis yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Sedikit tersenyum bahagia, pemuda itu melangkah mendekat.
"Kare?" alis merah bercabang itu terangkat, matanya meneliti setiap pergerakan kekasihnya. Ingatannya terlempar pada kejadian lima tahun lalu, saat mereka sama-sama masih di sekolah yang sama. Siapa sangka gadis yang telihat cantik tak bercelah di luarnya memiliki masalah terhadap keahlian memasak. Ia sama sekali tak bisa membuat makanan dengan benar.
"Jika kau tak keberatan, kau mau membantuku untuk menyiapkan makan malam kita?" Momoi Satsuki bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada kentang. Tangan kanannya masih sibuk mebuat gerakan mendorong pisau membelah si kentang.
Kagami menghampiri kekasihnya, mensejajarkan posisi tubuhnya tepat di samping kanan si gadis. Lengannya mengambil sebuah tomat, melemparkannya dan menangkapnya. Lempar tangkap. Lempar tangkap.
"Kagami-kun… berhen—eh?" Momoi Satsuki memalingkan wajahnya yang memerah. Respon tubuhnya terlalu cepat sebelum ia menyadari keseimbangannya goyah, membuatnya jatuh, melepaskan pisaunya dan menggores kaki kanannya.
"Satsuki!" Kagami bergegas menjauhkan si pusau yang sedikit ternoda darah pada ujungnya. Ia mebopong tubuh gadisnya menuju sofa, meletakkannya secara perlahan seolah takut jika ia semakin menyakiti gadisnya.
"Mou, Kagami-kun. Pakailah bajumu terlebih dulu." Masih dengan wajah yang memerah, tangan kanan Satsuki mendorong pelan dada bidang milik Kagami. Ia masih memalingkan pandangan matanya berusaha untuk tak menangkap sosok kekasih merahnya yang sedang bertelanjang dada.
"Ah … baiklah." Kagami berjalan cepat menuju kamarnya, menyambar asal salah satu kaos tanpa lengannya lalu memakainya, berikutnya ia mengambil perlengkapan P3. Kembali berjalan menuju gadisnya, ia segera berjongkok berhadapan dengan kaki kanan Satsuki yang terluka.
"Apa ini terasa sakit?" tanyanya pelan, sambil mengusap lembut luka gadisnya menggunakan kasa yang etlah dibasahi dengan betadine.
"Ini tak sakit sama sekali, Kagami-kun. Kau terlalu berlebihan memperlakukanku," gadis bersurai pink itu berujar, memberikan senyum baik-baik saja pada kekasihnya. Ia kemudian bergeser sedikit, memberikan tempat pada Kagami untuk duduk di sebelahnya.
"Maafkan aku." Kagami beranjak, ia mengambil tempat di sebelah gadisnya. Ia membelai surai musim semi itu. Menciptakan senyum tulus pada wajah gadisnya. Jemarinya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi dahi gadis itu.
"Satsuki—" rapalnya pelan. Entah hanya perasaannya saja atau memang pada kenyataannya gadisnya tumbuh menjadi wanita yang cantik, Kagami baru menyadari jika gadisnya sedikit berubah—atau bahkan sepenuhnya telah berubah. "Kau …" ujung jari telunjuk kanannya menyusuri kening gadis itu, perlahan turun pada pipinya. Menyelipkan surai pink-nya yang berada pada sisi wajahnya ke belakang telinga.
Ibu jari Kagami bergerak turun, memposisikan tepat pada dagu v milik Satsuki. Sedikit menariknya turun membuat bibir Satsuki terbuka, mereka hanya berjarak tiga senti. Kedua hidung mereka salaing bersentuhan. Kagami memajamkan kedua matanya menikmati deru napas milik Satsuki.
"Kagami-kun," suara pelan Satsuki mengawali semuanya, menggoyahkan pertahanan milik Kagami yang susah payah ia bangun sedari tadi. Kagami mempertemukan bibir mereka, melumat lembut bibir tipis namun berisi milik gadisnya. Menghisap bibir bawah Satsuki penuh gairah, bibir Satsuki terasa lembut dan basah karena salivanya.
