Hari itu sang surya tersenyum menyapa dunia, mengembuskan senyum gembira di wajah anak-anak tanpa dosa. Angin musim panas mengempas helaian mereka, membawa suara tawa bahagia. Peri-peri kecil menjulang tinggi membentuk batang pohon, rimbunnya membuat bayang. Kicauang burung gereja bersenandung senang, beberapa di antara mereka singgah pada karpet hijau—bermain bersama beberapa anak.

Momoi Satsuki bersurai merah muda khas dengan musim semi di bulan kelahirannya. Warna matanya magenta dengan binar polos milik bocah berusia lima. Kulitnya seputih porselen, berbeda dengan warna kulit sahabatnya. Aomine Daiki berambut biru gelap dengan warna mata yang senada, dan warna kulitnya coklat gelap kontras dengan sahabat perempuannya. Hanya saja mereka bagaikan amplop beserta prangko—yang tentu saja si prangko identik dengan Momoi. Mereka tak hanya dekat, bukan juga hanya bersahabat, mereka nyaris seperti saudara andai saja darah yang mengalir adalah sama.

Meskipun mereka sangan dekat, bukan berarti mereka selalu melakukan hal dengan sama-sama. Seperti halnya pada hari ini, ketika Aomine kecil sedang asyik bermain basket bersama teman-temannya—yang tentunya lebih dewasa darinya. Momoi Satsuki hanya bisa menunggunya sambil duduk di kursi pinggir taman, kedua tangannya berada pada sisi tubuhnya sedangkan kaki-kaki kecilnya mengayun secara bergantian. Lama dengan kegiatan itu ia menjadi bosan. Beranjak dari duduknya, Momoi Satsuki melangkah menjauh dari lapangan.

Kaki-kakinya membawanya ke pinggiran sungai tepat di sebelah taman bermain, aliran sungai jernih itu terlihat tenang dan nyaman membuat gadis cilik bersurai merah muda itu melangkah lebih dekat. Momoi Satsuki melepas kaus kaki beserta sepatunya, kaki-kaki telanjangnya sedikit dicelupkannya ke dalam air. Sedikit dingin tapi terlihat menyenangkan. Ikan kecil-kecil sedang berenang dengan tenang, mereka bergerombol membuat Satsuki gemas ingin menangkapnya.

Tinggi air hanya semata kakinya—lebih tinggi sedikit— sehingga membuat kaki-kakinya bebas melangkah, pasir pada dasar sungai membuatnya semakin leluasa mengejar ikan-ikan tersebut, mengikuti mereka dengan senyum sumringah.

Buuk

Byuur

Bibir kecilnya merintih kesakitan. Ia terpeleset akibat terhantam sesuatu, magentanya menangkap bola putih yang besarnya segenggaman tangan—bola baseball.

"Hei, Pinky! Ambilkan bola itu!" Satsuki menoleh ke asal suara, seorang bocah lelaki seusianya dengan rambut coklat gelapnya berteriak ke arahnya. Dengan cepat Satsuki membuang muka, mengabaikan bocah itu lalu berjalan ke pinggir sungai. Bajunya basah akibat bocah laki-laki itu dan si bocah yang telah menyakitinya tak mau meminta maaf padanya. Ia kesal.

Bukk

Kepala pink-nya kembali merasakan hantaman yang sama. Ia mendongak marah pada bocah laki-laki itu yang tengah memasang senyum meremehkan padanya.

"Aku masih memiliki banyak persediaan bola baseball, jadi lebih baik kau ambilkan bolaku terlebih dahulu sebelum kau pergi!" bocah coklat itu kembali meneriakinya sambil melempari Satsuki. Kepala pink-nya terasa sakit, ia berusaha melindunginya dengan kedua lengannya tapi bocah lelaki itu masih saja melemparinya. Satsuki memejamkan matanya erat menahan sakit.

"Hentikan, kumohon! Dai-chan, Dai-chan." Bibir tipisnya memanggil-manggil nama sahabatnya, mata magentanya telah basah karena menangis, "Dai-chan, tolong."

.

Aomine Daiki membuat posisi bertahan, kuda-kudanya bersiaga akan serangan yang mampu membobol ring-nya. Kedua lengannya ia rentangkan menghalangi musuh menyerang ke dalam.

"Takkan kubiarkan kamu mencetak angka." Bersamaan dengan teriakannya bocah berkulit cokelat gelap itu mampu merebut bola, menghindari dua orang remaja yang menghalanginya. Aomine Daiki mampu memasukkan bola itu dengan lay-up andalannya, ia tersenyum senang sambil mengacungkan jempol kanannya ke atas—ke arah para remaja itu.

Mata biru sapphire-nya mengedar. Ia tak menemukan sahabat pink-nya yang duduk di bangku pinggir lapangan menunggunya, biasanya gadis pink itu akan mengawasinya di sana, menunggu hingga ia selesai bermain lalu mengajaknya pulang untuk tidur siang.

"Aku akan pulang terlebih dahulu," Aomine kecil berlari keluar lapangan yang pinggirnya berpagar kawat. Netranya bergerak gelisah karena tak menangkap sosok sahabatnya, ia mulai khawatir dan memutuskan untuk berkeliling lapangan.

"Hei, Aomine! Satu kali lagi!."

"Aku akan kembali besok!" kalimat terakhirnya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan para remaja yang mengajarinya bermain basket.