Kagami seperti melayang dibuatnya, ia menikmatinya. Menikmati setiap apa yang ia lakukan pada gadisnya, tangan kanannya menyentuh pinggang Satsuki, menariknya mendekat padanya. Jemarinya mengelus punggung gadis itu dengan sayang dan dengan perlahan melepaskan simpul pada ikatan celemek di pinggang gadis tersebut.
Momoi Satsuki hanya bias terdiam dan memejamkan matanya erat. Merasakan sentuhan hangat milik Kagami pada tubuhnya, bibirnya menyambut hangat milik Kagami, melepas rindu setelah dua tahun tak bertemu. Kedua lengannya ia kalungkan pada leher Kagami, menarik pemuda itu untuk lebih dekat dengannya.
"Emh!" Satsuki melenguh akibat perbuatan tangan kiri Kagami yang meremas dadanya, remasan kecil yang lembut namun berefek besar padanya. Gadis itu membuka kelopak matanya saat merasakan tangan kanan milik kekasihnya merayap masuk dari balik kaosnya.
"Kagami-kun!" Sastsuki mendorong bahu pemuda itu menjauh darinya. Ia segera beranjak dari sofa, berdiri membelakangi Kagami. Ia berdiri kikuk di sebelah pemuda itu, tangan kirinya mengelus lengan kanan miliknya. Netranya bergerak gusar, seolah mencari kata yang tepat untuk ia sampaikan. Ia hanya belum siap dan mereka hampir saja melewati batasan antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah.
"Maaf." Kagami ikut berdiri, ia mengusap kasar helaian rambut merahnya. Ia melangkah menuju dapur kecilnya, melanjutkan kegiatan Satsuki yang belum rampung—menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
"Ah, Kagami-kun. Biarkan aku yang melakukannya, kau duduklah sambil melihat acara di tv." Kagami menoleh pada kekasihnya, ia melempar senyum tulus sebelum melanjutkan kegiatannya.
"Aku bahagia." Gumamnya pelan namun masih terdengar di telinga gadis bermahkota pink itu.
"Eh?" Satsuki tidak mengerti maksud dari ucapan pemuda yang telah lima tahun menyandang sebagai kekasihnya. Ia melangkah mendekat, sedikit tertatih akibat rasa perih di kaki kanannya.
"Kau menjaga dirimu dengan baik, kau bahkan menolaknya sebelum kita resmi menikah. Membuatku begitu bahagia bisa bersamamu." Pemuda itu memamerkan deretan gigi putihnya, tanpa ia sadari bahwa kalimatnya mampu menghangatkan perasaan gadis musim semi tersebut. Mengirimnya pada tempat yang hanya berisi putih dengan gumpalan awan lembut dan angin yang menyejukkan.
'Semoga Tuhan menyatukan kita.'
Senyum musim gugur menyapa mereka, menyelimutinya dengan hawa dingin tipis yang tak kentara, menyembunyikan sisi buruknya di antara gelak tawa dunia. Menyembunyikan sang badai dalam keraguan hati manusia. Bukankah Tuhan selalu memberikan apa yang terbaik untuk kita? Para manusia munafik pendosa, atau bahkan binatang menjijikkan sekali pun. Akan selalu ada kebahagiaan di antara badai yang melanda. Hanya menunggu hitungan waktu sampai saat itu tiba.
.
.
T B C
A/N : Hallo, maaf lama untuk chap-nya. Author sekarang kerja dan sedikit sulit untuk mencari waktu luang, ditambah lagi laptop Author rusak, membuat Author harus ngetik lewat komputer kantor. Setiap luang di kantor, Author sempetin buat ngetik fict ini. Author usahain fict ini bakalan menemukan titik ujung yang jelas.
Terima kasih untuk orang-orang yang sudah bersedia ngeluangin waktunya buat review fict Author, apalagi yang udah nge-fave atau follow fict ini. Tanpa kalian Author hanyalah butiran debu #ceilah.
Sekian cuap-cuap Author, akhir kata :
Review, please ^_^