Kakinya melangkah cepat pandangannya menelisik setiap sudut taman berharap menemukan seseorang yang sedang dicarinya, langkahnya sampai pada sungai kecil dipinggir taman. Aomine merapal kesal karena tak menemukan gadis pink yang sedang dicarinya sedari tadi.

"Rasakan! Itu akibatnya jika kau tak mau mengambilkan bolaku." Teriakan seorang bocah mengalihkan perhatian Aomine, bocah itu memakai kaos putih dan celana pendek selutut berwarna hitam, ia juga mengenakan topi dan sarung tangan baseball. Di sebelahnya terlihat setumpuk bola baseball dalam keranjang.

Aomine menghampirinya rasa penasaran khas milik anak-anak menyuruhnya melihat apa yang sedang terjadi di sana. Mata biru gelapanya menangkap gadis yang dikenalnya, rupanya bocah lelaki itu sedang melempari sahabatnya dengan bola baseball miliknya.

Byuur

Didorongnya bocah lelaki berambut coklat itu hingga ia tercebur ke dalam sungai, bocah dengan baju baseball-nya menangis histeris saat mengetahui ia telah terjungkal jatuh, membuat baju kesayangannya basah kuyub. Bocah itu merangkak ke pinggir sungai berusaha keluar dari sana. Tangisnya yang sesenggukan membuat untaian ingus keluar dari lubang hidung kanannya.

Mata biru gelap Aomine menatap nyalang pada bocah itu. Kedua tangannya bersidekap seolah mengatakan bahwa dialah yang lebih kuat, membuat bocah itu berlari menjauhi mereka sambil menyebut 'Otou' berkali-kali.

Pandangan Aomine beralih pada sahabat kecilnya yang masih berjongkok memeluk lututnya ketakutan. Tubuhnya terlihat sedikit gemetaran—mungkin kedinginan.

"Oi, Satsuki! Sampai kapan kau akan seperti itu?" Aomine menghampiri Satsuki, ia hanya berjarak 1 meter dari tempat Satsuki berjongkok, hanya saja ia tak berniat ikut menceburkan diri ke sungai.

"Dai-chan," suara parau Satsuki memanggil nama sahabat lelakinya, ia mendongakkan kepala pink-nya. Binary mata magentanya sedikit bergetar, ada rasa lega dan gembira yang terlihat dari sana. Satsuki berlari memeluk Aomine erat sambil menyebut nama panggilan khas yang ia buat.

"Sudah, sudah. Bocah itu sudah pergi." Tangan kanan Aomine menepuk uncak kepala Satsuki, tepukan pelan namun menenangkan, seulas senyum kelegaan tercetak jelas pada wajah poloh bocah lelaki itu—tandanya meyakinkan.

"Kau terluka, Satsuki? Lututmu berdarah." Aomine sedikit menjauhkan Satsuki guna melihat raut muka gadis cilik itu, "Yosh, yosh! Akan kugendong."

Aomine kecil berjongkok di depan Satsuki memposisikan dirinya untuk menggendong sahabatnya pulang bersama. Satsuki menatap sekilas punggung kecil milik Aomine, ia berjalan tertatih mengambil sepatu miliknya sebelum naik ke atas punggung sahabatnya.

"Dai-chan," lirihnya lembut memanggil nama Aomine, pandangan matanya menyipit lelah.

"Hn?"

"Arigatou." Lanjutnya sebelum menyembunyikan sepasang ceylon pink miliknya dalam lipatan.

.

Saat itu mentari bersinar pada ufuk barat dengan senja yang menghiasi mega. Satsuki dengan tenang terbuai dari tidur lelapnya, berkutat dengan dunianya sendiri di alam sana. Selimut berbahan acrylic menghangatkan tubuhnya yang memang sedang kedinginan, dan yang Satsuki impikan adalah dia sedang berlari-lari di padang bunga lili kesukaannya bersama sahabatnya.

Lalu di dalam mimpinya ia melihat Aomine bersuara lantang sebelum berubah menjadi teriakan histeris khas orang marah. Pemuda cilik itu tiba-tiba merusak beberapa tangkai bunga,menghancurkan kumpulan bunga indah itu dalam sekejab mata. Sepasang magenta Momoi memandang kaget pada perbuatan Aomine.

"Dai-chan! Berhenti." Satsuki berlari menggapai Aomine, mencoba untuk menghentikan tindakan sahabatnya. Gadis cilik itu berlari sekuat tenaga namun seolah tak tergapai oleh tangannya sahabat lelakinya semakin jauh dari jarak pandangnya dan yang terakhir ia lihat adalah raut wajah Aomine yang sedang menangis memandang Satsuki.

"Dai-chan!" Satsuki kecil menjerit ketakutan, keringat dingin membasahi pelipisnya dengan napas yang tersengal ia beranjak dari kasur nyamannya. Berlari turun ke lantai bawah mencari sahabatnya. Tak mengindahkan rasa perih pada lututnya.

Langkahnya yang terburu membuat suara gaduh di rumahnya. Tepat pada ruang keluarga yang berbatasan dengan ruang tamu di rumahnya, maniknya melihat sosok ibu Aomine yang sedang berbicara dengan ibunya. Satsuki bersembunyi di balik tembok pembatas ruang tamu, sedikit mencuri dengar pembicaraan para orang dewasa.

"Kami akan pindah. Aku yang akan membawa dan merawat Aomine." Wanita paruh baya bersurai hitam itu sedikit tersedu, tangan kanannya menutup kedua matanya. Terlihat goresan vertikal dari pergelangan tangannya hingga punggung tangan wanita yang Momoi kenal sebgaai ibu Aomine, "—aku akan membesarkannya sendiri dengan tanganku."

Ibu Momoi hanya mengannguk, ia meraih pundak tetangganya itu guna memeluknya. ''Kau pasti bisa melakukannya." Suara ibu Satsuki sedikit bergetar, tangan kanannya mengelus punggung milik ibu Aomine.

"Mama," Satsuki memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya, kaki kecilnya melangkah mendekat, "—ada apa?" lanjutnya dengan sedikit nada khawatir. Magenta miliknya menatap sang ayah yang berdiri di ambang pintu kemudian beralih pada ibu Aomine, gadis kecil itu terkejut melihat keadaan wanita itu. Sepasang mata hitam yang selalu memandangnya ramah kini terlihat rapuh, wajah yang selalu menyambutnya hangat kini telah terluka. Bagian ujung bibirnya nampak sedikit sobek—bahkan Satsuki masih melihat darah mengering dari sana, bekas kebiruan menghiasi pipinya yang selalu bersemu merah setiap kali menegurnya. Tak ada kebahagiaan di sana, ini tidak seperti biasanya.

"Okaa-san, apa yang telah terjadi?" bibir mungilnya sedikit bergetar. Tangannya menggapai pakaian milik ibu Aomine menarik-nariknya pelan, "siapa yang melakukan ini? Bagaimana dengan Dai-chan?"

"Satsuki, tenanglah."

"Mama—" perkataannya terpotong oleh pelukan hangat wanita paruh baya yang telah ia anggap sebagai ibunya yang kedua. Magentanya menangkap warna merah pekat di antara helaian biru gelap milik wanita itu, mengusapnya dengan halus.

"Okaa-san."

Pandangan Satsuki bergulir ke sekitar mencari sosok sahabat lelakinya namun yang ia tangkap hanya segerombolan tetangga kompleknya yang memandang mereka dengan tatapan iba, ada sebuah mobil ambulance terpakir di depan rumah milik sahabatnya lalu tak jauh dari mobil ambulance ada mobil merah yang ia ketahui sebagai mobil pemadam kebakaran. Ia mendongak, menatap bangunan yang menjadi rumah keduanya sekaligus rumah milik Okaa-san-nya. Tepat di jendela lantai dua—yang Satsuki ketahui sebagai kamar milik ke dua orang tua Aomine— terdapat percikan api kecil yang sebentar lagi akan padam, terlihat orang-oran berpakaian serba kuning sedang berusaha menyiram beberapa titik tempat api yang masih menyala.

Satsuki melepaskan pelukannya. Ia berjalan mendekat tepat pada garis kuning melintang yang mengitari rumah sahabatnya, dilihatnya jendela kamar milik Aomine yang telah pecah bahkan korden jendela itu menjuntai keluar jendela dengan ujung yang telah terbakar. Ia ingin tahu. Apa yang telah terjadi? Bukankah siang tadi ia dan Aomine masih bermain bersama? Bukankah tadi pagi masih terlihat baik-baik saja? Di mana Aomine?.

Satsuki kecil menoleh cepat menghampiri orang tuanya, "Okaa-san, Dai-chan di mana?" tersirat nada khawatir di sana. Magentanya menatap bergilir pada ketiga orang dewasa di depannya. Dan yang ia dapatkan hanya gelengan dari mamanya lalu raut sedih yang terlihat dari Okaa-san-nya.

.

.

.

A Hole in The Heart presented by Hakuya Cherry

Desclaimer Fujimaki Tadatoshi

Tidak ada materil apapun yang saya terima dari pembuatan fict ini

.

.

.

Jepang adalah sebuah negara kepulauan di Asia Timur. Letaknya di ujung barat Samudra Pasific, di sebelah timur Laut Jepang dan bertetangga dengan Republik Rakyat Tiongkok, Korea dan juga Rusia. Kepulauan jepang memiliki empat musim ; musim semi yang terjadi pada bulan Maret hingga Mei, musim panas yang berlangsung pada bulan Juni sampai bulan Agustus, di bulan September hingga November ada musim gugur lalu musim dingin yang terjadi pada bulan Desember sampai Februari.

Bagi Momoi Satsuki musim yang paling ia sukai adalah musim semi yang bertepatan dengan bulan kelahirannya. Di musim itu langit terlihat begitu cerah, helaian sakura memenuhi setiap sudut kota. Terlihat seperti seorang gadis cantik dengan wajah yang bersemu kemerahan.

Ia melangkahkan kaki dengan ringan. Kedua tangannya sibuk membolak-balikkan buku saku kecil yang berisi kumpulan puisi haiku, bibir tipisnya menggumam pelan melafaldkan bait-bait setiap kalimat yang tertera di sana. Magentanya sesekali mendongak melihat jalan berjaga-jaga jika ia menabrak sesuatu di depannya.

Surai pink-nya diikat tinggi dengan sedikit rambut yang membingkai pada sisi wajahnya, bagian ujungnya dikeritingkan supaya terlihat lebih menawan. Sweter abu berbahan rajut dengan garis leher sabrina yang di balut dengan mantel coklat tua, terdapat bulu pada bagian pinggiran mantel yang sengaja tak ia kancingkan. Bahan berbulu itu juga menghiasi lingkar lengan dan pinggiran cape-nya. Rok katun lipit 10 cm di atas lutut berwarna biru langit yang pada bagian pinggirnya terdapat garis putih membalut tubuh bagian bawahnya. Boots Liz Lisa setinggi lututnya dengan hiasan pita pada bagian depan berpola silang menambah manis penampilannya. Tak heran jika sepanjang perjalanannya menuju bookstore banyak pasang mata dari lawan jenisnya melempar pandangan menggoda.

Satsuki menutup buku sakunya lalu menyimpannya ke dalam tas jinjing bludru miliknya, ia melangkah memasuki toko buku tujuannya. Berjalan menuju meja penitipan barang lalu melepas mantelnya dan memberikannya kepada petugas setelah menerima nomor lokernya.

Magentanya menatap deretan buku yang tertata rapi sesuai dengan kategori jenisnya. Ia berjalan pada deretan novel dewasa yang terletak pada ujung kanan toko itu, mencari-cari novel yang menurutnya bagus dengan membaca setiap synopsis pada masing-masing buku.

Fifty Shades of The Grey

Ia membaca judul salah satu novel erotis yang sedang naik daun itu sambil mengernyit. Novel itu tidak berjejer dengan teman novelnya yang lain, melainkan ada seseorang yang sengaja menghadapkan sampul novel itu tepat di depannya.

"Yo!"

Ia menoleh cepat menatap seorang pemuda berambut biru gelap di sebelahnya. Maniknya mengerjab beberapa kali sebelum sedikit mengukir senyum tipis yang hanya bertahan beberapa detik di wajah ayunya.

"Hai," suaranya mengalun pelan, tenggelam di antara suara musik yang mengalun di dalam toko. Jemari kanannya terangkat menyibak rambut pada sisi kanannya, menaruhnya ke belakang telinga.

"Jangan lakukan itu." Tangan kanan Aomine terulur menggapai tangan Satsuki, ia kembali meletakkan untaian rambut pada sisi kanan telinga gadis merah jambu itu, "—lihat dirimu, Satsuki. Kau benar-benar terlihat berbeda."

Aomine menyeringai sebentar, ia menelisik penampilan Satsuki mulai dari bawah hingga wajahnya sebelum tatapan matanya terpaku pada dada si gadis, alisnya terangkat ia mendengus kasar saat menyadari sesuatu pada bagian bawah tubuhnya. Oh holy shit! Ia tak menyangka jika sahabat berambut pink-nya itu mampu membuatnya 'panas' hanya dengan memandangnya.

Aomine berbalik memunggungi Satsuki memutus kontak dengan gadis musim semi itu, ia kembali meletakkan novel yang dibawanya pada salah satu rak yang berisi novel dengan judul yang sama. Berjalan menjauh sambil berusaha menetralkan pikirannya.

"Aomine." Satsuki memanggil nama depannya, bisa Aomine rasakan jika gadis di belakangnya sedang berusaha menutup jarak di antara mereka.

"Hn."

"Mau minum kopi bersama?"

Aomine menoleh mendapati wajah gadis itu sedang tertunduk,jari jempol dan telunjuk kanannya sedikit menarik ujung kaos Aomine seolah mencegah pemuda itu untuk menjauh.

"Ikimashou." Langkah Aomine memimpin tanpa melihat gadis di belakangnya, ini adalah pertemuan mereka yang kedua setelah dua minggu lalu, pertemuan yang tak pernah mereka sangka akan terjadi setelah sekian lama.

.

Satsuki pikir ia bisa melegkan rasa haus akan keingin tahuannya tentang pamuda berambut biru gelap itu setelah bertemu dengannya, terlebih lagi mereka hanya berdua. Duduk berhadapan mengambil posisi santai menikmati secangkir kopi pesanan masing-masing, Tapi nyatanya pertanyaan itu seolah menyangkut di tenggorokan sehingga menciptakan keadaan sunyi di antara mereka.

Satsuki mengalihkan pandangannya dari jalanan kota, menatap latte-nya sebentar sebelum menyadari pandangan Aomine tertuju padanya. Pemuda itu menatap intens seolah pandangan matanya mampu menembus jantungnya.

"Berhentilah menatapku seperti itu, Aomine."

"Aomine?" sedikit menaikkan alisnya, pemuda itu mendengus kasar sebelum menandaskan kopi pesanannya. Lengan kirinya ia letakkan di atas sandaran kursi, mata biru sipitnya kembali melempar pandangan pada gadis musim semi di depannya. Menembak tepat pada magentanya.

"Aku yakin ada beberapa pertanyaan untukku." Aomine mengusap belakang kepalanya, ia sedikit menguap menyadari keadaan yang begitu kaku di antara mereka. Oh ayolah …. Gadis sexy di depannya—yang tak lain adalah sahabatnya sendiri— paling enak jika menikmati peluh bersama di atas ranjang, mendengar bibir itu menyebut namanya dan tubuhnya tunduk pada Aomine.

Sialan! Sialan! Sialan!

Aomine mengerang pelan saat mendapati juniornya kembali bangun dan ini sudah kedua kalinya hanya dalam waktu 2 jam! Lihat Satsuki, menatapmu benar-benar membuatku 'tersiksa'.

"Apa saja yang terjadi padamu?"

"Apa saja?" Aomine ingin tertawa, Ya Tuhan, apa gadis di depannya ingin ia membuat karangan indah yang begitu panjang? "—jawaban yang seperti apa yang kau inginkan, Satsuki?"

Aomine meregangkan ototnya yang kaku, ia menghela napas berusaha menutupi ketegangannya yang kian memuncak.

"Bagaimana kabar, Kaa-san?"

Pertanyaan itu bagai musim dingin yang mengempas musim panas, menyapu segala kehangatan dengan rasa dingin beku yang mendera. Aomine terdiam untuk beberapa saat.

"Dia sudah pergi."

Satsuki medongak menatapa Aomine, mencari kebohongan dari sepasang sapphire yang juga menatapnya. Gadis musim semi itu kembali mengalihkan pandangannya, latte yang dipesannya sudah dingin menurunkan minatnya untuk menghabiskan kopi itu. Genggaman tangannya pada pinggiran cangkir sedikit menguat, mengingat masa lalu yang tiba-tiba melintas di otakknya. Kilasan kejadian 15 tahun yang lalu, saat mereka masih bersama dan bahagia.

"Jika tak ada yang ingin ditanyakan lagi aku akan pergi." Kalimat itu bersamaan dengan bunyi ponsel yang berdering milik Aomine, membuat meja mereka ikut bergetar mengikuti irama ponsel.

"Hn?"

Satsuki mengalihkan pandangan berusaha untuk tak mendengarkan pembicaraan yang dilakukan oleh pemuda biru itu. Momiji di luar berguguran, daunnya terhempas udara membumbung tinggi bersamanya. Kanvas senja tergambar di atas mega memberi warna jingga yang menyejukkan mata.

"Aku harus pergi." Aomine menyambar mantelnya terburu memakainya seolah ada sesuatu yang penting menunggunya. Gadis permen kapas itu hanya melihat tanpa berkomentar, magentanya mengikuti langkah pemuda berkulit tan itu yang keluar café lalu masuk ke dalam mobilnya.

Oh sejak kapan sahabatnya itu memiliki mobil bagus yang warnanya begitu mencolok?

Setelah kepergian Aomine gadis pink itu beranjak dari tempat duduknya, memutuskan untuk segera pulang mengingat suhu semakin dingin di luar sana. Ia mengambil mantel yang disampirkan pada sandaran kursinya lalu memakainya. Magentanya bergulir ke seberang meja tepat pada tempat yang baru saja diduduki oleh sahabatnya, menatap benda berwarna coklat tua yang terbuat dari kulit tergeletak di atas meja. Membanting tubuhnya pada sandaran kursi miliknya, sepertinya Tuhan ingin segera mempertemukan mereka—lagi.

.

.

.

Jalanan Kota Tokyo terlihat lenggang hanya ada beberapa mobil yang melintas dengan beberapa bus kota yang berhenti menurunkan penumpang. Di sisi lain jalan para pengendara sepeda lebih memilih menuntun sepeda mereka sambil menikmati daun momiji yang berguguran. Musim gugur akan segera berakhir berganti dengan musim dingin yang sudah terlihat siap menggagahi akhir bulan ini.

Aomine memacu mobilnya cepat, membelah jalan di sore hari yang terlihat tenang. Keluar dari ibu kota yang penuh dengan hiruk-pikuk kehidupan, pemandangan yang awalnya hanya gedung pencakar langit kini telah berganti dengan tebing dengan sisi yang curam, pembatas jalan berbesi usang menjadi satu-satunya pagar yang memisahkan dengan jurang yang tajam, di sisi lain tebing menjulang menantang sang surya yang hendak tenggelam. Jalanan begitu sepi dan mobil pemuda berkulit tan itu merupakan satu-satunya kendaraan yang melintas di sana.

Mengendurkan perlahan pijakan pada gas mobilnya, Aomine tiba di sebuah gedung tua dengan cat yang telah mengelupas termakan cuaca. Memarkirkan mobilnya di samping mobil Mazda CX5 merah yang terlihat masih baru, Aomine turun dari mobilnya dan bergegas memasuki lift menekan tombol angka pada lantai tujuannya. Meski gedung itu terlihat tua dan rapuh itu hanya tampilannya dari luar yang mampu menipu mata siapa saja yang melihatnya, gedung ini sebenarnya adalah markas pertemuan para pertahanan dan keamanan negara, yang pastinya hanya berisi dengan orang-orang berintelejen tinggi.

Pintu lift terbuka kaki kanan Aomine mengawali langkah berikutnya mengayun dengan pelan. Seorang gadis bersurai pirang yang tersanggul menyapanya hormat, jari lentiknya sedikit mengatur letak frame yang melorot.

"Selamat sore, Letnan Aomine."

"Hn."

Pemuda bermata sapphire yang dipanggil Letnan itu merogoh saku belakang celananya, sedikit membelalak kala tak menemukan benda yang dicarinya. Di mana dompetnya?

"Ada apa? Kau terlihat kebingungan." Katsunori Harasawa berjalan pelan, ayunan langkahnya terlihat berwibawa di usianya yang sudah matang. Rambut gondrong hitamnya terkuncir rapi di belakang.

"Selamat sore, Kaichou." Sapa pelan gadis berambut pirang. Ia sedikit menunduk tak berani menatap langsung pada sang kaichou yang berjalan mendekat.

Aomine membuang muka terlihat malas dengan perlakuan formal yang ditunjukkan gadis pirang di sampingnya.

"Sepertinya Letnan Aomine lupa membawa tanda pengenalnya, Kaichou."

"Cih. Dasar tukang adu."

"Jangan Kau tinggal sembarangan benda penting seperti itu, Aomine." Nasehat Kaichou Harasawa seperti angin yang berembus pelan menembus telinganya, masuk ke telinga dan keluar begitu saja.

Harasawa berjalan melewati Aomine, mendekat ke arah pintu berbahan baja yang tertutup sangat rapat. Seolah tak membiarkan seekor lalat pun masuk ke sana. Mengambil kartu identitasnya pada saku baju di dada kirinya lalu mendekatkannya pada sensor, membiarkan mesin sensor untuk mengenalinya lewat benda itu. Pintu berbahan baja di depannya langsung terbuka diiringi suara saapan dari mesin pengeras suara.

"Masuklah bersamaku, Letnan Aomine."

.

.

.

Sepoi angin mengembus kencang, menggoyang dedaunan pohon yang menjulang. Hembusannya menambah jumlah guguran daun orange yang berjatuhan. Malam hari yang dingin dengan kerlipan bintang menemani sang rembulan, menghapus tawa pada siang yang membara menggantikannya dengan keheningan.

Suasana di luar gedung raksasa pencakar langit begitu sepi, hanya terlihat beberapa mobil yang lalu lalang dan bisa dihitung menggunakan jari, beberapa orang memilih berkumpul di pinggiran gang sempit—menikmati malam dengan kegiatan panas mereka.

Aroma alkohol menguar sepanjang jalan, berembus bersama udara malam. Meniupkan kesan romansa bejat dalam diri manusia pendosa yang meninggalkan martabat.

Sepanjang jalanan kota di ujung sana, yang jalannya melewati rimbun pepohonan, yang jauh dari daratan beraspal, bahkan gedung pencakar yang begitu tingginya hingga tak lagi kelihatan. Tidak sampai pada pelosok desa, hanya letaknya di ujung kota. Tempat membuang asa dengan kerlipan lampu berwarna, dengan musik dari DJ sexy dan penari striptease yang berpose menggoda, menggeliat manja di atas panggung tanpa busana. Polesan tebal menghiasi muka, dengan dada mengguncang mengundang para lelaki menghampirinya.

Momoi Satsuki duduk di depan meja bartender yang asyik meracik pesanan minuman dari para pelanggan, matanya bergulir menelisik setiap sudut bar yang hampir sesak dengan pendatang. Di sisi kanannya—berjarak tiga kursi darinya— deretan sopa diisi tiga wanita dengan satu pria, yang salah satu wanitanya sedang bercumbu mesra menyatukan bibir keduanya dalam pagutan hangat sedang wanita yang lainnya terlihat menjelajahi tubuh si pria dengan gerakan lembut yang memabukkan. Tak jauh dari mereka tangga penghubung lantai dua penuh pasangan panas yang melepas hasrat. Ah ya ampun … dunia malam begitu "liar'.

Apa mereka tak malu melakukannya secara sembarangan begitu? Untuk para lelaki mungkin hal itu bisa dibuat ajang pamer batangan penis mereka, sedangkan yang wanita? Lekuk tubuh—mungkin? Ia tak bisa membayangkan saat mereka melakukannya lalu yang terjadi adalah obrolan ringan tentang lelaki yang menjadi partnernya. Pikiran konyol.

Untuk ukuran mahasiswa cerdas seperti dirinya, Satsuki merasa ini bukanlah tempat yang pantas bagi dirinya. Oh salahkan senpai berambut sebahu berwarna coklat yang memaksanya datang ke sini.

Gadis dengan sikap tomboy itu datang tak diundang ke apartemennya lalu menggedor pintu dengan kekuatan brutal nyaris saja mendobrak bila Satsuki tak cepat-cepat membukanya, ia bahkan masih bisa membayangkan betapa malunya dirinya yang hanya mengenakan handuk kimono sambil tergopoh membuka pintu menyelamatkannya dari sikap bringas Riko Aida—senpai tomboy dengan rambut sebahu berwarna coklat.

"Cepat bersiap. Aku harus menyelidiki seseorang yang pergi ke tempat yang menyenangkan, dan kau harus ikut aku!"

Dan jangan lupakan tas jinjing yang dibawa Riko! Isinya benar-benar bencana untuk Satsuki. Sepotong baju berwarna hitam dengan garis leher rendah—yang mampu memperlihatkan garis tengah dadanya. Ini memalukan! Meski ia percaya diri dengan ukuran cupnya bukan berarti ia bisa pamer kapan saja. Apa kata ibunya nanti? Lalu bagaimana reaksi Kagami—kekasihnya?

Ya Tuhan, Ya Tuhan, Ya Tuhan.

Ia ingin pulang.

Satsuki meminum kembali margarita pesanannya kepalanya pusing bukan main mendengar remix musik yang begitu berisik. Ia berusaha menelusuri ruangan dengan teliti mencari keberadaan gadis yang memaksanya ikut ke sini, dan hasilnya selalu sama dari tadi. NIHIL.

Mengempaskan kembali pantatnya pada tempatnya yang semula, gadis itu kesal bukan main pada sang senpai.

"Mau tambah lagi, Nona?"

Sedikit melirik pemuda berkacamata yang mengerling nakal padanya , sepertinya sang bartender sudah selesai membuat semua pesanan hingga mampu menyapanya. Gadis musim semi itu melirik deretan botol minuman di belakangnya, seolah lebih tertarik memandangi mereka dari pada lelaki di depannya.

"Tertarik mencoba vodka, Nona?" Satsuki melirik sekilas pemuda itu sebelum menggeleng dengan senyum ramah.

"Jangan hanya diam saja seperti orang linglung. Kau tahu?" sang bartender mengambil gelas lalu mengelapnya, senyum ramah yang lebih mirip seringaian itu benar-benar membuat Satsuki muak "—mereka seperti ingin melahapmu, Nona." Dengan dagunya pemuda itu menunjuk segerombolan pria berperut buncit yang memerhatikan mereka.

"Tersenyumlah lalu berpura-puralah jika kau sedang menikmati perbincangan ini."

Satsuki mengernyit tak mengerti maksud dari ucapan pemuda itu, sejak kecil ia sudah ditanamkan sikap waspada untuk jangan mudah percaya dengan orang asing. Nah! Jika kau jadi Satsuki apa yang akan kau lakukan? Mengobrol dengannya atau tak mengindahkannya? Apa lagi itu adalah laki-laki asing yang setiap malamnya selalu menyaksikan kegiatan panas orang lain? Bagaimana jika pemuda itu memberimu minuman berakohol tinggi lalu membawamu dan tiba-tiba kau terbangun dengan polos tanpa sehelai benang yang menempel di tubuhmu!

"Bicaralah, Nona. Jika kau tidak bi—"

"Yo, Imayoshi!"

.

Aomine menguap lebar berjalan malas mengikuti wanita pirang di depannya, pandangannya terlihat malas tak berminat seperti seseorang yang lapar dan dihidangkan nasi busuk sebagai makanan. Cih! Memerosotkan minat.

"Berhenti mendecih di belakangku, Letnan. Ini adalah tugas yang diberikan oleh Ketua Devisi." Perempuan pirang itu memang terlihat sexy dengan rok span hitam pendeknya, menonjolkan bentuk pinggul sempurna seorang wanita.

"Kudengar suamimu baru pulang dari Amerika, bukankah seharusnya malam ini kau bersamanya?"

"Kupikir itu bukan urusan Anda."

"Cih!"

Aomine kembali mendecih untuk yang kesekian kali. Sebenarnya ia tak punya masalah dengan wanita pirang berketurunan darah Amerika itu, hanya saja ia kurang menyukai sikapnya yang kadang suka mencari muka di depan Ketua Devisi— mengadukan beberapa keteledorannya sehingga pemuda itu bisa di nasehati ralat dimarahi.

Kakinya melangkah mengikuti wanita berambut pirang—Alex masuk ke dalam bar tanpa berkomentar, Aomine berusaha untuk tak memuntahkan segala isi unek-uneknya pada wanita galak kepercayaan sang Ketua Devisinya. Bisa-bisa sepulang dari tugas ini ia akan mendapatkan pencerahan yang panjang esok harinya hingga ia harus berkali-kali mengorek isi kupingnya dan ia tak mau sampai hal itu terjadi lagi.

"Lakukan sesukamu, tapi ingat satu hal. Jangan memancing keributan!"

"Hn," langkahnya berayun menuju meja bar yang seolah menarik kakinya. Di sana—di antara kerumunan para hidung belang yang mencari kesenangan— ada keributan yang menarik perhatian.

"Saya bilang tolong jangan dekati saya! Dan tolong jangan menyentuh saya!" gadis bubble-gum yang di tengah berteriak frustasi , pandangan matanya tajam menusuk setiap lirikan genit yang dilemparkan padanya. Kedua kakinya menghentak kasar menyebabkan stiletto hitam yang dipakainya bedebam dengan lantai kayu pijakannya.

"Bagaimana bisa 'gadis baik-baik' sepertimu di sini, Nona? Kita semua tahu bahwa tidak ada gadis baik yang akan masuk ke sini. Jadi, berhentilah menolak dan temani aku malam ini." Seorang pria gembul bersuara lantang, mengundang tawa pria lainnya yang sepemikiran. Mereka berdompet tebal namun tak punya sopan.

Momoi Satsuki seperti tersiram minyak panas pada wajahnya, melepuhkan setiap kulit tubuhnya sehingga berubah merah. Ia benar-benar sedang marah.

"Letakkan botol itu, Satsuki. Duduk dengan tenang dan minumlah!"

Satsuki menoleh cepat masih dengan pandangan tajam seolah siap menerkam, sedikit lega ketika mengetahui bahwa orang yang bersuara adalah pria yang dikenalnya. Mengendurkan pertahanan bersiap untuk menurut nasehat si sahabat.

Amarah dalam dirinya sedikit menguap yang malah memancing si jago merah dalam hati kerumunan lelaki bermata keranjang di belakangnya menyala, salah seorang pria mencengkram kasar lengan kanan Satsuki membuat gadis itu meringis.

"Aku yang melihatnya pertama, Bocah. Maka dia harus menemaniku bukan kau!" pria gembul bergigi emas menuding Aomine, matanya menyalang seolah mampu menikam pemuda itu yang malah tersenyum senang.

"Lepaskan Aku!" Satsuki menghentak kasar berusaha melepaskan cengkraman pria berbadan besar yang menariknya mendekat, bulir keringat ketakutan mengalir dari pelipisnya. Dengungan jantungnya berpacu cepat, perasaan takut itu menjalar ke seluruh tubuhnya membuat kakinya gemetar dan bulu kuduknya meremang karena kesal.

Hanya tinggal beberapa senti lagi sebelum tubuhnya bersentuhan dengan pria tua itu, hingga sebuah tangan kasar lain menarik tengkuknya menempelkan bibir mereka dan gadis musim semi itu hanya mampu bergeming di tempatnya.

Aomine bergerak cepat hingga membuat gadis pink itu sedikit memekik kaget. Dilumatnya bibir mungil Satsuki ia terlihat sangat menikmati rasanya, mengecap manis yang menempel di sana. Diselipkannya jari-jari besarnya pada helaian rambut pink sahabatnya menariknya memperdalam ciuman mereka. Bibir Aomine bergantian melumat bibir atas bawah milik sahabatnya, melumatnya dengan pebuh gairah. Bibir Satsuki mirip seperti tekstur jelly—terasa kenyal dan berwarna indah.

Pemuda berambut biru gelap itu melepas pagutan mereka, sentuhan jarinya merambah hingga menangkup kedua pipi gadis musim di depannya. Didekatkannya bibirnya pada telinga sahabat pink-nya, "—berpura-puralah menikmati hal ini, maka mereka akan pergi." Bisiknya pelan, hembusan napasnya menggelitik kulit gadis itu hingga membuat kedua pipi Satsuki memerah.

Entah setan dari mana yang mampu mendorong tubuh Satsuki untuk memulai semua itu. Yang ia tahu setelah Aomine membisikkan kalimat itu, mungkin karena ia takut jika ia tak melakukannya maka pria-pria berhidung belang itu akan menyerangnya—seperti sebelum pemuda itu datng padanya.

Kali ini bukan hanya Aomine yang membuat gerakan agresif, gadis bermanik magenta itu juga seolah tak mau kalah. Diremasnya helaian biru Aomine dengan tangannya yang bebas merasakan setiap sentuhan yang dilakukan Aomine.

"Keparat!" lelaki gembul yang mencengkram lengan Satsuki melayangkan pukulan, matanya terlihat merah terbakar amarah.

"Hoo… gadis ini telah memilihku, Tuan. Tidakkah kau lihat ia begitu menikmati waktunya bersamaku?" Aomine melepas pagutan mereka, melempar pandangan meremehkan pada lawan bicaranya. Si lelaki gembul menggeram, gemeletuk gigi emasnya bahkan terdengar hingga kedua telinganya.

Satsuki memandang rendah lelaki gembul itu sambil memasang senyum kemenangan, ia kembali meraih wajah Aomine lalu menuntunnya pada ciuman yang berikutnya. Kali ini, gadis musim semi itu yang terlihat mendominasi, gerakan jemari lentiknya terasa memabukkan bagi Aomine. Andaikan Satsuki tahu jika perbuatannya itu telah membangunkan 'Aomine yang lain' ia pasti akan menghentikannya sebelum terjadi hal yang lebih—mungkin?

Masih dengan bibir yang menyatu dan lidah yang saling berbelit, mata sapphire Aomine memandang si pria besar sambil sedikit menyelipkan senyum geli di antara ciumannya.

"Sialan!" Pria itu menyentak kasar lengan Satsuki sebelum berlalu pergi.

Aomine mendorong Satsuki pelan, melepaskan ciuman mereka yang sebenarnya tak ingin Aomine lepaskan. Bibir gadis itu benar-benar terasa manis dan aroma orchid yang menguar dari tubuhnya terasa menggoda.

"Kita bisa berhenti, Satsuki." Pemuda berkulit tan itu memijit tengkuknya pelan mengusir perasaan aneh yang berdesir dalam hatinya.

"lagi."

"Apa?"

Aomine mendekat berusaha untuk meyakinkan pendengarannya yang sepertinya mulai bermasalah.

"Lagi." Dan sebelum Aomine menyadarinya gadis itu sudah mendongak meraih bibirnya, memagutnya dengan penuh—gairah? Bukankah yang bergairah itu seharusnya dirinya?

Kata orang Aomine adalah lelaki yang memiliki respon tinggi terhadap keadaan sekitar, pergerakannya gesit namun tak beraturan—sulit dibaca oleh lawan. Itulah mengapa ia bisa menyandang gelar Letnan dari Devisi Pengintaian yang selalu bertugas di lapangan menghadapi musuh secara langsung. Tapi buktinya malam ini apa yang telah di katakan oleh orang-orang itu hanya omong kosong. Ia Aomine Daiki kalah gesit dari gadis yang telah lama tak ditemuinya.

Gadis itu mencumbunya bahkan sesekali menggigit bibirnya dengan sensual, seolah menggodanya untuk terjun bersama dalam jurang kenikmatan.

Oh sialan, apa yang harus ia lakukan?

.

.

.

To Be Continue

Ngebut, gak sempet ngedit. Maaf banget. Akhir kata REVIEW, Please